Anda di halaman 1dari 22

– Ziyadah –

Fenomena Ghuluw pada Nabi


shallallahu ‘alaihi wa sallam
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ََ َ ْ َ َ ْ ُ َ
‫ن ا َم ْرَي َام اف ِإ َّن َما اأنا ا َع ْب ُد ُاها‬
‫ى ا ْاب َ ا‬ َ ‫الن‬
‫ص َار ا‬ ‫ال اتط ُرو ِني اك َما اأط َر ْ ا‬
َّ ‫ت ا‬
ُ َّ ُ َ
‫ف ُقولواا َع ْب ُادا ِا‬
‫ّللاا َو َر ُسول ُها‬

“Janganlah kalian terlalu berlebih-lebihan


kepadaku sebagaimana orang-orang Nasrani
telah berlebih-lebihan kepada Isa bin Maryam,
sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba
Allah maka katakanlah hamba Allah dan
1
RasulNya.”

Penjelasan ringkas:

1
HR. al-Bukhari.
1. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di
atas menunjukkan bahwa beliau adalah
manusia biasa sebagaimana para nabi yang
lain. Mereka makan, minum, beristri, memiliki
keturunan, ditimpa penyakit dan kemudian
wafat. Oleh karena itu, tidak boleh
mengultuskan beliau sehingga mencapai
derajat ketuhanan.

Allah ta’ala berfirman,


ً َ َّ ُ َ َ َ َ ْ ُ ْ ُ
‫ياه ْلاك ْن ُت ِاإل َابش ًراا َر ُسولا‬ ‫قلاسبحانارِب‬

Katakanlah: "Maha Suci Tuhanku, bukankah


aku ini hanya seorang manusia yang menjadi
rasul?" [al-Isra: 93].

Allah ta’ala berfirman,


َٰ ُ َٰ َ َ َ ُ ْ ُ ُ ْ ٌ َ َ َ َ َ َّ ْ ُ
‫وح ٰى ِاإل َّياأ َّن َم ِااإل ُهك ْم ِاإل ٌه َاو ِاح ٌدا‬ ‫قل ِاإنمااأناابشر ِامثل اكماي‬
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia
biasa seperti kamu, yang diwahyukan
kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Sembahan
kamu itu adalah Sembahan yang Esa.” [al-
kahfi: 110].

Kedua ayat di atas jelas menyatakan bahwa


beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam layaknya
yang lain adalah manusia biasa, yang menjadi
pembeda adalah beliau diistimewakan dengan
status beliau sebagai seorang rasul.

2. Di antara bukti-bukti bahwa beliau shallallahu


‘alaihi wa sallam adalah manusia:

- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam


tidak mengetahui perkara gaib, kecuali apa
yang diinformasikan Allah ta’ala kepada
beliau.

Allah ta’ala berfirman,


َ ْ َ َ َ َّ
ُ َّ ‫ْلا ْرض ْاال َغ ْي َب اإ َّل‬ ْ َْ َ َ ُ
‫اّللااۚا‬ ِ ِ ‫ات او‬ ِ ‫ق ْل ال ايعل ُم َامن ِافياالسماو‬
َ ‫ون َاأ َّي‬
‫ان ُاي ْب َع ُثو َ ان‬ َ ‫َو َم َااي ْش ُع ُر‬

“Katakanlah, "Tidak ada seorangpun di


langit dan di bumi yang mengetahui
perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan
mereka tidak mengetahui bila mereka akan
dibangkitkan.” [an-Naml: 65].

Allah ta’ala berfirman,

َ ‫َو َل ْو ُاك ْن ُت َاأ ْع َل ُم ْاال َغ ْي َب َال ْس َت ْك َث ْر ُت ام َن ْاال َخ ْير َاو َم‬


‫اام َّس ِن َيا‬ ِ ِ
ُ ‫الس‬
‫وءۚا‬ ُّ

“(Katakanlah wahai Muhammad), ‘...dan


sekiranya aku mengetahui yang ghaib,
tentulah aku membuat kebajikan
sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan
ditimpa kemudharatan.” [al-A’raf: 188].
- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
tidak bisa memberi kemanfaatan dan tidak
bisa mencegah bahaya dari diri beliau
sendiri, apalagi orang lain.

Allah ta’ala berfirman,


َ َ َّ ًّ َ َ َ ً ْ َ ْ َ ُ ْ َ َ ْ ُ
ُ َّ ‫ااش َاء‬
‫اّللاۚا‬ ‫قلالاأم ِلك ِالنف ِس يانفعااولاضر ِااإلام‬

“Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik


kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula)
menolak kemudharatan kecuali yang
dikehendaki Allah.” [Yunus: 49].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam


bersabda,

‫ ااشتروااأنفسكمالا‬-‫أواكلمةانحوها‬-‫ياامعشراقريشا‬

‫أغني اعنكم امن اهللا اشيئا ايا ابني اعبد امناف ال اأغنيا‬

‫عنكمامناهللااشيئاايااعباسابناعبدااملطلبالاأغنيا‬
‫عنكامناهللااشيئااويااصفيةاعمةارسول اهللاالاأغنيا‬

‫عنكامناهللااشيئااوياافاطمةابنتادمحماسلينيامااشئتا‬

‫مناماليالاأغنياعنكامناهللااشيئا‬

“Wahai kaum Quraisy -atau perkataan


yang mirip ini-, selamatkanlah jiwa kalian
sesungguhnya aku tidak bisa menolong
kalian sama sekali. Wahai Bani Abdu
Manaf, aku sama sekali tidak bisa
menolong kalian. Wahai Abbas bin Abdil
Mutthalib, aku tidak bisa menolongmu
sama sekali. Wahai Shafiyah, bibinya
Rasululllah, aku sama sekali tidak bisa
menolongmu. Wahai Fathimah, putri
Muhammad, mintalah kepadaku apa yang
engkau kehendaki dari hartaku, aku sama
sekali tidak bisa menolongmu.”2

- Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun


terluka dalam peperangan.

Dari Sahl radhiallahu ‘anhu, dia berkata,

‫ملا اكسرت ابيضة االنبي ا اصلى اهللا اعليه اوسلم ا اعلىا‬

‫رأسه اوأدمي اوجهه اوكسرت ارباعيته اوكان اعلي ايختلفا‬

‫باملاء افي ااملجن اوكانت افاطمة اتغسله افلما ارأت االدما‬

‫يزيد اعلى ااملاء اكثرة اعمدت اإلى احصير افأحرقتهاا‬

‫وألصقتهااعلىاجرحهافرقأاالدم‬

“Tatkala pelindung kepala Nabi shallallahu


‘alaihi wa sallam pecah dan wajah beliau

2
HR. al-Bukhari.
berdarah dan gigi seri beliau retak, Ali
bolak-balik mengambil air dengan
menggunakan perisai (sebagai wadah air)
dan Fathimah mencuci darah yang ada di
wajah beliau. Tatkala Fathimah melihat
darah semakin banyak melebihi air, maka
Fathimah pun mengambil tikar yang
terbuat dari daun, lalu merobeknya dan
menempelkan robekan tersebut pada luka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
sehingga berhentilah aliran darah beliau.”3

3. Ghuluw adalah sikap melampaui batas dalam


yang dapat mencakup akidah, ibadah dan
perilaku. Termasuk dalam hal tersebut adalah
berbuat ghuluw dalam mencintai Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga
mengangkat beliau secara berlebihan dari

3
HR. al-Bukhari.
kedudukan yang seharusnya. Perilaku
tersebut sungguh mirip dengan kaum
Nashrani terhadap Nabi Isa ‘alaihi as-salam.

Allah ta’ala berfirman,


َّ َ َ َ ْ َ ْ َ ْ ُ ُْ َ َ َ ْ َ ْ َ َ ْ ُ
‫ق ا َو ال اتت ِب ُعواا‬
‫اب ا ال اتغلوا ا ِفي ا ِدي ِنك ام اغي ار االح ِ ا‬
‫ق ال ايا اأه ال اال ِكت ِ ا‬
ُّ َ َ ً َ ُّ َ َ َ ُ ْ َ ْ ُّ َ ْ َ ْ َ َ َ ْ َ
‫ضلوا ا َع ْ ا‬
‫نا‬ ‫ن اقب ال اوأضلوا اك ِثيرا او‬ ‫ضلوا ا ِم ا‬ ‫اء اقوما اق اد ا‬
‫أهو ا‬

‫َس َو ِا‬
َّ ‫اءا‬
‫الس ِب ِيلا‬

“Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu


berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan
cara tidak benar dalam agamamu. Dan
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-
orang yang telah sesat dahulunya (sebelum
kedatangan Muhammad) dan mereka telah
menyesatkan kebanyakan (manusia), dan
mereka tersesat dari jalan yang lurus.” [al-
Maidah: 77].
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,

‫اوهذااكثيرا‬،‫اأهلاالكتاباعناالغلواوإلاطراء‬-‫اتعالىا‬-‫ينهىا‬

‫ افإنهم اتجاوزوا االحد افي اعيس ى احتى ارفعوها‬،‫في االنصارى‬

‫افقتلوهامناحيزاالنبوةا‬،‫فوقااملنزلةاالتياأعطاهااهللااإياها‬
ً
‫إلىاأنااتخذوهاإلهاامنادوناهللاايعبدونهاكماايعبدونه‬

“Allah ta’ala melarang Ahli Kitab dari sikap


melampaui batas dan memuji secara
berlebihan ghuluw. Sikap yang demikian kerap
dilakukan kaum Nashara. Merekalah yang
melampaui batas pada Isa ‘alaihi as-salam
hingga mengangkat beliau di atas kedudukan
yang diberikan Allah ta’ala. Mereka (Ahli Kitab)
yang berusaha membunuh beliau karena
status kenabian, hingga mereka pula yang
menjadikan beliau sebagai ilah (sembahan)
selain Allah, di mana mereka menyembahnya
sebagaimana menyembah Allah.”4

4. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah


menginformasikan kepada umatnya bahwa
kedudukan beliau adalah kedudukan hamba
dan rasul seperti yang diungkapkan dalam
sabda beliau,
َّ ََ ُ َّ ََ
‫ اأنا ا ُم َح َّم ٌاد ا َع ْب ُاد ا ِ ا‬,‫ّللا ا َو َر ُسول ُاه‬
‫ّللاا‬ ‫أنا ا ُم َح َّم ُ اد ا ْب ُ ا‬
‫ن ا َع ْب ِ اد ا ِا‬
َّ َ ْ َ َّ َ ْ َ ْ َ َ َ َ ُّ ُ َ ُ ُ ُ َ َ
‫ّللاا‬ ‫ب اأ ْ ان ات ْرف ُع ِوني افو ا‬
‫ق ا َمن ِزل ِتي اال ِ اتي اأن َزل ِني ا ُا‬ ‫ اما اأ ِح ا‬،‫ورسوله‬

‫َع َّازا َو َج َّلا‬

“Saya tidak lebih adalah Muhammad, hamba


Allah dan rasul-Nya. Saya tidak suka kalian
mengangkatku melebihi kedudukan yang telah
diberikan Allah kepadaku.”5

4
Tafsir Ibn Katsir 1/589.
5
HR. Ahmad. Dinilai shahih oleh al-Albani.
5. Betapa pun jelasnya hal ini, namun sangat
disayangkan bahwa terdapat sebagian kaum
muslimin yang berperilaku melampaui batas
sehingga muncul fenomena ghuluw dalam
mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di
antara bentuknya adalah:

- Mengistimewakan Nabi shallallahu ‘alaihi


wa sallam bahwa beliau mampu
menghapus dan mengampuni dosa. Hal ini
banyak ditemukan dalam gubahan sya’ir
dari tokoh-tokoh sufi seperti al-Bura’i6, an-
Nabhani7, al-Bushiri8.

Patut disyukuri sebagian tokoh sufi justru


mengingkari fenomena ghuluw ini yang
banyak termaktub dalam kitab-kitab maulid
Nabi. Dia mengatakan, “Maka sikap-sikap

6
Diwan al-Bura’i hlm. 78-79.
7
Syawahid al-Haq hlm. 377.
8
Burdah al-Madih hlm. 35.
melebihi batas yang terdapat dalam kitab-
kitab maulid Nabi dan kisah Mi’raj beliau,
yang tidak memiliki fakta yang bisa
dijadikan landasan wajib dibakar agar
penulis dan pembacanya tidak dibakar di
neraka Jahannam. Kami memohon
keselamatan dan keamanan kepada Allah
ta’ala.”9

Sudah dimaklumi bahwa menghapus dan


mengampuni dosa adalah kekhususan
Allah ta’ala, sehingga menempatkan
kekhususan tersebut pada makhluk adalah
suatu kezaliman dan perbuatan ghuluw.

Allah ta’ala berfirman menginformasikan


bahwa Dia-lah semata yang mampu
mengampuni dosa hamba-Nya,

9
Abdullah ash-Shiddiq al-Ghumari dalam Mulhaq ‘an
Qashidah al-Burdah jlm. 77.
َّ ََ ْ َ َ َ َ ً َ َ ُ َ َ َ َّ َ
‫ينا ِإذااف َعلوااف ِاحش اةاأ ْ اواظل ُموااأن ُف َس ُه ْاماذك ُرواا َا‬
‫ّللاا‬ ‫وال ِذ ا‬
َ ُ َّ َّ َ ُ ُّ ُ ْ َ ْ َ َ ْ ُ ُ ُ َ ْ َ ْ َ
‫ّللا ا َول ْاما‬
‫وب ا ِإ ال ا ا‬
‫ن ايغ ِف ار االذن ا‬ ‫فاستغفروا ا ِلذن ِوب ِه ام اوم ا‬
َ ُ َ َ
‫ُي ِص ُّرواا َعل ٰ اىا َمااف َعلواا َو ُه ْاما َي ْعل ُمو َ ان‬

“Dan (juga) orang-orang yang apabila


mengerjakan perbuatan keji atau
menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan
Allah, lalu memohon ampun terhadap
dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang
dapat mengampuni dosa selain dari pada
Allah? Dan mereka tidak meneruskan
perbuatan kejinya itu, sedang mereka
mengetahui.” [Ali Imran: 135].

- Mengistimewakan Nabi shallallahu ‘alaihi


wa sallam bahwa beliau mengetahui apa
yang tercatat di Lauh Mahfuzh dan
mengetahui apa yang ada di hati
seseorang, di mana kedua hal ini
merupakan kekhususan Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman,


َ ‫نا ْاملُ ْن َتظر‬
‫ينا‬
ُ ْ َ َّ ُ ْ َ ْ َ َّ ْ ُ َ
‫لِلافان َت ِظ ُرواا ِإ ِنيا َم َعك ْاما ِم َ ا‬
‫با ِ ِا‬
‫فق الا ِإنمااالغي ا‬
ِِ

“Maka katakanlah: "Sesungguhnya yang


ghaib itu kepunyaan Allah, sebab itu
tunggu (sajalah) olehmu, sesungguhnya
aku bersama kamu termasuk orang-orang
yang manunggu.” [Yunus: 20].

Allah ta’ala pun memerintahkan Nabi


Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
untuk menafikan pengilmuan terhadap
perkara gaib dari diri beliau. Allah ta’ala
berfirman,

.
“Katakanlah: Aku tidak mengatakan
kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah
ada padaku, dan tidak (pula) aku
mengetahui yang ghaib dan tidak (pula)
aku mengatakan kepadamu bahwa aku
seorang malaikat. Aku tidak mengikuti
kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.
Katakanlah: "Apakah sama orang yang
buta dengan yang melihat?" Maka apakah
kamu tidak memikirkan(nya)?" [al-An’am:
50].

- Memberi keistimewaan pada beliau


shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau
mengabulkan do’a; dan seluruh permintaan
terangkat dan dihadapkan di hadapan
beliau. Semua itu merupakan hak Allah
ta’ala, tidak boleh diberikan kepada
makhluk karena Allah ta’ala
memerintahkan setiap hamba untuk
berdo’a kepada-Nya dengan ikhlas, tanpa
mempersekutukan-Nya dengan siapa pun.
Allah ta’ala berfirman,

‫الد َ ا‬ ُ ُ ْ َ َ ُ َّ َ َٰ َ َ ْ َ ُ
ُ َ ‫وه ا ُم ْخلص َ ا‬
‫ين اۗا‬ ِ ‫ين ال اه ا‬ ِ ِ ‫ه او االح ُّاي ا ال ا ِإل اه ا ِإ ال اه او افادع ا‬
َ ْ َ َّ ُ ْ َ ْ
‫باال َع ِامل َ ا‬
‫ين‬ ‫لِلار ِ ا‬
‫ال احم ادا ِ ِا‬

“Dia-lah Yang hidup kekal, tiada


Sembahan (yang berhak disembah)
melainkan Dia; maka berdo’alah kepada-
Nya (sembahlah) Dia dengan memurnikan
ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah
Rabb semesta alam.” [al-Mukmin: 65].

Allah pun memerintahkan Nabi Muhammad


shallallahu ‘alaihi wa sallam agar
menyampaikan bahwa beliau dilarang
menyembah berbagai sembahan kaum
musyrikin yang sering dipintai do’a dan
permohonan. Allah ta’ala berfirman,
َّ َ َ َ َّ َ ُ ْ َ ْ َ ُ ُ ُ
‫ّللا ا ۚۗا‬ ‫ين ات ْد ُعو ان ا ِم ْ ا‬
‫ن ا ُدو ِ ان ا ِا‬ ‫ق ْال ا ِإ ِني ان ِه ا‬
‫يت اأ ان اأعب اد اال ِذ ا‬
ََ ً ُ ََْ ْ َ ُ َ َ َ ُ
‫ت ا ِإذا ا َو َما اأنا ا ِم َ ا‬
‫نا‬ ‫ق ْال ا ال اأ َّت ِب ُاع اأ ْه َو َاءك ْام اۗ اق اد اضلل ا‬
ُْ
‫امل ْه َت ِد َ ا‬
‫ين‬

“Katakanlah, "Sesungguhnya aku dilarang


menyembah berbagai sembahan yang
kamu pintai do’a selain Allah". Katakanlah,
"Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu,
sungguh tersesatlah aku jika berbuat
demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk
orang-orang yang mendapat petunjuk.” [al-
An’am: 56].

Maka, bagaimana bisa hak mengabulkan


do’a yang notabene adalah hak Allah ta’ala
diberikan kepada beliau shallallahu ‘alaihi
wa sallam?!
- Meyakini bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam dapat dilihat di kehidupan nyata
secara sadar, bukan di dalam mimpi. Hal
ini dinyatakan oleh Ibnu Hajar al-Haitami10,
as-Suyuthi11, dan lain-lain. Padahal beliau
telah diwafatkan dan tidak berada di alam
dunia lagi.

Sebagian besar yang dijadikan landasan


untuk mendukung keyakinan ini adalah
hikayat dan klaim yang dikutip dari para
tokoh sufi.

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah


mengomentari fenomena tersebut,

10
Al-Fatawa al-Haditsiyah hlm. 217.

11
Tanwir al-Halak fii Imkaan Rukyah an-Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam wa al-Malak 2/255.
ً
‫دا اولو ا ُح ِمل اعلى اظاهره الكانا‬ ‫ُا‬
‫ اوهذا امشكل اج ا‬:‫قلت‬

‫ا‬،‫هؤلء اصحابة اوألمكن ابقاء االصحبة اإلى ايوم االقيامة‬


ً َّ ً
‫جما ارأوه افي ااملنام اثم الم ايذكرا‬ ‫جمعا ا‬
‫ويعكر اعليه اأن ا ا‬

‫واحدامنهماأنهارآهافيااليقظةاوخبراالصادقالايتخلف‬

‫وقدااشتداإنكاراالقرطبياعلىامناقالامنارآهافيااملناما‬

‫فقدارأىاحقيقتهاثمايراهااكذلكافيااليقظة‬

“Komentar saya (Ibnu Hajar al-Asqalani),


‘Fenomena ini memunculkan isu yang
sangat pelik. Jika hadits ini dipahami
secara tekstual (bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bisa dilihat di alam nyata
secara sadar), maka orang-orang yang
melihatnya berstatus sebagai sahabat Nabi
dan keberadaan status sebagai sahabat
Nabi tetap bisa berlangsung hingga hari
kiamat (dan hal itu mustahil terjadi-peny).
Dan yang cukup membingungkan begitu
banyak orang yang telah bermimpi
bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
tidak disebutkan bahwa mereka telah
melihat beliau dalam kondisi sadar,
padahal hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam tidak akan saling bertentangan. Al-
Qurthubi sangat mengingkari orang yang
menyatakan bahwa setiap orang yang
telah bermimpi bertemu Nabi, maka
sungguh dia benar telah melihat beliau dan
akan melihatnya dalam kondisi sadar.”12

6. Itulah sebagian fenomena ghuluw pada Nabi


shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana sebagian
fenomena tersebut telah sampai pada derajat
syirik akbar yang bisa mengeluarkan seorang

12
Fath al-Baari.
muslim dari Islam, karena telah menjadikan
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai
tandingan bagi Allah ta’ala. Seyogyanya
seorang yang hendak menjaga iman dan
tauhid dalam diri menjauhi sikap dan perilaku
melampaui batas, sehingga mengultuskan
makhluk secara berlebihan dan
mengangkatnya pada kedudukan yang tidak
sewajarnya.

ً
‫وصلااللهماوسلماوباركاعلىادمحماوآلهاوصحبهاوسلماتسليما‬