Anda di halaman 1dari 17

Penyakit Jantung Koroner

Dewasa Muda

Erick Apriansyah Fauzi

J1A117200

Epidemiologi 2017

Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Halu Oleo

2019
PENDAHULUAN

Selain Kanker, Penyakit Kardiovaskuler merupakan salah satu pembunuh paling


mematikan di Negara berkembang. Terlebih lagi Penyakit Jantung Koroner, hal ini sangat
penting karena hamper setiap harinya kita terpapar oleh faktor risiko dari penyakit jantung
koroner ini.

Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan gangguan pada pembuluh darah koroner
berupa penyempitan atau penyumbatan yang dapat mengganggu proses transportasi bahan-bahan
energi tubuh, suplai oksigen dan kebutuhan oksigen mengalami ketidakseimbangan yang
menimbulkan gangguan pompa jantung dan berakhir pada kelemahan dan kematian sel-sel
jantung (Yahya, 2010). Kebanyakan masyarakat lebih memilih gaya hidup yang tidak sehat
seperti kurang aktivitas atau olahraga, makan makanan siap saji, tinggi gula, tinggi kolesterol dan
lemak (Prabantini, dkk, 2014). Salah satu upaya yang bisa dilakukan masyarakat untuk
mencegah penyakit jantung koroner adalah melalui deteksi dini PJK. Masyarakat banyak yang
belum mengetahui cara deteksi dini PJK. Deteksi dini PJK sangat penting dalam mencegah
terjadinya penyakit jantung koroner dan untuk mengetahui lebih dini adanya ancaman serangan
jantung koroner, dengan begitu akan mengurangi angka kematian akibat PJK, karena pembuluh
darah menentukan kualitas hidup manusia sehingga perlu dijaga, Meningkatnya angka kejadian
PJK dan penyakit kardiovaskuler yang dilaporkan dari tahun ketahun disesebabkan kurangnya
pengetahuan masyarakat tentang deteksi dini penyakit jantung koroner dan kurangnya upaya
dalam mencegah penyakit PJK (Apriliyani, 2015).

Menurut data dari World Health Organization (WHO) mengemukakan bahwa penyakit
kardiovaskuler merupakan pembunuh nomor satu di dunia untuk usia di atas 45 tahun dan
diperkirakan 12 juta orang meninggal tiap tahunnya. Secara global, hipertensi diperkirakan
menyebabkan 7,5 juta kematian, sekitar 12,8% dari total seluruh kematian. Tekanan darah tinggi
merupakan faktor resiko utama pada penyakit jantung koroner dan stroke iskemik serta
hemoragik (WHO, 2014). Pada tahun 2030 diperkirakan bahwa 23,6 juta kematian di dunia di
sebabkan oleh penyakit kardiovaskuler.
Hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2013 menunjukkan penyakit jantung koroner
(PJK) berada pada posisi ketujuh tertinggi Penyakit Tidak Menular (PTM) di Indonesia. World
Health Organization (WHO) memperkirakan kematian akibat PJK di Indonesia mencapai 17,5%
dari total kematian di Indonesia. Provinsi dengan prevalensi tertinggi yaitu Jawa Timur sebesar
375.127 orang, sedangkan jumlah prevalensi paling sedikit yaitu Papua Barat yaitu 6.690 orang
(Depkes RI, 2013). Di Jawa Timur didapatkan sekitar 10-17% yang terkena penyakit jantung
koroner (PJK) dari jumlah penduduk, kebanyakan yang rawan terkena penyakit tersebut adalah
antara usia ≥ 50 tahun (Nugroho, 2009). Data rekam medik RSUD Dr.Hardjono Ponorogo
penderita Penyakit Jantung Koroner (PJK) sejumlah 434 orang pada 1 Januari sampai dengan 30
November 2015 (Rekam Medik RSUD dr. Harjono, 2015).

Berbagai faktor risiko erat kaitannya dengan zat makanan yang masuk ke dalam tubuh
(intake) sewaktu makan, dalam arti macam dan jumlahnya. Faktor resiko secara langsung terkait
dengan diabetes mellitus, kadar lemak darah yang abnormal, dan kegemukan. Kandungan kalori
pada makanan dan proses metabolisme dalam tubuh yang berpengaruh terhadap kesehatan
jantung pada umumnya dan khususnya PJK. Semua zat makanan yang diperlukan dapat dipenuhi
dalam jumlah yang mencukupi. Penyebab terjadinya penyakit jantung selain dari pola konsumsi
karbohidrat, makanan tinggi lemak dan kolesterol, kurangnya asupan serat juga berpengaruh
terhadap terjadinya penyakit jantung khususnya PJK. Serat juga dapat membantu menurunkan
absorpsi lemak dan kolesterol darah.

Penelitian menunjukkan bahwa diet serat berasal dari konsumsi makanan tinggi kacang
polong, termasuk kacang merah, mampu menurunkan kadar kolesterol darah hingga 10 % pada
penderita hiperkolesterolemia, orang-orang yang mempunyai kadar kolesterol darah berlebihan.
Serat larut air difermentasi dalam usus besar dan menghasikan asam-asam lemak rantai pendek
yang dapat menghambat sintesis kolesterol hati (Khomsan, 2007). Kebutuhan serat orang dewasa
menurut AKG (2012) 27-37 gr/hari. Berdasarkan hasil wawancara dengan penderita PJK dan PJ
non K didapatkan asupan serat yang kurang, karena penderita hanya mengkonsumsi nasi dengan
lauk tanpa menggunakan sayur ataupun buah yang kaya serat.

Upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan cara mengenali tanda dan gejala dari penyakit
jantung koroner (PJK), untuk meminimalisasikan penyakit jantung koroner tenaga kesehatan
khususnya perawat perlu mengadakan sosialisasi atau penyuluhan kesehatan dengan cara
pembagian liflet, pemasangan poster, membuat pertemuan pada farum diskusi tentang PJK
kepada masyarakat, untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang deteksi dini penyakit
jantung koroner. Penyakit jantung memerlukan penanganan secara dini untuk meningkatkan
kesehatan masyarakat.
PENYEBAB KEJADIAN PENYAKIT

Penyakit kardiovaskular telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan


tidak hanya untuk perkotaan tetapi juga untuk daerah pedesaan di India. Penyakit kardiovaskular
ditemukan terkait dengan meningkatnya urbanisasi dengan peningkatan daya beli masyarakat
dan dengan ketersediaan bahan makanan transnasional dan teknologi yang mengarah pada
pengembangan faktor risiko yang berhubungan dengan gaya hidup seperti ketidakaktifan fisik,
diet yang tidak sehat, stres, alkohol, dan penyalahgunaan tembakau. (Gupta, Batta, Arora, &
Gupta, 2015)

Beberapa penelitian telah menunjukkan potensi luar biasa menggunakan kalsium arteri
koroner (CAC) di samping faktor risiko tradisional untuk prediksi risiko penyakit jantung
koroner (PJK). Namun, hingga saat ini, tidak ada skor risiko yang menggabungkan CAC telah
dikembangkan. (Post et al., 2015)

1. Hipertensi
Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama untuk terjadinya PJK
Penelitian di berbagai tempat di Indonesia (1978) mendapatkan prevalensi hipertensi
untuk Indonesia berkisar antara 6-15%, sedangkan di negara-negara maju seperti
misalnya Amerika National Health Survey menemukan frekuensi yang lebih tinggi yaitu
mencapai 15-20%. Lebih kurang 60% penderita hipertensi tidak terdeteksi, 20% dapat
diketahui tetapi tidak diobati atau tidak terkontrol dengan baik, sedangkan hanya 20%
dapat diobati dengan baik.
Penyebab kematian akibat hipertensi di Amerika adalah kegagalan jantung 45%,
miokard infark 35%, cerebrovascular accident 15% dan gagal ginjal 5%. Komplikasi
yang terjadi pada hipertensi esensial biasanya akibat perubahan struktur arteri dan arterial
sistemik, terutama terjadi pada kasus-kasus yang tidak diobati. Mula-mula akan terjadi
hipertrofi dari tunika media diikuti dengan hialinisasi setempat dan penebalan fibrosis
dari tunika intima dan akhirnya akan terjadi penyempitan pernbuluh darah. Tempat yang
paling berbahaya adalah bila mengenai miokardium, arteridan arterial sistemik arteri
koroner dan serebral serta pembuluh darah ginjal.
Tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor risiko terjadinya PJK.
Berdasarkan penelitian ini, sebagian besar responden memiliki tekanan darah yang
berada pada rentang normal yaitu tekanan sistolik < 140 mmHg. Tekanan darah tinggi
dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan gangguan jantung (Smeltzer and
Bare, 2010). Tekanan darah yang normal pada sebagian besar responden, dapat
disebabkan oleh sebagian besar responden dalam penelitian ini berada pada rentang umur
26 – 35 tahun. Hipertensi sering terjadi pada lanjut usia (Tomasik, Gryglewska, Windak
dan Grodzicki, 2013). Hal ini dapat disebabkan oleh degenerative pembuluh darah.
Dengan normalnya tekanan darah sebagian responden, maka risiko PJK terkait hipertensi
pada masyarakat Pangandaran rendah. Normalnya tekanan darah pada masyarakat di
Pangandaran dapat dipertahankan dengan pemberian pendidikan kesehatan untuk
menjalankan pola hidup sehat, cukup istirahat dan bebas dari stress. (Pratiwi, Sari, &
Mirwanti, 2018)
Hipertensi ditemukan lebih umum pada kelas sosial ekonomi atas dibandingkan
dengan kelas sosial ekonomi rendah. Prevalensi hipertensi tertinggi pada kelas sosial
ekonomi atas (32,5%) diikuti oleh kelas menengah (27,1%) dan paling rendah di kelas
bawah (13,8%). Prevalensi hipertensi yang lebih tinggi di kelas atas disebabkan oleh gaya
hidup mereka, yang biasanya melibatkan jenis pekerjaan yang tidak banyak bergerak,
stres mental yang lebih tinggi, kurangnya aktivitas fisik, dan prevalensi obesitas yang
tinggi. Temuan serupa dari prevalensi hipertensi yang lebih tinggi di kelas sosial ekonomi
atas telah dilaporkan pada populasi Puducherry dan di negara bagian Maharashtra dan
Telangana di India. Sebaliknya, ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa pada
banyak populasi , hipertensi lebih banyak terjadi pada kelas sosial ekonomi rendah,
terutama di negara-negara terbelakang (I. M. Ismail, Kulkarni, Meundi, & Amruth,
2016).

2. Hiperkolesterolemi
Hiperkolesterolemi merupakan masalah yang cukup penting karena termasuk
salah satu faktor risiko utama PJK di samping hipertensi dan merokok. Di Amerika pada
saat ini 50% orang dewasa didapatkan kadar kolesterolnya >200 mg/dl dan ± 25% dari
orang dewasa umur >20 tahun dengan kadar kolesterol >240 mg/dl, sehingga risiko
terhadap PJK akan meningkat. Kolesterol, lemak dan substansi lainnya dapat
menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah arteri, sehingga lumen dari pembuluh
derah tersebut menyempit dan proses ini disebut aterosklerosis. Penyempitan pembuluh
darah ini akan menyebabkan aliran darah menjadi lambat bahkan dapat tersumbat
sehingga aliran derah pada pembuluh derah koroner yang fungsinya memberi 02 ke
jantung menjadi berkurang. Kurangnya 02 akan menyebabkan otot jantung menjadi
lemah, sakit dada, serangan jantung bahkan kematian. Kadar kolesterol darah dipengaruhi
oleh ke dalam tubuh (diet). Faktor-faktor lainnya yang dapat mempengaruhi kadar
kolesterol darah di samping diet adalah keturunan umur dan jenis kelamin stress, alkohol
dan exercise.

3. Merokok
Pada saat ini merokok telah dimasukkan sebagai salah satu faktor risiko utama
PJK di samping hipetensi dan hiperkoiesterolemi. Orang yang merokok > 20 batang
perhari dapat mempengaruhi atau memperkuat efek dua faktor utama risiko lainnya.
Penelitian Framingham mendapatkan kematian mendadak akibat PJK pada laki-laki
perokok 10x lebih besar daripada bukan perokok dan pada perempuan perokok 41 /2X
lebih besar daripada bukan perokok. Rokok dapat menyebabkan 25% kematian PJK pada
laki-laki dan perempuan umur <45 tahun.
Efek rokok adalah menyebabkan beban miokard bertambah karena rangsangan
oleh katekolamin dan menurunnya konsumsi 02 akibat inhalasi CO atau dengan
perkataan lain dapat menyebabkan tahikardi, vasokonstruksi pembuluh darah, merubah
permeabilitas dinding pembuluh darah dan merubah 5-10% Hb menjadi carboksi-Hb. Di
samping itu rokok dapat menurunkan kadar HDL kolesterol tetapi mekanismenya belum
jelas. Makin banyak jumlah rokok yang diisap, kadar HDL kolesterol makin menurun.
Perempuan yang merokok penurunan kadar HDL kolesterolnya lebih besar dibandingkan
laki-laki perokok. Merokok juga dapat meningkatkan tipe IV hiperlipidemi dan
hipertrigliserid, pembentukan platelet yang abnormal pada diabetes disertai obesitas dan
hipertensi ; sehingga orang yang perokok cenderung lebih mudah terjadi proses
aterosklerosis daripada yg bukan perokok. (Nelwan, Widjajanto, Andarini, Djati, &
Sumampouw, 2018)
Menurut beberapa penelitian ada hubungan yang signifikan dari rata-rata jumlah
rokok di semua partisipan berdasarkan pada keseimbangan usaha-hadiah terlihat (P =
0,004). Dalam studi Kouvonen et al tidak ditemukan hubungan antara stres kerja dan
merokok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 27,3% pasien kardiovaskular melaporkan
merokok yang ditunjukkan dalam penelitian Mohammadi Zeidi et al. (Gheisari,
Beiranvand, Karimi, & Ghalavandi, 2018)

4. Umur
Telah dibuktikan adanya hubungan antara umur dan kematian akibat PJK.
Sebagian besar kasus kematian terjadi pada laki-laki umur 35-44 tahun dan meningkat
dengan bertambahnya umur. Juga diadapatkan hubungan enters umur dan kadar
kolesterol yaitu kadar kolesterol total akan meningkat dengan bertambahnya umur. Di
Amerika Serikat kadar kolesterol pada laki-laki maupun perempuan mulai meningkat
pada umur 20 tahun. Pada laki-laki kadar kolesteroi akan meningkat sampai umur 50
tahun dan akhirnya akan turun sedikit setelah umur 50 tahun. Kadar kolesterol
perempuan sebelum menopause (45-60tahun) lebih rendah daripada laki-laki dengan
umur yang sama. Setelah menopause kadar kolesterol perempuan biasanya akan
meningkat menjadi lebih tinggi daripada laki - laki.

Angka Morbiditas atau Mortalitas penyakit jantung koroner meningkat menurut


faktor umur, simtomatologi klinis dapat terlihat secara dini pada tingkat dua dekade usia
namun kasus penyakit jantung koroner meningkat secara lambat laun pada usia 30 sampai
50 tahun. Kira-kira 55% korban serangan jantung berusia 65 tahun atau lebih dan mereka
yang meninggal adalah empat dari lima orang berusia 65 tahun ke atas, walaupun terjadi
perbaikan diit dan pengurangan faktorfaktor resiko lain dapat merubah kecenderungan
pada para orang tua dimasa mendatang, kebanyakan orang yang berada dalam resiko
pada masa kini merupakan refleksi dari pemeliharaan kesehatan yang buruk pada masa
lalu (Long, 2000). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang pernah di lakukan
oleh Supriyono, (2008) yang berjudul “Faktor-faktor resiko penyakit jantung koroner
pada kelompok usia ≤45 tahun di RSUP Dr. Kariadi Semarang dan RS Telogorejo
Semarang. Setelah dilakukan uji Statistik menggunakan Chi-Square didapatkan nilai p-
value=0,002, ada hubungan antara umur dengan penyakit jantung koroner di RSUP Dr
Kariadi Semarang Tahun 2012.

Berdasarkan hasil penelitian, teori yang ada dan penelitian terkait maka, peneliti
berpendapat bahwa dari beberapa faktor penyebab penyakit jantung koroner salah
satunya umur, karena umur tua >45 tahun berpeluang 32 kali untuk menderita penyakit
jantung, terutama pada umur tua dikarenakan adanya perubahan perilaku, dan adanya
pengendapan akibat jaringan lemak yang menebal yang menyebabkan terjadinya
kekakuan otot, karena umur adalah suatu yang tidak bisa di ubah. Maka anda bisa
menyikapi faktor ini dengan cara memperbaiki pola hidup anda yang kurang baik.
(Marleni & Alhabib, 2017)

5. Jenis kelamin
Di Amerika Serikat gejala PJK sebelum umur 60 tahun didapatkan pada 1 dari 5
laki laki dan 1 dari 17 perempuan. Ini berarti bahwa laki-laki mempunyai risiko PJK 2-3x
lebih besar daripada perempuan. Pada beberapa perempuan pemakaian oral kontrasepsi
dan selama kehamilan akan meningkatkan kadar kolesterol. Pada wanita hamil kadar
kolesterolnya akan kembali normal 20 minggu setelah melahirkan. Angka kematian pada
laki-laki didapatkan lebih tinggi daripada perempuan dimana ketinggalan waktu 10 tahun
kebelakang akan tetapi setelah menopause hampir tidak didapatkan perbedaan dengan
laki-laki.

6. Geografis dan Demografis


Risiko PJK pada orang Jepang masih tetap merupakan salah satu yang paling
rendah di dunia. Akan tetapi ternyata didapatkan risiko PJK yang meningkat pada orang
jepang yang melakukan imigrasi ke Hawai dan California. Ini menunjukkan faktor
lingkungan lebih besar pengaruhnya daripada faktor genetik.

Dibandingkan dengan kaum urban, populasi dari daerah pedesaan pada umumnya
lebih tua, memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah, banyak perokok, konsumen diet
yang tidak sehat, obesitas, proporsi yang lebih tinggi dari mereka yang menderita
hipertensi dan diabetes, dan lebih cenderung mengalami depresi. Sebaliknya, jumlah
aktivitas fisik yang dilaporkan rata-rata lebih tinggi, memiliki persentase mantan perokok
yang lebih rendah dan lebih kecil kemungkinannya stres dibandingkan dengan rekan-
rekan mereka di perkotaan. (N. H. Ismail, Rosli, Mahat, Yusof, & Ph, 2016)

7. Ras/Etnis
Perbedaan risiko PJK antara ras didapatkan sangat menyolok, walaupun
bercampur baur dengan faktor geografis, soaial dan ekonomi. Di Amerika perbedaan
antara ras Caucasia dengan non Caucasia (tidak termasuk. Negro) didapatkan, risiko PJK
pada non Caucasia kira-kira separuhnya.

8. Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik berpengaruh terhadap kejadian jantung koroner juga dikemukakan
dalam riset yang dilakukan oleh Syafrul (2017), bahwa ada hubungan yang signifikan
antara aktivitas fisik dengan kejadian PJK dengan hasil uji chi-square menunjukan nilai
p= 0,000 < 0,05. Didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ahda (2015), proporsi
aktivitas fisik yang kurang pada responden penderita PJK pada etnis minangkabau lebih
tinggi di banding dengan responden yang rajin beraktivitas fisik , yaitu sebesar 56% dan
44%. Fajar (2015) dalam hasil penelitian berdasarkan analisis data Riset Kesehatan
Dasar Tahun 2013 yang menyebutkan bahwa aktivitas fisik secara substansial dapat
menurunkan resiko PJK karena dengan beraktivitas fisik secara rutin dapat membantu
mengendalikan resiko PJK yang disebabkan oleh faktor resiko PJK lainnya seperti :
hipertensi, tingginya kadar gula darah, kolestrol serta obesitas. (Antara et al., 2018)

9. Obesitas
Obesitas adalah kelebihan jumlah lemak tubuh >19% pada laki-laki dan > 21%
pada perempuan. Obesitas sering didapatkan bersama-sama dengan hipertensi, DM dan
hipertrigliserdemi. Obesitas juga dapat meningkatkan kadar kolesterol total dan LDL
kolesterol. Risiko PJK akan jelas meningkat bila BB mulai melebihi 20% dari BB ideal.
Penderita yang gemuk dengan kadar kolesterol yang tinggi dapat menurunkan kadar
kolesterolnya dengan mengurangi BB melalui diet ataupun menambah exercise
10. Diabetes
Intoleransi terhadap glukosa sejak dulu telah diketahui sebagai predisposisi
penyakit pembuluh darah. Penelitian menunjukkan laki-laki yang menderita DM risiko
PJK 50% lebih tinggi daripada orang normal, sedangkan pada perempuan risikonya
menjadi 2x lipat. Mekanismenya belum jelas, akan tetapi terjadi peningkatan tipe IV
hiperlipidemi dan hipertrigliserid, pembentukan platelet yang abnormal dan DM yang
disertai obesitas dan hipertensi. Mungkin juga banyak faktor-faktor lain yang
mempengaruhinya.

11. Stress
Penelitian Supargo dkk (1981-1985) di FK UI menunjukkan orang yang stress 11
/2x lebih besar mendapatkan risiko PJK. Stress di samping dapat menaikkan tekanan
darah juga dapat meningkatkan kadar kolesterol darah.

12. Pengetahuan
Berbeda dengan penelitian yang dilakukan di Manipur oleh Shah et al yang
menunjukkan 18,16% dari populasi penelitian menjadi hipertensi, 16,3% menjadi
penderita diabetes dan co-prevalensi 13,8% .2 Dalam penelitian ini co prevalensi adalah
16,4%. 42% menderita diabetes dan 24% hipertensi yang lebih tinggi. Sebuah penelitian
di Mangalore perkotaan di mana 72% telah melakukan aktivitas fisik ringan di mana di
sini 40,9% yang buruk untuk penyakit jantung koroner.3 42,4% dari populasi adalah
HTN dan 100% dari mereka dalam pengobatan. Ini mirip dengan penelitian yang
dilakukan di pesisir Karnataka oleh Chythra et al yang menunjukkan 20,2% kasus yang
baru didiagnosis dan laki-laki dalam proporsi yang lebih tinggi.4 81,25% dari populasi
memiliki pengetahuan yang baik tentang penyakit jantung koroner dibandingkan dengan
penelitian yang dilakukan di Nepal di mana pengetahuannya buruk.5 62,89% orang
percaya bahwa hipertensi adalah faktor risiko yang paling umum. Menargetkan
tembakau, diet, dan aktivitas fisik mungkin memiliki implikasi besar bagi penduduk
India.6 Minyak goreng tidak boleh digunakan kembali dan alasan paling umum yang
diberikan adalah bahwa ia menyebabkan penyakit jantung. Xin et al menunjukkan
minyak kelapa sawit yang dipanaskan menyebabkan kenaikan BP dan perubahan jantung
pada otot jantung pada tikus percobaan.7 77,34% dari populasi memiliki fasilitas medis
terdekat (<1 Km) untuk diperiksa untuk penyakit jantung. Ini sangat dihargai jika
dibandingkan ke negara-negara Afrika di mana model geo processing dilakukan dan
sekitar 10% dari populasi tinggal lebih dari 25 km dari fasilitas kesehatan yang terdaftar.
(George, Badiger, Kiran, Kumar, & George, 2017)
KERANGKA TEORI

Ras/ Jenis
Kelamin
Etnis

Geografis
Umur dan
Demografi

Stress

Obesitas Hiperkolestromi Aktivitas Fisik


Penyakit Jantung
Koroner (PJK) Pengetahuan
Dewasa Muda

Hipertensi
Merokok

Diabetes
KESIMPULAN

Penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyakit yng menyerang organ jantung. Gejala
dan keluhan dari PJK hampir sama dengan gejala yang dimiliki oleh penyakit jantung secara
umum. Penyakit jantung koroner juga salah satu penyakit yang tidak menular. Kejadian PJK
terjadi karena adanya faktor resiko yang antara lain adalah tekanan darah tinggi (hipertensi),
tingginya kolesterol, gaya hidup yang kurang aktivitas fisik (olahraga), diabetes, riwayat PJK
pada keluarga, merokok, konsumsi alkohol dan faktor sosial ekonomi lainnya. Penyakit jantung
koroner ini dapat dicegah dengan melakukan pola hidup sehat dan menghindari fakto-faktor
resiko.seperti pola makan yang sehat, menurunkan kolesterol, melakukan aktivitas fisik dan
olehraga secara teratur, menghindari stress kerja.

Determinan umum untuk PJK meliputi 12 faktor risiko yaitu

1. Pengetahuan
2. Stress
3. Diabetes
4. Obesitas
5. Aktivitas Fisik
6. Ras/Etnis
7. Geografis dan Demografi
8. Jenis Kelamin
9. Umur
10. Merokok
11. Hipertensi, dan
12. Hiperkolesterom
DAFTAR PUSTAKA

Antara, H., Fisik, A., Riwayat, D. A. N., Dengan, K., Umum, S., Prof, P., … Ratulangi, S.
(2018). Hubungan Antara Aktivitas Fisik Dan Riwayat Keluarga Dengan Kejadian
Penyakit Jantung Koroner Di Badan Layanan Umum Rumah Sakit Umum Pusat Prof. Dr.
R. D. Kandou Manado HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS FISIK DAN RIWAYAT
KELUARGA DENGAN KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG . 7.

George, G. M., Badiger, S., Kiran, K. G., Kumar, N., & George, G. M. (2017). Awareness of
coronary heart disease in rural areas of Mangalore. 4(6), 1888–1891.

Gheisari, Z., Beiranvand, R., Karimi, A., & Ghalavandi, S. (2018). Relationship between
Occupational Stress and Cardiovascular Risk Factors Determination : A Case- control
Study. 6(3), 287–293. https://doi.org/10.24896/jrmds.20186344

Gupta, N., Batta, M., Arora, K., & Gupta, N. (2015). Cardiovascular Disease Risk Factors
Assessment in Urban Versus Rural Women of Same Ethnicity * Correspondence Info :
6(05), 334–337. https://doi.org/10.7439/ijbr

Ismail, I. M., Kulkarni, A. G., Meundi, A. D., & Amruth, M. (2016). Original Article A
community-based comparative study of prevalence and risk factors of hypertension among
urban and rural populations in a coastal town of South India. 41–47.
https://doi.org/10.4103/2148-7731.182001

Ismail, N. H., Rosli, N. M., Mahat, D., Yusof, K. H., & Ph, M. (2016). Cardiovascular risk
assessment between urban and rural population in Malaysia. 71(6), 331–337.

Marleni, L., & Alhabib, A. (2017). Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner di RSI SITI
Khadijah Palembang. 8(3), 478–483.

Nelwan, J. E., Widjajanto, E., Andarini, S., Djati, S., & Sumampouw, O. J. (2018). The Role of
Mapalus Culture by Minahasa Ethnic in North Sulawesi to the Coronary Heart Disease
Incidents. 8(3), 45–52. https://doi.org/10.29322/IJSRP.8.3.2018.p7508

Post, W. S., Kronmal, R. A., Bild, D. E., Shea, S., Liu, K., Watson, K. E., … Moebus, S. (2015).
10-Year Coronary Heart Disease Risk Prediction Using Coronary Artery Calcium and
Traditional Risk Factors. 66(15), 1643–1653. https://doi.org/10.1016/j.jacc.2015.08.035

Pratiwi, S. H., Sari, E. A., & Mirwanti, R. (2018). Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner Pada
Masyarakat Pangandaran. 06(02).

Yahya. 2010. Mencegah dan Mengatasi Penyakit Jantung Koroner Secara Tepat dan Cepat.
Jakarta: Salemba Medika

Apriliyani, Eli. 2015. System Penentuan Tingkat Resiko Penyakit Jantung Koroner Dan
Kardiovaskuler Menggunakan Metode Frsmingham Score. Skripsi Tidak Diterbitkan.
Yogyakarta: Program Study Teknik Informatika Fakultas Dan Teknologi Universitas
Negeri Suna Kalijaga Yogyakarta