Anda di halaman 1dari 2

Seminar Nasional Penilaian Sumber Daya

Alam
Jakarta, 25 September 2019, bertempat di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan; Politeknik
Keuangan Negara (PKN) STAN bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
(DJKN) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) menyelenggarakan Seminar Nasional Penilaian Sumber
Daya Alam dengan tema "Inventarisasi dan Penilaian Sumber Daya Alam untuk Optimalisasi Fiskal".
Kegiatan yang dikoordinir oleh Program Studi Diploma III Pajak Bumi dan Bangunan/Penilai, Jurusan
Pajak, PKN STAN; menghadirkan Wakil Menteri Keuangan Bapak Mardiasmo; dan Kepala Badan
Pusat Statistik, Bapak Kecuk Suhariyanto sebagai penyampai pesan kunci.

Menurut Wakil Menteri Keuangan, Bapak Mardiasmo, Kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) harus
dimanfaatkan secara optimal menjadi modal pembangunan yang efektif karena sekarang pengelolaan
aset budaya, SDA dan SDM, serta rendahnya cost and asset awareness pada sektor publik. Kepala
Badan Pusat Statistik, Bapak Kecuk Suhariyanto juga menjelaskan bahwa salah satu alternatif untuk
mendukung pengembangan pemanfaatan potensi SDA yang ada di suatu wilayah dapat dilakukan
melalui penyusunan neraca SDA. Neraca SDA yang nantinya disusun akan mengadopsi System of
Environmental-Economic Accounting (SEEA), sebuah standar internasional yang memberi gambaran
kompehensif antara ekonomi dan alam.

Turut hadir pula sebagai narasumber diskusi panel dan FGD, Bapak Isa Rachmatawarta selaku
Direktur Jenderal Kekayaan Negara; Bp. Wawan Sunarjo selaku Direktur Penerimaan Negara Bukan
Pajak (PNBP) - Direktorat Jenderal Anggaran; Prof Akhmad Fauzi, Guru Besar Fakultas Ekomomi dan
Manajemen IPB, dan Prof. Irwandy Arif, Guru Besar Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan
ITB.

Seminar Nasional diselenggarakan dalam rangka memberikan masukan dari sisi akademis untuk
merespon kebutuhan pemerintah atas program pendataan dan penilaian SDA, serta sebagai wadah
diskusi mengenai implementasi penilaian untuk optimalisasi kebijakan fiskal di Indonesia. Dalam sesi
diskusi panel, pembahasan yang disampaikan meliputi perkembangan penyusunan neraca SDA dan
sinergi antar lembaga pemerintah dalam penyusunan neraca SDA peran DJKN dalam inventarisasi dan
penilaian SDA, potensi fiskal SDA alam Indonesia, serta optimalisasi inventarisasi dan penilaian SDA
dalam kebijakan fiskal.

PKN STAN mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, narasumber dan partisipan yang sudah
meluangkan waktu berbagi ilmu demi terselenggaranya diskusi pada kegiatan ini.

Jakarta - Direktur Jenderal Kekayaan Negara Isa Rachmatarwata mengungkapkan bahwa pentingnya penilai
pemerintah memiliki kapasitas penilaian Sumber Daya Alam (SDA). Kapasitas penilaiaan bertujuan untuk melihat
optimasilasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Hal ini disampaikan pada Seminar Nasional Penilaian
Sumber Daya Alam pada Rabu, (25/9) di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan Jakarta Pusat.

“Secara kedinasan, betapa pentingnya seorang penilai pemerintah memiliki kapasitas penilaian SDA. Kapasitas
penilaian bertujuan untuk melihat optimasilasi PNBP, sustainability PNBP, dan bisa melihat lebih lengkap
potensi gain maupun lost dari pengerahan SDA,” ujar Isa.
Lebih lanjut, ia mengatakan penerimaan SDA adalah tulang punggung penerimaan PNBP Nasional. Penerimaan
PNBP didominasi oleh penerimaan SDA sebesar 45% dan penerimaan terbesar SDA ada di sektor Migas.

Isa juga menyampaikan bahwa capaian PNBP dari SDA baik migas maupun non migas telah melampaui target.
Tahun 2018 Laporan PNBP sektor SDA ditargetkan 103,7 T, realisasi sektor SDA sebesar 181.1 T dengan
persentase capaian target sebesar 174.6 %. Tidak hanya itu, PNBP Sektor SDA dari tahun 2016 hingga 2018
menunjukan tren yang meningkat.
“Jika kita lihat trend-nya, dari tahun 2016 sampai tahun 2018 PNBP Sektor SDA meningkat. Trend peningkatan
PNBP dari SDA menunjukkan masih terdapat potensi yang perlu dikembangkan utamanya dalam penilaian SDA,”
jelasnya.
Penilaian SDA, terangnya, adalah area yang sangat potensial untuk dikembangkan di bidang keilmuan. “Bersama
PKN STAN, penilaian SDA sangat potensial. Opportunity dapat dilihat dalam mengembangkan ilmu fiskal dan cara
kerja mengelola fiskal. Mengembangkan ilmu fiskal sebagai satu bidang keahlian yang bermanfaat dikemudian
hari,” ucap Isa.

Peran Penilai Pemerintah dalam optimalisasi PNBP adalah penentuan besaran nilai
pemanfaatan/pemindahtanganan aset hulu migas (KKKS) dan aset industri batubara (PKP2B), serta penentuan
besaran nilai perusahaan/saham dalam divestasi saham perusahaan yang mengusahakan SDA.
(Bhika/Royani/Anggit – Humas DJKN)