Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI

Analisis Histokimia dan Kromatografi Lapis Tipis Herba Meniran


(Phyllanthi Herba)

Selasa, 14 November 2017

Dosen Pengampu :
Indah Yulia Ningsih, S.Farm.,M.Farm., Apt.

Disusun oleh Kelompok F1 :


 Rofiqoh Maulidah Sari (152210101102)
 Dita Ariesa Putri Prajoko (162210101048)
 Dayu Lantika (162210101049)
 Heni Ratna Dila (162210101050)
 Afrian Rosyadi (162210101053)
 Lyta Septi Fauziah (162210101054)

LABORATORIUM BIOLOGI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JEMBER
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Farmakognosi merupakan bagian, biokimia, dan kimia sintesis sehingga
ruang lingkupnya menjadi luas seperti yang didefenisikan sebagai fluduger, yaitu
penggunaan secara serentak sebagai cabang ilmu pengetahuan untuk memperoleh
segala segi yang perlu diketahui tentang obat. Dalam kehidupan sehari-sehari, kita
ketahui bahwa banyak masyarakat didunia ini sudah kenal bahwa sebagian dari
tanaman ini adalah obat. Sering kita lihat bahwa sebagian dari masyarakat
memanfaatkan tanaman sebagai makanan, sedangkan pada bidang farmasi
mengenal bahwa sebagaian tanaman dapat dimanfaatkan sebagai obat-obatan.
(Widyaningrum, 2011).
Sejalan kemajuan teknologi, kita sebagai masyarakat indonesia khususnya
seorang farmasi harus semakin mengenal kandungan-kandungan zat kimia serta
senyawa identitas yang terdapat dalam tanaman khususnya simplisia yang dapat
dijadikan sebagai obat. (Widyaningrum, 2011).
Meniran (Phyllanthus sp.) merupakan tanaman liar yang berasal dari Asia
tropik yang tersebar di seluruh daratan Asia termasuk Indonesia. Sedangkan
menurut beberapa penelitian ilmiah, Phyllanthus niruri memiliki efek
imunomodulator, antispasmodik, antilitik (untuk batu ureter dan empedu),
penghilang rasa sakit, antihipertensi, antiviral, antibakterial, diuretik,
antimutagenik, dan juga efek hipoglikemia. Tanaman ini juga banyak ditemukan
di daerah tropis, termasuk di Indonesia sehingga mudah ditemukan bahkan dapat
ditanam sendiri sehingga dapar terjangkau oleh masyarakat luas. (Agus, 2010).
Meniran memiliki rasa pahit, agak asam, serta bersifat sejuk atau
mendinginkan. Secara empiris dan klinis, herba meniran berfungsi sebagai
antibakteri atau antibiotik, antihepatotoksik, antipiretik, antiradang, antivirus,
diuretik, ekspentoran dan hipoglikemik. Meniran mengandung senyawa-senyawa
golongan lignan antara lain filantin, hipofilantin, niranin, nirtretalin, dan
fitetralin. Akar dan daunnya mengandung suatu senyawa pahit dan beracun yang
diduga merupakan suatu alkaloid, selain itu akar dan daunnya juga kaya senyawa
flavonoid. (Lasmadiwati, 2010).
Identifikasi meniran dapat dilakukan berdasarkan uraian mikroskopik serta
identifikasi kimia berdasarkan kandungan senyawa yang terdapat didalamnya
(Kurmasih, 2010).

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana cara mengidentifikasi serbuk herba Meniran dengan
penambahan reagen kimia atau yang disebut uji histokimia?
2. Bagaimana cara menganalisis senyawa identitas serbuk herba Meniran
dengan metode KLT (Kromatografi Lapis Tipis)?

1.3 Tujuan
1. Dapat mengidentifikasi serbuk herba Meniran dengan penambahan
reagen kimia atau yang disebut uji histokimia.
2. Dapat menganalisis senyawa identitas serbuk herba Meniran dengan
metode KLT (Kromatografi Lapis Tipis).
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Uji Histokimia dan KLT


Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah salah satu metode pemisahan
komponen menggunakan fasa diam berupa plat dengan lapisan bahan adsorben
inert. KLT merupakan salah satu jenis kromatografi analitik. KLT dapat
digunakan untuk memisahkan senyawa – senyawa yang sifatnya hidrofobik
seperti lipida – lipida dan hidrokarbon yang sukar dikerjakan dengan kromatografi
kertas. KLT juga dapat berguna untuk mencari eluen untuk kromatografi kolom,
analisis fraksi yang diperoleh dari kromatografi kolom, identifikasi senyawa
secara kromatografi, dan isolasi senyawa murni skala kecil (Fessenden,2003).
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) adalah suatu teknik yang sederhana yang
banyak digunakan, metode ini menggunakan empeng kaca atau lembaran plastik
yang ditutupi penyerap atau lapisan tipis dan kering. Untuk menotolkan karutan
cuplikan pada kempeng kaca, pada dasarnya menggunakan mikro pipet atau pipa
kapiler. Setelah itu, bagian bawah dari lempeng dicelup dalam larutan pengelusi
di dalam wadah yang tertutup (Soebagio,2002).
Prinsip KLT adalah adsorbsi dan partisi dimana adsorbsi adalah
penyerapan pada pemukaan, sedangkan partisi adalah penyebaran atau
kemampuan suatu zat yang ada dalam larutan untuk berpisah kedalam pelarut
yang digunakan. Kecepatan gerak senyawa-senyawa ke atas pada lempengan
tergantung pada (Soebagil,2002)
Bagaimana kelarutan senyawa dalam pelarut, hal ini bergantung pada
bagaimana besar atraksi antara molekul-molekul senyawa dengan pelarut.
Bagaimana senyawa melekat pada fase diam, misalnya gel silika. Hal ini
tergantung pada bagaimana besar atraksi antara senyawa dengan gel silika.
Kromatografi lapis tipis menggunakan plat tipis yang dilapisi dengan adsorben
seperti silika gel, aluminium oksida (alumina) maupun selulosa. Adsorben
tersebut berperan sebagai fasa diam Fasa gerak yang digunakan dalam KLT sering
disebut dengan eluen. Pemilihan eluen didasarkan pada polaritas senyawa dan
biasanya merupakan campuran beberapa cairan yang berbeda polaritas, sehingga
didapatkan perbandingan tertentu. Eluen KLT dipilih dengan cara trial and error.
Kepolaran eluen sangat berpengaruh terhadap Rf (faktor retensi) yang diperoleh
(Gandjar,2007).
Derajat retensi pada kromatografi lempeng biasanya dinyatakan sebagai
faktor resensi. Pada fase diam, jika dilihat mekanisme pemisahan, fase diam
dikelompokkan (Gritter,1991). Nilai Rf sangat karakterisitik untuk senyawa
tertentu pada eluen tertentu. Hal tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi
adanya perbedaan senyawa dalam sampel. Senyawa yang mempunyai Rf lebih
besar berarti mempunyai kepolaran yang rendah, begitu juga sebaliknya. Hal
tersebut dikarenakan fasa diam bersifat polar. Senyawa yang lebih polar akan
tertahan kuat pada fasa diam, sehingga menghasilkan nilai Rf yang rendah. Rf
KLT yang bagus berkisar antara 0,2 - 0,8. Jika Rf terlalu tinggi, yang harus
dilakukan adalah mengurangi kepolaran eluen, dan sebaliknya (Gandjar,2007).
Uji histokimia bertujuan untuk mengetahui berbagai macam zat
kandungan yang terdapat dalam jaringan tanaman. Dengan pereaksi spesifik, zat –
zat kandungan tersebut akan memberikan warna yang spesifik pula sehingga
mudah dideteksi. (Anonim,1987)

2.2 Meniran
Meniran merupakan terna liar yang tumbuh dan tersebar diseluruh daratan
Asia, Afrika, Amerika dan Australia. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut : Tinggi
batangnya 30 – 50 cm, berwarna hijau kemerahan (Phyllanthus urinaria) atau
hijau pucat (Phyllanthus niruri), bercabang-cabang. Daun tunggal, letaknya
berseling. Helaian daun bundar telur sampai bundar memanjang, ujung tumpul,
pangkal membulat, permukaan bawah berbintik kelenjar, tepi daun rata, dengan
panjang 1,5 cm dan lebar sekitar 7 mm. Buah meniran berupa buah kotak, bulat
pipih, licin, diameter 2 - 2,5 mm. Bijinya kecil, keras, berbentuk ginjal dan
berwarna coklat. Meniran tumbuh di daerah dataran rendah sampai ke dataran
tinggi dengan ketinggian 1.000 m diatas permukaan laut. Meniran dapat tumbuh
pada berbagai jenis tanah, terutama tanah berpasir. Meniran menyukai tempat
yang lembab dan akan tumbuh dengan subur apabila tanah kaya akan bahan
organik. Meniran hijau lebih toleran tumbuh di tanah yang miskin bahan organik
dibandingkan dengan meniran merah (Lasmadiwati, 2010).

2.3 Klasifikasi/Taksonomi Tanaman


Adapun klasifikasi/taksonomi tanaman meniran sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Phyllanthus
Spesies : Phyllanthus niruri L.

2.4 Kandungan Kimia Meniran


Meniran mengandung lignan yang terdiri dari phyllanthine,
hypophyllanthine, phyltetralin, lintretalin, nirathin, nitretalin, nirphylline, nirurin,
dan niruriside. Terpenyang terdiri dari cymene, limonene, lupeol, dan lupeol
acetate. Flavanoid terdiri dari quercetin, quercitrin, isoquercitrin, astragalin,
rutine, dan physetinglucoside. Lipid terdiri dari ricinoleic acid, dotriancontanoic
acid, linoleic acid, dan linolenic acid. Benzenoid terdiri dari methylsalicilate.
Alkaloid terdiri dari norsecurinine, 4-metoxy-norsecurinine, entnorsecurinina,
nirurine, phyllantin, dan phyllochrysine. Steroid berupa beta-sitosterol. Alcanes
berupa triacontanal dan triacontanol. Komponen lain berupa tannin, vitamin C dan
vitamin K. Akar dan daun meniran kaya akan senyawa flavonoid, antara lain
phyllanthin, hypophyllanthin, qeurcetrin, isoquercetin, astragalin, dan rutin.
Minyak bijinya mengandung beberapa asam lemak seperti asam ricinoleat, asam
linoleat, dan asam linolenat (Lasmadiwati, 2010).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat dan Bahan Uji Histokimia
1. Alat
 Plat Tetes
 Reagen Asam Sulfat P
 Reagen Natrium Hidroksida 5%
 Reagen Kalium Hidroksida 5%
 Reagen Amonia 25%
 Reagen Feri Klorida 5%
2. Bahan
 Serbuk Herba Meniran (Phyllanthi Herba)

3.1.2 Alat dan Bahan KLT


1. Alat
 Kertas saring
 Corong
 Rak tabung reaksi
 Tabung Reaksi
 Labu ukur 25 ml
 Fortex
 Lampu UV
 Gelas Ukur
 Batang pengaduk
 Mikropipet
 Vial
 Chamber
2. Bahan
 Metanol
 Kloroform
 Silika gel 60 F₂₅₄
 Eluen
 Larutan Standart atau Pembanding (Kuersetin 0,5 % dalam
metanol atau filantin 1% dalam metanol)
 Sampel serbuk Phyllanthi Herba

3.2 Cara Kerja


3.2.1 Cara Kerja Histokimia

Disiapkan alat dan bahan yang diperlukan.

Disiapkan 1 buah plat tetes.

Diambil sebanyak ±2 mg serbuk Phyllanthi Herba, di letakkan pada masing –


masing lubang plat tetes sebanyak 5 lubang.

Ditambahkan reagen pada masing – masing lubang sebanyak 5 tetes.

Untuk reagen asam sulfat pekat dan amonia diteteskan dalam lemari asam.

Ditunggu selama beberapa menit hingga terjadi perubahan warna.

3.2.2 Cara Kerja KLT


a. Pembuatan Eluen

a. Disiapkan labu ukur, lalu dipipet 8 ml kloroform dan dimasukkan labu


ukur.

b. Dipipet 1,2 ml metanol dan dimasukkan ke dalam (a).


c. Dipipet 0,2 ml metanol dan dimasukkan ke dalam (b), kocok ad homogen
lalu dimasukkan ke dalam chamber.

b. Pembuatan Tanda Batas pada Lempeng Silika Gel 60 F₂₅₄

Disiapkan lempeng silika gel 60 F₂₅₄

Diukur dengan penggaris sepanjang 1 cm dari sisi ujung lempeng silika gel 60
F₂₅₄. Kemudian diberi tanda titik sebanyak 4 dengan jarak 1 cm.

Lalu di ukur lagi dengan penggaris sepanjang 8 cm dari titik tersebut.

c. Pengamatan Kromatografi Lapis Tipis pada sampel

Diukur 10 ml metanol dengan gelas ukur dan dibuat replikasi 3x. Masing –
masing dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang mengandung sampel.

Diaduk menggunakan batang pengaduk. Dan dihomogenkan diatas fortex ±5


menit.

Setelah homogen, larutan di saring dengan kertas saring dan dimasukkan ke


dalam labu ukur 25 ml.

Hasil saringan dari larutan tersebut di pipet dengan mikropipet lalu di totolkan
diatas lempeng silika gel 60 F₂₅₄ sebanyak 10 mikroliter dibuat 3x replikasi.

Diberi larutan standart sebagai pembanding pada lempeng silika gel 60 F₂₅₄
sebanyak 1 mikroliter. Lalu dimasukkan ke dalam chamber.

Di diamkan hingga larutan uji naik mencapai tanda batas, lalu di letakkan
dibawah lampu UV untuk melihat noda yang dihasilkan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan Analisis Histokimia Sampel Phyllanthi Herba


Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan didapatkan hasil dari
histokimia sampel Phyllanthi Herba dengan spesies Phyllanthus niruri dengan
famili Euphorbiaceae. Ketika direaksikan dengan reagen Asam Sulfat pekat
memberikan warna coklat hitam. Lalu keika sampel direaksikan dengan Natrium
Hidroksida 5% menghasilkan warna coklat (+) yang menandakan untuk
identifikasi Alkaloid. Ketika sampel direaksikan dengan Kalium Hidroksida 5%
menghasilkan warna coklat (+) yang digunakan untuk identifikasi Alkaloid.
Sampel yang direaksikan dengan Amonia 25% menghasilkan warna coklat (+)
yang digunakan untuk identifikasi Flavonoid. Sedagkan sampel yang direaksikan
dengan Feri Klorida 5% menghasilkan warna hijau yang digunakan untuk
identifikasi Tanin.
Sedangkan berdasarkan literatur, analisis histokimia sampel Phyllanthi
Herba dengan spesies Phyllanthus niruri dengan famili Euphorbiaceae. Sampel
yang direaksikan dengan Asam Sulfat pekat memberikan warna hijau yang
digunakan untuk identifikasi Terpen, Minyak Atsiri dan Steroid. Lalu ketika
sampel direaksikan dengan Natrium Hidroksida 5% menghasilkan warna coklat
yang menandakan untuk identifikasi Alkaloid. Ketika sampel direaksikan dengan
Kalium Hidroksida 5% menghasilkan warna coklat yang digunakan untuk
identifikasi Alkaloid. Sampel yang direaksikan dengan Amonia 25%
menghasilkan warna coklat yang digunakan untuk identifikasi Flavonoid.
Sedagkan sampel yang direaksikan dengan Feri Klorida 5% menghasilkan warna
hijau yang digunakan untuk identifikasi Tanin. Berikut adalah hasil pengamatan
yang ditampilkan dengan gambar di bawah :
4.2 Hasil Pengamatan Analisis KLT Sampel Phyllanthi Herba
Berdasarkan literatur analisis KLT pada sampel Phyllanthi Herba dengan
spesies Phyllanthus niruri dengan famili Euphorbiaceae. Dibuat dengan larutan
pembanding berupa Kuersetin 0,5% dalam Metanol atau Filantin 1% dalam
Metanol. Volume penotolan yang dilakukan sebanyak 10 mikroliter larutan uji
dan 1 mikroliter larutan pembanding. Dimana fase diam yang digunakan adalah
lrmprng Silika Gel 60 F₂₅₄. Sedangkan, fase gerak yang diperlukan adalah
Kloroform : Metanol : Air (80 : 12 : 2). Pada analisis KLT Phyllanthi Herba
digunakan penampak noda berupa Alumunium Klorida 5% dan Sitroborat. Warna
noda yang dihasilkan mengandung warna biru muda atau biru laut dan kuning
untuk warna Sitroborat dengan Rf ± 0,3.
Sedangkan dari hasil pengamatan yang telah kami lakukan berdasarkan
analisis KLT pada sampel Phyllanthi Herba dengan spesies Phyllanthus niruri
dengan famili Euphorbiaceae. Dibuat dengan larutan pembanding berupa
Kuersetin 0,5% dalam Metanol atau Filantin 1% dalam Metanol. Volume
penotolan yang dilakukan sebanyak 10 mikroliter larutan uji dan 1 mikroliter
larutan pembanding. Dimana fase diam yang digunakan adalah lrmprng Silika Gel
60 F₂₅₄. Sedangkan, fase gerak yang diperlukan adalah Kloroform : Metanol : Air
(80 : 12 : 2). Pada analisis KLT Phyllanthi Herba digunakan penampak noda
berupa Alumunium Klorida 5% dan Sitroborat. Warna noda yang dihasilkan
adalah warna kuning dengan perhitungan Rf sebagai berikut :
Rf standart : 7 cm / 8 cm = 0,875
Rf sampel 1 : 7,2 cm / 8 cm = 0,9
Rf sampel 2 : 7,5 cm / 8 cm = 0,9375
Rf sampel 3 : 7,8 cm / 8 cm = 0,975
Rf sampel rata-rata : 0,9 + 0,9375 + 0,975 = 2,8125 / 3 = 0,9375.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum ini dapat disimpulkan bahwa :
 Pada analisis histokimia Phyllanthi Herba menunjukkan hasil positif
ketika sampel direaksikan dengan NaOH 5% yang menhasilkan warna
coklat (+). Sampel yang direaksikan dengan reagen KOH 5%
menghasilkan warna coklat (+) dan sampel yang diraksikan dengan
Amonia 25% menghasilkan warna coklat (+). Hal ini dapat disimpulkan
bahwa Phyllanthi Herba mngandung senyawa golongan Alkaloid dan
Flavonoid.
 Berdasarkan pada analisis KLT Phyllanthi Herba didapatkan hasil berupa
noda berwarna kuning Rf standar 0,875, Rf sampel 1 0,9, Rf sampel 2
0,9375, Rf sampel 3 0,975 dan Rf rata-rata sampel 0,9375.

5.2 Saran
Selama melakukan uji histokimia dengan reagen-reagen yang bersifat
asam kuat maupun basa kuat harus dilakukan didalam lemari asam demi
keselamatan praktikan bila perlu menggunakan sarung tangan karet serta masker
saat meneteskan regen-reagen yang bersifat pekat dan korosif. Selama melakukan
analisis praktikan harus terus memantai laju penyerapan larutan pada lempeng
KLT serta diharapkan praktikan dapat bekerja secara efektif dan efesen waktu
sehingga didapat hasil yang baik.
DAFTAR PUSTAKA

Agus. 2010. Tanaman Herbal di Indonesia Maag. Diakses pada tanggal 13 November
2017 dari http://www.kabarbisnis.com.
Anonim. 1995. Materia Medica Indonesia Jilid IV. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia
Anonim.1987. Analisis Obat Tradisional. Jakarta : Depkes RI
Fessenden R.J dan J.S Fessenden. 2003. Dasar-Dasar Kimia Organik. Jakarta:
Erlangga.
Gandjar, Ibnu Gholib dan Abdul Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Gritter, R, J. 1991. Pengantar Kromatografi Edisi II. Bandung: Institut Teknologi
Bandung.
Kurmasih. 2010. Farmakologi dan Terapi Edisi Kelima (Hal.518-519). Jakarta:
Departemen Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
Lasmadiwati. 2010. Kimia Universitas Asas & Struktur Edisi Kelima Jilid Satu (Hal.
478). Jakarta: PT Rineka Cipta.
Soebagio. 2002. Kimia Analitik. Makassar: Universitas Negeri Makassar Fakultas
MIPA.
Stan, L.E.1973.Plant Drug Analysis by Chromatography and Microskopi.Albert
Scince Publish, Inc.

Widyaningrum, MPH. 2011. Kitab Tanaman Obat Nasional. Jakarta: Media


Pressindo.