Anda di halaman 1dari 2

alam rangka penyamaan persepsi atas hasil penilaian oleh penilai public yang sering diuji dalam

proses penegakan hukum perkara tindak pidana korupsi, khususnya untuk menetukan adanya
kerugian negara, Kejaksaan Tinggi daerah Istimewa Yogyakarta bekerjasama dengan
Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI) serta Persatuan Jaksa Indonesia (PJI) Pengda
DIY menerima menyelenggarakan seminar dengan tema Penegakan Hukum Pengadaan Tanah
dan Pengelolaan Aset Negara Berdasarkan hasil Penilaian Penilai Publik.

Kajati DIY Erbagtyo Rohan, S.H., M.H. membuka acara Seminar Penegakan Hukum Pengadaan
Tanah dan Pengelolaan Aset Negara berdasarkan Hasil Penilaian Publik, Kamis (26/9/2019)
berlangsung di aula Kejaksaan Tinggi DIY. Seminar tersebut diselenggarakan atas kerjasama
Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI) dengan Persatuan Jaksa Indonesia (PJI)
Pengurus Daerah DIY, yang diikuti peserta berjumlah 225 orang terdiri dari para Jaksa
Kejaksaan Tinggi DIY, Penyidik Polda DIY dan Polres se- DIY, BPKP Perwakilan DIY, BPK DIY,
Kanwil BPN DIY dan Kab/Kota, Inspektorat Prov. DIY dan Inspektorat Kab/kota, serta Penilai
Publik.

Kajati dalam sambutannya menyampaikan bahwa dalam pelaksanaan fungsi penegakan hukum,
baik bersifat represif maupun preventif sering dihadapkan dengan hasil penilaian dari Kantor
Jasa Penilai Publik. Seperti besaran nilai ganti kerugian dalam pengadaan tanah untuk
kepentingan umum, nilai transaksi jaminan kredit bank, nilai aset barang milik negara/daerah
yang akan dihapuskan, sampai nilai sewa barang milik negara/daerah, bahkan sampai nilai surat
berharga sebagai salah satu dari penilaian publik. Kajati menambahkan, dalam kontek
penegakan hukum, khususnya dalam perkara tindak pidana korupsi, hasil penilaian dari Penilai
Publik sering diuji untuk menemukan ada tidaknya kerugian keuangan negara. Namun, sering
terjadi kegagalan dalam pembuktian adanya kerugian negara tersebut, karena ahli yang
melakukan review atas hasil penilaian dari Penilai Publik, bukan orang yang berkompeten, atau
review yang dilakukan tidak sesuai dengan Standar Penilaian yang digunakan oleh penilai
publik.

Sebelum pembukaan acara, disampaikan sambutan oleh Ketua Umum DPN MAPPI Ir. Okky
Danuza, M.Sc. yang menjelaskan profil MAPPI. Selanjutnya dilanjutkan pemaparan materi oleh
nara sumber dari Sekdirjen dengan materi Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk
Kepentingan Umum (UU No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan tanah Bagi Pembangunan
Untuk Kepentingan Umum), dan dilanjutkan pemaparan narasumber dari MAPPI dengan materi
Prosedur Penilaian untuk Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum dan Prosedur Penilaian
untuk Kepentingan Perbankan.

MEULABOH, UTU - Tim inti Akreditasi Perguruan Tinggi Universitas Teuku Umar
melaksanakan Workshop Penyusunan, Simulasi dan Penilaian Instrumen LKPT & LED
Akreditasi Perguruan Tinggi 3.0 bertempat di Hotel Kuala Radja, Banda Aceh, 8-10
November 2019. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka persiapan Akreditasi Perguruan
Tinggi UTU yang direncanakan akan mengusulkan pada akhir tahun 2019 ini.
Kegiatan ini diikuti 14 orang tim inti yang bertugas memgumpulkan, menyusun dan
menganalisis data-data yang diperlukan sesuai dengan instrument LKPT &
LED. Pembukaan acara dipimpin oleh Wakil Rektor II, Dr. Ishak Hasan, SE., M.Si. Dalam
kata sambutannya, beliau menghimbau agar tim yang sudah terbentuk berdasarkan
inisiatif Rektor ini dapat menjaga kekompakan dan melaksanakan tugas penyusunan
borang akreditasi perguruan tinggi dengan baik.
Selain itu, dalam menyusun borang, langkah-langkah atau roadmap yang dibuat haruslah
teratur dan terarah. Dan yang pasti, kekompakan bukan hanya untuk tim inti ini saja, tapi
pimpinan fakultas juga bisa turut serta dalam proses tersebut.
Kegiatan yang akan berlangsung selama tiga hari tersebut akan menghadirkan Dr. Ir.
Suherdrayatna sebagai pemateri utama. Sekretaris LP3M Unsyiah itu dianggap mumpuni
dalam bidang ini, beliau bersama tim worknya mampu meningkatkan APT Unsyiah dari C
menjadi A.
Herdi Susanto, ST., MT, salah satu peserta yang juga Ketua P2M UTU menyampaikan
kegiatan ini dilaksanakan sebagai persiapan Akreditasi Perguruan Tinggi (APT) UTU yang
direncanakan akan mengusulkan APT UTU pada akhir tahun 2019. Lebih lanjut Herdi
menjelaskan Instrumen APT 3.0 berorientasi pada output dan outcome dan terdiri dari 2
bagian yaitu: 1) Laporan Laporan Kinerja Perguruan Tinggi (LKPT) dan Laporan Evaluasi
Diri Perguruan Tinggi (LED). LKPT berisi data kuantitatif yang secara bertahap akan
diambil dari Pangakalan Data Pendidikan Tinggi (PD-Dikti) yang memuat capaian
indikator kinerja perguruan tinggi. Indikator ini disusun BAN-PT secara khusus dengan
mempertimbangkan kekhasan perguruan tinggi tersebut.