Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN SECTIO CAESAREA DENGAN GEMELI

A. Tinjauan Teori
1. Konsep Dasar Sectio Caesarea
a. Pengertian Sectio Caesarea
Sectio Caesarea adalah suatu pembedahan guna melahirkan anak
lewat insisi pada dinding abdomen dan uterus (Hakimi, 2010).
Menurut Amrusofian,2012 dalam Nanda Nic Noc, section caesarea
adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada
dinding uterus melalui dinding depan perut.
Sectio caesarea adalah cara melahirkan anak dengan cara
melakukan pembedahan/operasi lewat dinding perut dan dinding
uterus untuk melahirkan anak yang tidak bisa dilahirkan pervaginam
atau oleh keadaan lainnya yang mengancam ibu dan bayi yang
mengharuskan kelahiran dengan cara segera sedangkan persyaratan
pervaginam tidak memungkinkan.
Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin
dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding
rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas
500 gram. Sectio Caesaria ialah tindakan untuk melahirkan janin
dengan berat badan diatas 500 gram melalui sayatan pada
dinding uterus yang utuh. Sectio caesaria adalah pembedahan
untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding
rahim (Muchtar. 2014).

b. Klasifikasi Sectio Caesaria


Jenis-jenis operasi sectio caesarea
1) Sectio caesarea abdomen
2) Sectio caesarea vaginalis
Menurut arah sayatan pada Rahim, section dapat dilakukan sebagai
berikut :
a) Sayatan memanjang (longitudinal) menurut Kronig
b) Sayatan melintang (transversal) menurut Kerr
c) Sayatan huruf T (T-incision)
3) Sectio caesarea klasik (Corporal)
Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri
kira-kira sepanjang 10 cm, tetapi saat ini teknik ini jarang
dilakukan karena memiliki banyak kekurangan namun pada kasus
seperti operasi berulang yang memiliki banyak perlengketan organ
cara ini dapat dipertimbangkan.
4) Sectio caesarea ismika (Profunda)
Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada
segmen bawah rahim (low cervical transfersal) kira-kira sepanjang
10 cm.
c. Etiologi
1) Etiologi yang berdasarkan dari ibu
Pada primigravida dengan kelaianan letak, primi para tua disertai
kelainan letak, disproporsi sefalo pelvik (disproporsi
janin/panggul), riwayat persalinan buruk,terdapat kesempitan
panggul, placenta previa terutama pada primigravida,sulotio
placenta tingkat I-II, komplikasi kehamilan.
2) Etiologi janin
Fetal distress/gawat janin, mal presentasi dan mal posisi janin,
prolapses tali pusat dengan pembukaan kecil, kegagalan persalinan
vakum atau forceps ekstraksi.
d. Manifestasi Klinis
1. Plasenta previa sentralis dan lateralis ( posterior)
2. Panggul sempit
3. Disporsi sefalopelvik, yaitu ketidakseimbangan antara ukuran
kepala dan ukuran panggul
4. Rupture uteri mengancam
5. Partus lama (prolonged labor)
6. Partus tak maju (obstructed labor)
7. Distosia serviks
8. Pre-eklampsia dan hipertensi
9. Malpresentasi janin
a. Letak lintang
b. Letak bokong
c. Presentasi dahi dan muka (reflek defleksi)
d. Presentasi rangkap jika reposisi tidak berhasil
e. Gemeli
e. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemantauan janin terhadap kesehatan janin
2. Pemantauan EKG
3. JDL demgan diferensial
4. Elektrolit
5. Hemoglobin/Hematokrit
6. Golongan darah
7. Urinalisis
8. Amniosentesis terhadap maturitas paru janin sesuai indikasi
9. Pemeriksaan sinar X sesuai indiksasi
10. Ultrasound sesuai pesanan.
f. Komplikasi
1. Hipotensi
Hipotensi lebih sering terjadi pada pasien obstetric bila
dilakukan analgesik spinal dan epidural. Hal ini disebabkan karena
kompresi aorta kaval, hipovolemia karena perdarahan ante partum,
dehidrasi, dan vasodilatasi perifer pada ibu.
Perdarahan disebabkan karena :
a. Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka
b. Atonia uteri
c. Perdarahan pada placenta bed
2. Infeksi puerperai (nifas)
a. Ringan dengan kenaikan suhu beberapa hari saja
b. Sedang, dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi disertai
dehidrasi dan perut sedikit kembung.
c. Berat, dengan peritonitis, sepsis, dan ileus paralitik.

2. Konsep Dasar Kehamilan Ganda (Gemeli)


a. Pengertian
Kehamilan kembar adalah satu kehamilan dengan dua janin.
Kehamilan tersebut selalu menarik perhatian wanita itu sendiri,
dokter dan masyarakat.
Kehamilan kembar adalah satu kehamilan dengan dua janin.
Kehamilan tersebut selalu menarik perhatian wanita itu sendiri,
dokter dan masyarakat. Pada umumnya, kehamilan dan persalinan
membawa resiko bagi janin. Bahaya bagi ibu tidak sebegitu besar,
tetapi wanita dengan kehamilan kembar memerlukan pengawasan
dan perhatian khusus bila diinginkan hasil yang memuaskan bagi
ibu dan janin. Frekuensi kehamilan kembar juga meningkat dengan
paritas ibu. Dari angka 9,8 per 1000 persalinan untuk primipara
frekuensi kehamilan kembar naik sampai 18,9 per 1000 untuk
oktipara. Keluarga tertentu mempunyai kecenderungan untuk
melahirkan bayi kembar, walaupun pemindahan sifat heriditer
kadang-kadang berlangsung secara paternal, tetapi biasanya hal itu
disini terjadi secara maternal dan pada umumnya terbatas pada
kehamilan dizigotik. (Ilmu Kebidanan, 2002)
Kehamilan ganda dalah kehamilan dengan dua janin atau lebih.
Sejak diketemukan obat-obatan dan cara induksi ovulasi. (Mochtar,
1998:259)
Kehamilan kembar adalah kehamilan dengan dua janin atau
lebih, sejak ditemukannya obat-obat induksi ovulasi dari laporan-
laporan seluruh pelosok dunia. (Cunningham, Garry dkk. 2009)
Kehamilan ganda adalah segmentasi satu ovum fertile
(identik,monovuler atau monozigotik) atau fertilisasi ovum yang
terpisah oleh spermatozoa yang berbeda (fraternal atau dizigotik).
(Benson, 2009)

b. Etiologi
Factor-faktor yang mempengaruhi persalinan pada kehamilan ganda
atau gemeli adalah
1. Bangsa
2. Keturunan
3. Obat klomid
4. Hormone gonadotropin
5. Hereditas
6. Umur
7. Paritas
c. Manifestasi Klinis
Pada kehamilan distensi uterus berlebihan sehingga melewati
batas toleransinya dan seringkali terjadi pada partus prematurus.
Kebutuhan ibu akan zat-zat makanan pada kehamilan kembar
bertambah. Frekuensi hidro amnion kira-kira 10 kali pada
kehamilan kembar daripada kehamilan tunggal. Hidro amnion dapat
menyebabkan uterus renggang sehingga dapat menyebabkan partus
premature, inersia uteri atau perdarahan postpartum. Solusio
plasenta dapat terjadi setelah bayi pertama lahir, sehingga
menyebabkan salah satu faktot kematian bagi janin kedua. Keluhan
karena tekanan uterus yang besar dapat terjadi, seperti sesak nafas,
sering kencing, edema dan varises pada tungkai bawah dan vulva.
Berhubung uterus renggang secara berlebihan ada dua
kecenderungan terjadinya inersia uteri tetapi keadaan ini dapat
diimbangi oleh bayi yang relative kecil sehingga lamanya
persalinan tidak banyak berbeda dari persalinan tunggal.

d. Macam-macam Kehamilan Kembar


1. Kehamilan kembar monozygotic
Kehamilan kembar yang terjadi dari satu telur disebut kembar
monozygotic atau disebut juga identik, homilog atau uniovuler.
Kira-kira sepertiga kehamilan kembar adalah minozygotik. Jenis
kehamilan kedua anak sama, rupanya sama ayau bayangan cermin,
mata kuping, rambut, gigi, kulit, ukuran antropologikpun sama.
Kehamilan kembar monozygotic mempunyai 1 plasenta, 1 korion
homolog, uniovuler, identik dan 1 atau 2 amnion. Pada Kehamilan
kembar monoamniotik kematian bayi sangat tinggi karena lilitan
tali pusat.
2. Kehamilan kembar dizygotik
Kira-kira dua pertiga kehamilan kembar dizygotik yang
berasal dari dua sel telur disebut juga heterolog, binovuler atau
fraternal. Jenis kelamin sama atau berbeda, mereka dalah anak-
anak lain dalam satu keluarga. Kembar dizygotik mempunyai
biovuler, heterolog, fraternal, 2 plesenta, 2 korion dan 2
amnion, kadang-kadang 2 plasenta menjadi satu.

3. Konsep Dasar Masa Nifas


a. Pengertian
Nifas (Puerperium) adalah waktu yang diperlukan untuk pulihnya
kembali alat kandungan pada keadaan normal yang berlangsung 6
minggu atau 42 hari (Manuaba, 1998). Masa nifas dibagi menjadi 3
periode :
1. Puerperium dini
Suatu masa kepulihan dimana ibu diperbolehkan untuk berdiri
dan berjalan-jalan.
2. Puerperium intermedial
Suatu masa dimana kepulihan dari organ-organ reproduksi
selama kurang lebih enam minggu.
3. Remote puerperium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dlam
keadaan sempurna terutama ibu bila ibu selama hamil atau waktu
persalinan mengalami komplikasi.
b. Perubahan-perubahan pada masa nifas
1. Perubahan Fisiologis
Perubahan fisiologis pada masa nifas sering disebut dengan trias
nifas yang terdiri dari proses involusi uteri, lochea, dan laktasi.
a. Proses involusi uteri
Involusi uteri adalah suatu proses kembalinya alat-alat
kandungan/uterus dan jalan lahir yang terjadi setelah bayi
dilahirkan sehingga kemabali ke keadaan sebelum hamil.
Tabel Tinggi Fundus dan Berat Uterus Menurut Masa
Involusi
Involusi Tinggi Fundus Uteri Berat Uterus
Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram
Uri lahir 2 jari di bawah pusat 750 gram
1 minggu Pertengahan pusat simpisis 500 gram

2 minggu Tidak teraba di atas simpisis 350 gram


6 minggu Bertambah kecil 50 gram
8 minggu Sebesar normal 30 gram
sumber : mochtar, 1998
b. Proses pengeluaran Lochea
Lochea merupakan cairan sekret yang berasal dari kavum
uteri dan vagina dalam masa nifas. Pengeluaran lochea dapat
dibagi menjadi :
1. Lochea Rubra
Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel
desidua verniks kaseosa, lanogo dan meconium, warna
merah kehitaman, keluar sampai 3 hari pasca persalinan.
2. Lochea Sanguinolenta
Berisi darah segar dan lender, warna merah kekuningan,
keluar sejak hari 3-7 pasca persalinan
3. Lochea Serosa
Cairan sudah tidak berdarah lagi, warna kuning, keluar
sejak hari 7-14 pasca persalinan.
4. Lochea Alba
Berwarna putih keluar setelah 2 minggu pasca persalinan
5. Lochea Purulenta
Apabila terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah dan
berbau busuk.
c. Proses Laktasi
Sejak kehamilan muda, sudah terdapat persiapan-persiapan
pada kelenjar-kelenjar mamma untuk menghadapi masa
laktasi. Setelah partus selesai pengaruh penekanan dari
estrogen dan progesterone terhadap hipofisis hilang
sehingga hormone hipofisis kembali antara lain : prolactin
yang dapat mempengaruhi kelenjar-kelenjar berisi air susu.
Pengaruh oksitosin mengakibatkan miopitelium kelenjar-
kelenjar susu berkontraksi sehingga pengeluaran air susu.
Keluarnya ASI dibagi menjadi 3 yaitu :
1. Colostrum
Yaitu ASI yang dihasilkan di hari pertama sampai hari
ke-3 setelah bayi lahir. Colostrum berwarna kuning
yang mengandung antibody untuk bayi.
2. ASI masa transisi
Yaitu ASI yang dihasilkan mulai hari ke 4-19
3. ASI Matur
Yaitu ASI yang dihasilkan mulai hari ke 10sampai
seterusnya.

2. Perubahan Psikososial pada nifas


a) Periode Takin In
Sikap ibu masih bergantung, energy difokuskan pada
perhatian tubuhnya, ditandai dengan ibu tampak mengulang
kmbai pengalaman persalinan. Hal ini berlangsung 1-2 hari
pasca melahirkan.
b) Periode Taking Hold.
Sikap ibu saat ini menaruh perhatian pada kemampuannya
menjadi seorang ibu yang berhasil menerima peningkatan
tanggung jawab
terhadap bayinya, berlangsung 2-4 hari setelah melahirkan.
c) Periode Letting Go
Sikap ibu saat ini sudah kembali kerumah, beradaptasi
terhadap penurunan otonomi, kemandirian, dan interaksi
sosial.

C. Penatalaksanaan
1. Merawat luka post op
2. Perawatan payudara
3. Pemberian KIE tentang cara menyusui yang baik dan benar
4. Rawat gabung ibu dengan bayinya.
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PADA SECTIO
CAESAREA
1. Pengkajian
a. Identitas pasien dan penanggung jawab
b. Keluhan utama
c. Riwayat mentruasi
d. Riwayat perkawinan
e. Riwayat Kehamilan, persalinan, dan nifas
f. Riwayat penggunaan kontrasepsi
g. Riwayat penyakit yang pernah diderita
h. Riwayat penyakit keluarga
i. Data bio-psiko-sosial-spiritual
1) Data biologi
2) Data Psiko-sosial
3) Data Spiritual
j. Pemeriksaan fisik
k. Pemeriksaan Penunjang

2. Diagnosa
1. Nyeri (akut) berhubungan dengan trauma jaringan sekunder
terhadap pembedahan
2. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan sisi masuknya
organisme sekunder terhadap pembedahan, periode pasca partum
(pengeluaran lochea), pemasangan alat-alat eksternal.
3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan fisik
4. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan
5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kelembaban lingkungan
sekitar, suhu lingkungan sekitar, dan kurangnya privasi
3. Perencanaan
1. Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan sekunder terhadap
pembedahan

Nyeri akut NOC : NIC : pain management


berhubungan  Pain Level,  Lakukan pengkajian nyeri
dengan: Agen  pain control, secara komprehensif termasuk
injuri (biologi,  comfort level lokasi, karakteristik, durasi,
kimia, fisik, Setelah dilakukan frekuensi, kualitas dan faktor
psikologis), tinfakan presipitasi
kerusakan keperawatan selama ….  Observasi reaksi nonverbal dari
jaringan Pasien tidak mengalami ketidaknyamanan
nyeri, dengan kriteria hasil:  Bantu pasien dan keluarga
DS:  Mampu mengontrol nyeri untuk mencari dan menemukan
- Lapor (tahu penyebabnyeri, dukungan
an mampu menggunakan  Kontrol lingkungan yang dapat
secara tehnik nonfarmakologi mempengaruhi nyeri seperti
verbal untuk mengurangi nyeri, suhu ruangan, pencahayaan
DO: mencari bantuan) dan kebisingan
- Posisi untuk  Melaporkan bahwa nyeri  Kurangi faktor presipitasi nyeri
menahan nyeri berkurang dengan  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
- Tingkah laku berhati- menggunakan menentukan intervensi
hati manajemen nyeri  Ajarkan tentang teknik non
- Gangguan tidur  Mampu mengenali nyeri farmakologi: napas dala,
(mata sayu, (skala, intensitas, frekuensi relaksasi, distraksi, kompres
tampak capek, dan tanda hangat/ dingin
sulit atau gerakan nyeri)  Berikan analgetik untuk
kacau, mengurangi nyeri
 Menyatakan rasa
menyeringai)  Tingkatkan istirahat
nyaman setelah nyeri
- Terfokus pada diri  Berikan informasi tentang nyeri
berkurang
sendiri seperti penyebab nyeri, berapa
 Tanda vital dalam rentang
- Fokus menyempit lama nyeri akan berkurang dan
normal
(penurunan antisipasi ketidaknyamanan dari
persepsi waktu,  Tidak mengalami prosedur
kerusakan proses gangguan tidur
berpikir,
penurunan
interaksi dengan
orang dan
lingkungan)
Tingkah laku
distraksi, contoh :
jalan- jalan,
menemui orang
lain dan/atau
aktivitas, aktivitas
berulang-ulang)
- Respon autonom
(seperti
diaphoresis,
perubahan tekanan
darah, perubahan
nafas, nadi dan
dilatasi pupil)
- Perubahan
autonomic dalam
tonus otot
(mungkin dalam
rentang dari
lemah ke kaku)
- Tingkah laku
ekspresif (contoh :
gelisah, merintih,
menangis,
waspada, iritabel,
nafas
panjang/berkeluh
kesah)
- Perubahan dalam
nafsu makan dan
minum

2. Resiko infeksi berhubungan dengan masuknya organisme sekunder


terhadap pembedahan, periode pasca partum, dan pemasangan alat-alat
eksternal

Risiko infeksi NOC : NIC : risk control


 Immune Status  Pertahankan teknik aseptif
Faktor-faktor risiko :  Knowledge : Infection  Batasi pengunjung bila perlu
- Prosedur Infasif control  Cuci tangan setiap sebelum dan
- Kerusakan jaringan  Risk control sesudah tindakan keperawatan
dan peningkatan Setelah dilakukan
paparan lingkungan  Gunakan baju, sarung tangan
tindakan
- Malnutrisi keperawatan sebagai alat pelindung
- Peningkatan selama…… pasien tidak  Ganti letak IV perifer dan
paparan mengalami infeksi dressing sesuai dengan
lingkungan dengan kriteria hasil: petunjuk umum
patogen  Klien bebas dari tanda  Gunakan kateter intermiten
- Imonusupresi dan gejala infeksi untuk menurunkan infeksi
- Tidak adekuat kandung kencing
 Menunjukkan
pertahanan kemampuan untuk  Tingkatkan intake nutrisi
sekunder mencegah timbulnya  Berikan terapi
(penurunan Hb, infeksi antibiotik:.................................
Leukopenia,  Jumlah leukosit dalam
penekanan respon  Monitor tanda dan gejala infeksi
batas normal sistemik dan lokal
inflamasi)  Menunjukkan
- Penyakit kronik  Pertahankan teknik isolasi k/p
perilaku hidup  Inspeksi kulit dan membran mukosa terha
- Imunosupresi
sehat  Monitor adanya luka
- Malnutrisi
 Status imun,  Dorong masukan cairan
- Pertahan primer tidak
gastrointestinal,  Dorong istirahat
adekuat (kerusakan
genitourinaria dalam
kulit, trauma jaringan,  Ajarkan pasien dan keluarga
batas normal
gangguan peristaltik) tanda dan gejala infeksi
 Kaji suhu badan pada pasien
neutropenia setiap 4 jam
3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan fisik
Tujuan : meningkat dalam aktifitas fisik, bisa beraktifitas secara mandiri

Gangguan mobilitas NOC : NIC :


fisik  Joint Movement : Active Exercise therapy : ambulation
Berhubungan dengan :  Mobility Level  Monitoring vital sign
- Gangguan  Self care : ADLs sebelm/sesudah latihan dan
metabolisme sel  Transfer lihat respon pasien saat latihan
- Keterlembatan performance  Konsultasikan dengan terapi
perkembangan Setelah dilakukan fisik tentang rencana ambulasi
- Pengobatan tindakan sesuai dengan kebutuhan
- Kurang support keperawatan  Bantu klien untuk menggunakan
lingkungan selama….ganggu tongkat saat berjalan dan cegah
- Keterbatasan ketahan an terhadap cedera
kardiovaskuler mobilitas fisik teratasi  Ajarkan pasien atau tenaga
- Kehilangan integritas dengan kriteria hasil: kesehatan lain tentang teknik
struktur tulang  Klien meningkat ambulasi
- Terapi pembatasan dalam aktivitas fisik  Kaji kemampuan pasien dalam
gerak  Mengerti mobilisasi
- Kurang tujuan dari  Latih pasien dalam pemenuhan
pengetahuan peningkatan kebutuhan ADLs secara mandiri
tentang mobilitas sesuai kemampuan
kegunaan
 Memverbalisasikan  Dampingi dan Bantu pasien
pergerakan saat mobilisasi dan bantu
perasaan dalam
fisik penuhi kebutuhan ADLs ps.
meningkatkan
- Indeks massa  Berikan alat Bantu jika klien
kekuatan dan
tubuh diatas 75 memerlukan.
kemampuan
tahun percentil
berpindah  Ajarkan pasien bagaimana
sesuai dengan usia merubah posisi dan berikan
 Memperagakan
- Kerusakan persepsi bantuan jika diperlukan
penggunaan alat
sensori
Bantu untuk
- Tidak nyaman, nyeri
mobilisasi
- Kerusakan
muskuloskeletal  (walker)
dan
neuromuskuler
- Intoleransi
aktivitas/penurunan
kekuatan dan
stamina, gangguan
peristaltik)
4. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan
Tujuan : Ansietas berkurang atau hilang

Kecemasan NOC : NIC :


berhubungan dengan - Kontrol kecemasan Anxiety Reduction (penurunan
Faktor keturunan, - Koping kecemasan)
Krisis situasional, Setelah dilakukan asuhan  Gunakan pendekatan yang
Stress, perubahan selama menenangkan
status kesehatan, ……………klien  Nyatakan dengan jelas harapan
ancaman kematian, kecemasan teratasi dgn terhadap pelaku pasien
perubahan konsep kriteria hasil:  Jelaskan semua prosedur dan
diri, kurang pengetahuan  Klien mampu apa yang dirasakan selama
dan hospitalisasi mengidentifikasi prosedur
dan  Temani pasien untuk
DO/DS: mengungkapkan memberikan keamanan dan
- Insomnia gejala cemas mengurangi takut
- Kontak mata kurang  Mengidentifikasi,  Berikan informasi faktual
- Kurang istirahat mengungkapkan dan menunjukkan
mengenai diagnosis, tehnik
tindakan untuk mengonto
- Berfokus pada diri  Vital sign dalam prognosis
sendiri batas normal  Libatkan keluarga untuk
- Iritabilitas  Postur tubuh, ekspresi mendampingi klien
- Takut wajah, bahasa tubuh  Instruksikan pada pasien untuk
- Nyeri perut dan tingkat aktivitas menggunakan tehnik relaksasi
- Penurunan TD dan menunjukkan  Dengarkan dengan penuh
denyut nadi berkurangnya perhatian
- Diare, mual, kelelahan kecemasan  Identifikasi tingkat kecemasan
- Gangguan tidur  Bantu pasien mengenal situasi
- Gemetar yang menimbulkan kecemasan
- Anoreksia, mulut  Dorong pasien untuk
kering mengungkapkan perasaan,
- Peningkatan TD, ketakutan, persepsi
denyut nadi, RR  Kelola pemberian obat anti
- Kesulitan bernafas cemas
- Bingung
- Bloking dalam
pembicaraan
- Sulit berkonsentrasi
5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kelembaban lingkungan
sekitar, suhu lingkungan sekitar, dan kurangnya privasi
Tujuan : gangguan pola tidur teratasi

Gangguan pola tidur NOC: NIC :


berhubungan dengan:  Anxiety Control Sleep Enhancement
- Psikologis : usia  Comfort Level  Determinasi efek-efek medikasi
tua, kecemasan,  Pain Level terhadap pola tidur
agen biokimia,  Rest : Extent and  Jelaskan pentingnya tidur yang
suhu tubuh, pola Pattern adekuat
aktivitas, depresi,  Sleep : Extent ang  Fasilitasi untuk
kelelahan, takut, Pattern Setelah mempertahankan aktivitas
kesendirian. dilakukan tindakan sebelum tidur (membaca)
- Lingkungan : keperawatan selama ….  Ciptakan lingkungan yang
kelembaban, gangguan pola tidur nyaman
kurangnya pasien teratasi dengan  Kolaburasi pemberian obat tidur
privacy/kontrol tidur, kriteria hasil:
pencahayaan,  Jumlah jam tidur
medikasi (depresan, dalam batas normal
stimulan),kebisingan.  Pola
Fisiologis : Demam, tidur,kualitas
mual, posisi, urgensi dalam batas
urin. DS: normal
- Bangun lebih  Perasaan fresh
awal/lebih lambat sesudah
- Secara verbal tidur/istirahat
menyatakan tidak Mampu
fresh sesudah tidur mengidentifikasi hal-
DO : hal yang
- Penurunan meningkatkan tidur
kemempuan fungsi
- Penurunan proporsi
tidur REM
- Penurunan proporsi
pada tahap 3 dan 4
tidur.
- Peningkatan proporsi
pada tahap 1 tidur
- Jumlah tidur kurang
dari normal sesuai
usia
4. Pelaksanaan
Pelaksanaan keperawatan merupakan implementasi dari rencana asuhan
keperawatan yang telah disusun sebelumnya berdasarkan prioritas yang telah
dibuat , dimana tidakan yang diberikan mencakup tindakan mandiri dan
kolaborasi.

5. Evaluasi
1. Nyeri berkurang sampai hilang
2. Infeksi tidak terjadi
3. Meningkat dalam aktifitas fisik
4. Ansietas berkurang atau hilang
5. gangguan pola tidur teratasi
WOC (web of causation)
- panggul sempit - gawat janin
- disproporsi sefalo pelvik - malpresentasi janin
- plasenta previa - distosia servik
- pre-eklamsia dan hipertensi - rupture uteri mengancam

Section caesarea

Luka post operasi

Psikologi Fisiologis

Kurang pengetahuan Perubahan psikologi Jaringan Jaringan terbuka


terputus
Penambahan anggota Proteksi kurang
Ansietas
baru Merangsang area
sensorik Invasi bakteri
Tuntutan anggota
baru Nyeri akut Resiko infeksi
Klien mengalami
Bayi menangis hambatan dalam
mobilisasi
Gangguan pola tidur
Hambatan
mobilitas fisik
Daftar Pustaka
Carpenito, L J. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Ahli Bahasa Monica Ester Edisi 10.
Jakarta : EGC

Carpenito, L J.2009. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktik Klinis. Ahli Bahasa Eka
Anisa Mardella Edisi 9. Jakarta : EGC

DEPKES RI. 2005. Modul Kebidanan. Semarang : Dinkes

Jitowiyono, S dan Kristiyanasari, W. 2010. Asuhan Keperawatan Post Operasi.


Yogyakarta : Nuha Medika

Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta. : Salemba Medika Nugroho, T.

2010. Buku Ajar Obstetri. Yogyakarta : Nuha Medika

Nugroho, T. 2011. Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Bedah Dan Paenyakit Dalam.
Yogyakarta : Nuha Medika

Oxorn H dan Forte W R. 2003. Patologi dan Fisiologi Persalinan. Yogyakarta : Yayasan
Essentia Medika

Prawirohardjo, S. 2007. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta : YBP – SP

Prawirohardjo, S. 2008. Ilmu Kebidanan Edisi ke – 4. Jakarta : Bina Pustaka Saleha, S. 2009.

Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta : Salemba Medika Sujiyatini. 2009. Asuhan

Patologi Kebidanan. Yogyakarta : Pustaka Nuha Medika

Wilkinson, J M. 2012. Buku Saku Diagnosa Keperawatan NANDA NIC NOC. Jakarta : EGC