Anda di halaman 1dari 8

REPELITA II (1974-1979)

A. REPELITA II (1974/75 – 1978/79 )

GBHN 1973 telah menetapkan garis kebijaksanaan umum


kependuidukan yang antara lain isinya : Agar pembangunan ekonomi
dan peningkatan kesejahteraan rakyat dapat terlaksana dengan cepat,
harus dibarengi dengan pengaturan pertumbuhan jumlah penduduk
melalui program keluarga berencana yang mutlak harus dilaksanakan
dengan berhasil karena kegagalan pelaksanaan keluarga berencana akan
mengakibatkan hasil usaha pembangunan menjadi tidak berarti dan dapat
membahayakan generasi yang akan datang.Pelaksanaan keluarga
berencana ditempuh dengan cara-cara sukarela dengan
mempertimbangkan nilai-nilai agama dan kepercayaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa.

Dalam Repelita II ini mulai diperkenalkan tujuan demografi Program


KB Nasional yaitu menurunkan tingkat fertilitas sebesar 50% pada tahun
1990 dibandingkan keadaan tahun 1971 ( konsekwensi system target
dalam perencanaan yang semakin tajam). Selain pengenalan tujuan
Demografis, memasuki Repelita II ini terlihat kreatifikasi berfikir yang
mengagumkan dari pimpinan BKKBN dalam usaha mengembangkan
strategi pendekatan program guna mencapai tujuan. Mulai periode ini
pembinaan dan pendekatan program yang semula berorientasi pada
kesehatan mulai dipadukan dengan penggarapan bidang-bidang lain
yang dikenal dengan “Pendekatan Intrgral yang ditujukan untuk :
a. Menurunkan tingkat kelahiran secara langsung dengan
menggunakan kontrasepsi
b. Menurunkan tingkat kelahiran secara tidak langsung melalui pola
kebijaksanaan kependudukan yang intrgral (Beyond Family
Planning) yang dirinci lagi :
 Usaha pelembagaan penerimaan ide KB melalui aparatur
Pemerintah
 Usaha pelembagaan penerimaan ide KB melalui mekanisme
social budaya yang hidup dalam masyarakat kita.

Keluarga Berencana masuk desa dirintis oleh BKKBN pada tahun 1974
dan dipersiapkan dengan diselenggarakannya seminar-seminar PPKBD
oleh Deputi Ketua BKKBN Bidang Penelitian dan Pengembangan, di
Surabaya (Jawa Timur) Bandungan (Jawa Tengah) dan Bandung (Jawa
Barat). Partisipasi masyarakat desa dalam berbagai bentuk seperti Pos
KK- SKD, PPKBD Dwi Karti, secara nasional dihimpun dalam wadah
PPKBD ( Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) sebagai
lembaga KB desa yang menjadi perpanjangan tangan PLKB. Dalam
buku pedoman latihan PPKBD ditetapkan tugas dan fungsi lembaga
tersebut.

Dalam usaha menurunkan tingkat kelahiran secara tidak langsung


melalui pola kebijaksanaan kependudukan yang integral pada tahun 1973
-1975 dirintis penmdidikan Kependudukan sebagai proyek percontohan
(pilot project). Pada tahun 1976 dimulailah proses pelembagaan
pendidikan kependudukan kedalam kurikulum yang terpadu. Dalam
proses pelembagaan ini juga telah dirumuskan suatu kebijaksanaan
bersama antara BKKBN dan Departemen P dan K yaitu pola
pengembangan latihan tenaga dengan system sel.

Menyadari bahwa pertumbuhan penduduk yang cepat di Indonesia


adalah sebagai akibat dari angka kelahiran yang tinggi dan itu bukan
hasil kelahiran penduduk pulau Jawa dan Bali saja, serta guna
pemerataan tanggung jawab pembangunan bangsa, maka mulai tahun
1974 (awal Repelita II ) Program KB Nasional diperluas ke 10 propinsi
di luar Jawa dan Bali yang kemudian dikenal dengan wilayah “ Luar
Jawa Bali “ (LJB) I ”. yaitu : D.I Aceh, Sumatera Utara, Sumatera
Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan
Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan
Pada awal Repelita III perluasan jangkauan program telah meliputi
seluruh wilayah dengan dibentuknya sebelas perwakilan BKKBN di
Daerah Tingkat I (Propinsi) pada tahun 1979 yang kemudian dikenal
dengan sebutan “ LJB II “, yaitu : Riau, Jambi, Bengkulu, Nusa
Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi
Tengah, Sulawesi tenggara, Maluku, Irian Jaya dan Timor Timur.

.
B. SASARAN-SASARAN
Sebagaimana halnya dengan setiap tahap pembangunan maka
tujuan Repelita II ialah : pertama, meningkatkan taraf hidup dan
kesejahteraan seluruh rakyat; kedua, meletakkan landasan yang
kuat untuk tahap pembangunan berikutnya.
Sebagai bagian daripada serangkaian tahap-tahap pemba-ngunan
maka Repelita II merupakan kelanjutan dan sekaligus peningkatan
daripada Repelita I.
Peningkatan pembangunan berarti bertambahnya produksi barang dan
produksi jasa dengan laju yang lebih cepat. Ada- pun
usaha untuk meningkatkan pertambahan produksi harus berjalan
bersama dan seimbang dengan usaha meratakan penyebaran hasil-hasil
produksi serta usaha memperlua kesem-patan kerja. Demikian
pula sekaligus terkait usaha-usaha
untuk lebih meratakan pembagian kembali hasil
pembangunan,baik berupa penyebaran yang lebih
merata daripada pelaksanaan pembangunan
keseluruh daerah maupun berupa peningkatan
penghasilan anggota masyarakat karena kegiatan
mereka yang produktif. Selanjutnya dalam Repelita
II akan digarap lebih dalam masalah-masalah yang
sejak semula di-sadari belum terpecahkan dalam
Repelita I.
Sementara itu terus ditingkatkan usaha-usaha untuk
mengerahkan kemampuan yang ada guna
pembangunan nasional dengan membina swadaya
dan merangsang prakarsa serta partisipasi aktif
seluruh masyarakat.
Apabila tujuan pembangunan telah ditetapkan
maka perlu ditentukan dengan jelas sasaran-sasaran
yang harus dicapai, sehingga diketahui kearah mana
gerak pembangunan harus diambil. Berlandaskan
pada hasil-hasil yang telah dicapai serta kemampuan
bangsa yang semakin meningkat dalam Repelita I
maka sasaran-sasaran yaug hendak dicapai dalam
Repelita II adalah :
Pertama, tersedianya pangan dan sadang yang
serba cukup,dengan mutu yang bertambah baik dan
terbeli oleh masyarakat umumnya.
Kedua, tersedianya bahan-bahan perumahan dan
fasilitasfasllitas lain yang diperlukan, terutama untuk
kepentingan rakyat banyak.
Ketiga, keadaan prasarana yang makin meluas
dan sempurna.
Keempat, keadaan kesejahteraan rakyat yang
lebih baik dan lebih merata.
Kelima, meluasnya kesempatan kerja.

Untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut diperlukan


kegiatan pembangunan yang meliputi segala bidang,
serta persyaratanpersyaratan yang mutlak harus
ada, seperti stabilitas nasional
pembiayaan yang memadai dan sebagainya. Di samping itu
segala kebijaksanaan pembangunan disemua bidang dan
sektor perlu diserasikan dan diarahkan untuk mencapai sasaran-
sasaran tersebut.
Untuk mencapai sasaran tersebut di atas maka produksi
sektor pertanian harus meningkat sekitar 4,6% setahun, sek-
tor industri sekitar 13,0%, sektor pertambangan sekitar 10,1%,
sektor perhubungan sekitar 10,0%, sektor bangunan sekitar
9,2% dan lain-lain sektor sekitar 7,7%. Sebagai akibat dari laju
peningkatan sektor-sektor tersebut diperkirakan bahwa
produksi nasional meningkat dengan sekitar 7,5 % setahun.
Dengan tingkat pertumbuhan penduduk sekitar 2,3 % pertahun,
maka pendapatan per kapita akan meningkat sebesar kira-
kira 5% atau kenaikan sebesar 28,0% pada akhir Repelita II apabila
dibandingkan dengan keadaan pada akhir Repelita I.
TUGAS SEJARAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS SEJARAH
TENTANG
REPELITA I – VI
(1969-1998)

KETUA KELOMPOK : DWI NURLITA

ANGGOTA :
- CINDY SUSILAWATI
- OKI HARI
- RATU APRILIA
- SISKA PRATIWI

SMA NEGERI 21
BANDUNG