Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Perencanaan merupakan proses penyusunan strategi atau intervensi keperawatan yang
dibutuhkan untuk mencegah, mengurangi dan mengatasi masalah kesehatan klien yang
mencakup beberapa prosesatau tahapan yaitu (Riasmini, 2017) :
a. Menetapkan Prioritas Masalah
b. Menyusun Tujuan Asuhan Keperawatan
c. Menyusun Intervensi Keperawatan
Penentuan prioritas masalah dalam asuhan keperawatan keluarga merupakan tahap
yang sangat penting untuk dibahas, karena dalam menentukan prioritas diagnosa
keperawatan keluarga tidak hanya mengidentifikasi 3 batasan karakteristik saja yaitu
adanya problem atau masalah, etiologi atau penyebab dan sign and symtomp atau tanda
dan gejala. Namun, dalam menentukan diagnosis prioritas keperawatan keluarga
menggunakan perhitungan skala prioritas (Kemenkes RI, 2016).
Kemampuan calon perawat dalam menganalisis data hasil pengkajian sangat
diperlukan dalam menetapkan prioritas masalah keperawatan keluarga. Keberhasilan
asuhan keperawatan keluarga merupakan salah satu tolak ukur dari keberhasilan
kesehatan masyarakat atau keperawatan di komunitas (Kemenkes RI, 2016).
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis mengambil tema “Penentuan
Diagnosis Prioritas” untuk ditelaah dalam makalah ini.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat ditemukan rumusan masalah sebagai
berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan Masalah Prioritas dalam keperawatan keluarga?
2. Apa saja kategori diagnosis keperawatan keluarga?
3. Bagaimana cara menentukan diagnosis prioritas dalam keperawatan keluarga?
1.3 TUJUAN
Tujuan disusun makalah ini adalah sebagai berikut :
1.3.1 Tujuan Umum
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas Keperawatan
Keluarga.

1
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus disusun makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui dan memahami tentang definisi masalah prioritas
2. Mengetahui dan memahami tentang kategori diagnosis prioritas
3. Mengetahui dan memahami tentang menentukan diagnosis prioritas
1.4 MANFAAT
Manfaat disusun makalah ini adalah sebagai berikut :
1.4.1 Untuk Mahasiswa
1. Menambah wawasan dan pengetahuan tentang penentuan masalah prioritas
dalam keperawatan keluarga
2. Mengembangkan kreatifitas dan bakat penulis
3. Menilai sejauh mana penulis memahami teori yang telah di telaah dan di
diskusikan bersama kelompok yang disajikan dalam bentuk makalah
4. Sebagai persyaratan dalam menyelesaikan tugas mata kuliah Keperawatan
Keluarga
1.4.2 Untuk Institusi Stikes Zainul Hasan Genggong
1. Makalah ini dapat dijadikan audit internal kualitas dosen pembimbing
2. Sebagai tambahan informasi dan bahan kepustakaan dalam pemberian materi
tentang penentuan masalah prioritas dalam keperawatan keluarga
1.4.3 Untuk Pembaca
Pembaca dapat mengetahui, memahami dan menguasai tentang penentuan
masalah prioritas dalam keperawatan keluarga.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI DIAGNOSIS PRIORITAS
Diagnosis keperawatan adalah keputusan klinik tentang semua respon individu,
keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, sebagai dasar
seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan
kewenangan perawat. Semua diagnosis keperawatan harus didukung oleh data (Widagdo,
2016).
Diagnosis keperawatan keluarga merupakan perpanjangan diri diagnosis ke sistem
keluarga dan subsistemnya serta merupakan hasil pengkajian keperawatan. Diagnosis
keperawatan keluarga termasuk masalah kesehatan aktual dan potensial dengan perawat
keluarga yang memiliki kemampuan dan mendapatkan lisensi untuk menanganinya
berdasarkan pendidikan dan pengalaman. (Friedman, 2010, p. 170)
2.2 KATEGORI DIAGNOSIS
Berikut macam-macam diagnosis keperawatan keluarga (Widagdo, 2016) :
1. Diagnosis Aktual
Kategori diagnosis keperawatan yang pertama adalah diagnosis keperawatan
aktual. Diagnosis keperawatan ini menggambarkan respon manusia terhadap kondisi
kesehatan atau proses kehidupan yang benar nyata pada individu, keluarga, dan
komunitas (Nanda, 2011 dalam Widagdo, 2016).
Diagnosis keperawatan aktual dirumuskan apabila masalah keperawatan sudah
terjadi pada keluarga. Tanda dan gejala dari masalah keperawatan sudah dapat
ditemukan oleh perawat berdasarkan hasil pengkajian keperawatan (Widagdo,
2016).
Contoh diagnosis keperawatan keluarga aktual adalah sebagai berikut
(Widagdo, 2016) :
Bp. X memiliki anak yang mengalami diare sejak semalam yaitu An. F
berumur 6 tahun. Berak cair sudah 5 kali dan muntah 2 kali, badan lemah.
Diagnosis keperawatan yang dapat dirumuskan pada keluarga Bp. X ini adalah
gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pada An. F keluarga Bp. X.
Diagnosis keperawatan keluarga tersebut merupakan tipe aktual, karena sudah
terdapat tanda dan gejala bahwa An. F sudah terjadi gangguan keseimbangan cairan
dan elektrolit (Widagdo, 2016).

3
Diagnosis keperawatan keluarga tipe aktual yang dapat dirumuskan dari kasus
di atas sebagai berikut (Widagdo, 2016) :
a. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh.
b. Gangguan pola napas.
c. Gangguan pola tidur.
d. Disfungsi proses keluarga.
e. Ketidakefektifan manajemen regimen terapeutik keluarga.
2. Diagnosis Promosi Kesehatan
Diagnosis keperawatan yang kedua adalah diagnosis promosi kesehatan yang
dapat digunakan di seluruh status kesehatan. Namun, kesiagaan individu, keluarga,
dan masyarakat untuk melakukan promosi kesehatan memengaruhi mereka untuk
mendapatkan diagnosis promosi kesehatan (Widagdo, 2016).
Kategori diagnosis keperawatan keluarga ini diangkat ketika kondisi klien dan
keluarga sudah baik dan mengarah pada kemajuan. Meskipun masih ditemukan data
yang maladaptif, tetapi klien dan keluarga sudah mempunyai motivasi untuk
memperbaiki kondisinya, maka diagnosis keperawatan promosi kesehatan ini sudah
bisa diangkat. Setiap label diagnosis promosi kesehatan diawali dengan frase:
“Kesiagaan meningkatkan”…… (Nanda, 2010 dalam (Widagdo, 2016).
Contoh diagnosis promosi kesehatan adalah sebagai berikut (Widagdo, 2016) :
Keluarga Bp. M dengan diabetes mellitus, saat pengkajian keperawatan
dilakukan identifikasi data. Data yang ditemukan adalah gula darah acak
(GDA) 120 mg/dl, Bp. M melaksanakan diet DM, tetapi Bp. M jarang berolah
raga. Bp. M kurang memahami pentingnya olah raga, meskipun sudah pernah
dilakukan penyuluhan kesehatan.
Diagnosis keperawatan keluarga yang dapat dirumuskan adalah kesiagaan
meningkatkan pengetahuan pada Bp. M. Diagnosis keperawatan tipe promosi
kesehatan diangkat, karena pada Bp. M dengan penyakit DM sudah menunjukkan
kondisi yang sudah baik, meskipun jarang berolah raga. Bp. M sudah pernah
mendapatkan penyuluhan kesehatan meskipun kurang memahami informasi tentang
pentingnya berolah raga. Pada kasus ini Bp. M masih sangat memungkinkan untuk
dapat meningkatkan pengetahuannya tentang olah raga (Widagdo, 2016).
Tipe diagnosis keperawatan keluarga promosi kesehatan yang dapat
dirumuskan dari kasus di atas adalah kesiagaan meningkatkan (Widagdo, 2016) :
a. nutrisi

4
b. komunikasi
c. pembuatan keputusan
d. pengetahuan
e. religiusitas.
3. Diagnosis Risiko
Diagnosis keperawatan ketiga adalah diagnosis keperawatan risiko, yaitu
menggambarkan respon manusia terhadap kondisi kesehatan atau proses kehidupan
yang mungkin berkembang dalam kerentanan individu, keluarga, dan komunitas
(Widagdo, 2016).
Hal ini didukung oleh faktor-faktor risiko yang berkontribusi pada
peningkatan kerentanan. Setiap label dari diagnosis risiko diawali dengan frase:
“risiko” (Nanda, 2011 dalam (Widagdo, 2016).
Contoh diagnosis risiko antara lain adalah sebagai berikut (Widagdo, 2016) :
Risiko kekurangan volume cairan, Risiko terjadinya infeksi, Risiko
intoleran aktivitas, Risiko ketidakmampuan menjadi orang tua, Risiko distres
spiritual. Kesiagaan
4. Diagnosis Kesejahteraan
Diagnosis keperawatan keluarga yang terakhir adalah diagnosis keperawatan
sejahtera. Diagnosis ini menggambarkan respon manusia terhadap level
kesejahteraan individu, keluarga, dan komunitas, yang telah memiliki kesiapan
meningkatkan status kesehatan mereka (Widagdo, 2016).
Sama halnya dengan diagnosis promosi kesehatan, maka diagnosis sejahtera
diawali dengan frase: “Kesiagaan Meningkatkan”…..(Nanda, 2011 dalam (Widagdo,
2016).
Contoh diagnosis sejahtera adalah sebagai berikut (Widagdo, 2016) :
Kesiagaan meningkatkan pengetahuan, Kesiagaan meningkatkan koping,
Kesiagaan meningkatkan koping keluarga, Kesiapan meningkatkan koping
komunitas.
2.3 CARA MENENTUKAN DIAGNOSIS PRIORITAS
Cara memprioritaskan masalah keperawatan keluarga adalah dengan menggunakan
skoring. Komponen dari prioritas masalah keperawatan keluarga adalah kriteria, bobot,
dan pembenaran (Riasmini, 2017).

5
No. Kriteria Skor Bobot
1. Sifat Masalah
Skala :
 Wellness 3
 Aktual 3
 Resiko 2 1

 Potensial 1

2. Kemungkinan masalah yang dapat diubah


Skala :
 Mudah 2
 Sebagian 1 2
 Tidak dapat 0
3. Potensi masalah untuk dicegah
Skala :
 Tinggi 3
 Cukup 2 1
 Rendah 1
4. Menonjolnya masalah
Skala :
 Segera 2
 Tidak perlu 1 1
 Tidak dirasakan 0
Cara Skoring :
1. Tentukan skor untuk setiap kriteria.
2. Skor dibagi dengan makna tertinggi dan kalikanlah dengan bobot.

Skor
X bobot
Angka Tertinggi

3. Jumlahkanlah skor untuk semua kriteria

6
2.4 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENENTUAN PRIORITAS
Skoring yang dilakukan di tiap-tiap kriteria harus diberikan pembenaran sebagai
justifikasi dari skor yang telah ditentukan oleh perawat, Justifikasi yang diberikan
berdasarkan data yang ditemukan dari klien dan keluarga.
Penentuan prioritas masalah didasarkan didasarkan dari empat kriteria yaitu
(Riasmini, 2017) :
1. Kriteria yang pertama, yaitu SIFAT MASALAH bobot yang lebih berat diberikan
pada masalah aktual karena yang pertama memerlukan tindakan segera dan
biasanya disadari dan dirasakan oleh keluarga. Kriteria sifat masalah ini dapat
ditentukan dengan melihat katagori diagnosis keperawatan. Adapun skornya
adalah, diagnosis keperawatan potensial skor 1, diagnosis keperawatan risiko skor
2, dan diagnosis keperawatan aktual dengan skor 3.
2. Kriteria yang kedua, yaitu KEMUNGKINAN MASALAH YANG DAPAT
DIUBAH. Kriteria ini dapat ditentukan dengan melihat pengetahuan, sumber daya
keluarga, sumber daya perawatan yang tersedia, dan dukungan masyarakatnya.
Kriteria kemungkinan untuk diubah ini skornya terdiri atas, mudah dengan skor 2,
sebagian dengan skor 1, dan tidak dapat dengan skor 0.
Perawat perlu memperhatikan terjangkaunya faktor-faktor sebagai berikut :
a. Pengetahuan yang ada sekarang, teknologi dan tindakan untuk menangani
masalah
b. Sumber daya keluarga dalam bentuk fisik, keuangan dan tenaga
c. Sumber daya perawat dalam bentuk pengetahuan, keterampilan dan waktu
d. Sumber daya masyarakat dalam bentuk fasilitas, organisasi dalam masyarakat
dan sokongan masyarakat
3. Kriteria yang ketiga, yaitu POTENSI MASALAH YANG DAPAT DICEGAH.
Kriteria ini dapat ditentukan dengan melihat kepelikan masalah, lamanya masalah,
dan tindakan yang sedang dilakukan. Skor dari kriteria ini terdiri atas, tinggi
dengan skor 3, cukup dengan skor 2, dan rendah dengan skor 1.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah :
a. Kepelikan dari masalah yang berhubungan dengan penyakit atau masalah.
b. Lamanya masalah yang berhubungan dengan penyakit atau masalah.
c. Tindakan yang sedang dijalankan adalah tindakan-tindakan yang tepat dalam
memperbaiki masalah

7
d. Adanya kelompok high risk atau kelompok yang sangat peka menambah
potensi untuk mecegah masalah.
4. Kriteria yang keempat, yaitu MENONJOLNYA MASALAH dimana perawat
perlu menilai persepsi atau bagaimana keluarga melihat masalah kesehatan
tersebut. Nilai skor yang tertinggi yang terlebih dahulu diberikan intervensi
keluarga.
Kriteria ini dapat ditentukan berdasarkan persepsi keluarga dalam melihat
masalah. Penilaian dari kriteria ini terdiri atas, segera dengan skor 2, tidak perlu
segera skornya 1, dan tidak dirasakan dengan skor nol 0.
2.5 CONTOH PERHITUNGAN DIAGNOSIS PRIORITAS
Prioritas di dasarkan pada diagnosis keperawatan yang mempunyai skor tertinggi
dan di susun berurutan sampai mempunyai skor terendah.Namun perawat perlu
mempertimbangkan juga persepsi keluarga terhadap masalah keperawatan mana yang
perlu di atasi segera.
Contoh 1 :
Resiko terjatuh ( terpleset ) pada lansia yang tinggal di keluarga bapak An yang
berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga menyediakan lingkungan yang aman
bagi lansia. Langkah selanjutnya yaitu perawat perlu melakukan pemberian skor dengan
menggunakan skala yang di rumuskan oleh bailon dan maglaya. Penilaian dilakukan
pada semua diagnosis keperawatan yang telah dirumuskan oleh perawat. Sesuai dengan
contoh di atas.
N Kriteria Skor Pembenaran
O
1 Sifat masalah 2 2 Bila keadaan tersebut
𝑥1 =
Skala : Ancaman kesehatan 3 3 tidak segera diatasi
akan membahayakan
lansia yang tinggal
bersama keluarga,
karena lansia setiap
hari di rumah tanpa
pengawasan.
2 Kemungkinan masalah dapat diubah 2 Penyediaan sarana
𝑥2 = 2
Skala : Mudah 2 yang murah dan

8
mudah didapat oleh
keluarga ( misalnya
sandal karet ).
3 Potensial masalah untuk dicegah 2 2 Keluaraga mempunyai
𝑥1 =
Skala : Cukup 3 3 kesibukan yang cukup
tinggi, tetapi merawat
orang tua yang telah
lansia merupakan
penghormatan dan
pengabdian anak yang
perlu dilakukan.
4 Menonjolnya masalah 0 Keluarga merasa
𝑥1 = 0
Skala : Masalah tidak dirasakan 2 keadaan tersebut telah
berlangsung lama dan
tidak pernah ada
kejadian yang
mengakibatkan lansia
mengalami suatu
cidera ( terjatuh ) di
rumah akibat lantai
yang licin.
Total skor 1
3
3

Contoh 2 :

Skoring prioritas masalah pada penderita diabetes mellitus (DM). Risiko


perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada Ibu P yang merupakan keluarga
Bapak J, berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota
keluarga yang menderita diabetes mellitus. Hal tersebut dapat kita lihat pada matriks
di bawah ini.

9
Kriteria Skor Bobot Skor Pembenaran
a. Sifat masalah: 2 1 2/3x1=2/3 Masalah nutrisi kurang dari kebutuhan
Risiko tubuh memang belum terjadi, tapi pada
Ibu P rata-rata asupan kalori kurang
dari kebutuhan tubuh, yaitu 920 kalori.
b. Kemungkinan 1 2 1/2x2= 1 Ibu P merasa makanan yang telah
masalah dapat dikonsumsi sudah cukup untuk dirinya,
diubah: sebagian meskipun Ibu P mempunyai keinginan
untuk sembuh dan ada perawat yang
memberikan informasi tentang diet
untuk penyakit kencing manis.
c. Potensial 3 1 3/3x1=1 Masalah lebih lanjut belum terjadi,
masalah untuk adanya keinginan Ibu P untuk sembuh
dicegah: tinggi serta adanya dukungan dari keluarga

d. Menonjolnya 0 1 0/2x1=0 Keluarga tidak merasakan sebagai


masalah: masalah
Masalah tidak
dirasakan
Total skor 2 2/3

10
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Diagnosis melibatkan proses menyusun informasi keluarga untuk merumuskan
masalah dan menggali tindakan yang dapat dilakukan. Maknanya: tidaklah cukup bagi
perawat bekerja dengan keluarga untuk mengamati bahwa keluarga mengalami stres
dan tidak memasukkan keluarga atau teman dalam rencana perawatannya agar
membantu. Bersama keluarga, perawat perlu menghasilkan diagnosis tentang apa yang
sebenarnya terjadi dan mengapa keluarga tidak mampu melakukan sesuatu. Jika
perawat telah mengumpulkan informasi yang memadai dan memverifikasi informasi
tersebut dengan keluarga maka diagnosis yang ditegakkan dapat dinyatakan akurat.
Diagnosis yang dibuat tersebut selanjutnya mengarahkan pada sasaran dan
intervensi yang ditujukan untuk membantu keluarga mengatasi masalah dengan lebih
efektif.
3.2 Saran
Masalah yang teridentifikasi dalam keperawatan keluarga berfokus pada
kemampuan keluarga untuk mengatasi masalah kesehatan atau lingkungan. Pada
banyak situasi, tidak ditemui penyakit medis atau kecacatan. Pada keadaan ini,
diagnosis yang sering adalah pencegahan (preventif), seperti pengurangan resiko
(modifikasi nutrisimengurangi garam, kalori, gula, dan lemak; dan mengurangi tingkat
stres); memperbaiki gaya hidup (olahraga teratur , lebih banyak istirahat dan relaksasi,
komunikasi yang lebih baik).

11
DAFTAR PUSTAKA
Friedman, M. 2010. Buku Ajar Keperawatan Keluarga: Riset, Teori & Praktik Eds 5.
Jakarta: EGC.
Riasmini, Ni Made, et al. Panduan Asuhan Keperawatan Individu, Kelompok dan Komunitas
dengan Modifikasi NANDA, ICNP, NOC dan NIC di Puskesmas dan Masyarakat.
Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).
Widagdo, Wahyu. Modul Bahan Ajar Keperawatan Keluarga dan Komunitas. Jakarta :
Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan.

12