Anda di halaman 1dari 14

PEMBUATAN BANGUNNA PERKECAMBAHAN DAN PEMBIBITAN

TANAMAN KOPI (Coffea sp.)

LAPORAN

OLEH :
JOSUA FERNANDO NADEAK
160301221
HPT – 2016

LABORATORIUM PERKEBUNAN C : KOPI, KAKAO, DAN TEH


PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kopi merupakan komoditas perkebunan yang memegang peranan penting

dalam perekonomian Indonesia. Komoditas ini diperkirakan menjadi sumber

pendapatan utama tidak kurang dari 1,84 juta keluarga yang sebagian besar

mendiami kawasan pedesaan di wilayah-wilayah terpencil. Selain itu, lebih

kurang 1 juta keluarga mengandalkan pendapatannya dari industri hilir

dan perdagangan kopi. Kopi merupakan komoditas ekspor penting bagi

Indonesia yang mampu menyumbang devisa yang cukup besar

(Kementrian Pertanian, 2014).

Teknologi budi daya dan pengolahan kopi meliputi pemilihan bahan

tanam kopi unggul, pemeliharaan, pemangkasan tanaman dan pemberian penaung,

pengendalian hama dan gulma, pemupukan yang seimbang, pemanenan, serta

pengolahan kopi pasca panen. Pengolahan kopi sangat berperan penting dalam

menentukan kualitas dan cita rasa kopi (Rahardjo, 2012).

Di Indonesia kopi robusta paling banyak yaitu mencapai 87,1 % dari total

produksi kopi Indonesia. Kopi Indonesia sebagian besar dihasilkan Sumatera

Selatan, Bengkulu dan Lampung (Yuhono dkk, 2012). Kopi Indonesia

diperdagangkan dalam bentuk kopi biji, kopi sangrai, kopi bubuk, kopi instan, dan

bahan makanan lain yang mengandung kopi (Rismunandar dan Paimin, 2001).

Meskipun, diakuinya, kopi Indonesia masih mengahadapi permasalahan

utama yakni rendahnya produktivitas akibat tanaman tua, rusak, tidak produktif

dan serangan Organisme pengganggu tanaman (OPT). Kemudian terbatasnya

ketersediaan benih, Good Agricultural Practices (GAP) belum diterapkan secara


konsisten, kualitas biji masih rendah, kelembagaan petani masih lemah atau posisi

tawar petani rendah, kemitraan antara petani dengan industri belum terwujud,

terbatasnya akses terhadap permodalan dan rendahnya tingkat efisiensi produksi

dan pemasaran (Antony, 2010).

Tujuan penulisan

Adapun tujuan penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui cara

pembuatan bangunan perkecambahan dan pembibitan tanaman kopi.

Kegunaan penulisan

Adapun kegunaan penulisan laporan ini adalah sebagai salah satu syarat

untuk dapat memenuhi komponen penilaian di Laboratorium Perkebunan C :

Kopi, Kakao, dan Teh Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara dan sebagai informasi bagi yang membutuhkan.


TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman

Tanaman kopi termasuk dalam Kingdom : Plantae ; Divisi :

Spermatophyta; Class : Dicotyledoneae ; Ordo : Rubiales ; Famili : Rubiaceae ;

Genus : Coffea ; Spesies : Coffea sp. (Antony, 2001).

Akar bibit kopi yang berasal dari benih memiliki akar tunggang, adapun

yang berasal dari stek biasanya memiliki 2-3 akar tunggang semu. Bibit kopi yang

berasal dari kultur jaringan juga memiliki akar tunggang seperti pada biji. Akar

kopi tergolong memiliki sifat perakaran dangkal, sebagian besar akarnya terletak

di deka permukaan tanah (0-30 cm) (Kementrian Pertanian, 2014).

Batang yang tumbuh dari biji disebut batang pokok. Batang pokok

memiliki ruas-ruas yang tampak jelas pada saat tanaman itu masih muda. Pada

tiap ruas tumbuh sepasang daun yang berhadapan, selanjutnya tumbuh dua macam

cabang, yakni cabang orthotrop (cabang yang tumbuh tegak lurus atau vertikal

dan dapat menggantikan kedudukan batang bila batang dalam keadaan patah atau

dipotong) dan cabang plagiotrop (cabang atau ranting yang tumbuh ke samping

atau horizontal) (Rismunandar dan Paimin, 2001).

Daun kopi memiliki bentuk bulat telur, bergaris ke samping,

bergelombang, hijau pekat, kekar, dan meruncing di bagian ujungnya. Daun

tumbuh dan tersusun secara berdampingan d ketiak batang, cabang dan ranting.

Sepasang daun terletak dibidang yang sama di cabang dan ranting yang tumbuh

mendatar (Kementrian Pertanian, 2014).

Bunga kopi tersusun dalam kelompok, masing-masing terdiri dari 4–6

kuntum bunga. Pada setiap ketiak daun dapat menghasilkan 2–3 kelompok bunga
sehingga setiap ketiak daun dapat menghasilkan 8–18 kuntum bunga atau setiap

buku menghasilkan 16–36 kuntum bunga. Bunga kopi berukuran kecil, mahkota

berwarna putih dan berbau harum. Kelopak bunga berwarna hijau, pangkalnya

menutupi bakal buah yang mengandung dua bakal biji. Benang sari terdiri dari 5–

7 tangkai berukuran pendek (Najiyati dan Danarti 2007).

Buah terdiri dari daging buah dan biji. Daging buah terdiri atas 3 bagian

lapisan kulit luar (eksocarp), lapisan daging (mesocarp), lapisan kulit tanduk

(endocarp) yang tipis tetapi keras. Buah kopi umumnya mengandung 2 butir biji,

tetapi kadang-kadang hanya mengandung 1 butir atau bahkan tidak berbiji

(hampa) sama sekali. Setiap buah kopi memiliki dua biji kopi. Buah dan biji kopi

sangat besar. Biji kopi dibungkus kulit keras disebut kulit tanduk

(parchment skin). Biji mempunyai alur pada bagian datarnya (Rahardjo, 2012).

Syarat Tumbuh

Iklim

Kopi di Indonesia saat ini umumnya dapat tumbuh baik pada ketinggian

tempat di atas 700 m di atas permukaan laut (dpl). Dalam perkembangannya

dengan adanya introduksi beberapa klon baru dari luar negeri, beberapa klon saat

ini dapat ditanam mulai di atas. ketinggian 500 m dpl, namun demikian yang

terbaik seyogyanya kopi ditanam di atas 700 m dpl, terutama jenis kopi robusta.

Kopi arabika baik tumbuh dengan citarasa yang bermutu pada ketinggian di atas

1000 m dpl. Namun demikian, lahan pertanaman kopi yang tersedia di Indonesia

sampai saat ini sebagian besar berada di ketinggian antara 700 sampai 900 m dpl

(Panggabean, 2011).
Curah hujan yang sesuai untuk kopi seyogyanya adalah 1500 – 2500 mm

per tahun, dengan rata-rata bulan kering 1-3 bulan dan suhu rata-rata 15-25 derajat

celcius dengan lahan kelas S1 atau S2. Ketinggian tempat penanaman akan

berkaitan juga dengan citarasa kopi (Puslitkoka, 2006).

Selain curah hujan, suhu lingkungan memegang peranan penting untuk

pembentukan bunga menjadi buah. Kopi mampu beradaptasi dengan suhu rata-

rata 20-28o C. Karena itu investor atau petani kopi perli mengetahui kondisi suhu

suatu daerah yang ingin dijadikan perkebunan kopi (Panggabean, 2011).

Tanah

Kopi juga sangat menyukai kondisi tanah yang subur dan gembur sampai

kedalaman relatif 100 cm. Tingkat keasaman (pH) tanah yang paling bagus untuk

kopi ada di rentang 5,5 sampai 6,5. Sedangkan kandungan unsur organik (top soil)

yang paling baik minimal sebanyak 2 persen (Puslitkoka, 2006).

Tanah digunakan sebagai media tumbuh tanama kopi. Salah satu ciri tanah

yang baik adalah memiliki lapisan topsoil yang tebal. Umumnya, kondisi tanah di

dataran tinggi memiliki kandungan organik yang cukup banyak dan tidak terlalu

banyak terkontaminasi polusi udara. Tanaman kopi sebaiknya ditanam di tanah

yang memiliki kandungan hara dan organik yang tinggi. Rata-rata pH tanah yang

dianjurkan 5-7 (Rahardjo, 2012).

Tekstur tanah berlempung dengan struktur tanah lapisan atas remah.

Kedalam efektif lebih dari 100 cm, kemiringan tanah kurang dari 30%. Sifat

kimia tanah : C organik > 2 %, KTK > 15 me/100 g tanah, kejenuhan basa >35 %

dan pH tanah 5,5-6,5 (Najiyati dan Danarti 2007).


BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Praktikum

Adapun praktikum ini dilaksanakan di Lahan Pertanian Program Studi

Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara pada tanggal

19 Maret 2019 sampai dengan selesai pada ketinggian 25 meter diatas permukaan

laut.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah biji kopi

sebagai objek praktikum, tanah top soil sebagai media tanam, plastik putih bening

sebagai sungkup, air sebagai media untuk menyiram biji kopi. Daun kelapa

sebagai naungan.

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cangkul untuk

membersihkan gulma, bambu sebagai wadah menyemai kopi, parang untuk

memotong bambu. Gembor untuk wadah air menyiram tanaman, kamera untuk

dokumentasi.

Prosedur Kerja

- Dilakukan pembersihan gulma daripada lahan menggunakan cangkol.


- Dipasang naungan yang atapnya terbuat dari daun pisang
- Dipotong bambu sesuai ukurannya sebagai wadah untuk menyemai.
- Diisi wadah penyemaian tersebut dengan menggunakan top soil
- Dibagi tempat penyemaian sesuai dengan banyak kelompok
- Dibuat lubang tanam sesuai jumah yang ditentukan.
- Ditanam biji kopi dan ditutup kembali dengan tanah.
- Ditutup kembali penyemaian kopi dengan bambu setengah lingkaran
- Ditutupi bambu tersebut menggunakan plastik bening.
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

Persiapan Lahan

Persiapan lahan dilakukan dengan beberapa kegiatan yaitu pembersihan

guma, perataan permukaan tanahnya. Lalu dipasang naungan yang atapnya terbuat
dari daun kelapa. Pembuatan naungan agar persemaian kopi ini dilakukan di

tenpat yang teduh.

Persiapan media persemaian

Persiapan media persemaian yaitu dengan mencampur media tanam top

soil, pasir dengan perbandingan 2:1. Tempat untuk menyemai kopi dibuat

berbentuk setengah ingkaran.

Persiapan Benih

Benih yang digunakan sebanyak 140 benih untuk satu kelas. Benih yang

dipakai adalah benih yang berkualitas bagus baik dari fisiologinya.

Penanaman Benih

Penanaman benih dilakukan dengan membuat ubang tanam terlebih

dahulu. Lubang tanam tidak terlalu dalam dan tidak terlalu dangkal juga.

Pembuatan Sungkup

Pembuatan sungkup dilakukan dengan membentuk setengah lingkaran.

Setelah kopi di tanam, ditutup dengan sungkup dari plastik bening dan

membentuk setengah lingkaran.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

No. Gambar Keterangan


1.

Pembersihan Lahan

2.

Pembuatan Naungan

3.

Pembuatan Tempat Semaian

4.

Penanaman Biji Kopi

5.

Penyiraman Semaian

Pembahasan

Dari hasil praktikum diketahui bahwa tanaman kopi tumbuh subur pada

tanah yang gembur. Jadi pada gambar 1 diketahui bahwa para praktikan

melakukan pembersihan lahan dari segala jenis gulma dan melakukan perataan

lahan agar media untuk menyemai kopi dapat berdiri dengan benar tanpa ada
kendala. Sehingga pertumbuhan tanaman kopi tidak akan terganggu karena lokasi

tenpat yang tidak stabil.

Pada gambar kedua praktikan melakukan pembuatan naungan. Naungan

yang akan dibuat terbuat dari daun kelapa. Daun kelapa yang digunakan adalah

daun kelapa yang sudah tua dan kering. Pembuatan naungan ini bertujuan untuk

membuat kondisi lingkungan di sekitar perkecambahan akan tetap teduh. Hal ini

dikarenakan tanaman kopi akan tumbuh baik pada lingkungan yang teduh dan

tisak terkena sinar matahari secara langsung.

Pada gambar ketiga dilakukan kegiatan untuk pembuatan tempat

penyemaian. Penyemaian dilakukan di dalam tempat seperti bedengan. Pembuatan

ini dilakukan dengan menggunakan bamboo. Pertama – tama para praktikan akan

membersihkan lokasi untuk tempat penyemaian. Penyemaian dibuat dengan

bentuk yang sudah diketahui. Dan para praktikan membuat batasan – batasan

untuk setiap tempat penyemaiannya.

Diisi tempat penyemaian dengan menggunakan top soil. Top soil yang

digunakan sesuai dengan kebutuhan yang sesuai. Setelah top soil diisi, para

praktikan membuat lubang tanam. Lubang tanam yang dibuat sebanyak lubang

tanam yang telah ditentukan. Dan lubang tanam tersebut tidak terlalu dalam dan

juga tidak terlalu dangkal. Lubang tanam yang terlalu dalam dapat menghambat

atau memperlama proses perkecambahan.

Kegiatan selanjutnya adalah penanaman biji kopi. Biji kopi ditanam pada

lubang tanam yang telah dibuat. Setelah itu ditutup kembali dengan tanah dan

juga disiram dengan air yang secukupnya. Jika air berlebihan dapat membuat biji

kopi menjadi busuk. Namun jika kekeringan membuat biji kopi kering dan rusak.
Setelah itu ditutup tempat penyemaian menggunakan plastic bening agar

lingkungan sekitar kopi tetap lembab.

KESIMPULAN

Dari hasil praktikum diketahui bahwa pembuatan bangunan

perkecambahan dilakukan dengan menggunakan daun kelapa sebagai

naungannya. Dan pembibitan kopi melalui beberapa tahap yaitu pembersihan laha,

persiapan media tanam, persiapan benih, penanaman, penyiraman, dan pembuatan

sungkup dari plastik bening.


DAFTAR PUSTAKA

Antony, 2010. Ethylene in Plant Biology. Academic Press. New York.


Kementrian Pertanian, 2014. Pedoman Teknis Budidaya Kopi Yang Baik.
Kementrian Pertanian Direktorat Jendral Perkebunan.
Najayati, S. dan Danarti.2007. Kopi, Budidaya dan Penanganan Lepas Panen. PT.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Panggabean, A. 2011. Analisis Usahatani. Universitas Indonesia Press. Jakarta
Puslitkoka. 2006. Pedoman Teknis Tanaman Kopi. 96 hal. Jember.
Rahardjo, P. 2012. Panduan Budidaya dan Pengolahan Kopi Arabika dan Robusta.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Rismunandar dan Paimin 2001. Kayu Manis Budidaya dan Pengolahan. Penebar
Swadaya, Surabaya.