Anda di halaman 1dari 3

AKUNTANSI WA’D

A. Definisi Wa’d
merupakan suatu kesepakatan yang terjalin diantara dua belah pihak untuk menjalankan
suatu hal.
Berikut ini merupakan ciri-ciri Wa’d:
Wa’d adalah kesepakatan antara satu anggota dengan anggota lainnya dalam
menjalankan suatu hal dalam masa depan yang ditetapkan dalam transaksi syariah
hal inti yang memisahkan akad dan wa’d yaitu hukum wa’d mengenai kewajiban dan
hak. Wa’d yaitu hukum akad masih belum muncul terkait kewajiban dan hak. Sedangkan akad
yaitu akad sudah muncul terkait kewajiban dan hak. kesepakatan atau akad didalam negoisasi
syariah yang memiliki sifat mulzim
B. Penerapan Wa’d pada produk syariah Pengakuan, pengukuran, penyajian serta
pengungkapan
1. Pengakuan
07 Dalam entitas memberi kesepakatan pada entitas lain maupun terima wa’d yang berasal dari
entitas lainnya, sehingga entitas tidak mengklaim liabilitas dan aset yang nantinya akan terjadi
atas wa’d.
08 Pada saat entitas menyerahkan wa’d pada entitas lainnya, sehingga hal itu belum memuat
liiabilitas maupun aset pada laporan keuangan.
09 entitas mengklaim liabilitas atau aset tentang ketika akad dilaksanakan dari dasar wa’d yang
mana sebelumnya telah memenuhi aturan PSAK lainya yang sesuai.
10 Pada saat akad dilaksanakan dari dasar wa’d sebelumnya, entitas mengimplementasikan
aturan pada PSAK lain yang sesuai, misalnya PSAK seratus dua tentang akuntansi murabahah
dan PSAK seratus tujuh tentang akuntansi ijarah. Pengimplementasian wa’d dalam transaksi
lindng jumlah syariah dan lembar berharga syariah telah dideskripsikan dalam lampiran A
maupun B.

2. Pengukuran
a) Untuk Objek Sewa
Pada kesepakatan Ijarah ditulis perolehan sewa ketika masa kesepakatan untuk
diakui ketika keuntungan untuk aset diberikan kepada yang menyewa. Pitang perolehan
sewa diukur sebesar harga yang bisa direalisasikan ketika akhir masa pelaporan.
Apabila terdapat pengeluaran untuk perbaikan lalu pengakuan pengeluaran perbaikan
objek sewa dijalankan seperti:
 Pengeluaran untuk perbaikan tidak terjadwal objek ijarah dicatat ketika
sedang terjadi
 Apabila yang menyewa menjalankan perbaikan secara terjadwal objek
ijarah dengan yang menyetujui yaitu pemiliknya, selanjutnya
pengeluaran tersebutkan akan dibebankan ke pemilik serta dicatat
kedalam beban ketika sedang terjadi
 Pada ijarah muntahiyah bittamlik dengan melewati penjualan yang
berurutan, pengeluaran perbaikan objek ijarah kedua diatas yang
menanggung yang menyewa serta yang memilikinya sesuai dengan
bagian kepemilikan sendiri-sendiri.
Pembukuan yang dilakukan yang memiliki ketika sedang terjadi pengalihan aset objek
ijarah yang mulainya dari pemiliknya ke yang menyewa pada ijarah muntahiyah
bittamlik tergantung dengan metode pengalihannya, seperti:
 Hibah, lalu besaran yang tertulis pada objek ijarah dicatat dalam Beban
 Penjualan ketika belum selesainya kesepakatan, sejumlah sisa dari menyicil
sewa maupun besaran yang telah di akadkan. Lalu beda antar nilai jual dengan
besaran yang tertulis objek ijarah dicatat bagai laba maupun rugi
 Penjualan sehabisnya akad terselesaikan, lalu beda antar nilai jual serta besaran
yang tertulis objek ijarah dicatat sebagai laba maupun rugi
 Penjualan objek ijarah dengan terjadwal, lalu beda antar nilai jual dengan
besaran yang tertulis sebagai objek ijarah nan sudah terjual dicatat bagai laba
maupun rugi, sedangkan objek ijarah yang belum terjual dicatat dalam harta
tidak lancar maupun harta lancar sesuai dengan fungsi aset tersebut
B) Untuk Penyewa
Penulisan dijalankan yang menyewa ketika pengalihan pemilikan objek ijarah dari yang
memiliki ke yang menyewa pada ijarah muntahiyah bittamlik tergantung pada metode
pengalihan hak, seperti:
 Hibah, yang menyewa mencatat aset serta laba sebanyak harga wajar objek ijarah yang
didapatkan
 Pembelian ketika akad belum terselesaikan, lalu yang menyewa mencatat aset sebanyak
pelunasan sisa dari menyicil sewa maupun besaran yang telah melalui kesepakatan
 Pembelian ketika akad terselesaikan, lalu yang menyewa mencatat aset sebanyak
pelunasan yang telah terjadi melalui kesepakatan
 Pembelian pada objek ijarah yang terjadwal, lalu yang menyewa mencatat aset
sebanyak harga pendapatan aset objek ijarah nan didapatkan

3. Penyajian pada Laporan Keuangan


 Untuk yang memiliki objek sewa, menyajikan perolehan ijarah dengan netto
selepas dikurangi beban yang terkait, contohnya beban pemeliharaan,
penyusutan, serta perbaikan, dll
 Perolehan ijarah muntahiyah bittamlik serta ijarah dicatat ketika
kesepakatannya proporsional kecuali perolehan ijarah muntahiyah bittamlik
pada penjualan yang beurutan dan jumlah perolehan pada masa akan menurun
derastis pada masa kesepakatan sebab dengan pelunasan satu per satu objek
sewa ketika periode yang berjalan
 Piutang perolehan ijarah muntahiyah bittamlik serta ijarah diukur sebanyak
harga bersih yang bisa direalisasikan saat terakhir pada masa pelaporan.
4. Pengungkapan pada Laporan Keuangan
Terjadi pengungkapan pada yang memiliki objek sewa pada Laporan Keuangan
mengenai akad ijarah serta ijarah muntahiyah bittamlik, namun tidak memiliki batasan pada:
a. Pemaparan umum isi kesepakatan secara signifikan dan terkait namun tidak memiliki
batasan pada:
 Penempatan wa’ad/pemindahan hak milik serta mekanisme nan dimanfaatkan
 Pembatasan, contoh ijarah lanjut
 Memanfaatkan agunan (apabila ada)
b. Harga pendapatan serta akumulasi penyusutan tiap tim aset ijarah
c. Letak tempat bisnis jual serta ijarah (apabila ada)
Terjadi pengungkapan pada yang memiliki sewa pada laporan keuangan mengenai
ijarah serta ijarah muntahiyah bittamlik, namun tidak memiliki batasan pada:
a. Pemaparan umum isi kesepakatan secara signifikan dan terkait namun tidak memiliki
batasan pada:
 Jumlah pelunasan
 Letak pada wa’ad yang memiliki guna pemindahan hak milik serta mekanisme
yang dipakai (apabila ada)
 Batasan, contoh ijarah lanjut
 Memanfaatkan agunan (apabila ada)
b. Letak tempat transaksi penjualan serta ijarah serta laba maupun rugi yang dicatat
(apabila terdapat transaksi jual serta ijarah).