Anda di halaman 1dari 11

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Dislokasi merupakan terlepasnya tulang yang membentuk sendi dari tempat yang
seharusnya. Beberapa jenis dislokasi antara lain dislokasi simpel, dislokasi komplit, dislokasi
dengan komplikasi, dan fraktur dislokasi. Sendi panggul (panggul/ acetabulofemoral joint)
merupakan sendi antara tulang femur dan acetabulum dari pelvis.
Sendi panggul merupakan salah satu sendi besar pada tubuh manusia, dan merupakan
sendi yang menanggung berat tubuh manusia dalam keadaan statis maupun dinamis.
Dislokasi pada sendi panggul merupakan salah satu jenis dislokasi yang sering terjadi. Gaya
yang sangat besar yang dapat menyebabkan terjadinya dislokasi pada sendi panggul, karena
itu dislokasi pada sendi panggul biasanya juga disertai dengan fraktur, biasanya segmen kecil
dari tulang yang fraktur berasal dari caput femur atau acetabulum. Jika dislokasi disertai
dengan terdapatnya segmen fraktur yang cukup besar maka cedera tersebut dinamakan
fraktur-dislokasi.
Dislokasi sendi panggul di klasifikasikan berdasarkan perpindahannya dari caput femur,
yaitu dislokasi posterior, anterior dan sentral. Pembahasan lebih lanjut mengenai kedua jenis
dislokasi ini akan dibahas pada subbab selanjutnya.

B. Anatomi dan Fisiologi Sendi Panggul


Sendi panggul adalah sendi ball and socket yang terdiri dari caput femur (femoral
head) dan asetabulum. Sendi ini memiliki beberapa bagian tulang yang dapat dipalpasi,
seperti spina iliaka anterior superior (SIAS) dan trokanter mayor. Sendi panggul memiliki
range of motion (ROM) yang sangat luas.
Sendi panggul memiliki range of motion (ROM) yang luas, sendi panggul stabil
karena struktur dari tulang di sekitar sendi panggul sendiri dan ligament serta otot
disekitarnya. Sendi panggul ditutupi oleh sebuah kapsul yang melekat ke tepi asetabulum
(acetabulum rim) dan collum femur (femoral neck). Terdapat tiga ligamen pada daerah
tersebut, yaitu ligamen iliofemoral di anterior, ligamen pubofemoral di inferior, dan ligamen
ischiofemoral di posterior. Caput femur melekat ke asetabulum dengan bantuan ligamen
teres.
Gambar 1 Anatomi sendi panggul

Otot-otot pada sendi panggul adalah otot yang kuat. Otot-otot tersebut dibagi menjadi
tiga bagian, yaitu otot anterior, medial, dan posterior. Otot anterior terdiri dari iliopsoas,
tensor fascia latae, sartorius, dan quadriceps femoris. Otot medial terdiri dari pectineus,
gracilis, obturator externus, dan adductor magnus, adductor brevis, dan adductor longus.
Sementara otot posterior terdiri dari otot semitendinosa, semimembranosa, dan biceps
femoris.

Gambar 2 (A) otot-otot anterior tungkai atas (B) otot-otot posterior tungkai atas

2
Penilaian range of motion (ROM) sendi panggul cukup sulit dilakukan apabila ada
batasan apapun yang menyebabkan kaburnya pergerakan sendi panggul. Pada keadaan
normal kisaran ROM dari fleksi sendi panggul adalah sekitar 130 derajat.
Pemeriksaan abduksi pada pergerakan sendi panggul, dapat dilakukan dengan tangan
diletakkan di supra iliaka anterior superior kemudian lakukan gerakan abduksi pada sendi
panggul, kisaran normal abduksi sekitar 40 derajat.
Pemeriksaan adduksi sendi panggul dilakukan dengan cara menyilangkan satu tungkai
ke tungkai yang lain, sendi panggul harus diperhatikan dan dirasakan untuk menetukan titik
awal kemiringan. Kisaran normal adduksi adalah sekitar 30 derajat.
Tes rotasi pada sendi panggul dilakukan dengan mengangkat pergelangan kaki
kemudian sendi panggul dan lutut diposisikan dalam sudut 90 derajat. Selanjutnya dilakukan
rotasi interna dan rotasi eksterna pada sendi panggul.

Gambar 3 Range of Motion (ROM) normal pada sendi panggul

Struktur tulang dan vaskular dari proksimal femur dan panggul dapat dilihat pada
gambar berikut ini. Pembuluh darah dari proksimal femur terdiri dari tiga bagian, yaitu (1)
arteri femoral sirkumfleksa dan arteri retinakular, (2) medullary vasculature, dan (3)
pembuluh darah dari ligamentum teres. Arteri femoral circumflex mengelilingi collum femur
dan bercabang menjadi arteri retinakular. Arteri tersebut berperan dalam mensuplai caput
femur. Gangguan pada arteri retinakular akan mengakibatkan avaskular nekrosis (AVN)
caput femur.
3
A B
Gambar 4 (A) (1) Femoral circumflex and retinacular arteries, (2) Medullary vasculature (3)
Pembuluh darah ligamentum teres; (B) anatomi proksimal femur

Pada inferoposterior sendi panggul terdapat nervus sciatic yang berasal dari vertebra
L4-S3. Nervus sciatic mensarafi otot-otot posterior ekstremitas bawah, seperti bicep femoris,
semimembranosa, dan semitendinosa. Nervus sciatic terbagi menjadi dua yaitu common
fibular nerve atau nervus peroneus dan nervus tibialis. Trauma pada nervus sciatic akan
menyebabkan nyeri di sepanjang ekstremitas bawah daerah posterior, menyebabkan drop
foot, serta keterbatasan ROM jari-jari kaki.

Gambar 5 Nervus Sciatic


C. Epidemiologi
Dislokasi panggul merupakan 5% dari total kasus dislokasi akibat trauma, dan dapat
terjadi secara anterior maupun posterior. Sekitar 90% - 95% kasus dislokasi panggul
merupakan dislokasi posterior.

4
D. Etiologi dan Patogenesis
Mekanisme cedera yang menyebabkan dislokasi posterior sendi panggul yaitu, ketika
seseorang sedang duduk di mobil kemudian terjadi pada kecelakaan lalu lintas ketika sendi
panggul dan lutut berada dalam keadaan fleksi, kemudian lututnya terbentur dashboard
mobil. Femur terdorong ke atas dan caput femur dipaksa keluar dari mangkoknya, sering juga
disertai dengan terpotongnya tulang di bagian belakang acetabulum (biasanya dinding
posterior), sehingga terjadi fraktur-dislokasi.
Klasifikasi dari dislokasi posterior panggul dibuat oleh Steward dan Milford.
Pembagian klasifikasi Steward-Milford didasarkan oleh ada atau tidaknya fraktur yang
menyertai dislokasi, serta tipe frakturnya.
 Grade I : Dislokasi simpel tanpa fraktur
 Grade II : Dislokasi disertai fraktur acetabular rim yang dapat distabilkan
setelah reduksi
 Grade III : Dislokasi dengan fraktur tidak stabil atau comminuted
Grade IV : Dislokasi dengan fraktur caput/colum femur

Klasifikasi dislokasi sendi panggul menurut Thompson dan Epstein, yaitu :


 I : Dislokasi dengan fraktur minor
 II : Dislokasi dengan fragmen tunggal besar dari dinding posterior asetabulum
 III : Dislokasi dengan fraktur comminuted dari dinding posterior asetabulum
 IV : Dislokasi dengan fraktur dasar asetabulum
 V : Dislokasi dengan fraktur dasar asetabulum dan kaput femur
Dislokasi sendi panggul tipe I dan II merupakan dislokasi yang ringan. Dislokasi
sendi panggul tipe V selanjutnya dapat dibagi menjadi 4 tipe berdasarkan klasifikasi Pipkin.

5
Gambar 6 Klasifikasi Pipkin

E. Manifestasi Klinis
Dislokasi posterior sendi panggul dapat dilihat dari tungkai yang berada dalam posisi
aduksi, rotasi internal, fleksi, dan diskrepansi. Caput femur dapat teraba di sekitar otot-otot
bokong. Pasien dislokasi posterior sendi panggul dapat mengalami gangguan pada nervus
skiatik sehingga harus diperiksa fungsi motorik dan sensoriknya. Pulsasi distal juga harus
diperiksa walaupun cedera vaskular pada dislokasi posterior jarang ditemukan. Dislokasi
sendi panggul terasa sangat nyeri oleh pasien sehingga tatalaksana dilakukan dengan bantuan
anestesi.

Gambar 7 Dislokasi Posterior Sendi Panggul

6
F. Diagnosis
Diagnosis dislokasi posterior sendi panggul sangat mudah ditegakkan, melalui
pemeriksaan fisik akan tampak kaki yang sakit lebih pendek, kemudian kaki berada dalam
posisi adduksi, rotasi interna, dan sedikit fleksi. Apabila diikuti oleh fraktur pada tulang
panjang, biasanya femur, hal tersebut dapat luput dari pandangan akibat tungkai yang dapat
beradaptasi dalam berbagai posisi. Oleh karena itu, golden rule dari dislokasi sendi panggul
adalah dengan melakukan foto Rontgen pelvis pada semua tingkat beratnya cedera pada
pelvis dan femur. Pemeriksaan tungkai bawah juga diperlukan untuk mendeteksi tanda cedera
nervus sciatic.
Dari pemeriksaan radiologi posisi AP, tampak caput femur keluar dari socket dan
berada di atas asetabulum. Caput femur pada sendi panggul yang mengalami dislokasi
posterior terlihat lebih kecil dan tidak kongruen dengan asetabulum. Shenton line pada
dislokasi panggul juga harus diperhatikan. Shenton line merupakan garis dari collum femur
ke batas inferior dari ramus pubic. Foto rontgen posisi oblique bermanfaat untuk melihat
apakah terdapat fragment tulang yang fraktur dan ukuran fragmen tulang tersebut.
Pemeriksaan CT Scan baik untuk melihat fraktur pada asetabulum. Pemeriksaan CT Scan
dapat dilakukan untuk beberapa situasi, misalnya, (a) sebelum reduksi, jika dicurigai ada
fraktur collum femur pada foto polos, (b) Jika reduksi gagal, bertujuan untuk mengetahui
apakah terdapat fragmen fraktur atau benda lain pada sendi, (c) sebagai followup setelah
reduksi, terutama untuk mengevaluasi asetabulum.

Gambar 8. Foto Rontgen AP Dislokasi Posterior Sendi Panggul

7
Gambar 9. CT Scan Dislokasi Posterior Sendi Panggul

G. Tatalaksana
Dislokasi sendi panggul harus direduksi sesegera mungkin dibawah anestesi umum.
Reduksi dilakukan secara tertutup, namun apabila sudah 2 – 3 kali percobaan tidak berhasil
maka dilakukan reduksi secara terbuka.
Dislokasi posterior panggul sebaiknya dikoreksi sebelum 6 jam dengan melakukan
reduksi dan imobilisasi. Keterlambatan penanganan akan meningkatkan risiko terjadinya
AVN dan cedera nervus skiatik.
Terdapat beberapa jenis manuver reduksi tertutup untuk dislokasi posterior panggul.
Pada semua manuver, seorang operator melakukan traksi sementara seorang asisten
malakukan counter traksi. Jika reduksi tertutup tidak berhasil sampai dua atau tiga kali
percobaan, maka dislokasi tersebut bersifat irreducible dan harus dilakukan manajemen
operatif.
1. Manuver Allis Bigelow
Pasien diposisikan di atas kasur/alas di lantai. Asisten melakukan imobilisasi pada pelvis
dengan menekan di daerah SIAS. Operator kemudian melakukan traksi segaris dengan
deformitas, kemudian melakukan flexi panggul 90o . Setelah itu, operator melakukan
rotasi eksterna, abduksi, dan ekstensi dari sendi panggul.

8
Gambar 9 Manuver Allis Bigelow

2. Manuver Stimson
Pasien berada dalam posisi pronasi. Sendi panggul diposisikan dalam keadaan fleksi.
Traksi dilakukan dengan menakan di bagian posterior lutut dengan menggunakan
tangan atau lutut operator. Sementara itu, operator juga melakukan rotasi
menggunakan tangan. Asistan mencari caput femur dan secara manual mereduksi
caput ke dalam asetabulum.

Gambar 10 Manuver Stimson

3. Manuver Whistler
Seorang operator memegang tungkai yang sehat melalui bawah lutut dari tungkai
yang mengalami dislokasi, sementara tangan satu lagi diletakkan di sisi anterior dari
pergelangan kaki. Setelah itu, lengan operator yang berada di bawah lutut
dielevasikan. Rotasi internal dan eksternal dilakukan oleh tangan sebelahnya.

Gambar 11 Manuver Whistler

9
Apapun teknik yang digunakan, pulsasi arteri harus diperiksan sebelum dan sesudah
reduksi. Intervensi operatif dibutuhkan pada dislokasi yang tidak stabil, dislokasi yang
irreducible, dan dislokasi dengan fraktur proksimal femur. Dislokasi dengan fraktur
asetabulum tetap dilakukan reduksi tertutup.

H. Komplikasi dan Prognosis


Pada kasus dislokasi sendi panggul biasanya juga ditemukan trauma di tempat lain.
Penelitian menunjukkan bahwa 95% pasien dislokasi sendi panggul juga mengalami trauma
di kepala, abdomen, atau toraks. Fraktur asetabulum dapat ditemukan pada 75% pasien
dislokasi posterior usia dewasa. AVN dapat ditemukan pada 4,8% pasien yang ditindak
dalam 6 jam pertama, dan 50% dari pasien yang terlambat ditindak. Dislokasi grade III dan
IV pada klasifikasi Stewart Milford lebih berisiko mengalami AVN. Semua dislokasi panggul
merupakan kasus emergensi dan membutuhkan penanganan yang cepat untuk mengurangi
insiden AVN. Fraktur caput femur terjadi pada 16% kasus dislokasi posterior sendi panggul.
Cedera nervus skiatik dapat ditemukan pada 10%-13% kasus dan merupakan
komplikasi akut dari dislokasi posterior panggul. Osteoartritis juga dapat terjadi pada kasus
dislokasi posterior, yaitu pada sekitar 20% kasus. Prognosis pada pasien dislokasi posterior
panggul sangat tergantung dari waktu dilakukannya tatalaksana. Semakin cepat dilakukan
tatalaksana, maka prognosis akan semakin baik.

10
DAFTAR PUSTAKA

Brunicardi F, Andersen D, Biliar T, Dunn D, Hunter J et al, 2014. Schwartz’s Principles of


Surgery 10th Ed. New York: McGraw-Hill.

Simon R, Sherman S, Koenigsknecht S, 2007. Emergency Orthopedics The Extremities 5th


Ed. New York: McGraw-Hill.

Williams N, Bulstrode C, O’Connell PR, 2013. Bailey amd Love’s Short Practice of Surgery
26th Ed. Boca Raton: CRC Press.

Gammons M, 2013. Hip Dislocation. http://emedicine.medscape.com/article/86930-


overview. Diakses pada 12 Oktober 2014.

11