Anda di halaman 1dari 3

Judul Gambaran hope pada seseorang penyandang tunarungu

wicara yang berprestasi


Penulis Lisma Pratiwi Iriani & Muhammad Syafiq
Tahun terbit 2017
Volume 4 (3)
Sumber Jurnal pendidikan psikologi

Masalah Sebagai penyandang tunarungu wicara yang tinggal di panti


asuhan, banyak permasalahan yang dihadapi yakni
keterbatasan terkait dengan proses komunikasi dan sosialisasi
serta tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari
kedua orang tua. anak tunarungu akan cenderung mengalami
masalah dalam hal mereka tidak mempunyai kemampuan
berbahasa yang wajar padahal bahasa merupakan prasyarat
dari kemampuan kognisi.
Kajian Teori Hope menurut Snyder (2002), adalah keseluruhan dari
kemampuan yang dimiliki individu untuk menghasilkan jalur
mencapai tujuan yang diinginkan, bersamaan dengan motivasi
yang dimiliki untuk menggunakan jalur-jalur tersebut. Hope
didasarkan pada harapan positif dalam pencapaian tujuan.
Snyder, Irving, & Anderson (dalam Snyder, 2000)
menyatakan hope adalah keadaan termotivasi yang positif
didasarkan pada hubungan interaktif antara agency (energi
yang mengarah pada tujuan) dan pathway (rencana untuk
mencapai tujuan). Snyder, Harris, dkk (dalam Snyder, 2000)
menjelaskan harapan sebagai sekumpulan kognitif yang
didasarkan pada hubungan timbal-balik antara agency
(penentu perilaku yang berorientasi tujuan) dan pathway
rencana untuk mencapai tujuan).
Shane (2009) mengatakan bahwa hope berisi sistem
sebuah motivasi yang menjadi cara bagi seseorang
menghargai dan mengejar hasil dari tujuan mereka ketika
sudah menguasainya ataupun tidak. Teori hope menunjukan
bahwa tujuan tidak menghasilkan kebiasaan, tetapi lebih
mengarah pada sudut pandang seseorang kepada diri mereka
sebagai seorang yang memulai dan menerapkan suatu perilaku
menuju keinginan pribadi yang bernilai dan menghasilkan respon untuk
menguasai.
Dapat disimpulkan bahwa, hope adalah proses kognitif
pada seseorang dalam keadaan termotivasi dengan yang arah
positif (agency thinking) serta adanya rencana menuju arah
tersebut (pathway thinking) untuk menciptakan suatu
mencapai tujuan yang diinginkan (goal). Sehingga perilaku
akan dimunculkan sebagai sebagai respon dari cara untuk
mendapatkan atau menguasai tujuan (goal) tersebut.
Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yakni
penelitian bentuk penelitian dimana variabel yang dipakai merupakan
pengalaman yang dialami oleh subjek penelitian misalnya
perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dll yang secara holisik
dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa,
pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan
memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong, 2012).
Peneliian ini menggunakan penelitian studi kasus.
Subjek Penyandang tunarungu wicara
Hasil dan analisis Penelitian ini mengungkap empat tema besar. Tema yang
pertama adalah tujuan dengan subtema tujuan jangka pendek,
dan tujuan jangka panjang. Tema yang kedua adalah pathway
thinking dengan subtema strategi bertahan hidup dengan
keterbatasan yang dimiliki, serta strategi mencapai impian.
Tema yang ketiga adalah agency thinking dengan subtema
meyakinkan diri akan jalur yang ditempuh dan kemampuan
bertahan mencapai tujuan. Tema keempat adalah faktor
penentu terjadinya hope. Dalam tema keempat ini mencakup
faktor-faktor apa-saja yang menentukan terbentuknya hope
yang dimiliki seorang penyandang tunarungu wicara, dengan
subtema berupa faktor penentu dan faktor penghambat dalam
mencapai tujuan.
Kesimpulan Dapat disimpulkan bahwa partisipan memiliki harapan yang
cukup tinggi dalam menjalani kehidupannya. Sebagai seorang
penyandang tunarungu wicara ia mampu memperoleh
beberapa penghargaan di bidang olah raga dan memiliki
kemampuan di bidang memasak sebagai juru masak atau chef.
Partisipan memiliki beberapa tujuan baik jangka panjang
maupun jangka pendek. Partisipan mampu
mengkombinasikan pathways yang telah disusun dengan
agency thinking yang dimilikinya untuk mencapai sebuah
tujuan (goal).

Dalam mencapai tujuannya FA mengalami hambatan


Hambatan yang dialami adalah sulit mendapatkan pekerjaan
dan tidak memiliki biaya yang banyak. Tetapi hambatan
tersebut dapat dilewati subjek karena adanya faktor
pendorong harapan. Faktor pendorong tersebut adalah
sebagian besar merupakan dorongan dari orang terdekat
seperti teman dan ibu angkat. mereka memberi motivasi dan
dukungan pada dirinya. Dukungan sosial yang dimiliki oleh
subjek membuatnya berfikir positif.

Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, maka


peneliti memberikan saran kepada pihak terkait yang dapat
dijadikan bahan pertimbangan bagi yang membutuhka

1.Peneliti

Bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti mengenai


hope pada seorang penyandang tunarungu wicara, hasil akan
lebih baik jika pengumpulan data menggunakan partisipan
dengan tipe disabilitas sebagai pembanding dengan
pengalaman yan berbeda. Hal tersebut diharapkan
memberikan data yang bervariasi mengenai gambaran hope
pada seorang penyandang disabilitas.

2.Partisipan

Bagi partisipan sebagai penyandang tunarungu wicara,


diharapkan tetap berjuang dalam mencapai tujuan.
Diharapkan pula membagi pengalamannya dan memotivasi
para penyandang tunarungu wicara, khususnya remaja atau
sebaya agar terus menjalankan ehidupannya dalam berbagai
rintangan apapun, serta dapat membuktikan bahwa para
penyandang tunarungu wicara walau dengan keterbatasan
fisik tidak menghambat mereka untuk terus bertahan hidup
dengan harapan dan tujuan yang dimiliki.

3. Masyarakat

Bagi masyarakat dan keluarga atau kerabat terdekat,


diharapkan dapat memberikan dukungan sosial dan tidak
memberikan respon negatif terhadap keberadaan seseorang
yang memiliki keterbatasan fisik termasuk penyandang
tunarungu wicara. Respon negatif terhadap penyandang
tunarungu wicara atau yang lainya akan menyebabkab minder
dan depresi yang dapat mengakibatkan kehilangan harapan.
Pentingnya dukungan sosial adalahuntuk menjadi pribadi
yang lebih percaya diri dan diterima sebagai masyarakat pada
umumnya.