Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN KASUS

G3P2AOH2 Gravid 9-10 Minggu dengan Hiperemesis Gravidarum (HEG)

Pembimbing :
dr. Imelda Juniar S Tampubolon

Oleh :
dr. Dwiki Surya Prayoga

DOKTER INTERNSHIP ANGKATAN I


PERIODE FEBUARI 2019 – FEBUARI 2020
RSUD BENGKULU TENGAH
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat dan

Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proses penyusunan laporan

kasus ini dengan judul Hiperemsesis Gravidarum. Penyelesaian laporan kasus

ini banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada

kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada :

1. Dr. Imelda Juniar S T selaku Pembimbing laporan kasus ini.

2. Kedua Orang Tua saya yang selalu memotivasi sehingga

penyelesaian laporan kasus ini bisa terselesaikan tepat waktu.

3. Teman-teman sejawat yang telah banyak memberikan masukan

dalam penyelesaian laporan laporan kasus ini.

4. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan kasus

ini baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Penulis sangat menyadari bahwa laporan kasus ini masih jauh dari kata

sempurna, oleh karena itu kritik dan saran sangat diharapkan demi

kesempurnaan laporan kasus ini. Semoga laporan kasus ini dapat bermanfaat

bagi para pembaca dan tenaga kesehatan terkhusus dalam bidang ilmu Obstetri

dan Ginekologi.

Batam, April 2019

Penulis
BAB I

STATUS PASIEN

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. R Nama Suami : Tn M
Umur : 31 tahun Umur : 52 tahun
Jenis kelamin : Perempuan Pekerjaan : Enginering
Paritas : G1P0A0 Agama : Islam
Alamat : Taba Penanjung
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT

B. ANAMNESIS
1. Anamnesa dilakukan secara autoanamnesa tanggal 29 April 2019
pukul 16.00 wib.

2. Keluhan Utama
Mual dan muntah terus menerus ketika makan dan minum.

3. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien seorang perempuan usia 31 tahun datang ke UGD RSUD
jam 13.50 wib diantar oleh kakak pasien dengan keluhan mual-muntah
yang terus-menerus sehingga mengganggu aktifitas sehari-hari. Pasien
sedang hamil anak pertama dengan usia kehamilan 9-10 minggu, hari
pertama haid terakhir jatuh pada 5 Febuari 2019. Saat ini os mengaku
mual-muntah yang dirasakan sejak 2 bulan yang lalu, mual-muntah
dirasakan setiap kali makan atau minum yang frekuensinya dalam sehari
mecapai lebih dari 10 kali, keluhan disertai dengan penurunan nafsu
makan, pusing dan lemas.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
a. Hipertensi : disangkal
b. Diabetes Melitus : disangkal
c. Penyakit Jantung : disangkal
d. Penyakit Tumor atau Kanker : disangkal
e. Alergi : Ada (Makanan Laut)

5. Riwayat Penyakit Keluarga


a. Hipertensi : Ada (ibu kandung)
b. Diabetes Melitus : Ada (ibu kandung)
c. Penyakit Jantung : disangkal
d. Penyakit Tumor atau Kanker : disangkal
e. Alergi : disangkal

6. Pola Haid
a. Menarche : usia 14 tahun
b. Siklus : 28 hari
c. Lamanya : 5-7 hari
d. Nyeri haid : tidak

7. Riwayat Pernikahan
Pasien menikah 1x tahun 2017

8. Riwayat Kehamilan dan Persalinan


a. Anak Pertama : hamil saat ini
b. HPHT : 5 Febuari 2019
c. Usia Kehamilan : 9-10 minggu
d. Riwayat Obstetri : G1 P0 A0 H0
e. Riwayat ANC : Di klinik dokter 2 kali
f. Riwayat KB : Tidak KB
C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum
Kesan Sakit : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Keadaan Gizi : Tampak Gizi Baik
GCS : E4 ; V5 ; M6
BB sebelum hamil : 63 kg
BB sekarang : 58 kg
TB : 150 cm

2. Tanda-tanda Vital
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi : 96 kali per menit
Frek. napas : 20 kali per menit
Suhu Tubuh : 36,4 0C

3. Status Generalis
a. Kepala : Normocepali, rambut berwarna hitam lebat
b. Mata : Konjungtiva anemis (-/-), Mata cekung (+/+), sklera
ikterik (-/-), injeksi konjungtiva (-/-), reflek cahaya (+/+), pupil isokor
(+/+).
c. Hidung : Deformitas (-) , darah (-), sekret (-).
d. Telinga : Deformitas (-/-), darah (-/-), sekret (-/-), tinitus (-/-).
e. Mulut : Sianosis (-), anemis (-), lidah terasa kering (-), faring
hiperemis (-), Tidak ada pembesaran pada kedua tonsil.
f. Leher : Leher simetris, deviasi trakea (-), JVP meningkat (-),
pembesaran kelenjar getah bening (-), pembesaran kelenjar tiroid (-)
g. Thoraks
Paru
Inspeksi : Bentuk dan pergerakan simetris kanan = kiri, retraksi(-)
Palpasi : Pergerakan simetris kiri=kanan, sela iga tidak melebar
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Suara nafas( +/+) vesikuler, ronchi (-/-), wheezing (-/-)
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS V linea midclavicula sinistra
Perkusi : Batas jantung dalam batasan normal
Kanan atas : ICS II linea parasternalis dextra
Kanan bawah : ICS IV linea parasternalis dextra
Kiri atas : ICS II linea parasternalis sinistra
Kiri bawah: ICS IV line midclavicularis sinistra
Auskultasi : Bunyi jantung I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)
h. Abdomen
Inspeksi : tampak sedikit membuncit, tanda hamil (-)
Palpasi : teraba massa di regio simpisis pubis
Nyeri tekan epigastrium (+)
Turgor kulit menurun >2”
Perkusi : Pekak diatas massa
Auskultasi : Bising usus (+) normal
i. Ekstrimitas
Superior : akral hangat, clubbing finger (-), CRT < 3’
Inferior : akral hangat, atrofi otot (-), edema (-)

4. Status Obstetri
a. Inspeksi : hiperpigmentasi areola mammae (+), abdomen terlihat
membesar, terlihat striae gravidarum diabdomen
b. Palpasi : His (-)
TFU teraba 1 jari diatas simpisis pubis
c. Auskultasi : Denyut Jantung Janin (+)
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
Darah
Hb 13.0 11-16,5 gr/dl
Leukosit 12.600 3500-10.000 /ul
Hematokrit 41% 35-50 %
Eritrosit 4,7 3,6 – 5,3 Juta/ul
Trombosit 288 150.000-500.000/ul
Neutrofil Segment 73% 46-73%
Perdarahan ( BT) 3’30” 1-5 Menit
Pembekuan (CT) 7’30” 6-11 Menit
GDS 78 mg/dl < 200
PP Test/HCG Test Positif Negatif
HbsAg Negatif Negatif
HIV Non Reaktif Non Reaktif
Urinalisa
Warna Kuning Kuning
Kejernihan Agak Keruh Jernih
Berat Jenis 1,025 1,000 – 1,030
Ph 5
Leukosit Negative Negative
Nitrit Negative Negative
Protein + Negative
Glukosa Negative Negative
Keton ++ Negative
Urobilinogen Negatif Negative
Bilirubin Negative Negative
Eritrosit Negative Negative
E. DIAGNOSA
G1P0A0 gravid 9-10 minggu + Hiperemesis gravidarum

F. Therapi Tindakan :
IVFD D5% + Drip neurobion
Inj. Ondansentron 2 x 1 amp
Anvomer 3x1 tab
Biosanbe 1x1 tab
FOLLOW UP

Tanggal 29/04/2019 S : os masuk ruang rawatan via UGD


dan mengeluhkan muntah terus
menerus sejak 2 bulan yang lalu,
disertai mual (+), nyeri ulu hati (+),
pusing (+), lidah terasa kering (+),
pasien pernah dirawat di klinik selama
kurang lebih 2 hari dengan keluhan
yang sama, riwayat ANC (+), nyeri
perut bagian bawah (-), keluar darah
atau flek (-).
O : KU : Tampak sakit sedang
Kes : Composmentis
BP : 110/70 mmHg
HR : 80 kali per menit
RR : 20 kali per menit
T : 36,5 0 C
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera
ikterik (-/-), mata cekung (+/+)
Mulut : mukosa bibir anemis (-)
Abdomen : nyeri tekan (+) region
epigastrium
Ekstremitas : akral dingin, oedem (-)
A : G1P0A0 gravid 9-10 minggu +
hiperemesis gravidarum
P : IVFD D5% + Drip neurobion
Inj. Ondansentron 2 x 1 amp
Anvomer 3x1 tab
Biosanbe 1x1 tab
Observasi TTV
Tanggal 30/06/2016 S : os mengatakan muntah berkurang,
mual (+), nyeri ulu hati (+), pusing (+),
pusing (+), lemas (+), nyeri perut
bagian bawah (-), keluar darah atau flek
(-).
O : KU : Tampak sakit sedang
Kes : Composmentis
BP : 120/80 mmHg
HR : 86 kali per menit
RR : 19 kali per menit
T : 36,7 0 C
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera
ikterik (-/-) mata cekung berkurang.
Mulut : mukosa bibir anemis (-)
Abdomen : nyeri tekan (+) region
epigastrium berkurang (+)
A : G1P0A0 gravid 9-10 minggu +
hiperemesis gravidarum
P : IVFD D5% + Drip neurobion
Inj. Ondansentron 2 x 1 amp
Anvomer 3x1 tab
Biosanbe 1x1 tab
Paracetamol 3x1 tab
Tanggal 30/04/2019 S : os mengatakan muntah berkurang,
mual berkurang, nyeri ulu hati (+),
pusing berkurang, lemas (-), nyeri perut
bagian bawah (-), keluar darah atau flek
(-).
O : KU : Baik
Kes : Composmentis
BP : 120/80 mmHg
HR : 84 kali per menit
RR : 20 kali per menit
T : 36,4 0 C
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera
ikterik (-/-)
Mulut : mukosa bibir anemis (-)
Abdomen : nyeri tekan (-)
A : G1P0A0 gravid 9-10 minggu +
hiperemesis gravidarum
P : Boleh pulang dengan terapi oral
Anvomer B6 3x1 tab
Biosanbe 1x1 tab
Paracetamol 3x1 tab
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi

Hiperemesis gravidaraum adalah muntah yang terjadi pada awal


kehamilan sampai umur kehamilan 20 minggu. Keluhan muntah kadang-
kadang begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum
dimuntah kan sehingga dapat mempengaruhi keadaan umum dan
menganggu pekerjaan sehari-hari (Prawirohardjo, 2008).
Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada
wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena pada
umumnya menjadi buruk karena terjadi dehidrasi (Rustam Mochtar, 1998).

2. Epidemiologi
Mual dan muntah terjadi dalam 50-90% kehamilan. Gejalanya
biasanya dimulai pada gestasi minggu 9-10, memuncak pada minggu 11-
13, dan berakhir pada minggu 12-14. Pada 1-10% kehamilan, gejala dapat
berlanjut melewati 20-22 minggu. Hiperemesis berat yang harus dirawat
inap terjadi dalam 0,3-2% kehamilan.
Di masa kini, hiperemesis gravidarum jarang sekali menyebabkan
kematian, tapi masih berhubungan dengan morbiditas yang signifikan.
a. Mual dan muntah mengganggu pekerjaan hampir 50% wanita hamil
yang bekerja.
b. Hiperemesis yang berat dapat menyebabkan depresi. Sekitar
seperempat pasien hiperemesis gravidarum membutuhkan perawatan
di rumah sakit lebih dari sekali.
c. Wanita dengan hiperemesis gravidarum dengan kenaikan berat badan
dalam kehamilan yang rendah (7 kg) memiliki risiko yang lebih tinggi
untuk melahirkan neonatus dengan berat badan lahir rendah, kecil
untuk masa kehamilan dan premature.
3. Klasifikasi
Secara klinis hiperemesis gravidarum di bedakan atas 3 tingkatan ,yaitu:
a. Tingkat I :
Muntah yang terus menerus, timbul intoleransi terhadap makanan dan
minuman, berat badan menurun, nyeri epigastrium muntah pertama
keluar makanan, lendir dan sedikit cairan empedu, dan yang terakhir
keluar darah. Nadi meningkat sampai 100 kali per menit dan tekanan
darah sistolik menurun. Mata cekung dan lidah kering, turgor kulit
berkurang dan urin sedikit tetapi masih normal.
b. Tingkat II :
Gejala lebih berat, segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan,
haus hebat, subfebril, nadi cepat dan lemah lebih dari 100-140 kali per
menit, tekanan darah sistolik kurang dari 80 mmHg, apatis, kulit pucat,
lidah kotor, kadang ikterus, aseton, bilirubin dalam urin, dan berat
badan cepat menurun.
c. Tingkat III :
Terjadi ganggugan kesadaran ( delirium koma), muntah berkurang atau
berhenti, tetapi dapat terjadi ikterus, sianosis, nistagmus, gangguan
jantung, bilirubin dan proteinuria (Prawihardjo, 2008).

4. Etiologi
Kejadian hiperemesis gravidarum lebih sering dialami oleh
primigravida dari pada multigravida, hal ini berhubungan dengan tingkat
kestresan dan usia ibu saat mengalami kehamilan pertama, Pada ibu
primigravida faktor psikologik memegang peranan penting pada penyakit
ini, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung
jawab sebagai seorang ibu dapat menyebabkan konflik mental yang dapat
memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap
keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup.
Ibu primigravida belum mampu beradaptasi terhadap hormon estrogen dan
khorionik gonadotropin. Peningkatan hormon ini membuat kadar asam
lambung meningkat, hingga munculah keluhan rasa mual. Keluhan ini
biasanya muncul di pagi hari saat perut ibu dalam keadaan kosong dan
terjadi peningkatan asam lambung (Wiknjosastro, 2005 ).
Beberapa faktor predisposisi yang mempengaruhi yang dapat
menimbulkan hiperemesis adalah:
a. Faktor predisposisi yang sering di kemukakan adalah primigravida,
molahidatidosa, dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada
mola hidatidosa dan kehamilan ganda menimbulkan dugaan bahwa
faktor hormon memegang peranan karena pada kedua keadaan tersebut
hormon khorionik gonadotropin di berlebihan.
b. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan
metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun serta pihak ibu
terhadap perubahan ini merupakan faktor organik.
c. Alergi, sebagai salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak juga
di sebut sebagai salah satu faktor organik.
d. Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini,
rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut akan kehamilan
dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat
menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan
muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi
hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup.
e. Berat atau ringannya jenis pekerjaan dapat mempengaruhi keadaan
fisik dan psikologis yang dapat memicu terjadinya mual muntah.
Selain itu lingkungan pekerjaan juga dapat mempengaruhi.
f. Pedidikan: pendidikan ibu juga berpengaruh pada reaksi ibu terhadap
yang menyebabkan mual dan muntah, tergantung pada kekuatan
jiwanya dan bagaimana penerimaan ibu terhadap kehamilannya. Pola
tidur intensitas tidur dapat mempengaruhi keadaan fisik dan
psikologis. Ibu hamil yang kurang tidur cenderung membuatnya lebih
sensitive.
g. Kurangnya penerimaan terhadap kehamilan dinilai memicu perasaan
mual dan muntah ini. Menurut cunningham, (2005) dalam Rukiyah
(2010) pada waktu hamil muda kehamilan diniali tidak diharapkan,
apakah karena kegagalan kontrasepsi ataupun karena hubungan diluar
nikah. Hal ini bisa memicu penolakan ibu terhadap kehamilannya
tersebut.
Selain faktor psikologis, faktor budaya juga dapat pemicu terjadinya
hiperemesis gravidarum. Menurut Tiran (2004) dalam Runiari (2010)
menyatakan bahwa faktor budaya yang merupakan hal penting adalah
berkaitan dengan pemilihan jenis makanan yang akan dikonsumsi.
Penelitian lain mengenai pengaruh budaya terhadap hiperemesis
gravidarum dilakukan juga oleh Rabinerson, hasil penelitiannya
menemukan kejadian bahwa kejadian hiperemesis gravidarum dapat
meningkat pada wanita yang mengalami pembatasan dalam intake nutrisi
(contohnya pada wanita yang menjalankan puasa) (Runiari, 2010).
Faktor adaptasi dan hormonal pada wanita hamil yang kekurangan darah
lebih sering terjadi hiperemesis gravidarum dapat dimasukkan dalam
ruang lingkup faktor adaptasi adalah wanita hamil dengan anemia. Wanita
primigravida dan overdistensi rahim pada hamil ganda dan hamil
molahidatidosa, jumlah hormon yang di keluarkan terlalu tinggi yang
menyebabkan terjadinya hiperemesis gravidarum. Peningkatan hormon
estrogen dan Hormon Chorionic Gonadotropin (HCG). Pada kehamilan di
nilai terjadi perubahan juga pada sistem endrokrinologi, terutama untuk
hormon Estrogen dan HCG yang dinilai mengalami peningkatan. Sejalan
dengan yang di ungkapkan bahwa pada kehamilan mola hidatidosa dan
kehamilan ganda, memang terjadi pembentukan hormon yang berlebihan.
Kehidupan wanita yang kurang pengetahuan, informasi dan komunikasi
yang buruk dalam pemberian asuhan dapat mempengaruhi tingkat
kejadian hiperemesis gravidarum (Tiran, 2004). Secara teoritis, ibu hamil
yang berpendidikan lebih tinggi cenderung lebih memperhatikan
kesehatan diri dan keluarganya (Saifuddin, 2002).
5. Patofisiologi
Etiologi mual dan muntah yang terjadi selama kehamilan masih
belum diketahui, namun terdapat beberapa teori yang dapat menjelaskan
terjadinya hiperemesis gravidarum. Faktor sosial, psikologis dan
organobiologik, yang berupa perubahan kadar hormon-hormon selama
kehamilan, memegang peranan dalam terjadinya hiperemesis gravidarum.
Disfungsi pada traktus gastrointestinal yang disebabkan oleh pengaruh
hormon progesteron diduga menjadi salah satu penyebab terjadinya mual
dan muntah pada kehamilan. Peningkatan kadar progesteron
memperlambat motilitas lambung dan mengganggu ritme kontraksi otot-
otot polos di lambung (disritmia gaster). Selain progesteron, peningkatan
kadar hormon human chorionic gonadotropin (hCG) dan estrogen serta
penurunan kadar thyrotropin-stimulating hormone (TSH), terutama pada
awal kehamilan, memiliki hubungan terhadap terjadinya hiperemesis
gravidarum walaupun mekanismenya belum diketahui. Pada studi lain
ditemukan adanya hubungan antara infeksi kronik Helicobacter pylori
dengan terjadinya hiperemesis gravidarum. Sebanyak 61,8% perempuan
hamil dengan hiperemesis gravidarum yang diteliti pada studi tersebut
menunjukkan hasil tes deteksi genom H. pylori yang positif.

6. Manifestasi Klinis
Mulai terjadi pada trimester pertama. Gejala klinik yang sering
dijumpai adalah nausea, muntah, penurunan berat badan, ptialism (saliva
yang berlebihan), tanda-tanda dehidrasi termasuk hipotensi dan takikardi
(Sarwono, 2009).

7. Diagnosa
Diagnosis hiperemesis gravidarum diantaranya:
a. Amenore yang disertai muntah hebat, pekerjaan sehari-hari terganggu.
b. Tanda vital: nadi meningkat 100 kali per menit, tekanan darah
menurun pada keadaan berat, subfebril dan gangguan kesadaran.
c. Fisik: dehidrasi, kulit pucat, ikterus, sianosis, berat badan menurun,
Pemeriksaan USG: untuk mengetahui kondisi kesehatan kehamilan
dan kemungkinan adanya kehamilan kembar ataupun kehamilan
molahidatidosa
d. Laboratorium: kenaikan relatif hemoglobin dan hematokrit, keton
dan proteinuria.

8. Penatalaksanaan
Penanganan hiperemesis gravidarum berdasarkan klasifikasi :
a. Hiperemesis Gravidarum Tingkat I
Dapat dilaksanakan dengan jalan memberikan penerapan
tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisilogik,
kemudian dengan menganjurkan mengubah makan sehari-hari dengan
makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi
jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan
roti kering dan biskuit dengan teh hangat. Makan dan minum
sebaiknya disajikan hangat, banyak istirahat dan tidur akan
mengurangi muntah, minum obat anti muntah misalnya B1 dan B6.
Hiperemesis gravidarum tingkat I hanya perlu rawat jalan
dengan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan
sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa
mual . Muntah merupakan gejala yang flsiologik pada kehamilan muda
dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, mengajurkan mengubah
makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih
sering.
Rencana penatalaksanaan kasus Hiperemesis Gravidarum Tingka 1
meliputi :
1) Jelaskan tentang keadaannya saat ini
2) Jelaskan pada ibu tentang keluhan saat ini
3) Beri motivasi pada ibu dan keluarga
4) Beritahu ibu cara mengurangi mual dan muntah
5) Jelaskan pada ibu tentang nutrisi
6) Berikan terapi obat
7) Beritahu ibu tentang tanda bahaya
8) Beritahu ibu tentang kunjungan ulang (Runiari, 2010)

b. Hiperemesis Gravidarum Tingkat II


1) Pencegahan dengan memberikan informasi dan edukasi tentang
kehamilan sebagai suatu proses yang fisikologik memberikan
keyakinan bahwa mual dan muntah merupakan gejala yang
fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan
4 bulan mengnjurkan makan sehari – hari dengan jumlah kecil tapi
sering.
2) Terapi obat, Sedativa yang sering digunakan adalah Phenobarbital.
Vitamin yang dianjurkan Vitamin B1 dan B6 Keadaan yang lebih
berat diberikan antiemetik sepeiti Disiklomin hidrokhloride atau
Khlorpromasin. Anti histamin ini juga dianjurkan seperti
Dramamin, Avomin.
3) Hiperemesis gravidarum tingkat II dan III harus dirawat inap di
rumah sakit.
4) Kadang-kadang pada beberapa wanita hanya tidur di rumah sakit
saja telah banyak mengurangi mual muntahnya.
5) Isolasi. Jangan terlalu banyak tamu, Kalau perlu hanya perawat dan
dokter saja yang masuk. Kadang kala hal ini saja, tanpa pengobatan
khusus telah mengurangi mual dan muntah.
6) Terapi psikologik. Berikan pengertian bahwa kehamilan suatu hal
yang wajar, normal dan fisiologi, jadi tidak perlu takut dan
khawatir cari dan hilangkan faktor psikologis seperti keadaan
ekonomi dan pekerjaan lingkungan.
7) Penanganan cairan, Berikan cairan- parenteral yang cukup
elektrolit, karbohidrat dan protein dengan Glukosa 5% dalam
cairan garam fisiologik sebanyak 2 - 3 liter per hari. Bila perlu
dapat ditambah Kalium dan vitamin, khususnya vitamin B
kompleks dan vitamin C. Bila ada kekurangan protein, dapat
diberikan pula asam amino secara intra vena.
8) Selama pemberian cairan perhatian keseimbangan cairan yang
masuk dan keluar, bila pengeluaran urin lancar menandakan
keadaan wanita berangsur – angsur baik.
9) Mengobservasi suhu, nadi, tekanan darah, dan pernafasan 3 kali
sehari.
10) Bila keadaan membaik melakukan mobilisasi ringan
11) Pada beberapa kasus dan bila terapi tidak dapat dengan cepat
memperbaiki keadaan umum, dapat dipertimbangkan suatu abortus
buatan (Wiknjosastro, 2005).

h. Hiperemesis Gravidarum Tingkat III


Penanganan hiperemesis gravidarum tingkat III sama dengan
penanganan hiperemesis gravidarum tingkat II hanya perlu isolasi dan
observasi ketat.

i. Diet
Ciri khas diet hiperemesis adalah penekanan karbohidrat
kompleks terutama pada pagi hari, serta menghindari makanan yang
berlemak dan goreng-gorengan untuk menekan rasa mual dan muntah,
sebaiknya diberi jarak dalam pemberian makan dan minum. Diet pada
hiperemesis bertujuan untuk mengganti persediaan glikogen tubuh dan
mengontrol asidosis secara berangsur memberikan makanan berenergi
dan zat gizi yang cukup. Diet hiperemesis gravidarum memiliki
beberapa syarat, diantaranya adalah karbohidrat tinggi, yaitu 75-80%
dari kebutuhan energi total, lemak rendah, yaitu <10% dari kebutuhan
energi total, protein sedang, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total,
makanan diberikan dalam bentuk kering, pemberian cairan di
sesuaikan dengan keadaan pasien, yaitu 7-10 gelas per hari, makanan
mudah dicerna, tidak merangsang saluran pencernaan dan diberikan
sering dalam porsi kecil, bila makan pagi dan sulit diterima, pemberian
dioptimalkan pada makan malam dan selingan malam, makanan secara
berangsur di tingkatkan dalam porsi dan nilai gizi sesuai dengan
keadaan dan kebutuhan gizi pasien.
Ada tiga macam diet pada hiperemesis gravidarum yaitu;
1) Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan
hanya berupa roti kering dan buah-buahan. Cairan tidak di berikan
bersama makanan tetapi 1-2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang
akan zat-zat gizi kecuali vitamin C karena itu hanya diberikan
selama beberapa hari.
2) Diet hiperemesis II di berikan bila rasa mual dan muntah
berkurang. Secara berangsur mulai diberikan bahan makanan yang
bernilai gizi tinggi. Pemberian minum tidak diberikan bersamaan
dengan makanan. Makanan ini rendah dalam semua zat-zt gizi
kecuali vitamin A dan D.
3) Diet hiperemesis III di berikan pada penderita dengan hiperemesis
ringan. Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan
bersama makanan. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi
kecuali kalsium.
4) Makanan yang dianjurkan untuk diet hiperemesis I, II, dan III
adalah roti panggang, biscuit, crakers, buah segar dan saribuah,
minuman botol ringan, sirup, kaldu tak berlemak, teh hangat.
Sedangkan makanan yang tidak dianjurkan adalah makanan yang
pada umumnya merangsang saluran pencernaan dan berbumbu
tajam. Bahan makanan yang mengandung alkohol, kopi dan
makanan yang mengandung zat pengawet, pewarna, dan penyedap
rasa juga tidak di anjurkan.
Diet pada ibu yang mengalami hiperemesis terkadang melihat
kondisi si ibu dan tingkatan hiperemesisnya, konsep saat ini dianjurkan
pada ibu adalah makanlah apa yang ibu suka, bukan makan sedikit-
sedikit tapi sering juga jangan dipaksakan ibu memakan apa yang saat
ini membuat mual karena diet tersebut tidak akan berhasil justru akan
memperparah kondisinya (Rukiyah dan Yulianti,2010).

9. Komplikasi
a. Maternal : akibat defisiensi tiamin (B) akan menyebabkan
terjadinyadiplopia, palsi nervus ke-6, ataksia, dan kejang. Jika hal ini
tidak segera ditangani akan terjadi psikosis korsakoff (amnesia,
menurunnya kemampuan untuk beraktivitas), ataupun kematian.
Komplikasi yang perlu diperhatikan adalah Ensephalopati Wernicke.
Gejala yang timbul dikenal sebagai trias klasik yaitu paralisis otot-otot
ekstrinsik bola mata (oftalmoplegia), gerakan yang tidak teratur
(ataksia), dan bingung.
b. Fetal : penurunan berat badan yang kronis akan meningkatkan kejadian
gangguan pertumbuhan janin dalam rahim (IUGR).

10. Pencegahan
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu
dilaksananakan dengan jalan memberikan penerangan tentang kehamilan
dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan
keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang
fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4
bulan, menganjurkan mengubah makanan sehari-hari dengan makanan
dalam jumlah kecil, tetapi lebih sering. Makanan yang berminyak dan
berbau lemak sebaiknya dihindarkan. Defekasi hendaknya dapat teratur.
DISKUSI

Kasus Teori
Anamnesa : Hiperemesis gravidaraum adalah
1. Pasien hamil anak pertama dengan muntah yang terjadi pada awal
usia kehamilan 9-10 minggu kehamilan sampai umur kehamilan 20
2. Mengeluh mual-muntah yang dapat minggu. Keluhan muntah kadang-
mengganggu aktifitas sehari-hari kadang begitu hebat dimana segala apa
3. Mual - muntah setiap kali makan yang dimakan dan diminum dimuntah
dan minum kan sehingga dapat mempengaruhi
keadaan umum dan menganggu
pekerjaan sehari-hari. (prawihardjo,
2008)

Pasien merupakan primigravida Ibu primigravida merupakan faktor


(G1P0A0H0) predisposisi pada hiperemesis
gravidarum karena pada primigravida
belum mampu beradaptasi terhadap
hormon estrogen dan khorionik
gonadotropin. Peningkatan hormon ini
membuat kadar asam lambung
meningkat, hingga munculah keluhan
rasa mual. Keluhan ini biasanya muncul
di pagi hari saat perut ibu dalam
keadaan kosong dan terjadi peningkatan
asam lambung (Wiknjosastro, 2005 ).
Penatalaksanaan Penanganan cairan, Berikan cairan-
IVFD D5% + drip neurobion parenteral yang cukup elektrolit,
Biosanbe 1x1 tab karbohidrat dan protein dengan
Anvomer 3x1 tab Glukosa 5% dalam cairan garam
fisiologik sebanyak 2 - 3 liter per hari.
Bila perlu dapat ditambah Kalium dan
vitamin, khususnya vitamin B
kompleks dan vitamin C. Bila ada
kekurangan protein, dapat diberikan
pula asam amino secara intra vena.

Neurobion merupakan Vitamin B1 100


mg, Vitamin B6 100 mg, Vitamin B12
1000 µg Suplementasi multivitamin
mengurangi dan mencegah insiden
hiperemesis gravidarum, yang
merupakan koenzim yang berperan
dalam metabolisme lipid, karbohidrat
dan asam amino.

Biosanbe mengandung Fe gluconate


250 mg, manganese sulfate 200 mcg,
copper sulfate 200 mcg, vitamin C 50
mg, folic acid 1mg, cyanocobalamin
dengan faktor intrinsik 7.5 mcg,
sorbitol 25 mg. biosanbe merupakan
mengandung besi dalam dosis tinggi,
yang memegang perana penting dalam
proses pembentukkan sel-sel darah
merah. Dalam kombinasinya dengan
mangan, temabaga, asam askorbat,
asam folat, sianokobalamin,
menaikkan penyerapan zat besi oleh
tubuh dan sistesa hemoglobin.
Penambahan sorbitol berfungsi
mencegah terjadinya konstipasi.
Anvomer B6 mengandung
Pyrathiazine-8-chlorotheophyllinate 40
mg dan Pyridoxine HCl 30 mg.bekerja
secara sentral menghambat impuls
refleks muntah di pusat muntah

Pemeriksaan penunjang : Hiperemesis gravidarum ini dapat


Ketonuria (-) mengakibatkan cadangan karbohidrat
dan lemak habis terpakai untuk
keperluan energi. Karena oksidasi
lemak yang tak sempurna, terjadilah
ketosis dengan tertimbunnya asam
aseton-asetik, asam hidroksi butirik dan
aseton dalam darah .
BAB III
KESIMPULAN

Pada kasus ini, pasien didiagnosis dengan hiperemesis gravidarum karena


berdasarkan anamnesis pada pasien ini ditemukan adanya keluhan mual-muntah
yang terus-menerus sehingga mengganggu aktifitas sehari-hari, mual-muntah
dirasakan setiap kali makan atau minum yang frekuensinya dalam sehari mecapai
lebih dari 10 kali, keluhan disertai dengan penurunan nafsu makan, pusing dan
lemas. Pasien sedang hamil anak pertama dengan usia kehamilan 9-10 minggu.
Pada pemeriksaan fisik penderita, hal ini ditandai dengan ditemukan mata
cekung, adanya peningkatan frekuensi denyut nadi, lidah terasa kering. Tanda
kehamilan yang didapat pada anamnesis penderita ini adalah adanya riwayat telat
haid sejak tanggal 25 April 2016, pasien sudah melakukan tes kehamilan dengan
hasil yang positif, sedangkan pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya
hiperpigmentasi pada areola mamae dan striae gravidarum.
Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat
dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tak
sempurna, terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik, asam
hidroksi butirik dan aseton dalam darah yang pada pemeriksaan urin ditemukan
adanya keton positif (+2). Pasien dimasukan dalam hiperemesis gravidarum
tingkat II, karena penderita tampak lemah, mata cekung, akral dingin, dan muntah.
Pada pemeriksaan urin didapatkan keton positif.
DAFTAR PUSTAKA

1. ACOG (American College of Obstetrics and Gynecology): Practice Bulletin


No. 52: Nausea and Vomiting of Pregnancy. Obstet Gynecol. 2004;103:803-
14.
2. Cunningham, Garry F., M. D. Fetal: Antepartum Assesment, Williams
Obstetrics, 22nd ed, Connecticut: Appleton & Lange, 2002:40: 1095-1108
3. Miller AWF, Hanretty KP. Vomiting in pregnancy. Dalam: Miller AWF,
Hanretty KP, eds. Obstetrics Illustrated, 5th ed. London: Churchill
Livingstone; 1998: 102-3.
4. Mochtar, Rustam, Prof. Dr. M. Ph,1998. Synopsis Obstetri, Jilid I, Edisi
2,EGC: Jakarta Abdul Bari Saifuddin dkk.2006.Buku Panduan Praktis
Pelayanan kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka: Jakarta.
5. Ogunyemi DA, Fong A. Hyperemesis Gravidarum. Medscape; 2010. Diunduh
dari: http://emedicine.medscape.com/article/254751-overview
6. Quinlan JD, Hill DA. Nausea and vomiting of pregnancy. Am Fam Physician
(serial online) 2003 ; 68(1): 121-8. Diunduh dari :
http://www.aafp.org/afp/2003/0701/p121.html.
7. Rukiyah, Ai Yeyeh & Lia Yulianti. 2010. Patologi Kebidanan. Jakarta: Trans
Info Media
8. Rukiyah, ai yeyeh dkk. 2009. Kehamilan. Jakarta: Trans Info Media.
9. Runiari, Nengah. 2010. Asuhan keperawatan pada klien dengan hiperemesis
gravidarum: Penerapan konsep dan teori keperawatan. Jakarta : Salemba
Medika
10. Siddik D. Kelainan gastrointestinal. Dalam: Saifuddin AB, Rachimhadhi T,
Wiknjosastro GH, ed. Ilmu kebidanan Sarwono Prawirohardjo,`ed. 4. Jakarta:
PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2008: 814-28.
11. Winkjosastro. 2005. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo
12. World Health Organization. Fetal Distress in Labour. 2003. http: //www. who.
int/ reproductivehealth/ impac/ Symptoms/ Fetal_distress_S95_S96.html.
Sumber : http://theherijournals.blogspot.co.id/2013/01/hiperemesis-
gravidarum.html