Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Agama merupakan sarana yang menjamin kelapangan dada dalam individu
dan menumbuhkan ketenangan hati bagi pemeluknya. Agama akan memelihara
manusia dari segala bentuk prilaku menyimpang, dan menjauhkan dari tingkah
laku yang negatife. Bahkan agama akan membuat hati manusia menjadi jernih,
halus, dan suci. Disamping itu, agama merupakan benteng pertahanan bagi
generasi muda dalam menghadapi berbagai macam perilaku yang tidak sesuai
dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Kehadiran agama islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW, diyakini
dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin.
Islam merupakan agama yang membawa kedamaian, rasa persaudaraan, cinta
kasih, dan tolong-menolg. Agama yang telah di ridhohi oleh Allah SWT. kepada
hambahnya.
Allah menciptakan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya.Di dalam
ibadah kita dapat mengambil nilai-nilai yang terkandung di dalamnya baik itu
nilai pendidikan, moral, aqidah, keimanan, dan lain-lain.Tujuan pendidikan Islam
adalah mendidik manusia untuk beribadah kepada Allah swt, membentuk manusia
bertaqwa kepada-Nya, serta mendidik manusia agar memahami nilai-nilai yang
terkandung di dalam ibadah.
Salah satu bagian dari syariah adalah ibadah.Ibadah artinya
menghambakan diri kepada Allah.Ibadah merupakan tugas hidup manusia di
dunia, karena itu manusia yang beribadah kepada Allah disebut ‘abdulla’ atau
hamba Allah. Hidup seorang hamba tidak memiliki alternatif lain selain taat,
patuh, dan berserah diri kepada Allah.
Peran ibadah dalam mendidik manusia agar menjadi manusia yang
berakal berfikir sistematis dan menggunakan pikirannya secara terus menerus
yang merupakan salah satu faktor yang dapat digunakan sebagai media mendidik.
Selanjutnya dalam wudhu sebagaimana kita ketahui bahwa wudhu
( ‫ ) ْال ُوض ُْو ُُء‬merupakan salah satu syarat untuk melakukan ibadah kepada Allah Swt.
wudhu merupakan bagian dari cara bersuci guna menghilangkan hadas ataupun

1
najis pada tubuh kita sehingga menyebabkan sahnya seorang mukmin dalam
melakukan ibadah. Wudhu ( ‫ ) ْال ُوض ُْو ُُء‬merupakan sebuah sunnah (petunjuk) yang
berhukum wajib, ketika seseorang mau menegakkan sholat. Sunnah ini banyak
dilalaikan oleh kaum muslimin pada hari ini sehingga terkadang kita tersenyum
heran saat melihat ada sebagian diantara mereka yang berwudhu seperti anak-anak
kecil, tak karuan dan asal-asalan. Mereka mengira bahwa wudhu itu hanya
sekedar membasuh dan mengusap anggota badan dalam wudhu. Semua ini terjadi
karena kejahilan tentang agama, taqlid buta kepada orang, dan kurangnya
semangat dalam mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam-.
Selanjutnya, Ibadah Shalat merupakan ibadah yang paling besar dalam
mendekatkan para ’abid (hamba) kepadaMa’budnya (Allah), dan seteguh shalih
(pertumbuhan) yang menghubungkan makhluk manusia dengan Khalid-nya,
namun keadaan sekarang di lingkungan kita ini pemahaman mengenai kedudukan
Shalat semakin memudar masa demi masa. Sikap dan perilaku orang yang
mengaku beragama Islam terhadap Shalat amat beragam. Ada yang Shalat, ada
yang tidak shalat, ada pula yang kadang-kadang shalat, dan tanpa merasa berdosa
tidak mengerjakan shalat.
Allah Ta’ala telah mengancam kepada orang yang meninggalkan shalat,
bahkan Rasulullah SAW menggolongkannya termaksud ke dalam orang yang
kufur, sebagaimana Sabda beliau “Sesungguhnya pembeda antara seorang
Muslim dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat”. Orang
yang meninggalkan shalat itu mempunyai dua kemungkinan: Pertama, mungkin ia
meninggalkan shalat karena menolak kewajibannya atau mengingkarinya. Kedua,
mungkin orang itu meninggalkan shalat karena enggan dan malas mengerjakannya
sementara ia masih mengakui kewajiban shalat itu baginya.
Sebagai umat Muslim khususnya para pemuda penerus perjuangan Islam
kedepannya, kita semua mesti sadar akan fenomena yang terjadi dimasa kita ini.
Bergaul dengan orang-orang Shalih adalah jalan yang dapat kita tempuh untuk
memperbaiki kekeliruan kita terhadap kedudukan shalat selama ini. Sebagaimana
hal yang dapat membentuk pola perilaku kehidupan kita melalui pergaulan itu

2
sendiri. Termaksud halnya dengan pergaulan yang membengkok, pergaulan yang
salah tersebut dapat menjerumuskan siapa saja dalam kezaliman.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan agama?
2. Bagaiman pembagian ibadah dan macam-macamnya?
3. Mengapa kita harus beribadah?
4. Bagaiman prinsip-prinsip ibadah?
5. Bagaimana rukun dan tata cara berwudhu sesuai sunnah
Rasulullah?
6. bagaimana hukum bila meninggalkan shalat?
7. bagaimana fungsi dan hikmah shalat?

C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui pengertian dari agama.
2. Untuk mengetahui pembagian ibadah dan macam-macamnya.
3. Untuk mengetahui mengapa kita harus beribadah.
4. Untuk mengetahui prinsip-prinsip ibadah.
5. Untuk mengetahui rukun dan tata cara berwudhu sesuai sunnah
Rasulullah.
6. Untuk mengetahui hukum bila meninggalkan shalat.
7. Untuk mengetahui fungsi dan hikmah shalat.

3
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN AGAMA
Agama secara umum merupakan sebuah kepercayaan yang dianut oleh
seseorang.pengertian saling hidup rukun dengan sesama manusia.agama adalah
sebuah ajaran atau sistem yang mengatur tata cara peribadatan kepada Tuhan dan
hubungan antar manusia. Dalam ajaran sebuah agama, setiap penganutnya diajari
agar saling hidup rukun dengan sesama.
Pengertian agama secara etimologi, kata agama berasal dari bahasa
sangsekerta, yang berasal dari akar kata gam artinya pergi, kemudian dari kata
gam tersebutmendapat awalan a dan akhiran a, maka terbentuklah kata agama
artinya jalan.Maksudnya, jalan mencapai kebahagiaan.
Kata religi - religion dan religio, secara etimologi – menurut winker paris
dalam algemene encyclopaedie mungkin sekali dari bahasa latin, yaitu dari kata
religere atau religare yang berarti terikat, maka dimaksudkan bahwa setiap orang
yang bereligi adalah orang yang senantiasa merasa terikat dengan sesuatu yang
dianggap suci. Kalau dikatakan berasal dari kata religere yang berarti berhati-hati,
maka dimaksud bahwa orang yang bereligi itu adalah orang yang senantiasa
bersikap hati hati dengan sesuatu yang dianggap suci.
Dari etimologis ketiga kata di atas maka dapat diambil pengertian bahwa
agama (religi, din):(1) merupakan jalan hidup yang harus ditempuh oleh manusia
untuk mewujudkan kehidupan yang aman, tentram dan sejahtera; (2) bahwa jalan
hidup tersebut berupa aturan, nilai atau norma yang mengatur kehidupan manusia
yang dianggap sebagai kekuatan mutlak, gaib dan suci yang harus diikuti dan
ditaati. (3) aturan tersebut ada, tumbuh dan berkembang bersama dengan tumbuh
dan berkembangnya kehidupan manusia, masyarakat dan budaya.
Agama, Religi, dan Din (pada umumnya) adalah suatu sistema credo (tata-
keimanan atau tata-keyakinan) atas adanya sesuatu Yang Mutlak di luar manusia
dan Satu sistema ritus (tata-peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya Yang
Mutlak itu serta sistema norma (tata-kaidah) yang mengatur hubungan manusia
dengan sesama manusia dan hubunganmanusia dengan alam lainnya, sesuai dan
sejalan dengan tata-keimanan dan tata-peribadatan termaksud (Abdul Rahman,

4
2016; 1). Berdasarkan pengertian tersebut kita mengetahui bahwa inti dari agama
adalah kepercayaan yang dibungkus dalam suatu sistem.Namun agama itu sendiri
ada banyak dan setiap agama mempunyai sistem dan arti etimologis sendiri-
sendiri.Perbedaan itulah yang mengakibatkan banyaknya perselisihan dan
masalah. Walaupun demikian Agama Islam membenarkan akan adanya
perbedaan, seperti dalam yang berbunyi:

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-
laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara
kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Berdasarkan surah tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Allah SWT
menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku dan berbeda.
Secara kebahasaan kata agama berasal dari bahasa sanskerta, yaitu kata a
yang berarti tidak, dan gam yang berarti pergi.Berarti agama adalah tidak pergi,
tidak putus, tidak hilang, dengan maksud karena agama diajarkan secara turun
temurun atau karena agam pada umumnya mengajarkan kekekalan hidup, atau
kematian bukanlah akhir dari kehidupan karena ada kehidupan lagi selanjutnya.
Ada juga yang mengartikan gam itu adalah kacau, dengan maksud bawha setiap
manusia yang mempunyai agama maka dengan agama itu ia tidak kacau atau
mempunyai pandangan hidup, mempunyai jalan hidup, dan punya jalan lurus serta
teratur (Nasution 1979b,jilid I :1-2). Lalu dalam bahasa Arab agama disebut Al-
Din, dengan panjang mad pada “Diin”, yang mempunyai beberapa arti yaitu: a.
paksaan kekuatan, dan tekanan. b. ketaatan, kepatuhan atau peribadatan. c.
pembalasan atau perhitungan. d. sistem atau cara dalam agama

5
Menurut Prof. Dr. Harun Nasution (1999) menyarakan bawha agama dapat
disebut agama jika memenuhi minimal empat unsur penting yang harus ada dalam
agama.

a. Unsur Keyakinan atau kepercayaan (credial)


Unsur keyakinan dalam artian bahwa pengikut agama tersebut memiliki
sebuah kepercayaan dan mempercayai sesuatu atau seseorang yang gaib.
b. Unsur penyembahan atau peribadatan (ritual)
Manusia merasa lemah dan berhajat pada Tuhan sebagai tempat meminta
tolong.
c. Unsur aturan atau tata cara daalam peribadatan (ritus)
Adanya aturan berupa Kitab Suci yang mengandung ajaran - ajaran agama
tersebut dan sekaligus mengatur tata cara penyembahan kepada Tuhan yang
mereka yakini tersebut
d. Respons yang bersifat emosinil dari manusia
Adanya respon terhadap agama, baik dalam hal kegiatan ataupun kepercayaan.
pendidikan agama islam untuk perguruan tinggi, Wahyudin, Achmad, M.
Ilyas, M. Saifulloh, Z. Muhibbin 2009

Kebutuhan Manusia Terhadap Agama

Ada banyak sekali alasan manusia membutuhkan agama.Walaupun tidak


semua manusia saat ini di dunia sekarang tidak memiliki agama namun pada
hakekatnya manusia butuh agama.Mereka yang tidak memiliki agama disebut
dengan ateis dan pandanganya disebut ateisme. Orang-orang ateis tidak percaya
akan adanya Tuhan, namun kebanyakan dari mereka memiliki sebuah
kepercayaan tertentu sebagai pengganti agama. Pengganti tersebut adalah ilmu
pengetahuan, kebanyakan ateis berpandapat bahwa ilmu pengetahuanlah yang
paling benar akan semua hal dan mereka percaya akan itu. Percaya merupakan
kata kuncinya, mereka mengganti kepercayaan akan Tuhan dengan ilmu
pengetahuan. Kebanyakan ateis akan tersinggung atau merasa frustasi jikalau
sebuah peristiwa tidak dapat dijelaskan dengan ilmu pengetahuan, sama halnya

6
dengan para penganut agama jikalau ilmu agama mereka terbukti salah.
Berdasarkan hal tersebut pada dasarnya manusia butuh akan agama atau
kepercayaan. Namun selain hal mendasar manusia membutuhkan agama ada hal
lain lagi yaitu :

1. Kebutuhan akal terhadap pengetahuan mengenai hakikat eksistensi terbesar.

Hampir semua manusia memahami bahwa manusia itu kecil.Kita dapat melihat
bahwa bumi yang kita pijak ini ternyata hanyalah batuan kecil yang melayang
di kekosongan. Dari hal tersebut kita bertanya tanya darimanakah kita, kenapa
kita berada di dunia ini dan sebagainya. Pertanyaan tersebut bukanlah
pertanyaan yang mudah dan hampir semua agama menjawab pertanyaan
tersebut.

2. Kebutuhan masyarakat terhadap motivasi dan disiplin akhlak.

Semua agama mengajarkan hal yang baik; senyum, menolong yang tidak
mampu, dan lain lain. Walaupun pada hakikatnya manusia itu baik tapi tanpa
disiplin akhlak maka akan godaan terhadap hal buruk sedikit saja akan
mengubah sifat manusia menjadi buruk. Dengan menganut sebuah agama maka
akan adanya pendisiplinan akhlak dalam bentuk tatanan dan aturan agar kita
tidak melakukan hal-hal buruk.

3. Kebutuhan masyarakat kepada solidaritas dan soliditas.

Manusia merupakan makhluk sosial, kita sudah terbiasa akan bentuk-bentuk


pengelompokan masyarakat. Agama merupakan alat paling baik untuk
mengelompokan dan menjadikan kelompok tersebut solid.

2.4. Klasifikasi Agama

Di dunia ini banyak sekali agama-agama, dari semua agama tersebut


hanyalah ada 2 macam agama.Agama Samawi dan Agama Ardli.

a. Agama Samawi ialah agama yang diterima oleh manusia dari Allah SWT
melalui malaikat Jibril dan disampaikan serta disebarkan oleh RasulNya
kepada umat manusia. Contohnya: Islam, Yahudi, dan Nasrani

b. Agama Ardli ialah agama yang tumbuh dan berkembang melalui proses
pemikiran, adat istiadat dan budaya manusia. Contohnya: Hindu dan Budha

7
Definisi Dinul Islam

Dinul Islam atau agama islam merupakan agama yang sempurna.Kirab


Suci Agama Islam, Al-Qur'an, tidak pernah sekalipun mengalami perubahan
sejak zaman Rasul. Islam atau dalam bahasa arab al-islam yang memiliki arti
"berserah diri kepada tuhan" adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu
Allah. Dengan lebih dari satu seperempat miliar orang pengikut di seluruh dunia,
menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen.
Islam memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan
(Arab: ‫هللا‬, Allāh). Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang
berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan", atau lebih lengkapnya adalah
Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa
Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul
utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah
nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimah syahādatāin


("dua kalimat persaksian"), yaitu "asyhadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu
anna muhammadan rasuulullaah" - yang berarti "Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan
selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah".
Esensinya adalah prinsip keesaan Tuhan dan pengakuan terhadap kenabian
Muhammad. Adapun bila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua
kalimat persaksian ini, ia dapat dianggap telah menjadi seorang muslim dalam
status sebagai mualaf (orang yang baru masuk Islam dari kepercayaan lamanya).

Islam Dinul Haq

Dinul memiliki arti agama, dan Haq itu kebenaran, maka dinul haq
memilki arti agama yang benar, lengkapnya yaitu agama kebenaran yang
bersumber dari Allah SWT, yang terdapat dalam agama-Nya, yaitu agama Islam.
Firman Allah yang menjelaskan tentang Islam Dinul Haq berada di QS At-Taubah
ayat 29, QS Al-Fath ayat 28, Al-Baqarah ayat 147, dan QS Ali Imran ayat 60).

8
QS At-Taubah ayat 29

Artinya : “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidk pula
beriman kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang
diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang
benar”

QS Al-Fath ayat 28

Artinya : “Dialah yang mengutus Raul-Nya dengan membawa petunjuk dan


agama yang haq (benar), agar Dia menangkan atas semua agama. Dan cukuplah
Allah sebagai saksi”.

QS Al-Baqarah ayat 147

9
Artinya: "Kebenaran adalah dari Tuhan engkau. Maka sekali-kali jangan lah
engkau termasuk dari orang orang yang ragu."

QS Ali Imran ayat 60

Artinya: "(Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari
Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu."

Dari surah-surah tersebut kita bisa mengambil suatu garis besar bahwa kita
tidak perlu ragu akan kebenaran Islam dan Alquran karena agama Islam adalah
agama yang benar.

10
B. PEMBAGIAN IBADAH DAN MACAM-MACAMNYA

Pengertian Ibadah
Ibadah ( ‫ ) عبادة‬secara etimologi berasal dari kata ‘abd yang artinya abdi,
hamba, budak, atau pelayan. Jadi ‘ibadah berarti, pengabdian, penghambaan,
pembudakan, ketaatan, atau merendahkan diri.
Di dalam syara’, ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan
maksudnya satu. Definisi ibadah itu antara lain :
1. Ibadah ialah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya
(yang digariskan) melalui lisan para Rasul-Nya,
2. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah , yaitu tingkatan ketundukan
yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling
tinggi,
3. Ibadah ialah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai
Allah , baik berupa ucapan atau perbuatan, yang dzahir maupun bathin. Ini
adalah definisi ibadah yang paling lengkap.
Ibadah itu terbagi menjadi ibadah hati, lisan dan anggota badan.Rasa khauf
(takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah
(senang) dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan
hati).Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah
(fisik danhati).Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan
dengan hati, lisan dan badan.
Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia, Allah
berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan
Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah,
Dia-lah Maha Pemberi rizki yang mempunyai kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS.
Adz-Dzariyat: 56-58)
Sedangkan secara terminologis, Hasbi Ash-Shiddieqy mengutip beberapa
pendapat, antara lain; Mengesakan Allah, menta’zimkan-Nya dengan sepenuh-
sepenuhnya ta’zim serta menghinakan diri kita dan menundukkan jiwa kepada-
Nya. Ulama akhlak mengartikan ibadah dengan mengerjakan segala taat
badaniyah dan menyelenggarakan segala syariat (hukum).Ulama fikih

11
mengartikan ibadah dengan segala taat yang dikerjakan untuk mencapai keridhaan
Allah dan meng-harap pahala-Nya di akhirat.
Selanjutnya ulama tafsir, M. Quraish Shihab menyatakan bahwa: Ibadah
adalah suatu bentuk ketundukan dan ketaatan yang mencapai puncaknya sebagai
dampak dari rasa pengagungan yang bersemai dalam lubuk hati seseorang
terhadap siapa yang kepadanya ia tunduk. Rasa itu lahir akibat adanya keyakinan
dalam diri yang beribadah bahwa obyek yang kepadanya ditujukan ibadah itu
memiliki kekuasaan yang tidak dapat terjangkau hakikatnya.
Sedangkan.Abd. Muin Salim menyatakan bahwa: Ibadah dalam bahasa
agama merupakan sebuah konsep yang berisi pengertian cinta yang sempurna,
ketaatan dan khawatir. Artinya, dalam ibadah terkandung rasa cinta yang
sempurna kepada Sang Pencipta disertai kepatuhan dan rasa khawatir hamba akan
adanya penolakan sang Pencipta terhadapnya.

Adapun pendapat lain mengenai ibadah adalah:

‫وخاصة عامة وھي رع الشا بھ أذن بما والعمل نواھیھ ب واجتنا أوامره بامتثال هلل ألى التقرب‬

Ibadah adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan


perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.Juga yang dikatakan
ibadah adalah beramal dengan yang diizinkan oleh Syari’ Allah Swt.; karena itu
ibadah itu mengandung arti umum dan arti khusus.Ibadah dalam arti umum adalah
segala perbuatan orang Islam yang halal yangdilaksanakan dengan niat ibadah.
Sedangkan ibadah dalam arti yang khusus adalahperbuatan ibadah yang
dilaksanakan dengan tata cara yang telah ditetapkan olehRasulullah Saw. Ibadah
dalam arti yang khusus ini meliputi Thaharah, Shalat, Zakat,Shaum, Haji, Kurban,
Aqiqah Nadzar dan Kifarat.
Di sisi lain, dipahami bahwa ibadah adalah perbuatan manusia yang
menunjukkan ketaatan kepada aturan atau perintah dan pengakuan kerendahan
dirinya di hadapan yang memberi perintah. Adapun yang memberi perintah untuk
beribadah, adalah tiada lain kecuali Allah sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam
Q.S. al-Baqarah (2): 21

12
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang
yang sebelummu, agar kamu bertakwa.”
Dari ayat di atas, dapat dipahami bahwa sasaran ibadah hanyalah kepada Allah
swt. Dengan kata lain, bahwa manusia beribadah adalah untuk mengabdikan
dirinya kepada Allah sebagai Tuhan yang telah menciptakan mereka.
Pengertian-pengertian ibadah dalam ungkapan yang berbeda-beda
sebagaimana yang telah dikutip, pada dasarnya memiliki kesamaan esensial, yakni
masing-masing bermuara pada pengabdian seorang hamba kepada Allah swt.,
dengan cara mengagungkan-Nya, taat kepada-Nya, tunduk kepada-Nya, dan cinta
yang sempurna kepada-Nya.
Makna pengabdian atau penghambaan yang akan dijelaskan adalah
perkara yang memuliakan manusia serta membedakan dengan hewan dan
makhluk lainnya. Apa yang difirmankan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surat
Adz-Dzaariyaat:56

Artinya: “Tiadalah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
ber’ibadah (mengabdi, menghamba) kepada-Ku”. Arti ‘ibadah di sini adalah
bahwa jin dan manusia dalam hidupnya harus tunduk dan patuh terhadap aturan
dan hukum-hukum Allah. Ini berarti, bahwa tujuan Allahmenciptakan jin dan
manusia adalah agar mereka:
Pertama, hanya setia kepada Allah saja dan tidak kepada yang lain, karena hanya
Dia Yang Maha Menghidupi dan Maha Memelihara. Kedua, agar mereka hanya
mengikuti perintah-perintah Allah saja dan tidak mendengarkan perintah siapa
pun yang bertentangan dengan perintah-Nya. Ketiga, hanya kepada satu Dzat saja
mereka harus menyembah dan mendekatkan diri (taqarrub), yaitu hanya kepada
Allah Subhanahu wa ta’ala dan tidak kepada yang lain.

13
Dalam situasi dan kondisi bagaimana pun, perbuatan seorang hamba yang
senantiasa mengikuti aturan dan hukum Allah, serta yang melepaskan diri dari
ikatan dan aturan hukum yang lain yang bertentangan dengan hukum Allah, maka
itulah yang disebut ‘ibadah. Dengan demikian, ‘ibadah adalah perbuatan
sepanjang hidup yang dijalani oleh seorang hamba dengan mengikuti ramburambu
atau aturan-aturan dan hukum Allah Ta ‘ala.Dalam hidup yang demikian ini, maka
tidur kita, bangun kita, makan dan minum kita, bahkan berjalan dan berbicara kita,
semuanya adalah ‘ibadah. Setiap perbuatan seorang hamba yang ta’at akan selalu
memperhatikan, mana yang dibolehkan oleh Allah dan mana yang tidak
dibolehkan oleh Allah, mana yang halal dan mana yang haram, apa yang
diwajibkan dan apa yang dilarang, perbuatan apa yang membuat-Nya suka kepada
kita dan perbuatan apa yang membuat-Nya tidak suka kepada kita. Allah
memberitahukan, tujuan penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka
melaksanakan ibadah kepada Allah . Dan Allah Maha Kaya, tidak membutuhkan
ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya. Karena
ketergantungan mereka kepada Allah , maka mereka menyembah-Nya sesuai
dengan aturan syari’at-Nya. Maka siapa yang menolak beribadah kepada Allah , ia
adalah sombong. Siapa yang menyembah-Nya tetapi dengan selain apa yang
disyari’atkan-Nya maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan siapa yang hanya
menyembah-Nya dan dengan syari’at-Nya, maka dia adalah mukmin muwahhid
(yang mengesakan Allah ).

Macam-macam Ibadah
Secara umum ibadah terbagi menjadi 2, yaitu:
1. ‘Ibadah Mahdlah.
Yaitu ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah SWT.Semua
perbuatan ibadah yang pelaksanaannya diatur dengan ketentuan yang telah
ditetapkan dalam Al-Quran dan sunnah. Contoh, salat harus mengikuti
petunjuk Rasulullah salallahu alaihi wassalaam dan tidak dibenarkan untuk
menambah atau menguranginya, begitu juga puasa, haji dan yang lainnya.
Dengan shalat lima kali sehari berarti memperingatkan kita, bahwa di mana
pun dan kapan pun kita berada adalah tetap budak Allah, dan hanya kepada-

14
Nyalah kita harus menghamba. Dengan shalat membawa manusia
mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.‘Ibadah mahdlah ini
dilakukan hanya berhubungan dengan Allah saja (hubungan ke atas/ Hablum
Minallah), dan bertujuan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Ta
‘ala.Ibadah ini hanya dilaksanakan dengan jasmani dan rohani saja, karenanya
disebut ‘ibadah badaniyah ruhiyah.
2. ‘Ibadah Ghairu Mahdah,
Adalah ibadah yang teknik pelaksanaanya tidak diatur secara rinci oleh Al-
Qur’an yaitu ibadah yang membutuhkan keterlibatan orang lain atau ‘ibadah
yang tidak hanya sekedar menyangkut hubungan dengan Allah, tetapi juga
menyangkut hubungan sesama makhluk (Hablum Minallah Wa Hablum
Minannas), atau di samping hubungan ke atas, juga ada hubungan sesama
makhluk. Hubungan sesama makhluk ini tidak hanya sebatas pada hubungan
sesama manusia, tetapi juga hubungan manusia dengan lingkungan alamnya
(hewan dan tumbuhan).Contoh, zakat, infaq, sedekah, dll. Zakat menyadarkan
kita akan kenyataan bahwa harta yang kita peroleh adalah pemberian Allah
Subhanahu wa ta’ala, bukan sepenuhnya atas hasil usaha sendiri. Jangan kita
habiskan harta itu hanya untuk kepentingan kepuasan lahiriyah saja, tetapi
haruslah kita berikan juga hak Allah, mensucikan harta kita, membuktikan
kepedulian kita kepada fakir miskin.

15
C. MENGAPA KITA HARUS BERIBADAH

Pengertian ibadah
Kata Ibadah berasal dari bahasa arab, yaitu yang berarti patuh , tunduk dan
taat.Yaitu patuh tunduk terhadap keagungan dan kebesaran Allah SWT.Yaitu
Tuhan yang kita sembah.Manusia, di ciptakan di Dunia ini untuk dua hal
yaituSebagai Khalifah, dan untuk beribadah.
Sebagaimana dalam Firmanya:

”dan tak kala Allah SWT berfirman pada malaikat ; sesungguhnya aku akan
menciptakan di muka Bumi Ini Khalifah.” . ( Albaqarah )

Khalifah adalah Pemimpin, pengatur dan pemelihara yaitu


Memimpin,mengatur dan memelihara Bumi, agar dapat di mamfaatkan untuk
kepentingan bersamaan bukan untuk di manfaatkan semena-mena.Karena Bumi
dan beserta isinya, merupakan kebutuhan manusia yang paling utama, maka dari
itu manusia di perintahkan untuk merawatnya, adapun tujuan manusia di ciptakan
di bumi ini adalah untuk menyembahnya manusia di ciptakan di bumi di wajibkan
menyembah Allah SWT, sebagaimana dalam firman firmanya:

“Wahai manusia!Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-


orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah [2]: 21)

(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap, dan
Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan hujan itu
buah-buahan sebagai rezeki untukmu.Korena itu, janganlah kamu mengadakan
tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (Al Baqarah [2]: 22)

Tafsir Mufradat:
a. Ibaadah: Bentuk masdar, berasal dari: `abada - ya'budu, yang berarti: hal tunduk
atau hal merendahkan diri yang lahir dari hati nurani, karena keagungan yang
disembah. (al-Maraghi, 1969:62). Menurut SyaikhuI-Islam, Ibni Taimiyah;
Ibadah ialah: Nama kegiatan yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan
diridai Allah SwT, baik perkataan maupun perbuatan, baik lahir maupun batin.
Dalam Al-Qur' an, kata ibadah dengan berbagai derivasinya diulang sebanyak

16
276 kali, yang tersebar di berbagai surat/ayat dengan makna yang bervariasi.
Para ulama membagi ibadah menjadi dua macam, yaitu: a. ibadah mahdhah,
yaitu ibadah murni yang bersifat vertikal, seperti shalat lima waktu, dzikir dan
sebagainya. b. "ibadah `aammah, yaitu ibadah yang bersifat umum, seperti
membangun masjid, sekolah dan sebagainya.
b. Takwa: berasal dari kosakata: wiqaa- yaqii - wiqaayah, yang berarti menjaga.
AI-Maraghi dalam tafsirnya mendefmikan takwa sebagai berikut: At-Takwaa
huwa wiqaayatun-nafsi `an asbaabi `adzaabillaah. (menjaga diri dari sebab-
sebab azab Allah). Al-Maraghi membagi azab Allah menjadi dua macam,
yaitu: Azab di dunia dan azab di akhirat.Untuk menyelamatkan azab Allah di
dunia kita harus ma'rifat betul terhadap sunnah Allah, misalnya api menurut
sunnah Allah bersifat membakar, maka kalau sudah mengerti sifat api tersebut,
kita tidak boleh bermain api. Untuk menyelamatkan azab Allah di akhirat, kita
harus ma'rifat betul terhadap perintah dan larangan-Nya. (Al-Maraghi, I: 40).
c. Ardh: Dalam Al-Qur'an dan juga dalam pengertian orang awam, kata tersebut
diartikan sebagai "bumi". Namun dalam beberapa ayat kata tersebut kurang
tepat jika diartikan "bumi". Seperti pada surat AI-Anbiyaa' [21]: 30, dan Ath-
Thalaq [65]: 12, lebih tepat diartikan "materi", yaitu cikal bakal bumi. Sebab
menurut hasil penelitian para ilmuwan, bumi baru terbentuk sekitar 4,5 milyar
tahun yang lalu, dan tanah di planit bumi kita ini baru terjadi sekitar 3 milyar
tahun yang lalu sebagai kerak di atas magma. (al-Mausu'ah al-Qur'aniyah,
1996: 23). Dalam Al-Qur'an kata al-ardh diulang sebanyak 461 kali, yang
tersebar di berbagai surat/ayat, dan semuanya dalam bentuk mufrad (tunggal).
d. Samaa' : Berarti langit. Dalam AI-Qur' an kata tersebut kadang-kadang
diungkapkan dalam bentuk mufrad dan kadang-kadang dalam bentuk jama'
(samaawaat). Kata tersebut biasa dirangkaikan dengan kata al-ardh wamaa
bainahumaa, sehingga menjadi as-samaawaati wal-ardhi wamaa bainahumaa
(langit, bumi dan apa yang ada di antara keduanya), yang kadang-kadang
disebut: alam semesta (universe). Hal ini sesuai dengan pengertian alam yang
dimaksud oleh kaum teolog, kaum filosof Islam dan kosmolog modern. Kaum
teolog mendefmisikan alam: "segala sesuatu selain Allah", kaum filosof Islam
mendefinisikannya: "kumpulan jauhar yang tersusun dari maaddah (materi) dan

17
suurah (bentuk) yang ada di bumi dan di langit'. Kosmolog modern
mendefinisikannya: "susunan yang jumlahnya beribu-ribu dari kumpulan
galaksi". Yaitu gugusan bermilyar-milyar bintang. (al-Mausu'ah Al-
Qur'aniyah:.354). e. Andaad: adalah bentuk jama' dari kata dasar "nidd", yang
berarti: bandingan; tandingan. Menurut al-Akhfasy, nidd ialah bandingan yang
berbeda. Dalam Al-Qur'an, kata andad diulang sebanyak enam kali yang
tersebar dalam lima surat/ayat. Dan semuanya berbicara tentang perbuatan
syirk.

Di antara mereka ada yang memperoleh hidayah dari allah, ada Yang kafir
dan ingkar terhadap Allah dan iauh dari hidavah, dan di antara mereka adamelihat
Allah, sekalipun mereka tidak melihat-Nya, tetapi Allah melihat mereka. Jika
mereka berbuat demikian, maka mereka benar-benar menjadi orang yang
bertakwa.Kemudian Allah menjelaskan kenikmatan yang dianugerahkan Allah
kepada manusia, agar mereka bersyukur kepada-Nya.
Allah menciptakan manusia sebagai makhluk hidup yang mampu bekerja
dan mencari rezeki, Allah menciptakan bumi sebagai tempat tinggal mereka, agar
mereka dapat memanfaatkannya, dapat menggali pertambangan dan tumbuh-
tumbuhan.Kemudian Allah menciptakan langit yang sangat indah, yang penuh
dengan bintang-bintang yang bercahaya, yang dapat dijadikan sebagai petunjuk
jalari.Allah menurunkan air hujan dari langit, dan mengeluarkan buah-buahan
yang beraneka ragam rupa dan rasanya.
Ciptaan Allah tersebut benar-benar sangat mengagumkan, alam raya yang
sangat luas dan sangat indah, penuh dengan berbagai macam pemandangan yang
tiada tara. Maka, sangat mustahil terdapat tandingan bagi Allah SwT. Mengapa
masih terdapat segolongan manusia yang ingkar terhadap-Nya?
Rasulullah saw memulai dakwahnya dengan mengajak manusia agar
menyembah Allah semata, sebagaimana dilakukan para nabi sebelumnya. Hal itu
diungkapkan dalam firman-Nya:
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan): Sembahlah Allah semata dan jauhilah thaghut itu".... (An-Nahl
[16]: 36).

18
Sasaran dakwah pada waktu itu, adalah orang-orang Arab dan ora-orang
Yahudi di Madinah dan sekitarnya.Mereka beriman kepada Allah tetapi
menyembah selain-Nya.Allah menciptakan manusia, baik manusia yang hidup
pada masa mutakhir maupun yang hidup pada masa dahulu, bertujuan agar
mereka beribadah kepada Allah, untuk meningkatkan takwa kepada Allah, dan
mengangkat martabat mereka.
Sungguh Allah SWT Maha Kuasa, Dia telah menciptakan bumi yang
sangat besar manfaatnya, sehingga manusia dapat tinggal di bumi ini dengan
nyaman, dan menciptakan langit yang penuh dengan bintang-bintang yang
bercahaya, yang jumlahnya milyaran, dengan susunan yang begitu teratur,
sehingga tidak terjadi tabrakan satu sama lain, hingga akhir zaman. Dan dengan
kekuasaan-Nya Dia menurunkan air hujan, untuk menyirami tumbuh-tumbuhan,
dan memberi makan tanaman-tanaman yang begitu luas, dan mengeluarkan buah-
buahan yang kita nikmati. Semua itu merupakan kenikmatan yang sangat besar
dan wajib kita syukuri, dengan cara beribadah dengan sebaik-baiknya. Maka ayat
tersebut (Al-Baqarah: 22), ditutup dengati firman-Nya: "Falaa taj'aluu lillahi
andaadan wa antum ta'lamuun" (karena itu janganlah kamu mengadakan
tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui).
Dimaksudkan dengan "andaad" ialah sesembahan-sesembahan selain
Allah SwT, seperti patung-patung, pohon-pohonan, jimat jimat, lautan, gunung
gunung, kuburan-kuburan dan sebagainya.Dahulu orang-orang musyrik Arab
beranggapan bahwa berhala-berhala itu hanyalah sebagai perantara atau wasilah
untuk mendekatkan mereka kepada Allah.Mereka mengatakan bahwa mereka
tidak menyembahnya, pernyataan tersebut hanyalah sebagai kebohongan mereka,
padahal hati mereka mengakui kesalahan yang mereka perbuat. Hal ini
diungkapkan dalam firman Allah: "... Ma na'buduhum illaa liyuqarribuunaa ila
Allahi zifaa... "(Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka
mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya...)".
Sebenarnya fungsi pokok diciptakan-Nya jin dan manusia adalah agar
mereka menyembah Allah SwT semata, sebagaimana ditegaskan dalam firman-
Nya pada surat Adz-Dzaariyaat [51]: 56 yang artinya sebagai berikut: "Aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku".

19
Ibarat gelas, ia dibuat mempunyai fungsi tertentu, yaitu sebagai tempat minuman.
Apabila gelas tersebut hanya dijadikan hiasan di almari, maka berarti gelas
tersebut tidak berfungsi.Demikian pula manusia, apabila mereka tidak beribadah,
maka berarti mereka tidak berfungsi.Lebih fatal lagi, jika mereka menyembah
selain Allah, maka mereka bagaikan gelas yang diisi kotoran.
Ibadah yang shahih akan menghasilkan dan melahirkan sikap dan perilaku
yang positif dalam kehidupan sehari-hari yang menjadi bekal dan pegangan dalam
mengemban amanah sebagai hamba Allah khususnya tugas da’wah. Diantara
dampak dari ibadah adalah sebagai berikut:

1. Meningkatnya Keimanan
Ulama ahlu sunah wal jamaah sepakat bahwa iman mengalami turun naik,
kuat dan lemah, pasang-surut, menguat dengan amal shalih dan melemah
dengan maksiat. Allah berfirman: “sesungguhnya orang-orang yang beriman
ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan
apabila dibacakan ayat-ayat bertambahlah iman mereka (karenanya) dan
hanya kepada Allahlah mereka bertawakal:”.( Al Anfal 2.)
2. Semakin kuat penyerahan diri kepada Allah (Islam)
Ketika kaum muslimin menhghadapi kekuatan sekutu pada perang ahzab
keyakinannya akan kemenangan yang dijanjikan Allah semakin mantap dan
keislaman mereka semakin kuat. “dan tatkala orang-orang mukmin melihat
golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: inilah yang
dijanjikan Allah dan rasulNya kepada kita, dan benarlah Allah dan RasulNya
dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan
ketundukan”. (Al Ahzab 22)
3. Ihsan Dalam Beribadah
Yaitu asy syu’ur bii uroqobatillah (merasa selalu diawasi Allah) sebagaimana
Rasulullah menjelaskan dalam hadits Bukhari.
“َ ‫َّللاَ َكأَنهكَ ت َ َراهُ فَ ِإ إن لَ إم تَك إُن ت َ َراهُ فَ ِإنههُ يَ َراك‬
‫سانُ أ َ إن ت َ إعبُ َد ه‬ ِ‫“ إ‬
َ ‫اْلحإ‬

“Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya,


jika kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya Allah Melihat
kamu.”(HR.Bukhari).

20
Ketika seorang muslim merasa diawasi Allah dalam beribadah, maka dia
berusaha maksimal melalukannya sesuai dengan petunjuk syari’at dan ikhlas
karena-Nya, inilah yang dimaksud dengan ihsan di dalam surat Al-Mulk ayat2
4. Ikhbat (tunduk)
Ibadah yang sebenarnya manakala dilakukan dengan kesadaran dan dorongan
hati,bukan formalitas dan rutinitas belaka. Tunduk dan patuh baru akan
tumbuih apabila didasari pemahaman yang dalam dan keimanan yang kuat
sebagaimana firmanNya: “dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu
meyakini bahwasanya Al Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka
beriman dan tunduk hati mereka kepadaNya. (Al Hajj 54)
5. Tawakal
Ibadah yang benar berdampak kehidupan seseorang ketika menghadapi
tantangan hidup terutama tantangan da’wah, para nabi ketika menghadapi
penolakan da’wah kaum mereka, mereka menyerahkan semua itu kepada
Allah.Hud 56
6. Mahabbah (rasa cinta)
Seorang mukmin dengan beribadah dapat merasakan cinta kepada Allah dan
allah mencintainya.
7. Taubat
Kata-kata yang paling sering diungkapkan oleh orang yang beriman terutama
yang aktif berda’wah di jalan Allah adalah memohon ampunan dari dosa dan
kesalahan. “Tidak ada do’a mereka selain ucapan: “Ya Tuhan kami,
ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami dan tetapkanlah
pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (Ali Imran
147).
8. Roja (mengharap rahmat Allah)
Seorang mukmin dalam beramal hanya mengharapkan rahmat
Allah,“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah
dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah,
9. Berdo’a
orang yang beriman ketika beribadah selalu meminta kepada Allah, tidak
meminta kepada selain-Nya.

21
10. Khusyu’
Orang yang beriman itu ketika disebut nama Allah hatinya tunduk dan khusyu
kepada Allah. “dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis
dan mereka bertambah khusyu’ (al Isra 107-109)

Tujuan ibadah adalah membersihkan dan menyucikan jiwa dengan


mengenal dan mendekatkan diri serta beribadat kepada-Nya.Sesungguhnya ibadah
dengan pengertian yang hakiki itu merupakan tujuan dari dirinya sendiri. Dengan
melakukan ibadah, manusia akan selalu tahu dan sadar bahwa betapa lemah dan
hinanya mereka bila berhadapan dengan kekuasaan Allah, sehingga ia menyadari
benar-benar kedudukannya sebagai hamba Allah. Jika hal ini benar-benar telah
dihayati, maka banyak manfaat yang akan diperolehnya. Misalnya saja surga yang
dijanjikan, tidak akan luput sebab Allah tidak akan menyalahi janjinya. Jadi,
tujuan yang hakiki dari ibadah adalah menghadapkan diri kepada Allah SWT
dan menunggalkan-Nya sebagai tumpuan harapan dalam segala hal.
Kesadaran akan keagungan Allah akan menimbulkan kesadaran betapa
hina dan rendahnya semua makhluk-Nya. Orang yang melakukan ibadah akan
merasa akan terbebas dari beberapa ikatan atau kungkungan makhluk. Semakin
besar ketergantungan dan harapan seseorang kepada Allah, semakin terbebaslah
dirinya dari yang selain-Nya. Harta, pangkat, kekuasaan dan sebagainya tidak
akan mempengaruhi kepribadiannya. Hatinya akan menjadi merdeka kecuali dari
Allah dalam arti sesungguhnya. Kemerdekaan sesungguhnya adalah kemerdekaan
hati.

22
D. PRINSIP-PRINSIP BERIBADAH
1. Ada Perintah dan Ketentuan
Islam tidak memberikan otoritas kepada manusia untuk turut menentukan
ibadah, kecuali Nabi utusan-Nya.Dalam melakukan ibadah kepada Allah
manusia tidak mempunyai kekuasaan menentukannya, bahkan sebaliknya
manusia terikat pada ketentuan-ketentuan yang diberikan Allah dan Rasul-
Nya.
Berbeda halnya dengan mu’amalah (masalah keduniaan), terdapat
kelonggaran yang demikian luas bagi manusia untuk menentukannya.

Tidak menyekutukan Allah SWT, secara langsung maupun tersembunyi.


Firman Allah SWT.

Artinya:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan
sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, ......“ Q.S An-
Nisa ayat36

2. Meniadakan Kesukaran dan tidak banyak beban


Keseluruhan ibadah dalam syari’at Islam tidak ada yang menyukarkan dan
memberatkan mukallaf (orang yang terkena beban kewajiban
beribadah).Perintah ibadah itu tidak banyak hanya beberapa saja. Semua
ibadah itu dalam batas kewajiban dan berjalan dengan kadar kesanggupan
manusia.
Prinsip kedua ini sebagaimana diterangkan Allah dalam al-Quran berikut :

23
Artinya:“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan
matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan
demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan Aku adalah orang yang
pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". Q.S Al-An’am ayat162-163

“…Allah menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki


kesukaran…”)QS.2/Al-Baqarah : 185)
“Allah tidak mebebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Ia mendapatkan pahala (dari kejahatan) yang di usahakannya dan ia mendapat
siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya "QS. 2/Al-Baqarah : 286
3. Yang Berhak Disembah Hanyalah Allah.
Bahwa kerinduan untuk berhubungan dengan Tuhan Hampir 2000 tahun yang
lalu, Prlutarcus, seorang ahli sejarah bangsa Yunani mengatakan bahwa
mungkin kita menjumpai kota-kota tanpa benteng-benteng, raja-raja yang
kaya, sastra maupun teaterteater. Tetapi tidak ada satu kota pun tanpa tempat
ibadah, atau tidak ada satu kota pun penduduknya yang tidak melakukan
ibadah.
Dari dalam jiwa manusia sendiri.hanya saja dalam kenyataan bahwa
tempat ibadah itu terdapat di mana-mana, menunjukkan keanekaragaman
dalam tatacara pelaksanaan serta bermacammacamnya tujuan ibadah tersebut.
Hal ini membuktikan bahwa keanekaragaman itu tidak berasal dari satu
sumber.Oleh karena itu, ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad
SAW., sebagai nabi terakhir yang memperoleh wahyu terakhir pula,
menegaskan bahwa satu hal yang mutlak dalam hidup beragama, dan memberi
pernyataan bahwa hanya Allah saja yang berhak disembah.
4. Ibadah itu Tanpa Perantara
Praktek beribadah sebagian umat manusia telah banyak mengalami
kekeliruan.Kekeliruan itu sebenarnya atas inisiatif dan konsepsi dari para
tokoh agamanya sendiri, di mana mereka membuat jarak antara manusia
dengan Tuhannya.

24
Islam sebagai agama lebih mempertegas bahwa hubungan manusia dengan
Tuhan (melalui ibadah) tidak perlu dengan perantara apa-apa, dan melalui
siapa pun. Manusia harus melakukan langsung dengan Allah SWT.

Sebagaimana dijelaskan dalam surah (Al-Baqarah/2: 186)

‫سألَ َك ََ َوإذ ََِا‬


َ ‫قر َِیب فإَنِي ِ عني ِ عباَدِي‬
َ ‫یب‬ َ ‫دَعاِن إذ ََِا الدَّاعِ ْد‬
ُ َِ ‫عوة أ ُج‬
ُ َِ ‫یس َْت َج‬
‫یبوا‬ َ َْ ‫منوا لي ِ ف َل‬
ُ َِ َْ ‫دون ل َع ََل َّھ ُم َْ بي ِ ْولی ُؤ‬ ُ َْ ‫یر‬
َ َُ‫ش‬ َ

Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku,


Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan
permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka
hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka
beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
5. Ikhlas dalam Beribadah
Dalam beribadah harus didasari dengan niat yang tulus, semata-mata
hanya mengharapkan ridha Allah.Niat adalah sikap jiwa, dan merupakan
motivator dalam mewujudkan suatu perbuatan.
Dalam hadis Nabi dinyatakan bahwa segala sesuatu itu tergantung niatnya
(innama al - a ’am al bi al - niat) .

Firman Allah SWT.

Artinya:
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus,
dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang
demikian Itulah agama yang lurus. Q.S Al-Bayyinah: 5

25
6. Seimbang antara dunia akherat (Al-Qashash/28:77)

ََ ِ ‫یبك ََ ََتنَ َْس وال ا ِآلخَرة الدَّاَر لََُّ له آتا َ َك‬


ِ ‫فی ََما َوابْتغ‬ َ َِ ‫نص‬
َ ‫َمن‬
َ ‫س ََن َكما وأ َح َْ َِسْن الد َُّْنیا‬
َ َْ ‫ی َْ َك لََُّ له أ َح‬ َ ْ َِ‫غ‬
َ ‫َتب وال إ ِل‬
َ‫فس ََاد‬ ِ ْ ‫إن ََ األ‬
َ ‫رض في ِ ْال‬ ْ
ِ ‫الَُ ْم ِفسِد َین ی ُح َِبُّ ال َّل ََله‬
Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiaanmu
dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat
kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan”.
7. Seimbang antara dunia akherat (Al-Qashash/28:77)

ََ ِ ‫یبك ََ ََتنَ َْس وال ا ِآلخَرة الدَّاَر لََُّ له آتا َ َك‬


ِ ‫فی ََما َوابْتغ‬ َ َِ ‫نص‬
َ ‫َمن‬
َ ‫س ََن َكما وأ َح َْ َِسْن الد َُّْنیا‬
َ َْ ‫ی َْ َك لََُّ له أ َح‬ َ ْ َِ‫غ‬
َ ‫َتب وال إ ِل‬
َ‫فس ََاد‬ ِ ْ ‫إن ََ األ‬
َ ‫رض في ِ ْال‬ ْ ‫ی ُح َِب‬
ِ ‫ُّالَُ ْم ِفسِد َین ال َّل ََله‬
Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiaanmu
dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat
kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan”.
8. Tidak berlebih-lebihan (Al-A’raf/7:31)
َ ‫كلوا ْمس ٍِجد ِكل ْعنَد زینت َ َكَُ َْم ُخذوا آدَ ََم بنَي ِ یا‬
ُ ‫َربواَْوا ُو‬
ُ ‫وال ش‬
ُ َِ َْ ‫تس‬
‫رفوا‬ ْ
ِ ‫الَُ ْمس‬
ُ ‫ِرفی ََن ی ُح َِبُّ ال إ ِن َّھ‬
Artinya: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap
(memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.
9. Mudah (bukan meremehkan) dan Meringankan Bukan Mempersulit (Al-
Baqarah/2:286)

26
‫لفَُ ال‬
ِ ََ ُ‫سا لََُّ له یك‬ َ ‫سعھا َ ِإال‬
ً َْ ‫نف‬ َ ‫بت َْ ما ل َھا َ ْو‬
َ ‫س‬َ ‫ی َْھا َ ك‬
َ ‫ما َوعل‬
َْ ‫بت‬ َ ْ‫إن َْ ت ُؤ ََا ِْخذنا َ ال ربنَّا َ ا‬
َ ََ ‫كتس‬ ِ َ ‫نس َِینا‬ َ ََْ ‫وال ربنَّا َ ا ََْأخ‬
َ َْ ‫طأن َأو‬
‫علی َْنا َ ت َح َْ َِ ْمل‬
َ ‫إص ًََْ را‬
ِ ‫َكما‬
َ ‫قب َْلنِا َ ْمن الذَّ َِ َین‬
‫على َح ََ ْملت َھ‬ َ َ ‫طاقةَ ال ما ت ُح َََ َِ ْملنا َ وال ربنَّا‬َ َ ‫ب ِھ َِ لنَا‬
ُ ْ‫غفر َْ عنا َّ وا‬
‫عف‬ ِ ْ‫ت واْ َر ْحمنا َ لنَا َ وا‬
َ َْ َ‫ص ْموالنا َ أن‬ ُ ‫على رنا ََْفا َ ْن‬
َ ‫قو َْ َِم‬ َ ‫ْال‬
‫كافر َِیَن‬ ْ
ِ ََ ‫ال‬
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya
dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa):
“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami
tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban
yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak
sanggup Kami memikulnya. beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan
rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap
kaum yang kafir.”
Dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa orang-orang ahli kitab hanya
diperintah untuk beribadah kepada Allah dengan niat yang tulus dan murni,
taat kepada Allah dan menjauhi kemusyrikan serta mendirikan shalat dan
menunaikan zakat

27
E. RUKUN DAN TATA CARA BERWUDHU SESUAI SUNNAH
RASULULLAH

Definisi Wudhu

 Definisi Secara Bahasa


Kata wudhu berasal dari bahasa Arab ‫ ُوض ُْوء‬yang artinya bersih atau indah.
َ ‫ ْال َو‬yang maknanya adalah
Secara bahasa wudlu diambil dari kata ُ ُ‫ضائَة‬
ُُ‫ظافَة‬ ْ
َ َّ‫(الن‬kebersihan) dan ُ ُ‫(ال ُح ْسن‬baik) (Syarhul Mumti' 1/148).

Al-Imam Ibnul Atsir Al-Jazariy -rahimahullah- (Seorang ahli bahasa)


ْ maka yang dimaksud adalah
menjelaskan bahwa jika dikatakan wadhu’ (ُ‫)ال ُوض ُْو ُء‬,
ْ
air yang digunakan berwudhu.Bila dikatakan wudhu’ (ُ‫)ال ُوض ُْو ُء‬, maka yang
diinginkan disitu adalah perbuatannya.Jadi, wudhu adalah perbuatan,
sedang wadhu’ adalah air wudhu’.[Lihat An-Nihayah fi Ghoribil Hadits (5/428)].

Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’iy -rahimahullah- berkata, “Kata wudhu’


ْ
terambil dari kata al-wadho’ah/kesucian (ُ‫)ال ُوض ُْو ُء‬.Wudhu disebut demikian, karena
orang yang sholat membersihkan diri dengannya.Akhirnya, ia menjadi orang yang
suci”. [Lihat Fathul Bariy (1/306)].

 Definisi Secara Istilah


Definisi wudhu menurut istilah (syar’i) adalah sebagai berikut :

 suatu bentuk peribadatan kepada Allah ta’ala dengan mencuci anggota tubuh
tertentu dengan tata cara yang khusus. (asy-Syarhul Mumti’, 1/148).
 "Menggunakan air yang thohur (suci dan mensucikan) pada anggota tubuh
yang empat (yaitu wajah, kedua tangan, kepala, dan kedua kaki) dengan cara
yang khusus menurut syari'at" (Al-fiqh al-Islami 1/208)
 Sedangkan menurut Syaikh Sholih Ibnu Ghonim As-Sadlan -hafizhohullah-,

َ ُ‫ضا ِءُاْأل َ ْر َب َع ِة‬


ِ َ‫عل‬
ٍُ‫ىُصفَة‬ َ ‫ط ُه ْو ٍرُفِيُاْأل َ ْع‬
َ ُ ٍ‫ُا ْس ِت ْع َمالُُ َماء‬:ُ‫ض ْو ِء‬ ْ ‫َم ْعن‬
ُ ‫َىُال ُو‬

ِ‫ع‬
ُ ‫صةٍُفِيُالش َْر‬ ُ ‫َم ْخ‬
َ ‫ص ْو‬

28
“Makna wudhu’ adalah menggunakan air yang suci lagi menyucikan pada
anggota-anggota badan yang empat (wajah, tangan, kepala, dan kaki)
berdasarkan tata cara yang khusus menurut syari’at”. [Lihat Risalah fi Al-
Fiqh Al-Muyassar (hal. 19)].

Dalil Diwajibkannya Wudhu


Ketetapan hukum wudhu berdasarkan pada tiga macam dalil :
1. Al-Quran
Q.S.Al-Maidah ayat 6

‫س ُحوا‬ َ ‫ام‬ ِ ‫سلُوا ُو ُجو َه ُك إم َوأ َ إي ِديَ ُك إم إِلَى ا إل َم َرا ِف‬


‫ق َو إ‬ ِ ‫صال ِة فَا إغ‬ ‫يَا أَيُّ َها اله ِذينَ آ َمنُوا إِذَا قُ إمت ُ إم إِلَى ال ه‬
‫سفَ ٍر أ َ إو‬
َ ‫علَى‬ َ ‫ط هه ُروا َوإِ إن ُك إنت ُ إم َم إرضَى أ َ إو‬ ‫س ُك إم َوأ َ إر ُجلَ ُك إم إِلَى ا إل َك إعبَي ِإن َوإِ إن ُك إنت ُ إم ُجنُبًا فَا ه‬
ِ ‫ِب ُر ُءو‬
‫س ُحوا‬ َ ‫ام‬‫ص ِعيدًا َط ِيِّبًا فَ إ‬ َ ‫سا َء فَلَ إم ت َ ِجدُوا َما ًء فَت َيَ هم ُموا‬ ‫َجا َء أ َ َح ٌد ِم إن ُك إم ِمنَ ا إلغَائِ ِط أَ إو ال َم إ‬
َ ِِّ‫ست ُ ُم الن‬
َ ُ‫علَ إي ُك إم ِم إن َح َرجٍ َولَ ِك إن يُ ِري ُد ِلي‬
ُ‫ط ِ ِّه َر ُك إم َو ِليُتِ هم نِ إع َمتَه‬ ‫ِب ُو ُجو ِه ُك إم َوأ َ إيدِي ُك إم ِم إنهُ َما يُ ِري ُد ه‬
َ ‫َّللاُ ِليَجإ عَ َل‬
‫علَ إي ُك إم لَعَله ُك إم ت َ إ‬
َ‫شك ُُرون‬ َ
Artinya:“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan
shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah
kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu
junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali
dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak
memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih);
sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan
kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya
bagimu, supaya kamu bersyukur.”(Q.S. Al-Maidah :6)

Untuk sahnya wudhu harus terpenuhi beberapa syarat dan fardhu. Akan
tetapi, untuk kesempurnaannya ada beberapa hal yang sunnah dilakukan pada
waktu berwudhu. Setiap ibadah memiliki syarat yang wajib dipenuhi sehingga
hukum ibadah tersebut dihukumi sah dalam arti dzimamah mukallaf.Sudah
terbebas darinya dan dia tidak wajib mengulangnya. Syarat merupakan salah satu
unsur dimana ia menjadi pijakan sah dan tidaknya suatu ibadah. Dari sini maka

29
ilmu tentang syarat sah shalat termasuk ilmu yang penting karena ilmu ini
termasuk ukuran yang dengannya kita bisa mengetahui sah dan tidaknya shalat.

Keutamaan Wudhu
Tentang keutamaan wudhu terdapat banyak hadis yang menyatakannya.
Berikut penulis mengutip beberapa hadis saja:

Dari ‘Abdullah Shunabiji


‫ت ا إل َخ َطايَا‬ ‫ اِذَا ا إ‬:َ‫ قَال‬.‫م‬.‫س إو ُل هللاِ ص‬
ِ ‫ست َ إنث َ َر َخ َر َج‬ ُ ‫ع إنهُ اَنه َر‬ َ ُ‫صنَابَ ِج ِّي ِ َر ِض َي هللا‬
ُّ ‫ع إب ِد هللاِ ال‬ َ ‫ع إَن‬
َ ‫شفَ ِار‬
,‫ع إينَ إي ِه‬ ‫ت اَ إ‬ِ ‫ت ا إل َخ َطايَا ِم إن َو ِج ِه ِه َحتهى ت َ إخ ُر َج ِم إن تَحإ‬
ِ ‫س َل َوجإ َههُ َخ َر َج‬ َ ‫غ‬ َ ‫ فَ ِاذَا‬,‫ِم إن ا َ إن ِف ِه‬
‫س ِه‬ ِ ‫س َح ِب َرأإ‬
َ ‫ فَ ِاذَا َم‬,‫ت ا َ َظافِ ِر يَ َد إي ِه‬
ِ ‫ت ا إل َخ َطايَا ِم إن يَ َد إي ِه َحتهى ت َ إخ ُر َج ِم إن تَحإ‬ِ ‫س َل يَ َد إي ِه َخ َر َج‬
َ ‫غ‬َ ‫فَ ِاذَا‬
‫ت ا إل َخ َطايَا ِم إن ِرجإ لَ إي ِه‬ِ ‫س َل ِرجإ لَ إي ِه َخ َر َج‬ َ ‫غ‬َ ‫ َف ِاذَا‬,‫س ِه َحتهى ت َ إخ ُر َج ِم إن اُذُنَ إي ِه‬ ِ ‫ت ا إل َخ َطايَا ِم إن َرأإ‬ ِ ‫َخ َر َج‬
‫رواه مالك و النساء‬ ‫صالَتُهُ نَافِلَةً ـ‬
َ ‫س ِج ِد َو‬ ‫ ث ُ هم كَانَ َم إ‬,‫ت ا َ َظافِ ِر ِرجإ لَ إي ِه‬
‫شيُهُ اِلَى ا إل َم إ‬ ِ ‫َحتهى ت َ إخ ُر َج ِم إن تَحإ‬
‫وابن ماجه والحاكم‬

Artinya:"Dari Abdullah as-Shunabaji ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: Jika


seorang hamba berwudhu kemudian berkumur-kumur, keluarlah dosa-dosa dari
mulutnya; jika membersihkan hidung, dosa-dosa akan keluar pula dari
hidungnya, begitu juga ketika ia membasuh muka, dosa-dosa akan keluar dari
mukanya sampai dari bawah pinggir kelopak matanya. Jika ia membasuh tangan,
dosa-dosanya akan ikut keluar sampai dari bawah kukunya, demikian pula
halnya, jika ia menyapu kepala, dosa-dosanya akan keluar dari kepala, bahkan
dari kedua telinganya. Jika ia membasuh kedua kaki, keluarlah pula dosa-dosa
tersebut dari dalamnya, sampai bawah kuku jari-jari kakinya. Kemudian
perjalanannya ke masjid dan sholatnya menjadi pahala baginya." (H.R. Malik,
an-Nasai, Ibnu Majah, dan Hakim).

Syarat-syarat Sahnya Wudhu


1. Islam
2. Mumayiz, karena wudhu merupakan ibadah yang wajib diniati, sedangkan
orang yang tidak beragama Islam dan orang yang belum mumayiz tidak diberi
hak untuk berniat
3. Tidak berhadas besar

30
4. Dengan air yang suci dan menyucikan
5. Tidak ada yang menghalangi sampainya air ke kulit, seperti getah dan
sebagainya yang melekat diatas kulit anggota wudhu

Rukun Wudhu
Dalam wudhu ada kewajiban-kewajiban dan rukun-rukun yang menjadi
keharusan dilaksanakan.Bila satu kewajiban saja tidak dilaksanakan, maka tidak
sempurna menurut syari’at.

1. Mulai wudhu dengan niat


Maksud wudhu berarti niat dengan hati yang tulus untuk berwudhu untuk
melaksanakan perintah Allah SWT dan mengikuti ajaran-ajaran Utusan-Nya.
“Rasulullah SAW menerangkan bahwa segala perbuatan tergantung kepada
niatnya, dan seseorang akan mendapatkan balasan menurut apa yang
diniatkannya…”(Bukhari dalam Fathul Baary, 1: 9; Muslim, 6:48).
2. Baca basmalah
Baca basmalah dengan membaca BISMILLAAHIR-RAH-MAANIR-
RAHIIM sambil mencuci kedua tangan hingga pergelangan tangan bersih.
3. Berkumur
Bilas 3 kali dan bersihkan gigi secara menyeluruh sehingga tidak ada
makanan di gigi.Disunnahkan untuk membersihkan hidung dengan menghirup air
dengan satu nafas dan mengeluarkannya dengan menekan hidung dengan tangan
kiri, dilakukan tiga kali.
4. Membasuh Muka
Wudhu yang benar berikutnya adalah mencuci muka 3 kali, mulai dari
tempat rambut tumbuh sampai dengan dibawah ujung kedua
rahangnya.Sedangkan lebarnya adalah antara kedua telinganya. Termasuk muka
adalah berbagai rambut yang tumbuh didalamnya seperti alis, bulu mata, kumis,
jenggot dan godet. Rambut-rambut tersebut wajib dibasuh bagian luar dan
dalamnya beserta kulit yang berada di bawahnya meskipun rambut tersebut tebal,
karena termasuk bagian dari wajah.

31
5. Membasuh kedua tangan beserta kedua siku
Menyiram air ditangan untuk membasahi kedua siku. Ini sesuai dengan
perintah Allah SWT dalam surah Al-Maaidah ayat 6 yang berarti, “ dan basulah
tangan-tanganmu sampai sikumu” Nabi mencuci tangan kanannya melalui
sikunya, dilakukan tiga kali. (HR Bukhari-Muslim)
6. Mengusap Kepala
Tata cara berwudhu berikutnya adalah menggosok kepala kebelakang.
Menggesek kepala harus dibedakan dengan menyeka dahi atau bagian dari
kepala.Ini sesuai dengan perintah Allah SWT dalam Al-Maaidah ayat 6, yang
berarti. “…dan usaplah kepala kalian…”
Rasulullah SAW mencontoh tentang caranya mengusap kepala, yaitu dengan
kedua telapak tangannya yang telah dibasahi dengan air, lalu ia menjalankan
kedua tangannya mulai dari bagian depan kepalanya sampai kebelakang
tengkuknya (HR Bukhari Muslim). Dalam mengusap kepalanya, Rasulullah SAW
melakukan satu kali, bukan dua tiga kali. Ali Bin Abi Thalib berkata, “… Aku
melihatn Nabi SAW mengusap kepalanya satu kali…”
7. Mengusap Kedua Telinga
Setelah itu, tanpa mengambil air segar, Nabi langsung menggosok
telinganya dengan memasukkan jari telunjuk ke dalam yelinganya, maka ibu jari
menyeka telinga. Karena Rasulullah SAW bersabdah “Kedua telinga termasuk
kepala”
8. Cucui Kedua Kaki Hingga Pergelangan Kaki
Cara berwudhu yang benar menurut sunnah berikutnya adalah mencuci
kedua kaki hingga bersih tiga kali. Ini sesuai dengan perintah Allah dalam Surah
Al-Maidah ayat 6, yang berarti “… basuh kakimu sampai dengan kedua mata
kaki…” untuk membasuh kaki Rasulullah mengambil kaki kanan tiga kali
kemudian kaki kira juga demikian. Saat membasuh kaki Rasulullah menggosok
jari kelingkingnya disela-sela jari kaki. Gosok sela-sela jari dan pastikan bagian
tumit kulit yang terlipat terkena air wudhu.

32
9. Wudhu Secara Tertib
Semua proseduk wudhu yang benar sesuai dengan sunnah ini dilkukan
secara berurutan dan dikerjakan dengan mendahului dari kanan. Setelah berwudhu
barulah membaca doa wudhu.
َ‫ الله ُه هم اجإ عَ إلنِي ِمن‬، ُ‫سولُه‬ َ ‫ش َه ُد أَنه ُم َح همدًا‬
ُ ‫ع إب ُدهُ َو َر‬ ‫َّللاُ َوحإ َدهُ الَ ش َِريكَ لَهُ َوأ َ إ‬
‫ش َه ُد أ َ إن الَ إِلَهَ إِاله ه‬
‫أَ إ‬
‫ َواجإ عَ إلنِي ِمنَ ا إل ُمت َ َط ِ ِّه ِرين‬، َ‫الت ه هوابِين‬

Artinya:“Aku bersaksí bahwa tídak ada ílah yang berhak dííbadahí dengan benar
kecualí Allah semata, tídak ada sekutu bagí-Nya, dan aku bersaksí bahwa
Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Ya Allah, jadíkanlah aku termasuk
orang-orang yang bertaubat, dan jadíkanlah pula aku termasuk orang-orang
yang membersíhkan dírí.” (HR. Muslím).

Syarat Wajib Dan Yang Membatalkan Berwudhu

Berikut syarat wajib wudhu:


1. Beragama Islam.
2. Suci dari hadast kecil dan besar.
3. Dapat membedakan yang baik dan buruk.
4. Tidak ada apapun yang dapat mengubah sifat air dan mencegah air masuk pada
tubuh, seperti riasan, lipstik, cat kuku dan sebagainya.
5. Mengetahui mana yang sunnah mana yang wajib.
6. Air untuk berwudhu merupakan air bersih dan suci (tidak berbau, kotor ataupun
tercampur bahan lainnya).

Hal yang Membatalkan Wudhu


Selain adanya syarat wajib wudhu, ada beberapa hal yang dapat membuat
wudhu yang telah kamu lakukan menjadi batal. Di antaranya sebagai berikut:
1. Keluar segala sesuatu dari dua jalan kemaluan (qubul dan dubur).
2. Bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya dengan tidak memakai
penutup.
3. Hilang akal dikarenakan gila, tertidur, pingsan atau mabuk.
4. Tersentuh kemaluan (kubul atau dubur) dengan tapak tangan atau jari yang
tidak memakai penutup (walaupun kemaluan sendiri).

33
5. Memakan daging unta, memakan babat, hati, lemak, ginjal atau perut besar juga
bisa mengakibatkan batalnya wudhu. kepala ke bagian bawah dagu dan dari
telinga kanan ke telinga kiri.

34
F. HUKUM MENINGGALKAN SHALAT

Pengertian Shalat
Secara bahasa shalat bermakna do’a, sedangkan secara istilah,
shalat merupakan suatu ibadah wajib yang terdiri dari ucapan dan perbuatan yang
diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam dengan rukun dan
persyaratan tertentu.

Menurut hakekatnya, shalat ialah menghadapkan jiwa kepada Allah SWT,


yang bisa melahirkan rasa takut kepada Allah & bisa membangkitkan kesadaran
yang dalam pada setiap jiwa terhadap kebesaran & kekuasaan Allah SWT.

Menurut Ash Shiddieqy, shalat ialah menggambarkan rukhus shalat atau


jiwa shalat; yakni berharap kepada Allah dengan sepenuh hati dan jiwa raga,
dengan segala kekhusyu’an dihadapan Allah dan ikhlas yang disertai dengan hati
yang selalu berzikir, berdo’a & memujiNya.

Kedudukan Shalat Dalam Islam


Shalat memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Dengan shalat kita
menghambakan diri kita sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun
kedudukan yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Shalat Sangat Ditekankan Dalam Islam
Merupakan kewajiban yang paling ditekankan dan paling utama setelah dua
kalimat Syahadat, serta merupakan salah satu Rukun Islam. Ibnu Umar
meriwayatkan bahwa Rasulullah MuhammadSallallahi Alaihi wa
Sallam berSabda:
”Agama Islam itu dibangun atas lima perkara yaitu: Persaksian bahwasanya
tidak ada Illah yang haq kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah,
mendirikan SHALAT, membayar Zakat, Shaum Ramadhan dan Haji”.
Perlu juga kita pahami bahwa kewajiban melaksanakan SHALAT sangat
berkaitan erat dengan Amalan di dalam Islam lainnya dimana bila seorang
tersebut giat berpuasa, ringan dalam berinfaq, bahkan sering berhaji namun ia tak
melaksanakan SHALAT maka Amalan yang ia kerjakan tersebut secara tidak

35
langsung maka akan tertolak karena ia tidak melaksanakan hal pokon atau wajib
sebelum melaksanakan yang ditekankan dalam beramal yaitu Shalat.
2. Allah Sebhanahu Dan Allah Ta’ala Mengancam Orang-Orang
YangMeninggalkan Shalat
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengemukakan ancaman berat terhadap
orang yang meninggalkan Shalat. Rasulullah Sallahi’alaihi wa Sallam telah
menjelaskan ancaman tersebut dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
”Apakah yang memasukkan atau menjerumuskan kamu ke dalam neraka?,
mereka menjawab, kami tidak mengerjakan Shalat.” (Q.S. Al- Mudatstsir [74] :
42-43).
Rasulullah Sallahi’alaihi wa Sallam bahkan menggolongkan mereka
termasuk ke dalam perbuatan Kufur, sebagaimana Sabda beliau:
”Sesungguhnya pembeda antara seorang Muslim dengan kesyirikan dan
kekufuran adalah meninggalkan Shalat”
3. ShalatAdalah Tiang Agama Islam
SHALAT merupakan tiang agama Islam dan ia tidak akan tegak kecuali
dengan SHALAT sebagaimana Sabda Rasulullah Shallahi’alaihi wa Sallam:
”Pokok perkara itu adalah Islam, tiangnya adalah SHALAT dan adapun puncak
ketinggiannya adalah Jihad di jalan Allah Ta’ala”.
4. Tidak Shalat Menyebabkan Amal Kebajikan Ditolak
Meninggalkan SHALAT dapat berakibat sangat fatal bagi Amalan kita
yang lain, dengan tidak mengerjakan SHALAT maka tidak diterima Amalan kita
satupun sebagaimana tidak diterimanya sesuatu karena ada Syirik. Dipembahasan
sebelumnya kita juga telah mengetahui bahwa SHALAT adalah Imadul
Islam, tiang Islam. Tidak melaksanakan SHALAT pada satu waktu atau beberapa
waktu, akan menggugurkan semua Amal ibadah yang lain yang dilakukan pada
waktu itu atau menyebabkan ditolaknya semua amal kebajikan yang dikerjakan
dalam waktu itu.
Apabila seseorang meninggalkan SHALAT Ashar pada suatu hari,
ditolaklah (tidaklah dipahalai) segala kebajikan yang dikerjakan pada hari itu. Al-
Bukhari meriwayatkan, bahwa Abu Malih mengatakan,

36
”Adalah kami bersama Buraidah dalam suatu peperangan dihari yang mendung,
maka Buraidah berkata: Bersegeralah mengerjakan SHALAT Ashar karena
sesungguhnya Nabi Sallallahi’alaihi wa Sallam berSabda: Barang siapa
meninggalkan SHALAT Ashar, maka sesungguhnya telah binasalah
Amalannya.” (HR. Al- Bukhari dan An- Nasa’i dari Abul Malih dari Buraidah).

Akibat Buruk Meninggalkan Shalat


Celakalah bagi mereka yang meninggalkan Shalat. Keburukan-keburukan
akan ia peroleh dari kesombongannya itu, murka Allah Subhanahu wa Ta’ala tak
henti-hentinya menghujam dirinya sekarang walau ia tak menyadarinya secara
langsung.

Hukum Meninggalkan Salat Fardhu


Mengenai hukum meninggalkan Salat Fardhu, Rasulullah Shallahi’alaihi
wa Sallam telah mengingatkan kepada kita melalui Sabdanya,
”Antara seorang Islam dan kekafiran ialah meninggalkan Salat.” (HR. Ahmad
dan Muslim dari Jabir, At- Targhib I:342)
”Urusan yang memisahkan antara kita (para Muslimin) dengan mereka (orang
kafir) itu, ialah Salat. Maka barangsiapa meninggalkannya, sungguh ia telah
menjadi kafir.” (HR. Ahmad dan Daud dari Buraidah, At Targhib I: 342)
An- Nawawi menerangkan, ”Orang yang meninggalkan Salat karena
mengingkari kewajibannya, dianggap telah menjadi kafir, keluar
dari millah (agama) Islam-dengan ijma’ ulama-, kecuali kalau ia baru memeluk
Islam dan belum mengetahui hukum tentang wajib Salat. Di buku lain dinyatakan
bahwa. barang siapa yang meninggalkan Salat karena mengingkari kewajibannya,
atau menolak kewajibannya dan tidak ada alasan lain, maka ia dihukumi sebagai
orang kafir dan telah Murtad menurut kesepakatan kaum Muslimin. Imam
(pemerintah Muslim) harus memintanya untuk bertaubat dari keyakinannya, jika
ia bertaubat (maka taubatnya diterima dan diberlakukan sebagaimana kaum
Muslimin lainnya) dan jika tidak mau bertaubat maka ia dihukum mati karena
sebab keMurtadannya (keluar dari agama Islam) dan berlaku baginya semua
hukum-hukum yang berkaitan dengan hukum orang Murtad.

37
Orang Yang Meninggalkan Salat Karena Malas Dan Enggan Tetapi Ia Tidak
Mengingkari Kewajibannya.
Tidak ada perbedaan di tengah-tengah kaum Muslimin, bahwa orang yang
meninggalkan Salat wajib dengan sengaja (tidak karena Udzur Syar’i) merupakan
dosa besar, bahkan dosa terbesar daripada dosa membunuh, mengambil harta
orang lain, dosa berzina, mencuri dan minum Khamr. Dan orang itu berhak
mendapatkan hukuman dari Allat Subhanahu wa Ta’ala, kebencian-Nya, serta
mendapatkan kerendahan dan kehinaan di dunia dan di akhirat.

Keburukan Menunda Salat Dari Waktunya.


Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman,
”Maka mereka tinggalkan di belakang mereka sesuatu yang menyia-nyiakanm
Salat dan mengikuti Syahwat, mereka akan menjumpai Ghaiy (mala
petaka).” (QS. Maryam 19 : 59)
Ibnu Mas’ud mengatakan, dimaksud dengan menyia-nyiakan Salat ialah
menunda Salat dari waktunya, seperti mengerjakan Salat Dhuhur setelah tiba
waktu Ashar, mengerjakan Ashar setelah tiba waktu Magrib. Orang seperti itu,
kelak akan masuk ke dalam Ghaiy yaitu suatu alur di dalam neraka Jahannam.
Barangsiapa Salat tidak dalam waktunya lagi karena memudah-mudahkan, karena
harta atau anak, atau karena suatu urusan, maka orang tersebut termaksuk dalam
golongan orang-orang yang rugi sebagaimana termaktum pada QS. Al-
Munafiqun ayat ke-69.

38
G. FUNGSI DAN HIKMAH SHALAT

Adapun fungsi ibadah shalat adalah sebagai rukun Islam dimana sebagai
rukun Islam tersebut menentukan sekali apakah seseorang menjadi insan muslim
yang baik atau tidak, dapat lihat pada usahanya untuk memenuhi seruan ibadah
shalat tersebut.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

ُ ‫صالَة‬
َّ ‫الدی ِْن ِع َماد ُ ا َل‬
ِ ‫ام فَقَ ْد اَقَا َم َھا فَ َم ْن‬
َ َ‫فَقَ ْد َھدَ َم َھا فَ َم ْن ال ِدیْنَ اَق‬

‫الدیْنَ َھدَ َم‬


ِ ‫البیھقى رواه‬

Artinya: “Shalat adalah tiang agama, maka barang siapa menegakkannya berarti ia
telah menegakkan agama; dan barang siapa meninggalkannya berarti ia telah
merobohkan agama (HR. Baihaqi).

Jadi dapat dipahami bahwa ibadah shalat adalah berfungsi sebagai rukun
Islam dan sekaligus sebagai tiang agama Islam maka orang-orang yang
menjalankan ibadah shalat dengan baik sama halnya bahwa dia berusaha untuk
menegakkan agama Islam dalam kehidupannya dan sebaliknya jika ternyata dia
tidak menjalankan ibadah shalat maka berarti dia merobohkan agama Islam dalam
hidupnya.

Selanjutnya menurut Hasbi Ash Shiddieqy bahwa fungsi ibadah shalat


fardhu adalah sebagai berikut:
a. Mengingatkan kita kepada Allah.
b. Mengidupkan rasa takut kepada Allah.
c. Menyuburkan pokok-pokok dan asas-asas tauhied.
d. Tali penghubung yang menghubungkan hamba dengan Allah Khaliqnya.
e. Mendidik dan melatih kita menjadi orang yang tenang.
f. Dapat menghadapi segala kesusahan dalam hati.
g. Menghilangkan tabi’at loba.
h. Tidak takut kemiskinan dan kepapaan karena banyk mengeluarkan harta di
jalan Allah.

39
i. Menghasilkan ketetapan pendirian.
j. Mengekalkan kita mengerjakan kebajikan.
k. Memelihara aturan-aturan dan disiplin.
l. Menjadi penghalang untuk mengerjakan kemungkaran dan keburukan.
m. Menyebabkan kita berani meninggalkan maksiat dan tidak berani
meninggalkan taat.
Dari pernyataan di atas maka dapat dipahami bahwa ibadah shalat fardhu
memiliki fungsi yang sangat baik dan sangat penting dalam kehidupan umat
manusia khususnya kaum muslimin, yang berdampak positif baik pada aspek
psikhis maupun phisik.
Banyak sekali ayat-ayat yang mendukung pada fungsi ibadah shalat fardhu
tersebut diantaranya Surat Thaha (20) ayat 14 sebagai berikut:

‫صلوة َ َواَقِ ِم فَا ْعبُ ْد ِنى اَنَا اِالَّ الَاِلهَ هللاُ اَنَا اِنَّنِى‬
َّ ‫ِل ِذ ْك ِرى ال‬

Artinya:“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku, maka
semabahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (QS. Thaahaa : 14).

Selanjutnya dalam Surat Al Ma’arij ayat 19-23 Allah SWT berfirman:

‫سانَ ا َِّن‬ ً ‫ َھلُ ْو‬. ‫سهُ ِاذَا‬


َ ‫عا ُخ ِلقَ اْ ِال ْن‬ ً . ‫سهُ َواِذَا‬
َّ ‫عاَْ َج ُزو ال‬
َّ ‫ش ُّر َم‬ َّ ‫َم‬

‫عا ْال َخی ُْر‬ َ ‫على ُھ ْم اَلَّ ِذیْنَ ْال ُم‬


ً ‫ َمنُ ْو‬. َّ‫ص ِلیْنَ اِال‬ َ ‫دَآئِ ُم ْونَ تِ ِھ ْم الَََص‬

Artinya: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.


Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapatkan
kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat”. (QS. Al
Ma’aarij : 19-23).

Dan selanjutnya dalam Surat Al Ankabut ayat 45 Allah berfirman:

َّ ‫ع ِن ت َ ْنھى ال‬
… ‫صلوة َ ا َِّن‬ ِ ‫…و ْال ُم ْن َك ِر ْالفَ ْحش‬
َ ‫َاء‬ َ
Artinya: “…Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji
dan munkar … (QS. Al Ankabut ayat 45).

40
Berdasarkan pada ayat tersebut di atas maka dapat dipahami bahwa ibadah
shalat fardhu wajib dilakukan oleh umat Islam karena banyak memiliki fungsi
dalam kehidupan umat Islam dan fungsi itu harus dioptimalkan bagi umat Islam
dengan menjalankan ibadah shalat secara rutin dalam kehidupan sehari-hari.
Fungsi yang paling utama bagi pelaksanaan ibadah shalat fardhu tersebut
adalah untuk mengingat Allah SWT, dimana seseorang yang sudah mampu untuk
mengingat Allah dalam kehidupannya maka ia harus memenuhi kewajibannya,
dan sebaliknya juga dari pelaksanaan ibadah shalat itu sendiri diusahakan secara
maksimal agar Allah SWT selalu berada dalam alam pikirannya sehingga segala
macam problema hidup diatasi dengan pikiran yang jernih dan ketenangan jiwa
karena Allah selalu bersamanya.
Ibadah shalat yang dilaksanakan umat Islam juga menghilangkah keluh
kesah dan sifat kikir, karena dengan menjalankan ibadah shalat akan
menumbuhkan kesadaran bahwa segala kenikmatan yang dimiliki oleh manusia
hanyalah datang dari Allah dan semuanya harus dipergunakan dengan baik, harta
yang dimilikinya juga harus digunakan untuk menempuh keridhaan Allah SWT.,
dan kekuatan jasmani serta rohani harus digunakan untuk beribadah dan tidak
boleh digunakan untuk berbuat maksiat karena kemaksiatan akan mendatang azab
dari Allah SWT.

Hikmah Ibadah Shalat.

Hikmah ibadah shalat sangat besar bagi kehidupan umat Islam baik dari
segi kehidupan pribadi maupun masyarakat. Pelaksanaan shalat itu sendiri telah
menunjukkan adanya rasa kepatuhan diri seseorang terhadap Khaliknya serta
menunjukkan adanya rasa syukur terhadap segala apa yang dianugerahkan Allah
sehingga seorang hamba berhadapan dengan Tuhannya untuk menyampaikan
segala puji-pujian yang Maha Agung.

Abul A’la Maududi menjelaskan bahwa hikmah ibadah shalat tersebut di


antaranya:

a. Kesadaran kedudukan sebagai budak.


b. Rasa berkewajiban.

41
c. Latihan kepatuhan.
d. Menimbulkan rasa kepatuhan kepada Allah.
e. Kesadaran akan hukum Allah.
f. Praktek kebersamaan.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa melalui ibadah shalat tersebut
akan menumbuhkan sifat rendah hati karena menyadari bahwa manusia
dicimtakan untuk menghambakan diri kepada Allah dengan kewajiban
menghambakan diri dan mematuhi kepada hukum-hukum yang datang dari Allah
SWT dan jika ibadah shalat itu dilaksanakan secara berjama’ah maka akan
membawa dampak positif bagi pembinaan persatuan dan kesatuan antara umat
Islam itu sendiri serta menumbuhkan rasa kebersamaan di berbagai bidang.
Zakiah daradjat menyatakan bahwa “Shalat lima waktu merupakan latihan
bagi pembinaan disiplin pribadi”.
Dan jika shalat itu dikerjakan secara berjama’ah juga mengandung
hikmah: “Komunikasi langsung antara anggota masyarakat sehingga selalu
menguasai situasi up to date yang sangat diperlukan dalam kehidupan harmonis
bermasyarakat, di samping menumbuhkan persaudaraan, persamaan, solideritas,
kekeluargaaan dan sebagainya”.
Dengan demikian dapat dipetik berbagai hikmah yang teramat penting
memalui kewajiban beribadah shalat tersebut yaitu unsur yang pertama adalah
pembinaan pribadi individu dimana melalui ibadah shalat tersebut akan
menumbuhkan diri yang berjiwa disiplin selalu mematuhi hukum dan aturan serta
berjiwa optimis terhadap anugerah dan rahmat dari Allah SWT.

42
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Hakikatnya semua agama memiliki tujuan yang sama yaitu menjadikan


semua pengikutnya berakhlak baik. Semua memilki sebuah kepercayaan yang
"memaksa" mereka agar menjadi manusia yang lebih baik. Bahkan ateis memeliki
sebuah kepercayaan yang mereka pegang teguh, namun kepercayaan tersebut
belum lah kita bilang sebuah agama karena tidak tercapainya unsur-unsur yang
dapat menyimpulkan kepercayaan tersebut adalah sebuah agama.

Ibadah ( ‫ ) عبادة‬secara etimologi berasal dari kata ‘abd yang artinya abdi,
hamba, budak, atau pelayan. Jadi ‘ibadah berarti, pengabdian, penghambaan,
pembudakan, ketaatan, atau merendahkan diri.
Di dalam syara’, ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan
maksudnya satu. Definisi ibadah itu antara lain :
4. Ibadah ialah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya
(yang digariskan) melalui lisan para Rasul-Nya,
5. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah , yaitu tingkatan ketundukan
yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling
tinggi,
6. Ibadah ialah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai
Allah , baik berupa ucapan atau perbuatan, yang dzahir maupun bathin. Ini
adalah definisi ibadah yang paling lengkap.

Kata wudhu berasal dari bahasa Arab ‫ ُوض ُْوء‬yang artinya bersih atau
َ ‫ ْال َو‬yang maknanya adalah ُُ‫ظافَ ُة‬
indah.Secara bahasa wudlu diambil dari kata ُُ‫ضائَة‬ َ َّ‫الن‬
ْ
(kebersihan) dan ُ ُ‫(ال ُح ْسن‬baik) (Syarhul Mumti' 1/148).

Secara bahasa shalat bermakna do’a, sedangkan secara istilah,


shalat merupakan suatu ibadah wajib yang terdiri dari ucapan dan perbuatan yang
diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam dengan rukun dan
persyaratan tertentu
Adapun fungsi ibadah shalat adalah sebagai rukun Islam dimana sebagai
rukun Islam tersebut menentukan sekali apakah seseorang menjadi insan muslim

43
yang baik atau tidak, dapat lihat pada usahanya untuk memenuhi seruan ibadah
shalat tersebut.
Muslim yang taat beragama hendahnya kita menjaga Salat-salat kita dan
tak lupa tentunya menambahnya dengan Salat-salat lain yang disunnatkan oleh
Nabi kita MuhammadShallallahi’alaihi wa Sallam. Ketahuilah, salah satu hikmah
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan karunia-Nya atas hamba-hamba-Nya adalah Dia
mensyariatkan kepada mereka beberapa Amalan Sunnat untuk menutupi
kekurangan Salat-salat Fardhu dan untuk mengangkat derajat mereka.

44
DAFTAR PUSTAKA

Https://www.academia.edu/28640893/Makalah_Agama_Pengertian_Agama
Https://fzahra97.blogspot.com/2014/12/makalah-ibadah-dalam-islam.html?M=1
Https://www.academia.edu/37494184/prinsipprinsip_ibadah_dalam_islam
Https://www.com/ Safe=strict&source=hp&ei=zfcjxybvjorgvgtm1poydw&q=
tata+cara+berwudhu+sesuai+ajaran+rasulullah&oq=tata+cara+berwudhu+sesuai
&gs_
Https://www.academia edu/28730804/agama_hukum _meninggalkan shalat
Https://almanhaj.or.id/5625-hukum-meninggalkan-shalat.html

45