Anda di halaman 1dari 25

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Peranan pendidikan semakin penting untuk menghasilkan sumberdaya

manusia yang berkualitas dan meningkatkan mutu pendidikan dan belejar

siswa. Pendidikan Nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang – undang

Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan

kemampuan dan mkembentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat

dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk

mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman

dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklhak mulia, sehat, berilmu,

cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara demokratis serta

bertanggung jawab ( Permendiknas, No. 22 Tahun 2006 ).

Dalam upaya peningkatan kualitas sekolah, tenaga kependidikan

sangat diharapkan berperan sebagaimana mestinya dan sebagai tenaga

kependidikan yang berkualitas. Tenaga pendidik atau guru yang berkualitas

adalah tenaga pendidik atau guru yang sanggup dan terampil dalam

melaksanakan tugasnya.

Pada dasarnya, fungsi atau peranan penting guru dalam proses belajar

mengajar ialah sebagai “director of learning“ (direktur belajar). Artinya,

setiap guru diharapkan untuk pandai - pandai mengarahkan kegiatan belajar

siswa agar mencapai keberhasilan belajar (kinerja akademik) sebagaimana


yang telah ditetapkan dalam sasaran kegiatan proses belajar mengajar. Dengan

demikian, semakin jelaslah bahwa peranan guru dalam dunia pendidikan

modern seperti sekarang ini semakin meningkat dari sekadar pengajar menjadi

direktur belajar.( Muhibbin, 2008 : 250 ).

Seorang guru disampingharus menguasai berbagai metode

pembelajaran dia harus juga menguasai tehnik dan strategi agar metode yang

telah dikuasainya itu bisa diterapkan dengan tepat dalam suatu pembelajaran.

Karena begitu pentingnya suatu pembelajaran bagi anak didik dalam

kehidupannya maka menjadi penting pulalah agar proses pembelajaran itu bisa

berjalan dengan lancar, efektif, dan efisien. Kegiatan belajar mengajar atau

pembelajaran tidak lain adalah untuk menanamkan sejumlah norma komponen

kedalam jiwa anak didik. Semua norma yang diyakini mengandung kebaikan

yang perlu ditanamkan kedalam jiwa anak didik melalui peran guru dalam

pembelajaran.

Dalam proses belajar mengajar pemilihan metode merupakan hal

sangat penting agar proses belajar mengajar dapat efektif dan efisien, maka

seorang guru harus dapat menentukan metode mengajar yang tepat sesuai

dengan konsep atau materi pembelajaran yang akan diajarkan.

Menurut pengamatan peneliti, lemahnya pendidikan tentang hadist

kebersihan adalah lebih disebabkan karena timbul dari guru, selama ini guru

dalam proses belajar mengajar belum menggunakan metode yang sesuai

dengan materi pelajaran khususnya pelajaran Hadist Kebersihan . Kondisi

tersebut juga terjadi di SMP Negeri 2 Karangrejo. Perhatian terhadap pelajaran


dan prestasi belajar masih jauh dari yang diharapkan. Sehingga menjadi

dorongan peneliti untuk melaksanakan penelitian, dengan menggunakan

metode sosiodrama, dalam menyampaikan materi supaya dapat meningkatkan

prestasi belajar tentang Hadist Kebersihan. Dengan harapan dapat

meningkatkan mutu pembelajaran, khususnya pelajaran Hadist Kebersihan dan

umumnya pada pelajaran yang lain. Dan peneliti mengambil judul “Upaya

Meningkatkan Belajar Pendidikan Agama Islam Pokok Bahasan Hadist

Tentang Kebersihan Dengan Metode Sosiodrama Pada Siswa Kelas IX F

SMPN 2 Karangrejo Tulungagung Semester II Tahun Ajaran 2010 / 2011.”

B. Rumusan Masalah

Sebagai upaya meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran

Pendidikan Agama Islam pokok Bahasan Hadist Kebersihan di Kelas IX F

Semester II SMP Negeri 2 Karangrejo Tuluangagung Tahun Pelajaran 2010 /

2011 dengan amenggunakan metode sosiodrama dengan rumusan masalah

sebagai berikut :

1. Apakah penerapan metode sosiodrama dapat meningkatkan prestasi belajar

siswa pada pokok bahasan Hadist Kebersihan di kelas IX F SMP Negeri 2

Karangrejo Tulungagung Tahun Pelajaran 2010/ 2011 ?

2. Apakah penerapan metode sosiodrama dapat meningkatkan keaktifan

siswa?
C. Tujuan Penelitian

Penelitian tindakan kelas yang akan dilaksanakan ini mempunyai tujuan untuk

meningkatkan prestasi belajar siswa dan keaktifan siswa pada pembelajaran

Hadist pada siswa kelas IX semester 2 SMP negeri 2 Karangrejo Tulungagung

Tahun Pelajaran 2010/ 2011.

D. Manfaat Penelitian Tindakan

Adapun beberapa manfaat yang diharapkan pada penelitian ini diantaranya

adalah :

1. Bagi Sekolah

a. Sebagai salah satu usaha meningkatkan kualitas pembelajaran pada

mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, dengan harapan jika kualitas

pembelajaran baik maka prestasi belajarnya juga baik.

b. Sebagai salah satu rujukan untuk mengetahui sedikit gambaran

pelaksanaan pembelajaran yang terjadi di SMP Negeri 2 Karangrejo,

yang nantinya bisa dijadikan sebagai pertimbangan untuk menentukan

kebijakan demi kemajuan sekolah yang lebih baik.

2. Bagi Guru

a. Sebagai motivasi untuk meningkatkan keterampilan dalam memilih

menentukan dan menggunakan strategi pembelajaran yang sesuai

dengan aspek yang ada.

b. Sebagai informasi bagi semua tenaga pendidik mengenai metode

sosiodrama.
3. Bagi siswa

a. Dapat meningkatkan prestasi peserta didik pada mata pelajaran

Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 Karangrejo Tulungagung.

b. Meningkatkan motivasi dan keaktifan peserta didik dalam proses

pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri

2 Karangrejo Tulungagung.

4. Bagi peneliti

a. Untuk mendapatkan bukti hasil pembelajaran pada mata pelajaran

Hadist di kelas IX F SMP Negeri 2 Karangrejo dengan menggunakan

metode sosiodrama

b. Menambah pengalaman dan wawasan keilmuan yang nantinya dapat

bermanfaat demi memperbaiki kualitas kelimuannya.


BAB II

LANDASAN TEORI

A. Belajar

1. Pengertian Belajar

Banyak aktivitas yang tergolong kegiatan belajar. Hal ini karena

belajar merupakan aktivitas yang sangat luas, universal, tidak mengenal

tempat dan waktu. Aktivitas belajar bisa jadi di mana saja, kapan saja dan

oleh siapa saja. Kita mengenal pepatah long life education, atau ajaran

islam mengungkapkan bahwa belajar terjadi sejak dalam buaian ibu hingga

ke liang lahat. Aktivitas yang termasuk belajar sudah diawali sejak lahir ke

dunia. Belajar tidak hanya milik anak sekolah, pelajar atau mahasiswa,

tetapi milik semua orang. Bayi, orang dewasa dan orang lanjut usia akan

melakukan aktivitas yang tergolong aktivitas belajar.

Pegertian belajar sudah banyak dikemukakan dalam perpustakaan.

Karena luasnya kupasan masalah belajar, maka tidak mudah, ketika

ditanyakanapa itu belajar. Setiap orang akan memberikan pengertian yang

berbeda - beda tergantung dari aspek mana meninjau masalah belajar. Ada

yang menitik beratkan pada belajar, ada yang menekankan proses, ada pula

yang cenderung pada produk belajar itu sendiri ( Ngalim, 1997 : 84 )

2. Faktor – faktor yang mempengaruhi belajar

Telah dikatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang menimbulkan

terjadinya suatu perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku dan


kecakapan. Sampai dimanakah perubahan itu dapat tercapai, atau dengan

kata lain berhasil baik atau tidaknya belajar itu tergantung bermacam -

macam faktor. Adapun faktor -faktor itu, dapat kita bedakan menjadi dua

golongan yaitu :

a. Faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang kita sebut faktor

individual, antara lain :

1. Faktor kematangan atau pertumbuhan

Belajar sesuatu baru dapat berhail jika taraf pertumbuhan pribadi

telah memungkinkannya, potensi - potensi jasmani atau rohaninya

telah matang untuk itu.

2. Faktor kecerdasan / intelegensi

Disamping kematangan, dapat tidaknya seseorang mempelajari

sesuatu dengan berhasil baik ditentukan atau dipengaruhi pula oleh

taraf kecerdasannya. Kenyataan menunjukkan kepada kita,

meskipun anak yang berumur 14 tahun ke atas pada umumnya

telah matang untuk belajar ilmu pasti,tetapi tidak semua anak-anak

tersebut pandai dalam ilmu pasti. Jadi jelaslah kiranya bahwa

dalam belajar kecuali kematangan, intelijensi pun turut memegang

peranan.

3. Faktor Latihan dan Ulangan

Karena terlatih, karena serigkali mengulangi sesuatu, maka

kecakapan dan pengetahuan yang dimilikinya dapat menjadi

dikuasai dan makin mendalam. Sebaliknya tanpa latihan


pengalaman - pengalaman yang telah dimilikinya dapat menjadi

hilang dan berkurang.

4. Faktor Motivasi

Motivasi merupakan pendorong bagi suatu organisme untuk

melakukan sesuatu. Tak mungkin seseorang mau berusaha

mempelajari sesuatu dengan sebaik- baiknya, jika ia tidak

mengetahui betapa penting dan faedahnya hasil yang akan dicapai

dari belajarnya itu bagi dirinya.

5. Faktor Pribadi

Tiap - tiap orang mempunyai sifat - sifat kepribadian masing -

masing, yang berbeda antara seseorang dengan yang lain. Ada

orang yang mempunyai sifat keras hati, berkemauan keras, tekun

dalam segala usahanya, halus perasaan dan ada pula yang

sebaliknya. Sifa - sifat kepribadian yang ada pada seseorang itu

sedikit banyaknya turut mempengaruhi sampai di manakah hasil

belajar dapat dicapai. Termasuk ke dalam sifat - sifat kepribadian

ini ialah faktor kesehatan dan kondisi badan. ( Ngalim, 1997 : 102 )

b. Faktor – faktor yang ada diluar individu yang kita sebut faktor sosial,

antara lain :

1. Faktor keluarga atau keadaan rumah tangga

Ada keluarga yang miskin, ada pula yang kaya. Ada

keluarga yang selalu diliputi oleh suasana tentram dan damai,

tetapi ada pula yang sebaliknya, ada keluarga yang terdiri dari
ayah, ibu yang terpelajar dan ada pula yang kurang pengetahuan.

Ada keluarga yang mempunyai cita - cita tinggi bagi anak -

anaknya, ada pula yang biasa saja. Suasana dan keadaan keluarga

yang bermacam - macam itu mau tidak mau turut menentukan

bagaimana dan sampai dimana belajar dialami dan dicapai oleh

anak - anak. Termasuk dalam keluarga ini, ada tidaknya atau

tersedia tidaknya fasilitas - fasilitas yang diperlukan dalam belajar

turut memegang peranan penting pula

2. Guru dan cara mengajar

Terutama dalam belajar di sekolah, faktor guru dan cara

mengajarnya merupakan faktor yang penting pula. Bagaimana

sikap dan kepribadian guru, tinggi rendahnya pengetahuan yang

dimiliki guru, dan bagaimana cara guru itu mengajarkan

pengetahuan itu kepada anak - anak didiknya, turut menentukan

bagaimana hasil belajar yang dapat dicapai anak.

3. Alat – alat yang dipergunakan dalam belajar mengajar

Sekolah yang cukup memiliki alat - ,alat dan perlengkapan yang

diperlukan untuk belajar, dan kecakapan guru dalam mempercepat

belajar anak - anak

4. Lingkungan dan kesempatan yang tersedia

Bersekolah di suatu sekolah yang keadaan guru - gurunya dan alat

- alatnya baik, belum tentu pula dapat belajar dengan baik. Masih

ada faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya.


Umpamanya karena jarak antara rumah dan sekolah itu terlalu

jauh, memerlukan kendaraan yang cukup lama sehingga

melelahkan. Atau akibat tidak adanya kesempatan yang

disebabkan oleh sibuknya pekerjaan setiap pengaruh lingkungan

yang buruk dan negatif serta faktor - faktor lain yang terjadi di

luar kemampuannya

5. Motivasi sosial

Jika guru atau orang tua dapat memberikan motivasi yang baik

pada anak - anak, timbulah dalam diri anak itu dorongan dan

hasrat untuk belajar lebih baik. Anak dapat menyadari apa

gunanya belajar dan apa tujuan yang hendak dicapai dengan

pelajaran itu, jika diberi perangsang, diberi motivasi yang baik

sesuai. Motivasi sosial dapat pula timbul pada anak dari orang -

orang lain di sekitarnya, seperti dari orang - orang tetangga, sanak

saudara yang berdekatan dengan anak - anak itu, teman - teman

sepermainan dan sesekolahnya.

B. Prestasi Belajar

1. Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan,

yang menyenangkan hati, yang memperoleh dengan jalan keuletan kerja,

baik secara individu maupun kelompok dalam bidang tertentu (Djamarah,

1994 : 19 -21 ).
2. Faktor – faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

Faktor – faktor yang mempengaruhi prestasi belajar banyak

jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua , yaitu :

a. Faktor internal, yaitu faktor yang ada dala diri individu yang sedang

belajar, faktor internal terdiri dari ( a ) faktor jasmaniah yaitu

kesehatan dan cacat tubuh, ( b ) faktor psikologis yaitu integensi,

perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kesiapan, ( c ) faktor

kelelahan.

b. Faktor eksternal, yaitu faktor dari luar individu. Faktor eksternal

terdiri dari ( a ) faktor keluarga yaitu cara orang tua mendidik,

relasi antara anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi

keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan,

( b ) faktor sekolah yaitu metode pengajaran guru, kurikulum, relasi

guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin dekolah, alat

pelajaran, waktu sekolah, standar belajar diatas ukuran, keadaan

gedung, metode belajar dan tugas rumah, ( c ) faktor masyarakat

yaitu kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul,

dan bentuk kehidupan masyarakat. ( Slameto, 2003 : 54 – 72 ).

C. Mata Pelajaran Hadist Kebersihan

1. Pokok Bahasan Mata pelajaran Hadist Kebersihan

Tujuan seseorang dalam menjaga kebersihan adalah untuk

memelihara diri dan lingkungannya dari segala yang kotor supaya dapat
melestarikan kehidupan yang sehat dan nyaman. Kebersihan adalah syarat

bagi terwujudnya kesehatan, sedangkan kesehatan merupakan salah satu

faktor penunjang kebahagiaan. Sebaliknya kotor tidak saja merusak

keindahan, tetapi juga dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit.

Sakit pada gilirannya akan menyebabkan penderitaan.

Berperilaku bersih dalam kehidupan sehari – hari wajib dilakukan

karena kebersihan sebagai syariat ibadah. Kebiasaan hidup bersih harus

dibiasakan dalam kehidupan seharti – hari, karena Rasulluloh telah

menunjukkan kebiasaan yang seharusnya dijalankan oleh setiap manusia

agar tubuhnya bersih. Selain itu islam juga mengajarkan umatnya menjaga

kebersihan makanan dan minuman. Islam melarang umatnya

mengkonsumsi makanan dan minuman yang najis dan kotor. Umat Islam

diperintahkan untutk mengkonsumsi makanan yang bersih. Kebersihan

harta juga disinggung oleh ajaran Islam. Harta harus diperoleh dengan cara

yang baik dan halal. Islam melarang umatnya memperoleh dengan cara

yang baik dan halal. Islam melarang umatnya memperoleh harta dengan

cara yang tidak bersih atau tidak halal, misalnya melalui mencuri, riba,

merampok, dan korupsi. Setelah harta diperoleh dengan cara yang baik,

Islam mengajarkan agar mengeluarkan zakat dari harta tersebut. Zakat

merupakan cara penyucian atau pembersihan harta. Cara lain untuk

membersihkan harta adalah melalui sedekah, infak, dan wakaf. Cara

menjaga kebersihan dimulai dari lingkungan rumah dan sekolah, misalnya

dirumah dengan cara membersihkan kamar mandi, menyapu lantai,dll.


2. Karakteristik Mata pelajaran Hadist Kebersihan

Setiap mata pelajaran karakteristik tertentu yang dapat membedakan

dengan mata pelajaran yang lain. Adapun karakteristik mata pelajaran

Hadist Kebersihan adalah sebagai berikut :

a. Pokok Bahasan tentang Hadits Kebersihan merupakan bagian dari

materi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang dikembangkan

dari ajaran – ajaran yang terdapat dalam Agama Islam yang bersumber

dari Al Qur’an dan Hadits.

b. Pokok Bahasan tentang hadits Kebersihan merupakan satu rumpun

mata pelajaran pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah

Pertama yang secara intregratif menjadi sumber nilai landasan moral

spriritual yang kokoh dalam pengembangan keilmuan dan kajian

keislaman termasuk dengan ilmu dan teknologi serta seni budaya.

c. Pokok bahasan tentang hadits kebersihan dapat mengantarkan siswa

mengamlakan hadits kebersihan dalam kehidupan sehari – hari

Struktur mata pelajaran hadits kebersihan dalam Pendidikan

Agama Islam dapat dilihat pada gambar peta konsep berikut :


Hadist tentang kebersihan

Membaca dan mengartikan Membaca dan mengartikan


hadis teentang kebersihan hadis teentang kebersihan

Orang yang menjaga Orang yang menjaga


kebersihan dicintai Allah kebersihan dicintai Allah

Orang yang menjaga Orang yang menjaga


kebersihan dicintai Allah kebersihan dicintai Allah

Orang yang menjaga Orang yang menjaga


kebersihan dicintai Allah kebersihan dicintai Allah

Gambar 2.1. Struktur Mata Pelajaran Hadits Kebersihan

D. Metode Pembelajaran

1. Pengertian Metode Pembelajaran

Metode secara singkat dikatakan sebagai cara mencapai tujuan.

Purwadaminta ndalam Kamus Umum Bahasa Indonesia mengartikan

bahwa metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan

pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan tertentu.

Metode merupakan cara, teknik yang digunakan guru dalam

menyampaikan pelajaran. Metode bisa menyangkut pendekatan dan


strategi yang digunakan untuk menyampaikan materi yang mendukung

tujuan pengajaran serta mampu memobilisasi anak didik ( Sriyanti, 2003 :

16 ). Metode mengajar adalah suatu mcara / jalan yang harus dilalui

didalam mengajar. Mengajar adalah menyampaikan bahan pelajaran oleh

orang kepada orang lain agar orang lain itu menerima, menguasai dan

mengembangkannya ( Slameto, 2003 : 65 ). Sedangkan pengajaran atau

pembelajaran merupakan sarana untuk memungkinkan terjadinya proses

belajar dalam arti perubahan perilaku individu melalui proses mengalami

suatu yang diciptakan dalam rancangan proses pembelajaran ( Saparudin,

2007 : 4 ).

2. Metode Sosiodrama

Sosiodrama berasal dari kata : sosio dan drama. Sosio berarti sosial yaitu

masyarakat, dan drama berarti mempertunjukkan, mempertontonkan atau

memperlihatkan. Sosial atau masyarakat terdiri dari manusia yang satu

sama lain terjalin hubungan yang dikatakan hubungan sosial. Drama

dalam pengertian luas adalah mempertunjukkan atau mempertontonkan

keadaan atau peristiwa - peristiwa yang dialami orang, sifat dan tingkah

laku orang ( Mansyur, 1997 : 154 ). Metode sosiodrama ialah cara

mengajar yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk

melakukan kegiatan memainkan peranan tertentu yang terdapat dalam

kehidupan masyarakat (kehidupan sosial). ( Djamarah, 2000 : 200 ).

Metode sosiodrama adalah juga semacam drama atau sandiwara akan


tetapi tidak dipersiapkan naskahnya lebih dahulu, tapi dilaksanakan

seperti sandiwara dipanggung tujuan :

a. Agar anak didik mendapatkan keterampilan sosial sehingga diharapkan

nantinya tidak canggung menghadapi sosial dalam kehidupan sehari -

hari.

b. Menghilangkan perasaan -perasaan malu dan rendah diri yang tidak

pada tempatnya, maka ia dilatih melalui temannya sendiri untuk berani

berperan dalam sesuatu hal. Hal ini disebabkan karena memang ada

anak didik yang disuruh ke depan kelas saja tidak berani apalagi

berbuat sesuatu seperti bicara didepan orang dan sebagainya.

c. Mendidik dan mengembangkan kemampuan untuk mengemukakan

pendapat didepan teman sendiri atau orang lain.

d. Membiasakan diri untuk sanggup menerima dan menghargai pendapat

orang lain. ( Djaradjat, 1984 : 301 ).

3. Kelebihan Metode sosiodrama

Metode sosiodrama mempunyai kelebihan – kelebihan antara lain adalah :

a. Siswa melatih dirinya untuk melatih, memahami dan mengingat isi

bahan yang akan didramakan

b. Siswa akan berinisiatif dan berkreatif

c. Bakat yang terdapat pada siswa akan dipupuk sehingga dimungkinkan

akan muncul atau tumbuh bibit seni drama dari sekolah

d. Kerjasama anatar pemain dapat ditumbuhkan dan terbina sebaik –

baiknya.
e. Siswa menerima kebiasaan untuk menerima dan membagi

tanggungjawab dengan sesamanya

f. Bahasa lisan siswa dapat dibina meenjadi bahasa yang baik agar

mudah dipahami orang lain.

4. Kelemahan Metode sosiodrama

Metode sosiodrama mempunyai kelemahan antara lain :

a. Sebagian besar anak yang tidak ikut bermain drama mereka menjadi

kurang aktif

b. Banyak memakan waktu, baik waktu persiapan dalam rangka

pemahaman isi bahan pelajaran maupun pada pelaksanaan pertunjukan

c. Memerlukan tempat yang cukup luas, jika tempatnya bermain sempit.

E. Hipotesis Tindakan

Hipotesis tindakan merupakan dugaan atau jawaban sementara

terhadap permasalahan yang diajukan dalam penelitian. Suatu penelitian

diperlukan suatu prediksi mengenai jawaban terhadap pertanyaan penelitian

yang dirumuskan dalam bentuk hipotesis penelitian. Dalam penelitian ini

dirumuskan hipotesis tindakan yaitu melalui metode Sosiodrama dapat

meningkatkan prestasi belajar siswa kelas IX F SMP Negeri 2 Karangrejo

Tulungagung Semester II Tahun Pelajaran 2010 / 2011 mata pelajaran

Pendidikan Agama Islam.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Definisi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat diambil dari pendapat

beberapa tokoh yang berkompeten dalam penelitian. Hal itu perlu dilakukan

agar pemahaman tentang PTK tidak menyimpang. Banyak tokoh yang telah

memberikan definisi PTK, salah satunya dikemukakan Hopkins yang dikutip

oleh Kumandar menyatakan bahwa PTK adalah penelitian yang dilakukan

untuk membantu seseorang dalam situasi darurat dan membantu pencapaian

tujuan ilmu sosial dengan kerja sama dalam kerangka etika yang disepakati

bersama ( Kunandar, 2010 : 46 ). PTK juga diartikan sebagai suatu penelitian

yang dilakukan secara reflektif terhadap berbagai tindakan yang

dilakukanoleh guru yang sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu

perencanaan sampai tindakan di dalam kelas ( Sabyantoro, 2009 : 10 ).

Wardani, dkk (2007: 1.3) mengatakan bahwa penelitian tindakan kelas

merupakan terjemahan dari Classroom Action Research, yaitu satu Action

Research yang dilakukan di kelas. Penelitian ini dilakukan melalui proses

kerja kolaborasi dengan pihak lain seperti guru, siswa dan pihak sekolah yang

lain untuk menciptakan kinerja sekolah yang lebih baik


B. Setting Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Karangrejo Tulungagung,

Subjek penelitian adalah siswa kelas IX F Siswa SMP Negeri 2 Karangrejo

Tulungagung sebanyak 40 siswa (1 kelas).

C. Prosedur Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas.

Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan

yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas (Arikunto,

2006:19).

Ada beberapa ahli yang mengemukakan model penelitian tindakan

dengan bagan yang berbeda, namun secara garis besar terdapat empat tahapan

yang lazim dilalui, yaitu 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) pengamatan, dan

4) refleksi. Menurut Suharsimi (2008: 16) Adapun model dan penjelasan

untuk masing-masing tahapan adalah sebagai berikut.


Perencanaan

Refleksi SIKLUS I Pelaksanaan

Pengamatan

Perencanaan

Refleksi SIKLUS II Pelaksanaan

Perencanaan

Gambar 3.1 Siklus Tahapan Penelitian Tindakan Kelas

Untuk siklus II dalam penelitian tindakan ini direncanakan berdasarkan

hasil refleksi dari siklus I, sehingga masing-masing siklus saling keterkaitan.

Siklus II merupakan modifikasi dari siklus I. Hal ini dilakukan dengan tujuan

untuk mendapatkan hasil yang lebih baik sehingga indikator keberhasilan yang

telah ditetapkan dapat tercapai. Dengan kata lain kekurangan atau kelemahan

yang ditemui pada siklus I dijadikan sebagai bahan perencanaan untuk

perbaikan pada siklus selanjutnya. Begitupula selanjutnya, apabila pada siklus

II masih terdapat kekurangan dan masih mungkin untuk dilakukan perbaikan

maka akan dilanjutkan pada siklus III.


Uraian tahapan tindakan setiap siklus, sebagai berikut:

1. Tahapan Perencanaan (planning) adalah merencanakan program tindakan

yang akan dilakukan untuk meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan

Agama Islam

2. Tahapan Tindakan (acting) adalah pembelajaran yang dilakukan peneliti

sebagai upaya meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam

3. Tahapan Pengamatan (observing) adalah pengamatan terhadap siswa

selama pembelajaran berlangsung.

4. Tahapan Refleksi (reflection) adalah kegiatan mengkaji dan

mempertimbangkan hasil yang diperoleh dari pengamatan sehingga dapat

dilakukan revisi terhadap proses pembelajaran selanjutnya.

D. Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data merupakan cara yang digunakan peneliti

dalam mengumpulkan data penelitiannya ( Arikunto, 1999: 151). Lebih lanjut

dikatakan bahwa untuk memperoleh data-data yang diinginkan sesuai dengan

tujuan peneliti sebagai bagian dari langkah pengumpulan data merupakan

langkah yang sukar karena data yang salah akan menyebabkan kesimpulan

yang ditarik akan salah juga (Arikunto, 1999: 21).

Agar terhindar dari kesalahan ini, peneliti berupaya untuk mengkaji

secara mendalam terhadap berbagai persoalan yang berkaitan erat dengan

metode pengumpulan data. Pemilihan metode penelitian ini dipengaruhi oleh

beberapa faktor, seperti: obyek penelitian, tujuan penelitian, sampel penelitian,


lokasi, sumber data, waktu dan dana yang tersedia, jumlah tenaga peneliti dan

teknik analisis data yang digunakan.

Adapun data dalam penelitian ini adalah data tentang :

1. Data tentang hasil prestasi belajar Pendidikan Agama Islam pokok

bahasan Hadits Kebersihan yang didapatkan dari hasil tugas setiap akhir

pembelajaran selesai (akhir siklus) dengan tujuan untuk mengetahui

efektifitas dari pembelajaran yang telah dilakukan.

2. Data tentang penggunaan model pembelajaran, yaitu data tentang aktivitas

siswa dan aktivitas guru dalam pembelajaran yang nantinya diperoleh

melalui lembar observasi.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian disusun bertujuan untuk pengumpulan data

selama pelaksanaan tindakan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini

adalah lembar observasi.Observasi merupakan teknik pengumpulan data

dengan cara mengadakan pengamatan secara langsung terhadap objek yang

akan diteliti. Observasi dalam penelitian ini ditujukan untuk memperoleh data

mengenai aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran, sesuai

dengan indikator-indikator pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

F. Teknik Analisis Data

Untuk mengetahui keefektifan suatu metode dalam kegiatan

pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan


teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat

menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh

dengan tujuan untuk mengetahui hasil prestasi belajar Pendidikan Agama

Islam pokok Bahasan Hadits Kebersihan yang dicapai siswa juga untuk

memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas

siswa selama proses pembelajaran.

Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan

siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara

memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran.

Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana

yaitu:

1. Untuk menilai hasil belajar bahasa Indonesia siswa

Dengan:

= Nilai rata-rata

X = Jumlah semua nilai siswa

N = Jumlah siswa

2. Untuk lembar observasi

a. Lembar observasi aktivitas guru dan siswa

Untuk menghitung lembar observasi aktivitas guru dan siswa

digunakan rumus sebagai berikut.


Perhitungan

Dengan:

= Nilai rata-rata Kategori

X = Jumlah Skor Pengamatan

N = Jumlah Item yang diamati


http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/128/jtptiain-gdl-

rubiyanto0-6351-1-fileskr-o.pdf

http://www.scribd.com/doc/28442066/PTK-PAI-SMP

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA

ISLAM POKOK BAHASAN HADIST TENTANG KEBERSIHAN DENGAN

METODE SOSIODRAMA PADA SISWA KELAS IX F SMPN 2

KARANGREJO SEMESTER II TAHUN AJARAN 2010 / 2011