Anda di halaman 1dari 2

POTENSI INDONESIA MENJADI PRICE MAKER KOPI DUNIA

Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber komoditas. Komoditas yang dihasilkan oleh
Indonesia cukup beragam, yakni meliputi komoditas pertanian, perkebunan, pertambangan, dan
tekstil.Dari keempat jenis komoditas tersebut, yang menjadi unggulan ekspor pemerintah Indonesia
adalah karet,kakao,kelapa sawit, dan kopi. Penulis tertarik mengambil pokok bahasan komoditas kopi
sebagai bahasan essay ini. Adapun latar belakang, mengapa kopi cukup menarik, adalah karena kopi sudah
menjadi lifestyle masyarakat Indonesia dewasa ini. Di setiap sudut kota besar manapun, telah bertebaran
kedai kopi yang tersegmentasi mulai dari warung kopi sampai dengan waralaba kopi dunia dengan jenis
produk premium. Tentunya fenomena ini membawa dampak bahwa permintaan kopi meningkat,
sehingga berpeluang menaikkan taraf hidup petani kopi di Indonesia. Fakta menunjukkan dalam studi
global tentang kopi oleh International Coffee Organization menunjukkan bahwa terdapat deficit 1,36 juta
karung, dari total permintaan kopi dunia. Dengan melihat potensi dan varian produksi kopi di Indonesia
yang beragam, ini tentunya menjadi peluang Indonesia mengambil bagian dalam skala global.

Untuk mencapai keunggulan ekonomi dalam bidang kopi dibandingkan dengan negara lain,
pemerintah harus bisa menetapkan harga yang sesuai. Masalah yang ada sekarang ini adalah harga
pasaran kopi di Indonesia masih ditentukan oleh negara lain. Sebagai contoh, untuk kopi jenis robusta,
masih mengacu pada bursa berjangka di Inggris, sedangkan kopi arabika, ditentukan oleh bursa berjangka
di USA. Fakta menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara penghasil biji kopi terbesar ke empat setelah
Brazil, Vietnam, dan Kolombia atau sekitar 9% dari produksi kopi dunia. Melihat jumlah ekspor kopi
Indonesia yang mencapai sekitar 720.00 ton pertahun, sudah saatnya Indonesia mengambil alih fungsi
price maker yang dipegang oleh notabene negara bukan penghasil kopi. Apalagi , dari segi kualitas biji kopi
Indonesia adalah terbaik kedua setelah Vietnam. Pada saat ini, sekitar 90% tanaman kopi yang
dibudidayakan di Indonesia adalah jenis biji kopi robusta. Sedangkan sisanya adalah arabika yang ditanam
di pulau Jawa. Kopi arabika yang ditanam di pulau Jawa telah diakui dunia dan menjadi komoditas ekspor
penting selama lebih dari 100 tahun. Selain itu ada fakta menarik bahwa, lebih dari 90% dari total
perkebunan dibudidayakan oleh para petani skala kecil yang memiliki perkebunan relatif kecil sekitar 1-2
hektar, masing-masing. Berlawanan dengan pesaing seperti Vietnam, Indonesia tidak memiliki
perkebunan kopi yang besar dan oleh karena itu menemukan lebih banyak kesulitan untuk menjaga
volume produksi dan kualitas yang stabil, sehingga daya saing kopi Indonesia di pasar internasional kurang
kuat.

Masalah kedua yang dihadapi oleh petani kopi di Indonesia, adalah tidak tersedianya penyuluhan
oleh pemerintah dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam membudidayakan tanaman kopi.
Bila dibandingkan dengan negara lain, seperti Vietnam misalnya, pemerintah Vietnam bersinergi dengan
institusi untuk berperan aktif memberikan pelatihan secara structural berdasarkan kapasitas lahan kopi
yang ditanam. Hal ini berdampak secara langsung kepada hasil panen kopi yang lebih optimal
dibandingkan dengan negara kita. Hal ini tentu menjadi catatan dan evaluasi untuk bisa diterapkan di
negara kita.

Target Indonesia untuk menjadi price maker kopi dunia, akan dapat tercapai bila Indonesia
mampu menaikkan kapasitas produktivitas kopi nya melebihi negara Brazil sebagai negara no 1 penghasil
kopi dunia. Bukan hal yang tidak mungkin, namun bisa dicapai dengan beberapa langkah yang akan
dijelaskan berikut ini : (1) Intensifikasi Tanaman Kopi, yaitu melakukan intensifikasi berarti meningkatkan
pemeliharaan dan perawatan terhadap tanaman kopi yang dibudidayakan. Pohon-pohon kopi yang
mendapatkan perlakukan secara intensif diharapkan dapat tumbuh dengan optimal dan menghasilkan
buah yang lebih banyak. (2) Rehabilitasi Tanaman Kopi, yaitu melakukan rehabilitasi berarti perbaikan
tingkat produktivitas tanaman kopi dari yang semula rendah diubah ke minimal menjadi normal kembali.
Dalam pengerjaannya, tanaman kopi dapat dipangkas mulai dari bagian cabang sampai dengan batang.
(3) Peremajaan Tanaman Kopi, peningkatan terhadap hasil panen tanaman kopi bisa dikerjakan pula
melalui penggantian tanaman dengan bibit baru. dan (4) Memilih Varietas Tanaman Kopi Unggulan,
hingga kini, bibit kopi dari varietas unggulan terbukti memiliki tingkat produktivitas yang jauh lebih tinggi
meski harganya lebih mahal.

Setelah pembahasan solusi dari segi perawatan tanaman, maka kemudian kita masuk ke segi
perekonomian. Harus ada mekanisme yang jelas untuk distribusi biji kopi antara petani kopi dan eksportir
kopi skala besar. Misalkan bisa memanfaatkan koperasi dan akses digital untuk petani lebih dipermudah.
Tujuan utamanya adalah menjadikan petani kopi kecil menjadi bagian dari global supply chain
perdagangan kopi dunia.

Kedua solusi tersebut diharapkan bisa menjadikan Indonesia sebagai price maker kopi dunia.
Apalagi pada bulan September 2019, Indonesia mendapatkan amanah menjadi pemimpin dewan
organisasi ICO (International Coffee Organization) . Ini artinya posisi Indonesia cukup kuat dan memberi
kontribusi signifian pada organisasi tersebut. Hal ini merupakan langkah awal dari apa yang kita harapkan
di atas. Semoga dengan kebijakan pemerintah yang tepat dan sinergi terhadap institusi keilmiahan yang
terkait, akan meningkatkan produktifitas kopi di Indonesia yang kemudian akan menempatkan Indonesia
sebagai negara acuan harga kopi dunia.