Anda di halaman 1dari 20

BAGIAN ILMU BEDAH

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

KISTA ATEROMA

Disusun oleh :
Muhammad Zubair
10542 0249 10

Pembimbing :
dr. Rizal Tjaddi,Sp.B

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik


Bagian Ilmu Bedah

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2019
PENDAHULUAN

Kista ateroma adalah benjolan dengan bentuk yang kurang lebih bulat dan
berdinding tipis, yang terbentuk dari kelenjar keringat (sebacea), dan terbentuk akibat adanya
sumbatan pada muara kelenjar tersebut. Disebut juga kista sebacea, kista epidermal, kista
epidermal inkluasi, kista epitelial.
Kista ateroma disebabkan terjadinya proliferasi dari sel-sel epidermis.
Sel epidermis membentuk dinding dari kista dan menyekresikan keratin protein
ke dalam kantung.
Kista ateroma dapat terjadi pada semua usia, tapi tersering usia 30-40
tahun, pria : wanita = 2 : 1, adanya riwayat jerawat, dan luka pada kulit.
Pada umumnya kista ateroma tidak memerlukan terapi medika
mentosa. Kista sebasea ini dapat regresi spontan. Apabila tumbuh membesar dan
mengganggu dapat dilakukan ekstripasi kista.

.
1. ANATOMI KULIT
Pembagian kulit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan utama, yaitu
(Djuanda, 2007) :

Gambar 1. Anatomi Kulit

Kulit berasal dari : Ektoderm  epidermis


Mesoderm  dermis
Klasifikasi berdasarkan ketebalannya :
a. Kulit tebal
 epidermisnya tebal terutama stratum korneum
 dermis tipis
 tidak ada rambut
 ada finger mark (sidik jari)
 contoh pada kulit telapak tangan dan kaki
b. Kulit tipis
 epidermisnya tipis, dermis tebal
 ada rambut
 di semua kulit kecuali kulit telapak

Lapisan kulit Kutis Epidermis

Dermis

Sub Kutis / Hypodermis

 Epidermis
Terbentuk oleh epitel berlapis pipih bertanduk
Ada 6 lapisan :
 Stratum basal
Selapis sel silindris, terdapat sel keratin (awal dari keratinisasi) dan sel
melanosit (pigmen)
 Stratum spinosum
Terdiri dari beberapa lapis sel polihedris, punya jembatan antar sel
sehingga tampak seperti berduri
 Stratum glanulosum
Terdiri dari 2-4 lapis sel polihedris
 Stratum lucidum
Sel keratin mati, inti larut, tampak seperti lapisan homogen & transparan
 Stratum korneum
Lapisan homogen, hasil dari keratinisasi
 Stratum disjunctum
Stratum korneum yang sudah mengelupas
Sel-sel pada epidermis :
 Sel keratinosit  85% di epidermis, bermitosis hingga menjadi keratin
 Sel melanosit  pigmen melanin pemberi warna dan pelindung kulit
 Sel langerhans  makrofag
 Sel merkel  reseptor sensoris
Stratum korneum

Stratum lucidum

Stratum granulosum

Stratum spinosum

Stratum basal

Gambar 2. Lapisan – lapisan epidermis

 Dermis
Ada 2 lapisan :
1. Stratum papillare
 Terdiri dari jaringan ikat padat tak teratur, sabut kolagen halus
 Terdapat tonjolan-tonjolan ke arah epidermis (dermal papil)
 Kaya dengan pembuluh darah
2. Stratum retikulare
 Terdiri dari jaringan ikat padat tak teratur, sabut kolagen kasar
 Jarang ada kapiler
 Tampak lebih padat

 Subkutis / Hypodermis
 Terdiri atas jaringan ikat kendor
 Sering terisi jaringan lemak (panikulus adiposus)
2. ADNEKSA
Adneksa kulit terdiri atas kelenjar-kelanjar kulit, rambut, dan kuku
(Djuanda , 2007)
a) Kelenjar keringat
Berbentuk tubulus sederhana atau bergelung, terbagi menjadi 2 bagian :
 Pars sekretoris
o penghasil keringat, terdapat di dermis atau hypodermis
o dilapisi epitel selapis kubis, di tepinya dilapisi myo-epitel
o berwarna pucat denagn lumen yang lebar
 Pars ekskretoris
o penyalur keringat, berbentuk tubulus dan berjalan agak spiral
o dilapisi 2 lapis sel kubis, tidak ada myo-epitel
o warna lebih gelap dengan lumen yang sempit
Berdasarkan sifatnya ada 2 jenis kelenjar keringat :
 Ekrin
Menembus epidermis dan bermuara langsung membentuk pori di
permukaan kulit. Banyak terdapat di telapak tangan dan kaki.
 Apokrin
Bermuara pada folikel rambut dan sekretnya bercampur dengan lemak,
memberikan bau yang khas. Banyak terdapat di axilla, regio pubica, areola
mammae, sekeliling anus, kelopak mata, MAE.
b) Kelenjar lemak
Bersifat holokrin, tediri atas alveolar sederhana / bercabang.
Pada membrana basalis terdapat sel-sel basal pipih, makin ke dalam sel makin
besar dan tetesan lemaknya makin banyak, kemudian mengalami kematian.
Pada leher kelenjar sel-sel hancur menjadi sebum (lemak, sisa sel, butir
kerato-hyalin, keratin)
Sekretnya disalurkan kedalam folikel rambut kecuali yang tidak punya folikel
rambut langsung di keluarkan lewat permukaan kulit. Dalam pengeluarannya
dibantu kontraksi muskulus arrector pilli.
Tidak terdapat di kulit telapak tangan dan kaki.
c) Rambut & folikel rambut
Rambut :
Terdiri atas batang rambut dan akar rambut, dibingkus oleh folikel rambut.
Lapisan rambut dari dalam keluar :
a. Medulla
b. Cortex
c. Kutikula

Penampang rambut mempengaruhi sifat rambut :


Rambut lurus  penampang melintang bundar
Rambut berombak  penampang lonjong
Rambut keriting  penampang elips

Folikel rambut :
Lapisan folikel rambut dari luar kedalam :
a. Selubung jaringan ikat
b. Selubung akar bagian luar (outer root sheath)
c. Selubung akar bagian dalam (inner root sheath)
terdiri atas 3 lapis dari luar kedalam  lapisan henle, huxley, kutikula

3. FISIOLOGI KULIT
 Fungsi Proteksi
Kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisis atau mekanis,
misalnya gesekan, tekanan, tarikan; gangguan kimiawi, misalnya zat-zat kimia
terutama yang bersifat iritan; gangguan panas; gangguan infeksi luar terutama
kuman/bakteri maupun jamur. Hal tersebut dimungkinkan karena adanya
bantalan lemak, tebalnya lapisan kulit, dan serabut-serabut jaringan penunjang
Melanosit turut berperan dalam melindungi kulit terhadap pajanan sinar
matahari dengan mengadakan tanning. Proteksi rangsangan kimia dapat
terjadi karena sifat stratum korneum yang impermeabel terhadap berbagai zat
kimia dan air. Di samping itu terdapat lapisan keasaman kulit yang melindungi
kontak zat-zat kimia dengan kulit. Lapisan keasaman kulit ini terbentuk dari
hasil ekskresi keringat dan sebum. Keasaman kulit menyebabkan pH kulit
berkisar pada 5 – 6,5 sehingga merupakan perlindungan kimiawi terhadap
infeksi bakteri maupun jamur.

 Fungsi Absorbsi
Kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, larutan, dan benda padat;
tetapi mudah menyerap cairan yang mudah menguap dan yang larut lemak.
Permeabilitas kulit terhadap O2, CO2, dan uap air memungkinkan kulit ikut
mengambil bagian pada fungsi respirasi. Kemampuan absorbsi kulit
dipengaruhi oleh tebal tipisnya kulit, hidrasi, kelembaban, metabolisme, dan
jenis vehikulum. Penyerapan dapat berlangsung melalui celah antarsel,
menembus sel-sel epidermis, atau melalui muara saluran kelenjar.

 Fungsi Ekskresi
Kelenjar-kelenjar kulit mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna lagi bagi
tubuh atau sisa metabolisme berupa NaCl, urea, asam urat, dan amonia.

 Fungsi Persepsi
Kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis.
Terhadap rangsangan panas diperankan oleh badan-badan Ruffini di dermis
dan subkutis. Terhadapa dingin diperankan oleh badan-badan Krause yang
terletak di dermis. Badan taktil Meissner terletak di papila dermis berperan
terhadap rabaan, demikian pula badan Merkel Ranvier yang terletak di
epidermis. Sedangkan terhadap tekanan diperankan oleh badan Paccini di
epidermis. Saraf-saraf sensorik serabut tersebut lebih banyak jumlahnya di
daerah-daerah erotik.

 Fungsi Pengaturan Suhu Tubuh (termoregulasi)


Kulit melakukan peran ini dengan cara mengeluarkan keringat dan
mengerutkan pembuluh darah kulit. Kulit kaya akan pembuluh darah sehingga
memugkinkan kulit mendapat nutruisi cukup baik. Tonus vaskular diperankan
oleh saraf simpatis (asetilkolin).
 Fungsi Pembentukan Pigmen
Sel pembentuk pigmen (melanosit) terletak di lapisan basal dan sel ini
berasal dari rigi saraf. Perbandingan jumlah sel basal : melanosit adalah 10:1.
Jumlah melanosit maupun besarnya butiran pigmen (melanosomes)
menentukan warna kulit ras maupun individu. Pajanan terhadap sinar matahari
mempengaruhi produksi melanososm. Pigmen disebar ke epidermis melalui
tangan-tangan dendrit; sedangkan ke lapisan kulit di bawahnya dibawa oleh
sel melanofag (melanofor). Warna kulit tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh
pigmen kulit, melainkan juga oleh tebal tipisnya kulit, reduksi Hb, oksi Hb,
dan karoten.

 Fungsi Keratinisasi
Lapisan epidermis dewasa mempunyai 3 jenis sel utama, yaitu: keratinosit,
sel Langerhans, dan melanosit. Keratinosit dimulai dari sel basal mengadakan
pembelahan, sel basal yang lain akan berpindah ke atas dan berubah
bentuknya menjadi sel spinosum, makin ke atas sel menjadi semakin gepeng
dan bergranula menjadi sel granulosum. Makin lama inti menghilang dan
keratinosit ini menjadi sel tanduk yang amorf. Proses ini berlangsung terus-
menerus seumur hidup. Proses ini berlangsung normal selama kira-kira 14-21
hari dan memberi perlindungan kulit terhadap infeksi secara mekanis
fisiologik

 Fungsi Pembentukan Vitamin D


Fungsi ini dimungkinkan dengan mengubah 7 hidroksi kolsterol dengan
bantuan sinar matahari. Namun kebutuhan tubuh akan vitamin D tidak cukup
hanya dari hal tersebut sehingga vitamin D eksogen masih tetap diperlukan.
Pada manusia kulit dapat pula mengekspresikan emosi karena adanya
pembuluh darah, kelenjar keringat, dan otot-otot di bawah kulit.
4. DEFINISI
Kista ateroma adalah benjolan dengan bentuk yang kurang lebih bulat dan
berdinding tipis, yang terbentuk dari kelenjar keringat (sebacea), dan terbentuk akibat adanya
sumbatan pada muara kelenjar tersebut. Disebut juga kista sebacea, kista epidermal, kista
epidermal inkluasi, kista epitelial.
Kista ateroma ditemukan di daerah yang mengandung kelenjar
sebasea. Kadang terdapat multipel dalam berbagai ukuran seperti yang
ditemukan di kepala atau di skrotum. Kista ini tidak pernah dijumpai di telapak
tangan ataupun kaki. Produk kelenjar sebasea, yaitu sebum, tertimbun
membentuk tumor yang kurang lebih bulat, berbatas tegas, berdinding tipis,
bebasdari dasar, tetapi melekat pada dermis di atasnya. Daerah muara yang
tersumbat merupakan tanda khas yang disebut pungta. Isi kista adalah bubur
eksudat warna putih abu-abu yang berbau asam. Patut diingat bahwa bila
sebagian dinding kista tertinggal pada eksisi, kista akan kambuh. Bila kista
menjadi abses karena infeksi sekunder, dilakukan insisi dan drainase.

Gambar 3. Kista Sebasea

Benjolan berupa kista retensi akibat sumbatan saluran keluar kelenjar


sebaceus (lemak) yang terlihat sebagai titik berwarna biru atau hitam (puncta).
Benjolan lepas dari dasarnya dan melekat pada kulit di tempat puncta
(komedo). Benjolan berisi lemak kuning-putih. Sering didapatkan pada daerah
muka, belakang telinga, dan seluruh tubuh. Bila terjadi infeksi sekunder dapat
terjadi abses. Terapi bila terjadi abses adalah insisi dan pengerokan /
ekskohleasi (seluruh simpai dikeluarkan). Bila masih utuh dilakukan ekstirpasi
in toto

Kista ini mengandung campuran sebum dan protein kulit, terlihat


putih dengan material semi solid. Kista sebasea adalah suatu kantung tertutup
dibawah permukaan kulit yang memiliki batas terluar (infundibulum) adalah
folikel rambut. Sebum diproduksi oleh kelenjar sebasea dari epidermis. Kista
sebasea ini sering disetarakan dengan kista epidermoid. Kista-kista ini
dibedakan berdasarkan asal jaringannya, yakni kista sebasea yang berasal dari
kelenjar sebasea, kista epidermoid berasal dari epidermis, dan kista pilar
berasal dari folikel rambut.

5. EPIDEMIOLOGI
Kista epidermoid ditemukan kebanyakan pada orang dewasa baik laki laki
maupun perempuan. Kelainan genetik seperti Gorlin sindrom (basal nevoid sel karsinoma),
Panchonychia kongenital tipe 2 (Jackson-Lawler tipe), dan Gardner sindrom mungkin
menjadi predisposisi tersendiri untuk menjadi kista

6. GEJALA DAN TANDA


Kista sebasea tampak sebagai benjolan kecil, biasa tumbuh membesar
perlahan di wajah, kulit kepala, punggung, telinga, dan lengan atas, meskipun
kista ini dapat tumbuh di mana pun kecuali telapak tangan dan telapak kaki.

Gambar 4. Gejala dan tanda pada Kista ateroma


Pada laki-laki, predileksi lokasi tersering adalah pada skrotum dan
dada. Kista ini lebih sering ditemukan pada tempat-tempat berambut, yang
mana pada jangka panjang dapat menyebabkan kerontokan rambut di atas kista
tersebut berada. Pada palpasi teraba halus dengan ukuran bervariasi, dan
umumnya bentuknya bundar. Pada wanita benjolan kecil dapat ditemukan di
genitalia, payudara, abdomen, wajah, leher, atau di mana saja. Infeksi dapat
terjadi dengan manifestasi:
1. Kemerahan
2. Tenderness
3. Teraba hangat pada massa dan daerah sekitarnya
4. Terdapat material berwarna keabu-abuan, seperti keju, dan berbau busuk
yang berasal dari benjolan.
Nodul ini teraba padat tetapi dapat digerakkan dan jarang nyeri,
kecuali telah terinfeksi. Bila terjadi infeksi, daerah bejolan akan berwarna
kemerahan dan bengkak, serta sangat sensitif terhadap sentuhan. Kista sebasea
adalah tumor jinak, tapi dapat menjadi proses kronis dengan melibatkan infeksi
sehingga dapat terbentuk abses.
Secara umum massa ini terdiri atas:
1. Jaringan fibrosa dan cairan.
2. Sustansi lemak atau keratin, yang terdiri atas struktur protein fibrosa, yang
membentuk kumpulan keju, mungkin dapat disebut kista keratin
3. Isi kista ini semacam cairan kental, serosanguinis, mengandung cairan
purulen dan materi darah.

Gambar 5. Lokasi Kista Ateroma


Gambar 6. Puncta (khas) pada Kista Atheroma

7. PENYEBAB
Terjadi proliferasi dari sel-sel epidermis. Sel epidermis membentuk
dinding dari kista dan menyekresikan keratin protein ke dalam kantung.
Keratin ini berwarna kuning yang kadang keluar dari kista. Beberapa faktor
yang dapat menyebabkan proliferasi abnormal sel:
1. Kerusakan folikel rambut. Tiap rambut ini tumbuh dari folikel rambut,
yakni kantung kecil dari modifikasi kulit dermis. Folikel ini rusak akibat
luka seperti abrasi maupun luka operasi sehingga dapat tertutup oleh sel-
sel permukaan.
2. Rupturnya kelenjar sebasea. Kelenjar sebasea yang terletak di atas folikel
rambut ini menyekresi sebum, yang berfungsi sebagai lubrikan kulit dan
melindungi tangkai rambut. Kelenjar ini mudah ruptur pada kondisi
inflamasi kulit, terutama, acne.
3. Tersumbatnya kelenjar sebasea, bengkaknya folikel rambut, dan produksi
testorteron yang berlebihan
4. Trauma kulit dapat menginduksi terbentuknya kista
5. Kista ini dapat terbentuk akibat dermatobia hominis, sejenis lalat. Lalat ini
dapat menginduksi terbentuknya kista sebasea melalui telurnya yang
divektori oleh nyamuk.
8. FAKTOR RESIKO
1. Usia, dapat terjadi pada semua usia, tapi tersering usia 30-40 tahun
2. Pria : wanita = 2 : 1
3. Riwayat jerawat
4. Luka pada kulit

9. PATOFISIOLOGI
Kista ateroma sebagian besar merupakan hasil dari penyempitan unit
dari pilosebasea. Kista tersebut sama seperti profil Sitokreatin pada
infundibulum folikuler. Kista biasanya berkembang dengan lambat dan
asimptomatis, terkadang bisa ruptur.

10. TERAPI
Tidak memerlukan terapi medika mentosa. Kista sebasea ini dapat
regresi spontan. Apabila tumbuh membesar dan mengganggu dapat dilakukan
ekstirpasi kista. Apabila terjadi inflamasi pada kista dapat diinjeksikan steroid
intra lesi dan antibiotik. Beberapa teknik operasi yang dapat digunakan untuk
terapi kista sebasea antara lain:
 Traditional wide excision atau total insisi. Teknik ini membuang seluruh
kista, mencegah rekurensi, namun meninggalkan bekas luka yang paling
besar.
 Eksisi minimal. Teknik ini membuang semua kista dengan luka minimal.
Teknik ini yang lebih disukai.
Teknik eksisi minimal :
1. Palpasi kista dan lingkari area tersebut untuk mengonfirmasi pungta dan
lokasi pastinya
2. Gambar suatu elips yang mengelilingi pungta melalui kista dengan skin
marker. Arah garis longitudinal dari elips tersebut harus sesuai dengan
arah lipatan kulit

3. Suntikkan anestesi lokal infiltrasi. Bersihkan dengan larutan anti septic.


Tutuplah kulit di sekitar daerah kista dengan doek steril.

4. Insisi kulit hingga jaringan subkutan menggunakan skalpel


5. Lalu, dengan menggunakan gunting diseksi bengkok dan lurus,
identifikasi bidang antara kista dan jaringan subkutan yang
mengelilinginya

6. Saat bidang ini telah teridentifikasi, pisahkan 25% bagian superficial


dari lingkaran kista dengan gunting diseksi tumpul. Lalu, lakukan
penekanan dengan jari tangan.
7. Secara perlahan, angkatlah kulit yang telah diinsisi dan jepit kista
dengan forceps dan pisahkan ujung dalam kista dari jaringan sisanya
dengan menggunakan gunting

8. Pastikan keadaan hemostasis dan tutup kulit dengan dengan benang non
absorbable, misalnya ethilon 6,0, dan jahitan interrupted

9. Bersihkan luka dengan larutan saline dan keringkan. Berikan steristrips


dan skin coloured tape

 Punch biopsy excision, hampir mirip dengan eksisi minimal. Dilakukan


eksisi elips luas dari kista sebasea. Teknik ini lebih membutuhkan waktu
yang lebih sedikit dan menawarkan hasil kosmetik yang lebih baik.
 Laser. Untuk meminimalkan luka, dapat digunakan laser karbon dioksida
untuk menghilangkan kista.

11. KOMPLIKASI
Kista sebasea ini dapat terinfeksi, ruptur, dan terbentuk abses, namun
jarang terjadi malignansi. Infeksi dapat disebabkan Staphylococcus aureus,
Streptococcus grup A, dan E. coli. Tapi ada beberapa kasus yang dapat
berkembang menjadi karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa. Bila
terjadi infeksi sekunder, dan terbentuk abses, dilakukan pembedahan dan evakuasi nanah.

12. DIFERENSIAL DIAGNOSIS


Steatositoma multiplex
Kista pilar
Lipoma

13. PROGNOSIS
Ad Vitam : Ad Bonam
Ad Sanationan: Ad Bonam
Ad Functionam: Ad Bonam
DAFTAR PUSTAKA

 Fitzpatrick’s. Dermatology In General Medicine ed 7th.New York: Mc


Graw Hill 2008
 Sjamsuhidajat. Buku Ajar Ilmu Bedah edisi 2. Jakarta: EGC. 2004.
 Djuanda. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Ke-6. Jakarta: Badan
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2011.
 Pandya KA & Radke F. 2009. Benign Skin Lessions: Lipomas, Epidermal
Inclusion Cysts, Muscle and Nerve Biopsies. Surg Clin N Am 89: 677-687.
 Sinha P, Lingegowda JB, & Selvi RT. 2012. Malignant Transformation in
Sebaceous Cyst- a Case Report. International Journal of Medical and
Health Sciences vol I (2): 63-65.