Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dermatofitosis tersebar diseluruh dunia dengan prevalensi berbeda-beda
pada tiap Negara.1 Dermatofitosis merupakan masalah terutama di Negara
berkembang. Mikosis superfisial mengenai lebih dari 20% hingga 25% populasi
sehingga menjadi bentuk infeksi yang tersering. Penelitian World Health
Organization (WHO) terhadap insiden dari infeksi dermatofit menyatakan 20%
orang dari seluruh dunia mengalami infeksi kutaneus dengan infeksi tinea
korporis merupakan tipe yang paling dominan dan diikuti dengan tinea kruris,
pedis, dan onychomycosis.2
Pasien yang mengabaikan pengobatan dan kurangnya pengetahuan klinisi
mengenai infeksi ini dapat meningkatkan frekuensi penyakit. Tinea kruris lebih
sering pada rentang usia 51-60 tahun dan tiga kali lebih sering terjadi pada laki-
laki dibandingkan dengan perempuan, salah satu alasannya karena skrotum
menciptakan kondisi hangat dan lembab. Orang dewasa lebih sering menderita
tinea kruris dibandingkan dengan anak-anak.3
Tinea kruris merupakan golongan dermatofitosis pada lipat paha, daerah
perineum, dan disekitar anus. Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun,
bahkan dapat merupakan penyakit seumur hidup.4 Penyakit ini merupakan
penyakit terbanyak yang ditemukan di daerah inguinal, yaitu sekitar 65-80% dari
semua penyakit kulit di inguinal, sehingga beberapa kepustakaan mengatakan
inguinal intertrigo sebagai sinonim dari tinea kruris.5Tinea kruris dapat
membentuk lesi yang anular atau berbentuk lengkung dengan eritema perifer dan
skuama yang sering kali meluas sampai ke paha. Skrotum biasanya tidak terkena.6
Di Kroasia dilaporkan prevalensi dermatofitosis 26% pada tahun 1986 dan
meningkat menjadi 73% pada tahun 2001. Tinea kruris, Tinea pedis dan tinea
korporis merupakan dermatofitosis yang terbanyak ditemukan.7 Di Indonesia,
dermatofitosis yang terbanyak merupakan 52% dari seluruh dermatomikosis dan
tinea kruris serta tinea korporis merupakan dermatofitosis terbanyak (72%). Dari
data rekam medik di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD dr.Zainoel Abidin kota

1
2

Banda Aceh tahun 2012-2013 menunjukkan bahwa jenis infeksi dermatofitosis


superfisial yang paling banyak ditemukan adalah tinea kruris (38,9%), dengan
kelompok usia 46-55 tahun pada jenis kelamin perempuan (57,1%), dengan
pekerjaan sebagai ibu rumah tangga (37,4%).8
Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk mengetahui pengetahun
santriwan dan santriwati Pesantren Dayah Modern Darul Ulum terhadap penyakit
tinea kruris.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah “Bagaimana Pengetahuan Santriwan dan Santriwati Terhadap
Penyakit Tinea Kruris di Pesantren Dayah Modern Darul Ulum Banda Aceh”

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk
mengetahuigambaran pengetahuan santriwan dan santriwati terhadap penyakit
Tineakruris di Pesantren Dayah Modern Darul Ulum Banda Aceh.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Untuk mengetahui penyebab dari penyakit tinea kruris.
2. Untuk mengetahui faktor resiko penyakit tinea kruris
3. Untuk mengetahui pengobatan dan penatalaksanaan penyakit Tinea kruris

1.4 Ruang Lingkup Penelitian


Mengingat lingkup dari penelitian ini luas, maka penulis membatasi ruang
lingkup penelitian ini karena keterbatasan waktu penelitian, dan kemampuan yang
membutuhkan analisis yang komprehensif maka yang menjadi batasan ruang
lingkup dalam penelitian ini adalah gambaran pengetahuan santriwan dan
santriwati Dayah Modern Darul Ulum terhadap penyakit tinea kruris, penelitian
ini menggunakan penelitian deskriptif.
3

1.5 Pertanyaan Penelitian


Bagaimana gambaran pengetahuan santriwan dan santriwati terhadap
penyakit tinea kruris?

1.6 Manfaat Penelitian


Dapat menambah wawasan, pengetahuan, pemahaman, serta pengalaman
khususnya dalam bidang penelitian.

1.6.1Manfaat bagi Instansi Pendidikan


Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah bahan bacaan di
perpustakaan dan wawasan pengetahuan mahasiswa fakultas kedokteran
Universitas Abulyatama serta santri yang terlibat dalam penelitian ini.

1.6.2Manfaat bagi Responden


Sebagai bahan masukan atau pengetahuan agar santriwan dan santriwati
kedepan lebih mengenal tinea kruris serta dapat mencegahnya.

1.6.3Manfaat bagi Peneliti lain


Sebagai bahan kajian/informasi lanjut dalam melakukan penelitian
mengenai tinea kruris.
4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinea Kruris


2.1.1 Definisi
Tinea kruris (ekzema marginatum,dhobie itch, jockey itch, ringworm ofthe
groin) adalah dermatofitosis yang terdapat pada lipat paha, daerah perineum, dan
sekitar anus, kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun, penyakit tinea kruris
dapat juga berlangsung seumur hidup. Lesi yang tampak berbatas tegas pada
daerah genitokrural saja, lesi ini dapat juga meluas ke daerah sekitar anus, daerah
gluteus dan perut bagian bawah, atau bagian tubuh yang lain.9
Kelainan kulit yang tampak pada bagian sela paha merupakan lesi berbatas
tegas. Peradangan pada tepi lebih nyata dari pada daerah tengahnya. Efloresensi
terdiri atas berbagai macam-mcam bentuk yang primer dan sekunder (polimorf).
Bila penyakit ini menjadi menahun, dapat berupa bercak hitam disertai sedikit
sisik. Erosi dan keluarnya cairan biasanya terjadi akibat garukan.Tinea kruris
adalah salah satu bentuk klinis yang sering dilihat di Indonesia.9,10

2.1.2 Epidemiologi
Mikosis superfisisalis cukup banyak diderita penduduk negara tropis.
Indonesia merupakan salah satu negara beriklim tropis yang memiliki suhu dan
kelembaban yang tinggi, merupakan suasana yang baik bagi pertumbuhan jamur.
Tinea kruris sering sering terjadi pada musim panas, pada pria muda,dan orang
dengan berpakaian ketat. Spesies trichophyton bertanggung jawab atas 80% kasus
di Amerika Serikat. Penelitian WHO terhadap insiden dari infeksi dermatofit
menyatakan 20% orang dari seluruh dunia mengalami infeksi kutaneus dengan
infeksi tinea korporis merupakan tipe paling dominan dan diikuti dengan tinea
kruris, pedis, dan onikomikosis.1

2.1.3 Etiologi Tinea kruris


Penyebab utama dari tinea kruris adalahTrichopython rubrum dan
Epidermophyton fluccosum, dimana Epidermophyton floccosum merupakan
spesies yang paling sering menyebabkan terjadinya epidemik. Trichophyton

4
5

Mentagrophytes dan Trichophyton verrucosum jarang menyebabkan tinea


kruris.3Tinea kruris yang disebabkan oleh Epidermophyton floccosum paling
sering menunjukkan gambaran seperticentral healing, dan paling sering terbatas
pada bagian genitokrural dan pada bagian pertengahan paha atas. Begitu juga
infeksi oleh T.rubrum sering memberikan gambaran lesi yang bergabung dan
meluas sampai ke pubis,perianal, bokong,dan bagian abdomen bawah. Tidak
terdapat keterlibatan pada daerah genitalia.5

2.1.4 Faktor Risiko


Faktor yang sangat berperan pada penyebaran dermatofita ini adalah
kondisi kebersihan lingkungan yang buruk, daerah pendesaan yang padat, dan
sering menggunakan pakaian yang ketat atau lembab. Obesitas dan diabetes
melitus juga merupakan faktor resiko tambahan karena keadaan tersebut
menurunkan imunitas untuk melawan infeksi. Penyakit ini dapat bersifat akut atau
menahun, bahkan dapat merupakan penyakit yang terjadi seumur hidup. Wanita
lebih sering menyerang pria dibandingkan wanita.11

2.1.5 Manifestasi Klinis


Manifestasi klinis penyakit tinea kruris adalah berupa rasa gatal atau
terbakar pada bagian lipat paha,genitalia,sekitar anus dan juga pada daerah
perineum.4 Gejala klinis yang khas adalah rasa gatal yang meningkat pada saat
berkeringat, dan bentuk lesi polisiklik atau bulat berbatas tegas, efloresensi
polimorfik, dan tepi lebih aktif.12Tinea kruris biasanya tampak sebagai
populovesikel eritematosa yang multipel dengan batas tegas dan tepi meninggi.4
Adanya sentral healing yang ditutupi skuamosa halus pada bagian tengah
lesi. Tepi yang meninggi dan merah sering ditemukan pada pasien. Pruritus sering
ditemukan, seperti halnya nyeri yang disebabkan oleh maserasi ataupun infeksi
sekunder. Tinea kruris biasanya dimulai dengan bercak merah tinggi di bagian
dalam dari salah satu atau kedua paha. Pada laki-laki biasanya pada daerah
skrotum menyebar ditengah dengan daerah tepi luar yang sedikit lebih
tinggi,merah, dan memiliki perbatasan yang tajam.13Ruam bisa menyebar ke paha,
sampai ke daerah kemaluan dan bahkan memanjang sampai ke bokong. Pasien
juga merasakan gatal yang menyebabkan ketidaknyamanan dan iritasi yang
6

memberikan sensasi terbakar didaerah yang terkena. Pada kulit pangkal paha
biasanya mengalami pengelupasan atau pecah-pecah, kemungkinan juga
menyebar ke daerah anus.14

2.1.6 Diagnosis
2.1.6.1 Anamnesis
Pada anamnesis, pemeriksa dapat menanyakan keluhan utama dan keluhan
tambahan pada penderita seperti rasa gatal pada bagian lipat paha, perineum,
bokong, dan juga pada bagian genetalia, ruam pada kulit berbatas tegas,
eritematosa, serta peningkatan rasa gatal pada saat berkeringat.15

2.1.6.2 Pemeriksaan Fisik


Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai lesi pada regio inguinal bilateral,
simetris. Menyebar ke bagian perineum sampai ke anus hingga ke bagian gluteus.
Bahkan bisa menyebar ke bagian supra pubis dan perut bagian bawah, berbatas
tegas, dan tepi lebih aktif. Jika kronik makula menjadi hiperpigmentasi dengan
skuama diatasnya.15

2.1.6.3 Pemeriksaan Penunjang


1. Lampu wood
Lampu wood pertama kali digunakan dalam praktek dermatologi untuk
mendeteksi jamur infeksi hair oleh Margaret dan Deveze tahun 1925. Lampu
wood memancarkan radiasi UV gelombang panjang (UVR), juga disebut
cahaya hitam, yang dihasilkan oleh tinggi tekanan busur merkuri dilengkapi
dengan filter senyawa terbuat dari barium silikat dengan 9% nikel oksida,
yang filter wood. Filter wood ini terlihat buram pada semua sinar kecuali
sebuah band antara 320 dan 400 nm dengan puncak pada 362 nm.
Dermatofita yang menyebabkan fluoresens umumnya anggota genus
microsporum. Namun, tidak adanya fluoresensi tidak selalu
mengesampingkan tinea capitis seperti kebanyakan spesies trichophyton
dengan pengecualian T.schoenleinii, yang non fluoresensi. Gambaran tinea
kruris tidak terlihat pada pemeriksaan ini.16
7

2. KOH (postasium hidroksida)


Diagnosis dermatofitosis yang dilakukan secara rutin adalah pemeriksaan
mikroskopik langsung dengan KOH 10-20%. Pada sediaan KOH tampak hifa
bersepta dan bercabang tanpa penyempitan. Terdapatnya hifa pada sediaan
mikroskopis dengan postasium hidroksida (KOH) dapat memastikan
diagnosis dermatofitosis. Pemeriksaan mikroskopik langsung untuk
mengidentifikasi struktur jamur merupakan teknik yang cepat, sederhana,
terjangkau, dan telah digunakan secara luas sebagai teknik skrining awal.
Teknik hanya memilki sensitivitas hingga 40% dan spesifitasnya hingga 70%.
Hasil negatif palsu dapat terjadi hingga pada 15% kasus, bahkan bila secara
klinis sangat khas untuk dermatofitosis.16
Sensitivitas, spesifitas, dan hasil negatif palsu pemeriksaan mikroskopik
sediaan langsung KOH memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang lebih rendah
serta hasil negatif palsu sekitar 15% sampai 30%, namun teknik ini memiliki
kelebihan tidak membutuhkan peralatan yang spesifik, lebih murah dan jauh lebih
cepat dibandingkan dengan kultur. Dengan alasan ini modifikasi teknik
pemeriksaan sediaan langsung diutuhkan untuk meningkatkan manfaat
penggunaannya secara rutin.16

2.1.7 Diagnosis Banding


2.1.7.1 Kandidosis Intertrigo
Kandidosis merupakan suatu penyakit jamur, yang bersifat akut atau
subakut disebabkan oleh spesies candida, biasanya oleh spesies candida albicans
dan dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronkhi atau paru. Kadang-kadang
dapat menyebabkan septicemia, endokarditis, dan meningitis. Kandidosis lesi
intertrigenosa, pada daerah lipatan kulit ketiak, lipat paha, intergluteal, lipat
payudara atantara jari tangan dan kaki, gland penis dan umbilikus, berupa bercak
yang berbatas tegas, bersisik, basah dan eritematosa. Lesi tersebut dikelilingi oleh
satelit berupa vesikel-vesikel dan pustul-pustul kecil atau bula yang bila dipecah
meninggalkan daerah yang erosi , dengan pinggiran yang kasar dan berkembang
seperti lesi primer.16
Pada kandidosis intertrigo lesi akan tampak sangat merah, tanpa adanya
central healing, dan lesi biasanya melibatkan skrotum dan berbentuk satelit .
8

2.1.7.2Eritrasma
Eritrasma sering ditemukan pada lipat paha dengan lesi berupa eritema dan
skuamosa tapi dengan mudah dapat dibedakan dengan tinea kruris menggunakan
lampu wood dimana pada eritrasma akan tampak fluorensi merah (coral red).16

2.1.7.3 Psoriasis
Pada psoriasis akan dijumpai lesi yang memerah dengan skuamosa yang
lebih banyak. Ditemukan lesi pada tempat lain misalnya siku,lutut, atau kulit
kepala akan mengarah pada diagnosis ke arah psoriasis. Pada dermatitis seboroik
lesi akan tampak bersisik dan berminyak serta biasanya melibatkan daerah kulit
kepala dan sternum.16

2.1.8 Penatalaksanaan
Penyakit Terapi Topikal Terapi Sistemik
Tinea kruris Allylamines Adult:
Imidazoles Terbinafine, 250 mg/day x 2-4 weeks.
Tolnaftate Itraconazole, 100 mg/day x 1 week.
Butenafine Fluconazole, 150-300 mg/week x 4-6 weeks.
Ciclopirox Griseofulvin, 500 mg/dayx 2-4 weeks.
Children:
Terbanafine, 3-6 mg/kg/day x 2 weeks.
Itraconazole, 5mg/kg/day x 1 weeks.
Griseofulvin, 10-20 mg/kg/day x 2-4 weeks.

Tabel 1.2 : Penatalaksanaan Tinea Kruris.21

Penatalaksanaan tidak hanya diselesaikan secara medikamentosa, namun


dapat juga dilakukan secara nonmedikamentosa dan pencegahan dari kekambuhan
penyakit sangat penting dilakukan, seperti mengurangi faktor predisposisi, yaitu
menggunakan pakaian yang menyerap keringat, mengeringkan tubuh setelah
mandi atau berkeringat, dan membersihkan pakaian yang terkontaminasi.

2.2 Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan pada suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera
9

manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.


Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga.Pengetahuan atau
kognitif merupakan sesuatu yang sangat penting dalam membentuk setiap
tindakan seseorang dalam melakukan berbagai hal (behavior).19

2.2.1Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya, pada tingkatan ini reccal(mengingat kembali) terhadap sesuatu yang
spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsang yang diterima. Oleh
sebab itu tingkatan ini adalah yang paling rendah.19

2.2.2 Memahami (Comprehension)


Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut
secara benar tentang objek yang dilakukan dengan menjelaskan, menyebutkan
contoh, dan lain-lain.19

2.2.3 Aplikasi (Application)


Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi sebenarnya. Aplikasi disini dapat
diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum,rumus metode,prinsip
dan sebagainya dalam kontak atau situasi yang lain.19

2.2.4 Analisis (Analysis)


Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan suatu materi atau objek
kedalam komponen-komponen tetapi masih didalam suatu struktur organisasi
tersebut dan masih ada kaitan satu sama lain, kemampuan analisis ini dapat dilihat
dari penggunaan kata kerja dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan,
mengelompokkan dan sebagainya.19

2.2.5 Sintesis (Synthesis)


Sintesis menunjukan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghunbungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
Dengan kata lain sintesis ini suatu kemampuan untuk menyusun, dapat
10

merencanakan, meringkas, menyesuaikan terhadap suatu teori atau rumusan yang


telah ada.19

2.2.6 Evaluasi (Evaluation)


Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian
terhadap suatu materi atau objek penilaian–penilaian itu berdasarkan suatu kriteria
yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang sudah ada.19

2.3 Dayah
Dayah atau yang disebut juga dengan pesantren dikemukakan oleh para
ahli juga bermacam-macam. Abdurrahman Wahidmenjelaskan definisi pesantren
sebagai tempat dimana santri hidup. Mastuhu menjelaskan pesantren adalah
lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, menghayati
dan mengamalkan ajaran Islam dengan memprioritaskan pentingnya moral
keagamaan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.20
Rabithah Ma’hadi Islamiyah (RMI) mendefinisikan pesantren sebagai
lembagayang mengemban misi melanjutkan risalah Muhammad SAW sekaligus
melestarikan ajaran islam yang beraliranAhlusunnah wal Jama’ah ala Thariqoh
al- Madzahib al- Arba’ah.20
Soegarda Poerbakatwatja yang dikutip oleh Haidar Putra Daulay
menjelaskan pesantren berasal dari kata “santri” yaitu seseorang yang
belajaragama Islam sehingga pesantren mempunyai arti sebagai tempatorang
berkumpul untuk belajar agama Islam. Muhammad Arifin menjelaskan bahwa
pesantrensebagai suatu lembaga pendidikan Islam yang tumbuh serta diakui oleh
masyarakatsekitar, dengan sistem asrama (komplek) dimana para santri
menerimapendidikan agama melalui sistem pengajian atau madrasah yang
sepenuhnyaberada dibawah kedaulatan dari seorang atau beberapa orang ustad
dan ustadzah dengan ciri-ciri khas yang bersifat kharismatik serta independen
dalam setiap hal.20
Lembaga Research Islam (Pondok pesantren Luhur) mendefinisikan
pesantrenadalah suatu tempat yang tersedia untuk para santri dalam
menerimapelajaran-pelajaran agama Islam sekaligus tempat berkumpul dan
tempat tinggal.20
11

2.4 Kerangka Teori

Pengetahuan :
Santriwan Pengetahuan
a) Mengetahui (know)
b) Memahami
dan
(Comprehension)
c) Aplikasi (Aplication)
santriwati
d) Sintesis (Syntesis)
e) Evaluasi (Eevaluation)

Tinea Kruris

 Pengertian
 Etiologi
 Gejala klinis
 Pemeriksaan fisik
 Pemeriksaan penunjang
 Penatalaksanaan

Yang diteliti
Yang tidak diteliti

Diagram 1.2 Kerangka Teori


BAB III
KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Konsep


Kerangka konsep diberi pengertian sebagai suatu uraian dan visualisasi
hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya.Berdasarkan tinjauan
pustaka, tujuan dan kerangka teori dari penelitian ini maka kerangka konsep yang
akan dilakukan oleh peneliti pada santriwan dan santriwati di Pesantren Dayah
Modern Darul Ulum adalah sebagai berikut.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit tinea kruris pada
santriwan dan santriwati

Variabel Independen Variabel dependen

Gambaran
Pengetahuan
Santriwan dan Penyakit tinea kruris
Santriwati

Diagram 1.3 Kerangka Konsep

3.2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional


Dalam terminologi metoologik, dikenal 2 macam variabel penelitian, yaitu
varibel yang bebas dan variabel terikat. Variabel bebas adalah variabel yang
mempengaruhi. Sedangkan variabel terikat adalah variabel yang tidak bebas atau
variabel tergantung. Artinya, variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi
variabel terikat.

3.2.1 Variabel Penelitian


1. Variabel Independen (bebas): Gambaran pengetahuan santriwan dan
santriwati
2. Variabel Dependen (terikat): Penyakit tinea kruris

12
12
13

3.2.2 Definisi Operasional

Variabel Definisi Hasil


Alat Ukur Cara Skala
Penelitian Operasional Ukur
Ukur Ukur
1. Independen: Pengetahuan Kuesioner Angket Ordinal Baik
Pengetahuan merupakan hasil tahu,
dan ini terjadi setelah
orang melakukan
penginderaan terhadap Kurang
suatu objek tertentu Baik

2. Dependen: Tinea kruris Kuesioner


Kuesioner Angket
Kuesioner
Ordinal Baik
Penyakit adalah
Tinea kruris dermatofitosis pada lipat
paha, daerah perineum,
dan sekitar anus, kelainan Kurang
ini dapat bersifat akut Baik
atau menahun, bahkan
dapat merupakan penyakit
yang berlangsung seumur
hidup

Tabel 1.3 Definisi Operasional

3.2.3 Instrumen Penelitian


Untuk mengumpulkan data, sebuah penelitian memerlukan instrument
penelitian. Instrument penelitian didefinisikan sebagai alat atau fasilitas yang
digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih
mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis.
Adapun Instrument penelitian dilakukan dalam penelitian ini adalah
berupa kuesioner, yang akan di ambil pada santriwan dan santriwati di Pesantren
Dayah Modern Darul Ulum yang akan dilakukan pengambilan data sebanyak 50
orang, yang di ambil pada tahun 2016-2017.
BAB IV
METODELOGI PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian dan Rancangan Penelitian


Rancangan ini menggunakan desain penelitian deskriptif. Yaitu variabel
dependen dan independen diteliti pada waktu yang bersamaaan, yang bertujuan
untuk mengetahui tingkat pengetahuan santri Darul ‘Ulum terhadap penyakit
Tinea kruris.

4.2 Tempat dan Waktu Penelitian


4.2.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada santriwan dan santriwati Dayah Modern
Darul Ulum Banda Aceh.

4.2.3 Waktu Penelitian


Penelitian ini direncanakan akan dilakukan pada bulan Maret-Juni 2017.

4.3 Subjek Penelitian


4.3.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang akan diteliti. Populasi
dalam penelitian ini adalah santri dayah modern Darul ‘Ulum Banda Aceh
sebanyak 102 orang dari kelas 2 Aliyah.

4.3.2 Sampel
1. Kriteria Inklusi
a. Santriwan dan santriwati Pesantren Dayah Modern Darul Ulum kelas 2
Aliyah
b. Bersedia menjadi responden
2. Kriteria Ekslusi
a. Responden yang tidak hadir dalam penelitian
b. Responden yang tidak mengisi seluruh pertanyaan yang ada pada
kuesioner.

14
15
15

Sampel diambil secara random sampling, responden dalam penelitian ini


adalah santri. Perhitungan besar jumlah sampel dengan menggunakan rumus
slovin, sebagai berikut :
𝑁
𝑛=
1 + 𝑁 (𝑑 2 )
Keterangan :
n = Besar sampel
N = Besar populasi
d = Tingkat kepercayaan / ketepatan yang diinginkan
Hitungan Sampel Penelitian:
𝑁
𝑛 =
1 + 𝑁 (𝑑 2 )
102
𝑛 =
1 + 102 (0,12 )
𝑛 = 50
Setelah dilakukan perhitungan seperti diatas, maka didapatkan besar
sampel sebanyak 50 orang.

4.4 Unit Analisis


Unit analysis dalam penelitian ini adalah santriwan dan santriwati.

4.5 Metode Pengumpulan Data


Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai
Juni tahun 2017 di Pesantren Dayah Modern Darul Ulum Banda Aceh, dengan
jumlah responden sebanyak 50 orang. Teknik pengumpulan data yang dilakukan
terhadap responden menggunakan kuesioner.
16

4.6 Alur Penelitian

Surat izin dekan Fakultas Kedokteran


Universitas Abulyatama Banda Aceh

Peneliti mengajukan surat izin kepada


pimpinan pesantren

Uji validitas kuesioner

Peneliti melakukan pengambilan


sampel dari populasi yang sesuai
kriteria

Melakukan pengisian kuesioner

Peneliti melakukan pengumpulan data

Pengolahan data

Analisa Data

Diagram 1.4 Alur Penelitian

4.7. Rancangan Pengolahan Data


Data yang telah didapat kemudian dikumpulkan yaitu dengan tahapan
sebagai berikut:
1. Editing, memeriksa apakah semua responden telah lengkap menjawab
pertanyaan instrumen penelitian dan menilai apakah responden telah
menjawab semua pertanyaan sesuai dengan instrumen penelitian.
17

2. Coding, yaitu memberikan tanda atas jawaban dari pertanyaan yang


diajukan dalam cheklist dan mengklasifikasikan jawaban-jawaban yang
ada menurut macam pertanyaan.
3. Transfering, yaitu data yang telah diberi kode disususn secara berurutan
dari responden pertama sampai responden terakhir untuk dimasukkan
kedalam tabel dan data tersebut diolah dengan menggunakan data
komputer.
4. Tabulating, yaitu data yang telah terkumpul ditabulasi dalam bentuk tabel
distribusi.

4.8. Rancangan Analisa Data


4.8.1 Analisis Univariat
Digunakan untuk memperoleh gambaran distribusi frekuensi dan proporsi
dari variabel yang diteliti, baik variabel dependen dan independen. Kemudian data
dimasukkan dalam tabel distribusi frekuensi dan menentukan persentase dari
masing-masing variabel dengan rumus :
𝑓
𝑝= × 100%
𝑛
Keterangan:
P : persentase
f : frekuensi teramati
n : jumlah sampel

4.9. Etika Penelitian


Penelitian memerlukan batasan tertentu agar tidak menyalah gunakan
norma yang ada dilingkungan, oleh karena suatu penelitian membutuhkan kode
etik. Kode etik penelitian adalah suatu pedoman etika yang berlaku untuk setiap
kegiatan penelitian yang melibatkan antara pihak peneliti, pihak yang diteliti dan
masyarakat yang memiliki dampak dari penelitian tersebut. Tujuan nya adalah
agar penelitian yang dilakukan tidak membahayakan bagi subjek penelitian
selama prosedur penelitian berlangsung.
1. Persetujuan responden (Informed consent)
Lembar persetujuan diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan
memberikan lembar persetujuan menjadi responden. Responden harus
menandatangani lembar persetujuan tersebut tanpa paksaan dari pihak
18

manapun. Tujuannya adalah agar responden mengerti maksud dan tujuan


penelitian yang akan dilakukan serta dampak yang mungkin terjadi selama dan
sesudah pengumpulan data.
2. Kerahasiaan (Confidentiality)
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti hanya kelompok
data tertentu saja yang dilaporkan sebagai hasil riset.
3. Sukarela (Volontary)
Penelitian harus bersikap sukarela, tidak ada unsur paksaan atau tekanan
secara langsung maupun tidak langsung atau adanya ketergantungan. Untuk
menjamin kesukarelaan responden sebagai objek penelitian maka diperlukan
informed concent.

4.10. Jadwal Penelitian


Mengenai persiapan penelitian dengan melakukan pembagian kuesioner,
pengumpulan data, analisa data membutuhkan waktu yang relatif lama yaitu
Maret sampai Juni 2017.
19

BAB V
HASIL PENELITIAN

5.1 Hasil Penelitian


Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan pada bulan Mei tahun
2017 di Pesantren Dayah Modern Darul Ulum Banda Aceh, dengan jumlah
responden sebanyak 50 orang. Teknik pengumpulan data yang dilakukan terhadap
responden menggunakan kuesioner dengan 17 pertanyaan. Hasil penelitian yang
diperoleh adalah sebagai berikut:

5.1.1 Data Demografi Responden


Data demografi pada penelitian ini menjelaskan tentang umur responden.
Adapun hasil yang didapatkan pada data demografi sebagai berikut:

Tabel 1.5
Distribusi Data Demografi Responden Di Pesantren Dayah Modern Darul
Valid
Ulum Banda Aceh (n=50)
1158
6ta
7 Th
ta uun
hta
o n
l
Frequency 2
15
3
7
55
0
Um
ur Percent 100
4
3
11 0,0
6
4,0
,0
ValidPercent 100
4
3
11 0,0
6
4,0
,0
Culm
ulativePercent 100
5
19 6,0
,0

Berdasarkan tabel 5.1 diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar


santriwan dan santriwati yang menjadi responden berada pada umur 16 tahun
yaitu berjumlah 23 orang (46,0).

5.1.2 Distribusi Pengetahuan Terhadap Penyakit Tinea Kruris


Gambaran distribusi pengetahuan siswa dan siswi terhadap penyakit tinea
kruris didapatkan sebagai berikut:

Tabel 2.5
Distribusi Pengetahuan Santriwan 19 dan Santriwati Madrasah Aliyah
Valid
Darul Ulum Terhadap Penyakit Tinea Kruris (n=50)
K
uT
Cro
u
Baa
knik
u
tagl
p
Frequency
18
2
53
9
0
Pengetahuan Percent 108
2
15 6
0,0
,0
ValidPercent 108
2
15 6
0,0
,0
Culm
ulativePercent 102
14 6
0,0
,0

Berdasarkan tabel 5.2 dapat kita ketahui bahwa sebagian besar responden
memiliki pengetahuan tentang penyakit tinea kruris dalam kategori kurang yaitu 8
orang (16,0%), kategori cukup 13 orang (26,0%), sedangkan kategori baik 29
orang (58,0%).
20

5.1.3 Distribusi Kejadian Terhadap Penyakit Tinea Kruris


Gambaran distribusi kejadian santriwan dan santriwati terhadap penyakit
tinea kruris didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 3.5
Distribusi Data Kejadian Santriwan dan Santriwati Terhadap Penyakit
Valid TidakPeT
rn
Tinea Kruris
ahl
ota
Frequency 17
3
53
0
Kejadian Percent 204
17 6
0,0
,0
ValidPercent 204
17 6
0,0
,0
Culm
ulativePercent 1206
0,0
,0

Berdasarkan tabel 5.3 di atas disimpulkan bahwa santri yang pernah


mengalami penyakit tinea kruris berjumlah 13 orang (26,0%), sedangkan yang
tidak pernah mengalami penyakit tinea kruris berjumlah 37 orang (74,0%).
21

BAB VI
PEMBAHASAN

6.1 Pembahasan
Dari hasil penelitian tentang gambaran pengetahuan santriwan dan
santriwati Madrasah Aliyah Darul Ulum Banda Aceh terhadap 50 responden
menunjukkan bahwa:

6.1.1 Frekuensi Data Demografi di Madrasah Aliyah Pesantren Dayah


Modern Darul Ulum Banda Aceh
Berdasarkan hasil penelitian bahwa karakteristik responden berdasarkan
menurut kelompok umur, sebagian besar responden berada pada umur 16 tahun
yaitu berjumlah 23 orang (46,0%).
Umur dapat mempengaruhi daya pikir seesorang, semakin bertambah
umur akan semakin berkembang pula daya ingat serta pengetahuan semakin
membaik.
Hasil penelitian didapatkan responden yang berada pada rentang umur 15
tahun berjumlah 5 responden (10,0%). Umur 16 tahun berjumlah 23 responden
(46,0%), umur 17 tahun terdiri atas 17 responden (34,0%), sedangkan yang umur
18 tahun terdiri atas 5 responden (10,0%).

6.1.2 Tingkat pengetahuan Santriwan dan Santriwati Pesantren Dayah


Modern Darul Ulum terhadap Penyakit Tinea Kruris
Berdasarkan hasil penelitian yang ditunjukkan pada Tabel 5.2 didapatkan
bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan tentang penyakit tinea
kruris dalam kategori kurang yaitu 8 orang (16,0%), pengetahuan responden yang
berada dalam kategori cukup yaitu 13 orang (26,0%), sedangkan pengetahuan
responden yang berada dalam kategori baik yaitu 29 orang (58,0%).
Pengetahuan (knowledge) diartikan sebagai penginderaan manusia atau
hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata,
hidung, dan sebagainya), dengan sendirinya pada waktu penginderaan sehingga

21
22

menghasilkan pengetahuan. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas


perhatian dan persepsi objek.16
Hasil penelitian didapatkan mayoritas santri memiliki pengetahuan yang
baik (58,0%) hal ini peneliti asumsikan dikarenakan sering adanya penyuluhan
tentang penyakit kulit di pesantren. Penyuluhan atau informasi dari tenaga
kesehatan merupakan pendidikan non formal yang dapat mempengaruhi
pengetahuan seseorang. Pemberian informasi dari tenaga kesehatan tentang cara-
cara mencapai hidup sehat, cara pemeliharaan kesehatan, cara menghindari
penyakit, dan sebagainya akan meningkatkan pengetahuan santri tentang hal
tersebut. Pendidikan formal disekolah juga mempengaruhi pengetahuan
seseorang, jika para santri ada mempelajari tentang penyakit pada pelajaran
disekolahnya maka akan bertambah pula pengetahuan siswa/santri.

6.2 Keterbatasan Penelitian


Penelitian ini telah mendapatkan hasil mengenai gambaran pengetahuan
responden sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, namun usaha penulis untuk
memberikan hasil yang optimal tidak menghindarkan terdapatnya beberapa
keterbatasn berikut:
a. Responden cenderung terburu-buru dalam mengisi kuesioner,
membuat responden tidak membaca pertanyaan dengan teliti, sehingga
hasil yang didapat bisa menjadi tidak sesuai dengan pengetahuan
responden.
b. Penjelasan yang diberikan oleh peneliti dapat tidak dipahami oleh
responden sehingga informasi yang diterima tidak dimengerti sehingga
informasi yang diberikan dapat tidak tepat.
23

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang dilakukan di Pesantren Dayah Modern Darul Ulum
tentang gambaran pengetahuan terhadap penyakit tinea kruris, dari 50 responden
dapat disimpulkan:
1) Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar
santriwan dan santriwati yang menjadi responden berada pada umur 16
tahun yaitu berjumlah 23 orang (46,0%).
2) Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa sebagian besar responden
memiliki pengetahuan tentang penyakit tinea kruris dalam kategori
baik yaitu 29 orang (58,0%), pengetahuan responden yang berada pada
kategori cukup yaitu 13 orang (26,0%), sedangkan yang berada dalam
kategori kurang yaitu 8 orang (16,0%).

7.2 Saran
1. Bagi Peneliti Selanjutnya
Mengingat terbatasnya ruang lingkup dan kuesioner dalam penelitian ini,
diharapkan penelitian selanjutnya dapat melakukan penelitian dengan
menambah variabel-variabel lain yang dapat menjadikan hasil penelitian
semakin baik.
2. Instansi Kesehatan (Dinas Kesehatan)
Instansi kesehatan seperti dinas kesehatan diharapkan dapat
mengupayakan peningkatan pelayanan penyuluhan penyakit kulit
khususnya tinea kruris.
3. Akademik
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber informasi untuk menambah
pengetahuan dan wawasan mahasiswa dan mahasiswi kedokteran
khususnya tentang penyakit tinea kruris.

23
24

4. Responden
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan
menambah pengetahuan santriwan dan santriwati untuk menjaga kesehatan
kulitnya.
25

DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda, A., M., Aisah, S. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Edisi ke-6,
Jakarta: Departemen Ilmu Kedokteran Kulit dan Kelamin FK UI; 2010.

2. Adiguna, MS. 2011. Update Treatment In Inguinal Intertrigo And Its


Differential. Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana. Hlm.309-333.

3. Yadav A, Urhekar AD, Mane V, Danu MS, Goel N, Ajit KG.2013.


Optimization and Isolation of Dermatophytes frrom Clinical Samples and In
Vitro antifungal Susceptibility Testing By Disc Diffusion Method. Journal of
microbiology and Biotechnology,2(3):19-34.

4. Abbas KA, Mohammed AZ, Mahmoud SI. 2012. Superficial Fungal


Infections. Mustansiriya Medical Journal. 11:75-7.

5. Lakshmipathy TD, Kannabiran K. 2013. Review on


dermatomycosis:Pathogenesis and Treatment. Natural Science. Tersedia pada:
http://www.scirp.org/journal/NS/. Diakses tanggal 21 September 2014.

6. Rezvani SM, sefidgar SAS, Roushan MRH. Clinical Patterns and etiology of
dermatophytosis in 200 cases in Babol, North of Iran. Casp J Intern Med
2010;1(1):23-6

7. Bramono K, Indriatmi W, 2016. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Edisi 2.


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

8. Patel GA, Wiederkehr M. Schwartz RA. 2009. Tinea Kruris in Children


Pediatric Dermatology. New Jersey.

9. Abdelal EB, Shalaby MAS, Abdo HM, Alzafarany MA, Abubakr AA.
2013.Detection of dermatophytes in clinically normal extra-crural site in
patiens with tinea cruris. The Gulf Journal of Dermatology and Venerology,
20(1):31-39.

10. Lowell A., Goldsmith., Stephen I., Katz Barbara A. Glichrest., Amy S., Paller
David J., Leffell., Klaus Wolff. 2012. Fitzpatrick’s Dermatology InGeneral
Medicine. Mc Graw Hill Medical.

11. Hainer BL. 2003. Dermatophyte Infections. American Family Physician.


67(1):101-8.

25
26

12. Siregar. Atlas Bewarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi ke II. Jakarta: EGC;
2003.

13. Kuswadji, 2009. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, edisi ke-5. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia hlm, 107-9.

14. Paramata NR, Maidin A, Massi N. The comparison of sensitivity test of


itraconazole agent the cause of Dermatophytosis in Glabrous skin in
Makkassar. Makassar: Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas
Hasanudin. Makassar; 2009.

15. Microbiology and Biotechnology.2(3):19-34.Risdianto A, Kadir D, Amin S.


2013. Tinea corporis and Tinea cruris Cause by Patient. Department of
Dermatovenereology Universitas Hasanuddin.2(2):31-8

16. Notoatmodjo S. Promosi kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka


cipta; 2012.

17. Arifin M, Kapita Selekta Pendidikan Islam dan Umum, jakarta: Bumi Aksara:
1991, h.240.