Anda di halaman 1dari 19

Hari/Tanggal : Senin, 28 Oktober 2019

Dosen Pembimbing : Aziiz Mardanarian Rosdianto,


S.Kep., Ns., MHKes., M.Si., AIF
Kelompok Praktikum : 5 dan 6

LAPORAN FARMAKOLOGI VETERINER II


STIMULAN SISTEM SYARAF PUSAT (SSP)
Anggota kelompok : Tanda tangan
Nadila Rahmadhani 130210160004 ……………..
Muhammad Farkhan S. 130210170002 ……………..
Rafika Guci 130210170013 ……………..
Utari Tyastaningrum A. 130210170016 ……………..
Aisyah Hafizhah N. 130210170027 ……………..
Madhani Pradipta 130210170029 ……………..
Dinda Purnomo Putri 130210170031 ……………..
Haifa Maziyyah 130210170034 ……………..
Cahya Alamsyah P. A. 130210170039 ……………..
Utari Dwi Putri 130210170040 ……………..
Vinne Chandra Sentosa 130210170041 ……………..
Khairunnisa Lazuardini 130210170046 ……………..

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2019
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Dasar Teori
Kafein, nikotin, dan alkohol adalah salah satu obat yang paling
umum digunakan di seluruh dunia (Eisendrath, 2002). Kafein merupakan
salah satu senyawa ksantin, selain teofilin dan teobromin (Boushey,
2001). Kafein dan teofilin memiliki efek yang poten pada sistem saraf
pusat, sedangkan teobromin efeknya relatif kecil. Kafein dan teofilin
bekerja pada ginjal sebagai diuretik, menstimulasi otot jantung dan
relaksasi otot polos (Witters dan Witters, 1983). Kafein atau biasa disebut
tein, berbentuk kristal putih yang larut dalam air, berwarna putih, agak
pahit, yang tersedia dalam ampul 2 mL mengandung 500 mg untuk
suntikan IM, dan kafein sitrat yang terdapat dalam bentuk tablet 60 dan
120 mg untuk pemakaian oral (Farmakologi dan Terapi, 2008). Bila
terlalu banyak mengkonsumsi kafein akan menyebabkan gangguan tidur
dan detak jantung (Kristen dan Hollister, 2000). Secara farmakologis
kafein memiliki kemampuan mensekresi asam lambung, meningkatkan
ketahanan vaskularisasi cerebral, menstimulir sistem syaraf pusat,
mendilatasi pembuluh darah perifer, output jantung dan stroke volume,
meningkatkan kapasitas kerja otot skelet, diuresis sedang, serta
mengakibatkan relaksasi otot polos bronchi (Bukowsky dan Nakatsu,
1987). Kafein dapat menurunkan aktivitas DNA polimerase dan
menghambat aktivitas fosfodiesterase pada tingkat seluler (Wijayanto et
al, 2007). Kafein bersifat ergogenik pada sistem saraf pusat melaui neural
aktivasi pada kontaksi otot yang mengatur pemecahan glikogen
(glicogenolisis) serta efek metabolik dengan menigkatkan oksidasi
karbohidrat (Graham, 2000). Efek utama kafein adalah sebagai
perangsang susunan saraf pusat, yang dimana mekanisme kerjanya
adalah dengan menghalangi efek neuromodulator adenosine sehingga
kafein dapat dikatakan sebagai antagonis reseptor adenosine. Selain itu,
kafein merangsang sekresi serotonin pada cortex cerebri dan cerebellum.
Jika diberi dosis tinggi, kafein dapat menginduksi efek berupa stress pada
pituitary adrenal axis, dan dapat menyebabkan vasodilatasi pembuluh
darah cerebri (Spiller, 1998). Berikut merupakan cara kerja kafein:

Striknin merupakan alkaloid utama dalam nux vomica, biji tanaman


Strychnos nux vomica.

(Gambar.1 Struktur Kimia Striknin)

Striknin bekerja dengan cara mengadakan antagonisme


kompetitif terhadap transmitor penghambatan yaitu glisin di daerah
penghambatan pascasinaps. Obat ini merupakan konvulsan kuat dengan
sifat kejang yang khas. Pada hewan coba konvulsi ini berupa ekstensi
tonik dari badan dan semua anggota gerak dan dapat merangsang medula
spinalis secara langsung. Konvulsi seperti ini juga terjadi pada hewan
yang hanya mempunyai medulla spinalis. Sehingga berdasarkan kerjanya
pada medulla spinalis dan konvulsinya disebut konvulsi spinal
(Sunaryo,1995). Striknin tidak bermanfaat untuk terapi, tetapi untuk
menjelaskan fisiologi dan farmakologi susunan saraf. Obat ini
menduduki tempat utama diantara obat yang bekerja secara sentral
(Remington, 2005). Gejala keracunan striknin yang mula-mula timbul
ialah kaku otot muka dan leher. Setiap rangsangan sensorik dapat
menimbulkan gerakan motorik hebat. Kejang ini terjadi berulang,
frekuensi dan hebatnya kejang bertambah dengan adanya perangsangan
sensorik. Kontraksi otot ini menimbulkan nyeri hebat hingga kematian
karena kontraksi otot yang berlebihan yang menyebabkan tekanan darah
tidak terkontrol yang mempengaruhi sistem sirkulasi dan akhirnya
mengganggu saluran respirasi yang menimbulkan frekuensi nafas yang
tidak sesuai dengan frekuensi detak jantung yang meningkat (takikardia)
akibatnya akan terjadi kekurangan oksigen (hipoksia) dan kekakuan pada
otot (Sunaryo,1995).
Stimulan sistem saraf pusat (SSP) adalah obat yang dapat
merangsang serebrum, medulla, dan sumsung tulang belakang. Stimulasi
daerah korteks otak bagian anterior oleh senyawa stimulant SSP akan
berdampak pada peningkatan kewaspadaan, mengurangi ’stres’ atau
tekanan pada pikiran, serta peningkatan semangat. Obat ini dapat
membantu meningkatkan aktivitas motorik dan kesadaran. Obat
stimulant saraf dapat meningkatkan aktivitas motorik dan kesadaran.
Obat stimulant saraf pusat dibagi menjadi tiga, yaitu stimulant cortex
cerebri, stimulant medulla oblongata, dan medulla spinalis.
Obat stimulansia medulla oblongata dapat menyebabkan hiperaktivis
(hipereksitasi), peningkatan frekuensi pernapasan dan jantung, hingga
tremor yang disertai konvulsi. Konvulsi yang timbul bersifat spontan
(tanpa rangsangan), asimetris, dan klonis. Contoh stimulansia medulla ob
longata yaitu cardiazol. Cardiazol (dikenal juga dengan nama lain:
Pentylenetetrazol atau PTZ) adalah obat yang digunakan pada sistem
peredaran darah, juga sebagai stimulan pernapasan. Penggunaaan
cardiazol dalam dosis tinggi dapat menyebabkan konvulsi (kejang).
PTZ merupakan bahan kimia konvulsan yang sering digunakan
dalam uji eksperimental untuk induksi kejang. Efek kejang ini
ditimbulkan melalui mekanisme antagonis non-kompetitif GABAergik
yang tidak berinteraksi dengan reseptor GABA, tetapi memblok GABA
dengan cara menghambat pemasukan ion Cl-. Beberapa penelitian telah
menunjukkan bahwa efek farmakologis dari PTZ adalah melalui interaksi
dengan saluran ion dari reseptor GABA-A. Pemberian suntikan PTZ
secara intraperitoneal pada tikus dapat menyebabkan kejang tonik-klonik
umum (Brunton et al., 2006).

I.2 Tujuan
1.2.1 Mengetahui efek yang timbul dari pemberian kafein, striknin,
dan cardiazol baik dalam dosis kurang, maksimal, maupun
berlebih sehingga mahasiswa memahami kegunaan dan efek
samping obat tersebut.
1.2.2 Mempelajari manfaat dari penggunaan kafein, striknin, dan
cardiazol sebagai stimulan SSP.
1.2.3 Mengetahui mekanisme kerja, farmakokinetik, dosis serta efek
samping yang ditimbulkan dari penggunaan kafein, striknin, dan
cardiazol.
BAB II
MATERI DAN METODE

II. 1 Materi
Pada praktikum kali ini, alat yang digunakan yaitu spoit 1 mL,
stopwatch, dan box hewan. Sedangkan bahan–bahan yang digunakan
adalah 3 ekor mencit, kafein, striknin, dan cardiazol masing-masing
sebanyak 0,8 mL.

II. 2 Metode
1. Dilakukan pemeriksaan fisiologis pada masing-masing hewan
normal diantaranya posisi tubuh, refleks, nyeri, tonus otot, frekuensi
nafas, frekuensi jantung, dan konvulsi.
2. Diambil sediaan kafein, striknin, dan cardiazol masing-masing
sebanyak 0,8 mL menggunakan spoit.
3. Disuntikkan pada sediaan kafein, striknin, dan cardiazol melalu
subcutan (SC) pada mencit yang berbeda-beda setiap 5 menit sekali,
dari menit ke 0 sampai menit ke 20 pada daerah punduk mencit
dengan dosis bertingkat mulai dari 0,01 mL, 0,05 mL, 0,1 mL, 0,2
mL, 0,04 mL.
4. Diamati dan dicatat perubahan fisiologis masing-masing mencit
setiap 5 menit sekali dari menit ke 0 sampai menit ke 20.
5. Pemberian sediaan kafein, striknin, dan cardiazol dihentikan bila
mencit mengalami konvulsi.
BAB III
HASIL

Tabel III.1 Pemberian sediaan kafein

Dosis Posisi Frekuensi Frekuensi


Menit Refleks Nyeri Tonus Konvulsi
(mL) tubuh nafas jantung
Berdiri
0 0.07 dengan 4 √√√ √√√ × 220 x/min 276 x/min ×
kaki
Berdiri
5 0,1 dengan 4 √√√ √√√ × 184 x/min 212 x/min ×
kaki
Berdiri
10 0,2 dengan 4 √√√ √√√ × 208 x/min 232 x/min ×
kaki
Berdiri
15 0,4 dengan 4 √√√ √√ x 184 x/min 176 x/min √√√
kaki
20 0,4

Tabel III.2 Pemberian sediaan striknin

Dosis Posisi Frekuensi Frekuensi


Menit Refleks Nyeri Tonus Konvulsi
(mL) tubuh nafas jantung
Berdiri
0 - dengan 4 √√√ √√√ × 150 x/min 116 x/min ×
kaki
Berdiri
0 0,01 dengan 4 √√√ √√√ × 168 x/min 102 x/min ×
kaki
Berdiri
5 0,05 dengan 4 √√√ √√√ × 114 x/min 132 x/min ×
kaki
10 0,1

15 0,2

20 0,4
Tabel III.3 Pemberian sediaan cardiazol
Dosis Posisi Frekuensi Frekuensi
Menit Refleks Nyeri Tonus Konvulsi
(mL) tubuh nafas jantung
Berdiri
0 - dengan 4 √√√ √√√ × 148 x/min 232 x/min ×
kaki
Berdiri
0 0,01 dengan 4 √√√ √√√ × 220 x/min 236 x/min ×
kaki
Berdiri
5 0,05 dengan 4 √√√ √√√ × 220 x/min 248 x/min ×
kaki
Berdiri
10 0,1 dengan 4 √√ √√ × 224 x/min 264 x/min ×
kaki
Tidak Tidak
15 0,2 × × √√√ √√√
teramati teramati
20 0,4
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini dilakukan pengamatan efek stimulansia yaitu kafein.
Pemberian kafein pada mencit dilakukan dengan rute injeksi secara intraparenteral
yaitu subkutan (SC). Penggunaannya kafein dapat menstimulasi sistem saraf pusat
(SSP), menimbulkan efek asiogenik, meningkatkan aktivitas tubuh, kesadaran,
konsentrasi, relaksasi otot polos terutama bronkhus, stimulasi otot jantung dan
koordinasi motorik pada dosis normal (El Yacoubi et al., 2000; Bolton & Null,
1981; Nehlig, 2010). Sebelum dilakukan pemberian kafein, terlebih dahulu
dilakukan pemeriksaa status fisiologis mencit yang meliputi kesadaran, rasa nyeri,
refleks, tonus otot, frekuensi napas dan jantung, serta posisi tubuh saat berdiri
pada hewan uji. Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak adanya kelainan pada
mencit. Selain itu, hasil pemeriksaan awal berfungsi sebagai pembanding hasil uji
sehingga dapat diketahui ada atau tidak adanya terubahan kondisi tubuh.
Dosis awal kafein yang diinjeksikan pada mencit adalah sebanyak 0,07 ml.
Namun, dosis awal ini bukan merupakan dosis yang seharusnya diberikan.
Pemberian dosis awal kafein pada uji ini seharusnya adalah 0.01 ml, tetapi terjadi
kesalahan pemberian dosis oleh praktikan. Setelah penginjeksian dosis awal
kafein, mencit diamati selama 5 menit. Perubahan yang terjadi menunjukkan
adanya peningkatan aktivitas tubuh, refleks, nyeri, dan terjadi peningkatan
frekuensi napas dari 168/menit menjadi 220/menit serta frekuensi denyut jantung
dari 240/menit menjadi 276/menit. Hal ini disebabkan oleh terjadinya peningkatan
aktivitas lokomotor dan keterampilan motorik mencit sebagai efek stimulan dari
kafein dimana kafein akan menstimulasi sistem saraf pusat (SSP) pada korteks
serebral dan medulla oblongata. Mediasi gerak di otak diatur oleh sistem
dopaminergik yang berasal dari neuron yag terletak di substansia nigra dan akan
memproyeksikannya ke globus pallindus dan berakhir di nucleus caudatus yang
terhubung dengan korteks sensorimotor. Reseptor A1 dan A2a adalah subtipe
utama adenosin yang terlibat dalam efek kafein, sedangkan reseptor A2b dan A3
tidak terlalu berpengaruh. Adenosin bertindak pada reseptor A1, A2, dan A3
presinaptik yang berkontribusi pada kemampuan adenosin secara sinergis dapat
menekan aktivitas lokomotor (Nikodijevic & Jacobson, 1993). Dalam hal ini
kafein akan bertindak sebagai antagonis non spesifik reseptor A1 dan A2a dari
adenosin dan mencegah timbulnya rasa kantuk yang disebabkan adenosin serta
menyebabkan efek bifasik lokomosi pada dosis rendah (Fredholm et al., 1999).
Penginjeksian ke-2 kafein dilakukan kembali dengan dosis 0,1 ml dan
kembali diamati selama 5 menit (perhitungan waktu berlanjut, artinya setelah
penginjeksian kedua, waktu terhitung menit ke-6). Hasil pengamatan
menunjukkan adanya penurunan frekuensi napas dan frekuensi denyut jantung
menjadi 184/menit dan 212/menit serta menunjukkan refleks baik dan tidak
menunjukkan adanya tonus otot ataupun konvulsi pada mencit. Terjadinya
penurunan frekuensi denyut jantung dan nafas berbanding terbalik dengan efek
yang ditimbulkan kafein berdasarkan literature. Hal ini diduga akibat mencit yang
sedang mengalami fase istirahat (resting phase). Berdasarkan literatur, efek
peningkatan lokomosi yang signifikan setelah pemberian kafein akan
menyebabkan terbentuknya penimbunan asam laktat dalam otot. Hal ini akan
menghambat kerja enzim dan mengganggu reaksi kimia dalam otot serta
menghambat kontraksi otot sehingga otot melemah dan menjadi kelelahan. Oleh
karena itu mencit mengalami waktu istirahat, sebelum akhirnya akan membentuk
asam laktat kembali melalui siklus corry (Hartono dkk., 2012; Wiarto, 2013).
Selanjutnya pada menit ke-10 dilakukan pemberian dosis kafein 0,2 ml dan
kembali diamati. Pada dosis ini terlihat peningkatan kembali aktivitas tubuh
mencit dan mencit menjadi hiperaktif serta peningkatan kembali frekuensi napas
dan denyut jantung. Pada menit ke-15, yaitu setelah penginjeksian 0.4 ml kafein,
mencit mengalami penurunan frekuensi napas dan denyut jantung mencit yang
disertai dengan penurunan aktivitas tubuh dan refleks. Hal ini terjadi karena pada
dosis tinggi, kafein akan menyebabkan penurunan aktivitas lokomotor dan
takikardia. Penurunan aktivitas lokomotor mencit dapat dikaitkan dengan efek
ansiogenik kafein yang mempromosikan perilaku cemas dan gangguan motorik.
(Logan et al., 1986 ; Nikodijevic & Jacobson, 1993).
Pada praktikum keracunan striknin bertujuan untuk mempelajari salah satu
gejala keracunan oleh obat dan memahami penanganan keracunan yang bersifat
simtomatis. Hewan coba yang digunakan adalah seekor mencit.
Striknin merupakan sediaan yang bersifat stimulan kuat dan sangat toksik.
Obat ini merupakan konvulsan kuat dengan sifat kejang yang khas. Sifat khas lain
dari kejang striknin adalah kontraksi ekstensor yang simatris yang diperkuat oleh
rangsangan sensorik yaitu pendengaran, pengelihatan dan perabaan. Gejala
keracunan striknin yang mula-mula timbul adalah kaku otot muka dan leher.
Setiap rangsangan sensorik dapat menimbulkan gerakan motorik hebat.
Sebelum melakukan percobaan atau pengaplikasian senyawa striknin,
dilakukan pemeriksaan fisiologis normal pada mencit sebagai hewan coba pada
praktikum ini. Pada pemeriksaan fisiologis didapat hasil frekuensi napas pada
mencit yaitu 150 kali/menit, hasil ini berarti lebih tinggi dari batas normal yaitu
71-146 kali/menit sedangkan hasil frekuensi jantung didapat adalah 116
kali/menit, yang berarti bahwa hasil masih dalam batas normal yaitu 71-146
kali/menit (Wulangi, S.K. 1993). Hal tersebut dapat disebabkan ketidaktepatan
praktikan dalam menghitung jumlah deyut jantung.
Setelah itu mencit disuntik striknin secara subkutan. Penyuntikan secara
subkutan bertujuan untuk memperlambat absorbsi obat pada mencit. Pada
percobaan pertama diberikan striknin dengan dosis 0,01 ml secara subkutan lalu
diamati kondisi biologisnya selama 5 menit. Pada pemberian pertama, mencit
masih mempertahankan posisi tubuh normal, ada refleks dan rasa nyeri, tidak ada
tonus dan konvulsi, frekuensi napas 168 kali/menit dan frekuensi jantung 102
kali/menit. Perlakuan berikutnya disuntik striknin lagi secara subkutan dengan
dosis 0,05 ml dan diamati kondisi biologisnya. Pada pemberian kedua mencit
masih mempertahankan posisi normalnya, adanya refleks dan rasa nyeri, tidak ada
tonus dan konvulsi, rekuensi napas 144 kali/menit dan frekuensi jantung 132
kali/menit. Setelah 5 menit berlalu, suntikkan lagi striknin secara subkutan dengan
dosis 0,1 ml. pada perlakuan ketiga ini, di menit ke 12 mencit mulai mengalami
inkoordinasi alat gerak, pada menit ke 12.26 terjadi konvulsi hebat, dan pada
menit ke 13.42 mencit mati.
Hal ini menunjukkan bahwa striknin bekerja dengan cara menghambat kerja
neurotransmitter yang ada pada postsinaptik tepatnya pada reseptor glisin.
Reseptor glisin yang terus menerus diisi oleh striknin menyebabkan terjadinya
konvulsi otot yang berlebih dan stimulasi yang tidak terkontrol. Kovulsi ini dapat
menyebabkan kematian karena otot mengalami kontraksi yang berlebih sehingga
mempengaruhi tekanan darah di system sirkulasi. Adanya gangguan pada system
respirasi karena kontraksi otot yang tidak terkontrol (takikardia) menyebabkan
mencit mengalami hipoksia.
Pada percobaan kelompok tiga yaitu pengaplikasian senyawa striknin didapat
hasil terjadi konvulsi pada menit ke 12.26 dan kematian pada menit ke 13.42. Hal
tersebut dikarenakan striknin merupakan bahan yang bersifat stimulansia yang
bekerja pada susunan saraf pusat yang akan mengakibatkanparalisis batang otak
karena hipoksia akibat gangguan napas. Kombinasi dari adanya gangguan napas
dan kontraksi otot yang hebat dapat menimbulkan asidosis respirasi maupun
asidosis metabolik hebat sehingga terjadi kematian pada mencit.
Pada saat pemberian dosis 0,1 pada menit ke 12 mencit mengalami
Inkoordinasi dan Konvulsi, dan mencit mengalami kematian beserta defekasi pada
menit ke13, hal ini dikarenakan sifat striknin yang menyerang medulla spinalis
dan bekerja dengan menghambat neourotransmiter yang ada pada posinaptik
tepatnya reseptor glisin. Apabila kerja neurotransmitter dihambat maka
menyebabkan kekejangan otot yang lebih (konvulsi) akibat stimulasi yang tidak
terkontrol. Kondisi ini dapat menyebabkan kematian karena otot mengalami
kontraksi yang berlebihan, sehingga mempengaruhi tekanan darah pada sistem
sirkulasi dan gangguan respirasi yang disebabkan oleh Hipoksia.
Cardiazol atau pentilentetrazol (PTZ) merupakan senyawa turunan tetrazol
(Stone, 1970) yang telah terbukti memiliki aksi konvulsi (kejang) pada mencit,
tikus, kucing, dan primata, dengan mengganggu mekanisme penghambatan yang
dimediasi GABA (GABA-mediated inhibition) oleh aksi pada reseptor GABA
(Olsen, 1981; Ramanjaneyulu dan Ticku, 1984). PTZ terkenal karena
penggunaannya dalam skrining obat antiepilepsi (Kupferberg, 2001).
Cardiazol termasuk dalam obat analeptika yang mampu menstimulasi bagian
sistem syaraf tertentu, terutama pusat pernafasan dan pusat vasomotor dalam
medulla oblongata. Percobaan dilakukan pada seekor mencit jantan untuk
mengamati terjadinya konvulsi. Pada praktikum kali ini, dilakukan percobaan
untuk melihat adanya respon pada mencit yang diberi sediaan cardiazol dengan
peningkatan dosis secara bertahap. Hasil dari masing-masing pemberian sediaan
dengan dosis bertingkat dapat dilihat pada bab sebelumnya.
Cardiazol bekerja pada medulla oblongata dengan menghambat system
GABA-ergik (Papp et al., 1987). GABA merupakan neurotransmitter yang
terdapat di otak, yang memiliki fungsi untuk mengatur gerakan otot tubuh. Ketika
otak mengalami kelimpahan tegangan saraf dan stres yang disebabkan oleh
surplus norepinefrin atau epinefrin (adrenalin), maka otak akan memproduksi
neurotransmitter dengan tujuan untuk menetralisir adrenalin yang berlebihan,
salah satunya adalah GABA yang memiliki efek penghambatan pada sistem saraf
(inhibisi).
Cardiazol bekerja dengan mempengaruhi kanal ion pada neuron,
menginaktifkan influx Ca2+ dan Na+ yang dapat mendepolarisasi neuron, sehingga
akan meningkatkan eksitabilitas pada sistem syaraf pusat (SSP). Pada dosis tinggi
dapat menyebabkan spasmus otot (Squires et al., 1984). Terdapat faktor endogen
yang mendukung terjadinya mekanisme kerja obat cardiazol, diantaranya: usia,
berat badan, jenis kelamin, kondisi kesehatan hewan, diet yang terkait dengan
komposisi pakan, cara pemberian, temperatur serta kondisi (perubahan) iklim.
Cardiazol segera diabsorbsi dari berbagai tempat pemberian. Distribusi merata ke
semua jaringan dan cepat disekresikan dalam hati. Sebagian besar (75%) di
urin dalam bentuk tidak aktif (Louisa & Dewoto, 2007).
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, didapati bahwa pada
menit awal (setelah injeksi pertama dengan 0,01 mL cardiazol) belum timbul
gejala apapun, selain peningkatan frekuensi nafas dan frekuensi jantung. Namun,
beberapa waktu setelahnya, yakni setelah dilakukan peningkatan dosis pemberian
secara bertahap hingga menit ke 15, gejala klinis mulai tampak, seperti:
kehilangan refleks dan rasa nyeri, ditemukannya tonus otot disertai konvulsi yang
diakhiri dengan kematian mencit. Hal ini bisa terjadi sebagai akibat dari dosis
tinggi cardiazol, yang kemudian segera didistribusikan ke semua jaringan, hingga
mengakibatkan blok reseptor GABA secara langsung. Perlekatan cardiazol
dengan reseptor GABA akan menyebabkan terjadinya hipereksitasi, konvulsi,
hingga kematian.
Penggunaan cardiazol atau PTZ umumnya dimaksudkan untuk membantu
menegakkan diagnosis epilepsi, yaitu sebagai EEG(electroencephalography)
activator. Electroencephalo graphy adalah metode pemantauan elektrofisiologis
untuk merekam aktivitas listrik otak.
PTZ dapat digunakan untuk menginisiasi model hewan epilepsi akut (60
hingga 100 mg/kg) dan juga kronis (dosis sub-konvulsif). Kindling adalah
fenomena yang dihasilkan dengan intensitas aktivitas kejang yang progresif
sebagai akibat dari pemberian berulang stimulator sub-konvulsif listrik atau kimia
(Pavlova et al., 2004). Kindling listrik atau kimia merupakan model epileptogenik
yang digunakan untuk memahami proses epileptogenik serta untuk mempelajari
molekul yang mencegah proses ini (Holmes, 2007).
Contoh protokol kindling pada tikus diberikan diantaranya pemberian PTZ
secara teratur pada dosis sub-konvulsif (30 mg/kg I.P., 3 kali seminggu, hingga 10
minggu), menghasilkan kindling kimia pada 80% tikus (25). Dengan dosis sub-
konvulsif yang disuntik I.V., terjadi aktivasi lokus epilepsi.
Protokol yang diberikan pada tikus Wistar jantan diantaranya injeksi PTZ I.P.
35 mg/kg diberikan setiap 48 jam (Senin, Rabu dan Jumat dalam seminggu).
Setelah 20 suntikan berturut-turut, pengobatan dihentikan selama 9 hari.
Kemudian, hewan diuji dengan suntikan PTZ ke-25 dan protokol selesai. Untuk
tujuan praktis, biasanya diaplikasikan dosis sekitar 100 mg/kg secara I.P. atau S.C.
Dengan dosis ini, kejang berkembang dalam waktu 20 menit setelah aplikasi.
Penggunaan dengan dosis terlampau tinggi atau interval waktu yang panjang
dapat menimbulkan kejang tonik-klonik. Kejang ini dimulai dengan hewan berlari
tidak terkendali, diikuti dengan hilangnya kemampuan mempertahankan
keseimbangan dan kesadaran. Sambil berbaring di lantai/alas, hewan terlihat
mengalami ekstensi tonik pada ekstremitas, bersamaan dengan klonus dari
keempat ekstremitas.
BAB V
KESIMPULAN
V.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang diperoleh berdasarkan hasil dan
pembahasan mengenai praktikum ini, yaitu:
1. Kafein dapat menimbulkan efek stimulan pada sistem saraf pusat
(korteks serebral dan medulla oblongata) ditandai peningkatan
aktivitas lokomotor dan keterampilan motorik.
2. Kafein pada dosis rendah dapat mencegah rasa kantuk yang
disebabkan adenosin serta menyebabkan efek bifasik lokomosi,
sementara pada dosis tinggi akan menyebabkan penurunan aktivitas
lokomotor dan takikardia.
3. Adanya peningkatan lokomosi yang signifikan setelah pemberian
kafein menyebabkan penimbunan asam laktat dalam otot.
4. Striknin merupakan alkaloid yang bekerja sebagai antagonisme
kompetitif terhadap transmittor glisin pada pascasinaps dan
menimbulkan konvulsi spinal.
5. Konvulsi pada saat pemberian striknin dapat menyebabkan tekanan
darah tidak terkontrol serta sistem respirasi yang tidak sesuai dengan
sistem sirkulasi.
6. Striknin dapat menghasilkan output jantung mengalami takikardi,
hipoxia, dan kekakuan otot.
7. Hasil percobaan sediaan striknin, yang didapatkan sesuai dengan
literatur karena frekuensi denyut jantung yang meningkat sementara
frekuensi napas menurun.
8. Cardiazol, atau yang dikenal juga sebagai pentilentetrazol atau PTZ
merupakan obat yang digunakan untuk menstimulasi sistem syaraf
pusat, tepatnya medulla oblongata.
9. Cardiazol akan menghambat sistem GABA-ergik pada sistem syaraf
pusat, yang dapat mengakibatkan hiperaktivitas (hipereksitasi),
peningkatan frekuensi pernapasan dan jantung, hingga tremor yang
disertai konvulsi.
10. Penggunaan cardiazol umumnya dimaksudan untuk membantu
menegakkan diagnosis epilepsi, yaitu sebagai EEG
(electoencephalography) activator.
11. Penggunaan cardiazol dalam dosis tinggi atau interval panjang dapat
menyebabkan konvulsi hebat yang tidak terkontrol, yang berakibat
pada kematian.

V.2 Saran
Hasil praktikum ini, diharapkan dapat dijadikan sarana untuk
pengembangan pembelajaran. Selain itu, kritik dan saran dari pembaca
sangat diharapkan guna untuk kesempurnaan penulisan dikemudian hari.
DAFTAR PUSTAKA

Bolton S, Null G. (1981). Caffeine Psychological Effects, Use, and Abuse.


Orthomolecular Psyichiatry, 10 (3): 202-211
Boushey, H. A., 2001, Broncodilator and other Agents, used in Asthcain Katzung,
B. G., (Ed.), Basic and Clinical Pharmacologi, 8th Edition, Mc Graw. Hill
Companies, Inc, New York. 330-332
Brunton, L. L., Lazo, J. S., & Parker, K. L. 2006. Goodman & Gillman's the
pharmacological basis of theurapeutics. New York: McGraw Hill.
Bukowsky, M. and K. Nakatsu. 1987. The bronchodilator effect of caffeine in
adult asthmatics. Am. Respyr. Dis. 135:173-175
Corda M.G., Orlandi M., Lecca D., Carboni G., Frau V., Giorgi O. 1991.
Pentylenetetrazol-induced kindling in rats: effect of GABA function
inhibitors. Pharmacol Biochem Behav 40(2):329-33.
Eisendrath, S. J., 2002, Psychiatric Disonders In Tienney, L. M. Mcphee, S. S.,
Papadakis, M. A., (Ed 5), Current Medical Diacnosis and Treathment, 41st
Edition, Prertice Hall International, Inc, United States of America. 110-111
El Yacoubi M, Ledent C, Parmentier M, Costentin J, Vaugeois JM. (2000). The
Anxiogenic-like Effect of Caffeine in Two Experimental Procedures
Measuring Anxiety in The Mouse is not Shared by Selective A(2A)
Adenosine Receptor Antagonists. Psychopharmacology, 148(2):153-63.
Farmakologi dan Terapi. 2007. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Fredholm BB, Battig K, Holmen J, Nehlig A, Zvartau EE. (1999). Actions of
Caffeine in The Brain with Special Reference to Factors that Contribute to its
Widespread Use. Pharmacol Rev, 51 (1):83-133.
Gery Schmitz, Hans Lepper & Michael Heidrich.1995. Farmakologi dan
toksikologi. EGC: Jakarta
Graham, T. E., and Helge, J. W. 2000. Caffeine Ingestion doesnot Alter
Carbohydrat or Fat Metabolism in Human Skeletal Muscle During Exercise.
Journal of Physiology, 529(3); 837-847
Hartono, Widiyanto, Suprijanto. (2012). Recovery Oksigen Perubahan Kadar
Asam Laktat Darah dan Performa Anaerobik Setelah Hiperbarik dan
Recovery Aktif
Holmes G.L. 2007. Animal model studies application to human patients.
Neurology 69(24 Suppl 3):28-32.
Katzung BG. 1997. Farmakologi Dasar dan Klinik, edisi 6. EGC: Jakarta.
Kristen, T. R., and Hollister, L. E., 2001, Drug of Abuse, in Katzung, B. G.,
(Ed.), Basic and Clinical Pharmacology, 8th Edition, Mc Graw-Hill
Companies, New York
Kupferberg, H. 2001. Animal models used in the screening of antiepileptic
drugs. Epilepsia 42(Suppl 4): 7–12.
Logan, L., Seale, T.W. & Carney, J.M. (1986). Inherent differences in sensitivity
to methylxanthines among inbred mice. Pharmacol. Biochem. Behav, 24,
1281-1286.
Louisa M. & Dewoto H.R. 2007. Perangsangan Susunan Saraf Pusat. Dalam:
Farmakologi dan Terapi, edisi 5. Departemen Farmakologi dan Terapeutik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta, hal. 247-248
Mardjono, M. 1988. Neurologi Klinis Dasar. Dian Rakyat: Jakarta, hal. 439
441;444
Medicastore. 2008. Kejang. Apotek Online dan Media Informasi Obat Penyakit.
Mediastore: Jakarta.
Nehlig A. (2010). Is Caffeine a Cognitive Enhancer. Journal of Alzheimer's
Disease, 20 Suppl 1: S85-94.
Nikodijevic, O. & Jacobson, K.A (1993). Locomotor activity in mice during
chronic treatment with cafeine and withdrawal. Pharmacol. Biochem. Behav,
44, 199- 216.
Olsen, R.W. 1981. The GABA postsynaptic membrane receptor-ionophore
complex. Site of action of convulsant and anticonvulsant drugs. Mol Cell
Biochem 39: 261–279.
Papp A., Fehér O., Erdélyi L. 1987. The ionic mechanism of the pentylenetetrazol
convulsions. Acta Biol. Hung. 38 (3–4): 349–61.
Pavlova T.V., Yakovlev A.A., Stepanichev M.Y., Mendzheritskii A.M., Gulyaeva
N.V. 2004. Pentylenetetrazole kindling induces activation of caspase-3 in the
rat brain. Neurosci Behav Physiol 34(1):45-7.
Ramanjaneyulu, R. & Ticku, M.K. 1984. Interactions of pentamethylenetetrazol
and tetrazol analogues with picrotoxin sit of the benzodiazepine-GABA
receptor-ionophore complex. Eur J Pharmacol 98: 337–345.
Remington. 2005. Remington: The Science and Practice of Pharmacy. Lippincott
Williams & Wilkins: Philadephia
Spiller, G. A. 1998. Caffeine. Boca Raton: CRC Press, pp. 235-236.
Sunaryo. 1995. Perangsang Susunan Saraf Pusat dalam Farmakologi dan Terapi
Ed .IV. Jakarta: Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Hal.223-224.
Squires R.F., Saederup E., Crawley J.N., Skolnick P, Paul S.M. 1984. Convulsant
potencies of tetrazoles are highly correlated with actions on GABA/
benzodiazepine/ picrotoxin receptor complexes in brain. Life Sci. 35 (14):
1439 44.
Stone, W.E. 1970. Convulsant actions of tetrazole derivatives. Pharmacology 3:
367–370.
Sunaryo. 1995. Perangsang Susunan Saraf Pusat dalam Farmakologi dan Terapi
Ed.IV. Jakarta: Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Hal.223-224.
Tjay, TH dan Kirana, R. 2007. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan
Efek-Efek Sampingnya Edisi Keenam. Jakarta (ID): PT Elex Media
Komputindo Kelompok Gramedia.
Utama H. & Gan. V. 2007. Antiepilepsi dan Antikonvulsi. Dalam: Farmakologi
dan Terapi, edisi 5. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta, hal. 179-181; 186; 188
Wijayanto, H., Pangestiningsih, T. W., Rahmi, E. PENGARUH PEMBERIAN
KAFEIN PADA MASA ORGANOGENESIS TERHADAP BERAT LAHIR
FETUS TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus). Jurnal Kedokteran Hewan, 1(2);
53-59.
Witters, P. J., and Witters, W. L., 1983, Drug and Society: A Biological
Perspective, Wadsworth, Inc. California, 128.