Anda di halaman 1dari 5

TUGAS

EPIDEMIOLOGI
REVIEW JURNAL

OLEH :

NINDAH IKA MAULIANA


O1A1 16 176
KELAS D 2016

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019
TUGAS EPIDEMIOLOGI

REVIEW JURNAL

A. JUDUL : Risk of Adverse Drug Reactions in Older Adults - in the


Elderly (resiko reaksi efek yang tidak diinginkan pada orang dewasa- saat
lansia)
B. PENULIS : DK Brahma
C. TAHUN : 2018
D. JURNAL : Acta Scientific Pharmaceutical Sciences
E. ISSN : 2581-5423
F. TUJUAN : untuk mengetahui efek samping yang tidak diinginkan dari
penggunaan obat lansia di India
G. METODE : menggunakan observasi data
H. HASIL :
Obat yang umumnya menyebabkan ADR pada lansia salah satunya
yaitu obat antipsikotik yaitu risperidon. Uraian obat resperidon yaitu :
Indikasi : psikosis akut dan kronik, mania.
Peringatan : penyakit parkinson, kehamilan, gangguan
fungsi hati, gangguan fungsi ginjal.
Kontra indikasi : menyusui
Efek samping : insomnia, agitasi, ansietas, sakit kepala.
Kurang umum terjadi: Mengantuk, gangguan
konsentrasi, lelah, pandangan kabur,
konstipasi, mual dan muntah, dispepsia, nyeri
abdominal, hiperprolaktinemia (dengan
galaktorea, gangguan menstruasi,
ginekomastia), disfungsi seksual, priapisme,
inkontinensia urin, takikardi, hipertensi, udem,
ruam kulit, rhinitis, trauma serebrovaskular,
dilaporkan juga terjadinya neutropenia dan
trombositopenia. Jarang terjadi: kejang,
hiponatremia, pengaturan temperatur yang
abnormal, serta epitaksis.
Dosis : Psikosis, 2 mg dalam 1-2 dosis terbagi pada
hari pertama, kemudian 4 mg dalam 1-2 dosis
terbagi pada hari kedua (titrasi dosis yang lebih
lambat dibutuhkan dibutuhkan pada beberapa
pasien). Dosis lazim 4-6 mg per hari. Dosis di
atas 10 mg per hari hanya jika manfaatnya
lebih besar daripada risikonya (maksimum 16
mg per hari). Lansia (atau pada gangguan
fungsi hati atau ginjal) dosis awal 500 mcg dua
kali sehari dan naikkan bertahap sebesar 500
mcg hingga mencapai 1-2 mg, dua kali sehari.
Anak-anak di bawah 15 tahun tidak
direkomendasikan. Mania, Dosis awal 2 mg,
satu kali sehari, naikkan dosis jika perlu secara
bertahap sebanyak 1 mg per hari. Dosis lazim
1-6 mg per hari; lansia (atau pada gangguan
fungsi hati atau ginjal) dosis awal 50 mcg dua
kali sehari, naikkan dosis bertahap sebesar 500
mcg dua kali sehari hingga mencapai 1-2 mg
dua kali sehari.
(IONI, 2019)
Berdasarkan jurnal, lansia di India paling banyak diresepkan obat
resperidone dan lansia yang mengkonsumsi resperidon dilaporkan menderita
resiko pingsan, sedasi berlebihan, kejadian cerebrovaskular, dan kematian
mendadak. Resperidone diketahui digunakan untuk meminimalkan gejala
agresif pada penyakit Alzheimer. Untuk mengatasi ADR dari resperidone
maka dapat dilakukan beberapa cara yaitu :
1. Menurunkan dosis/memberi dosis yang paling rendah, dengan dosis
terendah dapat efektif mencapai tujuan pengobatan yang secara luas
direkomendasikan dan dapat mengurangi efek samping terkait dosis
seperti parkinsonisme, sedasi, hiperprolaktinemia, hipotensi ortostatik, dan
efek antikolinergik.
2. Mengganti obat dengan obat yang memiliki indikasi sama, perubahan
yang dilakukan harus bertahap untuk menghindari gejala eksaserbasi dan
gejala lainnya.
3. Menghentikan pengobatan jika efek samping yang timbul semakin parah.
4. Mengganti obat dengan obat yang memiliki efek samping lebih sedikit,
(Gray, 2018)
DAFTAR PUSTAKA
BPOM, 2019, IONI, DepKes RI : Jakarta.

Gray N., 2018, Management of Common Adverse Effect of Antipsychotic


Medications, Journal of World Psychiatry, Vol.17(3).