Anda di halaman 1dari 21

ILMU PENYAKIT VIRAL

AFRICAN SWINE FEVER

Disusun oleh :

Martin Pedro Krisenda Resman 1709511053


An’nisafitri Lutviana 1709511054
Aditya Pratanto 1709511055
I Gusti Ayu Mirah Afsari Dewi 1709511056
Berliani Susi Ester Natara 1709511057
Gede Wiyasa Ardy Nugraha 1709511058
I Komang Wira Kusuma Maha Arta 1709511059
Elma Alianca Guterres Martins 1709511130

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS UDAYANA

2019
KATA PENGHANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan paper yang berjudul “African
Swine Fever”. Kami sangat berharap paper ini dapat bermanfaat dalam rangka
menambah pengetahuan juga wawasan.
Kami menyadari bahwa di dalam paper ini masih terdapat banyak
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami mengharapkan
adanya kritik dan saran demi perbaikan paper yang kami buat di masa yang akan
datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Denpasar, 8 Oktober 2019

Penyusun
Kelompok B3

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i


KATA PENGHANTAR........................................................................................ ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ iv

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................... 1
1.3 Tujuan ............................................................................................................ 1

BAB 2. PEMBAHASAN
2.1 Etiologi Arican Swine Fever ........................................................................... 3
2.2 Epidemiologi Arican Swine Fever .................................................................. 4
2.3 Patogenesis ..................................................................................................... 5
2.4 Gejala Klinis ................................................................................................... 6
2.5 Histopatologis ................................................................................................ 7
2.6 Diagnosa African Swine Fever ...................................................................... 10
2.7 Pengobatan ..................................................................................................... 12
2.8 Pencegahan ..................................................................................................... 12

BAB 3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 12

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 13

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Morfologi Virus ASF ........................................................................... 4

Gambar 2a. Limpa yang menunjukkan adanya deplesi lymphoid, haemorrhagic,

dan edema .............................................................................................................. 7

Gambar 2b. Nekrosis hati yang menunjukkan adanya kehilangan sel,

perivascular diikat dan terjadi degenerasi limfosit dalam pembuluh darah. .......... 8

Gambar 2c. Hilangnya agregasi folikel dari kelenjar getah bening sternum pada
lapisan kortikal yang terkait dengan edema parah ................................................ 8

Gambar 2d. Paru-paru menunjukkan area edema parah dan kehilangan bahan
seluler .................................................................................................................... 8

Gambar 2e. Ginjal menunjukkan kehilangan renal glomeruli (panah hitam) ....... 9

Gambar 3a. Limpa menunjukkan virus ASF dengan bentuk icosahedral

(TEM mag. X 60.000) .......................................................................................... 9

Gambar 3b. ASF virus di dalam Limpa dengan perkiraan ukuran 175 nm

(TEM mag. X 60.000) ............................................................................................ 9

Gambar 3c. Limpa menunjukkan adanya virus ASF yang berbentuk

icosahedral (TEM mag. X 70.000) ........................................................................ 10

Gambar 3d. Virus ASF pada Limpa diperkirakan berukuran 170 x 92 nm

(TEM mag. X 70.000) ........................................................................................... 10

Gambar 4. Bentuk Virus dari African Swine Fever Virus ............................................ 12

iv
v
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

African swine fever (ASF) adalah penyakit menyebabkan kematian yang


tinggi pada babi domestik sementara tidak menunjukkan gejala pada host
reservoir. Penyakit ini menyebabkan kerugian ekonomi yang drastis. Metode
pengendalian penyakit yang dapat dilakukan adalah karantina area yang terkena
dampak dan pembantaian hewan yang terinfeksi. ASF disebabkan oleh virus ASF
(ASFV), virus DNA untai ganda dengan struktur molekul yang kompleks. Virus
ini termasuk dalam family Asfarviridae dan ditularkan oleh arthropoda yaitu kutu
lunak dari genus Ornithodoros.

Penyakit ini pertama kali diidentifikasi di Kenya pada 1920-an. Kemudian,


menyebar ke Eropa dan kemudian ke Amerika Selatan dan Karibia. Pada tahun
1990-an penyakit ini sampat hilang di Eropa karena program pemberantasan yang
ketat. Namun, pada 2007 penyakit ASF menyebar lagi keluar dari Afrika ke
Kaukasus, khususnya Georgia, dan pada 2014 penyakit itu mencapai wilayah
timur Uni Eropa.

1.2 Rumusan Masalah


a. Bagaimana etiologi dari penyakit African Swine Fever?
b. Bagaimana epidemiologi dari penyakit African Swine Fever?
c. Bagaimana patogenesis dari penyakit African Swine Fever?
d. Bagaimana gejala klinis dari penyakit African Swine Fever?
e. Bagaimana gambaran patologis dari penyakit African Swine Fever?
f. Bagaimana diagnosa dari penyakit African Swine Fever?
g. Bagaimana pencegahan dan pengobatan dari penyakit African Swine
Fever?

1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui bagaimana etiologi dari penyakit African Swine Fever

1
b. Untuk mengetahui epidemiologi dari penyakit African Swine Fever
c. Untuk mengetahui patogenesis dari penyakit African Swine Fever
d. Untuk mengetahui gejala klinis dari penyakit African Swine Fever
e. Untuk mengetahui gambaran patologis dari penyakit African Swine Fever
f. Untuk mengetahui diagnosa dari penyakit African Swine Fever
g. Untuk mengetahui pencegahan dan pengobatan dari penyakit African
Swine Fever

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 ETIOLOGI ARICAN SWINE FEVER


African swine fever disebabkan oleh african swine fever virus (ASFV). Agen
kausatif dari asf adalah unik, beramplop, DNA arbovirus beruntai ganda, yang
merupakan satu-satunya anggota keluarga asfarviridae. Meskipun secara umum
dianggap bahwa hanya ada satu serotipe virus asf, penelitian terbaru melaporkan
klasifikasi 32 isolat asfv dalam delapan serogrup berbeda berdasarkan uji
penghambatan hemadsorpsi. Namun, karakterisasi genetik dari semua isolat virus
ASF yang diketahui sejauh ini telah menunjukkan 23 genotipe yang terkait secara
geografis dengan banyak subkelompok, menggambarkan kompleksitas
epidemiologi asf. Banyak ditemukan jenis genotipe dari alam liar di Afrika.
Beberapa jenis virus asf ini juga terjadi di babi yang didomestikasi. Isolat ASFV
sangat berbeda pada tingkat virulensinya, dari yang sangat patogen yang dapat
membunuh banyak babi sampai strain yang hanya menghasilkan serokonversi.

Gambar 1. Morfologi Virus ASF

3
2.2 EPIDEMIOLOGI ARICAN SWINE FEVER

2.2.1 Spesies Rentan


Bangsa Babi merupakan spesies yang rentan terhadap African Swine Fever
(ASF). Beberapa dari spesies tersebut dapat menimbulkan gejala klinis dan
sub klinis. Warthogs dianggap sebagai reservoir satwa liar utama untuk virus
di Afrika.

2.2.2 Cara Penularan

African Swine Fever dapat ditularkan melalui vektor atau tanpa vektor
sebagai perantara. Babi domestik dapat melepaskan ASFV dalam ekskresi dan
sekresi melalui cairan oronasal, urin, dan feses. Penumpahan virus dapat
dimulai 2 hari sebelum timbulnya tanda-tanda klinis. Sebagian besar virus ini
terdapat di dalam darah, dapat ditularkan pada saat dilakukan nekropsi,
perkelahian babi, dan ketika babi mengalami diare berdarah.

ASFV dapat masuk kedalam tubuh melalui berbagai selaput lendir setelah
kontak langsung (non-tickborne) dengan babi yang terinfeksi atau lingkungan.
Hewan juga dapat terinfeksi melalui inhalasi dan pakan. ASFV dapat bertahan
di dalam jaringan, dapat tertular jika diberikan makanan babi yang mentah
yang mengandung jaringan hewan yang terinfeksi.

Penularan yang diperantai vektor terjadi melalui gigitan beberapa anggota


genus kutu lunak Ornithodoros. Siklus ini melibatkan inang alami ASFV,
yaitu babi hutan yang bertindak sebagai vektor biologis. Babi hutan terinfeksi
oleh gigitan Ornithodoros selama 6-8 minggu, kemudian mengembangkan
viraemia yang cukup untuk menginfeksi kutu lain. Setelah periode singkat,
ketika virus terdapat didalam aliran darah mereka (2-3 minggu), babi dapat
pulih dan tidak menunjukkan gekala klinis. Di daerah endemis, babi hutan
kurang lebih memiliki antibodi terhadap ASFV. Virus ini dapat dipulihkan
oleh kelenjar getah bening babi hutan. Serangga penghisap darah lainnya

4
seperti nyamuk dan lalat dapat menularkan ASFV secara mekanis. ASFV
ditemukan pada kutu babi (Haematopinus suis) yang terinfeksi secara
eksperimental.

2.3 PATOGENESIS
Pada umumnya, virus ASF masuk ke dalam tubuh babi melalui dua cara,
yakni : pertama, secara langsung melalui mulut dan hidung; dan yang kedua
melalui rute lain seperti kulit, subkutan dan melalui gigitan kutu.

Berikut adalah proses pathogenesis yang melalui gigitan kutu. African


swine fever virus (ASFV) diperiksa dalam kutu nimfa yang terinfeksi dengan
isolat ASFV Chiredzi /83/1. Kadang-kadang pasca infeksi mulai dari 6 jam
hingga 290 hari, kutu atau jaringan kutu yang dibedah prosedur untuk virus
dan diperiksa secara ultrastruktur untuk mencari bukti replikasi virus. Tingkat
infeksi ASFV pada kutu adalah 100% dalam percobaan ini, dan infeksi virus
tidak terkait dengan peningkatan yang signifikan pada kematian kutu.
Replikasi ASFV awal terjadi pada sel-sel pencernaan fagositik epitel midgut.
Infeksi dan replikasi ASFV selanjutnya dalam sel midgut yang tidak
berdiferensiasi diamati pada 15 hari. Generalisasi infeksi virus dari midgut ke
jaringan kutu lainnya membutuhkan 2 hingga 3 minggu dan kemungkinan
besar melibatkan pergerakan virus melintasi lamina basal midgut ke dalam
hemocoel. Situs sekunder replikasi virus termasuk hemosit (tipe I dan II),
jaringan ikat, kelenjar coxal, kelenjar saliva, dan jaringan reproduksi.
Replikasi virus tidak diamati pada jaringan saraf synganglion, tubulus
Malpighian, dan otot. Infeksi persisten, ditandai dengan replikasi virus aktif,
diamati untuk semua jaringan kutu yang terlibat. Setelah 91 hari, titer virus di
kelenjar ludah dan jaringan reproduksi secara konsisten paling tinggi
terdeteksi. Penularan centang untuk babi, Virus ASF yang sukses pada 48 hari
berkorelasi dengan titer virus yang tinggi dalam jaringan kelenjar saliva, coxal
dan sekresi mereka. Pola serupa dari infeksi virus dan persistensi pada babi
diamati untuk tiga isolat kutu virus ASF tambahan dalam kutu terkait.

5
Penyebaran virus ASF ke berbagai daerah, biasanya disebabkan oleh
beberapa hal, satu diantaranya : sebagai akibat dari daging babi yang tidak
dimasak dan menjadi limbah. Sehingga, bila terbawa kapal atau pesawat maka
akan menyebar ke daerah lain. Pada tahap berikutnya, bila babi-babi yan sehat
melakukan kontak langsung dengan babi-babi yang sakit, maka pada saat itu
lah virus ASF disebarkan ke hewan-hean lain

2.4 GEJALA KLINIS

African Swine Fever dapat muncul sebagai penyakit perakut, akut,


subakut, atau kronis, dan beberapa hewan mungkin mengalaminya tanpa
menjadi sakit. Perjalanan penyakit umumnya berkorelasi dengan virulensi
virus, meskipun virus tersebut dapat menyebabkan lebih dari satu bentuk
penyakit. Kematian mendadak dengan beberapa lesi (kasus peracute)
merupakan tanda pertama infeksi. Kasus akut ditandai dengan demam tinggi,
anoreksia, lesu, dan lemas. Eritema ( kemerahan) dapat terlihat, dan paling
terlihat pada babi putih. Beberapa babi mengalami cyanotic terutama pada
telinga, ekor, dan kaki. Babi juga dapat mengalami diare, sembelit atau
muntah dan menunjukkan tanda-tanda sakit perut . Diare awalnya berlendir
dan kemudian bisa berdarah. Mungkin juga ada tanda-tanda hemoragi
lainnya, termasuk epistaksis dan perdarahan pada kulit. Tanda-tanda
pernapasan (termasuk dispnea), hidung dan konjungtiva, dan tanda-tanda
neurologis telah dilaporkan. Hewan hamil sering mengalami abortus.
Leukopenia dan trombositopenia dengan berbagai tingkat keparahan dapat
dideteksi dalam tes laboratorium. Kematian sering terjadi dalam 7-10 hari.

African Swine Fever subakut berupa demam, trombositopenia dan


leukopenia yang bersifat sementara.Namun, perdarahan dapat terjadi selama
periode trombositopenia. Aborsi terkadang merupakan tanda pertama infeksi
dalam bentuk ini. Babi yang terkena biasanya mati atau pulih dalam 3 hingga

6
4 minggu. Lesi ptekie dan sianotik telah dilaporkan pada beberapa hewan
yang pulih.

Pada bentuk kronis tampak tanda-tanda tidak spesifik seperti demam


intermiten, kehilangan nafsu makan dan depresi. Tanda-tanda lain yaitu
anoreksia ,tetapi beberapa babi mengalami masalah pernapasan dan
pembengkakan persendian . Batuk biasa terjadi, dan diare serta muntah
sesekali telah dilaporkan. Ulcer dan kemerahan atau nekrosis pada kulit dapat
muncul pada tubuh dan area lain yang mengalami trauma. African Swine
Fever kronis dapat berakibat fatal.

2.5 Histopatologis
Pada kasus asf ini secara histopatologi terjadi degenerasi jaringan yang
parah (nekrosis) dan gangguan sirkulasi seperti edema, perdarahan hebat dan
infark yang diamati di semua jaringan. Sebagian llimpa nekrosis diikuti
dengan infiltrasi pembuluh darah dan dikelilingi oleh degenerasi limfosit (gbr.
2a-e). Temuan ini terlihat di semua sampel yang dikumpulkan. Partikel virus
pada limpa berbentuk icosahedral yang berukuran antara 169-206 nm oleh em
ditunjukkan pada gambar 3a-d.

Gambar 2a. Limpa yang menunjukkan adanya deplesi lymphoid,


haemorrhagic, dan edema (ditunjukkan dengan warna putih, kuning, dan
hitam).

7
Gambar 2b. Gambar 2b. Nekrosis hati yang menunjukkan adanya
kehilangan sel, perivascular diikat dan terjadi degenerasi limfosit dalam
pembuluh darah.

Gambar 2c. hilangnya agregasi folikel dari kelenjar getah bening sternum
(panah putih) pada lapisan kortikal yang terkait dengan edema parah (panah
hitam).
Gambar 2d. Paru-paru menunjukkan area edema parah dan kehilangan
bahan seluler (panah putih dan hitam).

8
Gambar 2e. Ginjal menunjukkan kehilangan renal glomeruli (panah
hitam).

Gambar 3a. Limpa menunjukkan virus ASF dengan bentuk icosahedral


(TEM mag. X 60.000).
Gambar 3b. ASF virus di dalam Limpa dengan perkiraan ukuran 175 nm
(TEM mag. X 60.000).

9
Gambar 3c. Limpa menunjukkan adanya virus ASF yang berbentuk
icosahedral (TEM mag. X 70.000).
Gambar 3d. Virus ASF pada Limpa diperkirakan berukuran 170 x 92 nm
(TEM mag. X 70.000).

2.6 DIAGNOSA ARICAN SWINE FEVER

African swine fever dapat didiagnosis dengan virus isolasi. Virus ini bisa
dideteksi dalam darah dari kehidupan hewan atau jaringan (terutama limpa,
ginjal, amandel dan kelenjar getah bening) dikumpulkan pada nekropsi. ASFV
tidak ditemukan di janin yang gagal; dalam kasus aborsi, sampel darah
seharusnya dikumpulkan dari bendungan jenis sel yang digunakan untuk virus
isolasi termasuk babi leukosit atau sumsum tulang belakang,makrofag alveolar
porselen dan kultur monosit darah. Salah satu studi baru-baru ini
menggunakan sel MARC-1. Sel yang terinfeksi ASFV dapat dideteksi oleh
mereka kemampuan untuk menginduksi hemadsorpsi eritrosit babi ke organ

10
permukaan. Beberapa isolat nonhegisorbing bisa dilewatkan dengan tes ini;
Sebagian besar virus ini avirulen, tapi beberapa menghasilkan penyakit akut
dan simtomatik. PCR atau immunofluorescence juga bisa digunakan untuk
mendeteksi virus, dan PCR dapat digunakan untuk mengkonfirmasi
identitasnya.

PCR sering digunakan untuk mendeteksi asam nukleat ASFV di Indonesia


sampel klinis Hal ini dapat digunakan dengan putrefied sampel, yang tidak
sesuai untuk isolasi virus dan deteksi antigen, serta dengan jaringan segar atau
darah. Satu studi melaporkan bahwa, setelah kematian, tingkat DNA virus
paling tinggi di limpa, dan bertahan lama dalam hal ini tisu. Ada juga laporan
yang dipublikasikan yang menjelaskan penggunaan PCR dengan kerak
amandel dari hidup, eksperimental hewan yang terinfeksi, serta darah atau
penyeka hidung. Tes kurang sensitif pada infeksi subakut atau kronis hewan.
Tes "autorosette" hemadsorpsi juga bisa terjadi. Digunakan untuk mendeteksi
ASFV secara langsung pada darah tepi leukosit; Namun, tes ini sebagian besar
telah diganti oleh PCR, yang lebih mudah dievaluasi. Serologi mungkin
berguna, terutama pada endemik daerah. Babi dengan penyakit akut sering
mati sebelum berkembang antibodi; Namun, antibodi terhadap ASFV bertahan
lama periode pada hewan yang bertahan.

Banyak tes serologis telah dikembangkan untuk diagnosis demam babi


Afrika, namun hanya sedikit yang telah distandarisasi untuk penggunaan rutin
laboratorium diagnostik Tes yang saat ini digunakan meliputi ELISA,
immunoblotting dan indirect fluorescents antibody (IFA). ELISA ditentukan
untuk perdagangan internasional, dan umumnya dikonfirmasi oleh
immunoblotting (walaupun IFA juga bisa digunakan).

11
Gambar 4. Bentuk virus dari African swine fever virus

2.7 PENGOBATAN

Tidak ada pengobatan untuk demam babi Afrika, selain perawatan


suportif.

2.8 PENCEGAHAN

Tindakan keamanan hayati (Pagar, akses pengunjung terbatas, kebersihan


yang baik, desinfeksi alas kaki atau penggunaan alas kaki khusus, ternak
tertutup, karantina hewan baru) membantu mencegah masuknya virus ke
peternakan. Pemisahan kawanan dari suid liar, lingkungan dan bangkainya,
serta langkah-langkah untuk mencegah transportasi manusia yang tidak
sengaja dari ASFV, harus dipertimbangkan. Di masa lalu, banyak negara
bebas ASFV menggunakan perlakuan panas untuk menonaktifkan virus pada
babi dan mencegah masuknya ASFV. Karena risiko ini dan virus lain
mungkin tidak sepenuhnya dinonaktifkan (misalnya, jika bagian dari swill
tidak mencapai suhu target), beberapa negara telah sepenuhnya melarang
pemberian makan swill ke babi. Di daerah-daerah di mana hal ini tidak
memungkinkan, beberapa sumber merekomendasikan untuk merebus swill

12
setidaknya selama 30 menit, dengan pengadukan yang sering atau terus
menerus. Dinding kokoh tanpa retak dianggap sebagai bahan bangunan yang
optimal untuk mencegah pembentukan kutu Ornithodoros dan memfasilitasi
kontrol. Acaricides umumnya tidak efektif di mana kayu, batu, tanah atau
dinding / pagar logam yang tumpang tindih menyediakan tempat
persembunyian untuk kutu ini.

Beberapa daerah telah berhasil memberantas wabah demam babi Afrika


dengan langkah-langkah standar pemberantasan (Penyembelihan hewan yang
terinfeksi dan bersentuhan, sanitasi, desinfeksi, kontrol gerakan dan
karantina), tetapi langkah-langkah yang lebih kompleks diperlukan di
beberapa daerah. Di Semenanjung Iberia, ASFV menjadi mapan di babi
hutan dan kutu Ornithodoros erraticus pada 1960-an, dan pemberantasan total
memakan waktu puluhan tahun. Anak babi dengan kutu yang terinfeksi
dihancurkan atau diisolasi sebagai bagian dari kampanye ini. Regulasi saat ini
di UE memungkinkan peternakan babi untuk dikosongkan kembali segera
setelah 40 hari setelah pembersihan dan desinfeksi, jika wabah demam babi
di Afrika terjadi tanpa vektor, tetapi karantina minimum adalah 6 tahun jika
vektor dianggap terlibat dalam transmisi. Langkah-langkah pengendalian saat
ini di babi hutan terutama berfokus pada pengurangan jumlah mereka, karena
kepadatan populasi yang lebih tinggi dianggap memfasilitasi pemeliharaan
virus, dan berusaha untuk mencegah pergerakan hewan yang terinfeksi. Pihak
berwenang di Republik Ceko rupanya mengendalikan satu fokus infeksi pada
babi hutan dengan langkah-langkah intensif termasuk pagar, perangkap dan
perburuan yang ditargetkan. Langkah-langkah biosekuriti untuk mengurangi
risiko mengangkut ASFV selama berburu (mis., Penggunaan kapal anti bocor
untuk menghilangkan bangkai dan jeroan, batasan kendaraan di daerah yang
terinfeksi, tindakan pencegahan untuk membersihkan dan mendisinfeksi alat)
telah direkomendasikan. Pemberantasan ASFV dari beberapa reservoir liar di
Afrika, seperti babi hutan, tampaknya tidak mungkin. Namun, kompartemen
di mana demam babi Afrika dikendalikan dan penghalang (pagar ganda)

13
mencegah kontak dengan reservoir liar telah didirikan di beberapa bagian
Afrika di mana pengenalan yang dimediasi oleh warthog menjadi perhatian.

14
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

African swine fever (ASF) adalah penyakit menyebabkan kematian yang


tinggi pada babi domestik sementara tidak menunjukkan gejala pada host
reservoir. African swine fever disebabkan oleh african swine fever virus
(ASFV). Agen kausatif dari asf adalah unik, beramplop, DNA arbovirus
beruntai ganda, yang merupakan satu-satunya anggota keluarga asfarviridae.

Penyakit yang menimbulkan kerugian ekonomi yang drastis ini hanya


dapat dicegah karena belum ditemukan obat yang efektis untuk menyebuhkan
penyakit African Swine Fever.

15
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2019. African Swine Fever. Institut for Internasional Cooperation in


Animal Biologics.

AR, Jambalang, A. Benjamin, et al. 2017. Detection of African Swine Fever Virus
by Histopathology and Transmission Electron Microscopy. National
Veterinary Research Institute Vom. Vol 35 (4) 1078-1083.

Ma Carmen Gallardo, Ana de la Torre Reoyo, Jovita Fernández-Pinero, Irene


Iglesias, Ma Jesus Muñoz. (2015). African swine fever: a global view of the.
Porcine Health Management, 4-5.

S. B. Kleiboeker, T. G. (1998). African Swine Fever Virus Infection in the


Argasid Host, Ornithodoros porcinus porcinu. Journal of American Society
for Microbiology.

World Organisation for Animal Health. 2012.Manual of Diagnostic Tests and


Vaccines for Terrestrial Animals. Paris.

16