Anda di halaman 1dari 9

APLIKASI HERBISIDA PADA BEBERAPA STADIUM

PERTUMBUHAN GULMA

Oleh :
Maulida Fitri Khairani B1A016073
Nawasyifa Atmaja B1A016074
Siti Hasnah Qurata A’yun B1A016139
Indriyani B1A016145

Rombongan : II
Kelompok :6
Asisten : Eliningsih

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HERBISIDA

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gulma merupakan tumbuhan yang bersang dengan tanaman utama untuk


mendapatkan tempat, unsur hara, cahaya, dan air yang dapat menurunkan hasil,
baik dari segi kualitas maupun kuantitas dari tanaman budidaya. Keberadaan
gulma di sekitar tanaman utama dapat menghambat pembelahan sel, respirasi,
penutupan stomata dan sintesis protein. Gulma juga diketagu dapat
mengeluarkan senyawa racum yang disebut dengan alelopati (Arief et al., 2016).
Herbisida berasal dari senyawa kimia organik maupun anorganik atau
berasal dari metabolit hasil ekstraksi dari suatu organisme. Herbisida bersifat
racun terhadap gulma atau tumbuhan pengganggu, juga terhadap tanaman.
Herbisida yang diaplikasikan dengan dosis tinggi akan mematikan seluruh
bagian tumbuhan. Namun pada dosis yang lebih rendah, herbisida akan
membunuh tumbuhan tertentu dan tidak merusak tumbuhan yang lainnya.
beberapa keuntungan menggunakan herbisida diantaranya dapat mengendalikan
gulma sebelum mengganggu tanaman budidaya, dapat mencegah kerusakan
perakaran tanaman yang dibudidayakan, lebih efektif dalam membunuh gulma,
dalam dosis rendah dapat berperan sebagai hormon tumbuh, dan dapat
meningkatkan produksi tanaman budidaya dibandingkan dengan perlakuan
pengendalian gulma dengan cara yang lain. Pemakaian suatu jenis herbisida
secara terus menerus akan membentuk gulma yang resisten sehingga akan sulit
mengendalikannya (Moenadir, 1990).
Berdasarkan selektifitasnya, herbisida dibagi menjadi herbisida selektif
dan non selektif. Herbisida selektif adalah herbisida yang jika diaplikasikan pada
berbagai jenis tumbuhan hanya akan mematikan spesies tertentu gulma dan
relatif tidak mengganggu tanaman yang dibudidayakan. Herbisida non-selektif
adalah herbisida yang bila diaplikasikan pada beberapa jenis tumbuhan melalui
tanah atau daun dapat mematikan hampir semua jenis tumbuhan termasuk
tanaman yang dibudidayakan (Moenadir, 1990).

B. Tujuan

Mengetahui aplikasi herbisida MCPA pada stadium pertumbuhan


Synedrella nodiflora.
II. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah sprayer, polybag, dan
kamera.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah herbisida MCPA dosis
letal dan Synedrella nodiflora.

B. Metode

Cara kerja dalam praktikum kali ini :


1. Gulma Synedrella nodiflora berdaun 2, 4, 6 dan berubunga diambil.
2. Gulma disemprot herbisida MCPA letal hingga drip point.
3. Gulma diamati selama 3 minggu. Parameter yang diamati yaitu persentase
kematian gulma dan stadium gulma yang paling efektif dikendalikan.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Synedrella nodiflora adalah sejenis gulma yang biasa mengganggu pada


daerah pertanian. Tumbuhan ini berasal dari famili Asteraceae. S. nodiflora
merupakan semak yang sering dijumpai pada sekitar sungai dan sepanjang aliran air
dibawah pepohonan. Tumbuhan ini dikenal sebagai gulma, namun banyak juga
digunakan sebagai obat tradisional karena kandungan kimianya (Amoateng et al.,
2017). Herbisida MCPA merupakan herbisida selektif yang hanya mematikan atau
menghambat pertumtumbuhan jenis-jenis gulma tertentu dan tidak berpengaruh
terhadap jenis-jenis gulma lainnya. MCPA hanya aktif untuk gulma berdaun lebar
seperti S. nodiflora (Djojosumarto, 2008).

Stadium Persentase Kematian Gulma (%)


1 2 3
Daun 2 0 0 50
Daun 4 0 0 75
Daun 6 0 0 65
Berbunga 0 10 90

A B
C

Gambar 3.1. Aplikasi Herbisida pada Beberapa Stadium Pertumbuhan Gulma


Synedrella nodiflora. (A). setelah pemberian herbisida MCPA; (B).
Minggu ke-1; dan (C). Minggu ke-2

Berdasarkan hasil pengamatan pada saat pemberian herbisida, gulma masih


terlihat sehat dan tumbuh dengan baik. Pada pengamatan minggu pertama setelah
pemberian herbisida MCPA didapatkan bahwa gulma pada stadium pertumbuhan
yang telah berbunga telah mengalami kematian dengan persentase 10%, yang
ditandai dengan mulai menguningnya beberapa daun. Pengamatan minggu kedua
atau minggu terakhir mulai terlihat persentase kematian pada gulma. Gulma pada
stadium pertumbuhan dengan dua daun sebesar 50%, stadium empat daun sebesar
75%, stadium enam daun sebesar 65%, dan pada stadium berbunga sebesar 90%.
Pemberian herbisida menghasilkan gulma yang mati secara bertahap pada setiap
pengamatan. Herbisida MCPA merupakan herbisida yang efektif untuk
mengendalikan gulma daun lebar (Polansky & Guntoro, 2016). Berdasarkan hasil
tersebut menandakan bahwa pada gulma stadium pertumbuhan berbunga merupakan
stadium yang paling efektif untuk mengendalikan gulma. Hal ini kurang sesuai
dengan pustaka yang menyatakan bahwa pemberian herbisida paling efektif yaitu
pada stadium pertumbuhan vegetatif aktif atau sebelum stadium pertumbuhan (Arief
et al., 2016).
Stadium pertumbuhan gulma dapat mempengaruhi efektivitas dari herbisida.
Beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas herbisida sistemik adalah keadaan
gulma dalam masa tumbuh aktif, cuaca yang cerah serta tidak berangin pada saat
penyemprotan, tidak melakukan penyemprotan pada saat menjelang hujan, areal
yang akan disemprot dikeringkan terlebih dahulu, gunakan air bersih sebagai bahan
pelarut. Fase vegetatif aktif gulma ini merupakan fase dimana gulma sudah dalam
kondisi optimum untuk pertumbuhannya. Keistimewaan dari herbisida sistemik ini
yaitu dapat mematikan tunas-tunas yang ada dalam tanah, sehingga menghambat
pertumbuhan gulma tersebut. Efek terjadinya hampir sama merata ke seluruh bagian
gulma, mulai dari bagian daun sampai perakaran. Dengan demikian, proses
pertumbuhan kembali juga terjadi sangat lambat sehingga rotasi pengendalian dapat
lebih lama (panjang). Penggunaan herbisida sistemik ini secara keseluruhan dapat
menghemat waktu, tenaga kerja, dan biaya aplikasi (Umiyati & Denny, 2018).
IV. KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan, dapat disimpulkan bahwa aplikasi herbisida


MCPA pada stadium pertumbuhan Synedrella nodiflora menunjukkan adanya
efektivitas karena merupakan herbisida selektif yang mana bekerja pada gulma
Synedrella nodiflora. Herbisida ini bekerja efektif pada stadium pertumbuhan
gulma yang telah berbunga.
DAFTAR PUSTAKA

Amoateng, P., Adjei, S., Osei-safo, D., Kukuia, K. K. E., Bekoe, E. O., Karikari, T.
K. & Kombian, S. B., 2017. Extract of Synedrella nodiflora (L) Gaertn
Exhibits Antipsychotic Properties in Murine Models of Psychosis. BMC
Complementary and Alternative Medicine, 17(389), pp. 1-14.

Arief, M., Hasanuddin & Hafsah, S., 2016. Pemanfaatan Ekstrak Kirinyuh
(Chromolaena odorata L.) pada Stadia Pertumbuhan yang Berbeda sebagai
Bioherbisida untuk Mengendalikan Bayam Duri (Amaranthus spinosus L.).
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Unsyiah, 1(1), pp. 168-175.

Djojosumarto, P., 2008. Pestisida dan Aplikasinya. Jakarta: PT. Agromedia Pustaka.

Moenadir, J., 1990. Pengantar Ilmu Pengendalian Gulma. Jakarta: Rajawali Press.

Polansky, S. & Guntoro, D., 2016. Pengendalian Gulma pada Tanaman Padi Sawah
dengan Menggunakan Herbisida Berbahan Aktif Campuran Bentazon dan
MCPA. Buletin Agrohorti, 4(1), pp. 122-131.

Umiyati & Denny, K., 2018. Pengendalian Gulma Umum dengan Herbisida
Campuran (Amonium Glufosinat 150 g/l dan Metil Metsulfuron 5 g/l) pada
Tanaman Kelapa Sawit TBM. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit, 26(1), pp. 29-
35.
DAFTAR NAMA ASISTEN
Dr. Murni Dwiati, M.Si.
Drs. Rochmatino, M.Si.
Eliningsih
Nina Nurussakinah