Anda di halaman 1dari 17

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................... 2

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................. 3

A. LATAR BELAKANG ........................................................................................................... 3

1. Dinamika Masyarakat Perkotaan ......................................................................................... 3

a) Faktor Pendorong Dinamika Masyarakat Kota ................................................................ 5

b) Faktor Penghambat Dinamika Masyarakat Kota ............................................................. 6

c) Dampak Positif Dinamika Masyarakat Kota .................................................................... 6

d) Dampak Negatif Dinamika Masyarakat Kota .................................................................. 6

2. Potensi Permasalahan Kesehatan ......................................................................................... 7

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................................... 9

A. Karateristik Sosial ................................................................................................................ 9

B. Potensi Masalah Kesehatan Yang berhubungan Dengan Masyarakat Perkotaan .............. 10

C. Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat Perkotaan ................................................. 14

BAB III PENUTUP ..................................................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 17

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas penyertaan-Nya,

sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini berisi tentang “Dinamika Masyarakat

Perkotaan Dan Potensi Permasalahan Kesehatan”. Makalah ini saya harapkan dapat

memberikan ilmu atau pengetahuan tentang dinamika masyarakat yang ada di daerah perkotaaan

dan juga potensi permasalahan kesehatan di daerah perkotaan, juga saya harapkan dapat

memberi manfaat bagi pembaca, rekan mahasiswa, serta Dosen. Saya menyadari bahwa

penulisan makalah ini masih memiliki banyak kekurangan terutama dari segi penulisan dan kaka-

kata. Maka dari itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk

penyempurnaan makalah ini. Terima Kasih

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

1. Dinamika Masyarakat Perkotaan

Masyarakat kota bisa juga dikatakan sekumpulan orang yang hidup di suatu

tempat yang sudah modern atau lebih maju dan mudah untuk mendapatkan suatu hal

yang dicita-citakan dikarenakan faktor teknologi yang sudah canggih dalam

penggunaanya atau karena pemikiran di kota sudah lebih maju. Masyarakat kota biasa

menganggap dirinya lebih maju dari yang lain, mereka biasa menginginkan persaingan

agar menunjukan siapa yang lebih hebat di antara mereka. Hal ini mengakibatkan

masyarakat kota ini lebih cenderung individualis, dengan tingkat pemikirannya yang

tinggi, pergaulan dan pekerjaan yang lebih bervariatif.

Umumnya karakteristik masyarakat perkotaan dilihat berdasarkan pakaian,

makanan, dan rumah yang ditempatinya. Namun, masyarakat perkotaan juga dapat dilihat

berdasarkan kebutuhan hidupnya. Biasanya mereka membutuhkan barang-barang yang

mewah karena sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Tidak hanya barang, untuk

makanan pun mereka memiliki selera yang tinggi.

Lebih jauh lagi, masyarakat perkotaan tidak perduli dengan agama, atau bisa di

bilang uang atau pekerjaan adalah nomor satu, sedangkan Tuhan adalah nomor dua.

Beribadah hanya sebuah formalitas, lepas dari itu mereka lebih serius berkecimpung

dalam hal-hal duniawi, seperti ekonomi atau perdagangan. Yang kedua yaitu perubahan

sosial di antara masyarakat kota bisa dengan jelas terlihat. Mereka gampang terpengaruh

oleh dunia luar yang mengakibatkan pertikaian antara golongan tua dan muda, di mana
3
golongan muda yang lebih sering mengikuti pola-pola baru dalam kehidupannya,

sedangkan golongan tua tidak mampu menyesuaikannya.Yang ketiga adalah masyarakat

kota merasa bahwa mereka sudah hebat tanpa orang lain, sehingga mereka tidak

membutuhkan orang lain, dan mereka bisa mengerjakan semua hal sendiri. Mereka

menganggap orang yang membantu kita hanya menyusahkan kita saja. Yang keempat

adalah biasanya orang-orang kota ini lebih suka bergaul dengan golongan sesamanya.

Misalnya seorang direktur lebih suka bergaul dengan direktur-direktur lain dikarenakan

lebih nyambung dalam obrolannya. Begitupula dengan seorang mahasiswa, mereka pasti

lebih nyaman untuk ngobrol dengan teman sesamanya yang mahasiswa. Yang kelima

adalah pekerjaan di kota apalagi di kantor sangat sulit didapat oleh mereka yang

kemampuannya minim, mereka membutuhkan orang-orang yang mempunyai

kemampuan expert. Tapi biasanya mereka mengambil orang-orang ini dan membayarnya

dengan gaji yang minim, karena mereka menginginkan untung besar dengan modal yang

minim. Biasanya mereka mengambil pegawai yang merupakan lulusan dari universitas-

universitas yang tidak bergengsi. Keenam, jalan pikiran rasional yang dianut masyarakat

perkotaan menyebabkan bahwa interaksi-interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada

faktor kepentingan daripada faktor pribadi. Tidak sedikit masyarakat yang berasumsi

bahwa dengan tinggal di kota tingkat perekonomian seseorang pasti meningkat, memiliki

karir yang sukses, rumah yang besar, menggunakan barang-barang branded dan

sebagainya. Padahal, hal itu tidak sepenuhnya benar, buktinya di sekeliling kita masih

banyak tukang sapu jalan, tukang becak, pemulung dan pengemis. Selain itu, di wilayah

perkotaan juga “ditumbuhi” rumah-rumah kumuh.

4
Dinamika masyarakat berasal dari kata dinamika dan masyarakat. Dinamika berati

interaksi atau interdependensi antara masyarakat satu dengan yang lain, sedangkan

masyarakat adalah kumpulan individu yang saling berinteraksi dan bersosialisasi serta

mempunyai tujuan bersama. Maka Dinamika Masyarakat merupakan suatu kehidupan

masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih individu dalam suatu wilayah yang memiliki

hubungan psikologis secara jelas antara masyarakat yang satu dengan yang lain dan

berlangsung dalam situasi yang dialami.

Dinamika masyarakat menunjukkan perubahan-perubahan yang terjadi dalam

masyarakat dan berdampak pada kondisi sosial, ekonomi, lingkungan, budaya, politik,

kesehatan maupun pertahanan dan keamanan. Dinamika masyarakat yang diiringi dengan

pertumbuhan penduduk yang cepat di daerah perkotaan menjadi salah satu pendorong

bagi pemerintah maupun para perencana kota untuk mengubah sedemikian rupa praktek

perencanaan pembangunan kota. Bagi pemerintah yang semula berperan sebagai

regulator, kini telah berkembang menjadi fasilitator.

a) Faktor Pendorong Dinamika Masyarakat Kota

1) Perubahan situasi sosial, seperti pemekaran sebuah wilayah, masuknya

industrialisasi kepedesaan, dan adanya penemuan-penemuan baru.

2) Perubahan situasi ekonomi, masyarakat perkotaan memiliki tingkat

perkembangan ekonomi yang lebih tinggi dibanding masyarakat pedesaan.

3) Perubahan situasi Politik, pergantian elite politik menyebabkan perkembangan

kelompok-kelompok sosial masyarakat.

5
4) Perubahan situasi kesehatan, masyarakat perkotaan memiliki tingkat pengetahuan

yang lebih baik untuk mengetahui isu-isu terbaru terkait kesehatan yang semakin

jaman semakin berubah dengan pola-pola terbaru.

b) Faktor Penghambat Dinamika Masyarakat Kota

1) Adanya konflik antar anggota kelompok, menyebabkan keretakan dan berubahnya

pola hubungan sosial.

2) Adanya perbedaan kepentingan, kelangsungan kelompok akan terancam, karena

anggota yang tidak sepaham akan berusaha memisahkan diri.

3) Adanya perbedaan paham, perbedaan pahamakan mempengaruhi kelompok sosial

secara keseluruhan.

c) Dampak Positif Dinamika Masyarakat Kota

1) Tingkat pendidikan lebih merata.

2) Komunikasi dan informasi lebih cepat dan mudah.

3) Pembagian kerja yang berdasarkan kemampuan yang meningkatkan efektifitas.

4) Pembangunan dalam berbagai bidang lebih terjamin.

d) Dampak Negatif Dinamika Masyarakat Kota

1) Munculnya sikap individualistis.

2) Memudarnya nilai kebersamaan.

3) Munculnya sikap kurang mempercayai pihak lain.

4) Memudarnya perhatian terhadap budaya lokal dan budaya nasional, terutama para

generasi mudanya.

6
2. Potensi Permasalahan Kesehatan

Setiap tahun, jumlah masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan terus

meningkat. Namun, perkembangan jumlah penduduk di kota tidak sebanding dengan

meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan yang ada. Adapun masalah-masalah

kesehatan yang sering dialami oleh masyarakat perkotaan adalah sebagai berikut :

a) Fenomena urbanisasi atau perpindahan masyarakat dari daerah pedesaan ke kota

yang menyebabkan meledaknya populasi penduduk dan tentunya berdampak pula

pada kesehatan. Polusi yang memperburuk kualitas udara di daerah perkotaan.

Menurut data BadanPusat Statistik pada 2004, di Indonesia jumlah kendaraan

bermotor setiap tahunnya bertambah 12%. Peningkatan itu tentunya disertai

dengan bertambahnya zat-zat pencemar berbahaya yang tiap hari terpaksa dihirup

oleh warga, seperti karbon monoksida (CO), hidrokarbon (HC), dan nitrogen

oksida (NO).

b) Masalah ketersediaan air minum dan sarana sanitasi. Lebih dari 100 juta rakyat di

Tanah Air misalnya masih kesulitan akses air minum yang aman. Sementara,

lebih dari 70% dari 220 juta penduduk Indonesia masih tergantung pada sumber

air yang terkontaminasi berbagai jenis penyakit baik itu menular maupun tidak

menular.

c) Perubahan gaya hidup. Seperti kurang olahraga, makan makanan tidak bergizi,

dan merokok telah menjadikan penyakit degeneratif semakin banyak menyasar

masyarakat perkotaan. Ironisnya, penyebaran penyakit menular klasik seperti

tuberkulosis (TB), diare, dan demam berdarah masih belum bisa dituntaskan

7
penyebarannya.Sebelum kita membahas lebih jauh lagi apa-apa saja masalah

kesehatan yang sering dihadapi masyarakat perkotaan.

d) Fasilitas kesehatan yang ada di daerah perkotaan tidak jauh beda dengan yang ada

di daerah perkotaan. Puskesmas, klinik, apotek, semuanya tersedia baik dikota

maupun di desa. Hanya saja, yang membedakan adalah kualitas dan kuantitas.

Di daerah perkotaan, tentu saja fasilitas yang dimiliki jauh lebih lengkap jika

dibandingkan dengan pedesaan. Lalu dari segi pengunjung atau pasien pastilah

lebih banyak daripada di desa. Dari semua kelebihan dari fasilitas kesehatan di

kota, tentunya tidak ada alasan bagi siapapun untuk tidak mempergunakannya

sebaik mungkin. Namun, dewasa ini orang-orang enggan untuk memeriksakan

diri mereka ke fasilitas kesehatan terdekat dikarenakan berbagai alasan.

Antara lain jarak yang terlalu jauh dri tempat tinggal, fasilitas yang kurang

lengkap, pelayanan kurang memuaskan dan masih banyak lagi alasan lainnya.

Kalau sudah begini,tugas kader-kader kesehatan-lah yang bisa mendorong dan

menyadarkan masyarakat akan pentingnya memeriksakan kesehatan sejak dini

8
BAB II

PEMBAHASAN

A. Karateristik Sosial

Dinamika kehidupan masyarakat perkotaan dengan segala fasilitas dan

permasalahannya menjadi dua sisi koin yang saling bertentangan jika bersinggungan

dengan permasalahan kesehatan. Dimensi sosial masyarakat perkotaan berkontribusi pada

masalah kesehatan masyarakat yang erat kaitannya dengan karakteristik sosial

masyarakatnya

Dikutip dari Sociology Disscussion dalam artikel Urban Community: Important

Features of Urban Community ada beberapa karakteristik soial yang menonjol pada

masyarakat perkotaan.

1. Namelessness/ anonimitas : karena besarnya ukuran populasi, maka masyarakat

perkotaan tidak dapat dikategorikan menjadi satu kelompok homogen. Mereka

sesekali berbicara satu sama lain tanpa mengetahui nama masing-masing, tidak

mengenal tetangganya, dan hubungan antar-manusia yang terjadi lebih bersifat

mekanis

2. Homelessness: perumahan adalah masalah besar bagi masyarakat perkotaan.

Masyarakat kelas bawah tidur di jalan-jalan, masyarakat kelas menengah menghuni

rumah berkamar satu atau dua. Anak-anak tidak punya tempat yang memadai untuk

bermain.

3. Class extremes: terdapat kombinasi antara penduduk yang sangat kaya dan sangat

miskin di kota, antara mereka yang hidup di jalanan dengan yang tinggal di

9
perumahan mewah. Ada anggota masyarakat yang sangat patuh pada norma, dan ada

yang sangat sering melanggarnya. Ada yang sangat kreatif dan di sisi lain ada tidak

memiliki kemauan untuk bekerja.

4. Heterogenitas Sosial (Social heterogeneity) : kota adalah wadah bercampurnya

berbagai macam ras, jenis kepribadian, dan budaya; serta merupakan tempat

persemaian bagi percampuran biologi dan budaya.

5. Social distance: ini merupakan hasil dari namelessness dan heterogeneity. Penduduk

kota biasanya merasa kesepian di tengah keramaian. Kontak sosial yang terjadi lebih

bersifat rutin, impersonal, dan terkotak-kotak. Kesopanan formal lebih menonjol

daripada persahabatan yang tulus.

6. Energy and speed: ini adalah ciri terpenting masyarakat perkotaan. Orang-orang yang

berambisi akan bekerja dengan kecepatan yang sangat tinggi siang dan malam, dan

ini merangsang orang lain di sekitarnya untuk juga melakukan hal yang sama. Mereka

tenggelam dalam begitu banyak kegiatan yang ritmenya sangat cepat.

B. Potensi Masalah Kesehatan Yang berhubungan Dengan Masyarakat Perkotaan

Dengan mengamati karakteristik sosial masyarakat perkotaan, akan timbul berbagai

macam potensi masalah kesehatan yang khas untuk kelompok populasi ini dan akan

timbul pula kebutuhan yang khas.

Berikut potensi masalah kesehatan yang berhubungan dengan karakteristik

masyarakat perkotaan

1. Nameless/ Anonimitas,Tingginya tingkat kesibukan masyarakat perkotaan serta

rendahnya kualitas komunikasi dan relasi antar manusia menyebabkan pada

10
umumnya warga masyarakat tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh orang-

orang di lingkungan sekitarnya. Kontrol sosial terhadap hubungan seks bebas,

penyalahgunaan NAPZA, dan sebagainya sangat rendah. Potensi masalah yang

dapat timbul dari kondisi ini adalah penyebaran berbagai penyakit menular

seksual, gangguan fisik dan mental akibat penyalahgunaan NAPZA, dan kasus-

kasus lain yang dapat menjadi kronis karena luput dari perhatian masyarakat

sekitar.

2. Tingginya tingkat stress karena Class Extremes & Heterogenitas Sosial,Persaingan

yang terjadi dalam hal mencari penghidupan, meraih target pekerjaan dan

pendidikan, serta mengejar citra sosial sangat tinggi. Derasnya arus informasi dari

berbagai media juga membentuk persepsi warga kota tentang kehidupan yang

modern. Hal ini menyebabkan banyaknya warga masyarakat kota yang terpicu

untuk bekerja jauh di luar batas kemampuan fisik dan mentalnya untuk mengejar

masalah ini. Penyesuaian diri terhadap berbagai perubahan yang terjadi secara

cepat dalam hidup masyarakat kota juga memicu mereka untuk mengerahkan

energi psikologisnya secara berlebihan. Potensi masalah kesehatan yang dapat

timbul dari kondisi ini adalah berbagai gangguan mental seperti ansietas dan

depresi, serta kekambuhan penyakit-penyakit yang dipicu oleh stress, misalnya

Diabetes Mellitus, Hipertensi, Asthma Bronchiale, Systemic Lupus Erythematosus,

dan sebagainya.

3. Homelessness dan Migrasi,Pergerakan masyarakat dari desa ke kota menyebabkan

timbulnya lingkungan kumuh pada banyak tempat di kota, karena pada umumnya

perpindahan manusia ini tidak diiringi dengan kemampuan untuk membeli atau

11
menyewa tempat tinggal yang layak. Kurang terpenuhinya tempat pembuangan

sampah dan limbah lain, rendahnya akses terhadap air bersih, dan dan tingginya

kepadatan penduduk meningkatkan kemungkinan penularan penyakit. Ada

golongan yang hanya mampu membeli atau menyewa rumah di tempat-tempat

kumuh dan berisiko tinggi, seperti sekitar tempat pembuangan sampah, di tepi

pasar basah, di bawah jembatan atau di sekitar pabrik. Perbaikan derajat sosial

ekonomi juga tidak selalu mengiringi perpindahan manusia dari desa ke kota,

ditambah lagi dengan latar belakang pendidikan yang beragam, akan

menyebabkan kemampuan untuk mengakses informasi dan layanan kesehatan juga

kurang.Kebanyakan masyarakat kota harus melakukan perjalanan cukup jauh dari

tempat tinggal menuju tempat kerjanya karena berbagai sebab, dan ini

menyebabkan tigginya paparan polutan dalam perjalanan. Potensi masalah

kesehatan yang dapat timbul dari hal ini adalah tingginya angka kejadian penyakit

menular dan berbagai penyakit akibat rokok. Polusi udara air, dan makanan oleh

logam berat juga dapat menyebabkan munculnya berbagai spektrum Autisme pada

anak serta kanker pada semua lapisan masyarakat. Bencana kebakaran juga sangat

mungkin terjadi dan menimbulkan berbagai masalah kesehatan.

4. Social Distance,Karena hubungan antar manusia lebih bersifat “mekanik”, maka

tidak cukup banyak ruang bagi warga masyarakat perkotaan untuk melakukan

transfer emosi dengan baik apabila mereka mengalami stress akibat berbagai hal.

Tidak banyak pula waktu yang tersedia untuk memperhatikan orang lain dengan

sungguh-sungguh, sehingga banyak hal yang mungkin luput dari perhatian. Potensi

masalah kesehatan yang dapat timbul dari kondisi ini adalah tingginya angka

12
kejadian gangguan mental dan penyalahgunaan NAPZA dengan berbagai

akibatnya. Sering pula terjadi keterlambatan penanganan berbagai penyakit karena

ketidaktahuan orang di sekitarnya.

5. Energy & Speed,Kesibukan dan aktivitas tinggi pada masyarakat yang bekerja dan

tinggal di daerah perkotaan menuntut gaya hidup yang serba cepat dan instan.

Keadaan yang seperti ini dimanfaatkan oleh produsen makanan cepat saji,

sehingga restoran-restoran cepat saji tumbuh subur di daerah perkotaan. Makanan

cepat saji seperti hamburger, pizza, kentang goreng, dan sebagainya, umumnya

memiliki kadar kalori yang sangat tinggi, rendah serat, dan miskin kandungan

gizinya. Para ahli gizi dan kesehatan sering mengistilahkan makanan-makanan ini

dengan istilah junk food. Junk food saat ini kian digemari oleh anak-anak.

Keluarga di perkotaan yang memiliki kesibukan tinggi seringkali tidak ragu

memberikan makanan yang dikategorikan sebagai junk food tersebut dengan

mengabaikan dampak negatif jangka panjang terhadap kesehatan anak. Kualitas

dan kuantitas tidur berkurang dan aktivitas perawatan diri menjadi sangat

berkurang, baik yang bersifat menenangkan maupun yang bersifat meningkatkan

penjagaan kebugaran fisik. Perawatan kesehatan spiritualpun sering terabaikan.

Ketegangan dan rasa tidak aman juga menjadi masalah besar pada kelompok

masyarakat ini. Potensi penyakit yang dapat timbul dari pola makan ini antara lain

gangguan kardiovaskuler, diabetes mellitus, kanker, berbagai gangguan mental,

penyalahgunaan NAPZA dan malnutrisi dengan segala akibatnya. Kecelakaan lalu

lintas dengan berbagai kemungkinan cedera juga merupakan potensi masalah

kesehatan yang bermakna. Mobilitas antar kota dan antar negara juga

13
memunculkan potensi penularan penyakit-penyakit yang sebelumnya tidak

terdapat di daerah tertentu.

C. Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat Perkotaan

Kebutuhan yang timbul akibat karakteristik masyarakat perkotaan dengan menilik

pembahasan tentang karakteristik sosial masyarakat perkotaan serta berbagai potensi

massalah kesehatan yang ditimbulkannya, maka akan timbul kebutuhan yang merupakan

keniscayaan bagi meningkatnya derajat kesehatan masyarakat perkotaan. World Health

Organization pada tanggal 31 Maret 2016 merilis suatu artikel berjudul ”Urban Health:

Major Opportunities for Improving Global Health Outcomes, Despite Persistent Health

Inequities”, yang menyatakan bahwa pada dasarnya dibutuhkan tiga hal untuk

meningkatkan kemungkinan masyarakat perkotaan untuk hidup lebih lama, sehat, dan

produktif, yaitu:

1. Pelayanan kesehatan yang kuat

2. Jaminan asuransi kesehatan yang baik

3. Perencanaan lingkungan yang baik, antara lain sebagai berikut :aksesibilitas air dan

sanitasi, memperbanyak moda transportasi yang aman, memungkinkan orang lebih

banyak melakukan gerakan fisik serta terhindar dari polusi, meningkatkan road

safety, membangun fasilitas ramah anak, lansia, dan kaum difabel, melakukan

manajemen kedaruratan, membangun sistem kewaspadaan bencana, membangun

rumah sehat, mendorong gerakan bebas asap rokok, membangun urban food

environment untuk menurunkan malnutrisi/ obesitas.

Dalam hal pelayanan kesehatan, kebutuhan yang berkaitan dengan karakteristik

masyarakat perkotaan pada dasarnya meliputi:

14
1. Pencegahan tingkat awal (primordial prevention) berupa edukasi tentang gaya

hidup sehat, mencegah kebiasaan yang berisiko, memelihara kebiasaan yang baik,

dan sebagainya.

2. Pencegahan primer berupa promosi kesehatan dan perlindungan khusus

3. Pencegahan sekunder berupa diagnosis dini dan pengobatan segera

4. Pencegahan tersier berupa rehabilitas

Kesehatan merupakan suatu aspek yang sangat menentukan dalam membangun

unsur manusia agar memiliki kualitas seperti yang diharapkan, mampu bersaing di era

yang penuh tantangan saat ini maupun masa yang akan datang bagi masyarakat

perkotaan. Cara meningkatkan derajat kesehatan di antaranya dapat dilakukan melalui

upaya- upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Masyarakat perkotaan

perlu berperilaku hidup bersih, sehat dan selalu berupaya mencegah hadirnya

penyakit.

Adapun beberapa cara atau strategi yang dapat di lakukan untuk meningkatkan

derajat kesehatan masyarakat perkotaan yaitu :

1. Mengurangi arus urbanisasi

2. Keterlibatan lintas sektoral mempermudah pencapaian tujuan

3. Peningkatan kesadaran dan perilaku masyarakat merupakan daya ungkit

besar terhadap perbaikan lingkungan hidup.

4. Perlu ada pengembangan hukum untuk mengurangi/melindungi ‘slum

areas’

15
5. Perlu adanya peningkatan upaya pemerintah dalam penyediaan sarana

pemukiman yang layak.

6. Perlu dikembangkan pola pelayanan kesehatan diberbagai tingkat dan

bentuk.

7. Sarana pelayanan kesehatan yang baik (mutu dan efisiensi) pada setiap

tingkat dapat menyebabkan pola rujukan berjalan baik.

8. Terjadinya malnutrisi atau akibat penyakit yang lainpada

masyarkat/penduduk di daerah kumuh.

9. Perbaikan sistim R/R (pencatatan dan pelaporan) dengan melibatkan lintas

sektor dapat menghasilkan data yang lebih valid dan akurat tentang

kesehatan(terutama pada populasi ilegal dan kumuh).

10. Peran lintas sektor besar sekali dalam penataan wilayah pemukiman,

industri, pariwisata, dan Iain-lain, dalam polusi, limbah, pertumbuhan dan

mental anak.

11. Masalah mental dan kesehatan yang berpengaruh pada tumbuh kembang

anak antara lain karena: transisi rural - urban, tunawisma, dan paksaan

kerja yang terlalu dini, keras dan berat.

12. Perlu adanya data yang valid dan akurat tentang kesehatan dan

keselamatan kerja dapat membantu terciptanya pola asuransi yang baik

dan benar, sehingga dapatditerima dan berjalan.

13. Strategi dalam hal pembiayaan : optimisasi alokasi sumber daya.

14. Evaluasi terhadap beberapa program yang telah dilaksanakan di perkotaan.

16
BAB III

PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

Sociology Discussion dalam artikel Urban Community : Important Features Of Urban

Community.

World Health Organization pada tanggal 31 Maret 2016 merilis suatu artikel berjudul ”Urban

Health: Major Opportunities for Improving Global Health Outcomes, Despite Persistent

Health Inequities.

Http://etnosentrisna.blogspot.com/2013/09/dinamika-masyarakat-perkotaan.html.

Https://www.academia.Masalah_Kesehatan_Di_Perkotaan_Dan_Kecenderungannya_

Oleh_Indah_Purwasari_Febry_Yunanda_Vidia_Aprilia_Nadilla.

Https://www.scribd.com/doc/72131332/Meningkatkan-Derajat-Kesehatan-Masyarakat

File:///C:/Users/lenovo/Downloads/155242-ID-prospek-pengembangan-upaya-kesehatan-di.pdf

17