Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

FISIKA UMUM
HUKUM ARCHIMEDES

Tanggal Pengumpulan : Minggu, 15 Oktober 2017


Tanggal Praktikum : Selasa, 10 Oktober 2017
Waktu Praktikum : 16.00-17.30 WIB

Nama : Anna Fajria


NIM : 11170161000012
Kelompok/Kloter : 4 (Empat) / I (Satu)
Nama Anggota :
1. Nurazizah (11170161000014)
2. Fathiya Rahmah A (11170161000032)
Kelas : Pendidikan Biologi 1 A

LABORATORIUM FISIKA DASAR


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2017
HUKUM ARCHIMEDES

A. Tujuan Praktikum
1. Menentukan massa jenis suatu benda.
2. Memahami konsep fluida statis dalam perkuliahan fisika umum.
3. Menentukan metode yang lebih akurat dalam mengukur massa jenis.

B. Dasar Teori
Bila sebuah benda berat yang tenggelam dalam air “ditimbang” dengan
menggantungkannya pada sebuah timbangan pegas maka timbangan menunjukkan
nilai yang lebih kecil dibandingkan jika benda ditimbang diudara. Ini disebabkan
air memberi gaya ke atas yang sebagian mengimbangi gaya berat. Gaya ini bahkan
lebih Nampak bila kita menenggelamkan sepotong gabus. Ketika terbenam
seluruhnya, gabus mengalami gaya ke atas dari tekanan air yang lebih besar dari
gaya berat, sehingga gabus muncul ke atas kea rah permukaan, dimana gabus
mengapung dengan sebagian daripadanya tenggelam. Gaya yang diberikan oleh
fluida pada benda yang tenggelam di dalamnya dinamakan gaya apung. Gaya ini
tergantung pada kerapatan fluida dan volume benda, tetapi tidak pada komposisi
pada bentuk benda, dan besarnya sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh
benda (Tipler, 1998: 394).
Ketika benda memiliki densitas yang lebih kecil daripada densitas air, benda
akan terapung. Prinsip Archimedes menyatakan:
“Ketika sebuah benda seluruhnya atau sebagian dimasukkan kedalam zat
cair, cairan akan memberikan gaya ke atas pada benda setara dengan berat
cairan yang dipindahkan benda” (Young and Freedman, 2002: 429).

Archimedes(287-212 M) telah diberi tugas untuk menentukan apakah


mahkota yang dibuat untuk Raja Hieron II adalah emas murni atau logam murah.
Masalahnya adalah kerapatan mahkota yang bentuknya tak beraturan tanpa
menghancurkannya. Menurut sejarah, Archimedes mendapatkan solusinya ketika
sedang mandi dan segera berlari-lari lewa jalan-jalan di Syracuse sambil berteriak
“Eureka” (“Saya telah menemukannya”). Apa yang ditemukan Archimedes adalah
cara yang teliti dan mudah utnuk menentukan berat jenis mahkota itu, yang
kemudian dapat ia bandingkan dengan berat jenis emas (Tipler, 1998: 394).

Archimedes harus memecahkan masalah tersebut tanpa harus merusak


mahkota raja tersebut yang berarti ia tidak boleh mencairkan mahkota tersebut
untuk kemudian dicetak menjadi bentuk yang rata agar dapat dihitung massa
jenisnya. Ketika ia sedang berendam di bak mandinya, dia menyadari bahwa
ketinggian air pada bak mandi bertambah seiring ia masuk ke dalam air. Iapun
menyadari bahwa efek ini dapat digunakan untuk menentukan volume mahkota raja
(yang kita sebut dengan hukum Archimedes). Air dianggap fluida yang tidak
mampu mampat, jadi mahkota yang dicelupkan ke air akan memindahkan volume
air sebanyak volume mahkota tersebut. Dengan membagi massa mahkota dengan
volume air yang dipindahkan maka didapatkan massa jenis mahkota (massa jenis
emas lebih berat dari perak) (Sinaga, 2016: http://www.studiobelajar.com/hukum-
archimedes/).

Besarnya gaya ke atas (gaya apung) diperoleh dari selisih antara berat
benda ketika benda di udara, dengan berat benda ketika tercelup sebagian atau
seluruhnya dalam suatu fluida .

Fluida melakukan tekanan sebesar pada bagian atas benda. Gaya


yang diakibatkan oleh tekanan pada bagian atas benda ini adalah
dan mengarah ke bawah. Dengan cara yang sama,fluida mengerjakan
gaya ke atas pada permukaan bawah benda dengan .
Resultan gaya yang diakibatkan oleh tekanan fluida sebesar

(Yaz, 2007: 233).

C. Alat dan Bahan


No Nama Alat/Bahan Jumlah Gambar
1. Neraca 4 Lengan 1

2. Gelas Beaker 1

3. Benang Nilon 1

4. Benda padat (balok dan silinder) 2


5. Jangka Sorong 1

6. Gelas Ukur 1

7. Pena 1

D. Langkah Percobaan
Percobaan I: Pengukuran Langsung Massa Jenis Balok
No Langkah Kerja Gambar
1. Ukurlah panjang, lebar dan tinggi balok pada
titik yang berbeda-beda menggunakan jangka
sorong. Lakukan pengulangan pengukuran
sampai 5 kali.
2. Ukurlah massa balok menggunakan neraca 4
lengan. Ulangi pengukuran sampai 5 kali.

Percobaan II: Pengukuran Langsung Massa Jenis Silinder


No Langkah Kerja Gambar
1. Ukurlah panjang silinder pada titik yang
berbeda-beda menggunakan jangka sorong.
Lakukan pengulangan pengukuran sampai 5
kali.

2. Ukurlah diameter silinder pada titik yang


berbeda-beda menggunakan jangka sorong.
Lakukan pengulangan pengukuran sampai 5
kali.

Percobaan III: Pengukuran Tidak Langsung Massa Jenis Balok


No Langkah Kerja Gambar
1. Mengukur massa balok menggunakan neraca
4 lengan.

2. Isilah gelas beaker dengan air secukupnya.


3. Naikkan platform neraca 4 lengan.

4. Gantungkan piringan beban di neraca 4


lengan dengan piringan beban berada di
bawah platform.

5. Letakkan gelas beaker yang telah berisi air


pada piringan neraca 4 lengan dan gantungkan
balok menggunakan benang nilon dan balok
dalam keadaan mengapung.

6. Ukur massa kubus di dalam air dan ulangi


sampai 3 kali.

Percobaan IV: Pengukuran Tidak Langsung Massa Jenis Silinder


No Langkah Kerja Gambar
1. Mengukur massa balok menggunakan neraca
4 lengan.
2. Isilah gelas beaker dengan air secukupnya.

3. Naikkan platform neraca 4 lengan.

4. Gantungkan piringan beban di neraca 4


lengan dengan piringan beban berada di
bawah platform.

5. Letakkan gelas beaker yang telah berisi air


pada piringan neraca 4 lengan dan gantungkan
silinder menggunakan benang nilon dan
silinder dalam keadaan mengapung.

6. Ukur massa kubus di dalam air dan ulangi


sampai 3 kali.

E. Data Percobaan
Percobaan I: Pengukuran Langsung Massa Jenis Balok Besi
Uji Panjang (m) Lebar (m) Tinggi (m) Massa (kg) Volume ( ) Massa Jenis Gaya Keatas
(kg/ ) (N)
1.
2.
3.
4.
5.
Rerata

Percobaan II: Pengukuran Langsung Massa Jenis Silinder Kuningan


Uji Panjang (m) Diameter (m) Massa (g) Volume ( ) Massa Jenis Gaya Keatas (N)
(kg/ )
1.
2.
3.
4.
5.
Rerata

Percobaan III: Pengukuran Tidak Langsung Massa Jenis Balok Besi


Uji Massa (kg) Massa Semu (kg) Massa Jenis (kg/ ) Gaya Keatas
1.
2.
3.
Rerata

Percobaan III: Pengukuran Tidak Langsung Massa Jenis Silinder Kuningan


Uji Massa (kg) Massa Semu (kg) Massa Jenis (kg/ ) Gaya Keatas
1.
2.
3.
Rerata
F. Pengolahan Data

 Percobaan I: Pengukuran Langsung Balok Besi


 Volume Balok Besi (

 Massa Jenis Balok Besi (


 Gaya Keatas Balok Besi (N)

 Percobaan II: Pengukuran Langsung Massa Jenis Silinder Kuningan


 Volume Silinder Kuningan (

 Massa Jenis Silinder Kuningan (

 Gaya Keatas Balok Besi (N)

N
N

 Percobaan III: Pengukuran Tidak Langsung Massa Jenis Balok Besi


 Massa Jenis Balok Besi (kg/ )

kg/

kg/

kg/

kg/
 Gaya Keatas (N)

N
N

 Percobaan IV: Pengukuran Tidak Langsung Massa Jenis Silinder Kuningan


 Massa Jenis Balok Besi (kg/ )

kg/

kg/

kg/

kg/

 Gaya Keatas (N)

N

G. Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, dapat diketahui bahwa pengukuran yang
lebih akurat pada benda yang tidak beraturan adalah pengukuran tidak langsung,
karena perbedaannya hanya sedikit dari massa sebenarnya dibandingkan
pengukuran langsung yang perbedaannya sangatlah besar.
Pada percobaan pertama, kami melakukan pengukuran panjang, lebar, dan tinggi
balok besi memakai jangka sorong. Setelah diukur, kami menghitung volumenya,
karena bentuknya kubus jadi cara mencari volumenya yaitu . Mengukur massa
jenis balok secara langsung dengan memakai neraca 4 lengan dalam pengenolan,
balok tersebut kami letakkan di wadah beban setelah itu kami hitung massanya.
Setelah itu menghitung gaya keatas dengan rumus, karena gaya keatas bertolak
belakang dengan gaya berat balok, maka gaya keatas itu nilainya negatif.
Berdasarkan data kami, setiap pengulangan volume, massa jenis, dan gaya keatas
balok memiliki perbedaan yang sangat sedikit. Di dalam data kami, terdapat 3 gaya
keatas pada balok yang sama pada pengulangannya, karena massa jenis dan
volumenya hanya berbeda angka setelah koma saja, sehingga jika nilainya
dibulatkan gaya keatasnya akan bernilai sama.
Pada percobaan kedua, kami melakukan pengukuran panjang dan diameter
silinder kuningan memakai jangka sorong. Setelah diukur, kami menghitung
volumenya, karena bentuknya seperti tabung yang dalamnya padat jadi cara
mencari volumenya yaitu . Mengukur massa silinder secara langsung sama

dengan balok tadi. Berdasarkan data kami, setiap pengulangan volume, massa jenis,
dan gaya keatas silinder juga memiliki perbedaan yang sangat sedikit. Di dalam
data kami terdapat 4 gaya keatas pada silinder yang sama pada pengulangannya.
Seperti balok, silinder juga hanya memiliki perbedaan angka setelah koma pada
volume dan massa jenisnya sehingga jika dibulatkan gaya keatasnya akan bernilai
sama.
Pada percobaan ketiga, menghitung massa jenis balok secara tidak langsung
dengan menggantungkan balok pada neraca 4 lengan dan balok itu dicelupkan
kedalam air dalam keadaan mengapung. Pada percobaan ini, kami mengalami
kesusahan dalam menggantungkan balok di neraca karena mengikatnya tidak
kencang sehingga talinya lepas dan baloknya jatuh. Rata-rata massa jenis pada
balok ini memiliki perbedaan yang sangat sedikit pada massa jenis yang ditentukan.
Pada percobaan keempat, menghitung massa jenis silinder. Pada percobaan ini
juga kami mengalami kesusahan dalam mengikat silinder karena mengikatnya tidak
ditengah-tengahnya sehingga silindernya lepas. Berdasarkan data kami, hasil rata-
rata massa jenis silinder ini juga memiliki perbedaan yang sangat sedikit pada
massa jenis yang ditentukan sehingga terbukti bahwa pengukuran tidak langsung
lebih baik dibandingkan pengukuran langsung.

H. Tugas Pasca Praktikum


1. Hitunglah presentase kesalahan dari masing-masing percobaan! Metode apakah
yang lebih akurat untuk menghitung massa jenis benda (secara langsung atau
tidak langsung)? Jelaskan!
Pengukuran Langsung:

 Balok Besi | | | |

 Silinder Kuningan | | | |

Pengukuran Tidak Langsung:

 Balok Besi | | | |

 Silinder Kuningan | | | |
Berdasarkan perhitungan diatas, terbukti bahwa metode yang lebih akurat
untuk menghitung massa jenis yaitu secara tidak langsung. Karena presentase
kesalahannya hanya sedikit sehingga memungkinkan massa benda tersebut
mendekati dengan massa sebenarnya yang sudah ditentukan.

2. Apakah fluida mempunyai hambatan? Jelaskan!


Iya. Fluida lebih mudah mengalir karena ikatan molekul dalam fluida jauh
lebih kecil daripada ikatan molekul dalam zat padat, akibatnya fluida
mempunyai hambatan yang relative kecil pada perubahan bentuk karena
gesekan. Zat padat mempertahankan suatu bentuk dan ukuran yang tetap,
sekalipun suatu gaya yang besar diberikan pada zat padat tersebut, zat padat
tidak mudah berubah bentuk maupun volumenya, sedangkan zat cair dan gas,
zat cair tidak mempertahankan bentuk yang tetap, zat cair mengikuti bentuk
wadahnya dan volumenya dapat diubah hanya jika diberikan padanya gaya
yang sangat besar (Poerboyo, 2013: eprints.undip.ac.id/41655/16/BAB_II.pdf).

3. Mengapa benda ketika jatuh ke sumur dengan mula-mula dalam keadaan cepat
atau dipercepat tetapi selanjutnya bergerak dengan kecepatan konstan?
Karena adanya pengaruh gaya gravitasi bumi. Seperti kata Galileo bahwa
benda seharusnya jatuh dengan percepatan ke bawah yang konstan dan tidak
tergantung pada beratnya. Jika efek dari udara diabaikan, semua benda yang
jatuh dari tempat tertentu, termasuk benda yang jatuh ke sumur akan
mempunyai percepatan ke bawah yang sama, tidak tergantung berat dan
ukurannya. Pengukuran yang teliti memperlihatkan bahwa perubahan
kecepatannya akan selalu sama setiap selang waktu, jadi percepatan dari benda
yang jatuh bebas adalah konstan (Young and Freedman, 2002: 46).
4. Jelaskan fenomena air laut yang tidak tercampur!
Selat Gibraltar adalah selat yang memisahkan Samudera Atlantik dengan
Laut Tengah. Nama Gibraltar sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu “Jabel
Tariq” yang berarti Gunung Tariq. Nama ini menunjukan kepada Tariq Bin
Ziyad yang berhasil menaklukkan Spanyol pada tahun 711. Fenomena alam
aneh berupa dua lautan yang tidak bercampur di Selat Gibraltar telah
mengundang keheranan sekaligus decak kagum dunia. Air laut dari Lautan
Atlantik memasuki Laut Mediterania atau laut Tengah melalui Selat Gibraltar.
Keduanya mempunyai karakteristik yang berbeda. Suhu air berbeda.
Kadar garam nya berbeda. Kerapatan air (density) airpun berbeda. Waktu
kedua air itu bertemu di Selat Gibraltar, karakter air dari masing-masing laut
tidak berubah. Dari atas ferry yang kami naiki, masih bisa terlihat dengan jelas
mana air yang berasal dari Lautan Atlantik, dan mana air yang berasal dari laut
tengah atau laut Mediterania. Kalau dipikir secara logika, pasti bercampur,
nyatanya tidak bercampur. Kedua air laut itu membutuhkan waktu lama untuk
bercampur, agar karakteristik air melebur. Penguapan air yang di Laut
Mediterania sangat besar, sedang air dari sungai yang bermuara di Laut
Mediterania berkurang sekali. Itulah sebabnya air Lautan Atlantik mengalir
deras ke Laut Mediterania.
Sifat lautan ketika bertemu, menurut modern science, tidak bisa
bercampur satu sama lain. Hal ini telah dijelaskan oleh para ahli kelautan.
Dikarenakan adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah
kedua air dari lautan tidak becampur satu sama lain, seolah terdapat dinding
tipis yang memisahkan mereka.
Hal ini sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an:
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu.
Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.”
(Q.S. Ar-Rahman:19-20).
“Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan);
yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan
antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.”
(Q.S. Al-Furqaan:53).
Penjelasan secara fisika modern baru ada di abad 20 M oleh ahli-ahli
Oceanografi. Firman di Al Quran itu diturunkan di abad ke 7 M, empat belas
abad yang lalu (Erlina, 2016: http://kesiniaja.com/peristiwa/mengupas-misteri-
2-laut-yang-berdampingan-namun-tak-menyatu/).

5. Sebuah balok kayu dengan massa jenisnya 800 kg/ mengapung pada
permukaan air. Jika selembar aluminium (massa jenis 2700 kg/ bermassa 54
gram dikaitkan pada balok itu, sistem akan bergerak kebawah dan akhirnya
melayang di dalam air. Berapa volume balok kayu itu?
Diketahui: ⁄ ⁄
⁄ ⁄

Ditanya: …?
Jawab:

Keterangan:
I. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Pada proses mengukur massa jenis benda secara langsung dan tidak
langsung, ternyata benar bahwa pengukuran secara tidak langsung lebih
baik dan lebih akurat.
2. Terbukti bahwa tekanan keatas pada permukaan bawah benda yang
dimasukkan ke dalam air lebih besar daripada tekanan kebawah pada
permukaan atasnya.
3. Dalam keadaan setimbang, gaya keatas (gaya apung) pada benda
mempunyai besar yang hampir sama dengan berat bendanya.

J. Kritik dan Saran


1. Hendaknya sebelum praktikum harus memahami materi hukum
Archimedes.
2. Hendaknya praktikan lebih teliti dalam menghitung massa pada neraca dan
menggeser lengan beban lebih baik menggunakan pena. Karena jika
menggunakan tangan akan berpengaruh dalam menghitung massa benda.

K. Daftar Pustaka

Erlina, Astri. 2016. Mengupas Fenomena 2 Laut Berdampingan yang Airnya Tidak
Menyatu. Diambil dari: http://kesiniaja.com/peristiwa/mengupas-misteri-2-
laut-yang-berdampingan-namun-tak-menyatu/. (13 Oktober 2017 pukul
08.44 WIB).

Poerboyo, S. 2013. Fluida. Diambil dari: eprints.undip.ac.id/41655/16/BAB_II.pdf.


(13 Oktober 2017 pukul 07.59 WIB).

Sinaga, Dian. 2016. Bunyi Hukum Archimedes dan Penerapannya. Diambil dari:
http://www.studiobelajar.com/hukum-archimedes/. (13 Oktober 2017 pukul
07.32 WIB).
Tipler, Paul A. 1998. Fisika untuk Sains dan Teknik. Jakarta: Erlangga.
Yaz, M. Ali. 2007. Fisika SMA kelas XI. Jakarta: Yudhistira.
Young, Hugh D. and Roger A. Freedman. 2002. Fisika Universitas. Jakarta:
Erlangga.
LAMPIRAN