Anda di halaman 1dari 9

RESUME MATERI

ETIKA BISNIS DAN PROFESI

BISNIS DAN ETIKA DALAM


DUNIA MODERN

DOSEN IBU NUR LAILY

DISUSUN OLEH

Dimas Wahyu (192011.1946)


Meylia Eka Sari (192011.1953)
Evan Prastiyo (192011.1480)
Adrian Hartanto (192011.2124)
Fauziah Anggraini (192011.2062)
AKUNTANSI KEUANGAN
STIESIA SURABAYA
2019

RESUME MATERI
BISNIS dan ETIKA DALAM DUNIA MODERN

A. ASPEK POKOK BISNIS


Melihat dari aspek pokok bisnisnya etika Bisnis dapat dilihat dari beberapa sudut pandang.
Diantaranya adalah :
1. Sudut Pandang Ekonomi.
Bisnis adalah kegiatan ekonomis. Yang terjadi di sini adalah adanya interaksi antara
Produsen / Perusahaan dengan pekerja, Produsen dengan Konsumen, Produsen dengan
Produsen dalam suatu Organisasi. Kegiatan antar manusia ini adalah bertujuan untuk mencari
keuntungan, oleh karena itu menjadi kegiatan ekonomis. Pencarian keuntungan dalam bisnis
tidak bersifat sepihak, tetapi dilakukan melalui interaksi yang melibatkan berbagai pihak. Dari
sudut pandang ekonomis, Good Business adalah yang bukan saja menguntungkan, tetapi juga
bisnis yang berkualitas etis.
2. Sudut Pandang Moral
Dalam bisnis, berorientasi pada profit adalah wajar, akan teteapi jangan suatu keuntungan
yang diperoleh tersebut merugikan pihak lain. Sebagai pengusaha juga harus menghormati
kepentingan dan hak pihak lain. Tidak semua usaha yang kita lakukan untuk memperoleh
suatu keuntungan bisa dilakukan. Pantas diperhatikan, dengan batasan moral tersebut kita juga
bisa diuntungkan. Karena dengan menghormati kepentingan dan hak orang lain juga demi
meningkatkan kepentingan bisnis kita sendiri.
3. Sudut Pandang Hukum
Bisa dipastikan bahwa kegiatan bisnis juga pasti terkait dengan Hukum, seperti Hukum
Dagang, Hukum Bisnis ataupun Hukum Perdata/Pidana. Di dalam praktek Hukum banyak
masalah timbul berkaitan dengan hubungan Bisnis, baik itu hubungan bertaraf Nasional
maupun hubungan tingkat Internasional. Seperti halnya suatu Etika, Hukum juga merupakan
sudut pandang yang Normatif, karena menetapkan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh
dilakukan. Dari segi Norma, hukum lebih jelas dan jelas daripada Etika, karena peraturan
hukum dituliskan hitam atas putih (atau dalam bentuk Undang-Undang) dan ada sanksi
(hukuman) tertentu bila terjadi suatu pelanggaran. Antara Hukum dan Moral tentunya
memiliki hubungan yang harus diperhatikan. Bahkan pada kekaisaran Romawi ada pepatah
terkenal “Quid Leges Sine Moribus” yang artinya “apa artinya undang-undang kalau tidak
disertai Moralitas”.

B. TOLOK UKUR ASPEK POKOK


Dari sudut pandang ekonomis tolok ukurnya yaitu bila bisnis memberikan profit dan hal ini
akan jelas terbaca pada laporan Laba/Rugi perusahaan di Akhir Tahun.
Dari sudut pandang hukum juga jelas, bahwa bisnis yang baik adalah yang diperbolehkan oleh
sistem hukum yang berlaku (penyelundupan adalah bisnis yang tidak baik).
Sedangkan dari sudut pandang moral setidaknya ada 3 hal yang menjadi tolok ukurnya, yaitu :
1. Hati Nurani
Suatu perbuatan adalah baik, bila dilakukan sesuai dengan hati nuraninya, dan perbuatan
dikatakan buruk bila dilakukan berlawanan dengan hati nuraninya. Kalau kita mengambil
keputusan berdasarkan Hati Nurani, keputusan yang diambil dihadapan Tuhan dan kita sadar
dengan tindakan tersebut memenuhi kehendak Tuhan
2. Kaidah Emas
Cara lebih obyektif menilai baik buruknya perilaku Moral adalah mengukurnya dengan
“Kaidah Emas” (positif) yang mengatakan : “Hendaklah memperlakukan orang lain
sebagaimana Anda sendiri ingin diperlakukan”. Why ? Karena tentunya kita ingin
diperlakukan dengan baik oleh orang lain. Rumusnya adalah : “Jangan perlakukan orang lain
dengan apa yang Anda sendiri tidak ingin akan dilakukan terhadap di Anda”.
3. Penilaian Umum
Cara yang ketiga ini dan barangkali yang paling ampuh untuk menentukan baik buruknya
suatu perbuatan atau perilaku adalah menyerahkan kepada masyarakat umum untuk menilai.
Cara ini bisa disebut juga dengan audit sosial. Sebagaimana melalui audit dalam arti biasa
adalah sehat tidaknya keadaan financial suatu perusahaan. Demikian juga kualitas Etis suatu
perbuatan bisnis ditentukan oleh penilaian masyarakat umum.

Pelaksanaan tanggung jawab sosial suatu bisnis merupakan penerapan kepedulian bisnis
terhadap lingkungan, baik lingkungan alam, teknologi, ekonomi, sosial, budaya, perintah, maupun
masyarakat Internasional. Bisnis yang menerapkan tanggung jawab sosial merupakan bisnis yang
menjalankan Etika Bisnis begitupun sebaliknya. Penerapan etika bisnis ini merupakan penerapan
dari konsep Stakeholder sebagai pengganti dari konsep lama yaitu Stockholder. Karena konsep
Stockholder selalu berusaha memenuhi kepentingan para pemegang saham saja yaitu hanya
berusaha untuk mendapatkan penghasilan yang tinggi berupa deviden atau pembagian laba yang
besar. Konsep tersebut terkadang mengabaikan kepentingan pihak lain yang terlibat dalam bisnis,
seperti : Karyawan, Konsumen, Kreditur, Lembaga-Lembaga Keuangan, bahkan Pemerintah.

C. PENGERTIAN ETIKA BISNIS


Kata Etika berasal dari kata Yunani Kuno yaitu “Ethikos” yang berarti “Timbul dari
Kebiasaan” adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi
mengenai standar dan penilaian Moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti
benar, salah, baik, buruk dan tanggung jawab.
Dalam ilmu ekonomi, bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang dan/atau jasa
kepada konsumen atau bisnis lainnya untuk mendapatkan laba/keuntungan. Secara historis kata
bisnis dari bahasa Inggris yaitu Business yang kata dasarnya Busy (Sibuk) dalam konteks individu,
komunitas, ataupun masyarakat. Dalam artian, sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang
mendatangkan keuntungan.
Secara etimologi, Bisnis berarti keadaan di mana seseorang atau sekelompok orang sibuk
melakukan pekerjaan yang menghasilkan keuntungan. Berdasarkan skup-nya kata ‘Bisnis” sendiri
memiliki tiga penggunaan diantaranya :
1. Penggunaan Singular, kata “Bisnis” dapat merujuk pada badan usaha. Yaitu kesatuan yuridis
(hukum), teknis dan ekonomis yang bertujuan mencari laba atau keuntungan.
2. Penggunaan yang lebih luas dapat merujuk pada sektor pasar tertentu, misalnya bisnis
pertelevisian.
3. Penggunaan yang paling luas merujuk pada seluruh aktivitas yang dilakukan oleh komunitas
penyedia barang dan jasa.
Etika bisnis adalah kegiatan yang secara umum menjelaskan dan mengorientasikan pada
kegiatan bisnis dan menyediakan dasar untuk menganalisa masalah-masalah etis dalam bisnis. Etika
bisnis sendiri dapat diartikan pemikiran atau refleksi tentang moralitas dalam ekonomi dan bisnis.
Etika bisnis merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis yang mencakup seluruh aspek yang
berkaitan dengan individu, perusahaan dan masyarakat. Moralitas berarti aspek baik dan buruk,
terpuji atau tercela, dan karenanya diperbolehkan atau tidak dari perilaku manusia.
Menurut K. Bertens, ada 3 tujuan yang ingin dicapai dalam mempelajari etika bisnis, yaitu :
1. Menanamkan atau mengingatkan kesadaran akan adanya dimensi Etis dalam bisnis.
2. Memperkenalkan argumentasi Moral khususnya di bidang ekonomi dan bisnis. Serta
membantu pelaku bisnis atau calon pebisnis dalam menyusun argumentasi moral yang tepat.
3. Membantu pelaku bisnis atau calon pebisnis untuk menentukan sikap moral yang tepat di
dalam profesinya suatu saat nanti.
Menurut Richard De George etika bisnis yang baik adalah apabila perusahaan ingin sukses
dan berhasil memerlukan 3 hal pokok yang harus diperhatikan antara lain : Produk yang baik,
Management yang baik, dan memilik Etika yang baik.

D. FAKTOR SEJARAH DAN BUDAYA


1. Kebudayaan Yunani Kuno
Masyarakat Yunani kuno pada umumnya berprasangka terhadap kegiatan dagang dan
kekayaan.Warga negara yang bebas seharusnya mencurahkan perhatian dan waktunya untuk
kesenian dan ilmu pengetahuan (filsafat), di samping tentu memberi sumbangsih kepada
pengurusan negara dan kalu mendesak turut membela negara.Pandangan negatif itu
ditemukan juga dalam filsafat Yunani kuno.Pada filsuf Plato (427-347 SM) hal itu tampak
jelas dalam karya terakhirnya berjudul Undang-Undang. Menurut Plato negara ideal adalah
negara agraris yang sedapat mungkin berdikari, sehingga hampir perdagangan hampir tidak
perlu. Perdagangan mempertebal keserakahan manusia.Yang paling berharga bagi manusia
adalah keutamaan dan bukan kekayaan duniawi.

Penolakan itu diberi dasar lebih teoritis oleh Aristoteles (384-322 SM). Dalam karyanya
Politica ia menilai sebagai tidak etis setiap kegiatan menambah kekayaan. Ia membedakan
antara oikonomike tekhne dan khrematistike tekhne. Yang satu diniali etis, sedangkan yang
lain ditolak karena menyalahi batas etika.

Ekonomi (oikonomia = pengaturan rumah tangga ; oikos= rumah, rumah tangga ; nomos =
pengaturan, aturan, hukum) adalah tukar menukar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Pertukarannya bisa barter ataupun memakai uang. Karena itu, uang dipakai menurut
kodratnya (nature), sebagai alat tukar sehingga wajar.Ia mengatakan bahwa ekonomi itu
“dalam batas”.

Krematistik (khremata = harta benda, kekayaan) adalah menukar barang dengan uang hanya
untuk menambah kekayaan. Dengan demikian uang menjadi tujuan sendiri yaitu kekayaan
sering dipandang sebagai terdiri atas setumpuk uang, Aristoteles mengatakan bahwa
khrematistik itu “tak terbatas”, karena selalu terarah kepada uang lebih banyak lagi. Ia juga
memasukan riba atau bunga uang kedalam krematistik karena dinialai sebagai bentuk
krematistik yang paling jelek, karena uang dipakai paling bertentangan dengan kodratnya.

Bukti lain adalah kenyataan bahwa dewa Yunani Hermes dihormati sebagai dewa pelindung
baik bagi pedagang maupun pencuri. Tetapi rupanya dengan itu tidak dimaksudkan suatu
kualifikasi etis. Sedangkan menurut para pakar, kebudayaan Yunani kuno, Hermes adalah
dewa pelindung semua orang yang mempergunakan jalan yaitu pedagang dan pencuri karena
termasuk orang yang bepergian dan mempergunakan jalan.
2. Agama Kristen
Dalam Kitab Suci Kristen terdapt cukup banyak teks yang bernada kritis terhadap kekayaan
dan uang, dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.Misalnya dalam Mazmur 49:17-18,
Lukas 6:20.24, Matius 19:24, Matius 6:24, Lukas 6:9, 1 Timotius 6:10 dan Ibrani 13:15.
Meskipun Alkitab tidak menolak perdagangan, tetapi perdagangan merupakan salah satu jalan
biasa menuju kekayaan.

Dalam kalangan Kristiani pada zaman kuno dan abad pertengahan, profesi pedagang dinilai
kurang pantas.Maka urusan niaga diserahkan kepada orang Yahudi. Agustinus (354-430)
menegaskan bahwa seorang pedagang barangkali bisa berkelakuan tanpa dosa, tapi tidak
mungkin ia berkenan di hati Tuhan. Seorang teolog dari abad 5 atau 6 bahkan memperluas
pendapat Agustinus dengan lebih ekstrim.Ia mengklaim bahwa adegan dalam Injil saat Yesus
mengusir para pedagang dan penukar uang dari Bait Allah di Yerusalem itu karena mereka
tidak pernah berkenan di hadapan Tuhan. Teks dari abad ini kemudian dimuat dalam
Decretum Gratiani (akhir abad 21), sebuah dokumen sangat penting di bidang hukum Gereja
dalam abad pertengahan.Riwayat itu mendapat kedudukan terpandang selama berabad-abad.

Dalam tahun pertama dari majalah Business Ethics Quarterl berlangsung polemik antara
David Vogel dan Thomas McMahon tentang pandangan Kristen zaman kuno dan abad
pertengahan. Vogel berpendapat bahwa dalam periode Kristiani sebelum reformasi bisnis
dianggap tidak etis atau sekurang-kurangnya sangat dicurigakan. Namun McMahon
menganggap pendapat itu terlalu berat sebelah dan mengemukakan banyak teks dari periode
pra-reformasi di mana tampak sikap lebih konstruktif terhadap egiatan bisnis.Kesimpulan dari
pendapat mereka bahwa masalah pandangan Kristen pra-reformasi tentang perdagangan perlu
didekati dengan nuansa yang seperlunya.

Disamping itu banyak pengarang Kristen yang memandang perdagangan dengan cara lebih
positif. Sebagai contoh, Thomas Aquinas, filsuf dan teolog besar dari abad 13.Ia menolak
penipuan dan praktek curang lainnya dalam bisnis tetapi bisnis adalah sah karena memang
tujuannya mencari keuntungan sehingga tidak mengandung sesuatu yang berdosa.

Dalam pandangan Protestan, memperoleh untung dengan berdagang dinilai sebagai pertanda
berkat Tuhan atas kerja keras orang beriman.Dalam perspektif serupa, kecurigaan terhadap
bisnis mulai menghilang. Perubahan padangan itu tentu berkaitan dengan apa yang dikenal
sebagai “tesis Weber”. Dalam sebuah studinya, sosiolog Jerman Max Weber (1864-1920),
menjelaskan bahwa timbulnya kapitalisme dipengaruhi dan didorong oleh etos kerja
Protestantisme, khususnya Calvinisme.Etika Calvinisme ditandai oleh sifat-sifat yang
kondusif untuk kegiatan bisnis.Modal yang dihemat sehingga bisa diinvestasi lagi dalam
usaha yang produktif dan sukses dalam usaha dilihat sebagai pahala dari Tuhan.
3. Agama Islam
Dalam agama Islam tampak pandangan positif terhadap perdagangan dan kegiatan
ekonomis.Nabi Muhamad sendiri adalah seorang pedagang dan ajaran agama Islam mula-
mula disebarkan terutama melalui pedagang Muslim. Al-Quran sendiri terdapat peringatan
terhadap penyalahgunaan kekayaan, tetapi tidak dilarang mencari kekayaan dengan cara
halal. Ayat Al-Quran yang terpenting adalah ayat 275 surat al-Baqorah yang menyatakan
Allah telah menghalalkan perdagangan dan melarang riba.

Riba memang dilarang di seluruh dunia, namun yang menarik adalah membedakan riba dan
bunga uang.Riba (usury) dimaksudkan bunga uang berlebihan yang dituntut dari orang yang
kepepet karena situasi ekonomi yang khusus.Sedangkan bunga uang adalah balas jasa yang
diberikan kepada orang yang meminjamkan uang untuk usaha produktif.Orang yang
menyetujui pembedaan itu ialah ekonom Indonesia yaitu Muhammad Hattta, dalam tulisan
yang berjudul “Islam dan rente”.Riba adalah tambahan tidak wajar atas utang yang dipakai
untuk konsumsi.Rente adalah imbalan untuk pinjaman yang digunakan untuk usaha produktif.
Riba sama dengan pemerasan, rente bersifat businesslike. Namun kalangan Islam dewasa ini
tidak semua orang bisa menerima pembedaan tersebut.
4. Kebudayaan Jawa
Clifford Geertz pada tahun 1950-an menyelidiki struktur sosial dari kota Jawa Timur yang
disebutnya Modjokuto (nama samaran untuk Pare), ia menemukan empat golongan : priyai,
para pedagang pribumi (wong dagang), orang kecil yang bekerja sebagai buruh tani atau
tukang (wong cilik), orang Tionghoa (wong Cina). Yang menjadi penting yaitu perbedaan
antara priyayi dan wong dagang. Para priyai bekerja sebagai pegawai di bidang pemerintahan
dan sedikit memegang fungsi “kerah putih” dalam pabrik-pabrik kecil.Golongan priyayi
membentuk elite politik dan kultural, yang menjauhkan diri dari perdagangan.Golongan para
pedagang pribumi (oleh Koentjaraningrat disebut saudagar atau kauman), yang menjadi
perputaran roda ekonomi bersama dengan orang Tionghoa.

Dalam karyanya ternama, Religion of Java, Clifford Geertz menjelaskan bagaimana memiliki
kekayaan dan terutama menjadi kaya dengan mendadak dalam masyarakat jawa dikaitkan
dengan bantuan tuyul.Orang yang memelihara tuyul bukanlah golongan priyayi.Dalam tradisi
kebudayaan Jawa kekayaan ternyata dicurigakan.Secara spontan kekayaan tidak dihargai
sebagai jerih payah seseorang atau sebagai prestasi dalam berusaha.
5. Sikap modern dewasa ini
Sekarang kegiatan bisnis dinilai sebagai pekerjaan terhormat dan semakin dibanggakan sejauh
membawa sukses karena adanya jalan tengah antaran egoisme dan altruisme. Maka, hakikat
bisnis, di antara nilai dan norma adalah jangan merugikan kepentingan orang lain serta jangan
menjadikan bisnis itu pekerjaan kotor, bisnis harus tahu diri, dan bisnis membutuhkan etika.

Namun keprihatinan moral dengan bisnis kini tampak, sejalan kita hidup di zaman
konglomerat dan korporasi multinasional, zaman kapitalisme, bahkan sejak runtuhnya
komunisme, bisnis telah menjadi big business.Dengan akibat bisnis mencapai posisi
kekuasaan ekonomi yang besar.Kemudian masalah etika bisnis terbesar dewasa ini adalah
masalah kuasa yang tidak bisa dikontrol dan dibatasi. Seperti yang dikatakan Lord Acton
(abad 19) tentang kuasa politik, berlaku juga bagi kuasa ekonomis seperti yang terkenal
“Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely”. Malah dalam era globalisasi
sekarang,, jika kuasa ekonomi merajalela dengan leluasa, tidak dipungkiri ekonomi lemah
menjadi korban.
6. Kritik atas etika bisnis
Etika bisnis memang harus terbuka bagi kritik yang membangun, tetapi terkadang etika bisnis
juga menjadi bulan-bulanan kritik yang tidak tepat.Berikut adalah gambaran tentang corak
dan maksud etika bisnis sebagaimana dipahami sekarang ini.
1. Etika bisnis mendiskriminasi
Kritik ini lebih menarik karena sumbernya daripada isinya.Sumbernya adalah Peter Drucker,
ahli ternama dalam bidang teori manajemen. Ia mengemukakan kritik yang tajam tentang
etika bisnis yang artikelnya diterbitkan dalam majalah The Public Interest, kemudian lebih
populer lagi dan diulangi lagi dalam majalah Forbes.Responnya ditanggapi Bowie yang
menilai kritik Drucker sebagai intemperate and uninformed juga oleh Hoffman dan Jennifer
Moore.

Inti keberatan Drucker adalah bahwa etika bisnis menjalankan diskriminasi yaitu dunia bisnis
harus dibebankan secara khusus dengan etika dan diukur dengan standar etis lebih ketat dari
bidang-bidang lainnya.Menurutnya hanya ada satu etika yang berlaku bagi semua orang,
penguasa atau rakyat jelata, kaya atau miskin, yang kuat dan yang lemah serta etika bisnis itu
menunjukan adanya sisa-sisa dari sikap bermusuhan yang lama terhadap bisnis dan kegiatan
ekonomis.
2. Etika bisnis itu kontradiktif
Muncul suatu skepsis dari orang-orang yang menilai etika bisnis sebagai suatu usaha
naif.Etika bisnis mengandung suatu kontradiksi.Dunia bisnis itu ibarat rimba raya artinya
etika dan bisnis itu bagaikan air dan minyak.
3. Etika bisnis tidak praktis
Kritik etika bisnis yang menimbulkan banyak reaksi adalah artikel yang dimuat dalam
Harvard Business Review (1993) dengan judul “what’s the matter with business
ethics?”.Pengarangnya adalah Andrew Stark yaitu dosen manajemen di Universitas Toronto,
Kanada.Menurut Stark, etika bisnis adalah “too general, too theoretical, too impratical”.Ia
menilai kesenjangan besar menganga antara etika bisnis akademis dan para profesional di
bidang manajemen. Ia mendengan pertanyaan sejauh mana kapitalisme bisa dibenarkan atau
apakah dari segi etika harus diberi preferensi kepada sosialisme, dan memberi komentar: “apa
yang mereka hasilkan itu sering kali lebih mirip filsafat sosial yang muluk-muluk daripada
advis etika yang berguna untuk para profesional”. Maka, Stark dinilai menganggap etika
bisnis tidak praktis.
4. Etikawan tidak bisa mengambil alih tanggung jawab
Kritisi ini meragukan entah etika bisnis memiliki keahlian etis khusus, yang tidak dimiliki
oleh para pebisnis dan manajer itu sendiri.Setiap manusia merupakan pelaku moral yang
bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Kita tidak membutuhkan etika bisnis mereka
tegaskan yang datang menjelaskan apa yang harus kita perbuat atau apa yang tidak boleh kita
perbuat. Kita sendiri harus mengambil keputusan di bidang moral. Tidak ada jalan lain.

Tetapi sebenarnya bagaimanapun juga etikawan sama sekali tidak berprestasi mengambil alih
tanggung jawab moral dari orang lain. Bagi etika bisnis pun berlaku peribaha Inggris.
Peribahasa itu ialah “you can lead the horse to the water, but you can not make him drink”.

Prinsip-prinsip etika tidak berdiri sendiri, tetapi tercantum dalam suatu kerangka pemikiran
sistematis yang kita sebut “teori”.Secara konkret teori etika ini sering terfokuskan pada
perbuatan.Bisa dikatakan juga bahwa teori etika membantu kita untuk menilai keputusan etis
sehingga bisa memastikan benar tidaknya keputusan moral tahan uji yang diambil.Berikut
adalah beberapa teori yang dewasa ini paling penting dalam pemikiran moral, khususnya
dalam etika.