Anda di halaman 1dari 2

Laporan Refleksi Kasus Komuda

Nama dan No Mhs`: Dwi Aji Kurnia Putra 20120310236

Tempat Komuda``: Rumah Sakit Jiwa Ghrasia Sleman Yogyakarta

1. Pengalaman:
Seorang pasien laki-laki berusia 41 tahun bernama bapak Wahyudi mengalami perubahan
perilaku berupa bicara ngelantur, tidak nyambung, mondar-mandir, sulit tidur, dan
menurut keluarganya pernah akan membunuh ayahnya. Sudah dirawat di RSJ selama 14
hari dan diberi obat Haloperidol 2x1,5g, Chlorpromazine 25g, trihexylphenidyl 2g, injeksi
diazepam 1 ampul. Diagnosis pasien oleh dokter adalah Skizofrenia Tak Terinci.

2. Masalah yang dikaji:


Mengapa pasien didiagnosa mengidap Skizofrenia Tak Terinci?

3. Analisa Kritis:
Skizofrenia adalah sindrom dengan variasi penyebab dan perjalanan penyakit yang luas,
serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan
sosial budaya. Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan
karakteristik dari pikiran dan presepti, serta oleh afek yang tidak wajar.
Pasien didiagnosis Skizofrenia Tak Terinci karena memenuhi kriteria umum untuk
diagnosis skizofrenia, tetapi tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis Skizofrenia
Paranoid, Hebrefrenik, atau Katatonik, dan tidak memenuhi kriteria untuk Skizofrenia
Residual atau Depresi Pasca Skizofrenia.
Adapun pedoman diagnostik untuk Skizofrenia adalah harus ada sedikitnya satu gejala
berikut yang amat jelas(dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang
tajam atau kurang jelas):
a. Thought echo, thought insertion or withdrawl, thought broadcasting
b. Delusion of control, delusion of influence, delusion of passivity, delusional
perception
c. Halusinasi auditorik
d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak
wajar dan sesuatu yang mustahil.
Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:
e. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja
f. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), uang
berakibat inhoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme
g. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah, posisi tubuh tertentu, atau
fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor
h. Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara jarang, dan respons
emosional yang menumpul atau tidak wajar.
Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu
bulan atau lebih.
Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan.
Dalam rekam medis pasien dituliskan bahwa pasien mengaku pernah bertemu nabi-nabi
di Bogor, ini termasuk dalam waham kebesaran. Pasien juga mengaku bisa
menyembuhkan orang, ini termasuk waham mejik mistik. Dalam anamnesis pasien juga
menunjukkan inkoheren dan irelevan dalam berbicara. Pasien juga mengalami halusinasi
auditorik karena mengaku sering mendengar suara-suara seperti tupai yang pasien lain
tidak dapat mendengar.
Data-data pasien inilah yang mengerucutkan diagnosis menjadi skizofrenia tak terinci
karena pasien tidak menunjukkan gejala paranoid, hebrefrenik, atau katatonik.

4. Dokumentasi:
- Pasien diantar petugas Dinas Sosial setelah 3 minggu berada di camp Dinas Sosial
- Waham kebesaran dan mejik mistik
- Komunikasi koheren-inkoheren, relevan-irevan
- Konsentrasi kurang
- Terapi Haloperidol 1,5g 1-0-1, chlorpromazine 25g 0-0-1, trihexylphenidyl 2g 1/2-0-
1/2, injeksi diazepam 1 ampul, injeksi lodomer 1/2 ampul.
- Diagnosis F20.3 Skizofrenia Tak Terinci
- Multiaksial:
I : F20.3
II :-
III : tidak ada dx
IV :jelas
V : GAF baik

5. Referensi:
Muslim, Rusdi.2013.Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III dan
DSM-5.Jakarta:Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya