Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendapatan dan biaya merupakan penyebab penting perubahan ekuitas yang
berasal dari kegiatan operasi perusahaan dan pembentuk laporan laba rugi yang
menentukan laba perusahaan. Itulah sebabnya akun-akun tersebut disebut dengan
akun nominal atau temporer yang akhirnya secara periodik harus ditutup dengan
membuat jurnal penutup. Konsep dasar upaya dan capaian (effort and
accomplishment) menyatakan bahwa pendapatan harus diperoleh dengan biaya
dan bukan sebaliknya pendapatan menanggung biaya. Jadi, tidak ada pendapatan
tanpa biaya. Oleh karena itu, secara konseptual biaya harus dikeluarkan dulu
untuk memperoleh pendapatan. Artinya hanya dengan biaya, pendapatan dapat
tercipta.
Secara teknis akuntansi, pendapatan biasanya diukur terlebih dahulu dan
barulah mengukur biaya yang diperkirakan menghasilkan pendapatan tersebut
sehingga laba dapat ditentukan dengan tepat. Maka dari itu, dalam laporan laba
rugi, pendapatan disajikan lebih awal lalu dikurangi biaya. Namun demikian,
tidak berarti bahwa pendapatan (revenue) menanggung biaya (expense). Biaya
merupakan beban yang harus dihindari tetapi merupakan upaya yang sengaja
dilakukan dengan senang hati serta penuh kesadaran.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pendapatan?
2. Bagaimana penggolongan pendapatan?
3. Bagaimana pengakuan pendapatan?
4. Bagaimana pengukuran pendapatan?
5. Bagaimana penyajian pendapatan?
6. Bagaimana pengungkapan pendapatan?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pendapatan


2. Untuk mengetahui bagaimana penggolongan pendapatan

1
3. Untuk mengetahui bagaimana pengakuan pendapatan
4. Untuk mengetahui bagaimana pengukuran pendapatan
5. Untuk mengetahui bagaimana penyajian pendapatan
6. Untuk mengetahui bagaimana pengungkapan pendapatan

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Berbagai karakteristik pada pengertian pendapatan. Berbagai sumber
memaknai pendapatan yang kurang lebih sama walaupun terdapat variasi. Dalam
Standar Akuntansi Keuangan (2002), IAI mengadopsi definisi pendapatan dari
IASC yang menempatkan pendapatan (revenue) sebagai unsur penghasilan
(income) sebagai berikut, income is increases in economic benefits during the
accounting periode in the form of inflows enhacements of assets or decreases of
liabilities that result in increases in equity, other than those relating to equity
participants.
Dari beberapa definisi, dapat didaftar karakteristik-karakteristik atau kata-
kata kunci yang membentuk pengertian pendapatan dan untung. Yang membentuk
pengertian pendapatan adalah:
1. Aliran masuk atau kenaikan asset
Pendapatan ada atau timbul apabila terjadi transaksi atau kejadian
yang menaikkan asset atau menimbulkan aliran masuk asset yaitu jumlah
rupiah kotor (gross).. Tidak ada batasan bahwa asset harus berupa kas atau
alat likuid yang lain. Akan tetapi, tidak semua kenaikan asset dapat
menimbulkan pendapatan. FASB dan IAI (IASC) menyatakan hal yang
sama bahwa pendapatan diukur dengan jumlah rupiah dari penjualan. Paton
dan Littleton menyebutkan 5 transaksi atau kejadian yang membuat asset
bertambah. Maka dari itu, merujuk kegiatan yang disebutkan Paton dan
Littleton, hanya kegiatan point 5 yang masuk dalam kategori sumber
pendapatan yaitu penyediaan dan/atau penyerahan produk (barang dan jasa).
Pendapatan sebagai kenaikan asset merupakan pedefinisian dengan konsep
aliran masuk (inflow concept of revenue). Konsep ini mempunyai
kelemahan karena pendapatan dianggap baru ada setelah transaksi penjualan
terjadi. Dengan kata lain, pendapatan timbul karena peristiwa atau transaksi
pada saat tertentu dan bukan karena proses selama suatu periode.
2. Kegiatan yang merepresentasi operasi utama atau sentral yang menerus

3
Kegiatan operasi diwujudkan dalam bentuk memproduksi dan
mengirim berbagai barang kepada pelanggan atau menyerahkan atau
melaksanakan berbagai jasa. Pengertian “operasi utama” dalam hal ini lebih
dikaitkan dengan tujuan utama perusahaan yaitu menghasilkan produk atau
jasa untuk mendatangkan laba. Dengan demikian, yang disebut pendapatan
adalah kenaikan asset yang berkaitan dengan operasi utama ini dan bukan
dengan investasi dan pendanaan. Sehingga laba yang berasal dari kegiatan
investasi dapat dikatakan sebagai untung (gains) karena merupakan jumlah
neto dan bukan merupakan kegiaan operasi. Namun, berbeda apabila suatu
perusahaan bergerak dibidang jual beli surat berharga, maka laba jual beli
surat berharga tersebut dapat dikatakan pendapatan operasi pokok
sedangkan bunga dan dividendnya merupakan pendapatan tambahan.
3. Pelunasan, penurunan, atau pengurangan kewajiban
Pengiriman barang atau pelaksanaan jasa akan mengurangi kewajiban
yang menimbulkan pendapatan. Kejadian pengiriman barang mengubah
kewajiban menjadi pendapatan. Jadi alih-alih kenaikan asset, pendapatan
dapat didefinisikan sebagai penurunan kewajiban. Timbulnya pendapatan
yang berasal dari turunnya kewajiban banyak dipicu oleh penyesuaian akhir
tahun. Asas akrual juga menimbulkan kenaikan asset yang dapat
didefinisikan sebagai pendapatan, misalnya piutang pendapatan bunga,
piutang dividend dan semacamnya.
4. Suatu entitas
Pendapatan didefinisi sebagai kenaikan asset bukannya kenaikan
ekuitas bersih meskipun kenaikan asset tersebut akhirnya berpengaruh
terhadap kenaikan ekuitas bersih. Telah disebutkan, dengan konsep kesatuan
usaha, ekuitas secara konseptual adalah utang perusahaan kepada pemilik.
Oleh karena itu, naiknya asset karena pendapatan akan mengakibatkan
naiknya ekuitas. Jadi, naiknya ekuitas merupakan konsekuensi dan bukan
sumber pendapatan sehingga pendapatan tidak dapat didefinisikan sebagai
kenaikan ekuitas.

5. Produk perusahaan
Pendapatan adalah produk perusahaan yang meliputi jasa yang
dihasilkan perusahaan. Disini, pendapatan didefinisi secara fisis bukan
moneter. Produk fisis yang dihasilkan oleh kegiatan usaha itulah yang

4
merupakan pendapatan. Pengertian semacam ini sesuai dengan konsep
upaya dan capaian (effort and accomplishment) yaitu pendapatan
merupakan capaian dari upaya produktif perusahaan. Produk merupakan
capaian dari tiap kegiatan produktif. Dengan pengertian ini, pendapatan
terbentuk pada saat produk terbentuk bahkan selama proses produksi tanpa
harus menunggu kejadian atau saat penyerahan produk kepada pelanggan.
Misalnya, hal ini tidak menghalangi pengakuan pendapatan sebelum barang
diserahkan saat perusahaan kontruksi menggunakan metode persentase
penyelesaian (percentage of completion).
6. Pertukaran produk
Paton dan Litteleton memasukkan kata pertukaran (exchange) dalam
definisinya karena pendapatan akhirnya harus dinyatakan dalam satuan
moneter untuk dicatat dalam sistem pembukuan. Satuan moneter yang
paling objektif adalah jika jumlah rupiah tersebut merupakan hasil transaksi
atau pertukaran antara pihak independen.
7. Menyandang beberapa nama atau mengambil beberapa bentuk (sales, fees,
interests, dividends, royalties, and rents)
Pendapatan adalah konsep yang bersifat generik dan mencakupi
semua pos dengan berbagai bentuk dan nama apapun. Pendapatan untuk
perusahaan perdagangan, misalnya, disebut dengan penjualan. Misalnya
bagi perusahaan jasa, pendapatan dapat disebut sebagai pendapatan sewa,
pendapatan jasa angkutan, pendapatan bunga, dan sebagainya.
8. Mengakibatkan kenaikan ekuitas
FASB membatasi pengertian pendapatan hanya untuk kenaikan aset
yang berkaitan dengan operasi utama atau sentral. IAI (IASC) tidak
membedakan untung dan pendapatan sehingga keduanya digabung dalam
konsep penghasilan (income). Maka dari itu, definisi untung dapat dikatakan
sebagai:
1. Kenaikan ekuitas (aset bersih)
2. Transaksi peripheral atau incidental
3. Selain yang berupa pendapatan atau investasi oleh pemilik

B. Pengakuan Pendapatan
Pengakuan adalah pencatatan jumlah rupiah secara resmi ke dalam sistem
akuntansi sehingga jumlah tersebut terefleksi dalam statemen keuangan.
Pendapatan sebagai produk perusahaan tidak mengisyaratkan berapa jumlahnya

5
dan kapan harus dicatat tetapi lebih mengisyaratkan bahwa pendapatan memang
ada atau terwujud, definisi tersebut lebih difokuskan pada eksistensi pendapatan.
Secara konseptual pendapatan hanya dapat diakui kalau memenuhi kualitas
keterukuran (measurability), dan keterandalan (reliability).
Sebagai produk perusahaan, kriteria keterukuran berkaitan dengan masalah
berapa jumlah rupiah produk tersebut dan kriteria keterandalan berkaitan dengan
masalah apakah jumlah tersebut objektif serta dapat diuji kebenarannya.
Pendapatan belum terealisasi sebelum terjadinya penjualan yang nyata ke pihak
lain dan pendapatan belum terbentuk sebelum perusahaan melakukan upaya
produktif.

Pembentukan Pendapatan
Pembentukan pendapatan adalah suatu konsep yang berkaitan dengan
masalah kapan dan bagaimana sesungguhnya pendapatan itu timbul dan menjadi
ada. Pendekatan ini dilandasi oleh konsep dasar upaya dan hasil capaian serta
kontiuitas usaha. Biaya dan operasi perusahaan merepresentasikan upaya.
Pendapatan dan produk merepresentasikan capaian.
Pendekatan ini juga dilandasi oleh konsep homogenesitas kos yaitu bahwa
semua tahap kegiatan atau unsur di dalamnya (direpresentasikan) mempunyai
kedudukan atau arti penting yang sama dalam menghasilkan pendapatan (Paton
dan Littleton 1970 : 67 dalam Suwardjono, 2005 : 364). Implikasi dari konsep ini
adalah semua tahap kegiatan memberi sumbangan dalam penciptaan pendapatan
yang secara proporsional sama dengan besarnya kos. Jadi, begitu kos suatu objek
biaya terjadi, pendapatan dapat dianggap terbentuk sehingga laba juga terbentuk.

Realisasi Pendapatan
Menurut konsep ini, pendapatan baru dikatakan terjadi atau terbentuk pada
saat terjadi kesepakatan atau kontrak dengan pihak independen untuk membayar
produk baik produk telah selesai dan diserahkan atau belum dibuat sama sekali.
Pendapatan sebenarnya terjadi akibat transaksi tertentu yaitu transaksi penjualan
atau kontrak sehingga sebelum transaksi atau kontrak tersebut terjadi pendapatan
belum terjadi atau terbentuk.

6
Konsep realisasi lebih berkaitan dengan masalah pengukuran pendapatan
secara objektif dan lebih bersifat kriteria pengakuan daripada bersifat makna
pendapatan. Konsep realisasi atau pendekatan transaksi lebih menekankan
kejadian yang dapat menandai pengakuan pendapatan yaitu:
1. Kejadian perubahan produk menjadi potensi jasa lain melalui proses
penjualan yang sah atau semacamnya (misalnya kontrak penjualan)
2. Penguatan atau validasi transaksi penjualan tersebut dengan diperolehnya
aset lancar.
Dari kedua kejadian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa proses realisasi
merupakan konfirmasi proses penghimpunan dana.

Kriteria Pengakuan Pendapatan


Pendapatan baru dapat diakui setelah suatu produk selesai diproduksi dan
penjualan benar-benar telah terjadi yang ditandai dengan penyerahan barang.
Dengan kata lain, pendapatan belum dapat dikatakan ada dan diakui sebelum ada
penjualan yang nyata. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa pengakuan suatu
jumlah rupiah dalam akuntansi harus didasarkan pada konsep dasar keterukuran
dan reliabilitas; jumlah rupiah harus cukup pasti dan ditentukan secara objektif
oleh pihak independen.
Sebaliknya, terjadinya kontrak penjualan belum cukup untuk mengakui
pendapatan sebelum barang atau jasa sudah cukup selesai dikerjakan walaupun
jumlah rupiah pendapatan telah terealisasi karena belum ada upaya yang
membentuk pendapatan. Atas dasar konsep kesatuan usaha, tidak ada pendapatan
tanpa upaya. Tanpa upaya yang cukup pendapatan belum dapat diakui. FASB
mengajukan dua kriteria pengakuan pendapatan (dan untung) yang keduanya
harus dipenuhi yaitu (SFAC No. 5, prg. 83):
a. Terealisasi atau cukup pasti terealisasi
Pendapatan dikatakan terealisasi bilamana produk telah terjual atau
ditukarkan dengan kas atau klaim atas kas. Dan dikatakan cukup pasti
terealisasi bilamana aset berkaitan yang diterima atau ditahan mudah
dikonversi menjadi kas atau klaim atas kas yang cukup pasti jumlahnya.
b. Terbentuk atau terhak

7
Pendapatan dikatakan dapat terbentuk bila mana perusahaan telah
melakukan secara substansial kegiatan yang harus dilakukan untuk dapat
menghaki manfaat atau nilai yang melekat pada pendapatan. Walaupun
kedua kriteria harus dipenuhi, bobot pentingnya untuk suatu kegiatan
tertentu dapat berbeda artinya dalam keadaan tertentu penghimpunan
menjadi lebih kritis daripada realisasi dan sebaliknya.
Terbentuknya pendapatan, tidak selalu harus mendahului realisasi
pendapatan, dapat terjadi pendapatan sebelum realisasi terbentuk. Kam (1990)
mengemukakan kriteria pengakuan secara teknis. Pendapatan baru dapat diakui
kalau dipenuhi syarat-syarat berikut:
1. Keterukuran nilai asset (measurability of asset value)
2. Adanya suatu transaksi (existence of a transaction)
3. Proses perhimpunan secara substansial telah selesai
Syarat (1) dan (2) telah dicakupi dalam kriteria dari FASB. Agar dapat
dikatakan terealisasi pendapatan memang harus diukur secara objektif dan hal
tersebut pada umunya dapat dicapai setelah adanya transaksi penjualan atau
kontrak. Syarat (1) berkaitan dengan masalah apakah aliran masuk asset harus
bersifat likuid dan bila pendapatan dalam bentuk piutang apakah ketertagihan
(collectability) cukup pasti sehingga jumlah rupiah pendapatn yang dicatat benar
merefleksi jumalh rupiah yang akhirnya diterima. Dengan demikian pengukkuran
pendapatan sangat andal. Syarat (3) tidak berbeda dengan kriteria b dari FASB.

Saat Pengakuan Pendapatan


Masalah kapan suatu pendapatan dapat diakui berkaitan dengan saat
(timing) pengakuan pendapatan itu sendiri. Ada beberapa gagasan mengenai hal
ini:
a. Pada Saat Kontrak Penjualan
Dapat terjadi ketika perusahaan telah menandatangani kontrak perusahaan
dan bahkan sudah menerima kas untuk seluruh nilai kontrak tetapi
perusahaan belum mulai memproduksi barang. Pendapatan sudah terealisasi
tetapi belum terbentuk karena hanya satu kriteria yang terpenuhi dan tidak
dapat diakui sebagai pendapatan. Sementara itu, pembayaran dimuka harus
diakui sebagai kewajiban sampai barang atau jasa diserahkan kepada

8
pembeli, biasanya dalam jangka waktu kurang dari satu tahun. Pada
umumnya, perlakuan semacam ini berlaku untuk perusahaan yang
memproduksi barang konsumsi dan jarak antara penandatangan kontrak dan
penyerahan barang cukup pendek (kurang dari satu tahun).
b. Selama proses produksi secara bertahap
Biasanya produk yang memerlukan waktu yang cukup lama (misalnya
industri konstruksi bangunan ) diperlakukan sebagai projek dan dilaksankan
atas dasar kontrak sehingga pendapatan terealisasi untuk seluruh periode
kontrak tetapi mungkin belum cukup terbentuk pada akhir tiap periode
akuntansi. Dalam hal ini, pengakuan pendapatan dapat dilakukan secara
bertahap (per periode akuntansi) sejalan dengan kemajuan proses produksi
atau sekaligus pada saat projek selesai dilakukan. Yang pertama disebut
metode persentase penyelesaian, sedangkan yang terakhir disebut metode
kontrak selesai.
Masalah yang yang timbul dari pengakuan selama proses produksi ini
adalah:
 Akresi yaitu pertambahan nilai akibat pertumbuhan fisis atau proses
alamiah lainnya. Per definisi, akresi memenuhi pengertian pendapatan
karena aset jelas telah bertambah dan banyaknya tambahan fisis
tersebut dapat ditentukan secara objektif. Tapi yang terjadi sekarang
adalah pendapatan sudah terbentuk tapi belum terealisasi. Untuk
merealisasikan pertambahan tersebut nilai tersebut, proses produksi
masih diperlukan.
 Apresiasi yaitu selisih “nilai pasar wajar” aset perusahaan dengan kos
(atau nilai buku aset terdepresiasi). Dibandingkan akresi, apresiasi
lebih kurang memenuhi definisi pendapatan karena tidak berkaitan
langsung dengan operasi perusahaan tetapi lebih berkaitan dengan
kondisi pasar.
 Penghematan Kos. Penghematan kos sering dikenal dengan potongan
pembelian. Hal ini bukanlah suatu pendapatan, kalau pembelian
dilakukan dengan cara bijaksana, yang terjadi yang terjadi hanyalah
bahwa kos akan menjadi lebih rendah dibandingkan dengan pembelian
biasa. Memang benar bahwa efisiensi dan keberuntungan dalam
pembelian akan mempunnyai pengaruh terhadap laba yang akhirnya

9
diperoleh. Akan tetapi, diperolehnya laba tersebut masih menunggu
realisasi penjualan.
c. Pada saat produk selesai
Pengakuan pendapatan atas dasar saat produk selesai diproduksi dapat
dianggap layak untuk industri ekstraktif (pertambangan) termasuk pertanian.
Bahan dasar hasil produksi biasanya memiliki harga yang sudah pasti.
Kondisi ini memungkinkan untuk menaksir dengan cukup tepat nilai jual
yang dapat direalisasi suatu sediaan barang jadi pada tanggal tertentu,
sehingga kedua kriteria pengakuan dianggap dapat terpenuhi.
Kalau sudah ada kontrak penjualan sebelumnya, tidak ada masalah dengan
pengakuan pendapatan pada saat produksi selesai karena pendapatan sudah
terealisasi dan pada saat produk selesai pendapatan secara subtansial sudah
terbentuk. Pengakuan ini setara dengan metode kontrak-selesai Namun bila
belum ada kontrak penjualan sebelumnya hanya kriteria terbentuk yang
terpenuhi. Dan hal seperti ini keberatan untuk dikatakan sebagai
pendapatan.

d. Pada saat penjualan


Pengakuan ini merupakan dasar yang paling umum karena pada saat
penjualan kriteria penghimpunan dan realisasi telah terpenuhi. Kriteria
terealisasi telah terpenuhi karena telah ada kesepakatan pihak lain untuk
membayar jumlah rupiah pendapatan secara objektif. Dengan demikian, saat
penjualan merupakan saat yang kritis dalam operasi perusahaan. Transaksi
penjualan mengakibatkan masuknya aset baru ke dalam perusahaan (kas
atau piutang).
Kendati saat penjualan menjadi standar umum pengakuan pendapatan,
terdapat beberapa hal yang sering diajukan sebagai keberatan terhadap dasar
tersebut. Hal pertama yaitu berkaitan dengan kepastian pengukuran
pendapatan akibat kos purna jual dan masalah kedua adalah adanya
kemungkinan retur barang. Akhirnya kemungkinan akan ada piutang tak
tertagih, sehingga piutang tidak dapat dijadikan bukti terealisasinya
pendapatan. Masalah pengakuan saat penjualan:
 Kembalian dan potongan tunai
Adanya hak pengembalian tidak menghalangi pengakuan pendapatan
pada saat penjualan. FASB menyatakan bahwa suatu perusahaan

10
menjual produknya dengan hak mengembalikan maka pendapatan
dapat diakui pada saat penjualana kalau syarat-syarat berikut terpenuhi
(SFAS No. 48 prg.6):
1. Harga jual cukup pasti
2. Pembeli sudah membayar kepada penjual
3. Kewajiban membayar oleh pembeli tidak berubah dalam hal
terjadi penculikan atau kerusakan fisis produk
4. Pembeli benar-benar ada secara substantive
5. Penjual tidak mempunyai kewajiban yang material untuk
melakukan tindakan di masa dating
6. yang secara langsung menjadikan pembeli mampu menjual
produk bersangkutan
7. Jumlah rupiah kembalian dapat ditaksir secara layak.
Adanya potongan tunai tidak menghalangi pengakuan pendapatan
pada saat penjualan. Masalah yang timbul tidak berkaitan dengan
pengakuan pendapatan tetapi berapa jumlah rupiah pendapatan harus
dicatat.
 Kos purna-jual
Masalah yang paling sulit adalah masalah yang bersangkutan dengan
penyesuaian yang diperlukan untuk mengakui pengaruh kegiatan yang
mungkin akan terjadi setelah penjualan dan harus dibebankan terhadap
penjualan tersebut. Prosedur yang umum dilakukan untuk
mengantisipasi kos semacam itu adalah mendebit jumlah rupiah yang
sama ke dalam satu akun cadangan melalui penyesuaian akhir tahun.
 Kerugian piutang
Keberatan lain terhadap dasar penjualan adalah pendapat yang
menyatakan bahwa piutang bukanlah merupakan bukti yang efektif
terhadap realisasi pendapatan. Alasannya, piutang bukan merupakan
sarana yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran sehingga
kurang tepat digunakan sebagai pengukur pendapatan. Masalah
kerugian piutang dapat diatasi dengan perlakuan yang sama seperti
kos purna jual, yaitu dengan membentuk cadangan kerugian piutang.
Dengan demikian pendapatan disajikan dalam statement sejumlah
piutang yang benar-benar dapat direalisasi.
 Transaksi penjualan
Secara umum, penjualan adalah transaksi pertukaran barang atau jasa
hasil produksi perusahaan dengan kas atau klaim atas kas. Secara

11
teknis, transaksi penjualan adalah transaksi pertukaran aset secara
aktual bukan transaksi kontrak itu sendiri. Penjualan dikatakan telah
terjadi secara teknis bila produk (dan risiko yang melekat) telah
ditransfer ke pembeli dan sebagai penghargaan penjual mendapat kas
atau klaim atas kas.
Kontrak penjualan yang belum disertai transfer produk secara teknis
belum dapat dikatakan sebagai transaksi penjualan berapapun
perusahaan telah menerima uang muka. Namun, secara konseptual
kontrak penjualan dapat dipandang sebagai realisasi pendapatan.
Masalah lebih banyak terletak pada kriteria realisasi. Melalui PSAK
No. 23, IAI membuat ketentuan dapat mengakui pendapatan dari
penjualan barang sebagai berikut (Pasal 13 atau 38)24:
 Perusahaan telah memindahkan risiko secara signifikan dan
telah memindahkan manfaat kepemilikan barang kepada
pembeli.
 Perusahaan tidak lagi mengelola atau melakukan pengendalian
efektif atas barang yang dijual.
 Jumlah pendapatan tersebut dapat diukur dengan andal.
 Besar kemungkinan manfaat ekonomi yang dibuhungkan
dengan transaksi akan mengalir ke perusahaan tersebut.
 Biaya yang terjadi atau yang akan terjadi sehubungan dengan
transasksi penjualan dapat diukur dengan andal.
d. Pada saat kas terkumpul
Pengakuan pendapatan pada saat kas terkumpul sebenarnya
merupakan pengakuan pendapatan berdasarkan asas kas.. Pengakuan dasar
kas digunakan untuk transaksi penjualan yang barang atau jasanya telah
diserahkan/dilaksanakan tetapi kasnya baru akan diterima secara berkala
dalam waktu yang cukup panjang.
Alasan digunakannya dasar ini adalah adanya ketidakpastian tentang
ketertagihan piutang. Pendapatan suatu periode diakui secara proporsional
atas dasar kas yang telah diterima dalam periode tersebut. Ini berarti, jumlah
rupiah tagihan sejalan dengan kemajuan pekerjaan. Adapun hal-hal yang

12
harus diperhatikan dalam pengakuan pendapatan pada saat kas terkumpul
adalah:
 Jasa Dikonsumsi Dalam Jangka Pendek
Dalam perusahaan jasa seperti perusahaan angkutan dan bioskop,
transaksi dilakukan dalam waktu yang relatif pendek. Penerimaan kas
hampir bersamaan dan sejalan dengan penyerahan jasa. Ini berarti
bahwa saat penerimaan kas atau penyerahan jasa dapat dijadikan
pengujian untuk dasar pengukuran dan pengakuan pendapatan.
 Jasa Dikonsumsi Dalam Jangka Panjang
Di lain pihak, apabila jasa yang diberikan adalah kompleks dan baru
akan selesai dalam periode yang relatif panjang seperti halnya
penyewaan ruang, maka besar kemungkinan akan terjadi perbedaan
yang mencolok antara jumlah rupiah pendapatan yang diakui dengan
basis akrual dan basis kas.
 Argumen Pendukung
Validitas pengakuan pendapatan secara proporsional dengan
penerimaan kas didasarkan atas tiga pertimbangan yang saling
berkaitan, yaitu:
 Seluruh atau sebagian piutang yang timbul bukan merupakan
aset yang mempunyai daya beli murni (dapat dibelanjakan).
 Makin lama jangka waktu untuk mengangsur makin besar
kemungkinan piutang tidak tertagih.
 Kos purna-jual, terutama kos penagihan dan pengumpulan
piutang, biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan kos purna
jual untuk penjualan kredit (biasa).
 Alasan Penyanggah
Patton dan Litteton (1970) menegaskan bahwa pengakuan pendapatan
dasar kas (untuk perusahaan jasa) kurang dapat didukung dengan
alasan:
 Tagihan (piutang) yang timbul akibat penyerahan jasa pada
dasarnya mempunyai kedudukan yuridis yang sama dengan
piutang yang timbul dari penjualan barang.

13
 Belum tentu kegagalan untuk penerimaan peluanasan piutang
dalam perusahaan jasa lebih besar daripada perusahaan barang
dagang.
 Dalam hal penerimaan pembayaran dimuka, kemungkinan
terjadinya kerugian piutang memang sudah tidak ada lagi tetapi
tidak berarti bahwa pendapatan sudah dapat diakui.
Jadi, pada dasarnya pengakuan pendapatan atas penerimaan kas hanya
berlaku untuk jasa profesi yang mempunyai karakteristik: (1) jasa
bersifat unik dan tidak dapat ditentukan secara jelas dan pasti pada
permulaan pekerjaan, dan (2) jumlah pendapatan total yang harus
ditagih tergantung pada hasil pekerjaan yang bersangkutan.
 Prosedur Akuntansi Dasar Kas
Patton dan Litteton (1970) menggambarkan prosedur akuntansi untuk
mencapai penandingan yang tepat sebagai berikut:
(1) Pada saat kontrak penjualan angsuran dan pengiriman seluruh
barang, perusahaan mencatat Pengiriman Barang-Dasar Kas xxx
Sediaan Barang Dagangan xxx
Jumlah di atas dicatat atas dasar kos. Piutang angsuran dicatat secara
memorial (tidak dijurnal). Pengiriman barang-dasar kas mempunyai
status sebagai aset perusahaan (semacam barang konsinyasi).
(2) Bila perusahaan menerima uang muka atau angsuran, penerimaan
dicatat sebagai Kas xxx
Penjualan-Dasar Kas xxx
Seluruh jumlah rupiah kas yang telah diterima dari penjualan dalam
suatu periode yang tampak dalam saldo akun Penjualan-Dasar Kas
yang merupakan pendapatan yang diakui dan dilaporkan dalam
periode tersebut.
(3) Pada akhir periode harus diperhitungkan kos produk yang dapat
dibebankan secara tepat (sebagai biaya) ke pendapatan dasar kas
tersebut. Jurnal yang harus dibuat pada akhir tahun adalah:
Cost Barang Terjual-Dasar Kas xxx
Pengiriman Barang-Dasar Kas xxx

14
(4) Kalau ternyata ada akhir periode terdapat penjualan yang sudah
diterima kasnya tetapi barang belum dikirim maka cost barang
tersebut harus ditaksir dan ditambahkan ke kos barang terjual dasar
kas. Jurnal yang harus dibuat pada akhir periode adalah:
Cost Barang Terjual-Dasar Kas xxx
Utang Pengiriman Barang-Dasar Kas xxx
Dalam neraca, pos Pengiriman Barang-Dasar Kas akan disajikan
sebagai aset lancar sebesar kosnya dan pos Utang Pengiriman Barang-
Dasar Kas dapat dilaporkan sebagai kewajiban atau dikontrakan
dengan pos Pengiriman Barang-Dasar Kas.
 Biaya Administrasi dan Penjualan
Pada umumnya cost administrasi dan penjualan bukan merupakan cost
yang dapat diperlakukan seperti cost sediaan yaitu tersediakan. Cost
tersebut harus segera dibebankan ke pendapatan sebagai biaya
periode. Dalam hal inilah pengakuan pendapatan atas dasar kas
menunjukkan kelemahannya. Sementara cost produk dapat
diperhitungkan secara cukup teliti untuk ditandingkan dengan
pendapatan dasar kas, biaya administrasi dan umum sangat sulit untuk
dikaitkan dengan pendapatan tersebut.

C. Saat Pengakuan Penjualan Jasa


Pengakuan pendapatan dari penjualan jasa secara umum mengikuti
pemikiran yang melandasi pengakuan pendapatan untuk penjualan barang.
Masalah teoritis yang dihadapi lebih banyak menyangkut kriteria realisasi
daripada pembentukan pendapatan. Yang sering sulit ditentukan adalah mengenali
kejadian atau kegiatan yang menandai bahwa penyerahan jasa telah terjadi dan
selesai.
AICPA memberikan kaidah pengakuan umum untuk penjualan jasa sebagai
berikut:
 Kalau pemberian jasa terdiri atas pelaksanaan satu pekerjaan atau tindakan,
pendapatan harus diakui pada saat pekerjaan tersebut telah dilakukan.

15
 Kalau pemberian jasa terdiri atas pelaksanaan serangkain pekerjaan atau
tindakan secara bertahap, pendapatan harus diakui selama periode
pelaksanaan pekerjaan secara proporsional.
 Kalau pemberian jasa terdiri atas pelaksanaan serangkaian pekerjaan atau
tindakan secara bertahap, pendapatan dapat diakui pada saat seluruh
pekerjaan telah selesai dilaksanakan bila kondisi berikut terpenuhi:
1. Proporsi jasa yang dilaksanakan pada tahap akhir pekerjaan begitu
kritisnya sehingga seluruh pekerjaan tidak dapat dikatakan selesai
sebelum tahap akhir dilaksanakan.
2. Jasa harus diberikan dalam beberapa tahap yang tidak dapat ditetukan
di muka selama waktu yang tidak pasti dan tidak ada cara yang cukup
layak untuk menentukan tingkat penyelesaian pekerjaan.
 Terdapat tingkat ketidak pastian yang tinggi berkenaan dengan ketertagihan
atau kolektabilitas pendapatan jasa, pendapatan baru diakui setelah kas
terkumpul.

Dalam PSAK No. 23, IAI menetapkan bahwa pengakuan pendapatan atas
dasar kemajuan pelaksanaan merupkan ketentuan utama sedangkan kaidah lain
merupakan pengecualian dari kaidah ini. IAI mengeksplisitkan asumsi atau
kondisi yang melandasi keterterapan pengakuan atas dasar kemajuan pelaksanaan
yaitu:
1. Jumlah pendapatan dapat diukur dengan andal.
2. Besar kemungkinan manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut
akan diperoleh perusahaan.
3. Tingkat penyelesaian dari suatu transaksi pada tanggal neraca dapat diukur
dengan andal.
4. Biaya yang terjadi untuk transaksi tersebut dan biaya untuk menyelesaikan
transaksi tersebut dapat diukur dengan andal.

D. Pedoman Umum Pengakuan Pendapatan


FASB meringkas pedomam umum dalam SFAC No. 5 paragraf 84 sebagai
berikut:

16
1. Kriteria terbentuk dan terealisasi biasanya dipenuhi pada saat produk
diserahkan kepada konsumen.
2. Kalau kontrak penjualan atau penerimaan kas mendahului produksi atau
pengiriman barang, pendapatan dapat diakui pada saat terhak dan
pengiriman.
3. Kalau produk dikontrak sebelum diproduksi, pendapatan dapat diakui secara
bertahap dengan metode persentase penyelesaian pada saat sudah terbentuk
asalkan dapat diukur secara andal.
4. Kalau jasa diberikan atau hak untuk menggunakan aset berlangsung secara
terus-menerus selama suatu periode dengan kontrak harga yang pasti,
pendapatan dapat diakui bersamaan dengan berjalannya waktu.
5. Kalau produk atau aset lain dapat segera terealisasi karena dapat dijual
dengan harga yang cukup pasti tanpa biaya tambahan berarti, pendapatan
dan untung rugi dapat diakui pada saat selesainya produksi atau pada saat
harga aset tersebut berubah.
6. Kalau produk, jasa atau aset lain ditukarkan dengan aset non moneter yang
tidak segera dapat dikonversi menjadi kas, pendapatan atau untung rugi
dapat diakui pada saat telah terhak atau transaksi telah selesai asalkan nilai
wajar aset non moneter yang dapat ditentukan dengan layak.
7. Kalau ketertagihan aset yang diterima untuk produk, jasa, atau aset lain
meragukan, pendapatan dapat diakui atas dasar kas yang terkumpul.

E. Prosedur Pengakuan
Kebijakan akuntansi perusahaan harus menetapkan kejadian atau kegiatan
internal apa yang dapat digunakan sebagai pemicu pencatatan ke dalam sistem
akuntansi.
Kegiatan Internal Sebagai Pemicu dan Bukti Pengakuan Pendapatan
Kaidah Kegiatan Internal yang Kegiatan Pemicu dan Bukti
Pengakuan Terlibat Pengakuan
Pada saat Penandatanganan kontrak, Pendapatan belum diakui. Surat
kontrak penerimaan uang muka kontrak dan penerimaan bukti
penjualan setor bank sebagai dasar
pencatatan uang muka

17
Selama Penggunaan BB, TKL, dan Penyiapan dan pengiriman surat
proses Overhead. penagihan.
produksi Pembayaran biaya Adm. Penyesuaian akhir tahun atas
secara Penagihan. dasar catatan akumulasi kos.
bertahap Penyesuaian akhir tahun.
Pada saat Pemindahan barang jadi dari Belum ada kontrak : (1)
proses pabrik ke gudang. penyerahan barang ke gudang
produksi Penyesuaian akhir tahun disertai nota penerimaan, atau (2)
selesai penyesuaian akhir tahun.
Sudah ada kontrak: Penyerahan
barang ke bagian gudang disertai
nota penerimaan dan surat kontrak
atau order pembelian
Pada saat Penerimaan order Pengiriman barang disertai
penjualan pembelian. Penerimaan uang pengiriman faktur sesuai syarat.
muka. Pengiriman barang. Penerimaan nota terima barang
Pengiriman faktur didukung faktur dan order
penjualan. Penerimaan nota pembelian/penjualan
terima barang dari pembeli
Pada saat Pengiriman surat tagihan Penerimaan kas didukung nota
kas angsuran. pembayaran atau bukti transfer.
terkumpul Penerimaan kas atau alat Penyesuaian akhir tahun atas
pembayaran lain. dasar catatan kas yang terkumpul
Penyesuaian akhir tahun sampai akhir periode

F. Penyajian
Masalah penyajian berkaitan dengan penyajian pendapatan adalah
memisahkan antara pendapatan dan untung dan pemisahan berbagai sifat untung
menjadi pos biasa dan luar biasa dan cara menuangkannya dalam statemetnt laba
rugi.

18
BAB III
KESIMPULAN

Berbagai karakteristik pada pengertian pendapatan. Berbagai sumber memaknai


pendapatan yang kurang lebih sama walaupun terdapat variasi. Dalam Standar
Akuntansi Keuangan (2002), IAI mengadopsi definisi pendapatan dari IASC yang
menempatkan pendapatan (revenue) sebagai unsur penghasilan (income) sebagai
berikut, income is increases in economic benefits during the accounting periode in the
form of inflows enhacements of assets or decreases of liabilities that result in increases
in equity, other than those relating to equity participants.
Pengakuan adalah pencatatan jumlah rupiah secara resmi ke dalam sistem
akuntansi sehingga jumlah tersebut terefleksi dalam statemen keuangan. Pendapatan
sebagai produk perusahaan tidak mengisyaratkan berapa jumlahnya dan kapan harus
dicatat tetapi lebih mengisyaratkan bahwa pendapatan memang ada atau terwujud,
definisi tersebut lebih difokuskan pada eksistensi pendapatan. Secara konseptual
pendapatan hanya dapat diakui kalau memenuhi kualitas keterukuran (measurability),
dan keterandalan (reliability).
Masalah penyajian berkaitan dengan penyajian pendapatan adalah memisahkan
antara pendapatan dan untung dan pemisahan berbagai sifat untung menjadi pos biasa
dan luar biasa dan cara menuangkannya dalam statemetnt laba rugi.

19
DAFTAR PUSTAKA

Suwardjono. 2014. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan Edisi Ketiga.


Yogyakarta, BPFE Yogyakarta.

20

Anda mungkin juga menyukai