Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN KASUS

KISTA OVARIUM

Disusun Oleh :

SUNNY SITUMORANG

18010039

Pembimbing :

dr. JHONSON HUTAPEA, Sp. OG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN


KEPANITERAAN KLINIK SENIOR DEPARTEMEN ILMU OBSTETRI-
GINECOLOGY RUMAH SAKIT MURNI TEGUH MEMORIAL HOSPITAL

KOTA MEDAN

2019

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan
karuniaNya sehingga penulis dapat menyusun makalah yang berjudul “Kista Ovarium’.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi persyaratan selama menjalani
Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Obstetri-Ginecology Rumah Sakit Murni Teguh
Memorial Hospital, Kota Medan 2019.

Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada dr.Jhonson


Hutapea, Sp.OG sebagai pebimbing yang telah banyak memberikan bimbingan selama
kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Obstetri-Ginecology.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak kekurangan yang harus
diperbaiki, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak yang
sifatnya membangun

Akhir kata penulis berharap tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua yang
menggunakannya.
DAFTAR ISI

HALAMAN

KATA PENGANTAR ..................................................................................... 2

DAFTAR ISI.................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 5

1.1.Latar belakang ................................................................................. 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... 6

2.1. Anatomi ovarium ............................................................................ 6

2.2. Fisiologi haid .................................................................................. 7

2.3. Definisi kista ovarium .................................................................... 9

2.4. Epidemiologi kista ovarium ........................................................... 9

2.5. Etiologi kista ovarium .................................................................... 10

2.6. Faktor risiko kista ovarium ............................................................. 11

2.5. Klasifikasi kista ovarium ................................................................. 11

2.6. Manifestasi klinis kista ovarium ...................................................... 12

2.7. Patogenesis kista ovarium ............................................................... 13

2.8. Penegakkan diagnosa kista ovarium ............................................... 14

2.9. Tatalaksana kista ovarium .............................................................. 16

2.10. Prognosis dan Komplikasi ............................................................ 17

BAB III STATUS PASIEN ............................................................................. 18

BAB IV KESIMPULAN ................................................................................. 25

BAB V DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 26


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang

Kista ovarium adalah suatu penyakit ganguan organ reproduksi wanita. Kista
ovarium dapat berkembang dalam setiap tahap kehidupan seorang wanita, mulai dari
periode neonatal hingga pascamenopause1. Kebanyakan kista ovarium dapat terjadi
selama masa kehidupan bayi dan remaja, yang merupakan masa aktif perkembangan
hormon1. Tetapi sebagian besar kista-kista ini bersifat fungsional dan menghilang
tanpa perlu pengobatan1.
Kista ovarium itu sendiri memiliki risiko yaitu mengalami degenerasi
keganasan menjadi kanker1. Kanker ovarium merupakan kanker paling lazim
kedelapan pada wanita Amerika Serikat. Juga merupakan penyebab kematian kanker
urutan kelima pada wanita dengan perkiraan 14.000 kematian pada tahun 20101.
Disamping itu bisa mengalami torsi atau terpuntir sehingga menimbulkan nyeri akut,
perdarahan atau infeksi bahkan sampai kematian1. Oleh karena itu kista ovarium
merupakan masalah yang sangat penting bagi kesehatan ginekologi wanita.
Penatalaksanaan kista ovarium didasarkan pada jenis kista tersebut. Jadi tidak
semua kista ovarium ditatalaksanai melalui pembedahan, apalagi ternyata kista
tersebut dapat resolusi spontan. Namun, sebagian besar memerlukan pembedahan
untuk mengangkat kista tersebut. Penanganannya melibatkan keputusan yang sukar
dan dapat mempengaruhi status hormonal dan fertilitas seorang wanita.1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi ovarium
Wanita pada umumnya memiliki dua indung telur kanan dan kiri
dengan mesovarium menggantung di bagian belakang ligamentum latum kiri
dan kanan. Ovarium berukuran sebesar ibu jari tangan dengan ukuran panjang
kira- kira 4 cm, lebar dan tebal kira- kira 1,5 cm.5
Pinggir atasnya atau hilusnya berhubungan dengan mesovarium tempat
ditemukannya pembuluh-pembuluh darah dan serabut-serabut saraf untuk
ovarium. Pinggir bawahnya bebas. Permukaan belakangnya ke atas dan
belakang, sedangkan permukaan depannya ke bawah dan depan. Ujung yang
dekat dengan tuba terletak lebih tinggi daripada ujung yang dekat dengan
uterus, dan tidak jarang diselubungi oleh beberapa fimbria dari infundibulum.
Ujung ovarium yang lebih rendah berhubungan dengan uterus dengan
ligamentum ovarii proprium tempat ditemukannya jaringan otot yang menjadi
satu dengan yang ada di ligamentum rotundum. Embriologik kedua
ligamentum berasal dari gubernakulum.5

Selama usia reproduksi, panjangnya ovarium sekitar 2,5-5 cm, lebar


1,5-3 cm dan ketebalan 0,6-1,5 cm2. Posisinya juga bervariasi,namun biasanya
terletak di bagian atas rongga pelvis dan bersandar di cekungan dangkal di
dinding lateral pelvis. Fossa ovaria waldeyer ini terletak di antara pembuluh
darah iliaka interna dan eksterna yang menyebar2.
Ovarium terikat dengan ligamentum latum oleh mesovarium.
Ligamentum uterovarian meluas dari bagian lateral dan posterior uterus, tepat
di bawah insersi tuba, ke kutub uterus ovarium2. Biasanya memiliki panjang
beberapa sentimeter dan diameter 3-4 mm. Ovarium ditutupi oleh peritoneum
dan terdiri dari otot dan serat jaringan ikat. Ligamentum infundibulopelvik atau
ligamentum suspensorium ovarii meluas dari bagian atas atau kutub tuba ke
dinding pelvis yang terdapat pembuluh darah dan saraf ovarium di dalamnya2.
Ovarium memiliki korteks dan medulla2. Pada wanita muda, bagian
terluar korteks berbentuk halus, mempunyai permukaan putih yang tidak tajam
dan terbentuk tunika albuginea. Pada permukaan terdapat selapis epitel kuboid,
epitel germinal waldeyer. Korteks mengandung oosit dan folikel yang
berkembang. Medulla adalah bagian tengah yang terdiri dari jaringan ikat.
Terdapat sejumlah besar arteri dan vena di medulla dan sejumlah kecil serat-
serat otot polos2.
Ovarium dipersarafi oleh saraf simpatik dan parasimpatik2. Saraf
simpatik terutama berasal dari pleksus ovarikus yang mendampingi pembuluh
darah ovarium. Yang lainnya berasal dari pleksus yang mengelilingi cabang
ovarium arteri uterine. Ovarium banyak dipersarafi oleh serat-serat safaf non-
mielin yang sebagian besar mendampingi pembuluh darah2.
2.2. Fisiologi haid

Pada ovulasi, oosit primer matur yang besar terlepas dari ovarium dan
ditangkap oleh ujung tuba uterine yang mengalami dilatasi yang sangat dekat
dengan permukaan ovarium saat itu2. Ovulasi normalnya terjadi pada
pertengahan siklus menstruasi yakni sekitar hari keempat belas dari satu siklus
28 hari. Pada manusia biasnya hanya satu oosit yang dibebaskan ovarium
selama satu siklus tetapi terkadang tidak ada oosit yang dibebaskan atau dua
atau lebih oosit dilepaskan secara bersamaan2.
Beberapa jam sebelum ovulasi, folikel matur besar yang menonjol ke
tunica albuginea membentuk area iskemik keputihan atau translusen yakni
stigma, dengan pemadatan jaringan yang telah menghambat aliran darah2.
Secara bersamaan, sel granulosa dan sel theca interna mulai menyekresi
progesteron dan estrogen. Stimulus untuk ovulasi adalah lonjakan kadar LH
yang disekresi hipofisis anterior sebagai respons terhadap peningkatan cepat
kadar estrogen dalam sirkulasi yang dihasilkan folikel dominan matur. LH
menstimulasi sintesis hialuronat dan prostaglandin dan keseluruhan produksi
cairan di dalam folikel praovulatorik. Progesterone, LH dan FSH
mengaktifkan sejumlah enzim proteolitik termasuk plasmin dan kolagen, di
dalam dan sekitar folikel matur yang cepat melemahkan lapisan granulosa (dan
cumulus oophorus) dan tunica albuginea di atasnya. Peningkatan tekanan
cairan folikel dan pelemahan dinding folikel menimbulkan penggelembungan
dan lalu rupture permukaan ovarium di stigma . Oosit dan corona radiata,
beserta cairan folikel dan sel dari cumulus, dikeluarkan melalui lubang
tersebut oleh kontraksi otot polos theca eksterna yang dipicu oleh
prostaglandin dari cairan folikel2.
Sesaat sebelum ovulasi, oosit menyelesaikan pembelahan meiosis
pertama yang sudah bermula dan terhenti pada profase selama masa janin.
Kromosom terbagi rata diantara kedua sel anak, tetapi salah satu darinya
mempertahankan hampir semua sitoplasmanya. Sel tersebut menjadi oosit
sekunder dan lainnya menjadi badan polar pertama yakni sel yang sangat kecil
dan tidak dapat hidup dengan inti dan sedikit sitoplasma. Segera setelah badan
polar pertama dikeluarkan, inti oosit memulai pembelahan meiosis kedua,
yang terhenti saat ini pada metaphase.
Oosit sekunder terovulasi melekat longgar pada permukaan ovarium
karena cairan folikel koagulatif yang kaya hialuronat yang dilepaskan
bersamanya dan ditarik ke dalam pembukaan tuba uterine tempat fertilisasi
dapat terjadi. Jika tidak dibuahi dalam sekitar 24 jam, oosit sekunder mulai
berdegenerasi.
2.3. Definisi kista ovarium
Kista ovarium adalah kantung yang berisi cairan atau semi cairan yang
muncul di ovarium3. Kista ovarium sangat umum terjadi. Mereka dapat terjadi
selama masa subur atau setelah menopause3. Kebanyakan kista ovarium
bersifat jinak (bukan kanker) dan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan.
Jarang, kista mungkin ganas (kanker)3. Kista ovarium berhubungan dengan
gangguan hormon periodik4. Sehingga kista ovarium dapat dibedakan dengan
neoplasma lainnya yang biasanya berukuran 6-8 cm, asimtomatik, spontan
mengecil, unilokular, mengandung cairan bening dan terdapat lapisan epitel
sesuai asal perkembangannya4.
Kista endometriosis adalah kista yang terbentuk dari jaringan
endometriosis (jaringan yang mirip dengan selaput dinding rahim yang tumbuh
di luar rahim) menempel di ovarium dan berkembang menjadi kista5. Kista ini
juga disebut sebagai kista coklat endometriosis karena berisi darah coklat-
kemerahan. Kista ini berhubungan dengan penyakit endometriosis yang
menimbulkan nyeri haid dan senggama.5,4
2.4. Sifat Kista
Kista Fisiologis
Sesuai siklus menstruasi, di ovarium timbul folikel dan folikelnya
berkembang, dan gambaranya seperti kista. Biasanya kista tersebut berukuran
dibawah 4 cm, dapat dideteksi dengan menggunakan pemeriksaan USG, dan
dalam 3 bulan akan hilang. Jadi ,kista yang bersifat fisiologis tidak perlu
operasi, karena tidak berbahaya dan tidak menyebabkan keganasan, tetapi
perlu diamati apakah kista tersebut mengalami pembesaran atau tidak. Kista
yang bersifat fisiologis ini dialami oleh orang di usia reproduksi karena masih
mengalami menstruasi. Biasanya kista fisiologis tidak menimbuklkan nyeri
pada saat haid. Beberapa jenis kista fisiologis diantaranya adalah kista korpus
luteal, kista folikular, kista teka-lutein.4
Kista Patologis
Kista ovarium yang bersifat ganas disebut juga kanker ovarium.Kanker
ovarium merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker
ginekologi. Angka kematian yang tinggi karena penyakit ini pada awalnya
bersifat tanpa gejala dan tanpa menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi
metastasis, sehingga 60-70% pasien datang pada stadium lanjut, penyakit ini
disebut juga sebagai silent killer. Angka kematian penyakit ini di Indonesia
belum diketahui dengan pasti.1
Pada kista patologis, pembesaran bisa terjadi relatif cepat, yang kadang
tidak disadari penderita.Karena, kista tersebut sering muncul tanpa gejala
seperti penyakit umumnya.Itu sebabnya diagnosa agak sulit dilakukan.Gejala
gejala seperti perut yang agak membuncit serta bagian bawah perut yang terasa
tidak enak biasanya baru dirasakan saat ukuranya sudah cukup besar. Jika
sudah demikian biasanya perlu dilakukan tindakan pengangkatan melalui
proses laparoskopi.1,2
Ada lagi jenis kista abnormal pada ovarium.Jenis ini ada yang bersifat
jinak dan ganas. Bersifat jinak jika bisa berupa spot dan benjolan yang tidak
menyebar. Meski jinak kista ini dapat berubah menjadi ganas.Tetapi sampai
saat ini, belum diketahui dengan pasti penyebab perubahan sifat tersebut. Kista
ganas yang mengarah ke kanker biasanya bersekat sekat dan dinding sel tebal
dan tidak teratur.Tidak seperti kista fisiologis yang hanya berisi cairan, kista
abnormal memperlihatkan campuran cairan dan jaringan solid dan dapat
bersifat ganas.1,2,3
2.4. Epidemiologi kista ovarium
Angka kejadian kista ovarium sering terjadi pada wanita berusia
reproduktif dan jarang sekali dibawah usia 20 tahun dan diatas 50 tahun6.
Berdasarkan data catatan medik di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto
tahun 2008, wanita yang mengalami kista ovarium sekitar 58% terjadi pada
wanita yang berumur di bawah 30 tahun6. Kista ovarium di RSUD
Banjarnegara tahun 2009 -2010, mayoritas berumur 22-28 tahun sebanyak
34,38% multiparitas sebanyak 65,6% dan jenis kista ovarium berupa kista
ovari simpleks sebanyak 96,87%6.
2.5. Etiologi kista ovarium
Terdapat bermacam-macam penyebab kista ovarium;
a. Kista folikuler
Adalah kista yang paling sering terjadi dan berasal dari pertumbuhan
folikel7. Folikel adalah kantung berisi cairan yang di dalamnya terdapat
sel telur. Kista folikuler terbentuk ketika folikel bertumbuh melebihi
ukuran normal selama siklus menstruasi dan tidak pecah untuk
melepaskan ovum. Biasanya kista folikuler akan diserap dan akan
menghilang dalam hitungan hari hingga bulan. Kista folikuler biasanya
mengandung darah (kista hemoragik) yang berasal dari perembesan
darah ke dalam kantung sel telur7.
b. Kista korpus luteum
Kista korpus luteum berhubungan dengan siklus mentruasi7. Korpus
luteum adalah daerah di dalam ovarium yang terbentuk setelah sel telur
terlepas dari folikel. Jika kehamilan tidak terjadi, korpus luteum
biasanya akan meluruh dan menghilang. Tetapi dapat juga terisi oleh
cairan atau darah dan menetap di dalam ovarium. Biasanya kista ini
tidak menimbulkan gejala dan sembuh secara spontan7.
c. Kista coklat
Ovarium adalah tempat biasanya endometriosis terjadi7. Ketika
endometriosis terdapat di ovarium, maka endometriosis tersebut akan
bertumbuh dan berdarah seiring berjalannya waktu, membentuk kista
berisi darah dengan isi berwarna merah atau coklat yang disebut
endometrioma dan kadang-kadang disebut sebagai kista coklat7.
d. Sindrom polikistik ovarium
Sindrom polikistik ovarium ditandai oleh terdapatnya banyak kista di
kedua ovarium7. Sindrom polikistik ovarium berhubungan dengan
gangguan hormon dan penyebab tersering infertilitas7.
e. Kista dermoid (kista teratoma jinak)
Baik tumor jinak dan ganas pada ovarium dapat berbentuk kista7.
Terkadang jaringan ovarium dapat berkembang secara tidak normal
untuk membentuk jaringan tubuh lain seperti rambut atau gigi. Kista
dengan jaringan yang abnormal ini biasa disebut kista dermoid atau
kista teratoma jinak7.
f. Abses tuba-ovarium
Infeksi pada organ panggul dapat melibatkan tuba falopi dan ovarium7.
Pada kasus yang parah, kista yang berisi pus dapat ditemukan di dalam
atau sekitar ovarium atau tuba7.
2.6. Faktor risiko kista ovarium
 Pengobatan infertilitas
Pasien yang dirawat karena infertilitas dengan induksi ovulasi dengan
gonadotropin dan agen lain, seperti klomifen sitrat atau letrozole, dapat
menyebabkan kista sebagai bagian dari sindrom hiperstimulasi
ovarium8.
 Tamoxifen
Tamoxifen dapat menyebabkan kista ovarium fungsional yang
biasanya sembuh setelah penghentian pengobatan8.
 Kehamilan
Pada wanita hamil, kista ovarium dapat terbentuk pada trimester kedua
ketika hCG memuncak8.
 Hipotiroidisme
Karena kesamaan subunit alfa hormon perangsang tiroid (TSH) dan
hCG , hipotiroidisme dapat merangsang pertumbuhan kista ovarium8.
 Maternal gonadotropin
Efek transplasenta gonadotropin ibu dapat menyebabkan
perkembangan kista ovarium neonatal dan janin8.
2.7. Klasifikasi Kista
Diantara tumor-tumor ovarium ada yang bersifat neoplastik dan
non neoplastik. Tumor neoplastik dibagi atas tumor jinak dan ganas,
dan tumor jinak dibagi dalam tumor kistik dan solid

1. Tumor Non Neoplastik


a. Tumor akibat radang
i. Abses ovarial
ii. Abses tubo-ovarial
iii. Kista tubo-ovarial
b. Tumor lain
i. Kista folikel
ii. Kista korpus lutein
iii. Kista teka-lutein
iv. Kista inklusi germinal
v. Kista endometrium
2. Tumor Neoplastik Jinak
a. Kistik
i. Kistoma ovarii simpleks
ii. Kistadenoma ovarii musinosum
iii. Kistadenoma ovarii serosum
iv. Kista endometroid
v. Kista dermoid
b. Solid
i. Fibroma, leiomioma, fibroadenoma, papiloma, angioma, limfangioma
ii. Tumor Brenner
iii. Tumor sisi aderenal (makulinovo-blastoma).1
1. Kista Ovarium Non-Neoplastik
a. Tumor Akibat Radang
Tumor ini biasanya disebabkan oleh proses infeksi yang terjadi pada adneksa. Tumor
ini cukup jarang. Proses pembentukan tumor ini didahului oleh masuknya bakteri
kedalam uterus yang berlanjut ke bagian salfing dan menuju ke adneksa. Kemudian
terjadilah infeksi dan terjadi proses imunologis sehingga terbentuk abses.1
b. Kista Folikel
Kista ini berasal dari folikel de graff yang tidak sampai berovulasi, namun
tumbuh terus menjadi kista folikel, atau dari beberapa folikel primer yang setelah
bertumbuh di bawah pengaruh estrogen tidak mengalami proses atresia yang lazim,
melainkan membesar menjadi kista.bisa di dapati satu kista atau beberapa dan
besarnya biasanya berdiameter 1-1 ½cm.Dalam menangani tumor ovarium timbul
persoalan apakah tumor yang dihadapi itu neoplasma atau kista folikel. Umumnya
jika diameter tumor tidak lebih dari 5 cm, dapat di tunggu dahulu karena kista folikel
dalam 2 bulan akan hilang sendiri.1,3
Kista folikuler secara tipikal kecil dan timbul dari folikel yang tidak sampai
saat menopause, sekresinya akan terlalu banyak mengandung estrogen sebagai respon
terhadap hipersekresi FSH (folikel stimulating hormon) dan LH (luteinizing hormone)
normalnya ditemui saat menopause berdiameter 1 -10 cm (folikel normal berukuran
limit 2,5 cm); berasal dari folikel ovarium yang gagal mengalami involusi atau gagal
meresorpsi cairan. Dapat multipel dan bilateral. Biasanya asimtomatik.1

Gambar 3 : Kista Folikel

c. Kista Korpus Lutein


Dalam keadaan normal korpus luteum lambat laun mengecil dan menjadi
korpus albikans. Kadang-kadang korpus luteum akan mempertahankan diri (korpus
luteum persisten); perdarahan yang terjadi di dalamnya akan menyebabkan kista,
berisi cairan berwarna merah coklat karena darah tua. Pada pembelahan ovarium
kista korpus luteum memberi gambaran yang khas.Dinding kista terdiri atas lapisan
berwarna kuning, terdiri atas sel-sel luteum yang berasal dari sel-sel teka.Penanganan
kista luteum ini menunggu sampai kista hilang sendiri. Dalam hal ini dilakukan
operasi atas dugaan kehamilan ektopik terganggu,kista korpus luteum diangkat tanpa
mengorbankan ovarium.1,3

Gambar 4 : Kista Korpus Luteal

d. Kista Teka Lutein


Kista biasanya bilateral dan sebesar tinju. Pada pemeriksaan mikroskopik
terlihat luteinisasi sel-sel teka.Tumbuhnya kista ini ialah akibat pengaruh hormone
koriogonadrotropin yang berlebihan.1,3
Kista granulosa lutein yang terjadi di dalam korpus luteum indung telur yang
fungsional dan membesar bukan karena tumor, disebabkan oleh penimbunan darah
yang berlebihan saat fase pendarahan dari siklus menstruasi.
Kista teka-lutein biasanya berisi cairan bening, berwarna seperti jerami;
biasanya berhubungan dengan tipe lain dari growth indung telur, serta terapi hormon.
Gambar 5 : Kista Teka Lutein

e. Kista Inklusi Germinal


Terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian-bagian terkecil dari epitel
germinativum pada permukaan ovarium. Biasanya terjadi pada wanita usia lanjut dan
besarnya jarang melebihi 1 cm. Kista terletak di bawah permukaan ovarium,
dindingnya terdiri atas satu lapisan epitel kubik atau torak rendah, dan isinya cairan
jernih dan serous.1,3

Gambar 6 : Kista Inklusi Germinal


f. Kista Endometrium
Kista ini endometriosis yang berlokasi di ovarium. Akibat proliferasi dari sel
yang mirip dinding endometrium, umumnya berisi darah yang merupakan hasil
peluruhan dinding saat menstruasi.1

1. Neoplasia Jinak
1.1. Kistik:
1.1.1. Kistoma Ovari Simpleks
Kista ini mempunyai permukaan yang rata dan halus, biasanya bertangkai,
seringkali bilateral dan dapat menjadi besar. Dinding kista tipis dan cairan di dalam
kista jernih, serous dan berwarna kuning. Pada dinding kista tampak lapisan epitel
kubik. Terapi terdiri atas pengangkatan kista dengan reseksi ovarium, akan tetapi
jarinngan yang dikeluarkan harus segera diperiksa secara histologik untuk
mengetahui apakah ada keganasan.1,3
1.1.2. Kistadenoma Ovarii Serosum
Kista ini ditemukan dalam frekwensi yang hampir sama dengan kistadenoma
musinosum dan dijumpai pada golongan umur yang sama. Kista ini sering
ditemukan bilateral (10-20%) daripada kistadenoma musinosum. Tumor serosa
dapat membesar sehingga memenuhi ruang abnomen, tetapi lebih kecil dibanding
dengan ukuran kistadenoma musinosum. Permukaan tumor biasanya licin, tetapi
dapat juga lobulated karena kista serosum pun dapat berbentuk multikolur,
meskipun lazimnya berongga satu. Warna kista putih keabuan.
Ciri khas dari kista ini adalah potensi pertumbuhan papiler ke dalam rongga
kista sebesar 50% dan keluar pada permukaan kista sebesar 5%. Isi kista cair, kuning
dan kadang-kadang coklat karena bercampur darah. Tidak jarang, kistanya sendiri
kecil, tetapi permukaannya penuh dengan pertumbuhan papiler (solid papiloma)
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa sulit membedakan gambaran
makroskopis kistadenoma serosum papileferum yang ganas dari yang jinak, bahkan
pemeriksaan rnikroskopis pun tidak selalu mernberikan kepastian.
Pada pemeriksaan mikroskopis terdapat dinding kista yang dilapisi epitel
kubik atau torak yang rendah, dengan sitoplasma eosinofil dan inti sel yang besar
dan gelap warnanya. Karena tumor ini berasal dari epitel permukaan ovarium
(germinal epithelum), maka bentuk epitel pada papil dapat beraneka ragam, tetapi
sebagian besar terdiri atas epitel bulu getar seperti epitel tuba. Pada jaringan papiler
dapat ditemukan pengendapan kalsium dalam stromanya yang dinamakan psamoma.
Adanya psamoma menunjukkan bahwa kista adalah kistadenoma ovarium serosum
papiliferum, tetapi bukan ganas.
Tidak ada gejala klasik yang menyertai tumor serosa proliferatif. Kebanyakan
ditemukan pada pemeriksaan rutin dari pelvis. Kadang-kadang pasien mengeluh rasa
ketidaknyamanan daerah pelvis dan pada pemeriksaan ditemukan massa abdomen
atau pun ascites. Kelainan ekstra abdomen jarang ditemukan pada keganasan
ovarium kecuali pada stadium terminal. 1,2,6
Apabila ditemukan pertumbuhan papiler, proliterasi dan stratifikasi epitel,
serta anaplasia dan mitosis pada sel-sel, kistadenoma serosum secara makroskopik
digolongkan ke dalam kelompok tumor ganas. 30-35% dari kistadenoma serosum
mengalami perubahan keganasan. Bila terdapat implantasi pada peritoneum disertai
dengan ascites, prognosis penyakit adalah kurang baik.
Meskipun diagnosis histopatologis pertumbuhan tumor tersebut mungkin
jinak (histopathologically benign), tetapi secara klinis harus dianggap sebagai
neoplasma ovarium ganas (clinicaly malignant).
Terapi pada umumnya adalah pengangkatan tumor. Tetapi oleh karena
berhubung dengan besarnya kemungkinan keganasan perlu dilakukan pemeriksaan
yang teliti terhadap tumor yang dikeluarkan. Bahkan kadang-kadang perlu diperiksa
sediaan yang dibekukan (frozen section) pada saat operasi, untuk menentukan
tindakan selanjutnya pada waktu operasi.1,3

Gambar 7 : Kista Ovarium Serosum


1.1.3. Kistadenoma Ovarii Musinosum
Asal tumor ini belum diketahui dengan pasti. Tumor ini mungkin muncul
sebagai tumor unilateral kista teratoma atau sebagai metaplasia mucinosum dari
mesothelium. Tumor mucinous yang berasal dari teratoid ditemukan pada penderia
yang muda. Paling sering pada wanita berusia antara 20-50 tahun dan jarang sekali
pada masa prapubertas. Tumor evarium ini terbanyak ditemukan bersama-sama
dengan kistadenoma ovarii serosum. Kedua tumor ini merupakan kira-kira 60% dari
seluruh ovarium, sedang kistadenoma ovarii musinosum nerupakan 40% dari seluruh
kelompok neoplasma ovarium.
Kista ini biasanya mempunyai dinding yang licin, permukaan berbagala
(lobulated) dan umumnya multitokular dan odematosa; lokular yang mengandung
niukosa ini kelihatan biru dari peregangan kapsulnya. Kira-kira 10% dapat mencapai
ukuran yang amat besar dan pada tumor ini tidak dapat ditemukan jaringan yang
normal lagi. Tumor biasanya unilateral, akan tetapi dapat juga dijumpai yang
bilateral (8-10%).
Dinding kista agak tebal dan berwarna putih keabuan terutama apabila terjadi
perdarahan atau perubahan degeneratif di dalam kista. Pada permukaan terdapat
cairan lendir yang khas, kental seperti gelatin, melekat dan berwarna kuning sampai
coklat tergantung dari percampurannya dengan darah.
Pemeriksaan mikroskopik: tampak dinding kista dilapisi oleh epital torak
tinggi dan sel-sel goblet yang terisi lendir. Sel-sel epitel yang terdapat dalam satu
lapisan bersifat odernatus dan mempunyai potensi untuk tumbuh seperti struktur
kelenjar, kelenjar-kelenjar menjadi kista-kista baru, yang menyebabkan kista
menjadi multilokuler. Jika terjadi suatu sobekan pada dinding kista (spontan ataupun
pada saat operasi), maka sel-sel epitel dapat tersebar pada permukaan peritoneum
rongga perut, dan sekresinya menyebabkan pseudomiksoma peritonei. Akibat
pseudorniksoma peritonei timbul penyakit menahun dengan musin terus bertambah
dan menyebabkan banyak perlengketan. Akhirnya penderita meninggal karena ileus.
Pada kista kadang-kadang ditemukan daerah padat dan pertumbuhan papiler.1,3
1.1.4. Kista Endometroid
Terjadi karena lapisan didalam rahim (yang biasanya terlepas sewaktu haid
dan terlihat keluar dari kemaluan seperti darah); tidak terletak dalam rahim tetapi
melekat pada dinding luar ovarium. Akibat peristiwa ini setiap kali haid, lapisan
tersebut menghasilkan darah haid yang akan terus menerus tertimbun dan menjadi
kista. Kista ini bisa 1 pada dua indung telur. Timbul gejala utama yaitu rasa sakit
terutama sewaktu haid/ sexual intercourse.1,3

Gambar 8 :Kista Endometroid

1.1.5. Kista Dermoid


Tumor ini merupakan 10% dan seluruh neoplasma ovarium yang kistik, dan
paling sering ditemukan pada wanita yang masih muda. 25% dari semua kista
dermoid bilateral, lazimnya dijumpai pada masa reproduksi walaupun dapat
ditemukan pada anak kecil. Tumor ini dapat mencapai ukuran sangat besar, sehingga
beratnya mencapai beberapa kilogram.
Kista ini tumbuh akibat proses yang kurang sempurna saat pembentukan
lapisan embrional. Lapisan ektoderm yang saat dewasa akan menjadi sel sel folikel
rambut, tulang, serta gigi secara tidak sempurna tumbuh di sekitar ovarium. Kista ini
tidak mempunyai ciri yang khas.Dinding kista kelihatan putih keabuan dan agak
tipis.Konsistensi tumor sebagian kistik kenyal, di bagian lain padat. Dapat
ditemukan kulit, rambut kelenjer sebasea, gigi (ektodermal), tulang rawan, serat otot
jaringan ikat (mesodemal) dan mukosa traktus gasttrointotinelis, epitel saluran kista
terdapat produk kelenjer sebasea berupa massa lembek seperti lemak, bercampur
dengan rambut
Pada kista dermoid dapat terjadi torsio tangkai dengan gejala nyeri mendadak
di perut bagian bawah. Ada kemungkinan terjadinya sobekan dinding kista dengan
akibat pengeluaran isi kista dalam rongga peritoneum.Perubahan keganasan dari
kista sangat jarang, hanya 1,5% dari semua kista dermoid dan biasanya pada wanita
lewat menopause.1,3
Gambar 9 : Kista Dermoid

1.2. Solid
Semua tumor ovarium yang padat adalah neoplasma.Akan tetapi, ini tidak berarti
bahwa termasuk suatu neoplasma yang ganas, meskipun semuanya berpotensi maligna.
Potensi menjadi ganas sangat berbeda pada berbagai jenis, umpamanya sangat rendah pada
fibroma ovarium dan sangat tinggi pada teratoma embrional yang padat.1,6

1.2.1. Fibroma ovarii


Potensi menjadi ganas sangat rendah pada fibroma ovarium, kurang dari 1%.
Fibroma ovarii berasal dari elemen fibroblastik stroma ovarium atau sel mesenkim
yang multipoten. Tumor ini merupakan 5% dari semua neoplasma ovarium dan
paling sering ditemukan pada penderita menopause.
Tumor ini mencapai diameter 2 sampai 30 cm; dan beratnya 20 kg, dengan
90% uniteral. Permukaan tidak rata, konsistensi keras, warnanya merah jambu
keabuan. Apabila konsistensi sangat padat disebut fibroma durum, dan apabila lunak
disebut fibroma molle. Neoplasma ini terdiri atas jaringan ikat dengan sel-sel di
tengah jaringan kolagen. Apabila terdiri atas kelenjar-kelenjar kistik, maka disebut
kistadenofroma ovarii. Fibroma ovarii yang besar biasanya mempunyai tangkai dan
dapat terjadi torsi. Pada tumor ini sering ditemukan sindroma Meigs (tumor ovarii,
ascites, hidrotoraks). 1,2,6
1.2.2. Tumor Brenner
Merurupakan suatu neoplasma ovarium yang sangat jarang ditemukan,
biasanya pada wanita dekat atau sesudah menopause. Frekuensinya 0,5% dari semua
tumor ovarium. Besar tumor ini beraneka ragam, dari sangat kecil ke yang beratnya
beberapa kilogram. Lazimnya tumor ini unilateral. Pada pembelahan berwarna
kuning muda seperti fibroma, dengan kista-kista kecil. Kadang-kadang pada tumor
ini temukan sindroma Meigs. Gambar mikroskopis tumor ini sangat khas, terdiri dari
2 elemen, yakni sarang-sarang yang terdiri atas epitel epitel, yang dikelilingi
jaringan ikat yang luas dan padat.
Tumor Brenner tidak menimbulkan gejala-gejala klinik yang khas, dan jika
masih kecil, biasanya ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan histopatologik
ovarium. Meskipun biasanya jinak, dalam beberapa kasus tumor ini menunjukkan
keganasan pada histopatologi dan klinisnya.1,2,6
1.2.3. Maskulinovoblastoma (adrenal cell rest tumor)
Tumor ini sangat jarang terjadi. Biasanya unilateral dan besarnya bervariasi
antara 0,5-16 cm. Beberapa dari tumor ini menyebabkan gejala maskulinasi, terdiri
atas hirsutisme, pembesaran klitoris, atrofi memmae, dan perubahan suara.
Klasifikasi kista ovarium berdasarkan asal selnya yaitu sel epithelial
Tumor primer ovarium dapat diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan
asal selnya yaitu sel epithelial, sel telur dan sel stroma, serta dapat juga
disebabkan oleh metastasis ke ovarium9. Tumor epithelial ovarium terjadi
sekitar 85% dari seluruh keganasan di ovarium, yang paling sering adalah jenis
kanker serous. Kista dermoid adalah neoplasma jinak paling sering terjadi di
ovarium. Tumor sel stroma dapat menghasilkan hormon, estrogen dan
progesterone, yang menyebabkan gejala gangguan hormon9. Tumor ovarium
dapat jinak, peralihan atau ganas. Selain itu, tumor jinak ovarium dapat
merupakan kista fungsional dan kista hemoragik, seperti endometriosis9.
Klasifikasi, frekuensi dan distribusi umur pada berbagai neoplasma
ovarium5
Sel epitel Metastasis
Asal Sel benih Sel stroma
permukaan ke ovarium
Frekuensi 65%-70% 15%-20% 5%-10% 5%
Proporsi
tumor
90% 3%-5% 2%-3% 5%
ovarium
ganas
Kelompok
Semua
umur yang >20 tahun 0-25 tahun Variable
umur
terkena
Tipe Tumor serosum, Teratoma, Fibroma,
Tumor disgerminoma, tumor
musinosum, tumor sinus granulosa
Tumor endodermal, sel theca,
endometrioid, koriokarsinoma tumor
Tumor sel jernih, sertoli-
Tumor Brenner, leydig
kistadenofibroma

2.8. Manifestasi klinis kista ovarium


Sebagian besar pasien dengan kista ovarium tidak menunjukkan gejala,
dengan kista yang ditemukan pada pemeriksaan panggul dan usg rutin8. Tetapi
beberapa kista ovarium menunjukkan serangkaian gejala, terkadang parah,
bahkan keganasan ovarium tidak menunjukkan gejala hingga mencapai
stadium lanjut8.
Nyeri atau rasa tidak nyaman dapat muncul pada perut bagian bawah8.
Torsi ovarium dapat menyebabkan gejala nyeri yang hebat. Pecahnya kista
ditandai dengan nyeri panggul yang tiba-tiba, unilateral dan tajam. Hal ini
dapat dikaitkan dengan trauma, olahraga atau koitus. Selain itu, rupture kista
dapat menyebabkan tanda-tanda peritoneum, perut kembung dan perdarahan
yang bersifat sementara8.
Penelitian yang dilakukan terhadap 123 pasien secara retrospektif di
India, kebanyakan pasien menunjukkan gejala nyeri abdomen, nyeri terasa
samar dan berhubungan dengan rasa berat di perut bagian bawah4. Terdapat
tiga pasien yang menunjukkan nyeri abdomen hebat dan terdapat tanda-tanda
akut abdomen. Pesien ini dicurigai menderita torsio ovarium. Pada pasien usia
reproduktif menunjukkan gejala menoragia dan dismenorea4.
Gejala pada kista ovarium4
Manifestasi klinis Jumlah kasus Persentasi
Nyeri abdomen 83 67,5%
Massa abdomen 7 5,7%
Menoragia/dismenorea 12 9,75%
Temuan incidental 12 9,75%
Infertilitas 6 4,9
Perdarahan post menopause 3 2,44

Kebanyakan wanita dengan kanker ovarium tidak menimbulkan gejala dalam


waktu yang lama. Gejala umumnya sangat bervariasi dan tidak spesifik.4,6

Pada stadium awal gejalanya dapat berupa:

a. Gangguan haid
b. Jika sudah menekan rectum atau VU mungkin terjadi konstipasi atau sering berkemih.
c. Dapat terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan nyeri
spontan dan sakit diperut.
d. Nyeri saat bersenggama.
Pada stadium lanjut:

a. Asites
b. Penyebaran ke omentum (lemak perut) serta organ di dalam rongga perut
c. Perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan
d. Gangguan buang air besar dan kecil.
e. Sesak nafas akibat penumpukan cairan di rongga dada.4

2.9. Patogenesis kista ovarium


Etiopatogenesis kista ovarium belum sepenuhnya dimengerti dan
diduga disebabkan oleh multifactor9. Faktor risiko utama adalah keturunan,
riwayat kanker ovarium pada tingkat pertama. Namun hanya 5%-10% yang
terkait dengan keturunan. Penyebab utama adalah sindrom kanker payudara-
ovarium, diperantarai oleh mutasi gen penekan tumor BRCA1 dan BRCA29.
Sekitar 90%-95% penyebaran kasus tidak merata dan risiko bertambah terkait
dengan nulliparitas, menarche dini dan menopause lanjut, hamil, menyusui.
Sedangkan penggunaan pil kontrasepsi menurunkan risiko. Kasus yang terkait
dengan herediter terjadi terutama pada usia tua9.
Tumor endometrioid mungkin bersifat padat atau kistik, biasanya
tumbuh berkaitan dengan endometriosis5. Pada pemeriksaan mikroskopik,
dibedakan dengan pembentukan kelejar tubuler, mirip dengan endometrium, di
dalam lapaisan rongga kistik. Walaupun terdapat jenis jinak dan jenis
perantara (borderline) tumor endometrioid biasanya ganas5. Dijumpai bilateral
pada 30% kasus dab 15%-30% wanita yang mempunyai karsinoma ini
bersamaan juga memiliki karsinoma endometrium. Mirip dengan karsinoma
endometrium jenis endometrioid, karsinoma endometrioid ovarium juga
mempunyai mutasi pada gen supresor tumor PTEN5.
2.10. Penegakkan diagnosa kista ovarium
a. Anamnesis
 Siklus menstruasi yang tidak teratur10
 Dyspareunia dan peristaltic usus10
 Mual atau muntah10
 Perut terasa penuh meski makan sedikit10
 Pembengkakan perut10
b. Pemeriksaan fisik
Melakukan pemeriksaan pelvis dan rectum untuk mengetahui
perubahan abnormal pada uterus, vagina, ovarium, tuba fallopi, vesica
dan rectum11.
c. Laboratorium12
Tumor marker yang digunakan untuk tumor epithelial adalah cancer
antigen (CA)-12512. Pada wanita post-menopause, CA-125 memiliki
sensitivitas dan spesifitas yang tinggi12. Sedangkan pada wanita usia
reproduktif, memiliki spesivitas tinggi tetapi spesifitasnya rendah
karena dapat meningkat pada kondisi lain (inflamasi peritoneum,
endometriosis, dll). Human epididymis protein 4 (HE4) saat ini juga
digunakan sebagai tumor marker dan beberapa penelitian menunjukkan
kegunaan dalam membedakan massa adneksal jinak atau ganas pada
wanita postmenopause12.

Tingkat tumor marker dan risiko keganasan ovarium12


Stage I All
Benign Borderline
malignant malignant
HE4 (≤ 85 65,7 71,0 102,5 190
pM)
Premenopause 56,9 68,7 79,7 (41,2- 160,8 (41,2-
(30,6- (35,8- 1.729) 1.729)
469) 120,8)
Postmenopaus 68,6 85,2 105,5 (38,7- 210,1 (38,7-
e (34,2- (57,6- 1.111) 7.931,9)
631,4) 277,3)
CA-125 (≤ 35 16,2 51,8 49,7 204,2
U/ml)
Premenopause 22.9 52.6 49.7 87.6
(6.3-121. (9.7-652.) (19.8-2,377.5 (19.8-4,232.7
) ) )
Postmenopaus 14.3 49.8 54.3 264.7
e (2.3-4,63 (8.4-599.9 (6.2-2,932) (6.2-14,880.2
) ) )

Pemeriksaan lab dapat berguna sebagai screening maupun diagnosis apakah tumor
tersebut bersifat jinak atau ganas.Berikut pemeriksaan yang umum dilakukan untuk
mendiagnosis kista ovarium.

 Pemeriksaan Beta-HCG Pemeriksaan ini digunakan untuk screening awal


apakah wanita tersebut hamil atau tidak. Pemeriksaan ini dapat menyingkirkan
kemungkinan kehamilan ektopik.
 Pemeriksaan Darah Lengkap Untuk sebuah penyakit keganasan, dapat
diperkirakan melalui LED. Parameter lain seperti leukosit, HB, HT juga dapat
membantu pemeriksa menilai keadaan pasien.
 Urinalisis Urinalisis penting untuk mencari apakah ada kemungkinan lain, baik
batu saluran kemih, atau infeksi dan untuk menyingkirkan diagnosis banding.
 Pemeriksaan Tumor Marker Tumor marker spesifik pada keganasan
ovarium adalah CA125. CEA juga dapat diperiksa, namun CEA kurang spesifik
karena marker ini juga mewakili keganasan kolorektal, uterus dan ovarium.

d. Radiologi
Ultrasonografi tidak dapat membedakan antara kista fungsional dan
kista organic sederhana9. Sensitivitasnya dalam membedakan kista
jinak dan kista ganas antara 62%-100% dan spesifitas antara 87%-95%.
Hasil terbaik menggunakan probe endovaginal9.

Hubungan antara histopatologi dengan gambaran USG4


Histopatologi USG
1. Ultrasonog
Corpus luteum cyst Simple unilocular cyst
rafi (USG)
Paraovarian cyst Simple unilocular cyst
Alat
Follicular cyst Anechoic with septa,
peraba
Simple unilocular cyst
(transduc
Endometriotic cyst Simple unilocular cyst,
er) Cyst with internal echos,
Anechoic with septa,
digunaka
Mature cystic Cysts with hyperechoic,
n untuk
Teratoma area/calcification
memasti
Serous cysadenoma Anechoic cysts,
kan Anechoic cysts with
keberada Septa,
Anechoic cysts with
an kista, echogenic
membant Mucinous Multi septate anechoic
u Cystademona cysts
Simple anechoic cysts
mengena
Serous Solid tumor
li Adenofibroma
lokasiny Hemorrhagic Cyst Anechoic cysts
a dan Serous Multi septate anechoic
menentu Cystadenocarcinoma cysts with solid
components
kan
Borderline Multi septate anechoic
apakah mucinous tumor cysts with solid
isi kista components
cairan Borderline papillary Multi septate anechoic
serous tumor Cysts
atau
padat. Kista berisi cairan cenderung lebih jinak, kista berisi material padat
memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.5,6
Dari gambaran USG dapat terlihat:
a. Akan terlihat sebagai struktur kistik yang bulat (kadang-kadang oval) dan
terlihat sangat echolucent dengan dinding yang tipis/tegas/licin, dan di tepi
belakang kista nampak bayangan echo yang lebih putih dari dinding depannya.
b. Kista ini dapat bersifat unillokuler (tidak bersepta) atau multilokuler (bersepta-
septa).
c. Kadang-kadang terlihat bintik-bintik echo yang halus-halus (internal echoes) di
dalam kista yang berasal dari elemen-elemen darah di dalam kista.

Gambar 11 : Gambaran Kista pada USG

2. Pemeriksaan Patologi Anatomi


Merupakan pemeriksaan untuk memastikan tingkat keganasan dari tumor ovarium.
Pemeriksaan ini biasanya dilakukan bersama dengan proses operasi, kemudian sampel
difiksasi dan diperiksa dibawah mikroskop.6

2.11. Tatalaksana kista ovarium


1. Observasi dan Manajemen Gejala
Jika kista tidak menimbulkan gejala, maka cukup dimonitor (dipantau) selama 1-2
bulan, karena kista fungsional akan menghilang dengan sendirinya setelah satu atau dua
siklus haid. Tindakan ini diambil jika tidak curiga ganas. Apabila terdapat nyeri, maka
dapat diberikan obat-obatan simptomatik seperti penghilang nyeri NSAID1,2,4
2. Operasi
Jika kista membesar, maka dilakukan tindakan pembedahan, yakni dilakukan
pengambilan kista dengan tindakan laparoskopi atau laparotomi. Biasanya kista yang
ganas tumbuh dengan cepat dan pasien mengalami penurunan berat badan yang
signifikan. Akan tetapi kepastian suatu kista itu bersifat jinak atau ganas jika telah
dilakukan pemeriksaan Patologi Anatomi setelah dilakukan pengangkatan kista itu
sendiri melalui operasi. Biasanya untuk laparoskopi diperbolehkan pulang pada hari ke-3
atau ke-4, sedangkan untuk laparotomi diperbolehkan pulang pada hari ke-8 atau ke-
9.1,2,4
Indikasi umum operasi pada tumor ovarium melalui screening USG umumnya
dilakukan apabila besar tumor melebihi 5cm baik dengan gejala maupun tanpa gejala.
Hal tersebut diikuti dengan pemeriksaan patologi anatomi untuk memastikan keganasan
sel dari tumor tersebut.1,2,4,6
2.12. Prognosis dan komplikasi kista ovarium

Prognosis untuk kista ovarium jinak adalah baik1. Secara keseluruhan


70%-80% dari kista folikel akan sembuh spontan. Keganasan adalah ancaman
yang dapat muncul pada semua kista ovarium. Pasien hamil yang memiliki
kista dengan diameter yang kurang dari 6 cm memiliki risiko keganasan
kurang dari satu persen. Sebagian besar dari kista-kista ini akan sembuh pada
usia kehamilan 16-20 minggu, dengan 96% dari massa ini akan sembuh
spontan. Pada pasien pascamenopause dengan kista unilokuler, keganasan
terjadi pada 0,3% kasus1.

Kista ovarium dapat menimbulan banyak komplikasi1. Pada banyak


kasus kista ovarium yang jinak dan asimtomatik akan sembuh spontan. Pada
kasus yang lain dapat menimbulkan ruptur kista, perdarahan dan torsio kista
ovarium1

BAB III
STATUS PASIEN

1. Identitas pasien
Nama : Ny. SN
Umur : 27 tahun
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
Suku : Batak
Status : menikah
Alamat : Jl Pane
Rujukan : RSU. Putri Bidadari
Masuk RS : 15-11-2019
Keluar RS : 18-11-2019
No. MR : 1911204766
2. Anamnesa (Autoanamnesa)
2.1. Keluhan utama
Benjolan di perut kanan bawah yang terasa nyeri
2.2. Telaah
Pasien mengeluh ada benjolan di perut sejak ± 6 bulan yang lalu.
Benjolan awalnya kecil, tetapi lama kelamaan makin membesar. Pasien
merasakan nyeri pada perutnya, dan mengganggu aktivitas pasien sehari-hari.
Keluar darah dari kemaluan disangkal pasien namun pasien mengaku
mentsruasinya lebih banyak dari biasanya sejak timbul benjolan di perut.
Keluhan sesak disangkal. Mual dan muntah tidak dirasakan. Gangguan makan
juga di sangkal pasien. Pasien juga menyangkal riwayat demam maupun
penurunan berat badan. Gangguan BAK dan BAB tidak dirasakan.
2.3. Riwayat haid
Haid pertama usia 13 tahun, siklus 28 hari selama 5 hari, ganti
pembalut sebanyak 1-2 kali/hari. Setelah menikah pasien mengeluhkan haid
tidak teratur, datangnya terkadang dibawah 21 hari ataupun diatas 35 hari.
HPHT : 07-11-2019
2.4. Riwayat perkawinan:
Pasien baru menikah satu kali dan usia pernikahan sudah 07 tahun.
2.5. Riwayat persalinan: P2A0
 laki-laki, usia 3 tahun, persalinan normal.
 Perempuan , usia 18 bulan, sc
2.6. Riwayat pemakaian kontrasepsi
Pil KB (+) waktu dan lama pemakaian tidak diingat.
2.7. Riwayat penyakit dahulu
Tidak ada
2.8. Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada
2.9. Riwayat operasi sebelumnya
Tidak ada
2.10. Riwayat alergi
Tidak ada
2.11. Riwayat pemakaian obat
Tidak ada
3. Pemeriksaan fisik
3.1. Status generalis (15-11-2019/Pra operasi)
 Keadaan umum : baik
 TD : 130/70
 HR : 97/menit
 RR : 20/menit
 T : 36˚C
 SPO2 : 99%

3.2. Status gizi


 Berat badan :56 kg
 Tinggi badan :155cm
 Kesadaran : compos mentis
 Kepala : dalam batas normal
 Dada : dalam batas normal
 Paru : dalam batas normal
 Jantung : dalam batas normal
 Abdomen : terdapat benjolan di perut
 Ekstremitas : dalam batas normal
3.3. Status ginekologi
a) Muka : dalam batas normal
b) Mamma : dalam batas normal
c) Aksilla : dalam batas normal
d) Abdomen :
 Inspeksi : benjolan tidak terlalu nampak
 Palpasi : massa dengan kosistensi kenyal dan mobile
 Perkusi : timpani melemah
 Auskultasi : bising usus (+)
 Genitalia eksterna : Perdarahan (-), luka (-)
e) Genitalia interna/pemeriksaan dalam
Inspekulo : tidak dilakukan pemeriksaan.
f) VT/bimanual palpasi
 Uterus : tidak dilakukan pemeriksaan
 Adneksa kiri/kanan : tidak dilakukan pemeriksaan
 Parametria kiri/kanan : tidak dilakukan pemeriksaan
 Kavum douglas : tidak dilakukan pemeriksaan
g) Rectal Toucher/Recto Vaginal Toucher bila diperlukan:
Tidak dilakukan pemeriksaan
4. Pemeriksaan laboratorium rutin
Darah rutin
13-11-2019
Periksaan
Hasil Nilai Rujukan
Hematologi
Hemoglobin 10,4g/dl 12,5-16,0 g/dl
Leukosit 8,21×103/µl 4,00×10,503/µl
Eritrosit 5,06×106/µl 4,20×5,406/µl
Trombosit 600×103/µl 150×4503/µl
Hematokrit 35,4% 37,0-47,0%
MPV 6,7 fl 6,0-9,5 fl
RDW 18,6 % 11,5-14,0%
HDW 2,73g/dl 2,00-2,98 g/dl
PDW 41,4 % 25,0-65,0 %
Nilai-nilai MC
MCV 70,0 fl 78,0-100,0fl
MCH 20,5 pg 27,0-31,0 pg
MCHC 29,3 g/dl 30,0-35,0 g/dl
Hitung jenis
Eosinofil 2,1% 1,0-3,0%
Basofil 1,1% 0,0-1,0%
Neutrofil 56,7% 50,0-70,0%
Limfosit 35,8% 20,0-40,0%
Monosit 4,3% 2,0-8,0%
Coagulation
Bleeding time 2’30’ <5’
Clotting time 8’ 5’-11’
Liver function
SGOT 15 U/L 15-37 U/L
SGPT 19 U/L 30-65 U/L
Renal function
Urea 18 mg/dl 13-43 mg/dl
Creatinin 0,68 mg/dl 0,90-1,30 mg/dl

5. Pemeriksaan penunjang
5.1. EKG : normal EKG
5.2. USG : - uterus besar biasa
- Tampak hipo ekoid dari ovarium kanan kurang lebih 8 cm
- Gambaran septa (-)
- Papil (-)
- Asites minimal
5.3. Rongen : normal, tidak tampak kardiomegali dan tidak tampak kelainan pada
pulmo
5.4. CT-scan : -gambaran massa dominan kistik batas tegas yang mengobliterasi
adnexa kanan dan menempel pada uterus sisi kanan.
-ascites minimal dengan curiga mesentrial metastasis pada abdomen
tengah
-efusi pleura bilateral

Gambar 1: CT Scan
6. Resume pemeriksaan
Pada pemeriksaan fisik ditemukan benjolan pada perut bagian kanan bawah yang
terasa sangat nyeri. Pada palpasi ditemukan massa imobile dengan konsistensi padat.
Pada pemeriksaan USG ditemukan uterus besar biasa, tampak hipo ekoid dari
ovarium kanan kurang lebih 8 cm, gambaran septa (-), Papil (-), asites minimal.
7. Diagnosis

Diagnosis : kista ovarium .

8. Terapi pre- operasi


Puasa 10-12 jam
Klisma
Ceftriaxone 1 gram
9. Terapi post -operasi

IVFD RL 20 gtt/i

Inj. Ceftriaxone 1 gram/12 jam

Inj. Asam traneksamat/8 jam


10. Tindakan
Telah dilakukan laparatomi + USO pada tanggal 16-11-2019 pukul 09.00-11.00 WIB.
11. Prognosa
Dubia ad bonam
12. Follow up

S O A P

16-11-2019

Nyeri luka operasi KU : Lemah Post laparatomi Bed rest


(+), miring kanan Sens : CM USO Hari 0 Diet M2
kiri (-) nyeri, TD: 111/70 Edukasi miring
BAB(-), BAK (+) HR: 89 kanan miring kiri
terpasang kateter, RR: 20 IVFD 20 gtt/i
urine (+) T: 36 Inj. Ceftriaxone 1
Buang angin(+) SPO2: 99% gram/12jam
Abdomen soepel Cefadroxil 2×500
Nyeri tekan mg
abdomen (+) pada Metrodinazole
regio sekitar luka 2×500 mg
operasi Asam mefenamat
Peristaltik (+) 3×500 mg
normal Susul hasil biopsi
PA
Volume urine
cukup
17-11-2019

Nyeri luka operasi KU : Lemah Post laparatomi Inj. Ranitidine/12


(+) namun Sens : CM USO Hari 1 jam + Triway
dirasakan TD: 105/62 Cefadroxil 2×500
berkurang, miring HR: 95 mg
kanan kiri (+), RR: 20 Metrodinazole
duduk (-) nyeri, T: 36 2×500 mg
buang angin (+), SPO2: 99% Asam mefenamat
BAB (+), BAK (+), Nyeri tekan 3×500 mg
terpasang kateter abdomen (+) Kateter dan IV line
,urine (+) berkurang pada aff
regio sekitar luka Hasil biopsi PA
operasi belum terlapor
Peristaltik (+)
normal

18-11-2019

Nyeri luka operasi KU : Lemah Post laparatomi Cefadroxil 2×500


(+) namun Sens : CM USO Hari 2 mg
dirasakan TD: 100/60 Metrodinazole
berkurang, duduk HR: 67 2×500 mg
(-) nyeri, buang RR: 20 Asam mefenamat
angin (+), BAB T: 36,7 3×500 mg
(+), BAK (+) SPO2: 94% Etabion 1×1
Pasien berobat Peristaltik (+) Menunggu hasil PA
jalan normal
DISKUSI

Kista ovarium adalah benjolan yang membesar, seperti balon yang beisi
cairan, yang tumbuh di indung telur. Cairan ini bisa berupa air, darah , nanah, atau
cairan coklat kental seperti darah menstruasi. Kista banyak terjadi pada wanita usia
subur atau usia reproduksi.1 Setiap indung telur berisi ribuan telur yang masih muda
atau folikel yang setiap bulannya akan membesar dan satu diantaranya membesar
sangat cepat sehingga menjadi telur matang. Pada peristiwa ovulasi telur yang matang
ini keluar dari indung telur dan bergerak ke rahim melalui saluran telur. Apabila sel
telur yang matang ini dibuahi, folikel akan mengecil dan menghilang dalam waktu 2-3
minggu dan akan terus berulang sesuai siklus haid pada seorang wanita. Namun jika
terjadi gangguan pada proses siklus ini bisa membentuk kista2.
Kista juga dapat terbentuk jika fungsi ovarium yang abnormal menyebabkan
penimbunan folikel yang terbentuk secara tidak sempurna di dalam ovarium. Folikel
tidak mengalami ovulasi karena kadar hormon FSH rendah dan hormon LH tinggi
pada keadaan yang tetap ini menyebabkan pembentukan andorogen dan estrogen oleh
folikel dan kelenjar adrenal yang mengakibatkan folikel anovulasi, folikel tersebut
gagal mengalami pematangan dan gagal melepaskan sel telur, terbentuk secara tidak
sempurna di dalam ovarium karena itu terbentuk kista di dalam ovarium2.
Secara umum kista ovarium terbagi atas kista fungsional dan nonfungsional,
serta kista neoplastik dan non-neoplastik.3 Namun pembagian ini hanya dapat
dinyatakan berdasarkan kepada pemeriksaan histopatologi saja, tidak untuk diagnosis
klinis. Diagnosis kista ovarium dapat ditegakkan berdasarkan kepada anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan beberapa pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang
dalam hal ini dapat diajukan dengan pemeriksaan tumor marker protein Ca-125
(cancer antigen 125) yang dapat digunakan sebagai penanda kanker ovarium. Nilai
normal Ca-125 adalah 0-35 U/ml, dan apabila nilai ini mencapai > 100 U/ml maka
lesi tumor pada penderita cenderung ganas. Beberapa pendapat ahli menyatakan
bahwa Ca-125 tidak terlalu akurat untuk mendeteksi kanker ovarium, dimana terdapat
beberapa keadaan yang dapat menyebabkan Ca-125 meningkat juga, seperti
peritonitis, fibroids uterine, endometriosis, dll. Pemeriksaan tumor marker ini juga
dapat ditunjangi oleh modalitas pemeriksaan USG atau CT-Scan. Pada pemeriksaan
radiologi ini dapat menilai kista yang bersifat nonneoplastik ataupun neoplastik.
Gambar 2. Penilaian IRK
Setelah diagnosis ditegakkan berdasarkan kepada hal-hal tersebut diatas, maka
dapat dilakukan penilaian RMI (risk of malignancy index)/IRK (indeks resiko
keganasan). Apabila IRK > 250 maka kista cenderung mengarah kepada keganasan.
Setelah penilaian ini dilakukan maka penatalaksanaan selanjutnya dapat ditentukan.
BAB IV
KESIMPULAN KASUS
Seorang pasien bernama Ny. SN datang ke RS. Murni Teguh Memorial
Hospital dengan keluhan benjolan pada perut kanan bawah yang disertai nyeri
yang sudah dirasakan dalam 6 bulan belakangan ini. Setelah dilakukan
pemeriksaan, terdapat benjolan di perut setinggi dua jari di atas simphisis
pubis, konsistensi keras, imobile. Pada pemeriksaan USG ditemukan uterus
besar biasa, tampak hipo ekoid dari ovarium kanan kurang lebih 8 cm,
gambaran septa (-), Papil (-), asites minimal. Oleh dokter didiagnosa kista
ovarium dan disarankan untuk operasi. Pada tanggal 16-11-2019 dilakukan
laparatomi Unilateral Salpingo Ovarectomy (USO). Kesan yang didapat dari
penemuan intraoperatif ini adalah sebuah kista ovarium jinak. Untuk
mengkonfirmasi hal tersebut perlu dilakukan lanjutan yaitu pemeriksaan
patologi anatomi (PA). Pemeriksaan ini perlu dilakukan sebagai penentuan
definitif sifat kista abnormal, apakah jinak atau ganas, dengan mengambil
contoh jaringan secara langsung. Hal ini dilakukan setelah tindakan operasi.
Kemudian dilakukan observasi post operasi pada pasien dan selama observasi
tidak ditemukan masalah yang berarti. Pada tanggal 18-11-2019, pasien
diperbolehkan pulang dan dilakukan kontrol satu minggu kemudian.
DAFTAR PUSTAKA

1. Ovarian Cysts [Internet]. [cited 2019 May 27]. Available from:


https://emedicine.medscape.com/article
2. Cunningham. Obstetri Williams. 23rd ed. jakarta: egc; 2012. 31 p.
3. Ovarian Cysts [Internet]. [cited 2019 May 24]. Available from: https://www.acog.org
4. Neelgund S, Hiremath P. International journal of reproduction, contraception,
obstetrics and gynecology. [Internet]. Vol. 5, International Journal of Reproduction,
Contraception, Obstetrics and Gynecology. 2017 [cited 2019 May 24]. 1969-1973 p.
Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4729709/pdf/13244_2015_Article_45
5.pdf
5. Patologi Anatomi Robbins. 9th ed. Singapore: Elsevier; 2015. 685-689 p.
6. Kista Ovarium. 2014; Available from: http://repository.usu.ac.id/
7. What Causes Ovarian Cysts [Internet]. [cited 2019 May 25]. Available from:
https://www.medicinenet.com/ovarian_cysts/article.htm
8. Ovarian Cysts Clinical Presentation [Internet]. [cited 2019 May 26]. Available from:
https://emedicine.medscape.com/article/
9. Foti PV. MR imaging of ovarian masses: classification and differential diagnosis.
Insights Imaging [Internet]. 2016 Feb [cited 2019 May 26];7(1):21–41. Available
from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26671276
10. Ovary Pain [Internet]. webmd. 2019 [cited 2019 May 27]. Available from:
https://www.webmd.com/women/guide/ovarian-pain-causes-diagnosis-treatments
11. Diagnosis of ovarian cancer - Canadian Cancer Society [Internet]. Canadian cancer
society. 2019 [cited 2019 May 27]. Available from: https://www.cancer.ca/en/cancer-
information/cancer-type/ovarian/diagnosis/
12. HE4 and CA-125 in ovarian cancer diagnoses. [cited 2019 May 27]; Available from:
http://dx.doi.org/10.3802/jgo
13. Wiknjosastro H. Tumor Jinak pada Alat Genital dalam Buku Ilmu Kandungan Edisi 2.
Editor : Saifuddin, dkk. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2005.

14. Sue E, Hueter. Benign Ovarian Cysts in understanding pathofisiology. The 3th ed,
Philadelphia, 2008.
15. Khan N, Afroz N, Aqil B. Neoplastic and nonneoplastic ovarian masses : Diagnosis
on cytology. J Cytol. 2009;26(4):129-133.

16. Farghaly SA. Current diagnosis and management of ovarian cysts. Clin Exp Obstet
Gynecol. 2014;41(6):609-12.

17. Greenlee RT, Kessel B, Williams CR, Riley TL, Ragard LR, Hartge P. Prevalence,
incidence, and natural history of simple ovarian cysts among woman > 55 years old in
a large cancer screening trial. Am J Obstet Gynecol. 2012;202(4):373-19.