Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN KASUS

G4 P3 A0 H3 Gravid 12-13 Minggu + Abortus Inkomplit

Pembimbing :
dr. Imelda Juniar S Tampubolon

Oleh :
dr. Dwiki Surya Prayoga

DOKTER INTERNSHIP ANGKATAN I


PERIODE FEBUARI 2019 – FEBUARI 2020
RSUD BENGKULU TENGAH
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, dengan rahmat dan
hidayahNya sehingga kami telah dapat menyelesaikan tugas laporan kasus dengan
judul abortus inkomplit.
Tugas laporan kasus ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat Dokter
Internship di RSUD Bengkulu Tengah. Sebagai Dokter Internship yang sedang
menjalankan progam Dokter Internship, penyusun melihat tugas referat ini
sebagai pelatihan agar kelak menjadi dokter yang selalu menambah ilmu
pengetahuan di bidang Ilmu Kedokteran Obstetri dan Ginekologi.
Selama penyusunan tugas laporan kasus ini, penyusun telah banyak
mendapatkan bantuan yang tidak sedikit dari beberapa pihak, sehingga dalam
kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
Dr. Imelda Juniar S tampubolon sebagai dokter Pembimbing penyusunan tugas
laporan kasus ini. Penyusunan menyadari bahwa selama dalam penyusunan tugas
laporan kasus ini jauh dari sempurna dan banyak kekurangan dalam
penyusunannya. Oleh karena itu penyusun mengharapkan saran dan kritik yang
bersifat membangun guna kesempurnaan tugas laporan kasus ini. Penyusun
berharap tugas laporan kasus ini dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan
teman-teman semua di masa yang akan datang.

Batam 4 Mei 2019

Penulis
BAB I
STATUS PASIEN

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. W Nama Suami : Tn. P
Umur : 34 tahun Umur : 39 tahun
Jenis kelamin : Perempuan Pekerjaan : Wiraswasta
Paritas : G4P3A0H3 Agama : Islam
Alamat : Karang Tinggi
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT

B. ANAMNESIS
1. Anamnesa dilakukan secara autoanamnesa tanggal 27 April 2019
pukul 17.00 wib.

2. Keluhan Utama
Os seorang perempuan sedang hamil anak keempat mengeluh
keluar darah dalam jumlah banyak dari kemaluan sejak pagi jam 06.00 wib
SMRS.

3. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke UGD RSUD dengan rujukkan Puskesmas Karang
Tinggi Pasien diantar oleh suaminya dengan keluhan adanya darah yang
keluar dari vagina bercampur lendir yang dimulai dari pukul 06.00 wib,
dengan jumlah kurang lebih 6 kali ganti pembalut dari pukul 06.00 wib
hingga pukul 14.00 wib, setelah itu keluar darah bergumpal disertai rasa
nyeri dan mules pada perut bagian bawah, nyeri pinggang (+), pusing (+),
mual (+), riwayat jatuh (-), riwayat keguguran sebelumnya (-).
4. Riwayat Penyakit Dahulu
a. Hipertensi : disangkal
b. Diabetes Melitus : disangkal
c. Penyakit Jantung : disangkal
d. Penyakit Tumor atau Kanker : disangkal
e. Alergi : disangkal

5. Riwayat Penyakit Keluarga


a. Hipertensi : disangkal
b. Diabetes Melitus : disangkal
c. Penyakit Jantung : disangkal
d. Penyakit Tumor atau Kanker : disangkal
e. Alergi : disangkal

6. Pola Haid
a. Menarche : usia 14 tahun
b. Siklus : 28 hari
c. Lamanya : 5-7 hari
d. Nyeri haid : tidak

7. Riwayat Pernikahan
Pasien menikah 1x tahun 2009

8. Riwayat Kehamilan dan Persalinan


a. G4 P3 A0 H3
Anak Pertama : Lk, 2800 gr, PN, dokter
Anak kedua : Lk, 2800 gr, PN, dokter
Anak ketiga : Pr, 2900 gr, PN, dokter
Anak keempat : hamil saat ini
b. HPHT : 12 Febuari 2019
c. Usia Kehamilan : 12-13 minggu
d. Riwayat ANC : Di Puskesmas 6 kali
e. Riwayat KB : Tidak KB

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum
Kesan Sakit : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Keadaan Gizi : Tampak Gizi Baik
GCS : E4 ; V5 ; M6
BB : 55 kg
TB : 150 cm

2. Tanda-tanda Vital
Tekanan darah : 130/90 mmHg
Nadi : 82 x/menit
Frek. napas : 20 x/menit
Suhu Tubuh : 37.0 0C

3. Status Generalis
a. Kepala : Normocepali, rambut berwarna hitam lebat
b. Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), injeksi
konjungtiva (-/-), reflek cahaya (+/+), pupil isokor (+/+).
c. Hidung : Deformitas (-) , darah (-), sekret (-).
d. Telinga : Deformitas (-/-), darah (-/-), sekret (-/-), tinitus (-/-).
e. Mulut : Sianosis (-), anemis (-), lidah kotor (-), faring hiperemis (-
), Tidak ada pembesaran pada kedua tonsil.
f. Leher : Leher simetris, deviasi trakea (-), JVP meningkat (-),
pembesaran kelenjar getah bening (-), pembesaran kelenjar tiroid (-)
g. Thoraks
Paru
Inspeksi : Bentuk dan pergerakan simetris kanan = kiri, retraksi(-)
Palpasi : Pergerakan simetris kiri=kanan, sela iga tidak melebar
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Suara nafas( +/+) vesikuler, ronchi (-/-), wheezing (-/-)
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS V linea midclavicula sinistra
Perkusi : Batas jantung dalam batasan normal
Kanan atas : ICS II linea parasternalis dextra
Kanan bawah : ICS IV linea parasternalis dextra
Kiri atas : ICS II linea parasternalis sinistra
Kiri bawah: ICS IV line midclavicularis sinistra
Auskultasi : Bunyi jantung I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)
h. Abdomen
Inspeksi : tampak sedikit membuncit, tanda hamil (-)
Palpasi : teraba massa di regio simpisis pubis
Perkusi : pekak diatas massa
Auskultasi : bising usus (+) normal
i. Ekstrimitas
Superior : akral hangat, clubbing finger (-), CRT < 3’
Inferior : akral hangat, atrofi otot (-), edema (-)

4. Status Obstetri
Abdomen : Soepel, tidak teraba massa, nyeri tekan (-)
Leopold I : TFU tidak teraba
Leopold II : Tidak dapat dinilai
Leopold III : Tidak dapat dinilai
Leopold IV : Tidak dapat dinilai
P/V : (+)
5. Status Ginekologis
Inspeksi : Massa (-), P/V (+)
Inspekulo : Portio : licin, erosi (-), lividae (+), fluksus (+) dari
kanalis servikalis, OUE terbuka.
Vagina : massa (-), laserasi (-), fluksus (+), tampak
gumpalan darah di introitus vagina, dibersihkan
kesan tidak mengalir.
VT : Korpus uteri antefleksi, besar biasa, tanda Hegar
(+), tanda Piskacek (+), Adneksa kanan-kiri sulit
dinilai, Promonterium lemas, Nyeri goyang
serviks (-)

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium 27 April 2019
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
Darah
Hb 12,3 11-16,5 gr/dl
Leukosit 9.900 3500-10.000 /ul
Hematokrit 38% 35-50 %
Eritrosit 4,5 3,6 – 5,3 Juta/ul
Trombosit 257 150.000-500.000/ul
MCH 27,2 26,5-33,5 pg
MCV 84,5 80,0-97,0 fl
MCHC 32,2 31,5-35,0 g/dl
Neutrofil Segment 65% 46-73%
GDS 82 mg/dl < 200
PP Test/HCG Test Positif Negatif
HbsAg Negatif Negatif
HIV Non Reaktif Non Reaktif

E. DIAGNOSA
G4 P3 A0 H3 gravid 12-13 minggu + abortus inkomplit

F. Therapi Tindakan :
IVFD D5% 20 tpm
Pregnolin 3 x 1 tab
Rencana USG dan kuretase
FOLLOW UP

Tanggal 28/04/2019 (kamar bersalin) S : pasien masuk via ugd dengan


keluhan keluar flek dari kemaluan,
ketika dirumah pagi tadi sebelum
masuk rumah sakit keluar darah yang
banyak disertai gumpalan darah yang
diikuti oleh perut mules (+), nyeri
pinggang (+), pusing (+), riwayat jatuh
(-).
O : KU : Tampak sakit sedang
Kes : Composmentis
BP : 140/100 mmHg
HR : 76x/i
RR : 20x/i
T : 37,0 0 C
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera
ikterik (-/-)
Mulut : mukosa bibir anemis (+)
Abdomen : nyeri tekan (-)
A : G4P3A0 gravid 12-13 minggu +
abortus inkomplit
P : IVFD D5% 20 tpm
Pregnolin 3x1 tab
Rencana USG besok
Tanggal 29/04/2019 S : keluar darah dari kemaluan (+),
perut mules (+), nyeri pinggang (+),
pusing (+).
O : KU : Tampak sakit sedang
Kes : Composmentis
BP : 130/70 mmHg
HR : 80x/i
RR : 20x/i
T : 36,2 0 C
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera
ikterik (-/-)
Mulut : mukosa bibir anemis (-)
Abdomen : nyeri tekan (-)
A : G4P3A0 gravid 12-13 minggu +
abortus inkomplit
P : IVFD D5% 20 tpm
Pregnolin 3x1 tab
USG hari ini
Tanggal 30/04/2019 (ruang nifas) S : os mengatakan lemas (+), mual (-),
pusing (-), nyeri perut bagian bawah (-),
keluar flek (+).
O : KU : Baik
Kes : Composmentis
BP : 120/80 mmHg
HR : 80x/i
RR : 20x/i
T : 36,2 0 C
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera
ikterik (-/-)
Mulut : mukosa bibir anemis (-)
Abdomen : nyeri tekan (-)
A : post kuretase a/i abortus inkomplit
P : IVFD RL 20 tpm
Amoxylin 3x1 tab
Asam mefenamat 3x1
Methyl ergometrin 3x1 tab
Sulfas ferosus 2x1 tab
Tanggal 29-06-2016 S : os mengatakan lemas (-), mual (-),
pusing (-), nyeri perut bagian bawah (-),
keluar flek (+).
O : KU : Baik
Kes : Composmentis
BP : 130/70 mmHg
HR : 85x/i
RR : 20x/i
T : 36,5 0 C
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera
ikterik (-/-)
Mulut : mukosa bibir anemis (-)
Abdomen : nyeri tekan (-)
A : post kuretase a/i abortus inkomplit
P : IVFD RL 20 tpm
Amoxylin 3x1 tab
Asam mefenamat 3x1
Methyl ergometrin 3x1 tab
Sulfas ferosus 2x1 tab
Boleh pulang aff infuse
Terapi oral lanjut
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum
janin dapat hidup di luar kemampuan kandungan, dan sebagai batasan
digunakan kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat badan anak kurang
dari 500 gram.(terakhir, WHO/FIGO 1998 : 22 minggu)2

2. Epidemiologi
Dari 210 juta kehamilan, 75 juta dianggap tidak direncanakan5di
mana sekitar 15% kehamilan akan berakhir pada aborsi.6 Sekitar 500.000
wanita meninggal akibat komplikasi persalinan, 7 juta wanita mengalami
gangguan kesehatan setelah melahirkan. Pada negara berkembang,
prevalensi abortus mencapai 160 per 100000 kelahiran hidup dan paling
tinggi terdapat di Afrika yaitu 870 per 100000 kelahiran hidup.4

Guttmacher, et al. (2003) menunjukkan bahwa angka abortus di AS


mencapai 1278.000 kasus dengan rasio 20,8 per 1000 kelahiran pada
wanita usia produktif (15-49 tahun). Di Indonesia, ditunjukkan prevalensi
abortus sebesar 2 juta kasus pada tahun 2000 dengan rasio 37 per 1000
kelahiran pada wanita usia produktif pada 6 wilayah. Motif sebagian besar
kasus abortus adalah abortus kriminalis.
Sekitar 75% abortus spontan ditemukan pada usia gestasi kurang dari 16
minggu dan 62% sebelum usia gestasi 12 minggu. Insidensi abortus
inkomplit belum diketahui secara pasti, namun demikian disebutkan
sekitar 60% dari wanita hamil dirawat di rumah sakit dengan perdarahan
akibat mengalami abortus inkomplit. Inisidensi abortus spontan secara
umum disebutkan sebesar 10% dari seluruh kehamilan.7
Risiko abortus spontan semakin meningkat dengan bertambahnya
paritas di samping dengan semakin lanjutnya usia ibu dan ayah. Frekuensi
abortus yang dikenali secara klinis bertambah dari 12% pada wanita yang
berusia kurang dari 20 tahun, menjadi 26% pada wanita yang berumur di
atas 40 tahun. Untuk usia paternal yang sama, kenaikannya adalah dari
12% menjadi 20%. Insiden abortus bertambah pada kehamilan yang belum
melebihi umur 3 bulan.8
Penelitian Basama, et al. (2009) pada 182 dengan abortus
imminens menunjukkan bahwa 29% janin akan keluar pada usia gestasi 5-
6 minggu; 8,2% pada usia gestasi 7-12 minggu; dan 5,6% pada usia gestasi
13-20 minggu.9 Biasanya abortus imminens akan berlanjut menjadi
abortus komplit 10-14 minggu setelah pasien mengeluhkan keluar bercak-
bercak darah.10 Pada penelitian Johns et al. (2006) ditunjukkan bahwa
risiko abortus komplit pada pasien abortus imminens atau insipiens dengan
usia gestasi rata-rata 8 minggu adalah 9,3%.11

3. Klasifikasi
Abortus dapat dibagi atas dua golongan yaitu:
Menurut terjadinya dibedakan atas:
a. Abortus spontan yaitu abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa
disengaja atau dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau
medisinalis, sematamata disebabkan oleh faktor-faktor alamiah.
b. Abortus provokatus (induksi abortus) adalah abortus yang disengaja
tanpa indikasi medis, baik dengan memakai obat-obatan maupun
dengan alat-alat.
Abortus ini terbagi lagi menjadi:
a. Abortus medisinalis (abortus therapeutica) yaitu abortus karena
tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan, dapat
membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis). Biasanya perlu
mendapat persetujuan 2 sampai 3 tim dokter ahli.
b. Abortus kriminalis yaitu abortus yang terjadi oleh karena tindakan-
tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis dan
biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh tenaga tradisional.
Pembagian abortus secara klinis adalah sebagai berikut :
a. Abortus Iminens merupakan tingkat permulaan dan ancaman
terjadinya abortus, ditandai perdarahan pervaginam, ostium uteri masih
tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan.
b. Abortus Insipiens adalah abortus yang sedang mengancam ditandai
dengan serviks telah mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan
tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri dan dalam proses
pengeluaran.
c. Abortus Inkomplit adalah sebagian hasil konsepsi telah keluar dari
kavum uteri dan masih ada yang tertinggal.
d. Abortus Komplit adalah seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum
uteri pada kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang
dari 500 gram.
e. Missed Abortion adalah abortus yang ditandai dengan embrio atau
fetus telah meninggal dalam kehamilan sebelum kehamilan 20 minggu
dan hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam kandungan.
f. Abortus Habitualis ialah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih
berturutturut.
g. Abortus Infeksious ialah abortus yang disertai infeksi pada alat
genitalia.
h. Abortus Terapeutik adalah abortus dengan induksi medis
(Prawirohardjo, 2009).
4. Etiologi
a. Faktor janin
1) Faktor Genetik.
Paling sering menimbulkan abortus spontan adalah abnormalitas
kromosom pada janin. Lebih dari 60% abortus spontan yang terjadi
pada trimester pertama menunjukkan beberapa tipe abnormalitas
genetik.
2) Kelainan telur, blighted ovum, kerusakan embrio
3) Embrio dengan kelainan lokal
4) Kelainan pada plasenta
Endometritis dapat terjadi dalam villi korialis dan menyebabkan
oksigenasi plasenta terganggu, sehingga menyebabkan gangguan
pertumbuhandan kematian janin. Keadaan ini bisa terjadi sejak
kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun.

b. Faktor maternal
1) Kelainan anatomis ibu
Abnormalitas anatomi maternal yang dihubungkan dengan
kejadian abortus spontan yang berulang termasuk inkompetensi
serviks, kongenital dan defek uterus yang didapatkan (acquired).
Lingkungan di endometrium disekitar tempat implantasi kurang
sempurna sehingga pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi
terganggu.
2) Infeksi
Infeksi intrauterin sering dihubungkan dengan abortus spontan
berulang. Organisme-organisme yang sering diduga sebagai
penyebab antara lain Chlamydia, Ureaplasma, Mycoplasma,
Cytomegalovirus, Listeria monocytogenes dan Toxoplasma gondii.
3) Pengaruh endokrin
Hipertiroidismus, diabetes melitus dan defisiensi progesteron.
4) Penyakitkronisyang melemahkan, misalnya penyakit tuberkulosis
atau karsinomatosis, namun keadaan ini jarang menyebabkan
abortus; sebaliknya pasien meninggal dunia karena penyakit ini
tanpa melahirkan. Penyakit kronis lain (diabetes melitus, hipertensi
kronis, penyakit liver/ ginjal kronis).
5) Nutrisi
Malnutrisi umum yang sangat berat memiliki kemungkinan paling
besar menjadi predisposisi abortus. Meskipun demikian, belum
ditemukan bukti yang menyatakan bahwa defisiensi salah satu/
semua nutrien dalam makanan merupakan suatu penyebab abortus
yang penting.
6) Faktor imunologis yang telah terbukti signifikan dapat
menyebabkan abortus spontan yang berulang antara lain: antibodi
antinuklear, antikoagulan lupus dan antibodi cardiolipin.
Inkompatibilitas golongan darah A, B, O, dengan reaksi antigen
antibodi dapat menyebabkan abortus berulang, karena pelepasan
histamin mengakibatkan vasodilatasi dan peningkatan fragilitas
kapiler.
7) Faktor psikologis
Dibuktikan bahwa ada hubungan antara abortus yang berulang
dengan keadaan mental akan tetapi belum dapat dijelaskan
sebabnya. Yang peka terhadap terjadinya abortus ialah wanita
yang belum matang secaraemosional dan sangat penting
dalammenyelamatkan kehamilan.

c. Faktor eksternal
1) Radiasi
Dosis 1-10 rad bagi janin UK 9 minggu pertama dapat merusak
janin, dan pada dosis yang lebih tinggi dapat menyebabkan
kematian.
2) Obat-obatan
Antagonis asam folat, antikoagulan, dll.
3) Bahan kimia lain (arsen & benzena)
Rokok juga mempunyai efek vasoaktif sehingga menghambat
sirkulasi uteroplasenta. Karbon monoksida juga menurunkan
pasokan oksigen ibu dan janin serta memacu neurotoksin. Dengan
adanya gangguan pada sistem sirkulasi fetoplasenta dapat terjadi
gangguan pertumbuhan janin yang berakibat terjadinya abortus.1,3,4

5. Faktor Resiko
Faktor risiko abortus yaitu:
a. Bertambahnya usia ibu.
Abortus meningkat dengan pertambahan umur, OR 2,3 setelah usia 30
tahun. Risiko berkisar 13,3% pada usia 12-19 tahun; 11,1% pada usia
20-24 tahun; 11,9% pada usia 25-29 tahun; 15% pada usia 30-34
tahun; 24,6% pada usia 35-39%; 51% usia 40-44 tahun; 93,4% pada
usia 45 tahun ke atas. Baru-baru ini peningkatan usia ayah dianggap
sebagai suatu faktor risiko terjadinya abortus. Suatu penelitian yang
dilakukan di Eropa melaporkan bahwa risiko abortus tertinggi
ditemukan pada pasangan dimana usia wanita ≥ 35 tahun dan pria ≥ 40
tahun.12
b. Riwayat reproduksi abortus.
Risiko pasien dengan riwayat abortus untuk kehamilan berikutnya
ditentukan dari frekuensi riwayatnya. Pada pasien yang baru
mengalami riwayat 1 kali berisiko 19%, 2 kali berisiko 24%, 3 kali
berisiko 30%, dan 4 kali berisiko 40%. Menurut Malpas dan Eastman
kemungkinan terjadinya abortus lagi pada seorang wanita yang
mengalami abortus habitualis ialah 73% dan 83,6%. Sebaliknya
Warton dan Fraser memberikan prognosis yang lebih baik yaitu 25,9%
dan 39%.13
c. Kebiasaan orang tua
Merokok dihubungkan dengan peningkatan risiko abortus. Risiko
abortus meningkat 1,2-1,4 kali lebih besar untuk setiap 10 batang
rokok yang dikonsumsi setiap hari. Asap rokok mengandung banyak
ROS yang akan mendestruksi organel seluler melalui kerusakan
mitokondria, nukleus, dan membran sel.14 Selain itu, secara tidak
langsung ROS akan menyebabkan kerusakan sperma. Hal ini
menyebabkan fragmentasi DNA rantai tunggal maupun ganda
sperma.15
Plasentasi normal diatur oleh invasi arteri spiral uterina yang diatur
oleh genomik tropoblas yang normal. Pada organogenesis embrionik
dalma menjamin invasi tropoblas, tekanan oksigen rendah, dan
metabolisme cenderung anaerob. Oleh karena itu, produksi ROS
biasanya menurun. Keadaan ini diatur aktivitas integrin yang
merangsang tropoblas untuk proliferasi. Tekanan oksigen rendah
membantu implantasi sedangkan tekanan tinggi membantuk proliferasi
sel tropoblas.16
Transisi trimester 1 ke 2 membawa banyak perubahan metabolisme.
Pada akhir trimester satu, ada peningkatan tekanan oksigen dari <20
mmHg menjadi >50 mmHg menyebabkan stress oksidatif. Pada
abortus, stres oksidatif juga dipicu oleh zymosan opsonisasi dan
stimulai N-formil-metionil-leucil-fenilalanin.
Dengan faktor pemicu asap rokok, stres oksidatif akan semakin
buruk.17 Stres oksidatif sendiri dapat menyebabkan apoptosis yang
mengganggu invasi plasenta dan abortus dini. ROS akan bereaksi
dengan molekul pada berbagai sistem biologi sehingga dapat terjadi
kerusakan sel yang ekstensif dan disrupsi fungsi sel.18 Dengan risiko
stres oksidatif, pasien tidak pernah mengkonsumsi vitamin yang
berperan sebagai antioksidan sehingga meningkatkan risiko abortus.
Selain itu, Vural, et al. menunjukkan adanya peningkatan radikal bebas
superoksida oleh PMN pada trimester satu kehamilan.19
d. Konsumsi alkohol selama 8 minggu pertama kehamilan. Tingkat
aborsi spontan dua kali lebih tinggi pada wanita yang minum alkohol
2x/minggu dan tiga kali lebih tinggi pada wanita yang mengkonsumsi
alkohol setiap hari. Dalam suatu penelitian didapatkan bahwa risiko
abortus meningkat 1,3 kali untuk setiap gelas alkohol yang dikonsumsi
setiap hari.20
e. Kafeindosis rendah tidak mempunyai hubungan dengan abortus. Akan
tetapi pada wanita yang mengkonsumsi 5 cangkir (500 mg kafein) kopi
setiap hari menunjukkan tingkat abortus yang sedikit lebih tinggi.21
f. Radiasi juga dapat menyebabkan abortus pada dosis yang cukup. Akan
tetapi, jumlah dosis yang dapat menyebabkan abortus pada manusia
tidak diketahui secara pasti.22
g. Alat kontrasepsi dalam rahim yang gagal mencegah kehamilan
menyebabkan risiko abortus, khususnya abortus septik meningkat.23
h. Psikologis seperti ansietas dan depresi.24

i. Patofisiologi
Mekanisme awal terjadinya abortus adalah lepasnya sebagian atau
seluruh bagian embrio akibat adanya perdarahan minimal pada desidua
yang menyebabakan nekrosis jaringan. Kegagalan fungsi plasenta yang
terjadi akibat perdarahan subdesidua tersebut menyebabkan terjadinya
kontraksi uterus dan mengawali adanya proses abortus. Karena hasil
konsepsi tersebut terlepas dapat menjadi benda asing dalam uterus yang
menyebabkan uterus kontraksi dan mengeluarkan isinya.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, embrio rusak atau cacat
yang masih terbungkus dengan sebagian desidua dan villi chorialis
cenderung dikeluarkan secara in toto, meskipun sebagian dari hasil
konsepsi masih tertahan dalam cavum uteri atau di kanalis servikalis.
Perdarahan pervaginam terjadi saat proses pengeluaran hasil konsepsi.
Pada kehamilan 8-14 minggu biasanya diawali dengan pecahnya selaput
ketuban dan diikuti dengan pengeluaran janin yang cacat namun plasenta
masih tertinggal dalam cavum uteri. Jenis ini sering menimbulkan
perdarahan pervaginam banyak. Pada kehamilan minggu ke 14-22, janin
biasanya sudah dikeluarkan dan diikuti dengan keluarnya plasenta
beberapa saat kemudian. Kadang-kadang plasenta masih tertinggal dalam
uterus sehingga menimbulkan gangguan kontraksi uterus dan terjadi
perdarahan pervaginam banyak. Perdarahan pervaginam umumnya lebih
sedikit namun rasa sakit lebih menonjol.
Pada abortus hasil konsepsi yang dikeluarkan terdapat dalam
berbagai bentuk yaitu kantong amnion kosong, di dalam kantung amnion
terdapat benda kecil yang bentuknya masih belum jelas (blighted ovum),
atau janin telah mati lama. Plasentasi tidak adekuat sehingga sel tropoblas
gagal masuk ke dalam arteri spiralis. Akibatnya, terjadi peredaran darah
prematur dari ibu ke anak.27,51,70

j. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis abortus inkomplit berupa amenorea, sakit perut,
dan mules-mules. Perdarahan bisa sedikit atau banyak, dan biasanya
berupa stolsel (darah beku), sudah ada keluar fetus atau jaringan. Pada
abortus yang sudah lama terjadi atau pada abortus provokatus yang
dilakukan oleh orang yang tidak ahli, sering terjadi infeksi. Tanda-tanda
infeksi alat genital berupa demam, nadi cepat, perdarahan, berbau, uterus
membesar dan lembek, nyeri tekan, luekositosis. Pada pemeriksaan dalam
untuk abortus yang baru saja terjadi didapati serviks terbuka, kadang-
kadang dapat diraba sisa-sisa jaringan dalam kanalis servikalis atau kavum
uteri, serta uterus berukuran kecil dari seharusnya.3

k. Diagnosa
Abortus diduga pada wanita yang pada masa reproduktif mengeluh
tentang perdarahan pervaginam setelah terlambat haid. Hipotesis dapat
diperkuat pada pemeriksaan bimanual dan tes kehamilan. Harus
diperhatikan banyaknya perdarahan, pembukaan serviks, adanya jaringan
dalam kavum uteri atau vagina.
Bentuk perdarahan bervariasi diantaranya sedikit-sedikit dan
berlangsung lama, sekaligus dalam jumlah yang besar dapat disertai
gumpalan, dan akibat perdarahan tidak menimbulkan gangguan apapun
atau syok. Disebut pendarahan ringan-sedang bila doek bersih selama 5
menit, darah segar tanpa gumpalan, darah yang bercampur dengan mukus.
Pendarahan berat bila pendarahan yang banyak, merah terang, dengan atau
tanpa gumpalan, doek penuh darah dalam waktu 5 menit, dan pasien
tampak pucat.3
Bentuk pengeluaran hasil konsepsi bervariasi berupa pada usia
gestasi di bawah 14 minggu dimana plasenta belum terbentuk sempurna
dikeluarkan seluruh atau sebagian hasil konsepsi, di atas 16 minggu,
dengan pembentukan plasenta sempurna dapat didahului dengan ketuban
pecah diikuti pengeluaran hasil konsepsi, dan dilanjutkan dengan
pengeluaran plasenta, berdasarkan proses persalinannya dahulu disebutkan
persalinan immaturus, dan hasil konsepsi yang tidak dikeluarkan lebih dari
6 minggu, sehingga terjadi ancaman baru dalam bentuk gangguan
pembekuan darah.73
Diagnosis abortus dilakukan berdasarkan jenisnya, yaitu:27,51,70,73,74
1. Abortus Iminens adalah pendarahan dari uterus pada kehamilan
kurang dari 20 minggu, hasil konsepsi masih di dalam uterus dan
tidak ada dilatasi serviks. Pasien akan atau tidak mengeluh mules-
mules, uterus membesar, terjadi pendarahan sedikit seperti bercak-
bercak darah menstruasi tanpa riwayat keluarnya jaringan terutama
pada trimester pertama kehamilan. Pada pemeriksaan obstetrik
dijumpai tes kehamilan positif dan serviks belum membuka. Pada
inspekulo dijumpai bercak darah di sekitar dinding vagina, porsio
tertutup, tidak ditemukan jaringan.
2. Abortus Insipiens adalah perdarahan kurang dari 20 minggu karena
dilatasi serviks uteri meningkat dan hasil konsepsi masih dalam
uterus. Pasien akan mengeluhkan mules yang sering dan kuat, keluar
darah dari kemaluan tanpa riwayat keluarnya jaringan, pendarahan
biasanya terjadi pada trimester pertama kehamilan, darah berupa
darah segar mengalir. Pada inspekulo, ditemukan darah segar di
sekitar dinding vagina, porsio terbuka, tidak ditemukan jaringan.
3. Abortus inkomplit adalah pengeluaran hasil konsepsi pada kehamilan
sebelum 20 minggu dengan masih terdapat sisa hasil konsepsi
tertinggal dalam uterus. Pada anamnesis, pasien akan mengeluhkan
pendarahan berupa darah segar mengalir terutama pada trimester
pertama dan ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir.
4. Abortus Komplit adalah keadaan di mana semua hasil konsepsi telah
dikeluarkan. Pada penderita terjadi perdarahan yang sedikit, ostium
uteri telah menutup dan uterus mulai mengecil. Apabila hasil konsepsi
saat diperiksa dan dapat dinyatakan bahwa semua sudah keluar
dengan lengkap. Pada penderita ini disertai anemia sebaiknya
disuntikan sulfas ferrosus atau transfusi bila anemia. Pendarahan
biasanya tinggal bercak-bercak dan anamnesis di sini berperan
penting dalam menentukan ada tidaknya riwayat keluarnya jaringan
dari jalan lahir. Pada inspekulo, ditemukan darah segar di sekitar
dinding vagina, porsio terbuka, tidak ditemukan jaringan
5. Missed Abortion ditandai dengan kematian embrio atau fetus dalam
kandungan >8 minggu sebelum minggu ke-20. Pada anamnesis akan
ditemukan uterus berkembang lebih rendah dibanding usia
kehamilannya, bisa tidak ditemukan pendarahan atau hanya bercak-
bercak, tidak ada riwayat keluarnya jaringan dari jalan lahir. Pada
inspekulo bisa ditemukan bercak darah di sekitar dinding vagina,
portio tertutup, tidak ditemukan jaringan.
6. Abortus rekuren adalah abortus spontan sebanyak 3x/ lebih berturut-
turut. Pada anamnesis akan dijumpai satu atau lebih tanda-tanda
abortus di atas, riwayat menggunakan IUD atau percobaan aborsi
sendiri, dan adanya demam.
7. Abortus Septik ditandai penyebaran infeksi pada peredaran darah
tubuh atau peritonium. Hasil diagnosis ditemukan: panas, lemah,
takikardia, sekret yang bau dari vagina, uterus besar dan ada nyeri
tekan dan bila sampai sepsis dan syok (lelah, panas, menggigil)
8. Blighted ovum adalah suatu keadaan di mana embrio tidak terbentuk
tetapi terdapat kantung gestasi. Konfirmasi tidak ada embrio pada
kantung gestasi (diameter minimal 25 mm) dengan USG.

l. Penatalaksanaan
Abortus inkomplit dapat ditatalaksana dengan rawat ekspektatif,
pembebahan, maupun medikamentosa. Efektivitas rawat ekspektatif
berkisar antara 52%-81% setelah follow up 2 minggu.84 Terapi
medikamentosa dengan misoprostol menunjukkan efektivitas 80% ke atas.
Namun, tidak ada perbedaan statistik yang signifikan antara keduanya.85
Reynold et al. (2005) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan statistik
yang signifikan mengenai efikasi medikamentosa dan pembedahan dalam
penatalaksanaan abortus inkomplit. Namun, terdapat peningkatan risiko
infeksi pelvik pada penatalaksanaan secara surgikal (p<0,001). Hal ini
berlaku saat kantung gestas <24 mm. Setelahnya, efikasi medikamentosa
dibanding pembedahan akan berkurang 85%.86 Penelitian Weeks et al.
Dengan 600 mcg misoprostol oral dengan aspirasi vakum manual
menunjukkan bahwa lebih baik dengan misoprostol, tetapi tidak bermakna
(96,3 vs 91,4).87
a. Perbaiki keadaan umum: volume intravaskuler efektif harus
dipertahankan untuk memberikan perfusi jaringan yang adekuat.
b. Infeksi harus dikendalikan dengan antibiotik yang tepat.
Sekitar 13% abortus bersifat infeksius baik pre dan post
operasi. Fawcus et al. (1997) menunjukkan 49,5% wanita hamil
dengan abortus inkomplit diberikan terapi antibiotik dan
transfusi.88 Penelitian Chow et al. (1997) pada 77 pasien abortus
menunjukkan penatalaksanaan dengan penicillin + chloraphenicol
lebih baik dibanding chloramphenicol tunggal.89 Seeras (1989)
menunjukkan tidak ada perbedaan insidensi sepsis antara
kelompok kontrol dengan kelompok yang menerima tetrasiklin
kapsul 500 mg 4 kali sehari (RR 1,36, 95CI 0,86-2,14).90 Pada
RCT yang menilai profilaksis doksisiklin sebelum kuretase,
ditunjukkan tidak ada efek yang bermakna terhadap penurunan
mortalitas infeksi pasca kuretase.91
c. Hasil konsepsi dalam uterus harus dievakuasi, bila perlu dilakukan
laparotomi eksplorasi, sampai pengangkatan rahim
Pada perdarahan ringan dan kehamilan <16 minggu, dapat
dilakukan pengeluaran hasil konsepsi yang terjepit pada serviks
dengan jari atau forceps cincin. Bila perdarahan sedang-berat dan usia
kehamilan <16 minggu, dilakukan evakuasi hasil konsepsi dari uterus
dengan pilihan aspirasi vakum. Indikasi aspirasi vakum manual adalah
pada kasus abortus insipien atau inkomplit <16 minggu (sumber lain
menyebutkan batasan usia kehamilan <12-14 minggu). Bila evakuasi
tidak memungkinkan untuk segera dilakukan, berikan ergometrin
0,2mg IM (dapat diulang setelah 15 menit bila diperlukan) atau
misoprostol 400 μg oral (dapat diulang setelah 4 jam bila diperlukan).
Pada kehamilan >16 minggu, dilakukan induksi ekspulsi janin infus
oksitosin 40 IU dalam 1 L kristaloid dengan kecepatan 40 tetes per
menit sampai ekspulsi hasil konsepsi terjadi. Bila perlu, dapat
diberikan misoprostol 200 μg per vaginam tiap 4 jam hingga terjadi
ekspulsi, dosis total tidak lebih dari 800 μg. Setelah itu, mengevakuasi
sisa hasil konsepsi yang tersisa dari uterus.77
Penelitian Gulmezoglu menunjukkan bahwa metode operatif
yang dipilih untuk abortus inkomplit adalah aspirasi vakum dengan
efek samping yang rendah: kehilangan darah minimal (RR 0,28), nyeri
minimal (RR 0,74), waktu lebih singkat (-1,2 menit) dibanding
kuretase tajam. Di samping itu, prosedur ini tidak memerlukan anestesi
umum dan memiliki efektivitas yang cukup baik (persentase evakuasi
komplit rata-rata >98%). Walaupun begitu, perhitungan statistik
menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna.88 Heath et al.
menunjukkan bahwa tidak ada manfaat pemeriksaan histopatologi
jaringan kuretase. Akan tetapi, hal ini tetap saja diperiksakan untuk
mencegah kemungkinan KET.92
Beberapa studi menganjurkan terapi misoprostol.93 Efikasi
misoprostol berkisar 13%-96% dengan banyak faktor yang
mempengaruhinya misal, abortus, dan ukuran kantung gestasi. Angka
keberhasilan tinggi (70%-96%) ditemukan pada kasus abortus
inkomplit dengan misoprostol dosis tinggi (1200 mcg-2400 mcg) yang
berikan pervaginam.94,95

Chung et al. menunjukkan bahwa 400 mcg misoprostol oral setiap 4


jam menunjukkan efikasi yang baik dengan dosis maksimum 1200
mcg.96 Gonlund yang membandingkan rawat ekspektatif dengan
misoprostol vaginal 400 mcg menunjukkan keberhasilan 90% lebih
baik dengan evaluasi pada hari 8 dan 14.97 Studi yang membandingkan
rute oral dan vaginal menunjukkan bahwa vaginal lebih baik.98 Meka et
al. menganjurkan penatalaksanaan dengan 600 mcg misoprostol
pervaginam dan kontrol tes kehamilan urin setelah 3 minggu
tatalaksana.99
Mengenai efektivitas melalui rute apa misoporstol harus diberikan
masih kontroversial. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa
misoprostol lebih efektif diberikan per bukal atau per vaginam agar
tidak perlu melalui proses first pass metabolism. Meta analisis pada 15
penelitian (2118 wanita) menunjukkan tidak ada perbedaan yang
bermakna kejadian abortus pada kelompok yang diberikan progestogen
oral/im/vaginal dan plasebo. Mittal et al. (2004) juga menunjukkan
efikasi misoprostol yang sama antarakedua kelompok.100 Wiebe et al
(2004) pada wanita aborsi menunjukkan bahwa terapi misoprostol
vaginal lebih efektif dibanding bukal setelah terapi metroteksat.101
Akan tetapi, Middleton et al. (2005) pada 442 wanita menunjukkan
bahwa efikasi terapi misoprostol bukal lebih baik dibanding vaginal
setelah mifepriston.102
DISKUSI
Kasus Teori Analisis Kasus
Pasien datang ke Pendarahan pervaginam Pasien ini mengalami
UGD RSUD dengan adalah suatu kondisi di mana pendarahan pervaginam.
rujukkan kimia keluarnya darah dari vagina.
farma. Pasien diantar Pendarahan pervaginam
oleh suaminya terdiri dari mayoritas
dengan keluhan pendarahan antepartum,
adanya darah yang pendarahan postpartum,
keluar dari vagina maupun pendarahan akibat
bercampur lendir abnormalitas ginekologi
yang dimulai dari tertentu sehingga harus
pukul 06.00 wib, diketahui status gestasi
dengan jumlah pasien.
kurang lebih 6 kali
ganti pembalut dari
pukul 06.00 wib
hingga pukul 14.00
wib, setelah itu keluar
darah bergumpal.
Pasien mengaku Kehamilan yaitu masa yang Pasien ini kemungkinan
dirinya tidak haid dimulai dari konsepsi, nidasi, mengalami abortus
sejak bulan Maret embrio, hingga menjadi fetus. walau status gestasi
2016. Pasien Tanda-tanda kehamilan pasien harus
melakukan meliputi amenorrhea, dikonfirmasi dengan
pemeriksaan tes pack hiperemesis, dan perubahan pemeriksaan USG untuk
urin merek Sensitif fisiologis tubuh ibu hamil. menyingkirikan
dan mendapatkan Tanda pasti adalah bila kemungkinan penyebab
hasil yang positif. pemeriksa merasakan gerakan pendarahan pervaginam
Akan tetapi, pasien janin dan adanya denyut lainnya seperti
belum pernah jantung janin. kehamilan ektopik atau
konfirmasi hasil Akan tetapi, kondisi ini tetap mola hidatidosa. Tanda
kehamilan ini ke harus dikonfirmasi dengan pasti adalah bila
dokter kandungan. pemeriksaan USG pemeriksa merasakan
HPHT : 25 Maret transvaginal maupun gerakan janin dan adanya
2016 transabdominal. denyut jantung janin
belum dapat menjadi
patokan karena tanda ini
secara normal baru
dirasakan pada usia
kehamilan di atas 20
minggu.
Darah yang keluar Jenis abortus harus dibedakan Pasien pada kasus ini
berwarna merah karena penatalaksanaan untuk kemungkinan mengalami
kehitaman disertai setiap jenisnya berbeda. Pada jenis abortus inkomplit.
gumpalan darah, abortus imminens, darah yang
frekuensi >6 kali keluar biasanya berupa
ganti pembalut per bercak-bercak tanpa
hari. Keluhan ini keluarnya jaringan dan nyeri
disertai dengan nyeri perut ringan. Pada abortus
perut seperti mulas- insipiens, pendarahan
mulas dan nyeri pervaginam sedang sampai
pinggang. banyak tanpa disertai
keluarnya jaringan dan nyeri
perut berat. Pada abortus
inkomplit, pendarahan
pervaginam sedang sampai
banyak disertai keluarnya
sebagian jaringan. Pada
abortus komplit, pendarahan
biasanya sedikit atau bahkan
tidak ada disertai riwayat
keluar darah yang banyak
disertai jaringan, dan nyeri
perut cenderung tidak
dirasakan lagi.
Status praesens dan Status praesens yang normal Tidak ada komplikasi
status generalisata menunjukkan pasien berada lain dalam kehamilan.
dalam batas normal. dalam kondisi yang stabil. Hiperpigmentasi
Dijumpai Status generalisata dalam mammae menunjukkan
hiperpigmentasi batas normal memberikan kemungkinan dalam
mammae pada informasi bahwa tidak ada kondisi gestasi.
inspeksi toraks depan. penyulit penyakit dalam
kehamilan dengan batasan
pemeriksaan fisik.
Hiperpigmentasi aerola
mammae merupakan salah
satu perubahan fisiologis
pada wanita hamil.
Pada pemeriksaan Pada abortus inkomplit, tidak Hasil pemeriksaan
obstetrikus, dijumpai ada pemeriksaan obstetrik obstetrikus pasien ini
abdomen seopel, yang spesifik. Yang dapat menunjukkan diagnosis
nyeri tekan tidak terlihat hanya pendarahan pasien ini lebih ke arah
dijumpai, TFU tidak pervaginam. abortus inkomplit
teraba, dan terdapat dibanding abortus
perdarahan komplit karena masih
pervaginam. dijumpai adanya
pendarahan pervaginam.
Penatalaksanaan pada Abortus inkomplit dapat Sarana yang tersedia
kasus ini adalah ditatalaksana dengan rawat untuk kasus ini kuretase
kuretase. ekspektatif, pembedahan, secepatnya jika keadaan
maupun medikamentosa. stabil.
Menurut SPM POGI, bila
perdarahan ringan dan
kehamilan <16 minggu, dapat
dilakukan pengeluaran hasil
konsepsi yang terjepit pada
serviks dengan jari atau
forseps cincin. Bila
perdarahan sedang-berat dan
usia kehamilan <16 minggu,
dilakukan evakuasi hasil
konsepsi dari uterus dengan
pilihan aspirasi vakum atau
kuretase tajam (sumber lain
menyebutkan batasan usia
kehamilan <12-14 minggu).
Penelitian Gulmezoglu
menunjukkan bahwa metode
operatif yang dipilih untuk
abortus inkomplit adalah
aspirasi vakum dengan efek
samping yang rendah:
kehilangan darah minimal
(RR 0,28), nyeri minimal (RR
0,74), waktu lebih singkat (-
1,2 menit). Walaupun begitu,
perhitungan statistik
menunjukkan perbedaan yang
tidak bermakna. Selain itu,
prosedur ini hanya
memerlukan anestesi lokal.
BAB III
KESIMPULAN

Ny. M, 34 tahun, G5P4A1H3, datang ke Poli RSUDEF dengan keluhan keluar


darah dari kemaluan sejak 1 minggu ini dan memberat dalam 2 hari smrs. Darah
yang keluar berwarna merah kehitaman disertai gumpalan darah, dan disertai
jaringan. Pasien juga merasakan nyeri perut dan nyeri pinggang. Pasien ini
memiliki riwayat trauma dan riwayat keluarga mengalami abortus. Suami pasien
juga sering merokok saat berada di rumah. Status praesens dalam batas normal.
Status generalisata menunjukkan hiperpigmentasi mammae yang merupakan
perubahan fisiologis saat hamil. Pada pemeriksaan obstetrikus, dijumpai abdomen
seopel, nyeri tekan tidak dijumpai, TFU tidak teraba, dan terdapat perdarahan
pervaginam. Pada pemeriksaan ginekologis, dari inspekulo tampak gumpalan
darah di introitus vagina. Pada VT dijumpai serviks øl1 cm; uterus lebih besar dari
biasa; parametrium kanan-kiri sulit dinilai; nyeri goyang serviks (+), cavum
douglas menonjol. Pasien didiagnosis dengan abortus inkomplit. Penatalaksanaan
pada kasus ini adalah kuretase.