Anda di halaman 1dari 26

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Apendisitis adalah penyebab radang umbai cacimg (suatu kantong
tersembunyi uang terletak dekat katup ileucecal dikanan bawah abdomen )
dikenal sebagai usus buntu. Mungkin saja terkait dengan sumbatan dari feses.
Mucosalining dari usus bunt uterus mengeluarkan cairan menyebabkan
naiknya tekanan didalam lumen appendix, menyababkan pembatasan suplai
darah ke usus buntu. Turunnya suplai darah dapat mengakibatkan ganggren
atau perforasi jika tekanan terus berlanjut. Rasa sakit hanya berada dititik
McBurnys, berada ditengah antara umbilicus dan iliac crest kanan depan.
Sakit usu buntu dapat terjadi pada umur berapapun, tetapi kejadian puncak
adalah dari remaja sampai 30tahun. Prognosis ‘’pecahan usus bentu lebih
mungkin terjadi didalam sakit usus buntu akut pada 36 sampai 48 jam
pertama. Gejala radang selaput perut (radang peritoneum/selaput yang
melapisi rongga abdominal ) dapat terjadi sebagai komplikasi usus buntu.
Hasil diagnosis dan intervensi pembedahan diperlukan untuk menghindari
pecahan usus buntu.
Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis dan
merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit inidapat
mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering
menyerang laki-laki berusia 10-30 tahun (Mansjoer, 2010). Apendisitis adalah
penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran kanan bawah rongga
abdomen dan penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat
(Smeltzer, 2005). Apendisitis adalah peradangan apendiks yang mengenai
semua lapisan dinding organ tersebut (Price, 2005). Apendisitis biasanya
disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia folikel
limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan
sebelumnya atau neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang
diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin
banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga
menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat
tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema,
diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendistis
akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium (Price, 2005). Bila sekresi
mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat, hal tersebut akan
menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus

1
dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat
sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah, keadaan ini disebut
dengan apendisitis supuratif akut. Bila kemudian aliran arteri terganggu akan
terjadi infark dinding.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa Definisi penyakit Apendisitis?
2. Apa Penyebab penyakit Apendisitis?
3. Apa Klasifikasi penyakit apendisitis?
4. Bagaimana Patofisologi penyakit apendisitis?
5. Apa saja Manifestasi klinis penyakit apendisitis?
6. Apa saja Komplikasi penyakit apendisitis?
7. Apa saja pemeriksaan Penunjang penyakit apendisitis?
8. Apa Penatalaksanaan penyakit apendisitis?
9. Apa saja Konsep Asuhan keperawatan penyakit apendisitis?
1.3 Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui Definisi penyakit Apendisitis
2. Untuk mengetahui Penyebab penyakit Apendisitis
3. Untuk mengetahui Klasifikasi penyakit apendisitis
4. Untuk mengetahui Patofisologi penyakit apendisitis
5. Untuk mengetaahui Manifestasi klinis penyakit apendisitis
6. Untuk mengetahui Komplikasi penyakit apendisitis
7. Untuk mengetahui pemeriksaan Penunjang penyakit apendisitis
8. Untuk mengetahui penatalaksanaan penyakit apendisitis
9. Untuk mengetahui Konsep Asuhan keperawatan penyakit apendisitis
1.4 Manfaat

Berdasarkan tujuan penulisan di atas penulis dapat menyimpulkan manfaat


sebagai berikut :

1. Bagi penulis dapat meningkatkan keterampilan dalam menyelesaikan


makalah mengenai tentang keperawatan dan mampu berfikir logis.
2. Bagi pembaca dapat mengetahui dan memahami mengenai konsep asuhan
keperawatan pada penyakit apendisitis.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Definisi
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau
umbai cacing (apendiks). Usus buntu adalah sebenarnya sekum (cecum).
Infeksi ini bisa mengakibatkan peradangan akut sehingga memerukan
tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya.
(Nanda, 2015)
Apendiks adalah ogan tambahan kecil yang menyerupai jari, melekat
pada sekum tepat di bawah katub ileosekal. Karena apendiks mengosongkan
diri dengan tidak efesien, dan lumenya kecil, karena apendiks mudah
mengalami obstruksi dan retan terhadap infeksi (apendisitis). Apendisitis
merupakan penyebab yang paling umum dari inflamasi akut kuadran kanan
bawah rongga abdomen dan penyebab yang paling umum dari pembedahan
abdomen darurat. (Baughman, D. C., dan JoAnn C. H. 1996)
Apendisitis adalah peradangan pada apendiks (umbai cacing) akibat
infeksi oleh bakteri. Apabila sisa makanan masuk ke dalam apendiks,
makanan tersebut akan busuk dan sulit dikeluarkan. Akibatnya, apendiks
akan mengalami peradangan. (Firmansyah, Rikki dkk, 2009)

2.2 Etiologi

Apendisitis dapat disebabkan karena fekalith (batu feses) yang


mengoklusi lumen apendiks, apendiks yang terpuntir, pembengkakan dinding
usus, kondisi fibrosa di dinding usus, okulusi eksternal usus akibat adesi,
Infeksi organisme yersinia telah ditemukan pada kasus 30% kasus. (Black, J.
M., dan Hawks, J. H. 2009.)

Menurut klasifikasi apendisitis akut merupakan infeksi yang


disebabkan oleh bakteri dan faktor pencetusnya disebabkan oleh sumbatan
lumen apendiks. Selain itu fekalith (tinja/batu), tumor apendiks, biji-bijian dan
cacing askaris yang dapat menyebabkan sumbatan dan juga erosi mukosa
apendiks karena parasit. Sedangkan apendisitis kronis memiliki semua gejala
riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari dua minggu, radang kronik
apendiks secara makroskopi dan mikroskopi (fibrosis menyeluruh di dinding
apendiks sumbatan persial atau lumen apendiks adanya jaringan parut dan

3
ulkus lama dimukosa dan infiltasi sel infalmasi kronik), dan keluhan
menghilang setelah pembedahan apendiktomi.

2.3 Klasifikasi
Klasifikasi apendisitis terbagi menjadi dua yaitu, apendisitis akut dan
apendisitis kronik (Sjamsuhidajat, De Jong, 2004).
a. Apendisitis akut
Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh
radang mendadak pada apendiks yang memberikan tanda setempat, disertai
maupun tidak disertai rangsang peritonieum lokal. Gejala apendisitis akut
ialah nyeri samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral didaerah
epigastrium disekitar umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual, muntah
dan umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan
berpindah ke titik Mc.Burney. Nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas
letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Apendisitis akut
dibagi menjadi :
b. Apendisitis Akut Sederhana
Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mukosa disebabkan
obstruksi. Sekresi mukosa menumpuk dalam lumen appendiks dan terjadi
peningkatan tekanan dalam lumen yang mengganggu aliran limfe, mukosa
appendiks menebal, edema, dan kemerahan. Gejala diawali dengan rasa
nyeri di daerah umbilikus, mual, muntah, anoreksia, malaise dan demam
ringan (Rukmono, 2011).
c. Apendisitis Akut Purulenta (Supurative Appendicitis)
Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema menyebabkan
terbendungnya aliran vena pada dinding apendiks dan menimbulkan
trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan edema pada apendiks.
Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke dalam dinding
apendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa menjadi suram
karena dilapisi eksudat dan fibrin. Apendiks dan mesoappendiks terjadi
edema, hiperemia, dan di dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen.
Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan, nyeri
lepas di titik Mc. Burney, defans muskuler dan nyeri pada gerak aktif dan
pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertai
dengan tanda-tanda peritonitis umum (Rukmono, 2011).
d. Apendisitis Akut Gangrenosa

4
Bila tekanan dalam lumen terus bertambah, aliran darah arteri mulai
terganggu sehingga terjadi infark dan gangren. Selain didapatkan tanda-
tanda supuratif, apendiks mengalami gangren pada bagian tertentu. Dinding
apendiks berwarna ungu, hijau keabuan atau merah kehitaman. Pada
apendisitis akut gangrenosa terdapat mikroperforasi dan kenaikan cairan
peritoneal yang purulen (Rukmono, 2011).
e. Apendisitis Infiltrat
Apendisitis infiltrat adalah proses radang apendiks yang penyebarannya
dapat dibatasi oleh omentum, usus halus, sekum, kolon dan peritoneum
sehingga membentuk gumpalan massa flegmon yang melekat erat satu
dengan yang lainnya (Rukmono, 2011).
f. Apendisitis Abses
Apendisitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah
(pus), biasanya di fossa iliaka kanan, lateral dari sekum, retrosekal,
subsekal dan pelvikal(Rukmono, 2011).
g. Apendisitis Perforasi
Apendisitis perforasi adalah pecahnya apendiks yang sudah gangren yang
menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi peritonitis
umum. Pada dinding apendiks tampak daerah perforasi dikelilingi oleh
jaringan nekrotik (Rukmono, 2011).
h. Apendisitis kronik
Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika ditemukan adanya
riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang kronik
apendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Kriteria mikroskopik
apendisitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan
parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama di
mukosa dan adanya sel inflamasi kronik. Insiden apendisitis kronik antara
1-5%. Apendisitis kronik kadang-kadang dapat menjadi akut lagi dan
disebut apendisitis kronik dengan eksaserbasi akut yang tampak jelas sudah
adanya pembentukan jaringan ikat (Rukmono, 2011).

2.4 Patofisiologi
Fekalith, bakteri, cacing ascaris, produksi lendir berlebih, dan tumor
merupakan beberapa etiologi dari apendisitis. Semua faktor tersebut
menyebabkan adanya obstruksi pada lumen apendiks. Faktor predisposisi
yaitu, adanya benda asing (biji –bijian, konstipasi, diare).

5
Obstruksi tersebut menyebabkan terjadinya inflamasi, distensi dan
dilatasi pada dinding apendiks, tekanan intraluminal meningkat. Tekanan
intraluminal yang meningkat menimbulkan aliran cairan limfe dan darah
terhambat dan tekanan intraluminal meningkat, bisa mengakibatkan
munculnya rasa mual dan ingin muntah. Kemudian berlanjut nafsu makan
berkurang dan menyebabkan anorexia, akibatnya ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari tubuh. Stimulasi kemudian dihantarkan ke spinal cord ke cortex
cerebri dan di sampaikan ke nosiseptor. Nyeri akan dipersepsikan.
Bakteri masuk dan jika bakteri berkembang semakin banyak dan
merusak mukosa apendiks (menginfeksi) maka akan mengakibatkan
terjadinya apendisitis supuratif akut (ditandai adanya abses yang banyak
berwarna kuning). Apabila kerusakan vaskular yang cepat mengakibatkan
terjadinya ruptur, perforasi (apendisitis perforasi) maka bakteri akan tersebar
secara meluas ke seluruh area abdomen sehingga dapat menyebabkan
peritonitis maka tindakan pembedahannya adalah laparaskopi. Anastesi yang
sering digunakan adalah meperidin, morfin. Juga mengakibatkan cemas,
gangguan pola tidur, dan intoleransi aktivitas (Pre-operasi) dan nyeri, luka
insisi, serta intoleransi Aktivitas (Post-operasi). Pembedahan pasien dengan
apendisitis adalah apendektomi. Anastesi yang sering digunakan adalah
anastesi umum yaitu pethidin, diazepam.

6
 Phatway

7
2.5 Manifestasi Klinis
Tanda-tanda umum untuk apendisitis yang diakui antara lain:
1. Nyeri kuadran kanan bawah
2. Demam ringan
3. Mual dan muntah
4. Anoreksia
5. Malaise
6. Nyeri tekan lokal pada titik Mc. Burney
7. Spasme otot
8. Konstipasi dan diare (Brunner & Suddart, 1997).
Selain itu, tanda dan gejala yang dialami dipengaruhi juga dengan
usia, gejala yang timbul pada anak-anak dan dewasa serta usia lanjut akan
berbeda.
A. Pada anak-anak
Gejala awalnya sering hanya menangis dan tidak mau makan.
Seringkali anak tidak bisa menjelaskan rasa nyerinya, beberapa jam
kemudian akan terjadi muntah- muntah dan anak menjadi lemah.
Ketidakjelasan gejala ini, seringkali apendisitis diketahui setelah
perforasi. Begitupun pada bayi, 80-90 % apendisitis baru diketahui
setelah terjadi perforasi.
B. Pada orang tua berusia lanjut
Gejala sering samar-samar saja dan tidak khas, sehingga lebih dari
separuh penderita baru dapat didiagnosis setelah terjadi perforasi.
2.6 Komplikasi
Komplikasi yang paling sering adalah perforasi apendisitis. Perforasi
usus buntu dapat mengakibatkan periappendiceal abses (pengumpulan nanah
yang terinfeksi) atau peritonitis difus (infeksi selaput perut dan panggul).
Alasan utama untuk perforasi appendiceal adalah keterlambatan dalam
diagnosis dan perawatan. Secara umum, semakin lama waktu tunda antara
diagnosis dan operasi, semakin besar kemungkinan perforasi. Risiko perforasi
36 jam setelah onset gejala setidaknya 15%. Oleh karena itu, setelah
didiagnosa radang usus buntu, operasi harus dilakukan tanpa menunda-nunda.
Komplikasi jarang terjadi pada apendisitis adalah penyumbatan usus.
Penyumbatan terjadi ketika peradangan usus buntu sekitarnya
menyebabkan otot usus untuk berhenti bekerja, dan ini mencegah isi usus
yang lewat. Jika penyumbatan usus di atas mulai mengisi dengan cairan dan
gas, distensi perut, mual dan muntah dapat terjadi. Kemudian mungkin perlu

8
untuk mengeluarkan isi usus melalui pipa melewati hidung dan kerongkongan
dan ke dalam perut dan usus. Sebuah komplikasi apendisitis yang lebih
ditakuti adalah sepsis, suatu kondisi dimana bakteri menginfeksi masuk ke
darah dan perjalanan ke bagian tubuh lainnya. Kebanyakan komplikasi setelah
apendektomi adalah: infeksi luka, abses residual, sumbatan usus akut, ileus
paralitik, dan fistula tinja eksternal (Hugh A.F. Dudley, 1992).

2.7 Pemeriksaan Penunjang


a. Pemeriksaan fisik
 Inspeksi: akan tampak adanya pembekakan (swelling) rongga perut
dimana dinding perut tampak mengencang (distensi).
 Palpasi: didaerah perut kanan bawah (pada tittik Mc Burney) bila ditekan
akan terasa nyeri dan bila tekanan di lepas juga akan terasa nyeri
(blumberg sign) yang mana merupakan kunci dari diagnosis apendisitis
akut

.
Gambar 5: Blumberg sign
 Dengan tindakan tungkai kanan dan paha ditekuk kuat/ tungkai
diangkat tingg-tinggi, maka rasa nyeri diperut semakin parah (psoas
sign).

Gambar 6: PSOA’S sign

9
 Kecurigaan adanya peradangan usus buntu semakin bertambah bila
pemeriksaan dubur dan vagina menimbulkan rasa nyeri juga.
 Suhu dubur (rectal) yang lebih tinggi dari suhu ketiak (axilla), lebih
menunjang lagi adanya radang usus buntu.
 Pada apendiks terletak pada retro sekal maka uji psoas akan positif dan
tanda perangsangan peritonium tidak begitu jelas, sedangkan bila
apendiks terletak di rongga pelvis maka obturator sign akan positif dan
tanda peransangan peritonium akan lebih menonjol.

Gambar 7: Obturator sign


b. Pemeriksaan laboratorium
Peningkatan sel darah putih (leukosit) hingga sekitar 10.000-18.000/mm3. Jika
terjadi peningkatan lebih dari itu, maka kemungkinan apendiks sudah
mengalami perforasi (pecah).
c. Pemeriksaan radiologi
a. Foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit.
b. Ultrasonografi (USG)
Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan USG,
terutama pada wanita, juga bila dicurigai adanya abses. Dengan USG dapat
dipakai untuk menyingkirkan diagnosis banding seperti kehamilan ektopik,
adnecitis dan sebagainya.
c. CT scan
Dapat menunjukkan tanda-tanda dari appendicitis. Selain itu juga dapat
menunjukkan komplikasi dari appendicitis seperti bila terjadi abses.
d. Kasus kronik dapat dilakukan rontgen foto abdomen, USG abdomen,
apendikogram. (Nanda, 2015)

10
Gambar 8. Pemeriksaan dengan CT scan

2.9 Penatalaksanaa Apendisitis

1. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita appendicitis meliputi
penanggulangan konservatif dan operasi.
a. Penanggulangan konservatif
Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang
tidak mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa pemberian
antibiotik. Pemberian antibiotik berguna untuk mencegah infeksi. Pada
penderita appendicitis perforasi, sebelum operasi dilakukan
penggantian cairan dan elektrolit, serta pemberian antibiotik sistemik.
Antibiotik yang biasanya diberikan adalah ampisilin, gentamisin,
metronidazol, atau klindomisin.
Berikut perawatan yang dilakukan setelah operasi :
Perlu dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui
terjadinya perdarahan didalam, syok, hipertermia, atau gangguan
pernafasan. Angkat sonde lambing bila pasien telah sadar, sehingga
aspirasi cairan lambung dapat dicegah. Baringkan pasien dalam posisi
Fowler. Pasien dapat dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi
gangguan. Selama itu pasien dipuasakan. Bila tindakan operasi lebih
besar, misalnya pada perforasi atau peritonitis umum, puasa diteruskan
sampai fungsi usus kembali normal. Satu hari pasca operasi pasien
dianjurkan untuk duduk tegak ditempat tidur selama 2 x 30 menit.
Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk diluar kamar. Hari
ketujuh jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.
1) Operasi

11
Terdapat 2 tindakan operasi dalam penanganan apendisitis, antara lain:
a. Apendiktomi
Bila diagnosa sudah tepat dan jelas ditemukan appendicitis maka
tindakan yang dilakukan adalah operasi membuang apendiks
(apendektomi). Pasien biasanya telah dipersiapkan dengan puasa
antara 4 sampai 6 jam sebelum operasi dan dilakukan pemasangan
cairan infus agar tidak terjadi dehidrasi. Antibiotik dan cairan
intravena diberikan sampai pembedahan dilakukan. Analgesik
dapat diberikan setelah diagnosa ditegakkan. Pembiusan akan
dilakukan oleh dokter ahli anastesi dengan pembiusan umum atau
spinal/lumbal. Apendiktomi (pembedahan untuk mengangkat
apendiks) dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko
perforasi. Pada umumnya, tehnik konvensional operasi
pengangkatan usus buntu dengan cara irisan pada kulit perut kanan
bawah di atas daerah apendiks (Sanyoto, 2007).
Bila diagnosis klinis sudah jelas maka tindakan paling tepat adalah
apendiktomi dan merupakan satu-satunya pilihan yang baik.
Penundaan tindak bedah sambil pemberian antibiotik dapat
mengakibatkan abses atau perforasi. Apendiktomi bisa dilakukan
secara terbuka atau pun dengan cara laporoskopi. Pada apendisitis
tanpa komplikasi biasanya tidak perlu diberikan antibiotik, kecuali
pada apendisitis gangrenosa atau apendisitis perforata
(Syamsuhidajat, 1997).

Insisi Grid Iron (McBurney


Incision)11
Insisi Gridiron pada titik McBurney.
Garis insisi parallel dengan otot
oblikus eksternal, melewati titik
McBurney yaitu 1/3 lateral garis yang
menghubungkan spina liaka anterior
superior kanan dan umbilikus.

Lanz transverse incision12


Insisi dilakukan pada 2 cm di bawah
pusat, insisi transversal pada garis
miklavikula-midinguinal. Mempunyai
keuntungan kosmetik yang lebih baik

12
dari pada insisi grid iron.

Rutherford Morisson’s incision (insisi


suprainguinal)13
Merupakan insisi perluasan dari insisi
McBurney. Dilakukan jika apendiks
terletak di parasekal atau retrosekal
dan terfiksir.

Low Midline Incision13


Dilakukan jika apendisitis sudah
terjadi perforasi dan terjadi peritonitis
umum.

Insisi paramedian kanan bawah13


Insisi vertikal paralel dengan midline,
2,5 cm di bawah umbilikus sampai di
atas pubis.

b. Laparoskopi
Laparaskopi adalah teknik bedah dengan akses minimal. Artinya,
pembedahan tidak dengan membuka dada atau perut, melainkan
dilakukan lewat dua atau tiga lubang berdiameter masing-masing
2-10 milimeter. Satu lubang untuk memasukan kamera mini (endo
camera) yang memindahkan gambaran bagian dalam tubuh ke
layar monitor, sedangkan dua lubang lain menjadi jalan masuk
peralatan bedah. Karena luka yang ditimbulkan minimal,

pemulihannya pun lebih cepat, mengurangi nyeri dan pasca operasi


dan rawat inap lebih singkat. (Harmanto, Ning. 2006)

13
c. Apendisitis pada kehamilan
Dugaaan adanya apendisitis merupakan salah satu indikasi
tersering dilakukanya eksplorasi pembedahan abdomen pada
wanita hamil. Sebuah studi yang melibatkan 700.000 wanita
melaporkan bahwa sekitar 1 dari 1000 menjalani apendektomi
sewaktu hamil, dengan apendisitis dipastikan pada 65% (1 dari
1500 kehamilan).
Kehamilan sering menyebabkan diagnosis apendisitis lebih sulit
karena anoreksia, mual, dan muntah yang menyertai kehamilan
normal juga merupakan gejala umum pada apendisitis; seiring
dengan membesarnya uterus, apendiks sering bergerak ke atas dan
keluar menuju pinggang sehingga nyeri dan tekan di kuadaran
kanan bawah mungkin tidak mencolok, sewaktu kehamilan normal
biasanya sedikit banyak terjadi leukosit; selama kehamilan
khususnya, penyakit lain dapat menyerupai apendisitis, misalnya,
pielonefritis, kolik ginjal, solusio plasenta, dan degenerasi mioma
uterus; dan wanita hamil terutama pada usia gestasi lanjut (ukuran
lama waktu seorang janin berada dalam rahim), sering tidak
memperlihatkan gejala yang dianggap “khas” untuk pasien tidak
hamil dengan apendisitis. Oleh karena itu, tidak mengherankan
bahwa lebih dari separuh wanita hamil dengan apendisitis
mengalami perforasi.
Pada paruh pertama kehamilan, laparoskopi untuk pasien yang
diduga menderita apendisitis merupakan tindakan yang dapat
diterima. Beberapa orang mempertanyakan keamanaaan terjadinya
pneumoperitoneum dengan karbondioksida yang dapat
menyebabkan asidosis janin dan menggangu fungsi kardiovaskular
janin. Dalam sebuah studi skala besar ditemukan bahwa hasil akhir
perinatal pada wanita yang menjalani tindakan laparoskopi
sebelum gestasi 20 minggu tidak berbeda dari mereka yang
ditangani dengan laparotomi.
Pasien diberi antimikroba intravena, misalnya sefalosporin atau
penisilin. Kecuali jika terjadi gangren, perforasi, atau flegmon
periapendiks, terapi antimikroba dapat dihentikan setelah
pembedahan. Jika tidak terjadi peritonitis, progonsis pasien baik.
Sesar jarang diindikasikan saat dilakukan apendektomi. Pada
peritonitis sering terjadi kontraksi uterus dan kami tidak

14
menyarankan obat tokolitik, meskipun sebagai penulis
menganjurkannya. Dilaporkan bahwa pada apendisitis peripartum,
peningkatan pemberian cairan intravena dan pemakaian tokolitik
meningkatkan risiko cidera paru.
Apendisitis yang tidak terdiagnosis sering memicu persalinan.
Uterus yang berukuran besar sering membantu menahan infeksi
secara lokal, tetapi setelah persalinan ketika uterus dengan cepat
mengecil, infeksi yang selama ini tertahan menjadi pecah disertai
perembesan pus bebas ke dalam rongga peritonium. Pada kasus ini,
dalam bebrapa jam pascapartum terjadi keadaan abdomen akut.
Farmakologi apendisitis
1. Antibiotik
a. Definisi Antibiotik
Antibiotika adalah suatu jenis obat yang dihasilkan oleh mikroorganisme
yang dapat menghambat pertumbuhan atau dapat membunuh
mikroorganisme lain (Anief, 1996). Antibiotik merupakan obat yang
sangat penting dan dipakai untuk memberantas berbagai penyakit infeksi.
Pemakaian antibiotik ini harus di bawah pengawasan dokter, karena obat
ini dapat menimbulkan efek yang tidak dikehendaki dan dapat
mendatangkan kerugian yang cukup besar bila pemakaiannya tidak
dikontrol dengan baik (Widjajanti, 2002).Penentuan kuman penyebab
tergantung pada kombinasi gejala-gejala klinisdan hasil laboratorium.
Seringkali antibiotik dipilih berdasarkan diagnosis klinissaja (terapi
empiris) (Juwono dan Prayitno, 2003).

b. Penggunaan Antibiotik

Berdasarkan tujuan pengunaannya, antibiotik dibedakan menjadi


antibiotic terapi dan antibiotik profilaksis. Antibiotik profilaksis adalah
anibiotik yang diberikan pada jaringan atau cairan tubuh yang terinfeksi,
namun diduga kuatakan terkena infeksi. Antibiotik profilaksis
diindikasikan ketika besar kemungkinan terjadi infeksi, atau terjadinya
infeksi kecil yang berakibat fatal. Penggunaan antibiotik profilaksis
dibedakan menjadi antibiotik profilaksis bedah dan non bedah (Agustina,
2001)

15
c. Penggunaan Antibiotik secara Rasional

Antibiotik hanya bekerja untuk mengobati penyakit infeksi yang


disebabkan oleh bakteri. Antibiotik tidak bermanfaat mengobati penyakit
yang diakibatkan oleh virus atau nonbakteri lainnya. Penggunaan antibiotik
secara rasional diartikan sebagai pemberian antibiotik yang tepat indikasi,
tepat penderita, tepat obat, tepatdosis dan waspada terhadap efek samping
obat yang dalam arti konkritnya adalah(Kimin, 2011) :

1. Pemberian resep yang tepat atau sesuai indikasi


2. Penggunaan dosis yang tepat
3. Lama pemberian obat yang tepat
4. Interval pemberian obat yang tepat
5. Aman pada pemberiannya
6. Terjangkau oleh penderita

Untuk meningkatkan penggunaan antibiotik yang rasional, penggunaan


antibiotik pada unit pelayanan kesehatan selain harus disesuaikan
denganpedoman pengobatan juga sangat dipengaruh oleh pengelolaan obat
(Depkes RI,2008). Penggunaan antibiotik juga disesuaikan dengan
Formularium Rumah Sakit yaitu daftar obat yang disepakati beserta
informasinya yang harus ditetapkan dirumah sakit. Formularium Rumah Sakit
disusun oleh tim khusus dan disempurnakan dengan mempertimbangkan obat
lain yang terbukti secara ilmiah dibutuhkan di rumah sakit tersebut.

d. Resistensi

Dampak negatif terburuk akibat penggunaan antibiotik yang kurang rasional


adalah munculnya masalah resistensi terutama resistensi kuman terhadap
banyak obat (multidrug-resistance). Hal ini mengakibatkan pengobatan
menjadi tidak efektif, peningkatan morbiditas maupun mortalitas pasien dan
meningkatnya biaya perawatan kesehatan (Directorate General of Medical
Care, 2005).

Faktor-faktor yang memudahkan berkembangnya resistensi di klinik adalah


sebagai berikut (Staf Pengajar Bagian Farmakologi, 2005) :

1) Penggunaan antibiotik yang sering

2) Penggunaan antibiotik yang irasional

16
3) Penggunaan antibiotik baru yang berlebihan

4) Penggunaan antibiotik untuk waktu yang lama

e. Penggolongan Antibiotik

Antibiotik dapat digolongkan sebagai berikut :

1) Antibiotika golongan aminoglikosida, bekerja dengan menghambat sintesis

protein dari bakteri, sehingga kuman musnah atau tidak berkembang lagi.

2) Antibiotik golongan sefalosforin, bekerja dengan menghambat sintesis


peptidoglikan serta mengaktifkan enzim autolisis pada dinding sel bakteri.

3) Antibiotika golongan klorampenikol, bekerja dengan menghambat sintesis

protein dari bakteri.

4) Antibiotika golongan makrolida, bekerja dengan menghambat sintesis


protein dari bakteri.

5) Antibiotika penisilin, bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan.

6) Antibiotika golongan beta laktam golongan lain, bekerja dengan


menghambat sintesis peptidoglikan serta mengaktifkan enzim autolisis
pada dinding sel bakteri.

7) Antibiotika golongan kuinolon, bekerja dengan menghambat satu atau lebih

enzim topoisomerase yang bersifat esensial untuk replikasi dan transkripsi

DNA bakteri.

8) Antibiotika golongan tetrasiklin, bekerja dengan menghambat sintesis


protein dari bakteri.

9) Kombinasi antibakteri

10) Antibiotika golongan lain (Tjay dan Rahardja, 2007)

Diet nutrisi apendisitis


1. Diet cair
Setelah tindakan operasi, saluran pencernaan membutuhkan waktu untuk
kembali seperti semula. Pada awalnya pasien dianjurkan untuk
menjalankan diet cair sampai kondisi pulih (tidak ada lagi mual dan

17
muntah akibat anestesi). Diet cair berupa pemberian makanan atau
minuman yang cair, misalnya jus apel atau sup. Biasanya Anda
diperbolehkan makan jika dokter sudah mendengar adanya bunyi usus
dengan menggunakan stetoskop.
2. Diet lunak
Setelah tubuh mulai pulih dari operasi, maka pola diet selanjutnya yang
dianjurkan adalah dengan mengonsumsi makanan yang lunak sehingga
usus pun bisa sembuh secara perlahan. Makanan lunak bisa berupa bubur
atau kentang yang dihaluskan. Hindari makanan yang pedas, bersantan
atau berlemak untuk mencegah "stres" pada pencernaan Anda dan supaya
tubuh Anda pulih lebih cepat setelah operasi usus buntu. Menjalani pola
makan yang tepat akan membantu mempercepat proses pemulihan setelah
operasi dan menurunkan risiko infeksi setelah operasi.
3. Diet tinggi serat
Ketika tubuh Anda sudah pulih sempurna dan Anda telah kembali
menjalani aktivitas normal, cobalah untuk menjalani pola makan yang
tinggi serat. Makanan tinggi serat dapat membantu mencegah konstipasi
atau sulit BAB setelah menjalani operasi usus buntu. Contoh makanan
tinggi serat di antaranya gandum, beras merah, kacang-kacangan, sayur
dan buah.
4. Kiat-kiat diet setelah operasi usus buntu
Makanlah dengan porsi kecil namun sering untuk mengurangi “stres”
pada saluran pencernaan. Jangan lupa juga untuk makan terlebih dahulu
sebelum minum obat-obatan (misalnya obat antinyeri atau antibiotik),
untuk meminimalisasi efek samping seperti mual dan muntah. Tanpa
adanya komplikasi, orang yang baru menjalani operasi usus buntu dapat
kembali menjalani pola makan biasa 1-2 minggu setelah operasi.

A. Konsep Dasar Keperawatan


1. Pengkajian
a. Data Demografi
 Pasien dengan apendisitis Usia : paling muda usia 4 tahun, 18 tahun
keatas hingga usia 70 tahun.
 Perbandingan jenis kelamin antara laki-laki dengan perempuan adalah
1:1,7.
b. Riwayat Kesehatan
 Keluhan Utama

18
Nyeri kuadran kanan bawah dan biasanya demam ringan >37,5˚C,
mual, muntah, anoreksia, malaise, nyeri tekan lokal pada titik Mc.
Burney.
 Riwayat Keluhan
Klien dengan apendisitis gejala awal yang khas, nyeri samar (nyeri
tumpul) di daerah epigastrium di sekitar umbilikus atau periumbilikus.
Keluhan ini biasanya disertai dengan rasa mual, bahkan terkadang
muntah, dan pada umumnya nafsu makan menurun.
Keluhan ini biasanya disertai dengan rasa mual, bahkan terkadang
muntah, dan pada umumnya nafsu makan menurun. Kemudian dalam
beberapa jam, nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah, ke titik Mc
Burney. Di titik ini nyeri terasa lebih tajam dan jelas letaknya,
sehingga merupakan nyeri somatik setempat.
 Kebiasaan
Klien dengan kebiasaan mengkonsumsi makanan yang mengandung
biji-bijian yang sulit dicerna oleh lambung misalnya, biji cabai dan
lain-lain. Selain kebiasaan itu juga penyebabnya klien yang kurang
mengunsumsi makanan tinggi serat.
c. Pemeriksaan fisik fokus pada pasien dengan apendisitis
 Keadaan Umum
Pasien dengan penyakit apendisitis mengalami perubahan tanda -
tanda vital, yaitu peningkatan nadi perifer, hal ini disebabkan karena
pasien merasa cemas dan nyeri.
 Pengkajian head to toe fokus pada apendisitis.
1.
Tingkat Kesadaran
Tingkat kesadaran klien biasanya compos mentis, dapat
mengenali dan menjawab tentang keadaan sekelilingnya serta
berkomunikasi dengan baik.
2.
Wajah
Pada klien terjadi ketegangan pada otot wajah karena merasa
nyeri.
3.
Abdomen
Auskultasi: Bising usus mengalami penurunan.
Palpasi : merasakan nyeri saat dilakukan deep palpation pada area
abdomen bagian perut kanan bawah: nyeri pada bagian titik Mc
Burney.Nyeri sering terasa pada pasien, nyeri yang dirasakan
adalah nyeri saat di tekan dan nyeri saat dilepas.

19
4.
Range of Motion
Jika dilakukan pemeriksaan melalui Blumberg Sign pasien dengan
apendisitis bila dilakukan palpasi pada daerah perut kanan bawah
bila ditekan akan terasa nyeri bila tekanan dilepas juga akan
terasa nyeri hal ini adalah kunci dari apendisitis akut. Pemeriksaan
melalui ROM (range of motion) berlanjut dengan cara
pemeriksaan PSOA’S Sign dengan tindakan tungkai kanan dan
paha ditekuk kuat atau tungkai diangkat tinggi-tinggi, maka rasa
nyeri diperut semakin parah. Kecurigaan adanya peradangan usus
buntu semakin bertambah apabila dilakukan pemeriksaan dubur
dan vagina merasa nyeri juga. Pada apendiks terletak pada retro
sekal maka uji psoas sign akan positif dan tanda perangsangan
peritoneum tidak begitu jelas, sedangkan bila apendiks terletak di
rongga pelvis maka obturator sign akan positif dan tanda
perangsangan peritoneum akan lebih menonjol. Obturator sign
dilakukan dengan cara fleksi dan endorotasi sendi panggul.
 Pengkajian Fungsional Gordon
1. Pola Persepsi Kesehatan
Pola persepsi pasien bergantung pada nilai dan kepercayaan
individu terhadap kesehatan.(Health Belief)
2. Pola Nutrisi Metabolik
o Mual dan muntah
o Klien tidak nafsu makan
o Penurunan Berat badan >20% berat badan ideal
o Input dan output cairan pada pasien apendisitis tidak
seimbang karena pada cairan yang masuk kurang dari cairan
yang keluar.
3. Pola Eliminasi
o Buang air kecil (BAK)
Adanya gangguan
o Buang air besar (BAB)
Sebagian pasien mengalami diare, namun bisa juga
mengalami konstipasi.
4. Pola aktivitas dan latihan
Pasien mengalami gangguan aktivitas, berjalan seperti
menunduk karena menahan nyeri. Lebih sering duduk atau

20
berbaring, aktivitas berjalan sangat terbatas. Pasien merasa
lemas, lesu dan tidak enak badan.
5. Pola istirahat dan tidur
Pasien mengalami gangguan istirahat karena pasien dengan
apendisitis mengalami nyeri dan merasa cemas sehingga tidak
dapat istrahat dengan nyaman.

Diagnosa Keperawatan:

1. Nyeri akut b.d agen pencedera fisik (mis. Terpotong, prosedur operasi)
Kreteria hasil
1. Tingkat nyeri
No indikator SA ST

1. Keluhan nyeri 5

2. Gelisah 5

3. Kesulitan tidur 5

2. Control nyeri
No Indicator SA ST

1. Melaporkan nyeri terkontrol 5


Kemampuan mengenal onsep nyeri
2. Kemampuan mengenali penyebab nyeri 5

3. Kemampuan menggunakan tehnik non 5


farmakologis

Intervensi keperawatan
1. Menejemen nyeri
2. Pemantauan nyeri
3. Terapi relaksasi

Implementasi

1. Menejemen nyeri
Observasi

21
1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas
nyeri
2. Identifikasi skala nyeri

Terapeutik

1. Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis.


TENS, hypnosis, akupresur, terapi music, biofeedaeck, terapi pijat,
aromatrapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat atau dingin,
terapi bermain)
2. Fasilitasi istirahat dan tidur

Edukasi
1. Memonitor nyeri secara mandiri
2. Ajarkan teknik non farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri

Kolaborasi
2. Kolaborasi pemberian analgesic, jika perlu

Diagnosa Keperawatan:
2. Resiko infeksi b.d ketidak adekuatan pertahanan tubuh sekunder ; suplai
respon inflamasi
Kreteria hasil
1. Tingkat infeksi
No Indikator SA ST
1. Kebersihan tangan 5
2. Kebersihan badan 5

3. Nafsu makan 5

2. Status nutrisi
No Indikator SA ST
1. Porsi amkan yang 5
dihabiskan
2. Nyeri abdomen 5

Intervensi keperawatan
1. Pencegahan infeksi

22
2. Pengaturan posisi
3. Menejemen imunisasi atau vaksinasi
Implementasi

1. Pencegahan infeksi
Observasi
1. monitor tanda dan gejala infeksi

Terapeutik

1. cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan
pasien
2. pertahankan teknik aseptic pada pasien beresiko tinggi

Edukasi
1. jelaskan tanda dan gejala infeksi
2. ajarkan cara mencuci tangan dengan benar
3. anjurkan meningkatkan asupan nutrisi

Kolaborasi

1. kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu

Diagnosa Keperawatan:
3. Intoleransi aktivitas b.d tirah baring
Kreteria hasil
1. Toleransi aktivitas
No Indicator SA ST

1. Frekuensi nadi 5

2. Kemudahan dalam 5
melakukan aktivitas sehari-
hari
3. Kecepatan berjalan 5

Intervensi
1. Terapi aktivitas
2. Edukasi latihan fisik

23
Implementasi

Observasi
1. Identifikasi defisit tingkat aktifitas
2. Identifikasi kemampuan berpartisipasi dalam aktivitas tertentu
3. Monitor respon emosional, fisik, sosial, dan spiritual terhadap aktivitas

Terapeutik
1. Fasilitasi fokus pada kemampuan, bukan defisit yang dialami
2. Fasilitasi aktivitas fisik rutin (mis.ambulasi, mobilisasi, dan perawatan
diri), sesuai kebutuhan
3. Libatkan keluarga dalam aktivitas, jika perlu

Edukasi
1. Ajarkan cara melakukan aktivitas yang dipilih
2. Anjurkan melakukan aktivitas fisik,sosisal,spiritual, dan kognitif dalam
mejaga fungsi dan kesehatan

Kolaborasi
1. Kolaborasi dengan terapis okupasi dalam merencanakan dan memonitor
program aktivitas, jika perlu
.

24
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau


umbai cacing (apendiks). Usus buntu adalah sebenarnya sekum (cecum).
Infeksi ini bisa mengakibatkan peradangan akut sehingga memerukan
tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya.
(Nanda, 2015). Apendisitis dapat disebabkan karena fekalith (batu feses) yang
mengoklusi lumen apendiks, apendiks yang terpuntir, pembengkakan dinding
usus, kondisi fibrosa di dinding usus, okulusi eksternal usus akibat adesi,
Infeksi organisme yersinia telah ditemukan pada kasus 30% kasus. (Black, J.
M., dan Hawks, J. H. 2009.)

3.2 Saran

1. Bagi Institusi Pendidikan


Sebaiknya pihak yang bersangkutan memberikan pengarahan yang
lebih mengenai kependudukan lanjutan.
2. Bagi Mahasiswa
Mengenai makalah yang kami buat, bila ada kesalahan maupun ketidak
lengkapan materi mengenai penyakit Apendisitis. Kami mohon maaf,
kamipun sadar bahwa makalah yang kami buat tidaklah sempurna. Oleh
karena itu kami mengharap kritik dan saran yang membangun.

25
DAFTAR PUSTAKA

Black, J. M., & Hawks, J. H. 2014. Keperawatan Medikal Bedah (8th ed., Ser.
2). Singapore,: Elsevier.
Firmansyah, Riki dkk. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Biologi. Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional.

Potter and Perry. (2005). Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan


Praktik. Ed 4. Volume II. Jakarta: EGC.

Brunner and Suddarth. (2002). Hand Book for Brunner & Suddarth Text Book
Medical Surgical Nursing. (Penerjemah Yasmin Asih, S.Kp). Lipincott –

Tim Pokja SIKI PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta:
DPP PPNI.

Tim Pokja SIKI PPNI. 2018. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.


Jakarta: DPP PPNI.

Tim Pokja SIKI PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.


Jakarta: DPP PPNI.

26