Anda di halaman 1dari 18

Laporan Praktikum

Dasar-Dasar Agronomi

PERBANYAKAN VEGETATIF DAN GENERATIF

NAMA : ARINDA WIDYANI PUTRI


NIM : G021191021
KELAS : DASAR DASAR AGRONOMI (D)
KELOMPOK : 17
ASISTEN : MUH. RIFQI PUTRA MARICAR

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN


PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tumbuhan merupakan sumber penghasil makanan dan energi untuk
makhluk hidup lainnya, karena hanya tumbuhan yang mampu memasak makanan
sendiridengan bantuan cahaya matahari serta produsen atau nomor satu dalam
rangkaian rantai makanan dan ekosistem. Tumbuhan ada yang dibudidayakan oleh
manusia disebut tanaman budidaya, sedangkan tumbuh liar di alam dengan
sendirinya juga mempunyai klorofil disebut tumbuhan. Tanaman atau tumbuhan
mempunyai fungsi yang sangat penting selain sebagai sumber penghasil makan
juga berfungsi dalam melestarikan lingkungan seperti menahan air dalam tanah
sehingga dapat mencegah terjadinya banjir. Manusia dalam memunuhi
kebutuhannya banyak melakukan budidaya terhadap tanaman. Budidaya tanaman
ini bertujuan untuk mendapatkan hasil sesuai dengan yang diinginkan dengan
memberikan pupuk dan perawatan mendorong pertumbuhan dan
perkembangannya dalam mengahasilkan produksi mencapai optimum.
Tanaman dapat berkembang biak secara generatif dan vegetatif.
Perkembangbiakan tanaman secara generatif yaitu pebanyakan tanaman melalaui
proses perkawinan antara gamet jantan dan betina sedangkan perbanyakan
tanaman secara vegetatif adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan
bagian vegetatif tanaman seperti akar, batang dan daun. Masing-masing
perbanyakan tanaman baik secara vegetatif maupun secara generatif memiliki
kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk saat ini perbanyakan tanaman
secara generatif masih sering digunakan dalam menghasilakan varietas-varietas
baru yang lebih unggul dengan mengawinkan antar tanaman yang sejenis.
Sehingga dengan adanya perkembangan ilmu dibidang genetika tumbuhan
tersebut diharapkan mampu menghasilkan tanaman yang tahan terhadap hama dan
penyakit serta mempunyai daya produksi yang tinggi dengan kualitas yang
terjamin.
Perbanyakan tanaman secara vegetatif dibagi menjadi dua, yaitu
perbanyakan tanaman secara vegetatif alami dan vegetatif buatan. Vegetatif alami
dilakukan secara alamiah tanpa adanya campur tangan manusia. Biasanya terjadi
melalui tunas, umbi, dan geragih (stolon). Sedangkan vegetatif buatan terjadi
dengan bantuan manusia. Vegetatif buatan terbagi menjadi dua yaitu vegetatif
buatan secara konvensional dan vegetatif buatan secara bioteknologi. Perbanyakan
ini dilakukan tanpa melalui proses perkawinan dan tidak melalui biji dari
induknya Pada prinsipnya adalah merangsang tunas adventif untuk menghasilkan
tanaman yang sempurna memiliki batang, daun dan akar.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tanaman dapat
berkembang biak secara generatif dan vegetatif sehingga perlu dilakukan
praktikum perbanyakan vegetatif dan generatif untuk mengetahui kelebihan dan
kekurangan dari masing-masing proses perbanyakan pada tanaman yang ditanam.
2.1 Tujuan Dan Kegunaan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengertian


perbanyakan tanaman vegetatif dan generatif, perbedaan perbanyakan vegetatif
dan generatif dengan menggunakan media tanam yang berbeda, jenis-jenis
perbanyakan vegetatif dan generatif, dan faktor-faktor yang memengaruhi
perbanyakan tanaman secara vegetatif dan generatif.
Kegunaannya yaitu sebagai bahan informasi untuk mahasiswa dalam
melakukan perbanyakan tanaman secara vegetatif dan generatif, serta peran
perbanyakan tanaman secara vegetatif dan generatif.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Deskripsi Tanaman Yang Di Tanam
2.1.1 Bawang Merah
Bawang merah merupakan salah satu dari sekian banyak jenis bawang
yang ada didunia. Bawang merah merupakan tanaman Spermatophyta dan
berumbi, berbiji tunggal dengan sistem perakaran serabut. Bawang merah
(Alliumascalonicum L.) merupakan tanaman semusim yang membentuk rumpun
dan tumbuh tegak dengan tinggi mencapai 15-40cm pada saat tanaman ini
mencapai usia panen dan siap di panen (Tjitrosoepomo, 2010).
Menurut Tjitrosoepomo (2010), bawang merah dapat diklarifikasikan
sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Liliales
Famili : Liliaceae
Genus : Allium
Spesies : Allium ascalonicum L.
Bawang merah dalam genus Alliummempunyai lebih dari 600 -750
spesies dan terdapat 7 kelompok yang sering dibudidayakan, yaitu Allium cepa L.,
Allium sativum L., Allium ampeloprasum L., Allium fistulosum L., Allium
achoenoprasum L., Allium chinese G Don, dan Allium tuberosum Rotter ex
Sprengel. Beberapa bawang (Allium) menjadi gulma invasif, namun sebagian
besar dapat dikonsumsi dan beberapa spesies bawang (Allium) dibudidayakan
sebagai salaha satu tanaman pangan yang penting. Budidaya bawang merah
didataran rendah memiliki umur panen antara 60-80 hari setelah tanam (hst),
sedangkan di dataran tinggi memiliki umur panen 90-110 hst. Umur panen
bawang merah dipengaruhi oleh varietas yang digunakan, apakah varietas umur
dalam atau umur genjah (Block, 2010).
2.1.2 Cabai
Cabai atau lombok merupakan tanaman semak dari famili Solanaceae,
berasal dari benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar ke negaranegara
benua Amerika, Eropa dan Asia termasuk Negara Indonesia. Ada dua cabai yang
tumbuh dan ditanam di Indonesia yaitu cabai besar (Capsicum annuum L.) dan
cabai rawit (Capsicum frutescens L.). Sosok tanaman dan buah cabai sangat
bervariasi, diperkirakan ada 20 spesies yang sebagian besar hidup di negara
asalnya. Klasifikasi tanaman cabai menurut Wiryanta (2006), dalam Hapsari
(2011) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Classis : Dicotyledonae
Ordo : Solanales
Familia : Solanaceae
Genus : Capsicum
Spesies : Capsicum frutencens L var. Cengek
Tanaman ini berbentuk perdu yang tingginya mencapai 1,5 –2 m dan lebar
tajuk tanaman dapat mencapai 1,2 m. Daun cabai pada umumnya berwarna hijau
cerah pada saat masih muda dan akan berubah menjadi hijau gelap biladaun sudah
tua. Daun cabai ditopang oleh tangkai daun yang mempunyai tulang menyirip.
Bentuk daun umumnya bulat telur, lonjong dan oval dengan ujung runcing Bunga
cabai berbentuk terompet atau campanulate, sama dengan bentuk bunga cabe
seperti bentuk bunga keluarga Solonaceaelainnya (pudjiono, 2018).
Cabai merupakan tanaman dari anggota genus Capsicum, yang memiliki
nama populer di berbagai negara, misalnya chili (Inggris), pimenta (Portugis),
chile (Spanyol). Cabai di Indonesia sering disebut dengan berbagai nama lain,
misalnya lombok, mengkreng, cengis, cengek, dan masih banyak lagi sebutan
lainnya. Cabai juga mengandung lasparaginase dan capsaicin yang berperan
sebagai zat anti kanker Secara umum cabai memiliki banyak kandungan gizi dan
vitamin, diantaranya kalori, protein, lemak, kabohidarat, kalsium, vitamin A, B1
dan vitamin C (Arifin, 2010).
Cabai dapat ditanam dari ketinggian 0-2.000 m dpl dan dapat beradaptasi
dengan baik pada temperatur 24-27°C dengan kelembaban yang tidak terlalu
tinggi. Tanaman cabai dapat ditanam pada tanah sawah maupun tegalan yang
gembur, subur, tidak terlalu liat dan cukup air. Permukaan tanah yang paling ideal
adalah datar dengan sudut kemiringan lahan 0-10° serta membutuhkan sinar
matahari penuh dan tidak ternaungi, pH tanah yang optimal antara 5,5-7 (Hapsari,
2011).
Untuk tumbuh dan berproduksi secara optimal, cabai harus ditanam sesuai
dengan syarat tumbuhnya. Syarat tumbuh tersebut meliputi ketinggian tempat,
media tanam, curah hujan, serta intensitas cahaya matahari. Cabai merupakan
tanaman yang memiliki daya adaptasi yang luas, sehingga dapat ditanam di lahan
sawah, tegalan, dataran rendah, maupun dataran tinggi (sampai ketinggian 1.300
m dpl). Tanaman cabai umumnya tumbuh optimum di dataran 10 rendah hingga
menengah pada ketinggian 0-800 m dpl dengan suhu berkisar 20-25 0C. Pada
dataran tinggi (di atas 1.300 m dpl), tanaman cabai dapat tumbuh, tetapi
pertumbuhanya lambat dan produktivitasnya rendah (Harpenas, 2010).
Curah hujan yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman cabai berkisar antara
600 mm/tahun sampai 1.2500 mm/tahun. Curah hujan yang terlalu tinggi
menyebabkan kelembapan udara meningkat. Kelembapan udara yang meningkat
menyebabkan tanaman gampang terserang penyakit. Agar berproduksi secara
optimal, tanaman cabai menghendaki tempat yang terbuka dan tidak ternaungi.
Cabai paling ideal ditanam dengan intensitas cahaya matahari antara 60% sampai
70%. Lama penyinaran yang paling ideal bagi pertumbuhan tanaman adalah 10-12
jam (daerah garis katulistiwa) (Agriflo, 2012).
2.2 Pengertian Perbanyakan Tanaman Vegetatif Dan Generatif
Pertumbuhan vegetatif dan generatif adalah proses penting dalam siklus
hidup setiap jenis tumbuhan. Pertumbuhan vegetatif adalah pertambahan volume,
jumlah, bentuk dan ukuran organ-organ vegetatif seperti daun, batang dan akar
yang dimulai dari terbentuknya daun pada proses perkecambahan hingga awal
terbentuknya organ generatif. Sedangkan pertumbuhan generatif adalah
pertumbuhan organ generatif yang dimulai dengan terbentuknya primordia bunga
hingga buah masak. Kedua proses dan fase pertumbuhan ini ditentukan oleh
faktor genetik dan lingkungan, tempat tumbuh tanaman (Humphries dan Wheeler,
2018).
Jika hanya dikembangbiakan melalui perbanyakan secara generatif, maka
tumbuhan yang diharapkan akan lama berbuah dan tidak dapat memenuhi
kebutuhan pasar yang semakin lama semakin meningkat jumlah permintaannnya.
Alternatif yang dilakukan oleh petani adalah dengan cara perbanyakan tanaman
secara vegetatif. Perbanyakan tanaman secara vegetatif merupakan perbanyakan
tanaman menggunakan bagian – bagian tanaman seperti batang, cabang, ranting,
pucuk, umbi dan akar untuk menghasilkan tanaman baru yang sesuai dengan
induknya. Perbanyakan ini dilakukan tanpa melalui proses perkawinan dan tidak
melalui biji dari induknya (Rahman dkk, 2012).
Perbanyakan tanaman secara vegetatif dan generatif dapat dilakukan
secara alamiah yaitu perbanyakan tanaman tanpa melalui perkawinan atau tidak
menggunakan biji dari tanaman induk yang terjadi secara alami tanpa bantuan
campur tangan manusia. Perbanyakan tanaman secara vegetatif alamiah dapat
terjadi melalui tunas, umbi, rhizoma, dan geragih (stolon). Perbanyakan tanaman
secara vegetatif juga dapat dilakukan secara buatan yaitu perbanykan tanaman
tanpa melalui perkawinan atau tidak menggunakan biji dari tanaman induk yang
terjadi secara buatan dengan bantuan campur tangan manusia. Tanaman yang
biasa diperbanyak dengan cara vegetatif buatan adalah tanaman yang memiliki
kambium. Tanaman yang tidak memiliki kambium atau bijinya berkeping satu
(monokotil) umumnya tidak dapat diperbanyak dengan cara vegetatif buatan.
Perbanyakan tanaman secara vegetatif buatan dapat dilakukan dengan cara stek,
cangkok, dan merunduk (layering). Selain itu, perbanyakan tanaman dapat
dilakukan dengan cara okulasi dan sambung (grafting) (Rahman, Maria, dan
Yomi, 2012).
Perbanyakan tanaman buah-buahan terdiri dari dua cara, yakni
perbanyakan generatif dan vegetatif. Perbanyakan tanaman menggunakan biji
(bagian tanaman yang dibuahi) disebut pembibitan secara generatif atau seksual.
Disebut demikian karena biji berasal dari pertumbuhan embrio basil penyerbukan
(perkawinan, pembuahan) antara putik dengan serbuk sari. Perbanyakan tanaman
yang tidak menggunakan biji disebut perbanyakan vegetatif atau aseksual. Bagian
tanaman buah yang dapat digunakan untuk perbanyakan ini adalah akar dan
batang atau tunas. Perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan teknologi kultur
jaringan termasuk perbanyakan tanaman secara vegetatif, karena bibit itu
ditumbuhkan dari bagian sel tanaman yang tidak dibuahi (Harjadi et al, 2010).
Perbanyakan tanamana secara vegetatif dibagi menjadi dua, yaitu
perbanyakan tanaman secara vegetatif alami dan vegetatif buatan. Kemudian
vegetatif buatan terbagi menjadi dua yaitu vegetatif buatan secara konvensional
dan vegetatif buatan secara bioteknologi. Selain itu ada perbanyakan tanaman
yang digabungkan antara vegetatif alami dan buatan yaitu dengan cara grafting.
Perbanyakan tumbuhan secara vegetatif bertujuan untuk memperbaiki tumbuhan
pangan, buah, dan bunga hias. Sebagian besar metode ini didasarkan pada
kemampuan tumbuhan untuk membentuk akar atau tunas adventif. Sedangkan
perbanyakan vegetatif buatan secara bioteknologi dilakukan dengan cara teknik
kultur jaringan atau sering disebut teknik in vitro (Campbell, 2013).
2.3 Jenis-jenis Perbanyakan Vegetatif Dan Generatif
a) Perbanyakan Vegetatif
1. Perbanyakan Vegetatif Alami
Menurut Harjadi et al (2010), menyatakan bahwa perbanyakan vegetatif
adalah perkembangbiakan tanpa didahului dengan peleburan sel kelamin
sdan tidak ada campur tangan manusia. Adapun jenis-jenis perbanyakan
vegetatif alami antara lain.
a. Spora
Spora adalah satu atau beberapa sel (bisa haploid ataupun diploid) yang
terbungkus oleh lapisan pelindung. Sel ini dorman dan hanya tumbuh pada
lingkungan yang memenuhi persyaratan tertentu, yang khas bagi setiap
spesies. Fungsi spora sebagai alat persebaran (dispersi) mirip dengan biji,
meskipun berbeda jika ditinjau dari segi anatomi dan evolusi. Contoh
tumbuhan yang berkembangbiak dengan spora yaitu tumbuhan paku,
lumut, dan jamur.
b. Tunas
Tunas adalah bagian tumbuhan yang baru tumbuh dari kecambah atau
kuncup yang berada di atas permukaan tanah/media. Tunas dapat terdiri
dari batang, ditambah dengan daun muda, calon bunga, atau calon buah.
Dalam peristilahan fisiologi tumbuhan, tunas juga berarti semua bagian
tumbuhan yang bukan akar, yaitu bagian tumbuhan yang
berkecenderungan memiliki geotropisme negatif (atau heliotropisme
positif). Contoh tumbuhan yang berkembangbiak dengan tunas yaitu
tumbuhan pisang, bamboo, dan tebu.
c. Tunas Adventif.
Tunas adventif adalah tunas yang tumbuh dari bagian-bagian tertentu
misalnya tunas yang tumbuh pada akar atau daunnya. Contoh tumbuhan
yang berkembangbiak dengan tunas adventif adalah cocor bebek, pohon
cemara, dana sukun.
d. Umbi Batang
Umbi batang( tuber cauligenum) adalah umbi yang terbentuk dari batang
atau struktur modifikasi batang, seperti geragih (stolo) atau rimpang
(rhizoma). Umbi batang mampu memunculkan tunas maupun akar,
sehingga kerap kali dijadikan bahan perbanyakan vegetatif oleh manusia.
Umbi batang dihasilkan oleh beberapa spesies Solanaceae (yang paling
dikenal adalah umbi kentang) dan Asteraceae (seperti umbi dahlia dan
topinambur). Contoh tumbuhan yang berkembangbiak dengan umbi
batang yaitu gadung, ubi jalar, kentang, gembili, dan bengkuang.
e. Umbi Lapis
Umbi lapis (bulbus) merupakan sejenis umbi yang terbentuk dari
tumpukan (pangkal) daun yang tersusun rapat dalam format roset. Umbi
lapis dipandang berbeda dari umbi yang lainnya karena tidak
mengakumulasi karbohidrat dalam bentuk polisakarida. Pembesaran
terjadi karena berkumpulnya cairan di sel-selnya. Contoh tumbuhan yang
berkembangbiak dengan umbi lapis yaitu tulip, bawang merah/brambang,
bawang putih , bawang bombay, dan bunga bakung.
f. Akar Tinggal ( Rhizoma )
Dalam botani, rimpang atau rizoma (bahasa Latin: rhizoma) adalah
modifikasi batang tumbuhan yang tumbuhnya menjalar di bawah
permukaan tanah dan dapat menghasilkan tunas dan akar baru dari ruas-
ruasnya. Suku temu-temuan (Zingiberaceae) dan paku-pakuan
(Pteridophyta) merupakan contoh yang biasa dipakai untuk kelompok
tumbuhan yang memiliki organ ini. Rizoma biasanya memiliki fungsi
tambahan selain fungsi pokok seperti batang. Yang paling umum adalah
menjadi tempat penyimpanan produk metabolisme (metabolit) tertentu.
Rimpang menyimpan banyak minyak atsiri dan alkaloid yang berkhasiat
pengobatan. Rizoma yang membesar dan menjadi penyimpanan cadangan
makanan (biasanya dalam bentuk pati) dinamakan tuber (umbi batang).
Contoh tumbuhan yang berkembangbiak dengan akar tinggalyaitu
lengkuas, jahe, dan kunyit.
g. Geragih
Geragih atau stolon adalah modifikasi batang yang tumbuh menyamping
dan di ruas-ruasnya tumbuh bakal tanaman baru. Geragih adalah cabang
batang yang memiliki perubahan bentuk dan penambahan fungsi. Geragih
biasanya berbuku-buku dan beruas-ruas. Dari ruas-ruas ini akan muncul
tunas-tunas yang dapat menjadi tanaman baru. Setelah beberapa waktu
tanaman ini tumbuh memanjang dan menjauhi induknya lalu membengkok
ke atas membentuk individu baru. Dengan demikian, geragih merupakan
alat sintasan bagi spesies untuk mempertahankan kelestariannya. Contoh
tumbuhan yang berkembangbiak dengan geragih yaitu pegagan rumput
teki, strawberry, dan eceng gondok.
2. Perbanyakan Vegetatif Buatan
a. Penyetekan
Perkembangbiakan dengan setek dilakukan dengan cara menanam bagian
tertentu tumbuhan tanpa menunggu tumbuhnya akar baru lebih dahulu.
Dibandingkan cara perkembangbiakan vegetatif buatan lainnya, cara setek
adalah cara termudah. Pembiakan tanaman dengan setek ada yang
menggunakan batang (kayu) disebut setek batang, dan ada juga yang
menggunakan daun disebut setek daun. Contoh dari perbanyakan vegetatif
ini adalah singkong, mawar, tebu, bougenville, dan ketela rambat.
b. Perundukan
Perkembangbiakan dengan runduk/merunduk dilakukan dengan cara
membengkokkan cabang tanaman hingga ke tanah lalu memendam cabang
tanaman tersebut dengan tanah. Contoh tanaman yang dapat
dikembangbiakkan dengan runduk adalah stroberi, anggur, alamanda, apel,
dan melati
c. Pencangkokan
Mencangkok adalah membuat cabang batang tanaman menjadi berakar.
Dilakukan pada tanaman buah-buahan dikotil dan berkayu. Contoh
tanaman yang dapat dikembangbiakkan dengan cara mencangkok adalah
mangga, sawo, jambu air, jambu biji, jeruk, kedondong, dan rambutan.
d. Penyambungan
Menyambung atau mengenten adalah menggabungkan batang bawah dan
batang atas dua tanaman yang sejenis. Tujuan menyambung adalah
menggabungkan sifat-sifat unggul dari dua tanaman sehingga diperoleh
satu tanaman yang memiliki sifat-sifat unggul. Contoh tanaman yang dapat
disambung yaitu durian, manga,dan kopi.
e. Okulasi
Okulasi adalah salah satu cara meningkatkan mutu tumbuhan dengan cara
menempelkan sepotong kulit pohon yg bermata tunas dari batang atas pada
suatu irisan dari kulit pohon lain dari batang bawah sehingga tumbuh
bersatu menjadi tanaman yang baru.
b. Perbanyakan Generatif
Perbanyakan generatif sudah sangat umum dijumpai. Bahan yang
digunakan adalah biji. Biji disemai untuk dijadikan tanaman baru, ini bisa
dijadikan bibit. Tanaman baru dari biji meskipun telah diketahui jenisnya
kadang-kadang sifatnya menyimpang dari pohon induknya, dan bahkan
banyak tanaman yang tidak menghasilkan biji atau jumlah
bijinya yang sedikit (Suwandi, 2013).
Menurut Harjadi et al (2010), menyatakan bahwa perbanyakan generatif
memiliki tiga jenis perbanyakan yaitu sebagai berikut.
1. Konjugasi
Konjugasi adalah peristiwa transfer bahan genetik (yaitu plasmid F+ pada
bakteri dan mikronukleus pada Protozoa) dari satu individu kepada
individu lainnya. Mekanisme pertukaran bahan genetik ini terjadi pada
bakteri dan beberapa protozoa. Penyatuan gamet terjadi pada salah satu
individu. Secara morfologi tidak diketahui jenis kelaminnya, karena itu
individu yang terlibat disebut sebagai individu positif dan negatif.
2. Isogami (Isogamy)
Isogami (Isogamy) adalah penyatuan dua gamet yang secara morfologis
tidak berbeda, yaitu tidak terdiferensiasi dalam makro dan mikrogamet.
Isogamet biasanya dari galur minus atau plus; tetapi pada kapang lendir
Physarum, satu isogamet dapat bersatu dengan setiap gamet selama
keduanya secara genetik berbeda pada semua ketiga lokus polimorf.
3. Anisogami (Anisogamy)
Anisogami (Anisogamy) adalah keadaan yang melibatkan peleburan
gamet-gamet yang berlainan ukuran dan/atau motilitasnya. Pada oogami
(oogamy), gamet-gamet berbeda dalam kedua sifat tersebut. Tampaknya
sperma sering menyumbangkan sentriol tunggal untuk zigot yang
terbentuk.
2.4 Kelebihan Dan Kekurangan Perbanyakan Vegetatif Dan Generatif
Perbanyakan tanaman secara generatif memiliki kelebihan yaitu.
Keunggulan dari perbanyakan tanaman secara generatif yaitu tanaman memiliki
sistem perakaran yang kuat dan kokoh, lebih mudah diperbanyak, penanganan
yang praktis dan jangka waktu berbuah lebih panjang. Sedangkan kekurangannya
yaitu waktu untuk berbuah lebih lama. Namun, perbanyakan secara generatif
memiliki beberapa kelemahan seperti penanaman dilakukan pada saat musimnya,
keturunan yang dihasilkan kemungkinan tidak sama dengan induknya, persentase
berkecambah yang rendah dan membutuhkan waktu yang agak lama
untuk berkecambah Nursyamsi (2010).
Keuntungan perkembang biakan generatif adalah biaya yang relative murah,
penyimpanan dalam waktu lama memuaskan, daya hidupnya tetap tinggi bila
disimpan dalam lingkungan yang menghindari kondisi favorable untuk respirasi
dan kegiatan enzimatik, serta memungkinkan untuk memulai tanaman yang bebas
penyakit, khususnya penyakit tertular biji (seedborne). Meskipun demikian
terdapat pula kelemahan pembiakan generatif, seperti adanya segregasi sifat
untuk tanaman-tanaman heterozigot, sehingga dihasilkan beberapa tanaman
keturunan yang sifatnya tidak sama
dengan induknya (Aditia, 2013).
Kelemahan dari perbanyakan tanaman secara vegetatif ini membutuhkan
pohon induk yang lebih besar dan lebih banyak, sehingga membutuhkan biaya
yang banyak. Tanaman yang diperbanyak dengan stek dan cangkok, terutama
buah atau tanaman keras akarnya bukan berupa akar tunggang sehingga tanaman
tidak terlalu kuat atau mudah roboh. Selain itu tidak semua tanaman dapat
diperbanyak dengan cara vegetatif dan tingkat keberhasilannya sangat rendah,
terlebih jika dilakukan oleh hobiis atau penangkar pemula (Rahman, 2012).
Keuntungan penggunaan teknik pembibitan secara vegetative antara lain
keturunan yang didapat mempunyai sifat genetik yang sama dengan induknya,
tidak memerlukan peralataan khusus, alat dan teknik yang tinggi kecuali untuk
produksi bibit dalam skala besar, produksi bibit tidak tergantung pada
ketersediaan benih atau musim buah, bias dibuat secara kontinue dengan mudah
sehingga dapat diperoleh bibit dalam jumlah yang cukup banyak, meskipun akar
yang dihasilkan dengan cara vegetative pada umumnya relatif dangkal, kurang
beraturan dan melebar, namun lama kelamaan akan berkembang dengan baik
seperti tanaman dari biji, umumnya tanaman akan lebih cepat bereproduksi
dibandingkan dengan tanaman yang berasal dari biji (Pudjiono ,2011).
2.5 Faktor Yang Mempengaruhi Perbanyakan Vegetatif Dan Generatif
Menurut Suwandi (2013) faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu :
A. Setek
Setek merupakan teknik pembiakan vegetatif dengan cara perlakuan
pemotongan pada bagian vegetatif untuk ditumbuhkan menjadi tanaman dewasa
ecara mendiri dan terlepas tanaman induknya. Penggolongan stek berdasarkan
bahan tanaman terdiri dari stek pucuk, stek batang, dan stek akar. Faktor yang
mempengaruhi perbanyakan tek diantaranya bahan tanaman (asal bahan tanaman,
umur tanaman), komposisi media perakaran, kondisi lingkungan pertumbuhan, zat
pengatur tumbuh dan teknik pelaksanannya.
B. Penyambungan
Atas dan batang bawah pada sambungan akan terbentuk kalus (sel
parenchyma). Kalus tersebut bersatu membentuk kesatuan yang saling mengikat
(Compatibility). Kemudian kalus mengalami differensiasi sel menjadi sel
cambium baru, yang menggabungkan cambium batang bawah dan batang atas.
Terbentuk jaringan vaskuler baru, dimana jaringan xylem berada di dalam dan
jaringan floem berada di bagian luar. Teknik penyambungan yang umum
digunakan adalah sambung pucuk dimana dapat dilakukan dengan cara sambung
baji dan sambung pelana.
Faktor yang mempengaruhi Perbanyakan Vegetatif Alami. Yaitu faktor
Suhu/Temperatur Lingkungan. Tinggi rendah suhu menjadi salah satu faktor yang
menentukan tumbuh kembang, reproduksi dan juga kelangsungan hidup dari
tanaman. Faktor kelembaban/Kelembapan Udara. Kadar air dalam udara dapat
mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan tumbuhan. Tempat yang lembab
menguntungkan bagi tumbuhan di mana tumbuhan dapat mendapatkan air lebih
mudah serta berkurangnya penguapan yang akan berdampak pada pembentukan
sel yang lebih cepat. Faktor Cahaya Matahari Sinar matahari sangat dibutuhkan
oleh tanaman untuk dapat melakukan fotosintesis (khususnya tumbuhan hijau).
Faktor Hormon, hormon pada tumbuhan juga memegang peranan penting dalam
proses perkembangan dan pertumbuhan ( Wayan, 2017).
BAB III
METODOLOGI
3.1 Tempat Dan Waktu
Tempat dan waktu pelaksanaan praktikum perbanyakan vegetatif dan
generatif adalah dilakukan di Teaching Farm, Fakultas Pertanian, Universitas
Hasanuddin, serta waktu pelaksanaannya adalah pada hari Minggu, 4 november
2019, pukul 16.00 WITA.
3.2 Alat Dan Bahan
Alat yang kami gunakan pada saat melakukan praktikum perkembangan
vegetatif dan generatif adalah berupa cangkul, pisau, gunting, cutter, tash bag,
dan polybag. Sedangkan bahan yang kami gunakan pada praktikum
perkembangan tanaman vegetatif dan tanaman generatif adalah kompos, sekam,
bibit cabai dan bibit bawang merah.
3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Pembuatan Media Tanam
Pembuatan media tanam yang kami lakukan pada praktikum perbanyakan
tanaman vegetatif dan generatif adalah sebagai berikut.
1. Menyiapkan media tanam dengan menggunakan polybag sebagai media
tanam, kompos, dan sekam. Sebelum pembuatan media, kita harus
menyiapkan semua bahan yang dibutuhkan.
2. Membalik terlebih dahulu polybag yang digunakan, hal ini dilakukan
untuk mencegah agar nanti pada saat terisi tanah, polybag tidak bisa
berdiri dan mudah untuk disimpan.
3. Membagi menjadi 5 media tanam pada perbanyakan tanaman secara
vegetatif dan membagi 3 media tanam pada perbanyakan tanaman secara
generatif. Hal ini dilakukan untuk menguji berapa komposisi yang pas
digunakan untuk melakukan perbanyakan vegetatif dan generatif.
4. Mencampurkan masing-masing media tanam dengan kompos dan sekam,
lalu pada media tanam vegetatif dibagi antara 1 banding 1, 2, 3 , 4, dan 5
dengan kompos. Sedangkan pada media tanam generatif di bagi tiga
takaran antara tanah, tanah dengan kompos, dan tanah dengan kompos dan
sekam dengan menggunakan tiga polybag.
3.3.2 Penyiapan Umbi Vegetatif
Penyuapan umbi Vegetatif yang kami lakukan pada praktikum
perbanyakan tanaman vegetatif dan generatif adalah sebagai berikut.
1. Menyiapkan tanaman yang ingin diperbanyak secara vegetatif. Pada
praktik
ini, kami menggunakan bawang merah.
2. Mengupas kulit bawang merah yang ingin diperbanyak secara vegetatif
hingga bersih.
3. Memotong ujung atas bawang merah yang ingin diperbanyak secara
vegetatif sebelum ditanam.
3.3.3 Penyemaian Benih Generatif
Penyemaian benih generatif yang kami lakukan pada saat praktikum
perbanyakan vegetatif dan generatif adalah sebagai berikut.
1. Menyiapkan benih tanaman yang ingin diperbanyak secara generatif. Pada
praktikum ini kami menggunakan benih cabai untuk digunakan dalam
praktikum perbanyakan vegetatif dan generatif.
2. Menyiapkan karton tempat telur sebagai media untuk menyemai benih
cabai sebelum cabai tersebut dipindahkan ke polybag untuk diperbanyak
secara generatif.
3. Memberikan tanah yang telah dicampur dengan kompos ke dalam karton
tempat telur tersebut sebelum ditanami benih cabai. Benih cabai terlebih
dahulu direndam selama 1-2 jam.
4. Menanam benih cabai ke dalam karton bekas telur yang telah diberi tanah
dan kompos. Setelah itu, menyimpan karton yang telah ditanami benih
cabai ketempat yang tidak terkena paparan sinar matahari.
3.3.4 Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman yang dilakukan pada saat praktikum perbanyakan
vegetatif dan generatif adalah sebagai beriktu.
1. Menaruh tananam ketempat yang tidak terlalu terpapar cahaya matahari.
2. Menyiram tanaman yang diperbanyak secara vegetatif dan generatif
sebanyak dua kali sehari.
3. Menjaga tanaman yang diperbanyak secara vegetatif dan generatif dari
hama yang dapat merusak tanaman tersebut.
3.4 Parameter Pengamatan
3.4.1 Tinggi Tanaman
Tinggi tanaman pada praktikum perbanyakan vegetatif dan generatif
adalah sebagai berikut ini.
1. Pada tanaman bawang merah yang diperbanyak vegetatif, minggu pertama
tinggi daun sudah mencapai 2,5 cm dan minggu kedua serta ketiga. Tinggi
daunnya adalah 10-15 cm. adapun pada beberapa polybag ada bawang
merah yang tidak tumbuh.
2. Pada tanaman cabai yang telah dipindahkan ke polybag dan selama satu
pecan lebih, bibit cabai yang ada hanya sedikit dan banyak yang tidak
tumbuh, serta tingginya hanya 5 cm.
3.4.2 Jumlah Daun
Jumlah daun pada tanaman yang diperbanyak vegetatif dan generatif
adalah sebagai berikut ini.
1. Pada tanaman bawang merah yang diperbanyak secara vegetatif, jumlah
daun yang berhasil tumbuh selama tiga pecan terakhir adalah berkisar
antara 3-5 daun tiap polybag.
2. Pada tanaman cabai yang diperbanyak secara generatif, jumlah daun yang
tumbuh selama dipindahkan dari tempat semai ke polybag hanya memiliki
dua daun atau tidak ada daun yang tumbuh, namun tinggi batang
meningkat.
DAFTAR PUSTAKA
Agustina, Susi. 2014. Analisis Fenetik Kultivar Cabai Besar Capsicum annuum L.
dan Cabai Kecil Capsicum frutescens L. Jurnal Biologi. Vol 1 (1):
117.
Block, E. 2010. Garlic and Other Alliums: The Lore and the Science. Royal
Society of Chemistry, United Kingdom.
Harjadi et al, 2010. Perbanyakan dan Budidaya Tanaman Buah-
buahan. Pedoman Lapang, Edisi Kedua. World Agroforestry Centre dan
Winrock International.
Humphries dan Wheeler, 2018. Physiology of Crop Plants. Lowa State University
Press.Iowa. Page .271-318.
Pudjiono, 2018. PERTUMBUHAN VEGETATIF DAN GENERATIF
Stachytarpeta jamaicensis(L.) Vahl. UPT Balai Konservasi Tumbuhan
Kebun Raya Purwodadi-LIPI.
Purnomosidhi, P., et al. 2017. Perbanyakan dan Budidaya Tanaman Buah-
buahan.International Centre for Research in Agroforestry dan Winrock
International.
Rahman, Maria, dan Yomi, 2012. Laju Pertumbuhan Vegetatif dan Generatif
Genotipe Kedelai Berumur Genjah. PENELITIAN PERTANIAN
TANAMAN PANGAN VOL. 30 NO. 3.

Tjitrosoepomo, 2010. Klarisifikasi tanaman bawang merah. Jurnal Agroteknologi


tentang morfologi bawang merah. Universitas Negeri Yogyakarta.

Wijaya, F.A. 2006. Implikasi Keputusan Waktu Tanam Terhadap Kelayakan


usahatani Bunga Krisan (Studi Kasus di Kecamatan Ambarawa
Kabupaten Jawa Tengah). Skripsi. Fakultas Pertanian UMY,
Yogyakarta.
Wayan, Wiraatmaja. 20117. PEMBIAKAN VEGETATIF SECARA ALAMIAH
DAN BUATAN. Bali: Universitas Udayana.
Yuliani, Fitri. 2017. RESPON MORFOLOGI DAN FISIOLOGI TANAMAN
BAWANG MERAH (Allium cepa L.) TERHADAP CEKAMAN
SALINITAS. Bogor: SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT
PERTANIAN BOGOR BOGOR.