Anda di halaman 1dari 1

BAB I

PERUMUSAN MASALAH
1. Apakah pengangkatan mantan narapidana menjadi komisaris utama BUMN (pertamina) sudah sesuai
dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 dan Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara
Nomor Per-02/MBU/02/2015?
2. Apakah pengangkatan ahok sebagai komisaris sesuai dengan kemampuan akademik dan profesi
sebelumnya?
3. Apakah Mantan narapidana layak dan patut untuk menjadi direksi dan komisaris utama BUMN?

Tema:
“Kelayakan dan Kepatutan Direksi dan Komisaris BUMN Bagi Mantan Narapidana Ditinjau dari Teori Tentang
Kapasitas dan Kompetensi dalam Hukum”
Judul:
“Pengangkatan Basuki Tjahaja Purnama selaku Mantan Narapidana sebagai Komisaris Utama Pertamina
Ditinjau Dari Aspek Kalayakan dan Kepatutan dalam Hukum”

Setiap perusahaan baik swasta maupun BUMN dalam menjalankan kegiatan usahanya memiliki standard
pengelolaan perusahaan yang biasanya termuat dalam suatu pedoman Good Corporate Governance (GCG).
GCG tersebut merupakan panduan perseroan dalam mengelola agar dalam pengurusannya tidak menyimpang
atau sesuai dengan kaidah yang berlaku.

Pertamina merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam bidang
pertambangan minyak dan gas bumi di Indonesia, tentunya harus memiliki sumber daya manusia yang
mumpuni, dapat membuat perusahaan menjadi lebih baik, memiliki integritas terhadap negara, mendapat
kepercayaan dari masyarakat (public trusty). Hal ini merupakan strategi dalam rangka dukungan masyarakat
Indonesia secara nasional atas pengelolaan yang baik.

Komisaris merupakan salah satu organ dalam perusahaan yang memiliki peran dalam mengawasi kegiatan
usaha perseroan. Anggota komisaris haruslah dapat memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam Undang-
Undang No 19 Tahun 2003 Tentang Badan Usaha Miilk Negara (BUMN)

Baru-baru ini Pemerintahan resmi Jokowi mengangkat Basuki Tjahya Purnama (BTP) atau Ahok menjadi
Komisaris Utama (Komut) Pertamina melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang
mengundang pro-kontra ditengah-tengah masyarakat. Penolakan masyarakat terutama muncul karena profil,
rekam jejak dan status Ahok selama menjadi pejabat Publik yang diyakini tidak memenuhi syarat sebagai
pimpinan BUMN terlebih status Ahok yang pernah dihukum pidana selama 2 tahun penjara sangat jelas tidak
memenuhi kriteria nilai moral yang tinggi sebagaimana dipersyaratkan Permen BUMN No.01/MBU/2011 dan
Permen BUMN No. 03/MBU/2015.