Anda di halaman 1dari 17

TUGAS MAKALAH AGAMA

“PANDANGAN ISLAM TERHADAP BEDAH PLASTIK”

DI SUSUN :
1. SHAMSUL
2. SITI MASYITA
3. SITI NURKHOLIFAH
4. SRI MULYA ELNI NANINGSIH
5. SRI RAHAYU PUSPITA
6. SUCI RAHMAWATI
7. VERMI
8. WILDAYANTI

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KENDARI
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2017
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala
limpahan rahmat dan hidayah-Nya. Sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini sebagai tugas mata kuliah Agama.
Dalam penyusunan makalah yang berjudul “Pandangan Islam Terhadap
Bedah Plastik” ini, kami telah menyusun makalah ini dengan sebaik-baiknya dan
semaksimal mungkin. Namun tentunya sebagai manusia biasa tidak luput dari
kesalahan dan kekurangan. Harapan kami, semoga bisa menjadi koreksi di masa
mendatang agar lebih baik lagi dari sebelumnya.
Tak lupa ucapan terima kasih kami sampaikan kepada selaku dosen
Agama kami, atas bimbingan, dorongan dan ilmu yang telah diberikan kepada
kami. Sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya dan insya-Allah sesuai yang kami harapkan. Dan kami ucapkan
terimakasih pula kepada rekan-rekan dan semua pihak yang terkait dalam
penyusunan makalah ini.
Mudah-mudahan makalah ini bisa memberikan Manfaat dan pengetahuan
bagi kita semuanya. Amin.

Kendari 15 Desember 2017

Penyusun
Daftar Isi

Halaman
Judul................................................................................................................i
Kata Pengantar............................................................................................... ii
Daftar Isi.........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang……………………………………………………………….1
1.3 Rumusan Masalah…………………………………………………………….1
1.4 Tujuan…………………………......................................................................1

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Bedah Plastik…………………….………...............................2
2.2 Jenis-jenis Bedah Plastik..............................................................................2
2.3 Bedah Plastik Menurut Hukum Islam……………...…………....................3
Bab III PENUTUP
3.1 Kesimpulan........................................................................................................8
3.2 Saran..................................................................................................................8
Daftar Pustaka......................................................................................................9
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Di dalam masyarakat modern seperti di barat, kebutuhan dan aspirasi


masyarakat menempati kedudukan yang tinggi, sehingga berdasarkan itu, suatu
produk hukum yang baru dibuat. Dari sini dapat digambarkan bahwa apabila
terjadi pergeseran nilai dalam masyarakat, maka interpretasi terhadap hukum pun
bisa berubah.

Masalah operasi plastik telah lama dipertimbangkan oleh kalangan kedokteran


dan para praktisi hukum di negara-negara barat. dan pandangan masyarakat
tentang bedah plastik berorientasi hanya pada masalah kecantikan (estetik), seperti
sedot lemak, memancungkan hidung, mengencangkan muka, dan lain sebagainya.
Sesungguhnya, ruang lingkup bedah plastik sangatlah luas. Tidak hanya masalah
estetika, tetapi juga rekonstruksi, seperti pada kasus-kasus luka bakar, trauma
wajah pada kasus kecelakaan, cacat bawaan lahir (congenital), seperti bibir
sumbing, kelainan pada alat kelamin, serta kelainan congenital lainnya. Namun
bukan berarti nilai estetika tak diperhatikan.

1.2 Rumusan Masalah


A. Pengertian Bedah Plastik ?
B. Jenis –Jenis Bedah Plastik?
C.Hukum Bedah Plastik ?
1.3 Tujuan

A. Tujuan Umum : Tujuan Umum Meningkatkan pemahaman dan pengetahuan


mahasiswa terhadap Bedah Plastik khususnya pandangan agama terhadap
tindakan bedah plastik.Hal ini menjadi salah satu tanggung jawab bidan
apabila sudah terjun dalam masyarakat sehingga bisa memberikan pelayanan
kesehatan dan pemberitahuan tentang bedah plastik menurut pandangan agama
khususnya sesuai dengan syariat islam demi tercapai muslimat yang baik dan
benar.
B .Tujuan Khusus :
a) Agar mahasiswa mampu mengetahui pengertian Bedah Plastik
b) Agar mahasiswa mampu mengetahui Macam-macam Bedah Plastik
c) Agar mahasiswa mengetahui Pandangan Agama terhadap Bedah Plastik
di indonesia.
d) Agar mahasiswa mampu mengidentifikasi tindakan Bedah Plastik yang
sesuai dengan syariat Agama Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
1.1 Pengertian Bedah Plastik
Bedah plastik adalah suatu cabang ilmu kedokteran yang bertujuan untuk
merekonstruksi atau memperbaiki bagian tubuh manusia melalui operasi
kedokteran. Operasi plastik atau dikenal dengan “Plastic Surgery” atau dalam
bahasa arab “Jirahah Tajmil” adalah bedah/operasi yang dilakukan untuk
mempercantik atau memperbaiki satu bagian didalam anggota badan, baik yang
nampak atau tidak, dengan cara ditambah, dikurangi atau dibuang, bertujuan
untuk memperbaiki fungsi dan estetika (seni) tubuh. Bedah plastik berasal dari
kata Yunani Platikos yang berarti “membentuk”.

Pengklasifikasian operasi plastik adalah :


1) Mengobati cacat fisik (bersifat rekonstruktif), seperti disebabkan perang atau
kecelakaan lainnya yang bertujuan mengobati.
2) Memperindah apa yang telah ada (bersifat kosmetik), sebagai usaha mencari
kepuasan tersendiri dan menambah apa yang telah dikodratkan dan tujuannnya
adalah agar nampak “lebih muda”.

Semua jenis operasi yang dilakukan dibagian tubuh tidak disebut operasi
plastik walaupun operasi plastik itu bagian dari operasi. Operasi plastik adalah
bagian dari operasi lainnya. Dan operasi yang kebanyakan dilakukan di dalam
ilmu kedokteran adalah operasi medis saja. Dan operasi plastik ini juga hanya
terjadi sebelum meninggal. Pembedahan pada jasad yang sudah meninggal itu
sendiri dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian:
a) Pembedahan karena tindak kriminal atau lebih dikenal dengan nama
otopsi. Yang dilakukan pada tubuh seseorang yang sudah meninggal dan
tidak mungkin mengetahui sebab-sebab meninggalnya kecuali melalui
proses otopsi tersebut.
b) Pembedahan yang dilakukan sebagai proses pembelajaran. Yaitu yang
berlangsung di fakultas-fakultas kedokteran dan bertujuan untuk memberi
pemahaman terhadap mahasiswa tentang organ manusia dan lainnya yang
berkaitan dengan tubuh manusia.
c) Pembedahan yang dilakukan untuk mengetahui penyakit yang diderita
seorang pasien dimana penyakit tersebut adalah penyakit yang baru dan
belum diketahui sebab-sebabnya.
1.2 Jenis- jenis Bedah Plastik
A. Operasi Ghairu Ikhtiyariyah
Yaitu suatu operasi yang bertujuan untuk mengobati penyakit yang
terjadi tanpa kekuasaan seseorang di dalam penyakit tersebut. Apakah
penyakit yang telah ada ketika seseorang baru lahir seperti bergabungnya
jari tangan atau kaki, bibir sumbing, tertutupnya lubang yang terbuka
(hidung atau telinga,dll) dan berbagai jenis penyakit lainnya yang terjadi
tanpa dikehendaki. Operasi jenis ini hanya bertujuan untuk mengobati
penyakitdan pada nantinya akan menghasilkan keindahan pada orang yang
telah diobati. Dan keindahan itu hanya sebagai efek dari operasi.

B. Operasi Ikhtiyariyah (yang sengaja dilakukan)


Yaitu operasi yang dilakukan bukan karena alasan medis, namun mutlak
hanya hasrat seseorang dalam memperindah diri dan berlebih –lebihan
didalam menafsirkan kata-kata indah itu. Mengobati cacat fisik (bersifat
rekonstruktif), seperti disebabkan perang atau kecelakaan lainnya yang
bertujuan mengobati. Operasi model ini terbagi kepada dua bagian yaitu :

a) Operasi yang merubah bentuk, misalnya seperti :


-Memperindah hidung, seperti membuatnya lebih mancung, dan lain-lain
-Memperindah dagu, dengan meruncingkannya, dan lain-lain
-Memperindah payudara dengan mengecilkannya jika terlalu besar atau
membesarkannya dengan suntik silicon atau dengan menambah hormon
untuk memontokkan payudara dengan berbagai cara yang telah ditemukan.
-Memperindah kuping
-Memperindah perut dengan menghilangkan lemak atau bagian yang lebih
dari tubuh
b) Operasi yang mengawetkan umur, misalnya seperti :
c) -Memperindah wajah dengan menghilangkan kerutan yang ada dengan
skaler atau alat lainnya
-Memperindah kulit dengan mengangkat lemak yang ada dan membentuk
wajah dengan apa yang dikehendaki
-Memperindah kulit tangan dengan menghilangkan kerut seolah kulit
masih padat dan muda
-Memperindah alis, baik dengan mencukurnya agar nampak lebih muda.
mungkin ini menurut penulis bagian-bagian yang sering kita temui dan
yang paling umum.

1.3 Bedah Plastik Menurut Hukum Islam

Dalam sebuah kaidah fiqih disebutkan bahwa:

‫التحريم على لدليل يد ّل حتى اإلباحة ألشياءفى ألصل ا ا‬


Artinya: Asal segala sesuatu itu dibolehkan sampai adanya dalil yang
mengharamkannya.

Berdasarkan kaidah tersebut, maka apapun yang kita lakukan sebenarnya boleh
kita lakukan, dan selamanya boleh kita lakukan, hingga adanya dalil atau petunjuk
yang menyatakan haramnya melakukan sesuatu itu.[1]
Oleh karena itu, operasi plastik tampaknya mesti dilihat dari tujuannya. Ada
yang melakukan operasi karena ingin lebih cantik bagi perempuan atau lebih
tampan bagi laki-laki, ada pula yang melakukan operasi plastik karena
menghilangkan bekas-bekas akibat kecelakaan, cacat seperti bibir sumbing dan
sebagainya.
Permasalahan yang sering kita dapati, tidak sedikit di antara para muslimah dan
termasuk juga para muslim yang melakukan operasi dengan tujuan agar lebih
cantik atau lebih tampan.

A. Hukum melakukan Operasi Plastik dengan Tujuan untuk Kecantikan

Allah menyukai yang indah-indah dan Islam juga membolehkan seseorang


untuk berhias atau mempercantik diri selama tidak berlebih-lebihan, apalagi
sampai mengubah ciptaan Allah.. Kalau kita pikir secara logika, apa ruginya Allah
apabila ada yang melakukan operasi kecantikan, sebab sesuatu yang telah baik
diberikan Allah kemudian dilakukan lagi upaya lain agar pemberian tersebut
menjadi super lebih baik, tentunya kalau dipikir-pikir Allah pasti senang, terlebih
Allah juga menyukai hal-hal yang indah-indah.Diriwayatkan dari Imam Bukhari
dan Muslim Ra. dari Abdullah ibn Mas‟ud Ra.beliau pernah berkata “”Allah
melaknat wanita-wanita yang mentato dan yang meminta untuk ditatokan, yang
mencukur (menipiskan) alis dan yang meminta dicukur, yang mengikir gigi
supaya kelihatan cantik dan merubah ciptaan Allah.” (H.R Bukhari)[ dari hadits
ini, dapat diambil sebuah dalil bahwa Allah Swt. melaknat mereka yang
melakukan perkara ini dan mengubah ciptaan-Nya. 3. Riwayat dari Ashabis Sunan
Dari Asmaa, bahwa ada seorang perempuan yang mendatangi Rasulullah Saw.
dan berkata, ” Wahai Rasululllah, dua orang anak perempuan ku akan menjadi
pengantin, akan tetapi ia mengadu kepadaku bahwa rambutnya rontok, apakah
berdosa jika aku sambung rambutnya?”, maka Rasulullah pun menjawab,
“Sesungguhnya Allah melaknat perempuan yang menyambung atau minta
disambungkan (rambutnya)” Hadits ini dengan jelas mengatakan bahwa haram
hukumnya bagi orang yang menyambung rambutnya atau istilah sekrang dikenal
dengan konde atau wig dan jauh dari rahmat Allah Swt. Qias Untuk melengkapi
pendapat ini,maka akan saya coba menggunakan qias dan akal. Operasi plastik
semacam ini tidak dibolehkan dengan meng-qias larangan Nabi Saw. terhadap
orang yang menyambung rambutnya, tattoo, mengikir (menjarangkan) gigi atau
apa saja yang berhubungan dengan perubahan terhadap apa yang telah diciptakan
Allah Swt. Segi Akal Secara akal kita akan menyangka bahwa orang itu
kelihatannya indah dan cantik akan tetapi, ia telah melakukan operasi plastik pada
dirinya, perbuatan ini sama dengan pemalsuan atau penipuan terhadap dirinya
sendiri bahkan orang lain, adapun hukumnya orang yang menipu adalah haram
menurut syara‟. Begitu juga dengan bahaya yang akan terjadi jika operasi itu
gagal, bisa menambah kerusakan didalam tubuhnya dan sedikit sekali berhasilnya,
apapun caranya tetap membahayakan dirinya dan ini tidak sesuai dengan hukum
syara‟, sesuai dengan firman Allah yang berbunyi (wallahu „alam)”Jangan bawa
diri kalian dalam kerusakan.

1.Operasi plastik merubah ciptaan Allah Swt


2.Adanya unsur pemalsuan dan penipuan
3.Dari sisi lain, bahwa negatifnya lebih banyak dari manfaatnya, karena bahaya
yang akan terjadi sangat besar apabila operasi itu gagal, bisa menyebabkan
kerusakan anggota badan bahkan kematian.

Kebanyakan ulama hadits berpendapat bahwa tidak boleh melakukan operasi


ini dengan dalil diantaranya sebagai berikut: Allah berfirman (“Allah telah
melaknatnya. setan berkata, “sungguh akan kutarik bagian yang ditentukan dari
hamba-hamabaMu. dan sungguh akan kusesatkan mereka, dan akan kubangkitlan
angan-angan kosong mereka, dan aku suruh mereka memotong telinga binatang
ternak lalu mereka benar-benar memotongnya, dan aku akan suruh mereka
(merobah ciptaan Allah), lalu mereka benar-benar merobahnya. dan barangsiapa
yang menjadikan setan sebagai pelindung maka sungguh dia telah merugi dengan
kerugian yang nyata” [Q.S An-Nisaa‟ ayat118-119] Ayat ini menjelaskan kepada
kita dengan konteks celaan dan haramnya melakukan pengubahan pada diri yang
telah diciptakan Allah dengan sebaik-baikpenciptaan. Persoalan inilah yang perlu
kita sadari bahwa tidak semua yang dilakukan manusia yang menurut manusia
baik adalah baik pula dalam pandangan Allah. Merubah bentuk salah satu anggota
tubuh yang berbeda dari apa yang diberikan Allah, dalam logika manusia
dipandang baik, karena akan lebih cantik, tampan dan menarik. Asalnya kulit
yang diberikan Allah hitam kemudian dirubah menjadi putih atau warna lainnya.
Asalnya hidung yang diberikan Allah pesek kemudian dirubah menjadi mancung
dan sebagainya. Namun demikian, apa yang dilakukan sebenarnya merupakan
tindakan yang tidak percaya dengan pemberian Allah dan dapat dikatakan sebagai
bentuk penghinaan terhadap Allah. Oleh karena itu merubah ciptaan atau
pemberian Allah sebagaimana dideskripsikan di atas sebenarnya bertentangan
dengan kodrat dan iradat Allah. Seharusnya manusia menyadari bahwa apapun
yang diciptakan Allah di dunia ini bukan merupakan hal yang sia-sia (lihat Q.S.
al-Baqarah ayat 26): Artinya: Sesungguhnya Allah tiada segan membuat
perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. adapun orang-orang
yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan
mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan
Ini untuk perumpamaan?." dengan perumpamaan itu banyak orang yang
disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-
Nya petunjuk. dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang
fasik,

Menurut pandangan manusia atau seseorang yang melakukan operasi bahwa


salah satu anggota tubuhnya kurang menarik, sehingga ia pun berkeinginan untuk
merubahnya melalui operasi. Padahal dalam pandangan Allah pemberian-Nya itu
yang dipandang manusia kurang menarik, sebenarnya memiliki manfaat yang luar
biasa, hanya saja ia tidak mengetahui dan menyadarinya. Mestinya manusia dapat
bersyukur terhadap apa yang diberikan Allah dan memberdayakan pemberian
tersebut dengan baik. Selain itu, apabila persoalan di atas dikembalikan kepada
sumber hukum Islam yaitu Alquran, maka Alquran telah secara jelas menyatakan
orang yang merubah ciptaan-Nya adalah orang yang mengikuti jalan dan ajakan
syaithan. Dari Qs An-Nissa ayat 119 ayat tersebut dapat dipahami, bahwa
melakukan operasi plastik, yang hanya bertujuan mempercantik diri termasuk
perbuatan syetan yang dilaknat Allah. Contohnya, operasi untuk memperindah
bentuk hidung, dagu, buah dada, atau operasi untuk menghilangkan kerutan-
kerutan tanda tua di wajah, dan sebagainya. Persoalan ini apabila dilihat dari
kaidah yang disebutkan sebelumnya bahwa operasi plastik dengan tujuan untuk
mempercantik [jirahah at-tajmil], maka hukumnya adalah haram.

B. Operasi Plastik untuk Memperbaiki Cacat atau Akibat Kecelakaan

Yaitu suatu operasi yang bertujuan untuk mengobati penyakit yang terjadi tanpa
kekuasaan seseorang di dalam penyakit tersebut. Apakah penyakit yang telah ada
ketika seseorang baru lahir seperti bergabungnya jari tangan atau kaki, bibir
sumbing, tertutupnya lubang yang terbuka (hidung atau telinga,dll) dan berbagai
jenis penyakit lainnya yang terjadi tanpa dikehendaki. Operasi jenis ini hanya
bertujuan untuk mengobati penyakitdan pada nantinya akan menghasilkan
keindahan pada orang yang telah diobati. Dan keindahan itu hanya sebagai efek
dari operasi dan ini dibolehkan di dalam syariat islam.
Alasan operasi ini dibolehkan adalah sesuai sesuai dengan hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwasannya Nabi Muhammad Saw bersabda :
“Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya (shahih
Bukhari halaman 204 jilid 2, bab pengobatan). Selain itu juga terdapat hadits dari
Usmah bin Syaiik berkata, Seorang arab badui bertanya kepada Rasulullah SAW
”Wahai Rasulullah apakah kami harus berobat dari suatu penyakit?”. Rasulullah
SAW berkata : “Benar, wahai hamba Allah berobatlah karena Allah tidak
menciptakan suatu penyakit melainkan ada obatnya, dan kecuali satu penyakit.
Lalu orang badui bertanya :”Penyakit apa wahai Rasulullah?”. Rasul berkata :
“Tua”(Turmudzi hal 383 jilid 4 hadits ke 2038). Dua hadits tersebut menunjukan
bahwa setiap penyakit yang diberikan Allah SWT memiliki obatnya maka
hendakmya seseorang yang sakit berobat dari segala penyakit yang menimpa agar
bisa sehat seperti sedia kala dan dapat melakukan berbagai aktivitas serta agar
tidak menular kepada orang lain sehingga ulama Hanafi mengatakan bahwa
pengobatan melalui suntikan itu dibolehkan. Tiada beda pula bagi laki-laki dan
perempuan (syarah fathul qadir hal.500 jilid 8). Juga dikatakan bahwa tindakan
diperbolehkan menggunakan benda yang haram untuk berobat seperti Khamar
(miras) dan sejenisnya kecuali telah diusahakan namun tidak ada lagi obat lain
yang lebih sesuai dan hanya pada khamar itu saja obatnya (darurat). Hukum
melakukan operasi plastik dengan tujuan untuk memperbaiki cacat yang dibawa
sejak lahir (al-’uyub al-khalqiyyah) seperti bibir sumbing, atau cacat yang datang
kemudian (al-’uyub at-thari`ah) akibat kecelakaan, kebakaran, atau semisalnya,
seperti wajah yang rusak akibat kebakaran/kecelakaan, maka dapat dikategorikan
sebagai mubah atau dibolehkan melakukan operasi tersebut.

Dalam ushul fikih, cacat atau akibat kecelakaan dapat dikategorikan sebagai
mudharat atau disebut kemudaratan. Kemudaratan mengakibatkan ketidakbaikan
yang akhirnya membuat orang yang mengalami kemudaratan ini tidak merasa
nyaman beragama. Oleh karena itu, Islam memang bukan agama yang memudah-
mudahkan sesuatu, tetapi bukan pula agama yang mempersulit. Kemudaratan
mesti dihilangkan atau setidaknya menguranginya melalui operasi plastik.

Bolehnya menghilangkan kemudaratan berupa cacat sejak lahir atau cacat akibat
kecelakaan adalah berdasarkan kaidah fikih yang berbunyi yang artinya:“
Kemudaratan itu mesti dihilangkan”,
Sehingga operasi plastik pun legal dilakukan dengan ketentuan sesuai dengan
tujuan yang disebutkan. Selain itu, bolehnya melakukan operasi plastik adalah
berdasarkan keumuman (‘amm) dalil yang menganjurkan untuk berobat (at-
tadawiy). Nabi SAW bersabda:

‫شفآء إ له أنزل ال دآء هالل مأأنزل‬

Artinya: Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, kecuali Allah menurunkan


pula obatnya. (HR Bukhari).[10]

Dalam hadits yang lain Nabi SAW bersabda pula,yang artinya :


Artinya: Wahai hamba-hamba Allah berobatlah kalian, karena sesungguhnya
Allah tidak menurunkan satu penyakit, kecuali menurunkan pula obatnya.” (HR
Tirmidzi).[11]

Dalam ushul fikih disebutkan bahwa selama tidak ada dalil yang
mengkhususkan dalil umum, maka selama itu pula dalil umum dapat diamalkan.
Hadis di atas dipandang sebagai hadis yang umum, dan dapat diamalkan atau
dapat dijadikan hujjah, karena tidak ditemukan adanya dalil yang
mengkhususkannya.[12]
Bahkan dalam kondisi tertentu dibolehkan bagi seseorang untuk mengobati
penyakitnya walaupun harus memindahkan bagian tubuhnya kepada bagian yang
lain. Jika bagian yang cacat tersebut akan membawa kepada penyakit yang telah
membahayakan, baik itu amputasi atau pemindahan bagian tubuh, karena
ditakutkan jika itu tidak dilakukan maka akan membahayakan nyawa seseorang
dan allah sendiri mengingatkan manusia agar jangan mencampakkan dirinya ke
dalam jurang kehancuran bahkan kematian (Al-baqarah ayat 195, Annisa :
29). Para ahli fikih membolehkan seseorang memasang gigi palsu namun mereka
berbeda pendapat pada hal menggunakan gigi palsu yang terbuat dari emas. Di
dalam kitab hidayah hal.61 jilid 4 disebutkan, bahwa dilarang menggunakan gigi
palsu dari emas. Namun boleh dengan perak. Ini adalah pendapat Imam Hanafi
dan Muhammad bahkan berkata bahwa tidak apa-apa menggunakan gigi emas.
Nabi Muhammad SAW membolehkan menggunakan emas jika itu adalah suatu
keharusan karena kritis dan darurat. Menindik telinga anak perempuan dibolehkan
(kitab ikhtiyar maushuly hal.122 jilid 30) karena dengan menindik telinga tersebut
dapat menambah keindahan. Selanjutnya disebutkan bahwa operasi di dalam
model ini tidak menyebabkan meroboh ciptaan Allah dengan semena-mena
dimana meroboh ciptaan itu diharamkan oleh Allah karena operasi ini sangat perlu
dilakukan dengan kondisi yang mendesak, maka diperbolehkan. Imam Nabawi
dari Madzhab Syafi‟i ketika mensyarah hadits Ibnu Mas‟ud tentang perkataan
orang yang meregangkan gigi untuk keindahan maknanya adalah dia
meregangakan gigi itu tidak karena sakit namun hanya untuk mempercantik diri
dan ini menunjuki bahwa operasi untuk mengobati cacat tentu dibolehkan.
Operasi yang demikian itu tidak menjadikan alasan mempercantik diri sebagai
landasan pertama namun kecantikan yang dihasilkan dari operasi tersebut hanya
sebagai hasil luar biasa saja. Kemudian operasi model ini juga tidak bermaksud
meroboh ciptaan Allah dengan sengaja. Namun sebagai sarana berobat saja. Maka
oleh karena itu berdasarkan dalildalil yang telah kami sebutkan maka operasi
semacam ini dibolehkan oleh syariat.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan dari uraian materi yang telah diungkapkan pada halaman


sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa operasi plastik boleh dilakukan
apabila bertujuan untuk memperbaiki cacat sejak lahir seperti bibir sumbing, atau
cacat yang datang kemudian akibat kecelakaan, kebakaran, atau semisalnya,
seperti wajah yang rusak akibat kebakaran/kecelakaan. Sedangkan operasi plastik
yang bertujuan untuk mempercantik diri dengan sengaja merubah ciptaan ALLAH
diharamkan karena merupakan salah satu bentuk penyamaran yang bertentangan
dengan syari’at ISLAM.

3.2 Saran

Dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang


berkembang di masyarakat indonesia, kita harus mengadakan adanya suatu
promosi kesehatan, salah satunya berupa penyuluhan. Perawat berperan untuk
menjelaskan apa yang sebenarnya harus dilakukan oleh masyarakat jika
menghadapi bedah plastik atau lingkungan sekitar agar dapat sesuai dengan
syariat islam. Penulis menyarankan bagi pembaca agar dapat memahami
pengertian operasi plastik, macam-macamnya, serta mengetahui hukum-
hukumnya dalam agama Islam. Bagi pembaca dan mahasiswa lain yang ingin
mengetahui dan memahami lebih dalam lagi mengenai materi ini, maka dapat
menjadikan makalah ini sebagai referensi. Penulis juga mengharapkan kritik dan
saran dari pembaca untuk kesempurnaan makalah ini selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Http://blog.re.or.id/operasi-face-off.html 2.
http://tugasbidan2008.blogspot.com/2008/12/makalah-bedah-plastik-
besertahukum.html 3. http://www.wanita-wanita.com/dampak-operasi-plastik//

Bustanul Arifin, dan M. Atho Mudzar, Permasalahan Fiqih Kontemporer dalam


Keluarga Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 2002
http://sukriyanahcute.blogspot.com/2012/03/makalah-opresi-plastik.html

Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah: Kapita Selekta Islam, Jakarta: PT Toko Gunung
Agung, 1997.

Yevita, 2012, Pandangan Agama Terhadap Masalah dan Tindakan,

http://yevitadiaries.wordpress.com/2012/04/07/pandangan-agama-terhadap-
masalah-dan-tindakan/ , 11122012 jam 10.10

Yusuf Qardhawi, Fatwa-fatwa Kontemporer: Jilid 2. Jakarta: Gema


Insani Press, 1995.