Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Tanah memiliki sifat fisik yang berpengaruh terhadap kesuburan
tanah. Salah satu sifat fisik tanah yaitu tekstur tanah. Tekstur tanah
merupakan perbandingan relatif fraksi pasir, debu, dan liat. Tekstur tanah
menggambarkan ukuran kasar atau halusnya tanah. Dalam menetapkan
tekstur tanah ada tiga metode yang digunakan yaitu metode feeling, pipet,
dan hydrometer.
Tanah dapat ditemukan hampir dimana saja dan kiranya tanah itu
selalu bersama kita, karena itu kebanyakan orang tidak pernah berusaha
menentukan tanah darimana asalnya dan bagaimana sifatnya. Mereka
tidak memperhatikan bagaimana tanah di suatu tempat berbeda dengan
tanah di tempat lain. Tanah juga merupakan komponen hidup dari
lingkungan yang penting. Bila tanah tidak digunakan dengan baik, maka
tanaman menjadi kurang produktif. Bila ditangani secara hati-hati dengan
memperhatikan fisik dan biologinya, maka akan terus menerus
menghasilkan tanaman dalam beberapa generasi yang tidak terhitung.
Tanah terdiri dari butir-butir yang berbeda dalam ukuran dan
bentuk, sehingga diperlukan istilah-istilah khusus yang memberikan ide
tentang sifat teksturnya dan akan memberikan petunjuk tentang sifat
fisiknya. Untuk ini digunakan nama kelas seperti pasir, debu, liat dan
lempung. Nama kelas dan klasifikasinya ini, merupakan hasil riset
bertahun-tahun dan lambat laun digunakan sebagai patokan. Tiga
golongan pokok tanah yang kini umum dikenal adalah pasir, liat dan
lempung.
Sifat-sifat fisik tanah banyak bersangkutan dengan kesesuaian
tanah untuk berbagai penggunaan. Kekuatan dan daya dukung,
kemampuan tanah menyimpan air, drainase, penetrasi, akar tanaman, tata
udara, dan pengikatan unsur hara, semuanya sangat erat kaitannya dengan
sifat fisik tanah.
Sifat fisik tanah ditentukan oleh permukaan butiran tanah, sifat-
sifat kimia dari butiran dan kandungan bahan organik. Butiran-butiran
yang menyusun tanah mempunyai ukuran yang berbeda-beda. Perbedaan
ukuran dan jumlah butiran tersebut sangat mempengaruhi tekstur tanah.
Keadaan tekstur tanah sangat berpengaruh terhadap keadaan sifat-
sifat tanah yang lain seperti struktur tanah, permeabilitas tanah, porositas
dan lain-lain. Tekstur tanah juga sangat berpengaruh bagi kesuburan
tanah. Kesuburan tanah ditentukan oleh tekstur tanah yang memiliki
komposisi faraksi yang ideal. Dengan demikian, tanah yang subur akan
berpengaruh banyak terhadap pertumbuhan dan kesuburan tanaman
karena tekstur menentukan cepat lambatnya air meresap (daya serap air)
ke dalam pori-pori tanah, besarnya aerasi, infiltrasi, perlokasi,
ketersediaan udara dan unsur hara untuk respirasi tanaman dan dapat
mempengaruhi sistem perakaran tanaman. Tekstur juga bisa digunakan
sebagai kriteria dalam klasifikasi tanah maupun kesesuaian lahan.

1.2. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud tekstur tanah.
2. Untuk persentasi tanah yang digunakan sampel dan menentukan kelas
tanah sempel tersebut.
3. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi tekstur tanah.
4. Untuk mengetahui faktor yang dipengaruhi tekstur tanah.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Winarso, (2005) Tanah adalah produk transformasi mineral dan


bahan organik yang terletak dipermukaan sampai kedalaman tertentu yang
dipengaruhi oleh faktor-faktor genetis dan lingkungan, yakni bahan induk, iklim,
organisme hidup (mikro dan makro), topografi, dan waktu yang berjalan selama
kurun waktu yang sangat panjang, yang dapat dibedakan dari cirri-ciri bahan
induk asalnya baik secara fisik kimia, biologi, maupun morfologinya.
Tanah merupakan suatu sistem mekanik yang kompleks terdiri dari tiga
fase yakni bahan-bahan padat, cair dan gas. Fase padat hampir menempati 50 %
volume tanah sebagian besar terdiri dari bahan mineral dan sebagian lainnya
adalah bahan organik. Sisa volume selebihnya merupakan ruang pori yang
ditempati sebagian oleh fase cair dan fase gas yang perbandingannya dapat
bervariasi menurut musim dan pengelolaan tanah.
Tekstur merupakan sifat kasar-halusnya tanah dalam percobaan yang
ditentukan oleh perbandingan banyaknya zarah-zarah tunggal tanah dari berbagai
kelompok ukuran, terutama perbandingan antara fraksi-fraksi lempung, debu, dan
pasir berukuran 2 mm ke bawah (Hardjowigeno,2007).
Tanah terdiri dari butir-butir yang berbeda dalam ukuran dan bentuk,
sehingga diperlukan istilah-istilah khusus yang memberikan ide tentang sifat
teksturnya dan akan memberikan petunjuk tentang sifat fisiknya. Untuk ini
digunakan nama kelas seperti pasir, debu, liat dan lempung. Nama kelas dan
klasifikasinya ini, merupakan hasil riset bertahun-tahun dan lambat laun
digunakan sebagai patokan. Tiga golongan pokok tanah yang kini umum dikenal
adalah pasir, liat dan lempung(Hardjowigeno,2007).
Tekstur tanah adalah pembagian ukuran butir tanah. Butir-butir yang
paling kecil adalah butir liat, diikuti oleh butir debu (silt), pasir, dan kerikil. Selain
itu, ada juga tanah yang terdiri dari batu-batu. Tekstur tanah dikatakan baik
apabila komposisi antara pasir, debu dan litany hampir seimbang. Tanah seperti
ini disebut tanah lempung. Semakin halus butir-butir tanah (semakin banyak butir
liatnya), maka semakin kuat tanah tersebut memegang air dan unsur hara. Tanah
yang kandungan liatnya terlalu tinggi akan sulit diolah, apalagi bila tanah tersebut
basah maka akan menjadi lengket. Tanah jenis ini akan sulit melewatkan air
sehingga bila tanahnya datar akan cenderung tergenang dan pada tanah berlereng
erosinya akan tinggi. Tanah dengan butir-butir yang terlalu kasar (pasir) tidak
dapat menahan air dan unsur hara. Dengan demikian tanaman yang tumbuh pada
tanah jenis ini mudah mengalami kekeringan dan kekurangan hara
(Hardjowigeno,2007).
Tekstur tanah adalah perbandingan berat nisbi fraksi pasir, debu, dan liat.
Suatu kelas tekstur mempunyai batas susunan tertentu dari fraksi pasir, debu, dan
liat.Pembagian kelas tekstur tanah menurut USDA dibagi kedalam 12 tekstur.
Pembagian ini didasrkan banyaknya susunan fraksi tanah. (hanafiah,2007).
Tanah-tanah yang bertekstur pasir, karena butiran-butirannya berukuran
lebih besar, maka setiap satuan berat (misalnya setiap gram) mempunyai luas
permukaan yang lebih kecil sehingga sulit menyerap (menahan) air dan unsur
hara. Tanah-tanah bertekstur liat, karena lebih halus maka setiap satuan berat
mempunyai luas permukaan yang lebih besar sehingga kemampuan menahan air
dan menyediakan unsur hara tinggi. Tanah bertekstur halus lebih aktif dalam
reaksi kimia daripada tanah bertekstur kasar (Hardjowigeno, 2003).
Telah diketahui bahwa pasir dan debu berasal dari pecahnya butir-butir
mineral tanah yang ukurannya berbeda-beda dari satu jenis tanah dengan jenis
tanah yang lain. Luas permukaan debu jauh lebih besar dari luas permukaan pasir
per gram. Tingkat pelapukan debu dan pembebasan unsur-unsur hara untuk
diserap akar lebih besar daripada pasir.
Partikel-partikel debu terasa licin sebagai tepung dan kurang melekat.
Sedangkan tanah-tanah yang mengandung debu yang tinggi dapat memegang air
tersedia untuk tanaman. Fraksi liat pada kebanyakan tanah terdiri dari mineral-
mineral yang berbeda-beda komposisi kimianya dan sifat-sifat lainnya
dibandingkan dengan pasir dan debu (Susanto,2005).
Karakteristik tekstur tanah terdiri atas fraksi pasir, fraksi debu dan fraksi
liat. Suatu tanah disebut bertekstur pasir apabila mengandung minimal 85 % pasir,
bertekstur debu apabila berkadar minimal 80 % debu dan bertekstur liat apabila
berkadar minimal 40 % liat (Hanafiah, 2005).
Berdasarkan kelas teksturnya maka tanah dapat digolongkan menjadi
tanah bertekstur kasar atau tanah berpasir berarti tanah yang mengandung minimal
70 % pasir atau pasir berlempung (Hanafiah,2004).
Pembagian kelas tektur yang banyak dikenal adalah pembagian 12 kelas
tekstur menurut USDA.Nama kelas tekstur melukiskan penyebaran butiran,
plastisitas, keteguhan, permeabilitas kemudian pengolahan tanah, kekeringan,
penyediaan hara tanah dan produktivitas berkaitan dengan kelas tekstur dalam
suatu wilayah geogtrafis (Hanafiah,2004).
Tekstur tanah diartikan sebagai proporsi pasir, debu dan liat. Partikel
ukuran lebih dari 2 mm, bahan organik dan agen perekat seperti
kalsium karbonate harus dihilangkan sebelum menentukan tekstur. Tanah
bertekstur sama misal geluh berdebu mempunyai sifat fisika dan kimia yang
hampir sama dengan syarat mineralogi liat (Hanafiah,2004) .
Tekstur tanah ditentukan di lapangan dengan cara melihat gejala
konsistensi dan rasa perabaan menurut bagan alir dan di laboratorium dengan
metode pipet atau metode hydrometer. Tekstur tanah menentukan tata air, tata
udara, kemudahan pengolahan dan struktur tanah Sifat kimia, fisika dan
mineralogi partikel tanah tergantung pada ukuran partikelnya. Semakin kecil
ukuran partikel maka luas permukaannya semakin besar. Jadi, luas permukaan
fraksi liat > fraksi debu > fraksi pasir (Hanafiah,2004).
BAB III

METODOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Praktikum Dasar Ilmu Tanah “Penetapan Tekstur Tanah“
dilaksanakan di laboratorium terapan Fakultas Pertanian , Universitas
Islam Malang, Malang. Praktikum ini dilaksanakan pada hari sabtu 18
Mei 2019 pukul 12.30-14.00 WIB.

3.2. Alat dan Bahan


3.2.1. Alat
Adapun alat yang yang di gunakan adalah gelas ukur 100
dan 1000 ml, erlenmeyer, pipet volume 25 ml, tabung dispersi,
oven, timbangan elektrik, stopwatch, kaleng oven, mortar dan alu,
tissue, kertas label, spatula, alat pengaduk kayu.
3.2.2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan adalah sempel tanah utuh
halus, larutan Na-Pirofosfat + Na-Carbonat (calgon)

3.3. Langkah kerja


1. Menghaluskan tanah yang masih kasar.
2. Menimbang 50 gram sempel tanah yang sudah dihaluskan dan
memasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml.
3. Menambahkan larutan 100 ml larutan calgon dan mengocok hingga
merata.
4. Membiarkan larutan selama 24 jam.
5. Memindahkan suspensisecara kuantitatif kedalam gelas ukur 1000 ml
dan menambahkan air hingga garis batas.
6. Memasukkan alat pengaduk kayu dan mengaduk sampai homogen.
Mencatat waktu selama 40 detik pada saat pengaduk kayu diangkat.
7. Memasukkan hidrometer secara hati-hati dan mengambil suspensi
sebanyak 25 ml.
8. Mengulangi pembacaan hidrometer setelah 7 jam.
9. Mengoven kaleng yang sudah terisi suspensi.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Tabel 1. Hasil Pengamatan
Sampel No Kaleng Berat kaleng Btko + Berat Berat tanah
(BK) Kaleng
40 detik 1 2,20 gr 2,52 0,32 gr
7 jam 2 2,84 gr 3,00 0,16 gr

Perhitungan :
Berat Tanah ((Btko + Berat Kaleng) – Berat kaleng ))
C1 = 2,52 – 2,20
= 0,32 gr
C2 = 3,00 – 2,84
= 0,16 gr
Tabel 2. Hasil perhitungan
Massa Debu + Massa Liat Massa Debu Massa Pasir
Liat
12,8 gr 6,4 gr 6,4 gr 37,2 gr

Perhitungan :
Berat tanah 100 ml
1. Massa Debu + Liat ( D )
1000
D = x BT (40 detik)
25
1000
= x 0,32
25
= 40 x 0,32
= 12,8 gr
2. Massa Liat ( E )
1000
E = x BT (7 detik)
25
1000
= x 0,16
25
= 40 x 0,16
= 6,4 gr
3. Massa Debu ( F )
F =D–E
= 12,8 – 6,4
= 6,4 gr
4. Massa Pasir ( G )
G = 50 – D
= 50 – 12,8
= 37,2 gr
Tabel 3. Penentuan kelas Tekstur
% Pasir % Debu % Liat Kelas Tekstur
74,4 % 12,8 % 12,8 % Lempung
berpasir

Perhitungan :
Persentase ( % )
1. % Pasir
G
= x 100 %
50
37,2
= 50 x 100 %

= 0,744 x 100 %
= 74,4 %
2. % Debu
F
= x 100 %
50
6,4
= 50 x 100 %

= 0,128 x 100 %
= 12,8 %
3. % Liat
E
= x 100 %
50
6,4
= 50 x 100 %

= 0,128 x 100 %
= 12,8 %
Gambar 1. Segitiga tekstur

4.2. Pembahasan
Takstur tanah adalah perbandingan relatif antara partikel pasir,
debu, dan liat yang menyusun suatu tanah. Penggolongan tekstur tanah ini
didasarkan atas partikel tanah yang berukurankurang dari 2 mm. Apabila
ukuran partikel melebihi 2 mm dalam tanah yang cukup besar maka perlu
ditambahkan istilah berbatu atau berkerikil (Nurhidayati,2006).
Dari hasil pengamatan didapatkan hasil persentase pasir 74,4 %,
debu 12,8 % dan liat 12,8 %. Dengan mengetahui besar persentase pasir,
debu dan liat maka kita dapat menentukan kelas tekstur tanah tersebut
dengan menggunakan diagram segi tiga tekstur tanah.
Setelah dilakukan penentuan kelas teksturnya dengan membuat
garis saling berpotongan yang berpatokan pada persentase pasir, debu,
dan liat pada segitiga tekstur maka dapat dilihat bahwa sampel tanah yang
digunakan pada percobaan ini termasuk dalam tekstur Lempung Berpasir,
(Lihat daerah letak Titik perpotongan garis yang dibuat). Adapun ciri –
ciri dari tanah yang berkelas tekstur Lempung berpasir adalah, Terasa
kasar, Terasa agak licin, Melekat, Dapat dibentuk bola teguh, Dapat
dibentuk gulungan dengan permukaan mengkilat.
Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan dapat disimpulakan
bahwa tanah tersebut memiliki sifat fisik yang baik, karena tanah yang
berfisik baik menurut Hanafiah (2014) bahwa pada kelas tekstur tanah
lempung berpasir, proporsi fraksi pasir yakni 40 hingga 87,5 %, debu
kurang dari 15 % dan liat kurang dari 20 %. Pada kelas tekstur ini, tanah
masih di anggap berfisik baik atau berporeus sedang sehingga akar
tanaman yang tumbuh diatasnya akan leluasa untuk berkembang.
Tanah lempung berpasir yaitu tanah yang memiliki kisaran
persentase pasir sebesar 40% - 87,5%, persentase debu < 50%, dan
persentase liat < 20% .
Tanah lempung berpasir didominasi oleh partikel pasir, tetapi
cukup mengandung tanah liat dan sendimen untuk menyediakan beberapa
struktur dan kesuburan. Ada empat jenis tanah lempung berpasir yang
diklasifikasikan berdasarkan ukuran partikel pasir dalam tanah.
Tanah lempung berpasir dipecah menjadi 4 kategori, termasuk
kasar lempung berpasir, lempung berpasir halus, lempung berpasir dan
lempung berpasir sangat halus. Ukuran partikel pasir diukur dalam
milimeter dan konsentrasi mereka dalam tanah yang digunakan untuk
menetukan kategori tanah yang berada di bawah. Tanah lempung berpasir
yang terbuat dari sekitas 60% pasir, tanah liat 10%, dan 30% partikel
lumpur.
Tanah lempung berpasir memiliki partikel terlihat pasir di campur
ke dalam tanah. Ketika tanah liat berpasir dikompersi, mereka memegang
bentuk mereka tapi mudah pecah. Tanah lempung berpasir memiliki
konsentrasi tinggi dari pasir yang memberi mereka merasa berpasir.
Dikebun dan rumput, tanah lempung berpasir mampu dengan cepat
menguras kelebihan air tetapi tidak dapat menahan sejumlah besar air atau
nutrisi bagi tanaman. Tanaman tumbuh di jenis tanah ini akan
memerlukan lebih sering irigasi dan pemupukan dari tanah dengan
konsentrasi yang lebih tinggi dari tanah liat dan sendimen, tanah lempung
berpasir yang sering kekurangan dalam mikronutrien tertentu dan
mungkin memerlukan pemupukan tambahan untuk mendukung
pertumbuhan tanaman yang sehat.
Tanaman yang tumbuh ditanah lempung berpasir perlu sering
diiringi irigasi dan pemupukan untuk mempertahankan pertumbuhan yang
sehat. Cara terbaik untuk meningkatkan tanah lempung berpasir untuk
berkebun adalah dengan mencampur bahan organik ke dalam tanah.
Faktor yang memengaruhi tekstur tanah adalah sebagai berikut
(Hardjowigeno,2007) :
1. Iklim
Iklim merupakan rata cuaca pada jangka panjang minimal permusim
atau perperiode, dan seterusnya, dan cuaca adalah kondisi iklim pada
suatu waktu berjangka pendek misalnya harian, mingguan, bulanan
dan masimal semusim atau seperiode. Pengaruh curan hujan ialah
sebagai pelarut dan pengangkut maka air hujan akan mempengaruhi
komposisi kimiawi mineral penyusun tanah, kedalaman dan
diferensiasi profil tanah, sifat fisik tanah. Pengaruh temperature setiap
kenaikan temperatur C akan meningkatkan penigkatannya laju reaksi
kimiawi menjadi 2x lipat. Meningkatkan pembentukan dan pelapukan
dan pembentukan liat terjadi seiring dengan peningkatannya
temperature.
Hubungan antara temperature dan pertumbuhan tanaman serta
akumulasi bahan organic cukup kompleks. Kandungan bahan organic
tanah adalah jumlah antara hasil penambahan bahan organik + laju
mineralisasi bahan organic + kapasitas tanah melidungi bahan organic
dari mineralisasi.
2. Topografi
Tofografi yang dimaksud adalah konfigurasi permukaan dari suatu
area/wilayah. Perbedaan tofografi akan mempengaruhi jenis tanah
yang terbentuk. Pada daerah lereng infiltrasi. Sedangkan pada daerah
datar/rendah, menerima kelebihan air yang menyediakan air lebih
banyak untuk proses genesis tanah.
a. Pengaruh slope/lereng
Kemiringan dan pandang lereng berpengaruh pada genesis tanah.
Semakin tanah curam lereng makin besar runcff dan eros tanah.
Hal yang mengakibatkan terhambatnya genesis tanah oleh karena
pertumbuhan tanaman terhambat dan sumbangan bahan organik
juga lebh kecil, pelapukan menjadi terhambat begitu pula dengan
pembentukan liat. Disamping itu, pencucian dan eluviasi
berkurang. Dengan kata lain tanah lebih tipis dan kurang
berkembang di daerah lereng.
b. Pengaruh tinggi muka airdan drainase
Tanah mempunyai drainase baik pada slope yang muka air tanah
jauh di bawah permukaan tanah. Tanah yang berdrainase buruk
ditandai dengan muka air yang muncul di permukaan tanah yang
menyebabkan terjadinya kondisi anerobik dan reduksi. Tanah yang
bedrainase buruk mempunyai horison A biasanya berwarna gelap
olh karena tingginya bahan organik, tapi horison bawah
pemukaannya cenderung kelabu (gray). Tanah berdrainase baik,
mempunyai horison A yang warnanya lebih terang dan horison
bawahnya seragam lebih gelap.
3. Organisme hidup
Fungsi utama organisme hidup adalah untuk menyediakan bahan
organik bagi soil. Humus akan menyediakan nutrien dan membantu
menahan air. Tumbuhan membusuk akan melepaskan asam organik
yang meningkatkan pelapukan kimiawi. Hewan penggali seperti
semut, cacing, dan tikus membawa partikel soil ke permukaan dan
mencampur bahan organik dengan mineral. Lubang-lubang yang
dibuat akan membantu sirkulasi air dan udara, meningkatkan
pelapukan kimiawi dan mempercepat pembentukan soil.
Mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan protozoa membantu proses
pembusukan bahan organik menjadi humus
4. Waktu
Tanah merupakan benda alam yang terus menerus berubah (dinamis)
sehingga akibat pelapukan dan pencucian yang terus menerus maka
tanah tanah yang semakin tua juga akan semakin kurus. Mineral yang
banyak mengandung unsure hara telah habis mengalami pelapukan
sehingga tinggal mineral yang sukar lapuk seperti kuarsa. Karena
proses pembentukan tanah yang terus berjalan maka bahan induk tanah
berubah berturut turut menjadi tanah muda, tanah dewasa dan tanah
tua. Tanah muda hasil pembentukan horizon C dan horizon A. Tanah
dewasa yaitu hasil pembentukan horizon B yang masih muda (Bw).
Tanah tua merupakan tanah dari hasil pencucian yang terus menerus
berlanjut sehingga tanah tersebut menjadi kurus dan masam. Perlu
diketahui bahwa tingkat perkebangan tanah tidak setara dengan
tingkat pelapukan tanah. Tingkat perkembangan tanah berhubungan
dengan perkembangan horizon horizon tanah, sedangkan tingkat
pelapukan tanah berhubungan dengan tingkat pelapukan mineral dalam
tanah.
5. Bahan Induk
Pembentuk bahan induk yang terbentuk dari batuan induk keras di
dominasi oleh proses disentegrasi secara fisik dan dekomposisi
kimiawi partikel mineral dalam batuan tersebut. Bahan induk yang
berasal dari batu pasir. Pada batu kapur, tanah terbentuk dari sisa-sisa
bahan yang tidak larut setelah kalsium dan magnesium karbonat
terlarut dan terkunci. Liat adalah bahan yang dapat d temui pada batu
kapur, yang kemudian menjadikan tanah bertekstur halus. Bahan induk
yang di turunkan dari sedimen dibawah oleh air angin. Sedimen
koluvial terjadi pada lereng terjal dimana gravitasi adalah kekuatan
utama yang menyebabkan gerakan dan sedimentasi.sedimen koluvial
adalah bahan induk yang penting di areal bergunung/berbukit.
Sedimen alluvial biasa ditemui dimana-mana oleh karena penyebaran
oleh banjir dan sungai. Contoh: kebanyakan tanah-tanah pertanian di
California terbentuk di lembahdiman alluvial adalah bahan induk yang
dominan. Pengaruh bahan induk terhadap genesis tanah,
Perkembangan horison terutama horison B tergantung pada translokasi
partikel halus oleh air. Bahan induk yang tersusun 100% pasir kuarsa
tidak akan hancur untuk mengahasilkan partikel koloid. Bahan induk
yang bertekstur pasir akan mendukung perkembangan horison bahasa
daerah (humid). Bahan induk yang tersusun atas partikel inter media
akan berkembang menjadi berbagai jenis tanah. Tekstur dan struktur
tanah akan mempengaruhi genesis tanah melalui proses infiltrasi dan
erosi. Permeabilitas dan translokasi material dalam air, proteksi dan
akumulasi bahan organik dan ketebalan solum (horison A+B).
Faktor yang dipengaruhi tekstur tanah adalah sebagai berikut
(Hanafiah,2005) :
1. Sistem perakaran : Sistem perakaran pada tanah liat akan semakin
banyak dibandingkan pasir. Karena perakaran mencai tanah yang
dapat menahan air lebih banyak.
2. Kadar air : Tanah lebih banyak mengandung kadar air daripada tanah
pasir, karena daya menahan air dan bahan lain pada tanah liat lebih
kuat dari tanah pasir.
3. Organisme : Organisme adalah faktor yang dipengaruhi dan
mempengaruhi tekstur tanah. Akibat perbedaan tekstur tanah, dapat
mempengaruhi jumlah populasi dan keragaman organisme
disekitarnya. Baik mikro maupun makro organisme.
4. Konsistensi : Suatu sifat yang menunjukkan sifat adhesi dan kohesi
dai partikel-partikel tanah dan ketahaan massa tanah terhadap
perubahan bentuk yang disebabkan oleh tekanan dan berbagai
bentukan yag mepengaruhi bentuk tanah.
BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan
1. Tekstur tanah adalah perbandingan relatif dalam persen (%) antara
fraksi-fraksi pasir, debu, dan liat.
2. Sempel tanah kami mengandung 74,4% pasir, 12,8% debu, 12,8% liat
dan tergolong dalam kelas tekstur lempung berpasir.
3. Faktor yang mempengaruhi tekstur tanah adalah iklim, topografi,
organisme hidup, waktu, bahan induk.
4. Faktor yang dipengaruhi tekstur tanah adalah sistem perakaran, kadar
air, organisme, konsistensi

5.2. Saran
Tekstur tanah mepengaruhi kesuburan tanah sehingga secara tidak
langsung juga mempengaruhi kesuburan tanaman. Oleh karena itu,
sebelum mengolah suatu lahan untuk dijadikan sebagai lahan pertanian,
terlebuh dahulu menetapkan tekstur tanah yang tepat dengan jenis
tanaman yang akan dibudidayakan.
DAFTAR PUSTAKA

Hanafiah, Ali Kemas. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
Hanafiah, K. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Grapindo. Jakarta
Hanafiah, K.A. 2014. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Jakarta: Rajawali Pers.
Hanafiah,K.A., 2004. Dasar –dasar Ilmu Tanah. Palembang.
Hanafiah,K.A., 2007. Dasar – Dasar ilmu Tanah. PT Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
Hardjowigeno, Sarwono. 2005. Ilmu Tanah. Mediyatama Sarana Perkasa:
Jakarta.
Hardjowigeno. S, 2007. Ilmu Tanah. PT Medyatama Sarana Perkasa : Jakarta.
Hardjowigeno. S, 2003. Ilmu Tanah. Penerbit Akademika Pressindo : Jakarta.
Nurhidayati. 2006. Penuntun Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Fakultas
Pertanian UNISMA. Malang.
Susanto, R. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Kanisius. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai