Anda di halaman 1dari 35

METODOLOGI PENELITIAN

“KUALITATIF”

OLEH
KELOMPOK II :

ARIS CAL PUTRA (P00341017052) MIEN ASRHA S (P00341017076)


ASWARDIN (P00341017056) MUH. RACHMAN JAMIL (P00341017079)
AULIA FEBRY R (P00341017058) M. SUKRI RUSNADI (P00341017081)
DITA ELVITA SARITA (P00341017061) NUR SELMIATIN (P00341017084)
ERIN SYAHRANI AR (P00341017062) NUR HASNI ADAMSYAH (P00341017085)
FANY ROSDIANTI (P00341017064) RIANTI (P00341017088)
FRININDA (P00341017065) SITI NUR KHOLIFAH (P00341017092)
SRI MULIA
HERJIANA TOMALILI (P00341017067) (P00341017094)
ELNINANINGSIH
HIKMAWATI (P00341017069) SRI RAHAYU PUSPITA (P00341017095)
ISPAN AL IBRAHIM (P00341017072) VERMI (P00341017098)
LUH JUNI SUPRIANTINI (P00341017075) DETI KARMIATI

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KENDARI
JURUSAN TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
TINGKAT III B
2019
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Laboratorium merupakan salah satu unit sarana penunjang kegiatan
akademik yang keberadaannya sangat penting dalam upaya peningkatan
kualitas pembelajaran. Dalam pelaksanaannya, laboratorium harus
mempunyai sistem pengelolaan yang baik dan terarah sehingga dapat
melaksanakan tugas dan fungsinya dengan benar dan maksimal.
Sistem pengelolaan laboratorium mencakup beberapa aspek
diantaranya pengelolaan sumber daya manusia, pengelolaan sarana prasarana,
pengelolaan pelayanan akademik, pengelolaan keuangan. Kegiatan
praktikum tentu saja tidak akan dapat dipisahkan dengan kebutuhan bahan
dan peralatan. Bahan praktikum sangat bermacam-macam jenis dan
karakteristiknya, begitu juga dengan peralatan dengan berbagai tipe, model
dan kegunaannya, semuanya disediakan untuk memenuhi kebutuhan
praktikum.
Keadaan laboratorium yang aman dapat tercipta apabila ada komitmen
dari setiap pekerja atau kelompok pekerja untuk menjaga dan melindungi diri.
Diperlukan adanya kesadaran bahwa kecelakaan dapt berakibat pada dirinya
sendiri maupun orang lain serta lingkungan. Selain itu, disiplin setiap
individu terhadap peraturan juga memberikan andil dalam seselamatan kerja
(imamkhasani, 1991).
Analis merupakan bagian dari pemberi layanan kesehatan, sehingga
penggunaan APD wajib dilaksanakan oleh analis maupun mahasiswa analis.
Keamanan dan keselamatan seluruh penyedia layanan kesehatan merupakan
bagian penting dalam menjaga kesehatan (maja, 2009).
Pengunaan APD pada analis merupakan salah satu bagian dari usaha
menyediakan lingkungan yang bebas dari infeksi sekaligus sebagai upaya
perlindungan dari sampel pasien terhadap penularan penyakit (potter, 2005),
2

karena Penggunaan APD saat penanganan specimen pun kadang-kadang


terabaikan.
Sikap dan perilaku pekerja yang lalai dan menganggap remeh setiap
kemungkinan bahaya dan enggan memakai APD menempati urutan pertama
sebagai penyebab kecelakaan. Dalam dunia pendidikan, hal demikian sering
terjadi pada praktikum-praktikum mahasiswa tingakat pertama dan kedua
mungkin pula pada tingkat yang lebih tinggi (Imamkhasami,1991).
Berdasarkan permasalah diatas, maka akan dilakukan penelitian
terkait ketidakpedulian mahasiswa Jurusan Teknologi Laboratorium Medis
tingkat III A Poltekkes Kendari dalam penggunaan alat pelindung diri (APD)
di laboratorium .
B. Rumusan Masalah
Apa alasan mahasiswa tidak menggunakan Alat Pelindung Diri
(APD) dilaboratorium?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui alasan mahasiswa tidak menggunakan Alat
Pelindung Diri (APD).
2. Tujuan khusus
Untuk mengetahui alasan mahasiswa Jurusan Teknologi
Laboratorium Medis Tingkat III A tidak menggunakan Alat Pelindung
Diri (APD).
D. Manfaat
1. Bagi Peneliti Untuk meningkatkan pengetahuan peneliti dan dapat
memberikan informasi tentang bagaimana hubungan motivasi dengan
kepatuhan penggunaan alat pelindung diri di laboratorium kampus
Politeknik Kesehatan Kendari.
2. Bagi Laboratorium Kampus Politeknik Kesehatan Kendari Sebagai
informasi baru tentang resiko bahaya nya jika tidak menggunakan APD
dan peningkatan kualitas praktikum dengan meningkatnya penerapan SOP
3

penggunaan alat pelindung diri yang sesuai standart kesehatan bagi para
mahasiswa.
3. Bagi para mahasiswa sebagai pengetahuan tentang pentingnya dalam
penggunaan alat pelindung diri di laboratorium, sehingga mahasiswa
dapat mencegah terjadinya penyakit akibat proses praktikum agar
produktivitas tercapai secara optimal dan mahasiswa bisa lebih waspada
terhadap penyakit-penyakit yang akan terjadi karena terlalu sering
terpaparbahan kimia ataupun bahan infeksius di laboratorium
4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
1. Alat Pelindung Diri
Alat Pelindung Diri adalah alat-alat yang mampu memberikan
perlindungan terhadap bahaya-bahaya kecelakaan (Suma’mur, 1994).
Alat Pelindung Diri (APD) harus mampu melindungi pemakainya dari
bahaya- bahaya kecelakaan yang mungkin ditimbulkan. Oleh karena itu,
APD dipilih secara hati-hati agar dapat memenuhi beberapa ketentuan
yang diperlukan. Syarat-syarat APD adalah :
a. APD harus dapat memberikan perlindungan yang adekuat terhadap
bahaya yang spesifik atau bahaya yang dihadapi oleh tenaga kerja.
b. Berat alat hendaknya seringan mungkin dan alat tersebut tidak
menyebabkan rasa ketidaknyamanan yang berlebihan.
c. Alat harus dapat dipakai secara fleksibel.
d. Bentuknya harus cukup menarik.
e. Alat pelindung tahan untuk pemakaian yang lama.
f. Alat tidak menimbulkan bahaya-bahaya tambahan bagi pemakainya
yang dikarenakan bentuk dan bahayanya yang tidak tepat atau karena
salah dalam menggunakannya.
g. Alat pelindung harus memenuhi standar yang telah ada
h. Alat tersebut tidak membatasi gerakan dan persepsi sensoris
pemakainya.
i. Suku cadangnya harus mudah didapat guna mempermudah
pemeliharaannya.
Beberapa hal yang dapat menurunkan resiko penularan di tempat
kerja, semua petugas kesehatan harus selalu waspada dan menghindari
terjadinya kecelakaan kerja. Menurunkan resiko penularan di tempat
kerja dapat dilakukan dengan:
a. Memahami dan selalu menerapkan tindakan pencegahan universal
setiap saat kepada semua pasien, di semua tempat pelayanan kesehatan
5

atau ruang perawatan, tanpa memandang status infeksi pasiennya.


b. Menghindari transfusi, suntikan, jahitan, dan tindakan invasive lain
yang tidak perlu, seperti misalnya episiotomy dan tindakan operatif
lain yang tidak jelas indikasinya.
c. Mengupayakan ketersediaan sarana agar dapat selalu menerapkan
pengendalian infeksi secara standar, meskipun dalam keterbatasan
sumber daya.
d. Menilai dan menekan resiko melalui pengawasan yang teratur di
sarana pelayanan kesehatan (Suma’mur, 1994).
Berbagai jenis APD di rumah sakit yaitu penutup kepala, masker,
sarung tangan, gaun pelindung dan sepatu pelindung (Depkes RI, 2010).
a. Penutup Kepala
Penutup kepala bertujuan mencegah jatuhnya mikroorganisme
yang ada di rambut dan kulit kepala petugas terhadap alat-alat/daerah
steril dan juga sebaliknya untuk melindungi kepala/rambut petugas dari
percikan bahan-bahan dari pasien. Pada keadan tertentu misalnya pada
saat pembedahan atau di ruang rawat intensif (ICU) petugas maupun
pasien harus menggunakan penutup kepala yang menutupi kepala
dengan baik(Depkes,2010).
b. Pelindung wajah/Masker/Kaca mata
Pelindung wajah terdiri dari dua macam pelindung yaitu masker
dan kaca mata. Pemakaian pelindung wajah dimaksudkan untuk
melindungi selaput lendir hidung, mulut, dan mata selama melakukan
tindakan atau perawatan pasien yang memungkinkan terjadi percikan
darah atau cairan tubuh.
Masker tanpa kacamata hanya digunakan pada saat tertentu
misalnya merawat pasien terbuka tanpa luka dibagian kulit/perdarahan.
Masker digunakan bila berada dalam jarak 1 meter dari pasien. Masker,
kacamata dan pelindung wajah secara bersamaan digunakan petugas
yang melaksanakan atau membantu melaksanakan tindakan berisiko
tinggi terpajan lama oleh darah dan cairan tubuh lainnya antara lain
6

pembersihan luka, membalut luka, mengganti kateter atau


dekontaminasi alat bekas pakai. (Depkes,2010).
a. Sarung Tangan
Pemakaian sarung tangan bertujuan untuk melindungi tangan dari
kontak dengan darah, semua jenis cairan tubuh, sekret, ekskreta, kulit
yang tidak utuh, selaput lendir pasien dan benda yang terkontaminasi.
Sarung tangan harus selalu dipakai oleh setiap petugas kesehatan
sebelum kontak dengan darah atau semua jenis cairan tubuh, sekret,
ekskreta dan benda yang terkontaminasi.
Perlu diperhatikan pada waktu memeriksa, gunakan pasangan
sarung tangan yang berbeda untuk setiap pasien, segera lepas sarung
tangan apabila telah selesai dengan satu pasien dan ganti sarung tangan
yang lain apabila akan menangani pasien yang lain. Hindari kontak
pada benda-benda lain selain yang berhubungan dengan tindakan yang
sedang dilakukan, misalnya membuka pintu selagi masih memakai
sarung dan sebagainya.Sarung tangan tidak perlu dikenakan untuk
tindakan tanpa kemungkinan terpajan darah atau cairan tubuh lain.
Contoh memberi makan pasien, membantu minum obat, membantu
jalan dan lain-lain.(Depkes,2010)
b. Alat pelindung Kaki
Pemakaian sepatu pelindung bertujuan melindungi kaki petugas
dari tumpahan/percikan darah atau cairan tubuh lainnya dan mencegah
dari kemungkinan tusukan benda tajam atau kejatuhan alat kesehatan.
Sepatu harus menutupi seluruh ujung dan telapak kaki dan tidak
dianjurkan untuk menggunakan sandal atau sepatu terbuka. Sepatu
khusus sebaiknya terbuat dari bahan yang mudah dicuci dan tahan
tusukan misalnya karet, kulit atau plastik. Sepatu khusus digunakan
oleh petugas yang bekerja di ruang tertentu misalnya ruang bedah,
laboratorium, ICU, ruang isolasi, ruang pemulasaraan jenasah dan
petugas sanitasi. Sepatu hanya dipakai di ruang tersebut dan tidak boleh
ke ruang lainnya.(Depkes,2010).
7

c. Pakaian pelindung
Pelindung dapat berbentuk APRON yang menutupi sebagian dari
tubuh yaitu mulai dari dada sampai lutut dan overalla yang menutup
seluruh badan. Pakaian pelindung digunakan untuk melindungi
pemakainya dari percikan cairan, api, larutan bahan kimia korosif dan
oli, cuaca kerja (panas, dingin, dan kelembapan). APRON dapat dibuat
dari kain, kulit, plastik, karet, asbes atau kain yang dilapisi aluminium.
Perlu diingat bahwa APRON tidak boleh dipakai di tempat-tempat kerja
yang terdapat mesin berputar.
Pemakain gaun pelindung bertujuan untuk melindungi petugas dari
kemungkinan genangan atau percikan darah atau cairan tubuh lain yang
dapat mencemari baju atau seragam. Gaun pelindung steril dipakai oleh
ahli bedah dan para asistennya pada saat melakukan pembedahan,
sedangkan gaun pelindung non steril dipakai di berbagai unit yang
berisiko tinggi misalnya pengunjung kamar bersalin, ruang pulih di
kamar bedah, ruang rawat intensif (ICU), rawat darurat dan kamar bayi.
Gaun pelindung harus dipakai apabila ada indikasi, misalnya pada
saat membersihkan luka, melakukan irigasi, melakukan tindakan
drainase; menuangkan cairan terkontaminasi kedalam lubang
pembuangan /WC/toilet; mengganti pembalut; menangani pasien
dengan perdarahan masif; melakukan tindakan bedah termasuk otopsi;
perawatan gigi dan sebagainya.(Depkes,2010)

Alat pelindung diri yang akan digunakan di tempat kerja harus


memperhatikan, yaitu:
a) Berat alat pelindung diri hendaknya seringan mungkin dan alat
tersebut tidak menyebabkan rasa tidak nyaman yang berlebihan.
b) Alat harus dapat dipakai secara fleksibel.
c) Bentuknya harus cukup menarik.
d) Alat pelindung diri harus tahan untuk pemakaian lama.
e) Alat pelindung diri tidak menimbulkan bahaya-bahaya tambahan bagi
8

pemakaiannya.
f) Alat pelindung harus memenuhi standar yang telah ada.
g) Alat pelindung diri tidak membatasi gerak dan persepsi sensoris
pemakaiannya.
h) Alat pelindung diri harus memberikan perlindungan yang adekuat
terhadap bahaya yang spesifik yang dihadapi oleh tenaga kerja.
Indikasi pemakaian alat pelindung, tidak semua alat pelindung
tubuh digunakan. Jenis pelindung tubuh yang dipakai tergantung pada
jenis tindakan atau kegiatan yang akan dikerjakan. Sebagai contoh untuk
tindakan bedah minor (misalnya vasekto,memasang/mengangkat implan)
cukup memakai sarung tangan steril. Namun untuk kegiatan operatif di
kamar bedah atau melakukan pertolongan persalinan sebaiknya semua
pelindung tubuh dipakai oleh petugas untuk mengurangi kemungkinan
terpajan darah/cairan tubuh.

2. Kepatuhan
Kepatuhan perawat terhadap pelaksanaan APD merupakan hal
yang penting karena dengan perawat patuh, maka penularan penyakit dapat
dicegah, membantu proses penyembuhan pasien. Sebaliknya, bila perawat
tidak patuh, maka resiko penularan dapat terjadi, dan mengakibatkan
proses kesembuhan pasien akan lama.
a. Pengertian Kepatuhan
Tingkat kepatuhan adalah kepatuhan petugas dalam
pelayanan yang sesuai dengan standar pelayanan kesehatan (Depkes RI,
2010). Sedangkan menurut Degrest et al, (dalam Suparyanto, 2010),
kepatuhan adalah perilaku positif petugas kesehatan dalam
melaksanakan tindakan. Patuh adalah suka menurut perintah, taat pada
perintah atau aturan. Kepatuhan adalah suatu perilaku manusia yang
taat terhadap aturan, perintah, prosedur dan disiplin. Kepatuhan perawat
adalah perilaku perawat sebagai seorang yang profesional terhadap
9

suatu anjuran, prosedur atau peraturan yang harus dilakukan atau ditaati
(Ramdayana, 2009).
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan
Suddart and Bruner dalam Syakira (2009), menjelaskan faktor-
faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan antara lain:
1) Faktor demografi seperti: usia, jenis kelamin, suku bangsa, status
sosial ekonomi dan pendidikan.
2) Faktor psikososial seperti : intelegensia, sikap tenaga
kesehatan, keyakinan agama dan budaya.
Carpenito (2000) berpendapat bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi tingkat kepatuhan adalah segala sesuatu yang dapat
berpengaruh positif. Faktor yang mempengaruhi kepatuhan dapat
dikategorikan menjadi faktor internal yaitu karakteristik perawat itu
sendiri (umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, status perkawinan,
kepribadian, sikap, kemampuan, persepsi dan motivasi) dan faktor
eksternal (karakteristik organisasi, kelompok, pekerjaan, dan
lingkungan).
c. Cara meningkatkan kepatuhan
Smett dalam Syakira (2009) menjelaskan cara yang dapat
digunakan untuk meningkatkan kepatuhan antara lain:
1) Dukungan managerial rumah sakit
Dukungan rumah sakit terhadap petugas kesehatan
sangatlah penting untuk memotivasi perawat melaksanakan SOP.
Cara yang dapat dilakukan adalah adanya reward system.
Ketersediaan sarana dan prasarana menjadi faktor yang
berkontribusi dalam meningkatkan kepatuhan.
2) Pengawasan
Pengawasan ditujukan agar para petugas kesehatan dapat
meningkatkan dalam melaksanakan aturan yang ada.
3) Promosi
Modifikasi perilaku melalui promosi sehat sangat
10

diperlukan untuk menyadari pentingnya pencegahan penyakit


dengan memasang SOP di ruang rawat inap.
4) Peningkatan pengetahuan
Pelatihan akan memungkinkan penyerapan informasi
akurat oleh petugas kesehatan.

3. Pengetahuan
a. Pengertian Pengetahuan
Menurut pendapat Notoatmodjo (2003), pengetahuan
merupakan hasil dari tahu setelah orang melakukan penginderaan
terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca
indra manusia, yakni indera pengelihatan, pendengaran, penciuman,
perasa dan raba. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting
untuk terbentuknya tindakan seseorang.
b. Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan yang tercakup
dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu :
1) Tahu (know)
Diartikan sebagai mengingat materi yang telah dipelajari
sebelumnya termasuk mengingat kembali suatu yang spesifik dari
semua bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima.
2) Memahami (comprehention)
Diartikan sebagai suatu kemampuan seseorang
untuk dapat menjelaskan dengan betul mengenai objek yang
diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara
benar.
3) Aplikasi (application)
Kemampuan dalam menguasai materi dan masih pada
situasi atau kondisi real (sebenarnya) denan menggunakan rumus,
metode, prinsip dan sebagainya dalam situasi tertentu.
4) Analisis (analysis)
11

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan


materi atau objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih
dalam suatu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu
sama lain.
5) Sintesis (synthesis)
Sintesis adalah kemampuan untuk menyusun formulasi
baru dari formulasi-formulasi yang ada, misalnya : dapat
menyusun, merencanakan, meringkas, menyesuaikan dan
sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah
ada.
6) Evaluasi (evaluation)
Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian
terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini
berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau
menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada (Notoatmodjo, 2003)

c. Cara Memperoleh Kebenaran Pengetahuan


Cara untuk mengetahui kebenaran pengetahuan dikelompokkan
menjadi dua, yaitu :
1) Cara tradisional atau non ilmiah
Cara kuno atau tradisional ini dipakai orang untuk
memperoleh kebenaran pengetahuan, sebelum diketemukannya
metode ilmiah atau metode penemuan secara sistematik. Cara-cara
penemuan pengetahuan pada periode ini antara lain :
a) Cara Coba Salah (Trial Error)
Sebelum adanya kebudayaan bahkan peradaban, cara coba
salah dilakukan menggunakan kemungkinan dalam
memecahkan masalah apabila kemungkinan tersebut tidak
berhasil maka akan dicoba dengan kemungkinan lain.
b) Cara kekuasaan atau Otoritas
12

Prinsip dari cara ini adalah orang lain menerima pendapat


dari orang yang melakukan aktivitas tanpa menguji atau
membuktikan kebenaran berdasarkan penalaran sendiri. Hal ini
disebabkan oleh orang yang dapat menerima pendapat tersebut
menganggap apa yang dikemukakan adalah sudah benar.
c) Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman merupakan sumber pengetahuan yang
merupakan cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan.
Hal ini dilakukan dengan mengulang kembali pengalaman
yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan pada masa
lalu Namun perlu diperhatikan bahwa tidak selamanya
pengalaman pribadi dapat menuntun seseorang untuk menarik
kesimpulan dengan benar. Untuk menarik kesimpulan dari
pengalaman yang benar diperlukan berpikir yang kritis dan
logis.
d) Melalui jalan pikiran
Dalam memperoleh kebenaran pengetahuan, manusia telah
menggunakan jalan pikiran baik melalui induksi maupun
deduksi. Induksi adalah proses pembuatan kesimpulan itu
melalui pernyataan-pernyataan khusus kepada umum. Deduksi
adalah proses pembuatan kesimpulan dari pernyataan-
pernyataan umum kepada yang khusus.
2) Cara modern atau cara ilmiah
Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada
saat ini lebih sistematis logis dan ilmiah. Dalam memperoleh
kesimpulan dilakukan dengan observasi langsung dan membuat
catatan-catatan terhadap semua fakta yang sehubungan dengan
objek penelitian (Notoatmodjo, 2005).
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2005) faktor-faktor yang mempengaruhi
tingkat pengetahuan meliputi :
13

1) Pendidikan
Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi,
misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat
meningkatkan kualitas hidup. Pada umumnya makin tinggi
pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi. Jejang
pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, menengah dan
pendidikan tinggi.
2) Informasi
Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih
banyak akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas. Sumber
informasi seseorang biasanya diperoleh dari media bermacam-
macam, misalnya : media massa, media elektronik, petugas
kesehatan, media poster, kerabat dekat, teman dan lain-lain.
3) Budaya
Tingkah laku manusia atau kelompok manusia dalam
memenuhi kebutuhan yang meliputi sikap dan kebudayaan. Budaya
sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang karena
informasi yang baru akan disaring kira-kira sesuai tidak dengan
budaya yang ada dan agama yang dianut.
4) Pengalaman
Pengalaman adalah sesuatu yang pernah dialami seseorang
tentang tertentu. Dalam hal ini berkaitan dengan umur dan
pendidikan individu maksudnya adalah pendidikan yang tinggi
maka pengalaman akan semakin banyak yang diperoleh dan tua
umur seseorang maka pengalamannya juga akan semakin banyak.
14

BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Dasar Pemikiran
Alat pelindung diri (APD) adalah suatu alat yang dipakai untuk
melindungi diri atau tubuh terhadap bahaya-bahaya kecelakaan kerja. Jadi
alat pelindung diri adalah merupakan salah satu cara untuk mencegah
kecelakaan dan secara teknis, APD tidaklah sempurna dapat melindungi
tubuh akan tetapi dapat mengurangi tingkat keparahan kecelakaan kerja yang
terjadi.
Perlindungan keselamatan mahasiswa melalui upaya teknis
pengamanan tempat, peralatan dan lingkungan kerja wajib diutamakan.
Namun, kadang-kadang risiko terjadinya kecelakaan masih belum
sepenuhnya dapat dikendalikan, sehingga digunakan alat pelindung diri
(personal protective equipment). Jadi penggunaan APD adalah alternatif
terakhir yaitu kelengkapan dari segenap upaya teknis pencegahan kecelakaan.
Adanya peralatan kerja yang dapat menimbulkan potensi bahaya dan
sudah tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan pengendalian secara
engineering control membuat para mahasiswa yang mengoperasikan peralatan
kerja di laboratorium dituntut untuk melakukan pengendalian dengan
memaksimalkan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Namun, seringkali
penggunaan APD diabaikan oleh para mahasiswa. Hal ini dikarenakan
ketidaknyamanan kesulitan bekerja yang dirasakan oleh para mahasiswa saat
mengenakan APD.
15

B. Kerangka Pikir

APD
(Alat Pelindung Diri)

Instruktur lab Kehabisan stock Praktikum Kurangnya


Kebiasaan
tidak menegur APD singkat kesadaran diri

Sampel yang digunakan Lupa membawa


tidak infeksius APD

Malas

Tidak mau Tidak mau rugi Panas Hilang


membawa
banyak barang

C. Variabel Penelitian
1. Variabel bebas ( variabel independent)
Mahasiswa Jurusan Teknologi Laboratorium Medis tingkat III A
Poltekkes Kendari.
2. Variabel terikat (variabel dependent)
Ketidakpedulian Penggunaan alat pelindung diri (APD) di
laboratorium.
16

D. Definisi Operasional
1. Alat pelindung diri (APD) adalah kelengkapan yang wajib digunakan
ketika melakukan praktikum agar menghindari terjadinya resiko bahaya
saat bekerja dilaboratorium. Penggunaan APD berupa Masker, handscun,
jas lab dapat melindungi dari bahan-bahan kimia yang bersifat berbahaya
2. Ketidakpedulian Mahasiswa menggunakan APD akan berdampak
terhadap kesehatan.
17

BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Jenis penelitian Kualitatif, dengan pendekatan partisipatif.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium, pada saat praktikum
Imunoserologi.
C. Subyek Penelitian
Mahasiswa Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Tingkat III A,
akan diambil sebanyak 12 mahasiswa.
D. Metode Pengumpulan Data
Wawancara mendalam menggunakan panduan wawancara dan
direkam.
E. Pengolahan Data
Transkrip Adverbatim, ketika hasil wawancara dari 12 mahasiswa
sudah jenuh maka wawancara dianggap sudah cukup.
F. Metode Analisis Data
Analisis tema
G. Instrumen Penelitian
Alat perekam
18

BAB V
HASIL PENELITIAN

A. Penyajian Data
Tabel 1
Alasan
LAYER Sampel tidak Praktikum
Malas Kebiasaan
infeksius singkat
1 5 5 1 4
2 3 1 1 1
3 - - 1 1
4 - - - -
TOTAL 8 6 3 6

B. Pembahasan
19

BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran
20

DAFTAR PUSTAKA

Liswanti, Yane. 2017. ”Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Dengan


Perilaku Penggunaan Alat Pelindung Diri Pada Mahasiswa Prodi Diii Analis
Kesehatan Stikes Bth Tasikmalaya” dalam Jurnal Kesehatan Bakti Tunas
Husada. Volume 17 Nomor 2.

Imamkhasani, Soemanto dan Milos Nedved. 1991. Dasar-dasar Keselamatan


Kerja Bidang Kimia dan Pengendalian Bahaya Besar. Jakarta: ILO

Maja, TMM. Precautaion Use by Occupational health Nursing Students During


Clinical Placement. Adelaide : Tswane University of Technology. 2009.
21

LAMPIRAN
22

PEDOMAN WAWANCARA

KETIDAKPEDULIAN MAHASISWA DALAM PENGGUNAAN


ALAT PELINDUNG DIRI (APD)

Narasumber : Mahasiswa TLM tingkat III A


Nama :
Jenis Kelamin :
Alamat :

1) Apa alasan anda tidak menggunakan APD?


a. Instruktur laboratorium tidak menegur
- Sampel yang digunakan tidak infeksius
- Malas menggunakan APD
 Tidak mau membawa banyak barang
 Tidak mau rugi
 Panas
 APD hilang
b. Kehabisan stock APD (dalam dan luar kampus)
c. Praktikum yang dilakukan singkat
d. Kebiasaan tidak menggunakan APD
- Lupa membawa APD pada saat praktikum
e. Kurangnya kesadaran diri mahasiswa
f. Dll.
23

Dokumetasi
24

TRANSKRIP HASIL WAWANCARA

Nama Narasumber 1 : Intan Komalasari


Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Anduonohu
1. Q : Apa alasan Anda tidak menggunakan APD pada saat praktikum?
A : Saya sering tidak menggunakan APD ketika praktikum singkat
2. Q : Mengapa anda tidak menggunakan APD pada saat praktikum
singkat?
A : karena saya tidak mau rugi
3. Q : Apa yang membuat anda tidak mau rugi dalam menggunakan
APD?
A : Karena praktikum yang singkat sehingga saya merasa rugi jika
menggunakan APD hanya dalam waktu singkat.
4. Q : Apakah ada alasan lain?
A : Saya rasa itu alasan saya tidak menggunakan APD

Nama Narasumber 2 : Alfian R. Pratama


Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Anduonohu
1. Q : Apa alasan Anda tidak menggunakan APD?
A : Biasanya saya malas menggunakan APD.
2. Q : Apa yang menyebabkan Anda malas menggunakan APD padahal
APD itu penting dalam praktikum?
A : Biasanya saya tidak mau rugi, kadang juga saya merasa panas jika
menggunakan APD.
3. Q : Apa yang menyebabkan Anda tidak mau rugi sehingga tidak
menggunakan APD?
A : Biasanya karena praktikum yang singkat sehingga saya tidak
menggunakan APD
25

4. Q : Apa yang menyebabkan Anda tidak menggunakan APD meski


praktikumnya singkat?
A : Karena saya sudah terbiasa.
5. Q : Kenapa Anda bisa terbiasa tidak menggunakan APD?
A : Karena saya malas

Nama Narasumber 3 : Meilany devista kondo


Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Punggolaka
1) Q : Apa alasan anda tidak menggunakan APD ?
A : Lupa Beli!
2) Q : Kenapa anda bisa Lupa ?
A : Buru-buru akhirnya lupa.
3) Q : Kenapa anda terburu-buru ?
A :Tidak ada persiapan sebelumnya
4) Q : selain itu, apakah ada alasan lain sehingga tidak menggunakan
APD ?
A : Malas!
5) Q : Mengapa anda Malas memakai APD?
A : Sampel tidak Infeksius.

Nama Narasumber 4 : Adelia Meidy Ningrum


Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Anduonohu
1) Q : Apa alasan anda tidak menggunakan APD ?
A : Malas!
2) Q : Kenapa anda malas?
A : saya malas karena saya tidak ditegur insruktur
3) Q : alasan anda tidak menggunakan APD ?
A : Sampel tidak infeksius
4) Q : dari mana anda mengetahui sempelnya tidak infeksius ?
26

A : karena hanya memakai sampel serum dan bukan saya yang


mengerjakan
5) Q : kenapa bukan anda yang mengerjakan sampel ?
A : Karena sudah ada teman yang mengerjakan sebagai perwakilan
6) Q : Apakah ada alasan lain?
A : Saya kira itu saja alasan saya.

Nama Narasumber 5 : Anisa


Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Lepo-Lepo
1. Q : Apa alasan Anda tidak menggunakan APD pada saat praktikum?
A : Karena praktikumnya singkat, dan bukan saya yang mengerjakan.
2. Q : mengapa bukan anda yang berkerja?
A : karena saya malas
3. Q : kenapa anda malas?
A : karena APD membuat saya gerah atau panas
4. Q : Selain itu, apakah ada alasan lain?
A : Alasan saya itu saja, tapi intinya, saya tidak menggunakan APD
karena praktikumnya singkat.

Nama Narasumber 6 : Fransisca kirrik


Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat :Mandonga
1.) 1 Q : Apa alasan anda tidak menggunakan APD?
A : malas
2.) Q : Kenapa anda malas?
A : Karena sampelnya tidak infesius dan praktikumnya cepat
3.) Q : Mengapa anda mengatakan sampel tidak infesius?
A : Karena sampel yang digunakan serum, dan instrukturnya tidak menegur.
4.) Q : Mengapa instruktur tidak menegur?
A : karena instruktur tidak memperhatiakn saya.
27

5.) Q : apakah ada alasan lain?


A : Tidak mau rugi.
6.) Q : Kenapa anda tidak mau rugi?
A : Karena instruktur hanya memberikan simulasi.
7.) Q : apakah ada alasan lain?
A : Alasan saya kembali kealasan pertama yaitu malas

Nama Narasumber 7 : La Kariadin


Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Anduonohu
1. Q : Apa alasan anda tidak menggunakan APD ?
A : Saya malas menggunakan APD
2. Q : Mengapa anda malas menggunakan APD ?
A : Karena saya malas membawa banyak barang di tas saya dan
biasanya saya lupa membawa APD
3. Q : Apa sebabnya anda malas membawa banyak barang di tas anda
dan lupa membawa APD ?
A : Karena di dalam tas saya banyak buku dan barang lain sehingga
tidak ada tempat untuk menyimpan APD ditas saya, dan saya selalu lupa
membawa APD
4. Q : Apa ada alasan lain sehingga anda tidak menggunakan APD ?
A : Karena saya malas menggunakan APD

Nama Narasumber 8 : Mety Hasanah


Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Anduonohu
1. Q : apa alasan anda tidak menggunakan APD saat praktikum?
A : alasan saya tidak menggunakan APD karena saya tidak memiliki uang
2. Q : mengapa bisa anda sampai tidak memiliki uang?
A : karena uang saya habis sebelum jadwal praktikum
28

3. Q : apakah ada alasan lain sehingga anda tidak menggunakan APD saat
praktikum?
A : saya tidak menggunakan APD karena instruktur lab tidak menegur
4. Q : menurut anda apa alasan sampai instruktur lab tidak menegur?
A : dikarenakan sampel praktikum yang tidak infeksius sehingga
mahasiswa jadi malas menggunakan APD

Nama Narasumber 9 : Shafira Mutia Lihawa


Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Puuwatu
1. Q : apa alasan anda tidak menggunakan APD?
A : karena panas saat menggunakan
2. Q : kenapa anda bisa merasakan panas?
A : AC di lab mati
3. Q :apakah ada alasan lain?
A : karena praktikumnya singkat
4. Q :kenapa anda beranggapan bahwa praktikum nya singkat?
A : karena kebiasaan begitu
5. Q : apakah ada alasan lain?
A : sampel yang digunakan tidak infeksius
6. Q :kenapa anda bisa menganggap sampel yg anda digunakan tidak
infeksius?
A :Karena kebiasaan
7. Q :mengapa anda biasa tidak menggunakan APD?
A : Karena saya tidak mau rugi
8. Q :mengapa anda tdk mau rugi?
A :Karena kebiasaan
29

Nama Narasumber 10 : Restiani


Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Wua-wua
1. Q : apa alasan anda tidak menggunakan APD?
A : karena saya lupa membawa APD
2. Q : mengapa anda bisa lupa membawa APD?
A : Karena saya terburu buru
3. Q : mengapa bisa terburu buru?
A : karena takut terlambat
4. Q : apakah ada alasan lain ?
A : karena sampel yang digunakan tidak infeksius
5. Q : mengapa anda beranggapan sampel tidak infeksius?
A : Karena sampel yang digunakan dari teman sendiri
6. Q : mengapa anda bisa menganggap sampel yg anda gunakan tidak
infeksius?
A : karena kami kebiasaan tidak terjadi apa-apa setelah praktikum.

Nama Narasumber 11: Fitrah Pala


Jenis kelamin : Perempuan
1) Q : Apa alasan anda tidak menggunakan APD?
A : alasannya yaitu sampelnya tidak infkesius.
2) Q : Mengapa anda berpikir sampel yang digunakan tidak infeksius?
A : karena sampel berasal dari teman sendiri?
3) Q : Mengapa sampel yang digunakan berasal dari teman?
A : Karena ada beberapa praktikum yang sampelnya darah dan instruktur
menyuruh kami untuk mengambil darah teman saja.
4) Q : apakah ada alasan lain mengapa anda tidak menggunakan APD?
A : praktikum yang dilakukan cuma simulasi seperti hanya mendengar
materi, selain itu setiap praktek dilakukan setiap kelompok tapi
kadang hanya beberapa orang saja yang melakukan yang lain Cuma
melihat sehingga kita yang lain malas menggunakan APD. prakteknya
30

dadakan, jadi biasanya handscoon yang ada tanpa masker, terus juga
karena tidak adanya penjual masker dalam kampus
5) Q : Apa ada alasan lain lagi, mungkin?
A : tidak ada

Nama Narasumber 12 : Novita Sari


Jenis kelamin : Perempuan
1. Q : Apa alasan anda tidak menggunakan APD?
A : karna sampel yang digunakan tidak infeksius
2. Q : Mengapa anda berfikir bahwa sampel yang digunakan tidak
infeksius?
A : karna instruktur juga tidak memakai APD
3. Q : apa yang menyebabkan instruktur anda tidak memakai APD?
A : Karena sampelnya tidak infeksius
4. Q : selain itu, apakah ada alasan lain mengapa anda tidak menggunakan
APD?
A : praktikumnya singkat
5. Q : mengapa anda berfikir bahwa praktikumnya singkat
A : karena jenis pemeriksaannya tidak memakan waktu yang cukup lama
(singkat)
6. Q : mengapa anda berfikir bahwa pemeriksaan yang akan anda lakukan
itu tidak memakan waktu yang lama?
A : karena praktikumnya singkat
7. Q : selain itu, apakah ada alasan lain lagi yang membuat anda tidak
menggunakan APD?
A : kehabisan stock
8. Q : kenapa anda bisa kehabisan stock?
A : karna tidak ada penjual
9. Q : mengapa tidak ada yang jual?
A : karna ditoko kehabisan stock
31

Layer

Narasumber 1 : Intan Komalasari

Layer 1 Layer 2
Praktikum singkat Tidak mau rugi

Narasumber 2 : Alfian R. Pratama

Layer 1 Layer 2 Layer 3 Layer 4


Layer 4

Tidak mau rugi Praktikum Kebiasaan


Malas
singkat

Panas

Narasumber 3 : Meilany Devista Kondo

Layer 1 Layer 2 Layer 3


Lupa Terburu-buru Malammnya tidak disiapkan

Malas Sampel tidak infeksius

Narasumber 4 : Adelia Meidy Ningrum

Layer 1 Layer 2 Layer 3

Malas Instruktur Lab tidak menegur


Sampel tidak infeksius
Sampel tidak infeksius Karena sampel serum Karena teman sudah
mengerjakan sebagai
Tidak melakukan praktikum perwakilan

mengerjakan d
32

Narasumber 5 : Annisah

Layer 1 Layer 2 Layer 3


Praktikum singkat malas Panas

Tidak melakukan praktikum

Narasumber 6 : Fransisca kirrik

Layer 1 layer 2 layer 3 layer 4

malas Sampel tidak infeksius Karena sampel Instruktur Lab tidak


serum memperhatikan
Tidak mau rugi Praktikum singkat
Instruktur Lab tidak
Simulasi menegur

Narasumber 7 : La Kariadin

Layer 1 Layer 2
malas Tidak mau membawa banyak barang

Lupa membawa APD

Narasumber 8 : Mety Hasanah

Layer 1 Layer 2
Tidak memiliki uang membeli APD Uang habis sebelum praktikum

Instruktur lab tidak menegur Sampel tidak infeksius

Narasumber 9 : Shafira Mutia Lihawa

Layer 1 layer 2

Panas AC lab mati

Praktikum singkat kebiasaan

Sampel tidak infeksius

Tidak mau rugi


33

Narasumber 10 : Restiani

Layer 1 layer 2 layer 3


Lupa membawa APD Terburu-buru kebiasaan

Sampel tidak infeksius Sampel berasal dari teman


sendiri

Narasumber 11 : Fitrah Pala

Layer 1 Layer 2

Sampel tidak infeksius Sampel berasal dari teman sendiri

simulasi

Tidak melakukan praktikum

Praktikum dadakan

Narasumber 12 : Novita Sari

Layer 1 layer 2 layer 3

Sampel tidak infeksius Instruktur tidak Sampel tidak


menggunakan APD infeksius
Praktikum singkat
Pemeriksaan cepat
Kehabisan stock APD

Tidak ada penjual APD di Ditoko kehabisan


lingkungan kampus stock
10