Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

PENGAUDITAN I

“PEMERIKSAAN PIUTANG USAHA


DAN PIUTANG LAINNYA”

Oleh:

KELOMPOK 4

ADI SURONO BCA 117 202


ANDERI EKA SAPUTRA BCA 117 230
ANITA BCA 116 180
BUSTAN KRISTIAN BCA 117 257
CHINDY GRASIA K. BCA 117 212
DAMAYANTI SIBATUARA BCA 117 191
KHAIDIR ALI BCA 117 259
KRISTA TAKBAH SUBEKTI BCA 117 188
KRISTI ANDREINY BCA 117 180
LIBERTRI BCA 117 222
MINDRA BCA 116 110
SUSAN APRIADI BCA 117 227
YOUNGSHE FAULINA BCA 117 192
YUJLYA RINISA BCA 117 239

UNIVERSITAS PALANGKA RAYA


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
JURUSAN AKUNTANSI
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas limpahan karunianya makalah dengan judul “PEMERIKSAAN PIUTANG
USAHA DAN PIUTANG LAINNYA” dapat di selesaikan.
Kami sadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam penulisan
makalah ini, maka dari itu kiranya kami menerima adanya masukan berupa kritik
dan saran yang bersifat membangun.
Atas segala bantuan dan dukungan para pihak kami ucapakan terima kasih,
semoga amal dan budi yang diberikan mendapatkan balasan dari Tuhan Yang
Maha Esa.

Palangka Raya, 05 November 2019


Penulis

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN COVER
KATA PENGANTAR ........................................................................................ i
DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................. 2
1.3 Tujuan Penulisan .................................................................................. 2
1.4 Manfaat Penulisan ................................................................................. 3

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sifat dan Contoh Piutang .................................................................... 4
2.2 Tujuan Pemeriksaan (Audit Objectives ) Piutang ................................ 5
2.3 Prosedur Pemeriksaan Piutang ( Audit Procedures ) Usaha Yang
Disarankan ........................................................................................... 7
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .......................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………..........10

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Piutang merupakan salah satu unsur dari aktiva lancar dalam neraca
perusahaan yang timbul akibat adanya penjualan barang dan jasa atau pemberian
kredit terhadap debitur yang pembayaran pada umumnya diberikan dalam tempo
30 hari (tiga puluh hari) sampai dengan 90 hari (sembilan puluh hari). Dalam
arti luas, piutang merupakan tuntutan terhadap pihak lain yang berupa uang,
barang-barang atau jasa-jasa yang dijual secara kredit. Piutang bagi kegunaan
akuntansi lebih sempit pengertiannya yaitu untuk menunjukkan tuntutan-tuntutan
pada pihak luar perusahaan yang diharapkan akan diselesaikan dengan
penerimaan jumlah uang tunai.

Pada umumnya piutang timbul akibat dari transaksi penjualan barang dan
jasa perusahaan, dimana pembayaran oleh pihak yang bersangkutan baru akan
dilakukan setelah tanggal transaksi jual beli. Mengingat piutang merupakan harta
perusahaan yang sangat likuid maka harus dilakukan prosedur yang wajar dan
cara-cara yang memuaskan dengan para debitur sehingga perlu disusun suatu
prosedur yang baik demi kemajuan perusahaan.
Piutang dapat digolongkan dalam dua kategori yaitu piutang usaha dan
piutang lain-lain”.
Menurut Soemarso piutang usaha adalah atau penyerahan aktiva atau jasa
lain kepada pihak dengan siapa ia berpiutang:“Perusahaan mempunyai hak
klaim terhadap seseorang atau perusahaan lain dengan adanya hak klaim ini
perusahaan dapat menuntut pembayaran dalam bentuk uang”.
Selain itu pengertian piutang yang pada umumnya digolongkan dalam
aktiva lancar yang berarti bahwa tagihan-tagihan pada pihak lain yang nantinya
akan diminta pembayarannya dalam jangka waktu yang tidak lama (kurang dari
satu tahun) yang biasanya digolongkan dalam piutang jangka pendek.
Piutang usaha jangka pendek dapat dibagi atas dua yaitu:
1. Piutang usaha/piutang terhadap langganan
Piutang usaha/piutang terhadap langganan dalam perkiraan piutang usaha
dicatat sebagai tagihan yang timbul dari penjualan barang atau jasa yang
merupakan usaha perusahaan yang normal/kurang dari 1 tahun, disajikan dalam
neraca sebagai aktiva lancar, tetapi apabila telah lebih dari jangka waktu 1 tahun
maka akan dilaporkan sebagai aktiva tidak lancar. Jadi tagihan kepada langganan
yang biasanya disebut piutang dagang adalah tuntutan keuangan terhadap pihak
lain baik perorangan maupun organisasi-organisasi atau debitur-debitur lainnya.
2. Piutang yang akan diterima
Piutang yang akan diterima merupakan kontrak prestasi yang sebenarnya
sudah menjadi hak perusahaan, akan tetapi belum/tidak saatnya untuk diterima,

1
piutang ini timbul pada suatu akhir periode dimana sebenarnya tagihan tersebut
akan diterima pada periode yang akan datang.
Adapun hal-hal yang termasuk dalam piutang yang akan diterima adalah:
1 Bunga yang masih harus diterima yang timbul dari aktiva yang dimiliki
perusahaan, seperti wesel tagih dan bon.
2 Piutang sewa yang masih harus diterima yang timbul dari hasil
penyewaan, seperti gedung, mobil dan alat-alat besar lainnya.
3 Pendapatan piutang merupakan pendapatan yang akan diterima sebagai
hasil investasi dalam perusahaan.
Penggolongan piutang dan umur piutang dapat digolongkan ke dalam 4 jenis,
yaitu:
1 Piutang lancar adalah piutang yang diharapkan tertagihnya dalam 1 tahun
atau siklus usaha normal
2 Piutang tidak lancar adalah tagihan/piutang yang tidak dapat ditagih dalam
jangka waktu 1 tahun
3 Piutang yang dihapuskan adalah suatu tagihan yang tidak dapat ditagih
lagi dikarenakan pelanggan mengalami kerugian/bangkrut (tidak tertagih)
4 Piutang dicadangkan adalah tagihan yang disisihkan sebelumnya untuk
menghindari piutang tidak tertagih.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas maka kami mendiskripsikan rumusan
masalah makalah ini sebagai berikut:
1. Apa Saja Sifat dan Contoh dari Piutang ?
2. Apa Tujuan Pemeriksaan (Audit Objectives ) Piutang ?
3. Bagaimana Prosedur Pemeriksaan Piutang ( Audit Procedures ) Usaha
Yang Disarankan ?

1.3 Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah di atas maka kami mendiskripsikan tujuan
penulisan makalah ini sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui Apa Saja Sifat dan Contoh dari Piutang.
2. Untuk mengetahui Apa Tujuan Pemeriksaan (Audit Objectives ) Piutang.
3. Untuk mengetahui Prosedur Pemeriksaan Piutang ( Audit Procedures )
Usaha Yang Disarankan.

2
1.4 Manfaat Penulisan
Berdasarkan Tujuan Penulisan di atas maka kami mendiskripsikan Manfaat
Penulisan makalah ini sebagai berikut:
1. Menambah wawasan Sifat dan Contoh dari Piutang
2. Mengetahui apa saja Tujuan Pemeriksaan (Audit Objectives ) Piutang
3. Menambah mengetahui Prosedur Pemeriksaan Piutang ( Audit
Procedures ) Usaha Yang Disarankan.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sifat dan Contoh dari Piutang


Standar akuntansi keuangan mengolongkan piutang, menurut sumber
terjadinya, ada dua sifat yaitu piutang usaha dan piutang lain-lain.
Piutang usaha adalah piutang yang berasal dari menjualan barang dagang
an atau jasa secara kredit dalam jangka pendek sehingga bisa ditagih dalam waktu
30 sampai 60 hari.
Piutang lain-lain adalah piutang yang timbul dari transaksi di luar kegiatan
usaha normal perusahaan.
Piutang lain-lain mencakup selain piutang dagang. Contohnya piutang
bunga, piutang gaji, uang muka karyawan, piutang sewa, dan restitusi pajak.
Secara umum bukan berasal dari kegiatan operasional perusahaan.
Contoh dari perkiraan-perkiraan yang biasa digolongkan sebagai piutang
antara lain.
 Piutang usaha
Adalah piutang yang berasal dari menjualan barang dagangan atau jasa
secara kredit dalam jangka pendek sehingga bisa ditagih dalam waktu 30
sampai 60 hari.
 Wesel Tagih
Wesel tagih merupakan wesel yang dapat ditagihkan kepada perusahaan
lain yang memiliki utang kepada perusahaan kita. Dengan kata lain, wesel
tagih ini adalah dokumen piutang yang dikeluarkan oleh pihak perusahaan
lain yang belum bisa membayar pada saat penyerahan barang terjadi.
Dokumen wesel tagih ini dapat menjadi dasar posting piutang pada
perusahaan kita. Karna status perusahaan merupakan pemberi utang.
Berdasarkan pembebanan bunga, wesel tagih dibagi menjadi 2 (dua)
macam yaitu wesel tagih berbunga dan wesel tagih tanpa bunga.
 Piutang pegawai
Piutang pada karyawan biasanya terjadi saat sebuah perusahan
meminjamkan dana atau kredit kepada karyawannya. Hal itu akan
tercatat sebagai piutang dagang atau piutang usaha. Contoh yang paling

4
sering kita lihat adalah pinjaman kasbon dimana, seorang
karyawan meminjam sejumlah uang atau mendapatkan jasa dari
perusahaan tempat mereka bekerja. Pembayarannya sesuai dengan
besaran jumlah uang yang dipinjam, jangka waktu dan besaran
bunga yang dibebankan dalam piutang tersebut.
 Piutang Bunga
Pengertian Piutang Bunga (Accrued Interest Receivable) adalah Bunga
atas uang yang dipinjamkan oleh perusahaan kepada pihak lain dan bunga
tersebut sudah merupakan hak perusahaan, tetapi pembayaran belum
diterima perusahaan.
 Uang Muka
Sedangkan uang muka (down payment) bersal dari bahasa Inggris, “down
payment is a prtial payment made at the time of purchase; the balanced to
be paid later” yaitu sebagian pembayaran yang dilakukan pada awal
pembelian, sementara sisanya akan di bayar kemudian. Berapa lama waktu
pembayaran ditentukan sesuai perjanjian diantara penjual dan pembeli.
 Uang Jaminan
Arti dari uang jaminan adalah uang yang dipakai sebagai jaminan atas
transaksi yang telah disepakati sampai batas waktu yang telah ditentukan
(jika transaksi tidak ditepati sesuai dengan waktu yang ditentukan, uang
tersebut hilang); uang tanggungan.
 Piutang lain- lain
Piutang lain-lain adalah piutang yang timbul dari transaksi di luar kegiatan
usaha normal perusahaan.
 Penyisihan piutang tak tertagih
piutang tak tertagih adalah kerugian piutang bagi perusahaan akibat
sejumlah piutang yang tidak dilunasi oleh pihak debitur.

2.2 Tujuan Pemeriksaan (Audit Objectives ) Piutang


1. Untuk mengetahui apakah terdapat pengendalian intern (internal control)
yang baik atas piutang dan transaksi penjualan, piutang dan penerimaan
kas.

5
Jika auditor dapat meyakinkan dirinya bahwa internal control atas piutang
dan transaksi penjualan, piutang dan penerimaan kas berjalan efektif maka
luasnya pemeriksaan dalam melakukan substantive test dapat dipersempit.
Beberapa ciri internal control yang baik atas piutang dan transaksi
penjualan, piutang dan penerimaan kas adalah :
a) Adanya pemisahan tugas dan tanggung jawab yang melakukan penjualan,
mengirimkan barang, melakukan penagihan, memberikan otorisasi atas
penjualan kredit, membuat faktur penjualan dan melakukan pencatatan.
b) Formulir yang digunakan bernomor urut tercetak (prenumbered)
c) Digunakan price list (daftar harga jual).
d) Diadakannya sub buku besar piutang atau kartu piutang (account
receivable subledger card).
e) Setiap akhir bulan dibuat aging schedule piutang (analisa umur piutang).
f) Setiap akhir bulan jumlah Saldo piutang dari masing-masing pelanggan
dibandingkan (direconcile) dengan saldo piutang menurut buku besar.
g) Setiap akhir bulan dan dikirim monthly statement of account kepada
masing-masing pelanggan.
h) Uang kas, check atau giro yang diterima dari pelanggan harus disetor
dalam jumlah seutuhnya (intact) paling lambat keesokan harinya.
i) Mutasi kredit diperkiraan piutang (buku besar dan sub buku besar) yang
berasal dari retur penjualan dan penghapusan harus diotorisasi oleh
pejabat berwenang.
j) Setiap pinjaman yang diberikan kepada pegawai, direksi, pemegang
saham dan perusahaan afiliasi harus diotorisasi oleh pejabat perusahaan
yang berwenang.
2. Untuk memeriksa apakah transaksi yang menyangkut penjualan, piutang
dan penerimaan kas.

a. Semua sudah di catat secara akurat.


b. Semuanya semua transaksi yang benar-benar terjadi, tidak ada yang fiktif.
c. Semuanya di catat pada periode yang tepat.

3. Untuk memeriksa validity (keabsahan) dan authenticity (keotentikan) dari


pada piutang.

Validity maksudnya apakah piutang itu sah, masih berlaku dalam arti
diakui oleh yang mempunyai utang.
Authenticity maksudnya apakah piutang itu didukung oleh bukti yang
otentik seperti sales order, delivery yang sudah ditandatangi oleh
pelanggan sebagai bukti bahwa pelanggan telah menerima barang yang
dipesan, dan faktur penjualan.
4. Untuk memeriksa collectibility (kemungkinan tertagihnya) piutang dan
cukup tidaknya perkiraan allowance for bad debt (penyisihan piutang tak
tertagih).

6
Collectibility maksudnya kemungkinan tertagihnya piutang. Piutang
disajikan sebesar jumlah yang diperkirakan dapat ditagih. Jumlah yang
diperkirakan tidak bisa ditagih harus dibuatkan penyisihan dalam jumlah
yang cukup.
Auditor harus memeriksa cukup tidaknya allowance for bad debt karena :
 Jika allowance yang dibuat terlalu besar maka akibatnya piutang
disajikan terlalu kecil (understated) dan biaya penyisihan piutang terlalu
besar (overstated), dan laba rugi terlalu kecil (understated).
 Jika allowance yang dibuat terlalu kecil, maka akibatnya piutang yang
disajikan overstated, biaya penyisihan piutang understated dan laba rugi
overstated.
5. Untuk mengetahui apakah ada kewajiban bersyarat (contingent liability)
yang timbul karena pendiskontoan wesel tagih (notes recivable).

6. Untuk mengetahui apakah piutang yang tercantum dalam mata uang asing
sudah dikonversi ka dalam rupiah dengan menggunakan kurs rupiah BI
pada tanggal neraca.

7. Untuk memeriksa apakah penyajian piutang dilaporkan posisi keuangan


(neraca) sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum di
indonesia/Standar Akuntansi Keuangan/SAK ETAP (Presentation and
Disclosures).

Menurut Standar Akuntasi Keuangan :


 Piutang usaha, wesel tagih dan piutang lain-lain harus disajikan secara
terpisah dengan identifikasi yang jelas.
 Piutang dinyatakan sebesar jumlah kotor tagihan dikurangi taksiran
jumlah yang tidak dapat ditagih.
 Saldo kredit piutang individual, jika jumlahnya material harus disajikan
dalam kelompok kewajiban.
 Jumlah Piutang yang dijaminkan harus diungkapkan dalam catatan atas
laporan keuangan.
 Kewajiban bersyarat dalam hubungannya dengan penjualan piutang yang
disertai perjanjian untuk dibeli kembali kepada suatu lembaga keuangan
harus dijelaskan.
2.3 Prosedur Pemeriksaan Piutang ( Audit Procedures ) Usaha Yang
Disarankan

1. Pahami dan evaluasi internal control atas piutang dan transaksi penjualan,
piutang, dan penerimaan kas.
2. Buat Top Schedule dan Supporting Schedule Per tanggal laporan posisi
keuangan (neraca).

7
3. Minta aging schedule dari piutang usaha per tanggal laporan posisis
keuangan (neraca) yang antara lain menunjukan nama pelanggan
(customer), saldo piutang, umur piutang dan kalau bisa subsequent
collectionya.
4. Periksa mathematical accuracy-nya check individual balance ke subledger
lalu totalnya ke general ledger.
5. Test check umur piutang dari brbrapap customer ke sublegder piutang dan
sales invoice.
6. Kirimkan konfirmasi piutang.
7. Periksa subseqent collections dengan memeriksa buku kas dan bukti
pemeriksaan kas untuk periode sesudah tanggal laporan posisi keuangan
(neraca) sampai mendekati tanggal penyelesaian pemeriksaan lapangan
(audit field work). pemeriksaan lapangan (audit field work). Perhatikan
bahwa yang dicatat sebagai subsequent collections hanyalah yang
berhubungan dengan penjualan dari periode yang sedang diperiksa
8. Periksa apakah ada wesel tagih (notes receivable) yang didiskontokan
untuk mengetahui kemungkinan adanya contingent liability.
9. Periksa dasar penentuan allowance for bad debts dan periksa apakah
jumlah yang disediakan oleh klien sudah cukup, dalam arti tidak terlalu
besar dan terlalu kecil.
10. Test sales cut-of dengan jalan memeriksa sales invoice, credit note dan
lain-lain, lebih kurang 2 (dua) minggu sebelum dan sesudah tanggal
neraca. Periksa apakah barang-barang yang dijual melalui invoice sebelum
tanggal neraca, sudah dikirim per tanggal neraca. Kalau belum cari tahu
alasannya. Periksa apakah ada faktur penjualan dari tahun yang diperiksa,
yang dibatalkan dalam periode berikutnya.
11. Periksa notulen rapat, surat-surat perjanjian, jawaban konfirmasi bank,
dan correspondence file untuk mengetahi apakah ada piutang yang
dijadikan sebagai jaminan.
12. Lakukan prosedur analisis terhadap piutang dan penjualan.
13. Periksa apakah penyajian piutang di neraca dilakukan sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia (SAK/ETAP/IFRS).
14. Tarik kesimpulan mengenai kewajaran saldo piutang yang diperiksa.

8
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Piutang usaha adalah piutang yang berasal dari penjualan barang dagangan
atau jasa secara kredit.
Piutang lain-lain adalah piutang yang timbul dari transaksi diluar kegiatan
usaha normal perusahaan. Perkiraan piutang pemegang saham dan piutang
perusahaan afiliasi harus dilaporkan tersendiri (tidak digabung dengan dengan
perkiraan piutang) karena sifatnya yang berbeda. Disamping itu, perusahaan tetap
harus melakukan pemeriksaan terhadap piutang sesuai dengan prosedur
pemeriksaan piutang yang berlaku.
Dimana tujuan dari pemeriksaan piutang adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apakah terdapat pengendalian intern (internal control)
yang baik atas piutang dan transaksi penjualan, piutang dan penerimaan
kas.
2. Untuk memeriksa validity (keabsahan) dan authenticity (keotentikan)
daripada piutang.
3. Untuk memeriksa collectibility (kemungkinan tertagihnya) piutang dan
cukup tidaknya perkiraan allowance for bad debts (penyisihan piutang tak
tertagih).
4. Untuk mengetahui apakah ada kewajiban bersyarat (contingent liability)
yang timbul karena pendiskontoan weseil tagih.
5. Untuk memeriksa apakah penyajian piutang di neraca sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

9
Daftar Pustaka

Agoes Sukrusno. 2017. Auditing. Jakarta Selatan: Salemba Empat


https://dokumen.tips/documents/pemeriksaan-piutang-usaha.html
https://akuntansiz.blogspot.com/2018/01/penyisihan-dan-penghapusan-piutang-
tak.html
https://kbbi.kata.web.id/uang-jaminan/
http://www.paper.id/blog/tips-dan-nasihat-umkm/piutang-lain-lain/
https://www.jurnal.id/id/blog/2017-pengertian-piutang-wesel-dan-kegunaannya/
https://dosenakuntansi.com/contoh-piutang-lain-lain

10