Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH KONSEP DASAR KOMUNIKASI PADA PASIEN LANSIA

(KOMUNIKASI DALAM KEPERAWATAN II)

OLEH

KELOMPOK 5:

NURUL DINA FADHILAH (1811311024)

MUFEBRINA (1811311010)

NIKEN ASRI UTAMI (1811312026)

SUCI DEWI DAMAYANTI (1811313002)

RIHADATUL NUR (1811312038)

TIFA RAMADHANI (1811312014)

ROKY FIRDAUS (1811311036)

AZZURA RISNAIRAJ (1811313014)

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ANDALAS

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang Konsep dasar
Komunikasi Pada Pasien Lansia

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.Untuk itu
kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak kekurangan


baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasa. Oleh karena itu dengan
tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami
dapat memperbaiki makalah kami kedepannya

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manafaat
maupun inspirasi terhadap pembaca.

Padang, 15 Oktober 2019

Kelompok 5

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar. ............................................................................................ i


Daftar Isi. ...................................................................................................... ii
Bab I Pendahuluan
1.1. Latar Belakang. ........................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah. ...................................................................... 2
1.3. Tujuan. ........................................................................................ 2
Bab II Pembahasan
2.1. Konsep Dasar Komunikasi Pada Pasien Dewasa. ....................... 3
2.2. Teknik Berkomunikasi dengan Dewasa. ..................................... 5
2.3. Hambatan Komunikasi Pada Pasien Dewasa. ............................. 7
2.4. Komunikasi Terapeutik pada Dewasa. ...................................... 13
Bab III Penutup
3.1. Kesimpulan. .................................................................................. 22
3.2. Saran. ............................................................................................. 22
Daftar Pustaka ............................................................................................ 23

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang
memungkinkan seseorang untuk menetapkan, mempertahankan dan
meningkatkan kontrak dengan orang lain karena komunikasi dilakukan oleh
seseorang, setiap hari orang seringkali salah berpikir bahwa komunikasi
adalah sesuatu yang mudah.
Komunikasi adalah proses interpersonal yang melibatkan perubahan
verbal dan non verbal dari informasi dan ide. Kominikasi mengacu tidak
hanya pada isi tetapi juga pada perasaan dan emosi dimana individu
menyampaikan hubungan ( Potter-Perry, 301 ). Komunikasi pada lansia
membutuhkan peratian khusus. Perawat harus waspada terhadap perubahan
fisik, psikologi, emosi, dan sosial yang memperngaruhi pola komunikasi.
Perubahan yang berhubungan dengan umur dalam sistem auditoris dapat
mengakibatkan kerusakan pada pendengaran. Perubahan pada telinga bagian
dalam dan telinga mengalangi proses pendengaran pada lansia sehingga tidak
toleran teradap suara.
Melihat perkembangan dunia keperawatan saat ini yang semakin pesat
tidak jarang kita melihat perawat yang beretika tidak, sesuai salah satunya
mengenai cara berkomunikasi pada klien yang tidak memperhatikan faktor
umur sehingga beberapa klien sering menganggap perawat bekerja secara
semberono . Maka sehubungan dengan hal itu dan adanya tugas dari dosen
mata kuliah, Memahami sikap pelayanan perawat maka kami membuat
makalah ini dengan judul Sikap perawat dalam berkomunikasi sesuai
pada tingkat usia.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja konsep dasar komunikasi pada pasien lansia?
2. Bagaimana teknik berkomunikasi yang tepat pada pasien lansia?
3. Apa saja hambatan yang terjadi dalam komunikasi pada pasien lansia?

1
4. Bagaimana komunikasi terapeutik pada pasien lansia?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Memahami apa saja konsep dasar komunikasi pada pasien lansia?
2. Memahami bagaimana teknik berkomunikasi yang tepat pada pasien
lansia?
3. Memahami apa saja hambatan yang terjadi dalam komunikasi pada pasien
lansia?
4. Memahami bagaimana komunikasi terapeutik pada pasien lansia?

1.4 Manfaat Penulisan


Agar mahasiswa dapat memahami bagaimana komunikasi terapeutik yang
tepat pada pasien lanjut usia atau lansia.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar Komunikasi pada Pasien Lansia


1. Pengertian Komunikasi Terapeutik
Indrawati (2003) mengemukakan bahwa komunikasi terapeutik adalah
komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan
untuk kesembuhan pasien.
Komunikasi terapeutik adalah hubungan kerja sama yang ditandai dengan
tukar menukar perilaku, perasaan, fikiran dan pengalaman dalam membina
hubungan intim terapeutik (Stuart dan Sundeen).
Komunikasi dengan lansia harus memperhatikan faktor fisik, psikologi,
(lingkungan dalam situasi individu harus mengaplikasikan ketrampilan
komunikasi yang tepat. disamping itu juga memerlukan pemikiran penuh serta
memperhatikan waktu yang tepat.

2. Manfaat Komunikasi Terapeutik


Manfaat komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan
kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien.
Mengidentifikasi. mengungkap perasaan dan mengkaji masalah dan evaluasi
tindakan yang dilakukan oleh perawat (Indrawati, 2003 : 50).

3. Karakteristik Lansia
Berdasarkan usianya, organisasi kesehatan dunia (WHO) mengelompokan
usia lanjut menjadi empat macam meliputi:
a) Usia pertengahan (middle age) kelompok usia 45 samapai 59 tahun
b) Usia lanjut (elderly) kelompok usia antara 60 samapai 70 tahun
c) Usia lanjut usai (old) kelompok usia antara 75 sampai 90 tahun
d) Usaia tua (veryold)kelompk usia di atas 90 tahun
Meskipun batasan usia sangat beragam untuk menggolongkan lansia namun
perubahan-perubahan akibat dari usai tersebut telah dapat di identifikasi, misalnya

3
perubahan pada aspek fisik berupa perubahan neurologi dan sensorik, perubahan
visual, perubahan pendengaran. Perubahan- perubahan tersebut dapat menghambat
proses penerimaan dan interprestasi terhadap maksud komunikasi. Perubahan ini
juga menyebabkan klien lansia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Belum
lagi perubahan kognetif yang berpengaruh pada tingkat intelegensi, kemampuan
belajar, daya memori dan motivasi klien.
Perubahan emosi yang sering terlihat adalah berupa reaksi penolakan terhadap
kondisi yang terjadi. Gejala-gejala penolakan tersebut misalnya:
a) Tidak percaya terhadap diagnose, gejala, perkembangan serta keterangan yang
di berikan petugas kesehatan
b) Mengubah keterangan yang di berikan sedemikian rupa, sehinga di terima
keliru
c) Menolak membicarakan perawatanya di rumah sakit
d) Menolak ikut serta dalam perawatan dirinya secara umum khususnya tindakan
yang mengikut sertakan dirinya
e) Menolak nasehat-nasehat misalnya, istirahat baring, berganti posisi tidur,
terutama bila nasehat tersebut demi kenyamanan klien.

4. Pendekatan Perawatan Lansia Dalam Konteks Komunikasi


a) Pendekatan fisik
Mencari informasi tentang kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian, yang
dialami, peruban fisik organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa di capai
dan di kembangkan serta penyakit yang dapat di cegah progresifitasnya.
Pendekatan ini relative lebih mudah di laksanakan dan di carikan solusinya
karena riil dan mudah di observasi.
b) Pendekatan psikologis
Karena pendekatan ini sifatnya absrak dan mengarah pada perubahan
prilaku, maka umumnya membutuhkan waktu yang lebih lama. Untuk
melaksanakan pendekatan ini perawat berperan sebagai konselor, advokat,
supporter, interpreter terhadap sesuatu yang asing atau sebagai penampung
masalah-masalah yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab bagi klien.

4
c) Pendekatan social
Pendekatan ini di lakukan untuk meningkatkan keterampilan berinteraksi
dalam lingkungan. Mengadakan diskusi, tukar pikiran, bercerita, bermain, atau
mengadakan kegiatan-kegiatan kelompok merupakan implementasi dari
pendekatan ini agar klien dapat berinteraksi dengan sesama klien maupun
dengan petugas kesehatan.
d) Pendekatan spiritual
Perawat harus bisa memberikan kepuasan batin dalam hubunganya dengan
Tuhan atau agama yang dianutnya terutama ketika klien dalam keadaan sakit.

2.2 Teknik Komunikasi Pada Lansia


Untuk dapat melaksanakan komunikasi yang efektif kepada lansia, selain
pemahaman yang memadai tentang karakteristik lansia, petugas kesehatan atau
perawat juga harus mempunyai teknik-teknik khusus agar komunikasi yang di
lakukan dapat berlangsung secara lancar dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
Beberapa teknik komunikasi yang dapat di terapkan antara lain:
1. Teknik asertif
Asertif adalah sikap yang dapat menerima, memahami pasangan bicara
dengan menunjukan sikap peduli, sabar untuk mendengarkan dan memperhatikan
ketika pasangan bicara agar maksud komunikasi atau pembicaraan dapat di
mengerti. Asertif merupakan pelaksanaan dan etika berkomunikasi. Sikap ini akan
sangat membantu petugas kesehatan untuk menjaga hubungan yang terapeutik
dengan klien lansia.
2. Responsif
Reaksi petugas kesehatan terhadap fenomena yang terjadi pada klien
merupakana bentuk perhatian petugas kepada klien. Ketika perawat mengetahui
adanya perubahan sikap atau kebiasaan klien sekecil apapun hendaknya
menanyakan atau klarifikasi tentang perubahan tersebut misalnya dengan
mengajukan pertanyaan ‘apa yang sedang bapak/ibu fikirkan saat ini, ‘apa yang
bisa bantu…? berespon berarti bersikap aktif tidak menunggu permintaan bantuan

5
dari klien. Sikap aktif dari petugas kesehatan ini akan menciptakan perasaan
tenang bagi klien.
3. Fokus
Sikap ini merupakan upaya perawat untuk tetap konsisten terhadap materi
komunikasi yang di inginkan. Ketika klien mengungkapkan pertanyaan-
pertanyaan di luar materi yang di inginkan, maka perawat hendaknya
mengarahkan maksud pembicaraan. Upaya ini perlu di perhatikan karena
umumnya klien lansia senang menceritakan hal-hal yang mungkin tidak relevan
untuk kepentingan petugas kesehatan.
4. Supportif
Perubahan yang terjadi pada lansia, baik pada aspek fisik maupun psikis
secara bertahap menyebabkan emosi klien relative menjadi labil perubahan ini
perlu di sikapi dengan menjaga kesetabilan emosi klien lansia, mesalnya dengan
mengiyakan , senyum dan mengagukan kepala ketika lansia mengungkapkan
perasaannya sebagai sikap hormat menghargai selama lansia berbicara. Sikap ini
dapat menumbuhkan kepercayaan diri klien lansia sehingga lansia tidak menjadi
beban bagi keluarganya. Dengan demikaian di harapkan klien termotivasi untuk
menjadi dan berkarya sesuai dengan kemampuannya. Selama memberi dukungan
baik secara materiil maupun moril, petugas kesehatan jangan terkesan menggurui
atau mangajari klien karena ini dapat merendahan kepercayaan klien kepada
perawat atau petugas kesehatan lainnya. Ungkapan-ungkapan yang bisa memberi
motivasi, meningkatkan kepercayaan diri klien tanpa terkesan menggurui atau
mengajari misalnya: ‘saya yakin bapak/ibu lebih berpengalaman dari saya, untuk
itu bapak/ibu dapat melaksanakanya……. dan bila diperlukan kami dapat
membantu’.
5. Klarifikasi
Dengan berbagai perubahan yang terjadi pada lansia, sering proses
komunikasi tidak berlangsung dengan lancar. Klarifikasi dengan cara mengajukan
pertanyaan ulang dan memberi penjelasan lebih dari satu kali perlu di lakukan oleh
perawat agar maksud pembicaraan kita dapat di terima dan di persepsikan sama

6
oleh klien ‘bapak/ibu bisa menerima apa yang saya sampaikan tadi..? bisa minta
tolong bapak/ibu untuk menjelaskan kembali apa yang saya sampaikan tadi…?.
6. Sabar dan Ikhlas
Seperti diketahui sebelumnya klien lansia umumnya mengalami perubahan-
perubahan yang terkadang merepotkan dan kekanak-kanakan perubahan ini bila
tidak di sikapai dengan sabar dan ikhlas dapat menimbulkan perasaan jengkel bagi
perawat sehingga komunikasi yang di lakukan tidak terapeutik, namun dapat
berakibat komunikasi berlangsung emosional dan menimbulkan kerusakan
hubungan antara klien dengan petugas kesehatan

2.3 Hambatan Komunikasi pada Pasien Lansia

1. Agresif, dalam berkomunikasi biasanya ditandai dengan perilaku-perilaku :

a) Berusaha mengontrol dan mendominasi orang (lawan bicara)


b) Meremehkan orang lain
c) Mempertahankan haknya dengan menyerang orang lain
d) Menonjolkan diri sendiri
e) Mempermalukan orang lain didepan umum baik dengan perkataan maupun
dengan tindakan.
2. Non Asertif
tanda – tanda dari non asertif
a) Menarik diri bila diajak berbicara
b) Merasa tidak sebaik orang lain
c) Merasa tidak berdaya
d) Tidak berani menggungkapkan keyakinan
e) Membiarkan orang lain membuat keputusan untuk dirinya
f) Tampil diam
g) Mengikuti kehendak orang lain
h) Mengorbankan kepentingan dirinya untuk menjaga hubungan baik dengan orang
lain.
3. Gangguan neurology sering menyebabkan gangguan bicara dan berkomunikasi dapat
juga karena pengobatan medis, mulut yang kering dan lain-lain.

7
4. Penurunan daya pikir sering menyebabkan gangguan dalam mendengarkan, mengingat
dan respon pada pertanyaan seseorang.
5. Perawat sering memanggil dengan “nenek”, “sayang”, dan lain-lain. Hal tersebut
membuat tersinggung harga dirinya dianjurkan memanggil nama panggilannya.
6. Dianjurkan menegur dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
7. Perbedaan budaya hambatan komunikasi, dan sulit menjalin hubungan saling percaya.
8. Gangguan sensoris dalam pendengarannya
9. Gangguan penglihatan sehingga sulit menginterprestasikan pesan-pesan non-verbal.
10. “Overload” dari sensoris : terlalu banyak informasi dalam satu waktu atau banyak
orang berkomunikasi dalam yang sama sehingga kognitif berkurang.
11. Gangguan fisik yang menyebabkan sulit berfokus dalam pembicaraan misalnya focus
pada rasa sakit, haus, lapar, capai, kandung kemih penuh, udara yang tidak enak, dan
lain-lain.
12. Hambatan pada pribadi
Penurunan sensoris, ketidaknyamanan fisik, efek pengobatan dan kondisi patologi,
gangguan fungsi psikososial, karena depresi atau dimensia, gangguan kontak dengan
realita.
13. Hambatan dalam suasana/lingkungan tempat wawancara
Ribut/berisik, terlalu banyak informasi dalam waktu yang sama, terlalu banyak
orang yang ikut bicara, peerbedaan budaya, perbedaan, bahasa, prejudice, dan
strereotipes
14. Mendominasi pembicaraan
Karakter lansia yang terkadang merasa lebih tua dan mengerti banyak hal
menimbulkan perasaan bahwa ia mengetahui segalanya. Kondisi seperti ini akan
menyebabkan seorang lansia jadi lebih mendominasi pembicaraan atau komunikasi.
Selanjutnya adalah ia tidak akan merasa senang jika lawan bicaranya memotong
pembicaraan yang sedang ia lakukan. Hal ini akan sangat menyulitkan pembicaraan
yang terjadi.
15. Mempertahankan hak dengan menyerang
Kebanyakan lansia memang bersifat agresif. Beberapa dari mereka berusaha
untuk mempertahankan haknya dengan menyerang lawan bicaranya. Komunikasi

8
yang efektif tentunya tidak akan tercapai jika lansia berada dalam kondisi yang
seperti ini. Bahkan meskipun lawan bicara sudah berusaha keras untuk memberikan
pemahaman bahwa ia mendapatkan haknya, namun lansia terkadang tetap merasa
tidak aman sehingga terus melakukan penyerangan pada lawan bicaranya.
16. Cuek
Cuek oleh lansia ditandai dengan sikap menarik diri saat akan diajak berbicara
atau berkomunikasi. Sikap seperti ini biasanya diikuti dengan perasaan menyepelekan
orang lain. Banyak para lansia yang merasa bahwa komunikasi dengan orang yang
lebih muda dibandingkan dengan dirinya adalah satu kegiatan yang sia-sia dan tidak
bermanfaat sehingga ia akan dengan mudah menarik diri dari pembicaraan.
17. Kondisi fisik
Para lansia yang akan diajak berkomunikasi tentunya memiliki keterbatasan fisik
yang membuatnya menjadi kesulitan dalam berkomunikasi.
Banyak masalah yang timbul akibat kondisi fisik yang tidak baik pada lansia.
Misalnya saja jika ia memiliki masalah pada pendengaran, tentunya akan menjadi
masalah juga dalam komunikasi. Lansia tersebut akan membutuhkan alat bantu
dengar agar ia dapat berkomunikasi dengan baik dan lancar. Jika ia tidak
menggunakan alat bantu dengar, maka lawan bicaranya harus menggunakan suara
keras untuk bisa berbicara dengan lansia tersebut.
Sayangnya hal seperti ini sering disalahartikan oleh lansia sebagai bentuk
penghinaan dengan membentak. Disinilah berbagai masalah baru muncul, maka dari
itu sangat dibutuhkan pengertian dan pemahaman yang baik oleh lawan bicara
terhadap kondisi lansia agar komunikasi yang efektif dapat berjalan dengan baik dan
lancar.
18. Stress
Hal lain yang menjadi hambatan dalam komunikasi dengan lansia adalah depresi
atau tingkat stres yang dialami oleh lansia.
Lansia sangat mudah diserang oleh stres, baik akibat kondisi fisik yang ia alami,
maupun faktor lainnya.

9
Jika seorang lansia sudah menderita stres, maka ia akan selalu mudah marah dan
tidak mau mendengar apapun yang dikatakan oleh orang lain. Kondisi ini hanya bisa
diperbaiki jika sumber dari beban pikirannya telah diatasi.
19. Mempermalukan orang lain di depan umum
Faktor penghambat komunikasi dengan lansia yang satu ini merupakan salah satu
hal yang banyak dihadapi oleh orang yang berkomunikasi dengan lansia. Lansia yang
selalu merasa benar dan tahu segalanya biasanya juga akan mempermalukan orang
lain di depan umum.
Hal ini sering dilakukan untuk menutupi kekurangan yang terdapat dalam diri
mereka sendiri. Jika sudah terjadi, maka biasanya komunikasi akan langsung berhenti
dan tidak lagi dilanjutkan karena lawan bicara sudah merasa tidak nyaman. Meskipun
begitu, kebanyakan lansia menyadari perbuatan mereka ini dan tidak merasa
melakukan kesalahan dalam komunikasi yang dilakukan.
20. Tertidur
Beberapa lansia mengalami masalah dengan sistem saraf mereka sehingga
banyak dari mereka yang mungkin akan tertidur ketika diajak berbicara.
Kelelahan yang amat sangat akan membuat mereka yang tadinya begitu bersemangat
dalam berbicara, tiba-tiba tertidur dan tidak mengetahui apapun ketika bangun. Hal
ini lebih banyak terjadi pada lansia yang memiliki riwayat penyakit demensia atau
Alzheimer. Lansia dengan riwayat penyakit tersebut biasanya lebih mudah tertidur,
bahkan ketika sedang makan sekalipun.
21. Lupa
Lupa adalah salah satu ciri dari seorang lansia. Kebanyakan lansia akan berkali-
kali menanyakan hal yang sama meskipun sudah dijawab berulang kali.
Jika lawan bicaranya tidak sabar, maka komunikasi yang terjadi pun menjadi tidak
lancar. Menjadi sebuah kewajaran dimana lansia menjadi sangat pelupa, sehingga
sangat dibutuhkan pengertian dan kesabaran dari lawan bicara dalam menghadapi
lansia.

10
22. Gangguan penglihatan
Komunikasi pada lansia juga sering terkendala akibat adanya gangguan
penglihatan pada lansia. Gangguan penglihatan yang terjadi bisa berupa rabun jauh,
dekat, atau bahkan sulit melihat.
Beberapa bahasa yang menggunakan bahasa tubuh mungkin tidak akan terlalu
dimengerti jika lansia dalam kondisi seperti ini, maka dari itu diperlukan pengetahuan
yang cukup mengenai kondisi lansia yang diajak berkomunikasi sehingga lawan
bicara mengerti apa yang dibutuhkan lansia agar komunikasi berjalan lancar.
Gangguan penglihatan yang dialami lansia dapat diatasi dengan memberikan
kacamata yang sesuai dengan kondisi matanya. Dengan bantuan alat, maka lansia
akan lebih memahami bahasa tubuh atau komunikasi non verbal yang digunakan oleh
lawan bicaranya.
23. Lebih banyak diam
Lansia yang diajak melakukan komunikasi namun lebih banyak diam biasanya
merupakan jenis lansia yang pasif. Lansia dengan kondisi seperti ini akan
menyerahkan setiap topik dan keputusan dalam sebuah komunikasi pada lawan
bicaranya.
Mereka juga akan sulit untuk dimintai pendapat karena lebih banyak mengiyakan
dan mengikuti apa yang dipikirkan oleh lawan bicara.
24. Cerewet
Bagi kebanyakan orang, lansia adalah pribadi yang cerewet yang dihindari untuk
diajak bicara. Beberapa lansia memang terkesan sangat cerewet.
Hal ini tidak terlepas dari pemikiran mereka untuk selalu menasehati orang yang
lebih muda. Keinginan untuk selalu berbicara juga tidak terlepas dari rasa kesepian
dan kebosanan yang mereka rasakan.
Salah satu cara mengatasi sifat cerewet yang banyak dihindari lawan bicara ini
adalah dengan berusaha menjadi pendengar yang baik. Dengan melihat sikap lawan
bicaranya yang menghargai apa yang ia katakan, maka ia pun akan ikut memberikan
kesempatan pada lawan bicaranya untuk berbicara.

11
25. Mudah marah
Lansia identik dengan berbagai macam penyakit dan komplikasi. Rasa sakit yang
dirasakan tentu saja akan membuatnya tidak nyaman dan menjadi mudah marah,
bahkan meskipun tidak ada penyebabnya.
Rasa mudah marah ini membuat banyak orang menjadi malas untuk melakukan
cara berkomunikasi dengan baik dengan lansia karena akan selalu disalahkan atas
segala sesuatu yang ada.

Adanya hambatan komunikasi kepada lansia merupakan hal yang wajar seiring
dengan menurunnya fungsi fisik dan psikologis klien. Namun sebagai tenaga
profesional kesehatan, perawat dituntut mampu mengatasi keadaan tersebut, untuk itu
perlu adanya tehnik atai tips-tips tertentu yang perlu diperhatikan agar komunikasi
dapat berlangsung efektif, antara lain :
1. Selalu mulai komunikasi dengan mengecek fungsi pendengaran klien
2. Keraskan suara anda jika perlu
3. Dapatkan perhatian klien sebelum berbicara. Pandanglah dia sehingga dia dapat
melihat mulut anda
4. Atur lingkungan sehingga menjadi kondusif untuk komunikasi yang baik. Kurangi
gangguan visual dan auditori. Pastikan adanya pencahayaan yang cukup.
5. Ketika merawat orang tua dengan gangguan komunikasi, ingat kelemahannya.
Jangan menganggap kemacetan komunikasi merupakan hasil bahwa klien tidak
kooperatif.
6. Jangan berharap untuk berkomunikasi dengan cara yang sama dengan orang yang
tidak mengalami gangguan. Sebaliknya bertindaklah sebagai partner yang
tugasnya memfasilitasi klien untuk mengungkapkan perasaan dan
pemahamannya.
7. Berbicara dengan pelan dan jelas saat menatap matanya, gunakan kalimat pendek
dengan bahasa yang sederhana.
8. Bantulah kata-kata anda dengan isyarat visual
9. Serasikan bahasa tubuh anda dengan pembicaraan anda, misalnya ketika
melaporkan hasil tes yang diingingkan, pesan yang menyatakan bahwa berita

12
tersebut adalah bagus seharusnya dibuktikan dengan ekspresi, postur dan nada
suara anda yang menggembirakan ( misalnya dengan senyum, ceria atau tertawa
secukupnya )
10. Ringkaslah hal-hal yang paling penting dari pembicaraan tersebut
11. Berilah klien waktu yang banyak untuk bertanya dan menjawab pertanyaan anda.
12. Biarkan dia membuat kesalahan, jangan menegurnya secara langsung, tahan
keinginan anda untuk menyelesaikan kalimat
13. Jadilah pendengar yang baik walaupun keinginan sulit mendengarkannya
14. Arahkan kesuatu topik pada suatu saat
15. Jika mungkin ikutkan keluarga atau yang merawat dalam ruangan bersama anda.
Orang ini biasanya paling akrab dengan pola komunikasi klien dan dapat
membantu proses komunikasi.

2.4 Komunikasi Terapeutik pada Lansia

1. Prinsip Komunikasi Terapeutik Pada Klien Lansia dan Keluarga


a) Komunikasi pada lansia memerlukan pendekatan khusus. Pengetahuan yang
dianggapnya benar tidak mudah digantikan dengan pengetahuan baru sehingga
kepada orang lansia, tidak dapat diajarkan sesuatu yang baru.
b) Dalam berkomunikasi dengan lansia diperlukan pengetahuan tentang sikap-
sikap yang khas pada lansia. Gunakan perasaan dan pikiran lansia, bekerja sama
untuk menyelesaikan masalah dan memberikan kesempatan pada lansia untuk
mengungkapkan pengalaman dan memberi tanggapan sendiri terhadap
pengalaman tersebut.
c) Berkomunikasi dengan lansia memerlukan suasana yang saling hormat
menghormati, saling menghargai, saling percaya, dan saling terbuka.
d) Penyampaian pesan langsung tanpa perantara, saling memengaruhi dan
dipengaruhi, komunikasi secara timbal balik secara langsung, serta dilakukan
secara berkesinambungan, tidak statis, dan selalu dinamis.

13
e) Kesulitan dalam berkomunikasi pada lanjut usia disebabkan oleh berkurangnya
fungsi organ komunikasi dan perubahan kognitif yang berpengaruh pada tingkat
intelegensia, kemampuan belajar, daya memori, dan motivasi klien.

2. Strategi Komunikasi Pada Klien Lansia dan Keluarga

Stratetgi komunikasi pada lansia harus menggunakan pendekatan-pendekatan


sebagai berikut:

a) Pendekatan fisik
Perawatan yang memperhatikan kesehatan obyektif, kebutuhan,
kejadiankejadian yang dialami pasien lanjut usia semasa hidupnya, perubahan
fisik pada organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa dicapai dan
dikembangkan, dan penyakit yang dapat dicegah atau ditekan progresivitasnya.
Perawatan fisik secara umum bagi pasien lanjut usia dapat dibagi atas dua
bagian, yakni pasien lanjut usia yang masih aktif, yang keadaan fisiknya masih
mampu bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga untuk kebutuhan sehari-hari
masih mampu melakukan sendiri; pasien lanjut usia yang pasif atau tidak dapat
bangun, yang keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan atau sakit. Perawat
harus mengetahui dasar perawatan pasien lanjut usia ini terutama tentang hal-hal
yang berhubungan dengan keberhasilan perorangan untuk mempertahankan
kesehatannya. Kebersihan perorangan (personal hygiene) sangat penting dalam
usaha mencegah timbulnya peradangan, mengingat sumber infeksi dapat timbul
bila keberihan kurang mendapat perhatian.
b) Pendekatan Psikis
Perawat harus mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan
edukatif pada lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai supporter, interpreter
terhadap segala sesuatu yang asing, dan sebagai sahabat yang akrab. Perawat
hendaknya memiliki kesabaran dan ketelitian dalam memberikan kesempatan
dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai bentuk keluhan agar
para lanjut usia merasa puas. Perawat harus selalu memegang prinsip “Triple S”,
yaitu sabar, simpatik, dan service. Bila perawat ingin mengubah tingkah laku

14
dan pandangan mereka terhadap kesehatan, perawat bisa melakukannya secara
perlahan dan bertahap, perawat harus dapat mendukung mental mereka kearah
pemuasan pribadi sehingga seluruh pengalaman yang dilaluinya tidak
menambah beban, bila perlu diusahakan agar dimasa lanjut usia ini mereka
dapat merasa puas dan bahagia.
c) Pendekatan Sosial
Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan salah satu
upaya perawat dalam pendekatan sosial. Memberi kesempatan untuk berkumpul
bersama dengan sesama klien lanjut usia berarti menciptakan sosialisasi mereka.
Pendekatan sosial ini merupakan suatu pegangan bagi perawat bahwa orang
yang dihadapinya adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Dalam
pelaksanaannya, perawat dapat menciptakan hubungan sosial antara lanjut usia
dan lanjut usia maupun lanjut usia dan perawat sendiri. Para lanjut usia perlu
dirangsang untuk mengetahui dunia luar, seperti menonton tv, mendengar radio,
atau membaca majalah dan surat kabar. Dapat disadari bahwa pendekatan
komunikasi dalam perawatan tidak kalah pentingnya dengan upaya pengobatan
medis dalam proses penyembuhan atau ketenangan para pasien lanjut usia.
d) Pendekatan Spiritual
Perawat harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam
hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianutnya, terutama bila pasien
lanjut usia dalam keadaan sakit atau mendekati kematian. Sehubungan dengan
pendekatan spiritual bagi pasien lanjut usia yang menghadapi kematian, Dr.
Tony Setyabudhi mengemukakan bahwa maut seringkali menggugah rasa takut.
Rasa takut semacam ini didasari oleh berbagai macam faktor, seperti
tidakpastian akan pengalaman selanjutnya, adanya rasa sakit atau penderitaan
yang sering menyertainya, kegelisahan untuk tidak kumpul lagi dengan keluarga
atau lingkungan sekitarnya.
Adapun 4 (empat) keharusan yang harus dimiliki oleh seorang perawat,
yaitu pengetahuan, ketulusan, semangat dan praktik. Dalam usaha
berkomunikasi dengan baik, seorang perawat harus mempunyai pengetahuan
yang cukup, sehingga memudahkan dalam melaksanakan tugasnya setiap hari.

15
Untuk ketulusan, jika seseorang telah memutuskan sebagai perawat harus dapat
dipastikan mempunyai ketulusan yang mendalam bagi para pasiennya siapa pun
itu. Semangat serta pantang menyerah harus selalu dikobarkan setiap harinya
agar para pasiennya selalu ikut bersemangat pada akhirnya terutama bagi para
pasien lansia yang terkadang suka merasa dirinya “terbuang” dan “sakit karena
tua”. Sedangkan untuk praktiknya, seorang perawat harus dapat berbicara
komunikatif dengan para pasiennya, sehingga tidak saja hanya jago dalam teori
namun praktiknya pun harus bisa melakukan dengan baik dan benar.

3. Strategi Komunikasi Terapeutik Pada Klien Lansia


Kondisi Pasien Pasien ibu Sofi umur 68 tahun masuk rumah sakit (MRS)
dengan peradangan hati (hepar). Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan suhu
badan 380 C, banyak keluar keringat, kadang-kadang mual dan muntah. Palpasi
teraba hepar membesar. Pasien mengatakan bahwa diagnosis dokter salah,
“Dokter salah mendiagnosa, tidak mungkin saya sakit yang demikian karena
saya selalu menjaga kesehatan”, Pasien menolak pengobatan dan tidak mau
dirawat. Pasien yakin bahwa dia sehat-sehat saja dan tidak perlu perawatan dan
pengobatan.
Diagnosis/Masalah Keperawatan: Denial (Penolakan)
Rencana Keperawatan:
a. Istirahatkan pasien di atas tempat tidur (bedrest).
b. Tingkatkan pemahaman pasien terkait kesehatannya.
c. Diskusikan masalah yang dihadapi dan proses terapi selama di Rumah Sakit
(RS).
d. Tujuan : Pasien menerima sakitnya dan kooperatif selama perawatan dan
pengobatan.

16
Strategi Komunikasi
1. Fase Orientasi
Salam terapeutik:
Perawat : “Selamat pagi. Saya Ibu Tri. Apa benar saya dengan Ibu Sofi?”
(mendekat ke arah pasien dan mengulurkan tangan untuk berjabatan tangan).
Pasien menjabat tangan perawat dan menjawab “selamat pagi”.
Evaluasi dan Validasi :
Perawat : “Apa kabar Ibu? Bagaimana perasaan hari ini? Ibu sepertinya tampak
lelah?”
Pasien : “Saya sehat-sehat saja, tidak perlu ada yang dikhawatirkan terhadap diri
saya”.
Perawat : Tersenyum sambil memegang tangan pasien.
Kontrak:
Perawat : “Ibu, saya ingin mendiskusikan masalah kesehatan ibu supaya kondisi
ibu lebih baik dari sekarang”.
Pasien : “Iya, tapi benarkan saya tidak sakit? Saya selalu sehat”.
Perawat : (Tersenyum)...”Nanti kita diskusikan. Waktunya 15 menit saja ya”. “Ibu
mau tempatnya yang nyaman di mana? Baik di sini saja ya”.88
2. Fase Kerja:
(Tuliskan kata-kata sesuai Tujuan dan Rencana yang Akan Dicapai/ Dilakukan)
Perawat : “Saya berharap sementara ini, ibu mau istirahat dulu untuk beberapa
hari di rumah sakit. Batasi aktivitas dan tidak boleh terlalu lelah”.
Pasien : “Saya kan tidak apa-apa... kenapa harus istirahat? Saya tidak bisa hanya
diam/duduk saja seperti ini. Saya sudah biasa beraktivitas dan melakukan tugas-
tugas soasial di masyarakat”.
Perawat : “Saya sangat memahami aktivitas ibu dan saya sangat bangga dengan
kegiatan ibu yang selalu semangat”.
Pasien : (mendengarkan) Perawat : “Ibu juga harus memahami bahwa setiap
manusia mempunyai keterbatasan kemampuan dan kekuatan (menunggu respons
pasien)”.

17
Perawat : “Saya ingin tahu, apa alasan keluarga membawa ibu ke rumah sakit
ini?”
Pasien : “Badan saya panas, mual, muntah dan perut sering kembung. Tapi itu
sudah biasa, tidak perlu ke rumah sakit sudah sembuh”.
Perawat : “Terus, apa yang membuat keluarga khawatir sehingga ibu diantar ke
rumah sakit?” Pasien : “Saya muntah muntah dan badan saya lemas kemudian
pingsan sebentar”.
Perawat : “Menurut pendapat ibu kalau sampai pingsan, berarti tubuh ibu masih
kuat atau sudah menurun kekuatannya?”
Pasien : “Iya, berarti tubuh saya sudah tidak mampu ya, berarti saya harus
istirahat?” Perawat : “Menurut ibu, perlu istirahat apa tidak?”
Pasien : “Berapa lama saya harus istirahat? Kalau di rumah sakit ini jangan
lamalama ya?”
Perawat : “Lama dan tidaknya perawatan, tergantung dari ibu sendiri”. “Kalau ibu
kooperatif selama perawatan, mengikuti anjuran dan menjalani terapi sesuai
program, semoga tidak akan lama ibu di rumah sakit”.
Pasien : “Baiklah saya bersedia mengikuti anjuran perawat dan dokter, dan akan
mengikuti proses terapi dengan baik”.
Perawat : “Terima kasih, ibu telah mengambil keputusan terbaik untuk ibu
sendiri. Semoga cepat sembuh ya”.
3. Fase Terminasi:
Evaluasi subjektif/objektif : “Bagaimana perasaan ibu sekarang?” “Sekarang
Jelaskan kenapa ibu harus istirahat dulu untuk sementara ini!”
Rencana tindak lanjut : “Saya berharap ibu bisa kooperatif selama di rawat. Ibu
harus istirahat dan tidak boleh banyak aktivitas, makan sesuai dengan diet yang
disediakan, dan minum obat secara teratur”.
Kontrak yang akan datang : “Satu jam lagi saya akan kembali untuk memastikan
bahwa Ibu telah menghabiskan makan ibu dan minum obat sesuai program.
Sampai jumpa nanti, ya. Selamat siang”.

18
4. Model Komunikasi Pada Lansia
a. Model Komunikasi Shannon Weaver
Tujuan komunikasi pada lansia dengan reaksi penolakaan adalah adanya
perubahan perilaku lansia dari penolakaan menjadi kooperatif. Kelebihan :
dalam komunikasi ini melibatkan anggota keluarga atau orang lain yang
berpengaruh. Kekurangan : memerlukan waktu yang cukup lama karena klien
dalam reaksi penolakan.
b. Model SMCR
kelebihan : proses komunikasi yang terjadi pada model ini relatif simpel.
Model ini ini akan efektif bila kondisi lansia masih sehat, belum banyak
mengalami penurunan baik aspek fisik maupun psikis.
kekurangan : klien tidak memenuhi syarat yang tidak ditetapkan mempunyai
ketrampilan, pengetahuan, sikap, sistim sosial, dan kultur karena
penolakannya.
c. Model Leary
model ini antara individu saling mempengaruhi dan di pengaruhi dimana
respon seseorang dipengaruhi oleh bagaimana orang tersebut diperlakukan.
Kelebihan : terjadi interaksi atau hubungan relationship hubungan perawat
klien lebih dekat sehingga masalah lebih dapat terselesai kan. Kekurangan :
perawat lebih dominan dan klien lansia patuh.
d. Model Terapeutik
model ini membantu mendorong melaksanakan komunikasi dengan empati
menghargai dengan harmonis. Kelebihan : dengan tehnik komunikasi yang
baik lansia akan lebih paham apa yang kita bicarakan. Kekurangan : kondisi
empati kurang cocok diterap kan oleh perawat untuk perawat lansia dengan
reaksi penolakan.
e. Model Keyakinan Kesehatan
Menekan kan pada persepsi klien untuk mencari sehat , menjauhi sakit,
merasakan adanya ancaman / manfaat untuk mempertahankan kesehatan.
Kelebihan : lansia yang mengetahui adanya ancaman kesehatan akan dapat
bermanfaat dan sebagai barier dalam melaksanakan tindakan pencegahan

19
penyakit. Kekurangan : tidak semua lansia merasakan adanya ancaman
kesehatan.
f. Model Komunikasi Kesehatan
Komunikasi yang berfokus pada transaksi antara profesional kesehatan klien
yang sesuai dengan permasalahan kesehatan klien. Kelebihan : dapat
menyelesaikan masalah klien klien lansia dengan tuntas klien lansia merasa
sangat sangat dengan perawat dan merasa sangat diperhatikan. kekurangan :
membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan permasalahan fasilitas
dalam memberikan pelayanan harus lengkap.
g. Model Iteraksi King
Pada model ini intinya adalah kesepakatan sebelum mengadakan interaksi
dengan klien lansia. Kelebihan : komunikasi dapat sesuai dengan tujuan jika
lansia sudah kooperatif. Kelemahan : klien lansia dengan reaksi penolakan
akan mengalami kesulitan untuk dilakukan komunikasi model ini karena tidak
kooperatif.

5. Keterampilan Komunikasi Terapeutik Pada Lansia


a. Keterampilan Komunikasi Terapeutik, dapat meliputi :
1) Perawat membuka wawancara dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan
tujuan dan lama wawancara
2) Berikan waktu yang cukup kepada pasien untuk menjawab, berkaitan dengan
pemunduran kemampuan untuk merespon verbal.
3) Gunakan kata-kata yang tidak asing bagi klien sesuai dengan latar belakang
sosiokulturalnya.
4) Gunakan pertanyaan yang pendek dan jelas karena pasien lansia kesulitan
dalam berfikir abstrak
5) Perawat dapat memperlihatkan dukungan dan perhatian dengan memberikan
respon nonverbal seperti kontak mata secara langsung, duduk dan menyentuh
pasien.
6) Perawat harus cermat dalam mengidentifikasi tanda-tanda kepribadian pasien
dan distress yang ada

20
7) Perawat tidak boleh berasumsi bahwa pasien memahami tujuan dari wawancara
pengkajian. 8. Perawat harus memperhatikan respon pasien dengan
mendengarkan dengan cermat dan tetap mengobservasi.
8) Tempat mewawancarai diharuskan tidak pada tempat yang baru dan asing bagi
pasien.
9) Lingkungan harus dibuat nyaman dan kursi harus dibuat senyaman mungkin.
10) Lingkungan harus dimodifikasi sesuai dengan kondisi lansia yang sensitif
terhadap, suara berfrekuensi tinggi atau perubahan kemampuan penglihatan.
11) Perawat harus mengkonsultasikan hasil wawancara kepada keluarga pasien
atau orang lain yang sangat mengenal pasien.
12) Memperhatikan kondisi fisik pasien pada waktu wawancara.
b. Prinsip Gerontologis untuk komunikasi
1) Menjaga agar tingkat kebisingan minimum.
2) Menjadi pendengar yang setia, sediakan waktu untuk mengobrol.
3) Menjamin alat bantu dengar yang berfungsi dengan baik.
4) Yakinkan bahwa kacamata bersih dan pas.
5) Jangan berbicara dengan keras/berteriak, bicara langsung dengan telinga yang
dapat mendengar dengan lebih baik.
6) Berdiri di depan klien.
7) Pertahankan penggunaan kalimat yang pendek dan sederhana
8) Beri kesempatan bagi klien untuk berfikir.
9) Mendorong keikutsertaan dalam aktivitas sosial seperti perkumpulan orang tua,
kegiatan rohani.
10) Berbicara pada tingkat pemahaman klien.
11) Selalu menanyakan respons, terutama ketika mengajarkan suatu tugas atau
keahlian.

21
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Teknik komunikasi yang baik akan memperbaiki outcome pasien lanjut usia
dan caregiver-nya. Bukti mengindikasikan bahwa outcome perawatan kesehatan untuk
orang tuatidak hanya tergantung pada perawatan kebutuhan biomedis tetapi juga
tergantung pada hubungan perawatan yang diciptakan melalui komunikasi yang efektif.
Dengan komunikasi yang efektif antara dokter – pasien lanjut usia :

1. Pasien dan keluarganya dapat menceritakan gejala dan masalahnya, yang akan
memungkinkan dokter untuk membuat diagnosis yang lebih akurat.

2. Instruksi dan saran dokter akan lebih mungkin untuk ditaati.

3. Kemungkinkan untuk melewatkan dosis atau menghentikan obat karena efek samping,
merasakan non efikasi, atau biaya obat dapat diminimalisir.

4. Lebih memungkinkan untuk edukasi dalam memanajemen diri sendiri seperti pada
pasien diabetes dengan diet, olah raga, monitoring gula darah, dan perawatan kaki.

5. Penurunan biaya tes diagnostik juga dihubungkan dengan komunikasi yang lebih baik
antara dokter dan pasien lanjut usia.

3.2 Saran

Perawat harus memahami tentang aplikasi terapeutik pada lansia agar


pemeriksaan pasien lansia di rumah sakit berjalan dengan lancar dan Penulis menyadari
bahwa dalam penyusunan makalah ini sangat banyak sekali kesahalan. besar harapan
kami kepada para pembaca untuk bisa memberikan kritik dan saran yang bersifat
membangun agar makalah ini menjadi lebih sempurna.

22
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth.2001.Keperawatan Medikal-Bedah edisi 8 volume 1.Jakarta : EGC


Setyohadi. I. Alwi., M. Simadibrata.,S. Setiati (editor): Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam, Jilid III, edisi IV, hal. 1425 – 1430. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
Sarfika,Rika dkk. 2018. Komunikasi Terapeutik Dalam Keperawatan. Padang : Andalas
University Press

23