Anda di halaman 1dari 2

1.

RESTRAIN
Bahan: Tali sepanjang 40 kaki ( 15 m)
 Burley
1. Sapi dipegang dengan tali leher yang kuat
2. Letakan tali di atas punggung dengan bagian tengah tepat di atas pundak
3. Kedua ujung tali dilewatkan di antara kaki depan dan disilangkan disternum
4. Masing-masing ujung tali diangkat pada kedua sisi badan dan disilangkan di
punggung
5. Kemudian tali diturunkan kembali dan dimasukkan pada sisi dalam dari kaki
belakang dan sternum atau ambing
6. Jika kedua ujung tali ditarik, sapi akan roboh
7. Arah robohnya disesuaikan dengan keinginan operator

 Rope squeeze

1. Buatlah lingkaran seputar leher sapi dengan menggunakan simpul kupu-kupu di


tempat seperti pada gambar
2. Pindahkan ujung tali ke sisi lain yang berlawanan melalui punggung sapi
3. Melewati bagian bawah sapi, peganglah ujung itu dan lingkarkan pada tubuhnya
4. Buatlah ikatan mati tepat di belakang pundak
5. Buatlah tali seperti diatas tepat di depan ambing
6. Tariklah tali tersebut, maka sapi akan roboh

2. VAGINOSKOPI
Sapi di letakkan di kandang jepit. Sapi betina yang akan diperiksa direstrain di dalam
nostal. Vulva dibersihkan dengan air bersih dan bahan desinfektan. Alat vaginoskop
disterilkan dengan alkohol 70% dan dilumuri dengan Pelicin Vaselin. Vaginoskop
dimasukkan melalui vulva dalam keadaan miring secara perlahan-lahan hingga menuju
ke dalam vagina atau ujung alat sampai pada bagian pintu serviks (Gautam et al., 2010).
Kemudian alat vaginoskop diputar 90o dalam keadaan lurus hingga tangkainya ke arah
bawah. Selanjutnya tekan bagian pengungkit yang ada dibawah alat vaginoskop hingga
lumen vagina dan serviks tampak dengan jelas (namun apabila internal vagina belum
dapat terlihat dengan jelas dari luar operator, maka internal vagina tersebut dapat
diterangi terlebih dahulu dengan bantuan senter).

3. ANESTESI EPIDURAL
Sapi diletakkan di kandang jepit. Lokasi ditentukan dengan cara mengangkat dan
menurunkan pangkal ekor untuk meraba pertemuan antar sendi vertebrae. Yang paling
jelas pergerakannya adalah sendi antara vertebrae coccygea pertama dan kedua ,
disusul sendi antara vertebrae sacral terakhir dan vertebrae coccygae pertama.
Penyuntikan dilakukan pada lekukan sendi tersebut dengan jarum ditusukkan tegak
lurus atau dengan sudut 100 kaudal dari garis tegak lurus.
Ujung jarum diharapkan menyentuh dasar kanalis vertebralis dan obat dimasukkan, dosis
yang dimasukkan berbeda-beda menurut macam obat,kondisi hewan,level anestesi
yangdibutuhkan namun harus diusahakan tidak overdosis agar hewan teta berdiri, jadi
lebih baik diberikan sedikit tetai berulang. Jarum yang digunakan biasanya no. 18.
Beberapa literatur menyebutkan bisa juga digunakan jarum no 20 atau 22. Saat
melakukan penusukan menggunakan jarum hewan harus diperhatikan tidak bergerak.
Obat anestesi yang digunakan adalah lidocain.

4. INFUS INTRA VENA


Yaitu injeksi obat yang dilakukan melalui pembuluh darah arteri cephalica (pada kaki
depan/tangan), arteri jugularus(pada leher) dan arteri femoralis (kaki belakang).
Dapat terserap darah hanya dalam ukuran detik.
Cepat terserap, cepat bereaksi, dan memiliki ketrerampilan khusus.
Contoh : injeksi infus Ringer dextrose 5 %.
Obat dalam bentuk cair encer