Anda di halaman 1dari 17

Pendekatan-pendekatan Konseling Karir

Definisi Konseling Karier


Terdapat konvergensi dalam definisi konseling karir, sebuah proses yang mungkin
diawali dengan penerimaan gagasan Super (1980) yang berhubungan dengan sifat interaktif
peranan kehidupan. Pada tahun 1991, Linda Brooks dan saya (Brown dan Brooks, 1991)
mendefinisikan konseling karir sebagai sebuah proses yang bertujuan untuk memberikan
fasilitas pada perkembangan karir dan mungkin melibatkan pemilihan, pemasukan,
penyesuaian, atau kemajuan dalam sebuah karir. Kita mendefinisikan permasalahan karir
sebagai keragu-raguan yang berkembang karena terlau sedikitnya informasi, keragu-raguan
yang tumbuh karena kebimbangan pilihan; ketidakpuasan pada performa pekerjaan; ketak
sejenisan antara orang dan peranannya dalam perkerjaan; dan ketak sesuaian antara peranan
dan peranan kehidupan lain, seperti keluarga atau waktu luang. The National Career
Development Association (NCDA, 1997) menerapkan sebuah definisi yang sama namun
lebih sederhana. Organisasi ini mendefinisikan konseling karir sebagai sebuah ‘proses
membantu seseorang dalam perkembangan sebuah kehidupan karir dengan sebuah focus pada
definisi peranan pekerja dan bagaimana peranan tersebut berinteraksi dengan peranan
kehidupan yang lainnya’ (hal.2). Sebagian besar isinya, definisi ini merefleksikan posisi yang
diambil oleh Gysber, Heppner, dan Johnston (2003); Admunson (2003); dan para ahli teori
postmodern lainnya yang mungkin mengambil permasalahan dengan gagasan yang lengkap
dalam definisi karena mereka terlihat menganggap bahwa terdapat batasan yang muncul
diantara dan ditengah-tengah peranan kehidupan, sebuah anggapan yang akan menjadi tidak
konsisten dengan pandangan perspektif holistic mereka.

Pendakatan dalam Konseling Karir


A. Pendekatan konseling karir Trait and Factor

Pendekatan ini memiliki latar belakang sejarah pada bidang psikologi yang difokuskan pada
identifikasi dan pengukuran perbedaan individu dalam tingkah laku manusia. Teori ini
merupakan satu dari keseluruhan orientasi dalam proses psikologi vokasional untuk
menggambarkan dan menjelaskan pembuatan keputusan karir berdasarkan kesesuaian
individu dengan pekerjaan. Terbentuk dari tiga asumsi atau prinsip :
1. Berdasarkan karakteristik khusus psikologisnya setiap pekerja disesuaikan setepat
mungkin pada suatu jenis pekerjaan yang khusus.
2. Kelompok pekerja yang berbeda pekerjaan mempunyai karakteristik psikologi yang
berbeda.
3. Berbagai penyesuaian kerja langsung dengan perjanjiannya antara karakteristik pekerja
dengan tuntutan kerja.

a. Model
Model pendekatan konseling karir ini lebih menekankan pada tiga hal : a) individu, b)
pekerjaan, c) hubungan antar keduanya, sehingga Parson dianggap sebagai pelopor yang
menggabungkan pengalaman-pengalaman pada perkembangan psikometrik dan
okupasionologi yang terbaru. Yang dibuat dalam tes Minnesota yaitu minat, keterampilan
manual, persepsi ruang dan lainnya. Secara filosofis, teori konseling karir trait and factor
telah mempunyai komitmen kuat terhadap keunikan individu. Secara psikologis nilai ini
bermanfaat dalam waktu yang lama untuk prinsip psikologi differensial. Sebagai
konsekuensi, terdapat dua implikasi signifikan untuk model ini. Pertama hal ini sangat
bersifat teoritis daripada pemasukan proporsi perbedaan individu. Kedua, analisa dan
atomistic yang berorientasi ini memberikan contoh yang disebut psikograf dimana profil
konseling lebih skematis.

b. Metode

Metode yang digunakan dalam pendekatan ini sebagai refleksi dari pendekatan rasionalistik
dan kognitif. Teknik-teknik yang digunakan adalah wawancara, prosedur interpretasi tes dan
menggunakan informasi pekerjaan yang selanjutnya akan disusun untuk membantu
menyelesaikan masalah konseli dan membantu membuat keputusan karir. Konselor tidak
hanya melakukan pengumpulan data dengan sembarangan saja tetapi juga harus melakukan
teknik-teknik tertentu seperti wawancara yang harus sesuai dengan petunjuk yang ada. Dalam
hal ini konselor bias memahami perasaan, emosi dan sikap klien.

c. Materi

Untuk menggambarkan model dan metode konseling karir trait dan factor dengan materi
kasus actual. Seorang perwakilan konseli dari Universitas konseling telah dipilih. Seorang
pria berusia 18 tahun, Mark S. melakukan tiga wawancara setiap minggunya. Seperti dalam
kaitan dengan konseling jabatan, Mc. Daniel (dalam Munandir, 1996) langkah-langkah yang
dilewati dalam proses konseling pilihan pekerjaan yakni : (a) langkah awal, (b) testing dan
penafsiran, (c) mempelajari infomasi pekerjaan, (d) menyempitkan bidang pekerjaan yang
dikaji, (e) meninjau kemajuan, dan (f) penempatan dan tindak lanjut. Dari enam langkah
tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Dalam langkah awal, konselor membina hubungan baik dengan klien dengan tujuan agar
klien merasa enak dan bebas. Konselor menstruktur situasi konseling dengan tujuan agar
jelas bagi klien apa yang memegang peranan besar dalam penyelesaian masalah.
2. Langkah testing dan penafsiran bias berlangsung dalam beberapa kali pertemuan
wawancara. Tes yang umum diberikan adalah untuk mengukur minat, kemampuan
akademik umum, dan bakat.
3. Dalam langkah mempelajari informasi kerja, klien dibantu memperoleh pemahaman
tentang sejumlah pekerjaan yang mengandung kemungkinan dengan mempertimbangkan
kemampuan bakat dan minat.
4. Langkah keempat membantu klien mengaitkan kualifikasi dengan pilihan pekerjaan dan
bertujuan menyempitkan bidang pekerjaan, menyusun rencana program sesuai dengan
pilihan pekerjaan, bagi siswa ini berarti pemilihan program pengajaran dan mengikuti
kegiatan ekstrakurikuler.
5. Di latar sekolah, peninjauan atas kemajuan siswa dilakukan pada akhir tahun pelajaran.
Setelah peninjauan atas kemajuan yang telah dicapai kemudian dibuat rencana vokasional
yang lebih pasti, rencana yang sebelumnya masih bersifat tentatif.
6. Langkah-langkah dalam rangka penempatan siswa, dilakukan ketika ia duduk di kelas
tertinggi SMA, apakah penempatan di dunia kerja atau ke perguruan tinggi.

Contoh Kasus :
Rina merupakan siswa kelas XII sekolah swasta di kota Semangka. Rina sedang bingung
karena keinginannya untuk melanjutkan kuliah di Universitas A tidak direstui oleh orang
tuanya. Orang tua Rina menginginkan supaya Rina kuliahnya di universitas B. Menurut ayah
Rina bahwa masa depan anaknya kelak setelah lulus dari universitas A akan sulit untuk
mencari pekerjaan. Namun disisi lain, Rina minatnya tetap di universitas A. Terkadang Rina
sempat memikirkan pendapat ayahnya dan membenarkannya, Hingga akhirnya Rina sudah
tidak berminat untuk melanjutkan kuliah lagi karena kebingungan ini dan memutuskan untuk
menemui konselor.

KONSELING

Menurut Trait and Factor bahwa Manusia berhadapan dengan pengintroduksi (orangtua, guru,
teman) konsep hidup yang baik yang menghadapkannya pada pilihan-pilihan. Disini klien
dihadapkan pada pilihan dirinya dan pilihan orang tua. Hingga akhirnya klien tidak membuat
pilihan karena merasa kebingungan. Oleh karena itu konseling trait and factor membantu
individu merasa lebih baik dengan menerima pandangan dirinya sendiri dan membantu
individu berpikir lebih jernih dalam memecahkan masalah dan mengontrol perkembangannya
secara rasional.

Dari permasalahan klien tersebut, maka konselor mengusahakan pemahaman diri (cultivating
self understanding), yaitu teknik membantu klien agar mampu memahami diri sendiri baik itu
yang mencakup kelebihan atau kelemahannya. Untuk itu konselor membutuhkan hasil
aplikasi instrumentasi data tes dan non tes dalam kepentingan interpretasi berikut
pengkomunikasiannya kepada klien.

Konselor mengumpulkan data tentang siswa yang relevan, yaitu taraf inteligensi, bakat
khusus, dan minat melalui testing psikologis. Kemudian dari data hasil testing yang masuk
akan diketahui bertaraf inteligensi, bakat klien. Klien mengatakan bahwa dia pernah
memikirkan. program studi arsitektur. Dari data yang terkumpul melalui tes dan non tes
sebenarnya ada kecocokan antara milik/bekal kemampuan kognitif dengan kualifikasi yang
dituntut dalam bidang studi itu, adapun program studi yang dipilihkan orang tua adalah
manajemen,informatika yang mana kemampuan klien kurang mendukung pada program studi
tersebut.

Dengan demikian inti problemnya adalah menentukan/memilih suatu bidang studi yang
menuntut pola kualifikasi yang sesuai, baik dengan kemampuan di bidang kognitif maupun
dengan arah minat.
Peninjauan itu dilaksanakan dalam wawancara dengan konselor, sampai klien ahirnya
memilih program studi Arsitektur dan memberitahukan informasi dari konselor kepada orang
tua nya. Konseli menghadap kembali kalau ternyata timbul kesulitan dalam pelaksanaan
keputusannya

B. Pendekatan konseling karir berpusat pada klien

Pendekatan ini merupakan pertentangan terhadap pendekatan trait and factor. Teori client
centered memposisikan the self tidak hanya sebagai konsep mengorganisasi yang dibatasi
oleh karakteristik-karakteristik pribadi sebagai “aku”, tetapi juga sebagai kekuatan motivasi
utama terhadap aktualisasi potensi-potensi diri seseorang, Rogers (dalam Suherman, 2011).

Dalam pembuatan keputusan karir, konseli seringkali menghadapi permasalhan seputar


ketidaksesuaian antara diri dengan informasi atau pengalaman kerja yang dimilikinya.
Konseling karir client centered membantu konseli dalam menghadapi permasalahan tersebut.
Konselor bersama-sama dengan konseli, mencoba mencari dan mengatasi ketidaksesuaian
antara diri dan pengalaman konseli dengan dunia kerja. Konseli berusaha mengembangkan
konsep diri dan pengalamannya terhadap dunia kerja sehingga terbentuk kongruensi diantara
keduanya.

1) Model

Melakukan diagnosis yang memfokuskan pada permasalahan dalam pembuatan keputusan,


yakni : (a) ketidakmatangan, yaitu kekurangan informasi atau pengalaman kerja, (b)
maladjustment, yaitu penolakan atau distorsi. Dengan memperhatikan proses dalam konseling
karir client centered menurut Patterson dan dihubungkan dengan teori Rogers (dalam
Suherman, 2011) sebagai berikut :
1. Tahap pertama, terdapat suatu sikap dalam mengkomunikasikan diri konseli.
2. Tahap kedua, ekspresi berlangsung secara mengalir dalam rangkan menanggapi namun
tidak berdasarkan pada diri, melainkan masalah dating dari lingkungan luar yang datang
ke dalam diri konseli.
3. Tahap ketiga, perasaan rileks namun hanya sedikit perhatian pada isi pembicaraan.
4. Tahap keempat, perasaan adalah ikatan dalam diri individu. Kesulitan masih ada dalam
diri individu saat mengekspresikannya.
5. Tahap kelima, perasaan dieskpresikan secara bebas dalam tahap ini.
6. Tahap keenam, self sebagai objek menghilang.
7. Tahap ketujuh, self konseli menjadi subjek yang lebih sederhana dan mencerminkan
kesadaran dan pengalamannya.

Diharapkan hasil dari konseling karir client centered dapat dibatasi dalam istilah-istilah
tertentu yang diterima selama proses interaksi konselor dengan konseli.

2) Metode

(a) Teknik wawancara, konseling karir client centered akan membuat respon-respon selama
wawancara. Tujuannya untuk memperkaya pengalaman konseli yang berhubungan dengan
penafsiran konsep diri dalam peranannya dengan pekerjaan. Snyder (dalam Suherman, 2011)
mengembangkan system klasifikasi wawancara untuk konseling karir client centered dengan
mambatasi kategori dalam merespom dan memberikan gambaran untuk konselor dalam
menentukan yang lebih banyak digunakan dan bagaimana menggunakannya.
(b) Interpretasi tes, untuk mencapai client centered ini dengan menggunakan tes, telah
diajukan beberapa prosedur inovatif, yaitu pertama tes dilakukan atas keinginan dan
permintaan dari klien. Kedua, konseli berpartisipasi dalam proses pemilihan tes. Disini
konselor menggambarkan jenis-jenis informasi yang akan diperoleh dari berbagai tes yang
tersediam dan konseli menentukan kebiasaan mana yang ingin dia nilai. Ketiga, setelah tes
dilakukan dan diskor, konselor melaporkan hasil tes kepada konseli secara objektif dan tidak
dalam bentuk memvonis, serta memberikan respon terhadap reaksi yang muncul.
(c) Informasi pekerjaan, dalam informasi pekerjaan terdapat empat prinsip, hal ini sesuai
yang dikemukakan oleh Patterson (dalam Suherman, 2011) yakni : pertama, informasi
pekerjaan dimasukan dalam proses konseling jika diketahui ada kebutuhan ajan hal itu dari
sisi konseli. Kedua, informasi pekerjaan tidak digunakan untuk mempengaruhi atau
memanipulasi konseli. Ketiga, cara paling objektif dalam memberkan informasi pekerjaan
dan cara yang memaksimalkan inisiatif dan tanggungjawab konseli adalah dengan
mendorong konseli untuk memperoleh informasi dari sumber aslinya, misalnya dari penerbit,
pekerja. Keempat, sikap dan perasaan konseli terhadap pekerjaan boleh diungkapkan dan
ditangani secara terapeutik.

3) Materi

Ketika konselor berasumsi bahwa perilaku meraih informasi yang diperlukan untuk
mengumpulkan sejarah kasus baik konselo tidak dapat menahan perasaan bahwa
tanggungjawab pemecahan masalahnya diambil alih oleh konselor. Informasi yang
mencukupi mengenal diri dan dunia kerja mungkin secara sederhana tidak tersedia untuk
konseli, tanpa pertimbangan apakah dia telah mengasimilasikannya secara akurat. Kurangnya
keseuaian sebagai implementasi self concept dalam peran pekerjaan, mungkindalam pertama
menjadi fungsi kurangnya informasi. Keputusan diagnosis yang mendahului bahkan dalam
konseling karir client centered akan tampak atau menjadi masalah konseli merupakan
penekanan dari : (1) kurangnya informasi atau (2) distorsi informasi (pengalaman).
Hasil konseling karir client centered dapat dibatasi dalam istilah-istilah tertentu yang diterima
selama proses interaksi konselor dengan konseli. Patterson dan Grummon (dalam Suherman,
2011) mentakan bahwa tujuan awal konseling client centered adalah perkembangan konseli
dalam proses dengan menimbang tujuan akhir yaitu mewujudkan aktulisasi diri.

C O N T O H K A S U S P E N D E K ATA N C L I E N T C E N T E R E D T H E R A P Y

Dina adalah siswa SMA Negeri favorit di Jakarta. Dia anak yang cerdas dengan kelebihan
pada mata pelajaran eksakta yang diatas rata-rata, namun Dina memiliki keterbatasan secara
fisik, yakni kakinya tidak sempurna atau pincang. Kepincangan kaki mawar akibat
kecelakaan motor yang terjadi pada saat Dina SMP. Hal ini yang mengusik cita-citanya untuk
menjadi dokter di kemudian hari. Di lingkungan yang baru ini (SMA), Dina seringkali
mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari teman-temannya, diolok-olok “pincang”,
disakiti dan dijauhi. Dengan kondisi seperti ini, Dina hanya mau bergaul dengan orang yang
dianggapnya nyaman untuk dirinya dan dengan orang-orang yang mau mendekatinya. Dari
aspek kehidupan Dina, keluarganya memiliki kondisi ekonomi yang pas-pasan. Ibunya
penjual makanan tradisional dari ketela pohon, ayahnya seorang buruh. Dina merupakan anak
pertama dari dua bersaudara, adiknya sekarang kelas VII SMP dan memiliki tubuh yang
normal. Kondisi yang dialami Dina dilingkungan sekolah menimbulkan rasa putus asa
terhadap kehidupannya, sehingga memberikan penilaian negative terhadap takdir Rabbnya.
Dengan berbagai permasalahan tersebut tentu sangat mempengaruhi keadaan psikologis Dina
yang sempat berencana untuk berhenti sekolah.

PROSES KONSELING

Klien mengalami ketidakcocokan antara pandangan klien tentang dirinya sendiri (self-
concept) atau pandangan yang disukai klien tentang dirinya. Klien masa depannya
berkeinginan menjadi seorang dokter, dan dia pun anak yang cerdas di sekolah namun dia
dikucilkan teman-temannya karena kakinya yang pincang akibat kecelakaan dan membuatnya
putus asa. Yang melandasi klien untuk konseling bisa saja karena perasaan tidak berdaya,
tidak kuasa dan tidak berkemampuan untuk membuat putusan dan untuk mengarahkan
hidupnya sendiri secara efektif

Konselor menciptakan iklim konseling hingga membuat klien bisa mengungkapan dan
mengkomunikasikan penerimaan, respek dan pengertian serta berbagai upaya dengan klien
dalam mengembangkan kerangka acuan internal dengan memikirkan, merasakan dan
mengeksplorasi dalam lingkungan yang aman dan dipercaya aspek-aspek dunia pribadinya
yang tersembunyi. Konselor harus mampu menerima tanpa syarat terhadap klien, serta
mendorong klien secara perlahan-lahan pada pemahaman terhadap apa yang ada dibalik itu
semua.
Konseling diharapkan klien mampu mengeksplorasi lingkungan lebih luas dan perasaannya.
Serta klien mampu menyatakan ketakutan dan kecemasannya yang dianggap negative untk
diterima dan dimasukan dalam struktur dirinya. Selanjutnya konselor berusaha memberikan
iklim yang mendukung pertumbuhan ketika konseli berusaha berhubungan dengan
perasaannya, dan menetapkan tujuan serta arah yang tampaknya tepat baginya. Sehingga
yang diharapkan, konseli dapat menemukan jalan keluarnya sendiri.

C. Pendekatan konseling karir psikodinamik

Merupakan suatu pendekatan yang dilakukan konselor untuk membantu konseli dalam
pemilihan dan pembuatan keputusan karir dengan menggunakan metode penyembuhan yang
lebih bersifat psikologis atau psikis daripada dengan cara-cara fisik. Konseli mengalami
ketergantungan-ketergantungan terhadap orang lain sehingga menjadikan orang lain itu
sebagai perantara kebutuhan konseli. Selain itu, hal lain yang membuat konseli mengalami
kesulitan adalah konflik diri atau pertentangan dari diri konseli antara konsep diri yang ia
pegang sebagai tuntunan hidup dengan harapan untuk masa depan, sehingga menimbulkan
kecemasan pada konseli dan berimbas pada kemantapan dalam memilih dan memutuskan
karir yang akan diambil untuk masa depannya.

Konseling karir psikodinamik berguna untuk membantu menyesuaikan dan menyeimbangkan


aspek-aspek dorongan dan kebutuhan dalam diri konseli dengan tuntutan dan kebutuhan
dunia kerja. Maka dari itu dalam hal ini peran konselor adalah membantu dalam pemilihan
dan pembuatan keputusan karir yang dapat dilakukan dengan pendekatan psikodinamik.
Peran konselor diantaranya adalah memberikan masukan-masukan kepada konseli dan lebih
bersifat klinis.

Pandangan psikodinamik mengungkap bahwa pemilihan karir adalah salah satu dari sekian
banyak keputusan penting yang harus dibuat seseorang didalam hidupnya. Individu yang
memiliki pola piker maju, diperkirakan mampu mengidentifikasi factor-faktor pemilihan
profesi yang mengarah kepada pembuatan keputusan pemilihan profesi sehingga ia mampu
mengembangkan semua sumber daya yang dimilikinya guna mengimplementasikan
keputusan tersebut, sehingga ia mampu bekerja sama secara efektif.

Karakteristik konseli yang ditangani oleh psikodinamik menggambarkan seseorang yang


mempunyai masalah antara dinamika kepribadian dengan pembuatan keputusan karir.

D. Pendekatan konseling karir perkembangan

Konseling karir perkembangan menekankan pada hubungan kematangan karir seseorang


dengan masalah pembuatan keputusan suatu tindakan yang disampaikan konseli dalam
konseling karir.
Konseling karir perkembangan berada pada jajaran karir perkembangan secara umum, dari
permasalahan sederhana sampai pada permasalahan yang kompleks. Komunikasi dan
hubungan merupakan dua bentuk perkembangan karir pada umumnya. Perkembangan karir
terjalin dengan berbagai segi perkembangan, seperti personal dan social, sehingga intervensi
dalam perkembangan karir konseli dapat memiliki pengaruh pada proses perkembangan
keluarganya begitupun sebaliknya. Jadi, pendekatan perkembangan memberikan dimensi
waktu pada konseling karir dan kemungkinan seluruh perubahan dalam perilaku termasuk
vokasional, personal atau social yang dapat terjadi sepanjang dimensi waktu.

E. Pendekatan konseling karir behavioral

Dalam konseling karir behavioral ini terdapat dua orientasi, yakni pertama focus tidak
langsung melalui aspek mediasi bahasa yang memberikan respon yang jelas dan terbuka, dan
yang kedua adalah konsentrasi langsung pada konsekuensi sebuah respond dari pemberian
sebuah penghargaan atau hukuman yang diberikan.

Diagnosis yang dilakukan terhadap konseli diawali dengan munculnya perasaan konseli yang
cemas terhadap karir selanjutnya. Hal tersebut sebagai dampak dari tidak biasanya konseli
dalam membuat pilihan, tidak mampu memilih salah satu pilihan secara realistis dan
konsekuen. Perasaan cemas mengai ketidakpunyaaan model pekerjaan yang sesuai dengan
potensinya terhadap perkembangan karir merupakan bagian dari keputusan yang
memunculkan ketidakmauan untuk berkarir. Hal tersebu tercermin dari sering munculnya
pertanyaan dari dirinya sendiri sering muncul seperti apa yang akan kamu lakukan setelah
besar nanti atak akan menjadi apa kamu nanti.

Dalam hal proses konseling, terbagi menjadi dua tahapan, tahap pertama konselor berusaha
menghilangkan kecemasan, kebimbangan yang berhubungan dengan pengambilan keputusan.
Kedua, setelah konseli terbebas dari kecemasan, pembelajaran bias terjadi dan membantu
menstimulasi konseli untuk mempelajari pilihan-pilihan karir. Pembelajaran disini
dimaksudkan pada informasi yang nyata dan diberikan oleh konselor sebagai layanan
informasi terhadap konseli.

Proses konseling karir sebagai kesimpulan utama dari teori behavioral mengemukakan dua
tahapan, hal tersebut diambil bila masalah konseli meliputi kecemasan, kebimbangan,
keragu-raguan, serta ketidakpastian dalam memilih karir. Tahap ini adalah
counterconditioning dan instrument learning.

Proses counterconditioning disini terjadi dengan adanya stimulus yang tidak dipelajari yaitu
konseli mengungkapkan tentang pengambilan keputusan baik ketika dulu ataupun pada saat
sekarang yang memunculkan stimulus dan akan direspon sebagai kecemasan. Proses
berikutnya adalah instrument learning, yaitu konselor berusaha mengeksplorasi titik
kecemasan tersebut. Konselor memberikan informasi yang dapat memunculkan stimulus
yang baru dan pemahaman bari dan juga diperkuat dengan relationship therapist. Sehingga
memunculkan respon sebagai harapan baru, jaminan dan kepercayaan.
Model
Lebih tepatnya menggunakan beberapa model dalam pendekatan behavioral
dibandingkan dengan penggunaan satu model tertentu. Goodstein (1972) melihat hal tersebut,
walaupun model-model tersebut sama yaitu dalam lingkup psikologi belajar eksperimental,
tetapi dalam konseling behavioral ini terdapat dua orientasi yang berbeda. pertama yaitu
fokus tidak langsung melalui aspek mediasi bahasa dan yang kedua adalah konsentrasi
langsung pada konsekuensi sebuah respon dari pemberi sebuah penghargaan atau hukuman
yang diberikan.
Meskipun Goodstein membuat konstribusi yang tak ternilai dalam menganalisis dan
mendiagnosis ketidakmampuan membuat keputusan (indecision) dan
ketidakyakinan(indecisive) konseli dalam hal karir, tetapi dia tidak memberikan teori umum
pilihan karir dari pendekatan konseling karir behavioral.
Krumboltz dan baker mengungkapkan langkah konseling karir behavioral yaitu; a)
pendefinisi masalah dan tujuan konseli; b) kesepakatan bersama agar tujuan konseling dapat
dicapai; c) alternatif pemecahan masalah secara umum; d) mengumpulkan informasi tentang
alternatif masalah; e) mempertimbangkan konsekuensi dari alternatif pemecahan masalah; f)
peninjauan kembali tujuan, alternatif pemecahan masalah, dan konsekuensi; g) pembuatan
keputusan atau pilihan sementara dari kemungkinan alternatif yang didasarkan pada
perkembangan serta kesempatan yang baru; h) generalisasi proses pengambilan keputusan
dalam masalah baru lainnya.

Diagnosis
Menurut Krumbolts dan Thoresen mengklasifikasikan beberapa permasalahan yang
dihadapi oleh konseli secara umum meliputi tujuh bagian yaitu sebagai berikut :
1. Permasalahan ada pada perilaku individu.
2. Permasalahan ada diperasaan yang diungkapkan oleh konseli.
3. Ketidakjelasan atau ketidaktahuan tujuan karir.
4. Keinginan yang tidak tersalurkan.
5. Konseli tidak mengetahui bahwa perilakunya merupakan ketidakpastian.
6. Konflik dalam memilih
7. Ketertarikan pribadi terhadap sebuah karir bukan berdasarkan identifikasi potensi diri
atau masalahnya.

Proses
Menurut Shoben 1949 mengatakan ada dua tahapan dalam proses konseling karir
yaitu Tahap pertama, konselor berusaha menghilangkan kecemasan, kebimbangan yang
berhubungan dengan pengambilan keputusan. Kedua, setelah konseli terbebas dari
kecemasan, pembelajaran (pemahaman) bisa terjadi dan membantu menstimulasi untuk
mempelajari pilihan-pilihan karir. dan proses konseling konseling karir sebagai kesimpulan
utama dari teori behavioral (Goodstein, 1972) mengemukakan dua tahapan
yaitu counterconditioning dan instrumen learning.
Hasil
Menurut Krumboltz (1966, pp. 154-155) tujuan konseling harus memenuhi tiga
kriteria, yaitu :
1. Tujuan konseling harus mampu merumuskan untuk tiap konseli secara individu.
2. Tujuan konseling untuk tiap konseli harus cocok dengan konselor, walaupun tidak harus
identik dengan nilai yang dimiliki oleh konselor.
3. Derajat tujuan konseling harus dapat dicapai oleh setiap konseli agar dapat diobservasi

Metode
Metode dari pelaksanaan konseling karir behavioral yaitu secara pragmatis. Beberapa
metode dalam pendekatan ini adalah teknik wawancara,interprestasi tes dan informasi
pekerjaan.

Teknik wawancara
Goodstein (1972) menetapkan tiga prosedur yang dapat digunakan dalam orientasi
psikoterapi behavioral yang juga dapat diterapkan dalam konseling karir.

Adaptasi atau desentisasi (adaptation or desentisization)


Mengkondisikan inhibisi atau inhibisi internal (inhibitory conditioning or internal
inhibition).

Counterconditioning.
Interpretasi tes
Gambaran penggunaan tes dalam konseling karir, sedikit banyak diperluas yang salah
satunya dengan teori. Konseling karir behavioral memberikan solusi alternatif dalam
pengambilan keputusan kepurusan karir dengan maksud agar konseli memberikan tanggapan
atas item-item yang didiskusikan tentang beberapa alternatif pekerjaan, skor dari hasil dapat
dijadikan bahan pertimbangan oleh konselor.

Informaasi pekeerjaan
Dibutuhkan kreativitas dan imajinatif dalam memberikan informasi pekerjaan
terutama konselor. Krumboltz dan rekannya menetapkan secara sistematik dalam pemecahan
masalah pekerjaan.

Suatu masalah harus realistik dan mewakili jenis masalah pekerjaan. 95% dari target populasi
(siswa SMU) harusnya tidak mengalami kesulitan dalam mengatasi masalah. Masalah harus
dipertimbangkan berdasarkan ketertarikan terbanyak pada target populasi. 75% dari target
harus bisa memahami alat dan pemecahan masalah.
Suatu masalah harus dapat melengkapi dan mengatur diri individu.

Materi
Diagnosis
Sebagai contoh Jim binggung dalam menentukan 3 pilihan, dia mengalami kecemasan
yang tinggi dan untuk mereduksi kecemasannya ia minum minuman keras secara berlebihan
untuk sementara ia merasa lebih baik tetapi dengan segera ia menjadi alkoholik kemudian
Jim membuat kontrak jangka pendek dengan konselor untuk tidak minum-minum lagi. Untuk
mendiagnosisnya konselor menggunakan kuesioner tentang kecemasan Spielberger Trait and
State dan Career Maturity Inventory. Jim memiliki kecemasan yang tinggi berkaitan dengan
respektivitas dan konsekuensi kecemasan dalam analisis kebimbangan.
Proses
Pemberian diagnosis dalam ketidakmampuan mengambil keputusan, konselor melakukan
konseling karir yang dicobakan kepada Jim untuk mengkondisikan kecemasannya dalam
membuat keputusan. Akibatnya, konselor memilih pengkondisian kecemasan dengan cara
istirahat. Dengan bekerjasama, Jim dapat membangun keadaan untuk mengatasi
kecemasannya dalam sebuah keputusan dan juga mengajar Jim dalam relaksasi

Hasil
Hasil konseling karir terbukti dari proses tersebut. Pertama, dengan segera ia dapat
menentukan beberapa pilihan,Kedua, membuat keinginan yang dahulu untuk menggabungkan
dengan membuat keputusan,Ketiga, umpan balik yang didapatkannya mengindikasikan
bahwa kemungkinan untuk mengatasi kecemasan.

F. Pendekatan konseling karir komprehensif

Tidak ada satu model dan metode dari pendekatan-pendekatan konseling karir diatas yang
dominan dalam membentuk pendekatan konseling karir komprehensif. Masing-masing
pendekatan mempunyai kontribusi terhadap pendekatan konseling karir komprehensif.
Sintesis dari pendekatan-pendekatan itu diharapkan bukan hanya penempelan bagian-bagian
dari pendekatan karir utama yang ada secara serampangan. Tujuan dari perpaduan pendekatan
ini adalah mewujudkan pendekatan konseling karir komprehensif yang benar-benar berdasar
atas hubungan-hubungan rasional antar elemmen dari pendekatan-pendekatan utama tersebut
dan sesuai dengan konteks interaksi antar konseli dan konselor. Garis besar pendekatan
konseling karir komprehensif terbagi kepada tiga bagian yaitu pertama bagian model atau
teori, kedua metode-metode atau teknik dan ketiga, penyimpulan pokok atau studi kasus yang
menggambarkan konsep-konsep dan prosedur pokok dengan perhitungan dan analisis kasus
konseling karir.

Dalam merumuskan model konseling karir komprehensif, konsep dan prinsip-prinsip pokok
yang digunakan tidak hanya bersumber dari pendekatan-pendekatan karir utama tetapi juga
bersumber dari system umum konseling dan psikoterapi. Disamping itu, model ini merupakan
dari pengalaman yang diambil dari berbagai sisi presentasi dan pengawasan konferensi kasus
yang membuktikan karakteristik bentuknya. Maka dari itu, konsep diagnosis, proses-proses
dan hasil yang akan dihasilkan dibentuk dari pengalaman dibuat selogis tujuan yang ada
untuk memadukan antara aspek teoritis dan pragmatis yang penuh makna.
Isu utama dalam mensintesiskan berbagai aspek dari model konseling karir komprehensif
adalah mengenai perlu tidaknya pemakaian diagnosis dalam proses konseling. Pada dasarnya,
semua pendekatan konseling kecuali client centered menyatakan perlunya diagnosis dalam
proses konseling, client centered pun sebenarnya tidak konsisten terhadap penggunaan
diagnosis dalam proses konseling.

Ketika konseli memerlukan konseling karir komprehensif, pertanyaan yang muncul adalah :
1) apa sebenarnya masalah konseli? Dan 2) mengapa konseli sampai mengalami masalah itu,
jika disepakati bahwa diagnosis diperlukan dalam konseling komprehensif, proses diagnosis
yang dilakukan adalah 1) diagnosis diferensial yang bersumber dari teori konseling karir trait
and factor, 2) diagnosis dinamik dilakukan untuk mengetahui asal-usul kemunculan
permasalahan, dan 3) menggunakan career maturity inventory untuk mengetahui hubungan
sikap dan kompetensi karir seseorang.

Model
Dalam merusmuskan model konseling kakrir konprehendif, konsep dan prinsip pokok yang
digunakan tidak hanya bersumber dari pendekatan karir utama, tetapi juga bersumber dari
sisitem umum konseling dan psikoterapi. Model disini yaitu Diagnosis, Proses dan Hasil.

Diagnosis
Proses diagnosinya adalah sebagai berikut :
Diagnostik diffrensial yang bersumber dari teori konseling karir TF
Diagnosis dinamik dilakukan untuk mengetahui asal usul munculnya masalah
Menggunakan Career Maturity Inventory

Proses
Dalam tahap ini persiapan awal dalam konseling karir komprehensif adalah diagnosis, tahap
kemudian adalah menggunakan mengklarifikasi dan menspesifikasi masalah, dan yang
terakhir dari tahap konseling karir komprehensif adalah menggolongkan masalah secara
mudah.

Hasil
Hasil dari konseling karir adalah penyesuaian yang tepat bagi permasalahan konseli,
sedangkan dua hasil lain yang diharapkan dari konseling karir adalah :
Tercapainya kemampuan konseli untuk membuat keputusan yang tepat baik
Menghasikan konseli yang kesesuainya menjadi lebih baik dalam fungsi kehidupan lain di
samping dalam pekerjaanya.

Metode
Sama dengan pendekatan-pendekatan sebelumnya dalam pendekatan ini metode-metode yang
digunakan adalah teknik wawancara,interprestasi tes, informasi pekerjaan.
Teknik Wawancara
Dalam Teknik wawancara disini meliputi beberapa tahapan yaitu mulai dari tahap eksplorasi
latar belakang masalah kemudian tahap yang selanjutnya adalah pembatasan masalah dan
tahap terakhir tahap pemecahan masalah.

Interprestasi Tes
Konsep utama dari pendekatan tes inidapat memprediksi karir dimasa depan agar sesuai dan
membuat konseli berfikir rasional untuk memilih karir. Hal yang khusus saat membuat
keputusan diagnosis yang benar, ketika konseli dan konselor secara sistematis menaganalis
masalah apapun dapat diidentifikasi dan membuat pilihan.

Informasi Pekerjaan
Adanya proses/prinsip utama dalam memberikan informasi pekerjaan pada konseli.Pertama,
konselor bisa memadukan menggunakan informasi dengan konseling karir,Kedua, konseli
dapatdibentuk dan dikuatkan oleh konselor denagn menyimplkan informasi dalam dalam
maupun luar konseli,Ketiga, sistem informasi dapat menggunakan informasi canggih
(komputerisasi) yang kan bermanfaat bagi peningkatan konseling karir.

Materi
Materi yang sering digunakan dalam motode konseling karir komprehensif adalah kegiatan
wawancara antara konselor dan konseli, termasuk kegiatan yang ada di dalamnya adanya
interaksi dan tes, yang dimulai dari perkenalan data pribadi dari inisial sampai ke pertnyaan
berikutnya.

Diagnosis
Konseli diharapkan dapat belajar untuk mengambil keputusannya sendiri berdasarkan latar
belakang permasalahan yang dihadapinya sehingga keputusan yang diambil dapat
dipertanggungjawabkan pada masa sekarang dan yang akan datang.
Proses
Ada bebrapa tahap dalam proses konseling karir komprehensif, yaitu sebagai berikut : a)
Eksplorasi Masalah Awal (screening dan wawancara awal; b) Klarifikasi masalah dan
Identifikasi orang terkait; c) Pembicaraan alternatif karir yang sesuai

Hasil
Hasil dari contoh tersebut dalam konseling adalah sebagai berikut :
Meskipun tidak mencapai keputusan karir yang pasti, setidaknya konseli mempelajari banyak
hal yang menyebabkan ia sulit untuk menentukan pilhan karirnya
Konseli mulai mengetahui identitas dirinya dengan lebih baik dan mampu
mengkumunikasikan tentang konsep dirinya pada konselor.
Konseli lebih terarah dan lebih beradaptasi dalam proses konseling karir, tidak hanya dalam
penentuan karir tetapi lebih percaya diri untuk menjalani kehidupan selara keseuruhan
PENDEKATAN-PENDEKATAN KONSELING KARIR
PENDEKAT TRAIT&FACTO BERPUSAT PADA PSIKODINAMI DEVELOPMENTAL BEHAVIOUR KOMPREHENSIV
AN R KLIEN K CAREER
COUNSELING
1.MODEL
a.Diagnosa Perbedaan Rogers dan Peterson Bordin Super lebih Godstain dalam Proses diagnosis yang
treatment menganggap menetapkan menggunakan kata pendekatan dapat dilakukan
bersumber dari diagnosis disebabkan bahwa diagnosis “appraisal” daripada behavioral adalah 1) diagnosis
sikap yang salah gangguan hubungan harus dari dasar kata diagnosis. Super teoritisnya diferensial yang
pada diri klien yang ada antara untuk memilih menggambarkan tiga menghubungkan bersumber dari teori
konselor dan klien; treatment, ai juga tipe yang berfokus peran sentral konseling karir trait
sehingga mereka menginginkan pada potensi masalah kecemasan dengan and factor. 2)
memutuskan tentang konstruk yang konseli, yaitu: masalah pilihan diagnosis dinamik
ada tidaknya masalah didasari secara 1. Penilaian masalah karir dalam proses dilakukan untuk
pekerjaan dari klien psikologis (seperti 2. Penilaian pribadi diagnosis. mengetahui asal-usul;
pilihan treatment 3. Penilaian prognostik Krumboltz dan kemunculan
untuk kasus Dengan catatan: Thorensen lebih permasalahan, 3)
kecemasan, konseli harus aktif berfokus pada menggunakan career
pertahanan, dalam proses penilaian analisis perilaku maturity inventory
konflik diri) untuk tersebut identifikasi masalah untuk mengetahui
digunakan dalam dalam hubungan sikap dan
diagnosis menspesifikkan kompetensi karir
tujuan konseling; seseorang.
pada pendekatan
behavioral
pragmatis ini
mereka memusatkan
perhatian pada
kecemasan atau
diagnosis
b. Proses Melibatkan banyak Petterson melihat Tahap eksplorasi Sasaran jangka pendek Menurut godstain, Persiapan untuk tahap
konselor dalam proses seperti kata dan pembuatan adalah membantu proses diselingi pertama proses
pengumpulan data Rogers mencajkup langkah kerja konseli untuk dengan etilogi konseling karir adalah
klien; konseli tingkat tertinggi pada Keputusan kritis mengembangkan permasalahan diagnosis, tahap
hanya membantu penyesuaian individu yang konseli karirnya, sedangkan konseli, yaitu pertengahan dari
dalam menentukan secara Psikoterapi. putuskan dari segi Super menyebutkan kecemasan yang proses konseling karir
treatment atau Tingkat penyesuaian penyesuaian diri sasaran yang lebih luas mendahului proses mempergunakan
konseling untuk dari seorang konseli dan tidak hanya membantu konseli konseling yang waktu untuk
menghasikan yang mengikuti mengejar karirnya menyesuaikan dirinya memerlukan mengklasifikasi dan
penyesuaian yang psikoterapi terhadap saja counterconditioning menspesifikan
diinginkan dan suatu karir ditentukan Bekerja untuk dan pembelajaran masalah. Proses dari
proses tindak lanjut sebelum konseling berubah. Pada instrumental, konseling karir
dimulai, yaitu ketika tahap ini yang sementara mencapai puncaknya
konseli mampu ditingkatkan kecemasan dalam tahapan bahwa
menemukan siapa pemahaman diri berikutnya dia bisa
dirinya dan apa yang klien sebagai diperlukan pada menggolongkan
sebenarnya tujuan utama proses konseling pemecahan masalah
dibutuhkan dalam konseling selanjutnya. secara mudah.
c. Hasil - Tujuan jangka Patterson dan Membantu Kemajuan dari proses Hasil dari Dua hasil yang
pendek : untuk Grummon (1974) konseli dalam perkembangan karir pendekatan teori diharapkan dari
memecahkan menyatakan bahwa membuat dimulai dari orientasi Behavioral Godstain konseling karir adalah
masalah konseli tujuan konseling CCT keputusan karir dan kesiapan konseli adalah: 1) tercapainya
yang ada pada saat adalah perkembangan Lebih luas lagi untuk memilih karir 1.Penghilangan kemampuan konseli
ini konseli dalam proses menyebabkan sampai pembuatan kecemasan untuk membuat
- Tujuan jangka dengan meimbang perubahan posotif keputusan penguji pendahulu dan keputusan yang tepat
panjang: untuk tujuan akhir yaitu dalam diri klien realistis; konselor kecemasan yang baik dengan
menolong konseli untuk mewujudkan memulai konseling muncul kemudian pendekatan
agar lebih mengerti aktualisasi diri pada tahap kemajuan2.Pemerolehan developmental
dan dapat sehingga konseli yang dicapai oleh keterampilan dalam ataupun behavioral
mengatur sifat-sifat dapat memutuskan klien pembuatan yang menekankan dan
dan tanggung pilihan karir yang keputusan lebih berorientasi pada
jawabnya, sesuai dengan diri Hasil dari kemahiran dalam
sehingga konseli dan pengalaman serta pendekatan membuat keputusan
dapat memecahkan informasi duania behavioral karir ataupun
masalahnya dimasa kerja yang pragmatis sebaliknya dengan
yang akan datang dimilikinya. Krumboltz dan trait and factor. 2)
Thorensen adalah: memperoleh
pemerolehan penyesuaian umum
keterampilan status konselor dan
mengubah perilaku konseli. Bukti lain
salah suai, belajar mengidentifikasikan
proses pembuatan bahwa konseling karir
keputusan dan menghasilkan konseli
mencegah yang kesesuaiannya
timbulnya masalah. menjadi lebih baik
dalam fungsi
kehidupan lain
disamping dalam
pekerjaannya.
2.METODE
a. Teknik Teknik menurut Konselor merespon Ada tiga kategori Menurut Super yang Godstein mengajuka Teknik wawancara
Wawancara Williason (1939) lebih dulu, menerima, respons berhubungan dengan n teknik psikoterapi meliputi beberapa
ada lima: menerangkan, dan interpretatif perubahan pendekatan untuk mengurangi tahap, mulai dari
1)Menciptakan menyatakan dengan konselor yang dalam merespon kecemasan. Ia tahap eksplorasi latar
hubungan baik maksud untuk dapat digunakan secara langsung isi sependapat dengan belakang masalah
2)Mengolah mencapai dalam konseling pernyataan oleh Krumboltz dan dengan membuka
pemahaman diri pemahaman diri, (menurut Bordin) konseli dan yang Thoresen dalam komunikasi yang
3)Mempertimbangka konselor memusatkan yaitu: secara tidak langsung pandangan merefleksikan isi
n atau pada refleksi 1. Clarification yaitu untuk pragmatisnya perasaan konseli, lalu
merencanakan perasaan semata-mata dimaksudkan mengekspresikan mereka berpendapat tahap pembatasan
program tindakan dengan menggantikan untuk melakukan perasaan bahwa konselor masalah dengan
4)Pelaksanaan teknik menerangkan wawancara dan seharusnya komunikasi secara
rencana tujuannya agar verbalisasi bahan- menguatkan eksplisit
5)Pengalihtanganan konseli memperoleh bahan yang sesuai keinginan konseli, mengemukakan
gambaran, dan dengan mendorong masalah, dan terakhir
konselor dapat lebih permasalahan terjadinya proses tahap pemecahan
efektif dalam 2. Comparison, yaitu sosial model, dan masalah ketika
wawancara sesuai membandingkan mengajarkan konselor diharapkan
dengan kebutuhan untuk pembelajaran bersikap lebih aktif
memperlihatkan berbeda dalam dan direktif, dengan
persamaan dan memperoleh membuka konseli dan
perbedaan secara kemahiran membuat menguatkan dirinya
tajam keputusan. untuk bersama-sama
3. Interpretation of secara dewasa
wish defence memecahkan masalah
system, tersebut.
interpretasi pada
system “harapan
yang diinginkan,
menunjukkan
gabungan praktis
pendekatan
psikodinamik,
trait and factor
dan client
centered.
b.Interpreta Melibatkan Konselor menjadikan Tiga tujuan utama Informasi yang tepat Penggunaan tes Peran tes dalam
si Data konselor yang tes sebagai alat utama menurut Bordin, dalam dalam setiap teori konseling karir
berwenang yang digunakan yaitu: 1) Bahwa menggambarkan atau pandangan komprehensif, tidak
membuat untuk konseli menjadi contoh karir dalam secara pragmatik, hanya dalam masalah
interpretasi pada mengidentifikasikan partisipan yang membedakan jabatan, hampir diabaikan konseptual, tetapi tes
hasil tes, dan konseli dan apa yang aktif dalam menurut Super ada sejak mereka ini juga memberikan
menggambarkan diinginkan,digunakan memilih dan enam pola yang mengukur konseling karir model
kesimpulan dan jika betul-betul menentukan jenis menggambarkan pola perbedaan dan metode baru
merekomendasikan dibutuhkan dan tes yang akan karir yang dibutuhkan individual dalam hal untuk
dari tes untuk diminta oleh klien. dilakukan; 2) untuk pendekatan ini perilaku, dibanding menggabungkan
pertimbangan klien Super menyebutnya bahwa tes mencerminkan dengan diagnosis,
“uji kecermatan” meberikan interaksi antara proses, dan hasil
informasi individu dan sehingga sanggup
diagnostik bagi lingkungan. Yang membantu konseli
konselor untuk menjadi perhatian dalam mengatasi
mendorong utama konselor masalah dalam
eksplorasi klien; behavioral yaitu membuat keputusan
3) bahwa secara mengumpulkan data karir.
verbal konselor perilaku individu.
memberikan
interpretasi tes,
sebagai mana
yang dibutuhkan
(dibandingkan
dengan
pendekatan trait
and factor yang
menggunakan
keseluruhan
penafsiran tes)
c.Informasi Informasi Diperkenalkan ketika Informasi Tujuannnya untuk Konselor behavioral Informasi pekerjaan
Pekerjaan pekerjaan dalam konseli berdasarkan atas memaksimalkan nilai telah telah diterbitkan
konseling TF membutuhkan;konsel analisis kebutuhan tes dalam membuat mengembangkan dalam jumlah yang
dikemukakan oleh or harus memastikan mengenai keputusan dengan beragam jenis yang besar, tetapi banyak
Brayfield (1950) bahwa informasi kewajiban- mengadministrasikann berguna dalam konselor yang
dibedakan dalam memiliki arti pribadi kewajiban dan ya secara berbeda, menumbuhkan berpura-pura saja
tiga fungsi: bagi klien, serta tugas-tugas dengan melibatkan semangat eksplorasi dalam memberikan
Informasi dipahami dan diteliti pekerjaan, mirip konseli dalam setiap karir dan membuat informasi pekerjaan
Penyesuaian melalui konteks dengan fase proses keputusan daripada seperlunya namun
kembali kebutuhan dan nilai pendekatan trait menampilkan uji membuat informasi tidak bisa
Motivasi dan kenyataan secara and factor dalam kecermatan yang sederhana. menyemangati
Kemudian objektif menyesuaikan dibandingkan dengan konseli.
Christense (1949) individu dengan uji kejenuhan seperti
dan Baer dan pekerjaan, tapi pada pendekatan trait
Roeber (1951) berbeda dalam and factor
menambahkan: variabel
Eksplorasi kebutuhan
Keyakinan kepribadian dan
Evaluasi kondisi kerja yang
Mengejutkan memuaskan,
daripada
karakteristik statis
individu dan
pekerjaan.
3.MATERI
a.Diagnosa Dalam diagnosis Kurangnya Contohnya konseliContoh masalah yaitu Jim Calhoun Contoh
contohnya konseli kesesuaian sebagai yang mengalami dia tidak dapat meliliki kecemasan permasalahannya
yang ragu dalam implementasi self ketergantungan- memecahkan yang tinggi adalah mengenai
pilihan karirnya. consept dalam peran ketergantungan masalahnya, menikah berkaitan dengan pemilihan dan
Konselor dituntut pekerjaan, mungkin terhadap orang atau karir. Karena respektivitas dan keputusan karir
untuk bisa dalam pertama lain sehingga susan mempunyai nilai konsekwensi setelah sekolah. Dari
mengumpulkan menjadi fungsi menjadikan orang yang tinngi dan kecemasan dalam hasil yang diperoleh
data –data kurangnya informasi. lain itu sebagai mempunyai bakat dan analisis dari diagnisis dan
pendukung yang Keputusan diagnosis perantara minat. Namun dia kebimbangan wawancara, konseli
kuat sebagai dasar yang mendahului, kebutuhan mangalami kesulitan Goodstein (1972). diharapkan dapat
bagi pemilihan akan menjad masalah konseli. yang ekstrim dalam Dan kemungkinan belajar untuk
keputusan karir konseli merupakan mengatakan apa yang terhubung dengan mengambil
konseli. Caranya penekanan dari : dia katakan dan sikap prtected keputusannya sendiri
dengan wawancara Kurangnya informasi mengambil resiko ibunya diangkatan berdasarkan latar
dan disertai tes. atau mengasingkan atau udara. Karena beelakang
Distorsi informasi menerima kritik dari ketergantungannya, permasalahan yang
(pengalaman) orang lain. pengalaman dihadapinya sehingga
perkembangan keputusan yang
karirnya sangat diambil dapat
terbatas dan dipertanggungjawabka
kematangan n pada masa sekarang
karirnya sangat dan yang akan datang
rendah.
b. Proses Konselor Vocational guidance Konseli Konselor Disini konselor Diantara beberapa tes
melakukan adalah proses untuk menceritakan menyimpulkan bahwa memilih yang dilibatkan dalam
wawancara yang membantu individu tentang dirinya susan mengalami pengkondisian proses konseling karir
diawali dengan tes, dalam dan konselor kontra trens dalam kecemasan dengan dalam kasus keren
penafsiran tes mengembangkan dan hanya perkembangan karir. cara istirahat. antara lain:
dilakukan oleh menerima sebuah mendengarkan Pendekatannya pada Dengan Differential Apptitude
konselor untuk gambaran yang cerita konseli hidup untuk kehidupan bekerjasama jim Test, Holland
melihat terintegrasi dari dalam konteks tanpa membedakan dapat membangun Vocational Preference
kecenderungan dirinya sendiri dan pengembangan orang atau keadaan untuk Inventory dan Career
minat dan bakat aturannya dalam terapeutik, masyarakat.hasilnya mengatasi Maturity Inventury,
konseli. Skor hasil dunia kerja, untuk kemudian setelah susan mengalami kecemasannya serta menggambarkan
tes harus dicatat menguji konsep itu konselor antara pilihan dan dalam sebuah efek orang tua pada
dan dibandingkan melawan realitas, dan menawarkan pemberian alternatif keputusan. pilihan karirnya.
dengan hasil tes mengubahnya beberapa pilihan pilihan, dan skor Kemudian dari Tahap ketiga ini
orang lain yang kedalam realita pada konseli agar mengidentifikasikan berbagai tahap diakhiri dengan
mempunyai bakat dengan pemuasan terdapat intra individual yang akhirnya jim pengulangan pilihan
yang sama. Proses pada dirinya dan kesesuaian nyaris aneh pada minat mempunyai karir yang prospektif
konseling ini keuntungan dalam hubungan dan nilai yang dianut gambaran dan dapat dan terbuka
berakhir dengan masyarakat. antarpribadi. susan menentukan untuk kemungkinannya bagi
konseli merasa Sehingga pada menggabungkan Karen.
lebih baik dalam akhirnya konseli latar belakan Ait
arti konseli mampu mengalami Force dalam
memilih karir peningkatan administrasi dan
secara tepat sesuai kesadaran dan managemen dengan
minat dan pemahaman minat dalam ilmu
bakatnya. tentang dirinya. pengetahuan untuk
berkarir dibidang
sistem komputer.
c. Hasil Hasil yang Patterson dan Hasilnya yaitu Setelah dilakukan Pada umumnya, ia Keren telah
diharapkan adalah Grummon (1974) terpecahkannya konseling karir secara nampak selalu dapat mempelajari penyebab
perwujudan hasil menyatakan bahwa masalah-masalah periodik dan mengambil manfaat mengapa ia sulit untuk
perencanaan karir tujuan awal konseling karir dan berkoresponden dari konseling karir menentukan pilihan
konseli untuk masa CCT adalah tercapainya selama dua tahun. dengan mengurangi karir
depan, yang sesuai perkembangan keputusan karir. Pada akhirnya susan kecemasan pilihan Konseli mulai
dengan minat dan konseli dalam proses memutuskan untuk dan membuat mengetahui identitas
didukung pula oleh dengan menimbang kuliah dan berkarir keputusan karir. dirinya dengan lebih
bakatnya serta tujuan akhir yaitu pada masa yang akan Tetapi dengan baik dan mampu
memenuhi syarat- untuk mewujudkan datang, yang mana dia keputusan konflik mengkomunikasikan
syarat dari aktualisasi diri. Hasil akan menggabungkan dan penyelesaian tentang konsep dirinya
pekerjaan yang dari konseling CCT dengan pekerjaan keputusan, ia pada konselor.
diminatinya. ini dapat rumah tapi dia tetap melepaskan Konseli tampak lebih
diperlihatkan dengan mengejar karir yang kekuatan untuk terarah dan lebih
framework teoritis bagus, minat pada menambah garis beradaptasi dalam
umum, dimana akademik, pendidikan keliling dalam proses konseling karir.
hubungan pribadi jasmani dan psikologi. hidupnya. Lagi-lagi,
pada dunia kerja terdapat hubungan
digambarkan. yang signifikan
antara
perkembangan karr
dengan
perkembangan
dirinya sendiri.