Anda di halaman 1dari 15

“BAHAN BAKU PENGENDALIAN, PERHITUNGAN BIAYA DAN

PERENCANAAN”

MAKALAH

AKUNTANSI BIAYA
MUH RAYS S.E., M.Ak, CMA

Disusun Oleh :

Annisa Nurlatifah 1816220107


Indah Nurlatifah 1816220078
Iwan Marniaman Harefa 1816220043
Joni Setiawan Hulu 1816220051
Nanda Tiya Safitri 1816220072
Selvi Andriyani 1816220060
Siti Anis Arisah 1616220067
Wiwin Andriyani 1816220033

Program Studi :
AKUNTANSI
Semester III

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI


PUTRA PERDANA INDONESIA
Jl. Citraraya Utama Barat No.29 Griya Harsa II I 10
Citra Raya, Cikupa Kab. Tangerang 15710
Telp. 021 5963015, 021 59616609 Fax. 021 59402068
Web: www.stieppi.ac.id email: stieppi@yahoo.com
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kita hanturkan kepada Allah SWT sebab karena limpahan rahmat serta
anugerah dari Nya lah saya mampu untuk menyelesaikan makalah Akuntansi Biaya ini
dengan judul“BAHAN BAKU PENGENDALIAN, PERHITUNGAN BIAYA DAN
PERENCANAAN”.

Shalawat serta salam tidak lupa selalu kita hanturkan kepada junjungan kita, yaitu Nabi
Muhammad SAW yang telah menyampaikan petunjuk Allah SWT untuk kita semua, yang
merupakan petunjuk yang paling benar yakni syariah agama islam yang sempurna dan
merupakan satu – satunya karunia paling besar bagi seluruh alam semesta.

Kami mengucapkan terima kasih yang sebanyak – banyak nya kepada semua pihak yang
telah membantu kami selama proses penyelesaian makalah ini.

Demikian yang dapat kami hanturkan, kami berharap supaya makalah ini dapat memberi
manfaat serta memberi kita pengetahuan kepada setiap pembacanya.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... i


DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................1
1.1 Latar Belakang ...............................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................... 2-11

2.1 SYSTEM PEMBELIAN DAN PENGGUNAAN BAHAN BAKU


MENENTUKAN KOMPONEN BIAYA, PEROLEHAN BAHAN BAKU ...
.................................................................................................................... 2-5

2.2 EOQ, Reorderpoint dan safety stock ........................................................ 5-11

BAB III PENUTUP ........................................................................................... 12

3.1 Kesimpulan .................................................................................................. 12

3.2 Kritik dan Saran ........................................................................................... 12

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Biaya bahan baku merupakan salah satu komponen penting dari biaya produksi. Masalah
yang dihadapi manajemen berkaitan dengan bahan baku yaitu keterlambatan bahan yang
mengganggu proses produksi. Sedangkan bahan baku yang berlebihan akan
mengakibatkan pemborosan pada dana yang tertanam pada persediaan bahan. Karena
dalam penyimpanan bahan baku menimbulkan beban (biaya) penyimpanan. Pada tahap
pengadaan dan penyimpanan bahan baku dari segi akuntansi timbul masalah penentuan
harga pokok bahan baku yang dibeli, sedangkan pada saat pemakaian bahan baku timbul
masalah penentuan harga pokok bahan baku yang dipakai.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 SYSTEM PEMBELIAN DAN PENGGUNAAN BAHAN BAKU,


MENENTUKAN KOMPONEN BIAYA, PEROLEHAN BAHAN BAKU

SISTEM PEMBELIAN

Sistem pembelian lokal bahan baku terdiri dari prosedur permintaan


pembelian, prosedur
order pembelan, prosedur penerimaan barang, prosedur pencatatan penerimaan barang
di gudang, dan prosedur encatatan utang .
• Prosedur Permintaan Pembelian Bahan Baku
Jika persediaan bahan baku yang ada digudang sudah mencapai jumlah tingkat
Minimum pemesanan kembali ( reorder point), Bagian gudang kemudian
membuat surat permintaan pembelian (purchase requisition) yang kemudian
dikirimkan ke bagian pembelian.
• Prosedur Penerimaan Bahan Baku
Pemasok mengirimkan bahan baku kepada perusahaan sesuai dengan surat
order pembelian yang diterimanya. Bagian Penerimaan yang bertugas menerima
barang, mencocokan kualitas, kuantitas, jenis serta spesifikasi bahan baku yang
diterima dari pemasok dengan tembusan surat order pembelian. Apabila bahan baku
yang diterima telah sesuai dengan surat order pembelian, Bagian Penerimaan
membuat laporan penerimaan barang untuk dikirimkan kepada Bagian Akuntansi.
• Prosedur Pencatatan Penerimaan Bahan Baku di Bagian Gudang
Bagian Penerimaan menyerahkan bahan baku yang diterima dari pemasok
kepada Bagian Gudang. Bagian Gudang menyimpan bahan baku tersebut dan
mencatat jumlah bahan baku yang diterima dalam kartu gudang (stock card).
Kartu Gudang di gunakan oleh Bagian Gudang untuk mencatat mutasi tiap-
tiap jenis barang gudang. Kart gudang hanya berisi informasi kuantitas tiap-tiap jenis
barang yang disimpan di gudang dan tidak berisi informasi mengenai harganya.
Catatan kartu guang diawasi bagian akuntansi yang berupa kartu persediaan.

2
• Prosedur Pencatatan Utang Yang Timbul dari Pembelian Bahan Baku
Bagian pembelian menerima faktur pembelian dari pemasok. Bagian
pembeli memberikan tanda tangan diatas faktur pembelian, sebagai tanda
persetujuan bahwa faktur dapat dibayar karena pemasok telah memenuhi
syarat-syarat pembelian yang ditentukan oleh perusahaan. Faktur pembelian
yang telah ditandatangani oleh Bagian Pembelian tersebut diserahkan kepada
Bagian Akuntansi. Dalam transaksi pembelian bahan baku, bagian akuntansi
memeriksa ketelitian perhitungan dalam faktur pembelian dan mencocokannya
dengan informasi dalam tembusan surat order pembelian yang diterima dari
Bagian Pembelian dan laporan penerimaan barang yang diterima dari bagian
penerimaan.
Faktur pembelian beserta surat order pembelian dan laporan
penerimaan barang dicatat oleh bagian akuntansi dlm jurnal pembelian yang
kemudian di catat dalam Kartu Persediaan .

MENENTUKAN KOMPONEN BIAYA

Berdasarkan komponen yang menyusunnya, meliputi unsur-unsur:


(a) bahan baku atau bahan dasar, termasuk bahan setengah jadi;
(b) bahan-bahan pembantu atau bahan penolong;
(c) upah tenaga kerja tidak terdidik dan tenaga kerja terdidik;
(d) penyusutan peralatan produksi;
(e) bunga modal;
(f ) sewa (gedung atau peralatan yang lain);
(g) biaya pemasaran, seperti biaya penelitian dan analisis pasar produk, biaya angkutan
dan pengiriman, dan biaya reklame atau iklan;
(h) pajak perusahaan.

3
PEROLEHAN BAHAN BAKU

Harga yang tercantum pada faktur pemasok dan bahan transportasi adalah biaya
pembelian barang yang paling jelas terlihat. Sementara, biaya yang tidak terlalu jelas
kelihatan merupakan biaya yang bisa disebut biaya akuisisi, yaitu biaya untuk ,
melakukan fungsi pembelian, penerimaan, pembongkaran, pemeriksaan, asuransi,
penyimpanan, dan akuntansi.

Diskon pembelian. Diskon perdagangan dan diskon pembelian dalam jumlah besar
biasanya tidak dicatatat oleh catatan akuntansi mana pun. Melainkan, keduanya
diperlukan sebagai pengurangan harga. adalah, harga yang dibayar ke pemasok dicatat
pada harga sesudah diskon.

Beban Angkut Pembelian ( Freight-In). Beban angkut pembelian jelas merupakan


biaya bahan baku, tetapi dapat muncul beberapa kesulitan praktis dalam akuntansi
untuk biaya ini.

Biaya akuisisi dibebankan, bila biaya bahan baku akan memasukan biaya akuisisi,
jadi suatu tarif pembebanan tertentu dapat dikenakan ke setiap faktur dan juga setiap
item. Daripada membedakan biaya ini ke overhead pabrik.

Perhitungan biaya persediaan untuk pajak penghasilan. Dijelaskan Tax Reform Act
tahun 1986 memasukan persyaratan perhitungan biaya persediaan yang baru. Aturan
kapitalisasi yang seragam mengharuskan dikapitalisasinya beberapa biaya tertentu
kedalam nilai persediaan. Padahal tadinya, biaya-biaya tersebut dapat dibedakan.
Banyak kategori biaya, seperti tenaga kerja yang melakukan pengerjaan kembali,
bahan baku sisa dan barang rusak, pembelian bahan baku, pergudangan, administrasi
pabrik, gaji karyawan kantor yang berhubungan dengan jasa prosuksi, serta kelebihan
biaya

4
penyusutan diluar nilai yang dihitung untuk pelaporan keuangan, sekarang harus
dikapitalisasi kedalam nilai persediaan untuk tujuan tersebut.

2.2 EOQ, RE-ORDERPOINT DAN SAFETY STOCK


EOQ

Pengertian EOQ (Economic Order Quantity) menurut Bambang


Riyanto(2001:78) adalah jumlah kuantitas barang yang dapat diperoleh dengan biaya
yang minimal atau sering dikatakan sebagai jumlah pembelian yang optimal..
Sedangkan menurut Heizer dan Render (2005:68) adalah salah satu tekhnik
pengendalian perseiaan yang paling tua dan terkenal secara luas, metode pengendalian
persediaan ini menjawab 2 (dua) pertanyaan penting, kapan harus memesan dan
berapa banyak harus memesan.

Economic Order Point (EOQ) juga dapat dirumuskan menurut Lukas Setia
Atmaja (2002:407)adalah hanya dapat dibenerkan apabila asumsi-asumsi berikut
dapat dipenuhi menurut Petty, William, Scott dan David (2005:278) adalah

1. Permintaan konstan dan seragam meskipun model EOQ (Economic


Order Quantity) mengasumsikan permintaan konstan, permintaan
sesungguhnya mungkin bervariasi dari hari ke hari.
2. Harga perunit konstan memasukan variabel harga yang timbul dari
diskon kuantitas dapat ditangani dengan agak mudah dengan cara
memodifikasi model awal, mendefinisikan kembali biaya total dan
menentukan kuantitas pesanan yang optimal.
3. Biaya pemesanan konstan, biaya penyimpanan perunit mungkin
bervariasi sangat besar ketika besarnya persediaan meningkat.
4. Biaya pemesanan konstan, meskipun asumsi ini umumnya valid,
pelanggan asumsi dapat diakomodir dengan memodifikasi model EOQ
(Economic Order Quantity) awal dengan cara yang sama dengan yang
digunakan untuk harga perunit variabel.

5. Pengiriman seketika, jika pengiriman tidak terjadi seketika yang


merupakan kasus umum, maka model EOQ (Economic Order
Quantity) awal harus dimodifikasi dengan cara memesan stock
pengaman.
6. Pesanan yang independen, jika multi pesanan menghasilkan
penghematan biaya dengan mengurangi biaya administraasi dan
transportasi maka model EOQ (Economic Order Quantity) awal harus
dimodifikasi kembali.

5
Asumsi-asumsi ini menggambarkan keterbatasan model EOQ (Economic Order
Quantity) dasar serta cara bagimana moel tersebut dimodifikasi. Memahami
keterbatasan dan asumsi model EOQ (Economic Order Quantity) menjadi dasar yang
penting bagi manajer untuk membuat keputusan tentang persediaan.

Adapun penentuan jumlah pesanan ekonomis (EOQ) ada 3 cara menurut Sofjan
Assauri (2004:182) yaitu:

1. Tabular Approach
Penentuan jumlah pesanan yang ekonomis dengan Tabular approach
dilakukan dengan cara menyusun suatu daftar atau table jumlah pesanan dan
jumlah biaya per tahun.
2. Graphical Approach
Penentuan jumlah pesanan ekonomis dengan cara “Graphical approach”
dilakukan dengan cara menggambarkan grafik-grafik carrying costs dan total
costs dalam satu gambar, dimana sumbu horizontal jumlah pesanan (order)
pertahun, sumbu vertical besarnya biaya dari ordering costs, carrying costs
dan total costs.
3. Dengan menggunakan rumus (formula approach)
Cara penentuan jumlah pesanan ekonomis dengan menurunkan didalam
rumus-rumus matematika dapat dilakukan dengan cara memperhatikan
bahwa jumlah biaya persediaan yang minimum terdapat, jika ordering costs
sama dengan carrying costs.

Hampir semua model persediaan bertujuan untuk meminimalkan biaya-biaya


total dengan asumsi yang tadi dijelaskan.

Metode EOQ (Economic Order Quantity) ini adalah metode yang digunakan
untuk mencari titik keseimbangan antara biaya pemesanan dengan biaya penyimpanan
agar diperoleh suatu biaya yang minimum.

Atas dasar model EOQ (Economic Order Quantity) diatas maka untuk
menghitung biaya persediaan yang paling optimal digunakan model Total Incremental
Cost (TIC) yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
Total Biaya Persediaan = Total Biaya Penyimpanan + Total Biaya
Pemesanaan

Reorder Point (ROP)

6
Selain memperhitungkan konsep EOQ (Economic Order Quantity), perusahaan
juga perlu memperhitungkan kapan harus dilakukan pemesanan kembali (Re Order
Point).

Pengertian Re Order Point (ROP) menurut Freddy Rangkuty (2004:83) adalah


strategi operasi persediaan merupakan titik pemesanan yang harus dilakukan suatu
perusahaan sehubungan dengan adanya Lead Time dan Safety Stock

Sedangkan menurut Bambang Riyanto (2001:83) ROP adalah saat atau titik
dimana harus diadakan pesanan lagi sedemikian rupa sehingga kedatangan atau
penerimaan material yang dipesan itu adalah tepat waktu dimana persediaan
diatas Safety Stock sama dengan nol.

Menurut Sofjan Assauri (1999:196) ROP (Re Order Point) adalah suatu titik
atau batas dari jumlah persediaan yang ada pda suatu saat dimana pemesanan harus
diadakan kembali.

ROP (Re Order Point) menurut Gaspersz (2004:291) mengatakan bahwa tarik
dari Re Order Point (Pull System With Re Order Point) menimbulakan cash
loading input ke setiap tingkat adalah output dari tingkat atau tahapsebelumnya
sehingga menyebabkan kesaling tergantungan diantara tingkat-tingkat dalam system
distribusi.

Lebih jauh lagi Gasperz menambahkan dalam system ROP (Re Order
Point) setiap pusat distribusi pada tingkat lebih rendah meramalkan permintaan untuk
produk guna melayani pelanggannya, kemudian memesan dari pusat distribusi pada
tingkat yang lebih tinggi apabila kuantitas dalam stock pada pusat distribusi yang lebi
rendah mencapai ROP (Re Order Point) .

Ada beberapa faktor untuk menentukan ROP (Re Order Point) diantaranya
menurut Petty, William, Scott dan David (2005:279) adalah

1. Pengadaan atau stock selama masa pengiriman

2. Tingkat pengamanan yang diinginkan

Sedangkat menurut Bambang Riyanto (2001:83) faktor-faktornya adalah

1. Penggunaan material selama tenggang waktu mendapatkan barang (procurement


lead tim

7
2. Besarnya Safety Stock

Re Order Point= (Lead Time × Penggunaan perhari)+ Safety Stock

Adapun rumus dari ROP (Re Order Point) adalah Sebagai contoh untuk
menetapkan ROP (Re Order Point), ROP dapat ditetapkan dengan berbagai cara
antara lain adalah

1. Menetapkan jumlah penggunaan selama lead time dan ditambah dengan


persentase tertentu. Misalnya, ditetapkan bahwa Safety Stock sebesar 50% ari
penggunaan selama Lead Time dan ditetapkan bahwa Lead Timenya adalah 5
minggu, sedangkan kebutuhan materialnya setiap minggunya adalah 40 unit.

Re Order Point = (5 × 40)+ 50% (5 × 40)


= 200 + 100 =300 unit

2. Dengan menetapkan penggunaan selama Lead Time dan ditambah dengan


penggunaan selama periode tertantu sebagai Safety Stock, misalkan, kebutuhan
selama 4 minggu

Re Order Point= (5 × 40) + (4 × 40)

= 200 + 160
= 360 unit

SAFETY STOCK

Safety stock = Z x √ (PC/T) x σD

dengan:

- Z = safety factor (lihat tabel)

- PC = performance cycle = siklus forecast atau siklus order

- σD = standard deviasi dari demand

- T = siklus periode demand

Safety stock = safety factor x √[(PC/T x σD ^2 ) + ( σLTLT x D rata2 )^2]

1. Rangkuti (2004:10)

8
Didalam bukunya menjelaskan bahwa konsep persediaan pengaman (safety stock)
adalah persediaan tambahan yang diadakan untuk melindungi atau menjaga
kemungkinan terjadinya kekurangan bahan atau stock out.
2. Heizer dan Render (2011:76)
Didalam bukunya menjelaskan bahwa konsep persediaan pengaman adalah suatu
persediaan tambahan yang memungkinkan permintaan yang tidak seragam dan
menjadi sebuah cadangan.

Rumus perhitungan standar deviasinya (α) adalah sebagai berikut dibawah ini :

Dimana penjelasan tersebut adalah antara lain sebagai berikut :


→ α adalah standar deviasi dari tingkat kebutuhan.
→ x adalah jumlah pemakaian bahan baku.
→ x garis atas adalah jumlah rata-rata pemakaian bahan baku.
→ n adalah periode pemakaian bahan baku.

Tujuan persediaan pengaman (safety stock)

Adapun tujuan dari persediaan pengaman (safety stock) adalah sebagai suatu
antisipasi terhadap kekurangan persediaan, sehingga menjamin kelancaran proses
produksi. Selain digunakan untuk menanggulangi akan terjadinya keterlambatan
datangnya bahan baku, hadirnya persediaan pengaman bahan baku ini juga
diharapkan agar proses produksi tidak terganggu dengan adanya ketidakpastian dari
bahan.

Contoh
Sebuah gudang distribusi memasok plastic film roll untuk kebutuhan packaging
industri makanan. Kebutuhan rata2 per minggu 50 roll, std deviasi kebutuhan per
minggu sebesar 10 roll. Std deviasi lead time 0. Lead time proses produksi stabil
sebesar 7 hari dan leatime pengiriman dari pabrik ke gudang selama 1 hari, total 8
hari. Deviasi kebutuhan dihitung tiap periode 1 minggu.

9
Dengan menggunakan rumus:

Safety stock = Z x √ (PC/T) x Σd

Bila service level yang diinginkan sebesar 95% dimana management


mengharapkan dari 100 kali order yang diterima, hanya boleh 5x terjadi stock out.
Dari table servicel level diperoleh safety factor sebesar 1.65 untuk 95%
service level. Dari data diatas PC = 8 hari yaitu 7 hari manufacturing lead time dan 1
hari lead time pengiriman dari pabrik ke gudang. T = 7 hari karena siklus demand per
minggu(7hari). Sehingga kalau dimasukkan dalam rumus menjadi:

Safety stock = 1.65 x √ (8/7) x 10 roll = 18 roll

Inilah jumlah safety stock yang harus disimpan di gudang untuk antisipasi demand
yang deviasi nya sebesar 10 roll per minggu dengan total lead time 8 hari. Bagaimana
kalau lead time nya bervariasi katakan 1 hari deviasi lead time ( = 0.14 minggu).
Masukkan ke rumus:

Safety stock = safety factor x √[(PC/T x σD^2 ) + ( σLTLT x D rata-rata)^2]

= 1.65 x √[(8/7 x 10^2 ) + ( 0.14 x 50)^2] = 1.65 x √[114.3 + 49] = 21 roll

Jadi kalau lead time nya memiliki deviasi 1 hari ( 0.14 minggu) maka safety stock
akan bertambah menjadi 21 roll. Hasil ini menunjukkan bahwa vaiasi demand
merupakan faktor dominan dalam menentukan safety stock. Pengaruhnya hampir 10
kali lipat dari variasi yang terjadi di lead time.

Karena itu cara mengurangi safety stock adalah dengan :

1. Mengurangi deviasi demand (mengurangi variasi)


2. Mempertimbangkan besarnya service level, kalau customer tidak memerlukan
service level yang tinggi, turunkanlah service level nya.

Setelah safety stock ditetapkan, harus di monitor secara teratur bagaimana pemakaian
safety stock tersebut. Bila yang terpakai hanya setengahnya, evaluasi kembali nilai
service level.

10
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Biaya bahan baku merupakan salah satu komponen penting dari biaya produksi.
Masalah yang dihadapi manajemen berkaitan dengan bahan baku yaitu keterlambatan
bahan yang mengganggu proses produksi.

3.2 KRITIK DAN SARAN

Dengan terselesainya makalah ini semoga bermanfaat bagi teman-teman yang mau
mempelajarinya dan dalam pembuatan makalah ini banyak terdapat kesalahan
maupun kekurangnya mohon kritik dan saran untuk kemudian hari lebih membangun
lagi.

11