Anda di halaman 1dari 20

PANDUAN

KEWASPADAAN UNIVERSAL

KLINIK PRATAMA KIMIA FARMA


Jl. Raya Pemuda, Blok A8, Nomor 3, Kelurahan Padurenan,
Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor,
Provinsi Jawa Barat, Indonesia, 16340

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan
hidayahNya, kami dapat menyelesaikan Panduan kewaspadaan universal Klinik Pratama
Kimia Farma. Buku ini kami susun sebagai panduan dalam tatalaksana kewaspadaan
universal Klinik Pratama Kimia Farma.
Pada kesempatan ini perkenankan saya menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi
kepada semua pihak yang terlibat dalam proses penyusunan panduan Klinik Pratama Kimia
Farma. Kami sadari buku ini belum sempurna, oleh karenanya masukan dan saran perbaikan
sangat kami harapkan guna penyempurnaannya.

Gunung Sindur, 15 Maret 2019


Kepala Klinik Pratama Kimia Farma,

Darian Mandala Sofian

i2
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ................................................................................................................ i


DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
BAB I. PENDAHULUAN ................................................................................................... 1
A. LATAR BELAKANG ....................................................................................... 1
B. MAKSUD TUJUAN .......................................................................................... 1
BAB II. ISI............................................................................................................................. 2
A. DEFINISI ........................................................................................................... 2
B. RUANG LINGKUP ........................................................................................... 3
C. TATALAKSANA ............................................................................................... 3
D. DOKUMENTASI ............................................................................................. 16
BAB III. PENUTUP.............................................................................................................. 17

ii 3
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kewaspadaan umum (universal precaution) merupakan salah satu upaya
pengendalian infeksi di rumah sakit yang oleh Departemen Kesehatan telah
dikembangkan sejak tahun 1980. Dalam perkembangannya program pengendalian
infeksi nosokomial (INNOS) dikendalikan oleh Sub-Direktorat Surveilans dibawah
direktorat yang sama. Mulai tahun 2001 Depkes RI telah memasukkan pengendalian
infeksi nosokomial sebagai salah satu tolak ukur akreditasi rumah sakit dimana
termasuk didalamnya adalah penerapan kewaspadaan universal (Depkes, 2003).
Kewaspadaan umum merupakan upaya pencegahan infeksi yang mengalami
perjalanan panjang, dimulai sejak dikenalnya infeksi nosocomial yang terus menjadi
ancaman bagi petugas kesehatan dan klien. Penerapan kewaspadaan umum
merupakan bagian pengendalian infeksi yang tidak terlepas dari peran masing–masing
pihak yang terlibat didalamnya yaitu pimpinan termasuk staf administrasi, staf
pelaksana pelayanan termasuk staf pengunjungnya dan juga para pengguna jasa yaitu
pasien dan pengunjung. Program ini hanya dapat berjalan apabila masing–masing
pihak menyadari dan memahami peran dan kedudukan masing–masing (Depkes,
2003). Tenaga kesehatan harus selalu mendapatkan perlindungan dari resiko tertular
penyakit, untuk dapat bekerja secara maksimal. Pimpinan rumah sakit berkewajiban
menyusun kebijakan mengenai kewaspadaan umum, memantau dan memastikan
dengan baik. Pimpinan juga bertanggung jawab atas perencanaan anggaran dan
ketersediaan sarana untuk menunjang kelancaran pelaksanaan kesehatan wajib
menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya dan orang lain serta bertanggung jawab
sebagai pelaksana kebijakan yang ditetapkan rumah sakit. Tenaga kesehatan juga
bertanggung jawab dalam menggunakan sarana yang disediakan dengan baik dan
benar serta memelihara sarana agar selalu siap dipakai dan dapat dipakai selama
mungkin. Secara rinci kewajiban dan tanggung jawab tersebut meliputi a)
bertanggung jawab melaksanakan dan menjaga keselamatan kerja di lingkungannya,
wajib mematuhi instruksi yang diberikan dalam rangka kesehatan dan keselamatan
kerja, dan membantu mempertahankan lingkungan bersih dan aman b) mengetahui
kebijakan dan menerapkan prosedur kerja, pencegahan infeksi, dan mematuhi dalam
pekerjaan sehari– hari c) tenaga kesehatan yang menderita penyakit yang dapat
meningkatkan resiko penularan infeksi baik dari dirinya kepada pasien atau
sebaliknya sebaiknya tidak merawat pasien secara langsung d) bagi tenaga kesehatan
yang mengidap HIV positif (Depkes, 2003).

B. MAKSUD DAN TUJUAN


Panduan ini dimaksudkan sebagai panduan dalam pelaksanaan universal
precaution dalam pelayanan klinis di Klinik Pratama Kimia Farma.

4
1
BAB II
ISI
A. DEFINISI
Kewaspadaan universal atau universal precautions merupakan upaya
pencegahan infeksi yang telah mengalami perjalanan panjang, dimulai sejak
dikenalnya infeksi nosokomial (infeksi yang ditimbulkan dari tindakan medis) yang
terus menjadi ancaman bagi petugas kesehatan dan pasien. Bagi masyarakat umum,
sarana kesehatan merupakan tempat pemeliharaan kesehatan. Pasien mempercayakan
sepenuhnya kesehatan dirinya atau keluarganya kepada petugas kesehatan, maka
kewajiban petugas kesehatan adalah menjaga kepercayaan tersebut. Pelaksanakan
Kewaspadaan Universal merupakan langkah penting untuk menjaga sarana kesehatan
sebagai tempat penyembuhan, bukan menjadi sumber infeksi. Hasil survei tentang
upaya pencegahan infeksi di Klinik (Bachroen, 2000), menunjukkan masih
ditemukannya beberapa tindakan petugas yang potensial meningkatkan penularan
penyakit kepada diri mereka, pasien yang dilayani dan masyarakat luas, yakni :
1. Cuci tangan yang tidak benar
2. Penggunaan sarung tangan yang tidak tepat.
3. Penutupan kembali jarum suntik secara tidak aman.
4. Teknik dekontaminasi dan sterilisasi peralatan tidak tepat.
5. Pembuangan peralatan tajam secara tidak aman
6. Praktek kebersihan ruangan yang belum memadai
Hal tersebut dapat saja meningkatkan risiko petugas kesehatan tertular karena
tertusuk jarum atau terpajan/cairan tubuh yang terinfeksi. Sementara pasien dapat
tertular melalui peralatan yang terkontaminasi atau menerima darah atau produk darah
yang mengandung virus. Kewaspadaan Universal telah dikembangkan oleh
Departemen Kesehatan sejak tahun 1980 an dan pada tahun 2001 Departemen
Kesehatan telah memasukkan Pengendalian Infeksi Nosokomial sebagai salah satu
tolok ukur akreditasi rumah sakit, dimana termasuk di dalamnya adalah penerapan
Kewaspadaan Universal. Penerapan Kewaspadaan Universal merupakan bagian
pengendalian infeksi yang tidak terlepas dari peran masing-masing pihak yang terlibat
di dalamnya yaitu pimpinan termasuk staf administrasi, staf pelaksana pelayanan
termasuk staf penunjangnya dan juga para pengguna pelayanan yaitu pasien dan
pengunjung sarana kesehatan tersebut. Program ini hanya dapat berjalan bila masing-
masing pihak menyadari dan memahami peran dan kedudukan masing-masing.
Pimpinan berkewajiban menyusun kebijakan mengenai kewaspadaan universal.
memantau dan memastikan bahawa kewaspadaan universal dapat dilaksanakan tenaga
kesehatan dengan baik. Pimpinan bertanggung jawab atas penganggaran dan
ketersediaan sarana untuk menunjang kelancaran pelaksanakan kewaspadaan
universal di unit yang dipimpinnya. Tenaga kesehatan wajib menjaga kesehatan dan
keselamatan dirinya dan orang lain serta bertanggungjawab sebagai pelaksana
kebijakan yang ditetapkan pimpinan. Tenaga kesehatan juga bertanggung jawab
dalam menggunakan sarana yang disediakan dengan baik dan benar serta memelihara

5
2
sarana agar selalu siap pakai dan dapat dipakai selama mungkin. Secara rinci,
kewajiban dan tanggung jawab tersebut meliputi :
1. Bertanggung jawab melaksanakan dan menjaga keselamatan kerja di
lingkungannya, wajib mematuhi instruksi yang diberikan dalam rangka
kesehatan dan keselamatan kerja dan membantu mempertahankan lingkungan
bersih dan aman.
2. Mengetahui kebijakan dan menerapkan prosedur kerja, pencegahan infeksi
dan mematuhinya dalam pekerjaan sehari-hari.
3. Tenaga kesehatan yang menderita penyakit yang dapat meningkatkan risiko
penularan infeksi baik dari dirinya ke pada pasien atau sebaliknya sebaiknya
tidak merawat psien secara langsung.
4. Sebagai contoh misalnya pasien penyakit kulit yang basah seperti eksim,
bernanah, harus menutupi kelainan kulit tersebut dengan plester kedap air,
bila tidak memungkinkan maka tenaga tersebut sebaiknya tidak merawat
pasien
5. Bagi tenaga kesehatan yang mengidap HIV mempunyai kewajiban moral
untuk memberitahu atasannya tentang status serologi bila dalam pelaksanaan
pekerjaaan status serologi tersebut dapat menjadi risiko pada pasien, misalnya
tenaga kesehatan dengan status HIV dan menderita eksim basah.
Setiap orang berhak atas privasi dan sekaligus berkewajiban menjaga
keselamatan orang lain. Dengan demikian bila seorang pasien yang mengetahui
dengan pasti menderita penyakit yang dapat menular pada orang lain, moral untuk
memberitahukannya. Terutama bila terjadi kecelakaan kerja pada petugas misalnya
luka tusuk atau terkena alat tajam lain bekas pasien, maka pasien seperti diatas
sebaiknya memberi informasi atau izin untuk pemeriksaan darah guna membantu
tindak lanjut bagi tenaga kesehatan yang mengalami kecelakaan tersebut. Dalam hal
ini petugas kesehatan wajib memberikan penyuluhan yang jelas tentang penerapan
kewaspadaan universal tanpa berlebihan dan tidak menyinggung perasaan pasien agar
dapat membangkitkan rasa tanggung jawab pasien mengenai risiko yang sedang
mereka hadapi. Dengan demikian pasien akan dengan suka rela membuka diri,
memberi informasi serta memberikan izin pemeriksaan yang diperlukan, lebih-lebih
pada persiapan tindakan yang berisiko. Ikatan kekerabatan di Indonesia dikenal sangat
kuat. Bila salah satu anggotanya ada yang dirawat, anggota keluarga yang lain akan
membantu dengan cara menunggu di rumah sakit ataupun degancara menjenguknya
secara teratur atau setiap saat. Para penunggu atau pengunjung tersebut potensial
untuk menjadi sarana penyebaran infeksi. Dengan demikian peran keluarga dalam
pengendalian infeksi tersebut menjadi penting pula. Keluarga perlu dilibatkan dalam
setiap upaya penyembuhan ataupun upaya yang lain yang terkait dengan perawatan
pasien. Banyak informasi yang dapat digali dari keluarga dalam upaya memberikan
pelayanan ataupun upaya pencegahan infeksi pada umumnya. Anggota keluarga
pasien berhak untuk tidak mendapatkan penularan infeksi selama mereka
menjalankan fungsi sosialnya, baik sebagai penunggu ataupun sebagai pengunjung.
Oleh karena itu mereka berhak pula untuk mendapatkan informasi secukupnya agar

6
3
dapat melindungi diri mereka dari infeksi tanpa mengabaikan hak pasien untuk tetap
terjaga kerahasiaannya.

B. RUANG LINGKUP KEWASPADAAN UNIVERSAL


Kewaspadaan Universal ini dilakukan di Klinik Pratama Kimia Farma.,
termasuk didalamnya seluruh karyawan Klinik Pratama Kimia Farma mendukung
pelaksanaan Kewaspadaan Universal. Pasien dan pengunjung Klinik juga diajak
berperan aktif dalam pelaksanaan Kewaspadaan Universal ini dalam lingkungan
Klinik Pratama Kimia Farma. Prinsip utama Prosedur Kewaspadaan Universal
pelayanan kesehatan di Klinik Pratama Kimia Farma adalah menjaga higiene sanitasi
individu, higiene sanitasi ruangan dan sterilisasi peralatan. Ketiga prinsip tersebut
dijabarkan menjadi 5 kegiatan pokok yaitu :
1. Cuci tangan guna mencegah infeksi silang
2. Pemakaian alat pelindung diri diantaranya pemakaian sarung tangan guna
mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksius yang lain
3. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai
4. Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan.
5. Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.

C. TATALAKSANA KEWASPADAAN UNIVERSAL


1. Cuci Tangan
Mikroorganisme pada kulit manusia dapat diklasifikasikan dalam dua
kelompok yaitu flora risiden dan flora transien. Flora risiden adalah
mikroorganisme yang secara konsisten dapat diisolasi dari tangan manusia,
tidak mudah dihilangkan dengan gesekan mekanis, yang telah beradaptasi
pada kehidupan tangan manusia. Flora transien yang juga disebut flora
kontaminasi, jenisnya tergantung dari lingkungan tempat bekerja.
Mikroorganisme ini dengan mudah dapat dihilangkan dari permukaan dengan
gesekan mekanisme dan pencucian dengan sabun atau deterjen. Oleh karena
itu cuci tangan adalah cara pencegahan infeksi yang sangat penting. Cuci
tangan harus selalu dilakukan dengan benar sebelum dan sesudah melakukan
tindakan perawatan walaupun memakai sarung tangan atau alat pelindung
lainnya untuk menghilangkan/mengurangi mikroorganisme yang ada di tangan
sehingga penyebaran penyakit dapat dikurangi dan lingkungan terjaga dari
infeksi. Tangan harus dicuci sebelum dan sesudah memakai sarung tangan.
Tiga jenis cuci tangan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan yaitu :
a. Cuci tangan higienik atau rutin : mengurangi kotoran dan flora yang ada
di tangan dengan menggunakan sabun atau deterjen
b. Cuci tangan aseptik : sebelum tindakan aseptik pada pasien dengan
menggunakan antiseptik
c. Cuci tangan bedah : sebelum melakukan tindakan bedah cara aseptik
dengan antiseptik dan sikat steril

7
4
Cuci tangan harus dilakukan pada saat yang diperkirakan mungkin akan terjadi
perpindahan kuman melalui tangan, yaitu sebelum melakukan suatu tindakan
yang seharusnya dilakukan secara bersih dan setelah melakukan tindakan yang
kemungkinan terjadi pencemaran, seperti :

a. Sebelum melakukan tindakan, misalnya memulai pekerjaan (baru tiba


dikantor), saat akan memeriksa (kontak langsung dengan pasien), saat
akan memakai sarung tangan steril atau sarung tangan yang telah
didisinfeksi tingkat tinggi DTT, untuk melakukan suatu tindakan, saat
akan memakai peralatan yang telah di DTT, saat akan melakukan
injeksi, saat hendak pulang ke rumah.
b. Setelah melakukan tindakan yang kemungkinan terjadi pencemaran,
misalnya setelah memeriksa pasien, setelah memegang alat-alat bekas
pakai dan bahan-bahan lain yang berisiko terkontaminasi, setelah
meyentuh selaput mukosa, darah atau cairan tubuh lainnya, setelah
membuka sarung tangan (cuci tangan sesudah membuka sarung tangan
perlu dilakukan karena ada kemungkinan sarung tangan tangan
berlubang atau robek), setelah dari toilet/kamar kecil, setelah bersin
atau batuk.
2. Sarana cuci tangan
a. Air mengalir.
Sarana utama untuk cuci tangan adalah air mengalir dengan saluran
pembuangan atau bak penampung yang memadai. Dengan guyuran air mengalir
tersebut maka mikroorganisme yang terlepas karena gesekan mekanisme atau
kimia saat cuci tangan akan terhalau dan tidak menempel lagi di permukaan kulit.
Air mengalir tersebut dapat berupa kran atau dengan cara mengguyur dengan
gayung, namun cara mengguyur dengan gayung memiliki risiko cukup besar untuk
terjadiny pencemaran, baik melalui gagang gayung ataupun percikan air bekas
cucian kembali ke bak penampung air bersih. Air kran bukan berarti harus dari
PAM, namun dapat diupayakan secara sederhana dengan tangki berkran di ruang
pelayanan/perawatan kesehatan agar mudah dijangkau oleh para petugas kesehatan
yang memerlukannya.
b. Sabun dan deterjen
Bahan tersebut tidak membunuh mikroorganisme tetapi menghambat dan
mengurangi jumlah mikroorganisme dengan jalan mengurangi tegangan
permukaan sehingga mikroorganisme terlepas daripermukaan kulit dan mudah
terbawa oelh air. Jumlah mikroorganisme semakin berkurang dengan
meningkatnya frekuensi cuci tangan, namun di lain pihak dengan seringnya
menggunakan sabun atau deterjen maka lapisan lemak kulit akan hilang dan
membuat kulit menjadi kering dan pecah-pecah. Hilangnya lapisan lemak akan
memberi peluang untuk tumbuhnya kembali mikroorganisme.

8
5
3. Larutan antiseptik
Larutan antiseptik atau disebut juga anti mikroba topikal, dipakai pada kulit atau
jaringan hidup lainnya untuk menghambat aktivitas atau membunuh mikroorganisme
pada kulit. Antiseptik memiliki bahan kimia yang memungkinkan untuk digunakan pada
kulit dan selaput mukosa. Antiseptik memiliki keragaman dalam hal efektifitas, aktifitas,
akibat dan rasa pada kulit setelah dipakai sesuai dengan keragaman jenis antiseptik
tersebut dan reaksi kulit masing-masing individu.
Kulit manusia tidak dapat disterilkan. Tujuan yang ingin dicapai adalah penurunan
jumlah mikroorganisme pada kulit secara maksimal terutama kuman transien. Kriteria
memilih antiseptik adalah :
a. Memliki efek yang luas, menghambat atau merusak mikroorganisme secara luas.
b. Efektifitas
c. Kecepatan aktifitas awal
d. Efek residu, aksi yang lama setelah pemakaian untuk meredam pertumbuhan
e. Tidak mengakibatkan iritasi kulit
f. Tidak menyebakan alergi
g. Efektif sekali pakai, tidak perlu diulang-ulang
h. Dapat diterima secara visual maupun estetik.
Cara cuci tangan yang dipakai di Klinik Pratama Kimia Farma dengan memakai 6
langkah yaitu :
a. Gosokkan telapak tangan kanan dengan telapak tangan kiri.
b. Gosokkan telapak kiri atas punggung tangan kanan dan sebaliknya
c. Masukkan jari-jari tangan kanan ke sela-sela jari tangan kiri kemudian gosok
berlawanan arah
d. Jari tangan dirapatkan dan saling dikaitkan kemudian di gosokkan berlawanan
arah
e. Jempol kanan digosok memutar oleh telapak kiri dan sebaliknya
f. Jari kanan menguncup, gosok memutar pada telapak tangan kiri dan sebaliknya.
Adapun cuci tangannya :
a. Dengan cara air mengalir. Setiap ruangan teutama ruangan tindakan dipasang
wastafel dengan air mengalir, sebagai tempat cuci tangan
b. Di dinding dipasang alat hansd rub yang diisi cairan antiseptik, ada beberapa
hansd rub yang dipasang, harapannya digunakan untuk pasien dan petugas.

4. Alat Pelindung Diri


Alat pelindung tubuh digunakan untuk melindungi kulit dan selaput lendir
petugas dari risiko pajanan darah, semua jenis cairan tubuh, sekret, ekskreta, kulit
yang tidak utuh dan selaput lendir pasien. Jenis tindakan berisiko mencakup tindakan
rutin, tindakan bedah tulang, otopsi atau perawatan gigi dimana menggunakan bor
dengan kecepatan putar yang tinggi, Jenis-jenis alat pelindung :
a. Sarung tangan
Pemakaian sarung tangan bertujuan untuk melindungi tangan dari kontak
dengan darah, semua jenis cairan tubuh, sekret, ekskreta, kulit yang tidak
utuh, selaput lendir pasien dan benda yang terkontaminasi. Sarung tangan

96
harus selalu dipakai oleh setiap petugas sebelum kontak dengan darah
atau semua jenis cairan tubuh, sekret, ekskreta dan benda yang
terkontaminasi. Dikenal 3 jenis sarung tangan
1) sarung tangan bersih
sarung tangan yang didisinfeksi tingkat tinggi dan digunakan
sebelum tindakan rutin pada kulit dan selaput lendir. Sarung
tangan bersih dapat digunakan untuk tindakan bedah bila tidak ada
sarung tangan steril
2) Sarung tangan steril
Sarung tangan yang disterilkan dan harus digunakan pada
tindakan bedah. Bila tidak tersedia sarung tangan steril baru dapat
digunakan sarung tangan yang disinfeksi tingkat tinggi.
3) Sarung tangan rumah tangga
Sarung tangan tersebut terbuat dari latex atau vinil yang tebal,
seperti sarung tangan yang biasa digunakan untuk keperluan
rumah tangga. Dipakai pada waktu membersihkan alat kesehatan
dan permukaan meja kerja dll. Sarung tangan jenis ini bisa
digunakan lagi setelah dicuci dan dibilas bersih.
Sarung tangan harus selalu dipakai pada saat melakukan tindakan yang kontak
atau diperkirakan akan terjadi kontak dengan darah, cairan tubuh, sekret, ekskreta,
kulit yang tidak utuh, selaput lendir pasien dan benda yang terkontaminasi.

Cara memakai sarung tangan :


a. Persiapan
1) Jenis sarung tangan sesuai jenis tindakan
2) Kuku dijaga agar selalu pendek
3) Lepas cincin
4) Cuci tangan sesuai prosedur standart
b. Prosedur
1) Cuci tangan
2) Siapkan area yang cukup luas, bersih dan kering untuk membuka paket
sarung tangan.
3) Buka pembungkus sarung tangan, minta bantuan petugas lain untuk
membuka pembungkus sarung tangan, letakkan sarung tangan dengan
bagian telapak tangan menghadap ke atas.
4) Ambil salah satu sarung tangan dengan memegang pada sisi sebelah dalam
lipatannya, yaitu bagian yang akan bersentuhan dengankulit tangan saat
dipakai.
5) Posisikan sarungtangan setinggi pinggang dan menggantung ke lantai,
sehingga bagian lubang jari-jari tangannya terbuka. Masukkan tangan
6) Ambil sarung tangan ke dua dengan cara menyelipkan jari-jari tangan yang
sudah memakai sarung tangan ke bagian lipatan, yaitu bagian yang tidak
akan bersentuhan dengan kulittangan saat dipakai.

107
7) Pasang sarung tangan yang kedua dengan cara memasukkan jari-jari yang
belum mamakai sarung tangan, kemudian luruskan lipatan, dan aturposisi
sarung tangan sehingga terasa pas dan enak di tangan

Cara melepas sarung tangan :


a. Persiapan
1) Larutan klorin 0,5 % dalam wadah yang cukup besar
2) Sarana cuci tangan
3) Kantung penampung limbah medis
b. Prosedur
1) Masukkan sarung tangan yang masih dipakai ke dalam larutan klorin,
gosokkan untuk mengangkat bercak darah atau cairan tubuh lainnya yang
menempel.
2) Pegang salah satu sarung tangan pada lipatan lalu tarik ke arah ujng jari-jari
tangan sehingga bagian dalam dari sarung pertama menjadi sisi luar.
3) Jangan dibuka sampai terlepas sama sekali, biarkan sebagian masih berada
pada tangan sebelum melepas sarung tangan yang ke dua. Hal ini penting
untuk mencegah terpaparnya kulit tangan yang terbuka dengan permukaan
sebelah luar sarung tangan.
4) Biarkan sarung tangan yang pertama sampai disekitar jari-jari, lalu pegang
sarung tangan yang kedua pada lipatannya lalu tarik ke arah ujung jari
hingga bagian dalam sarung tangan menjadi sisi luar. Demikian dilakukan
secara bergantian.
5) Pada akhir setelah hampir di ujung jari, maka secara bersamaan dan dengan
sangat hati-hati sarung tangan tadi dilepas.
6) Perlu diperhatikan bahwa tangan yang terbuka hanya boleh menyentuh
bagian dalam sarug tangan.
7) Cuci tangan setelah sarung tangan dilepas, ada kemungkinan sarung tangan
berlubang namun sangat kecil dan tidak terlihat. Tindakan mencuci taangan
setelah melepas sarung tangan ini akan memperkecil risiko terpajan.

b. Pelindung wajah/masker/kaca mata


Pelindung wajah terdiri dari dua macam pelindung yaitu masker dan kaca mata,
dengan berbagai macam bentuk, yaitu ada yang terpisah dan ada pula yang menjadi satu.
Pemakaian pelindung wajah tersebut dimaksudkan untuk melindungi selaput lendir
hidung, mulut dan mata selama melakukan tindakan atau perawatan pasien yang
memungkinkan terjadinya percikan darah dan cairan tubuh lainnya, termasuk tindakan
bedah ortopedi atau perawatan gigi. Jenis alat yang digunakan meliputi masker, kacamata
atau pelindung wajah digunakan sesuai kemungkinan percikan darah selama tindakan
berlangsung. Masker, kacamata dan pelindung wajah digunakan sedemikian rupa
sehingga tidak mengganggu lapangan dan ketajaman pandangan. Masker tanpa kacamata
hanya digunakan pada saat tertentu misalnya merawat pasien tuberkolosis terbuka tanpa
luka dibagian kulit/perdarahan. Masker digunakan bila terjadi berada dalam jarak 1 meter
dari pasien. Masker, kacamata dan pelidung wajah secara bersamaan digunakan petugas

118
yang melaksanakan atau membantu melaksanakan tindakan berisiko tinggi terpajan lama
oleh darah dan cairan tubuh lainnya antaralain pembersihan luka, membalut luka,
mengganti kateter atau dekontaminasi alat bekas pakai. Bila ada indikasi untuk memakai
ketiga macam alat pelindung tersebut, maka masker selalu dipasang dahulu sebelum
memakai gaun pelindung atau sarung tangan, bahkan sebelum melakukan cuci tangan
bedah
c. Penutup kepala
Tujuan pemakaian penutup kepala adalah mencegah jatuhnya mikroorganisme
yang ada di rambut dan kulit kepala petugas terhadap alat-alat/daerah steril dan juga
sebaliknya untuk melindungi kepala/rambut petugas dari percikan bahan-bahan dari
pasien
d. Gaun pelindung (baju kerja/celemek)
Gaun pelindung atau jubah atau celemek, merupakan salah satu jenis pakaian
kerja. Seperti diketahui bahwa pakaian kerja dapat berupa seragam kerja, gaun bedah, jas
laboratorium dan celemek. jenis bahan dapat berupa bahan tembus cairan dan bahan tidak
tembus cairan. Tujuan pemakaian gaun pelindung adalah untuk melindungi petugas dari
kemungkinan genangan atau percikan darah atau cairan tubuh lain yang dapat mencemari
baju atau seragam. Gaun pelindung harus dipakai apabila ada indikasi, misalnya pada saat
mmbersihkan luka, melakukan irigasi, melakukan tindakan drainase, menuangkan cairan
terkontaminasi ke dalam lubang pembuangan/ wc/ toilet, mengganti pembalut, menangani
pasien dengan perdarahan masif, melakukan tindakan bedah termasuk otopsi, perawatan
gigi.
e. Sepatu pelindung.
Sepatu khusus digunakan oleh petugas yang bekerja di ruang tertentu misalnya
ruang bedah, laboratorrium, ICU, ruang isoasi, ruang pemulasaraan jenazah dan petugas
sanitasi. Sepatu hanya dipakai di ruang tersebut dan tidak boleh dipakai ke ruang lainnya.
Tujuan pemakaian adalah melindungi kaki petugas daritumpahan/percikan darah atau
cairan tubuh lainnya dan mencegah dari kemungkinan tusukan benda tajam atau
kejatuhan lat kesehatan. Sepatu harus menutupi seluruh ujug dan telapak kaki dan tidak
dianjurkan untuk menggunaka sandal atau sepatu terbuka. Sepatu khusus sebaiknya
terbuat dari bahan yang mudah dicuci dan tahan tusukan misalnya karet atau plastik.
Tidak semua alat pelindung tubuh harus dipakai, Jenis pelindung tubuh yang dipakai
tergantung pada jenis tindakan atau kegiatan yang akan dikerjakan. Sebagai contoh untuk
tindakan bedahinor (misalnya vasektomi, memasang/ mengangkat implant) cukup
memakai sarung tangansteril atau DTT saja. Namun untuk kegiatan operatif dikamar
bedah, atau melakukan pertolongan persalinan, sebaliknya semua pelindung tubuh
dipakai oleh petugas untuk mengurangi kemungkinan terpajan darah/ cairan tubuh
lainnya.
5. Pengelolaan Alat Kesehatan
Pengelolaan alat-alat bertujuan untuk mencegah penyebaran infeksi melalui alat
kesehatan, atau untuk menjamin alat tersebut dalam kondisi steril dan siap pakai. Semua
alat, bahan dan obat yang akan dimasukkan ke dalam jaringan dibawah kulit harus dalam
keadaan steril. Proses penatalaksanaan peralatan dilakukan melalui 4 tahap kegiatan
yaitu:

12
9
a. Dekontaminasi
Dekontaminasi adalah menghilangkan mikroorganisme patogen dan kotoran
dari suatu benda sehingga aman untuk pengelolaan selanjutnya dan dilakukan
sebagai langkah pertama bagi pengelolaan alat kesehatan bekas pakai atau
pengelolaan pencemaran lingkungan, misalnya tumpahan darah/cairan tubuh. Juga
sebagai langkah pertama pengelolaan limbah yang tidak dimusnahkan dengan cara
insinerasi atau pembakaran dengan alat incinerator yaitu sebelum alat tersebut
dikubur dengan cara kapurisasi.
Dekontaminasi bertujuan untuk mencegah penyebaran infeksi melalui alat
kesehatan atau suatu permukaan benda, misalnya HIV, HBV dan kotoran lain yang
tidak tampak, sehingga dapat melindungi petugas maupun pasien. Dekontaminasi
dilakukan dengan menggunakan bahan disinfektan yaitu suatu bahan atau larutan
kimia yang digunakan untuk membunuh mikroorganisme pada benda mati dan tidak
digunakan untuk kulit dan jaringan mukosa. Salah satu yang biasa dipakai terutama
di negara berkembang seperti indonesia adalah larutan klorin 0,5 % atau 0,005 %
sesuai dengan intensitas cemaran dan jenis alat atau permukaan yang akan di
dekontaminasi.
b. Pencucian
Setelah dekontaminasi dilakukan pembersihan merupakan langkah penting
yang harus dilakukan. Tanpa pembersihan yang memadai maka pada umumnya
proses disifeksi atau sterilisasi selanjutnya menjadi tidak efektif. Kotoran yang
tertinggal dapat mempengaruhi fungsinya atau menyebabkan reaksi pirogen bila
masuk ke dalam tubuh manusia. Pada alat kesehatan yang tidak terkontaminasi
dengan darah misalnya kursi roda, alat pengukur tekanan darah, infuse pump. Cukup
dilap dengan larutan deterjen, namun apabila jelas terkontaminasi dengan darah maka
diperlukan disinfektan. Pembersihan dengan cara mencuci adalah menghilangkan
segala kotoran yang kasat mata dari benda dan permukaan dengan sabun atau
deterjen, air dan sikat. Kecuali menghilangkan kotoran, pencucian akan semakin
menurunkan jumlah mikroorganisme yang potensial menjadi penyebab infeksi
melalui alat kesehatan atau suatu permukaan benda, dan juga memepersiapkan
permukaan alat untuk kontak langsung dengan dengan disinfeksi atau bahan sterilisasi
sehingga proses dapat berjalan secara sempurna. Jika tidak dicuci lebih dahulu, proses
sterilisasi atau DTT menjadi tidak efektif. Pada pencucian digunakan deterjen dan air.
Pencucian harus dilakukan dengan teliti sehingga darah atau cairan tubuh lain,
jaringan, bahan organik dan kotoran betul-betul hilang dari permukaan alat tersebut.
Peralatan yang sudah dicuci, dibilas dan dikeringkan dahulu sebelum diproses lebih
lajut. Pencucian yang hanya menggunakan air tidak dapat menghiangkan protein,
minyak dan partikel-partikel. Deterjen dipakai dengan cara mencmpurkannya dengan
air dan digunakan untuk membersihkan partikel dan minyak serta kotoran lainnya.
Tidak dianjurkan untuk menggunakan sabun cuci biasa untuk membersihkan
peralatan, karena sabun yang bereaksi dengan air akan meninggalkan residu yang sulit
dihilangkan. Hindarkan juga penggunaan abu gosok karena akan menimbulkan
goresan pada alat yang bisa menjadi tempat bersembunyi mikroorganisme dan juga
memudahkan terjadinya karat.

13
10
c. Disinfeksi dan Sterilisasi
Disinfeksi adalah suatu proses untuk menhilangkan sebagian atau semua
mikroorganisme dari alat kesehatan kecuali endospora bakteri. biasanya dilakukan di
sarana kesehatan dengan menggunakan cairan kimia, pasteurisasi atau perebusan.
Efikasinya dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah proses yang dilakukan
sebelumnya, seperti pencucian, pengeringan, adanya zat organik, tingkat pencemaran,
jenis mikroorganisme pada alat kesehatan, sifat dan bentuk alat, lamanya terpajan
oleh disinfektan, sushu dan pH saat proses berlangsung. Bila faktor-faktor tersebut
ada yang diabaikan maka akan mengurangi efektifitas proses disinfeksi itu sendiri.
Disinfeksi ada dua macam :
1) Disinfeksi Kimiawi : alkohol, klorin dan ikatan klorin, formaldehid,
glutaardehid, hidrogen peroksida, yodifora, asam parasetat, fenol, ikatan
amonium kuartener.
2) Cara disinfeksi lainnya : radiasi sinar ultraviolet, pasteurisasi, mesin pencuci.
Karakteristik disinfektan yang ideal :
1) Berspektrum luas
2) Membunuh kuman secara cepat
3) Tidak dipengaruhi faktor lingkungan, yaitu tetap aktif dengan adanya zat
organik seperti darah, sputum, feces, tidak rusak oleh sabun, deterjen, dan zat
kimia lain yang mungkin digunakan bersama.
4) Tidak toksis
5) Tidak korosif atau merusak bahan
6) Meninggalkan lapisan antimikrobial pada permukaan yang diproses
7) Mudah pemakaiannya
8) Tidak berbau
9) Ekonomis
10) Larut dalam air
11) Stabil dalam konsentrasi aktifnya
12) Mempunyai efek pembersih.

d. Sterilsasi
Sterilisasi adalah suatu proses untuk menghilangkan seluruh mikroorganisme dari
alat kesehatan termasuk eondosprora bakteri. Sterilisasi biasanya dilaksanakan di rumah
sakit baik secara fisik maupun secara kimiawi. Cara dan zat yang sring digunakan untuk
sterilisasi di rumah sakit adalah uap panas bertekanan, pemanasan kering, gas etilin
oksida, zat kimia cair. Istilah steril mengandung arti mutlak berarti semua bentuk dan
jenis mikroorganisme betul-betul musnah. Ada zat kimia yang dapat membunuh semua
jenis dan bentuk mikroorganisme. Bila masa kontak dengan bahan kimia tersebut lebih
singkat maka hanya sebagian mikroorganisme saja yang mati dan proses tersebut disebut
disnfeksi. Jadi tidak ada istilah semi steril Sterilisasi adalah proses pengelolalaan suatu
alat atau bahan dengan tujuan mematikan semua mikroorganisme ternasuk endospora.
Sterilisasi adalah cara yang paling aman dan paling efektif untuk pengelolaan alat
kesehatan yang berhubungan lansung dengan darah atau jaringan di bawah kulit yang
secara normal bersifat steril.

14
11
Macam sterilisasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
1) Fisik seperti pemanasan atau radiasi, filtrasi
2) Kimiawi menggunakan bahan kimia dengan cara merendam (misalnya dalam
larutan glutaraldehid) dan menguapu dengan gas kimia (diantaranya dengan
gas etilin oksida)
e. Penyimpanan Alat Kesehatan
Penyimpanan yang baik sama pentingnya dengan proses sterilisasi atau disinfeksi itu
sendiri. Ada dua macam alat dilihat dari cara penyimpanannya yakni yang dibungkus dan
yang tidak dibungkus.
1) Alat yang dibungkus
Umur / masa steril adalah selama peralatan masih terbungku, semua alat
steril dianggap tetap steril, tergantung ada atau tidaknya kontaminasi. Ada
beberapa faktor yang mempengaruhi umur steril, antara lain jenis material yang
digunakan untuk membungkus, berapa kali bungkus ditangani, jumlah petugas
yang menangani bungkusan, kebersihan, kelembaban dan sushu tempat
penyimpanan, apakah bungkusan dibiarkan terbuka atau tertutup dan apakah
bungksan tahan debu.
Dalam kondisi penyimpanan yang optimal dan penanganan yang minimal,
dapat dinyatakan steril sepanjang bungkus tetap utuh dan kering.Untuk
penyimpanan yang optimal, simpan bungkusan steril dalam lemari tertutup
dibagian yang tidak terlalu sering dijamah, suhu udara sejuk dan kering atau
kelembaban rendah, Jika ragu-ragu akan sterilitas paket, maka alat itu dianggap
tercemar dan harus distrilkan kembali sebelum pemakaian.
Alat yang tidak dibungkus harus digunakan segera setelah dikeluarkan.
Alat yang tersimpan pada wadah steril dan tertutup apabila yakintetap steril paling
lama 1 minggu, tetapi kalua ragu-ragu harus disterilkan kembali.
Jangan menyimpan alat dalam larutan, misalnya skalpel dan jarum penjahit
luka. Simpanlah alat dalam keadaan kering. Mikroorganisme dapat tumbu dan
berkembang biak pada larutan antiseptik maupun desinfektan, sehingga dapat
mengontaminasi alat dan menyebabkan infeksi
2) Pengelolaan benda tajam
Benda tajam sangat berisiko untuk menyebabkan perlukaan sehingga
meningkatkan terjadinya penularan penyakit melalui kontak darah. Penularan
infeksi HIV hepatitis B dan C di sarana pelayanan kesehatan, sebagian besar
disebabkan kecelakaan yang dapat dicegah yaitu tertusuk jarum suntik dan
perlukaan oelh alat tajam lainnya.Untuk meghindari perlukaan atau kecelakaan
kerja semua benda tajam harus digunakan sekali pakai, dengan demikian jarum
suntik bekas tidak boleh digunakan lagi. Sterilitas jarum suntik dan alat kesehatan
lain yang menembus kulit atau mukosa harus dapat dijamin. Perlu diperhatikan
dengan cermat ketika menggunakan jarum suntik atau benda tajam lainnya. Setiap
petugas kesehatan bertanggung jawab atas jarum dan alat tajam yang digunakan
sendiri, yaitu sejak pembukaan paking, penggunaan, dekontaminasi hingga ke
penampungan sementara yang berupa wadah tahan tusukan. Sehingga perlu
disediakan wadah limbah tajam di setiap ruangan tindakan

15
12
Petugas juga harus menggunakan sarung tangan tebal, misalnya saat
mencuci alat dan alat tajam. Resiko kecelakaan sering terjadi pada saat
memindahkan alat tajam dari satu orang ke orang lain, oleh karena itu tidak
dianjurkan menyerahkan alat tajam secara langsung, melainkan menggunakan
teknik tanpa sentuh yaitu menggunakan nampam atau alat perantara dan
membiarkan petugas mengambil sendiri dari tempatnya. Kecelakaan yang sering
terjadi pada prosedur penyuntikan adalah pada saat petugas berusaha memasukkan
kembali jarum suntik bekas pakai ke dalam tutupnya. Oleh karena itu sangat tidak
dianjurkan untuk menutup kembali jarum suntik tersebut melainkan lansung saja
di buang ke tempat penampungan sementaranya, tanpa menyentuh atau
memanipulasi bagian tajamnya seperti dibengkokkan, dipatahkan atau ditutup
kembali. Jika terpaksa ditutup kembali, gunakan cara penutupan jarum dengan
satu tangan untuk mencegah jari tertusuk jarum . Sebelum dibawa ke pembuangan
akhir, maka diperlukan suatu wadah penampungan sementara yang bersifat kedap
air dan tidak mudah bocor serta tahan tusukan. Wadah tersebut harus dapat
digunakan dengan satu tangan, agar pada waktu memasukkan jarum tidak usah
memegangnya dengan tangan yang lain. Wadah ditutup dan diganti setelah terisi
¾ bagian, setelah ditutup tidak dapat dibuka kembali sehingga isi tidak tumpah.
a) Pecahan kaca
Pecahan kaca dikategorikan sebagai benda tajam. Sangat
potensial menyebabkan perlukaan yang memudahkan kuman masuk ke
dalam aliran darah. Dalam penanganannya harus hati-hati
menggunakan sarung tangan tebal pada saat membersihkan nya,
ditambah dengan menggunakan kertas koran dan kertas tebal untuk
mengumpulkan dan meraup pecahan gelas tersebut. Untuk membawa
pecahan gelas dianjurkan dengan cara membungkusnya dalam
gulungan kertas yang digunakan untuk meraup sebelumnya dan
memasukkannya ke dalam kardus dan diberilabel hati-hati pecahan
kaca.
3) Pengelolaan Limbah
Limbah yang berasal adri sarana kesehatan secara umum dibedakan atas :
a) Limbah rumah tangga atau limbah non medis, yaitu limbah yang tidak kontak
dengan darah atau cairan tubuh sehingga disebut sebagai risiko rendah
b) Limbah medis yaitu bagian sampah rumah sakit atau sarana kesehatan yang
berasal dari bahan yang mengalami kontak dengan darah atau cairan tubuh
pasien dan dikategorikan sebagai limbah berisiko tinggi dan bersifat
menularkan penyakit. Limbah medis dapat berupa :
 Limbah klinis
 Limbah laboratorium
c) Limbah berbahaya adalah limbah kimia yang mempunyai sifat beracun.
Limbah jenis ini meliputi disinfektan, produk pembersih, obat-obatan sitoksik
dan senyawa radio aktif.

16
13
Upaya penanganan limbah di pelayanan kesehatan meliputi penanganan
limbah cair dan limbah padat (sampah). Adapun teknik penanganan sampah
meliputi pemisahan, penanganan, penampungan sementara dan pembuangan.

1. Limbah umum atau sampah rumah tangga.


Semua limbah yang tidak kontak dengan tubuh pasien umumnya dikenal sebagai sampah
non medik, yakni sampah-sampah yang dihasilkan dari kegiatan di ruang tunggu pasien
atau pengunjung, ruang administrasi dan kebun. Sampah jenis ini meliputi sisa makanan,
sisa pembungkus makanan, plastik dan sisa pembungkus obat. Sampah jenis ini dapat
langsung dibuang melalui pelayanan pengelolaan sampah kota.
2. Limbah klinis
Limbah klinis merupakan tanggung jawab rumah sakit/sarana kesehatan lain dan
memerlukan perlakuan khusus. Karena berpotensi menularkan penyakit, maka
dikategorikan sebagai limbah berisiko tinggi.
Limbah klinis antara lain :
a) Darah atau cairan tubuh klainnya, material yang mengandung darah kering seperti
perban, kassa dan benda-benda dari kamar bedah
b) Sampah organik misalnya jaringan, potongan tubuh dan plasenta
c) Benda-benda tajam bekas pakai, misalnya jarum suntik, jarum jahit, pisau bedah,
tabung darah, pipet atau jenis gelas lainnya yang bersifat infeksius.
Cara penanganan limbah klinis :
1) Sebelum dibawa ke tempat pembuangan akhir/pembakaran semua jenis limbah
klinis ditampung dalam kantong kedap air, biasanya berwarna kuning.
2) Ikat secara rapat kantong yang sudah berisi 2/3 penuh.
3. Limbah laboratorium
Setiap jenis limbah yang berasal dari laboratorium dikelompokkan sebagai limbah
berisiko tinggi.
Cara penanganan limbah laboratorium :
a) Sebelum keluar dari ruang laboratorium dilakukan sterilisasi dengan otoklaf
selanjutnya ditangani secara prosedur pembuangan limbah klinis
b) Cara penanganan terbaik untuk limbah medis adalah dengan incenerasi
c) Cara lain adalah dengan menguburnya dengan metode kapurisasi.
Pemilahan
Pemilahan dilakukan dengan menyediakan wadah yang sesuai dengan jenis sampah
medis. Wadah-wadah sampah tersebut biasanya menggunakan kantong plastik
berwarna, msalnya kuning untuk bahan infeksius, hitam untuk bahan non medis,
merah untuk bahan beracun dst, drum yang dicat atau wadah diberi label yang mudah
dibaca, sehingga memudahkan untuk membedakan wadah sampah non medis dan
sampah medis.
Penanganan
Penanganan sampah dari masing-masing sumber dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
1) Wadah tidak boleh penuh atau luber. Bila wadah sudah terisi ¾ bagian maka
segera dibawa ke tempat pembuangan akhir.

17
14
2) Wadah berupa kantong plastik dapat diikat rapat pada saat akan diangkut, dan
dibuang berikut wadahnya.
3) Penanganan sampah dari ruang perawatan atau pengobatan harus tetap pada
wadahnya dan jangan dituangkan pada gerobak (kereta sampah) yang terbuka.
Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya kontaminasi di sekitarnya
dan mengurangi risiko kecelakaan terhadap petugas, pasien dan pengunjung.
4) Petugas yang menangani harus selalu menggunakan sarung tangan dan sepatu,
serta harus mencuci tangan dengan sabun setiap selesai mengambil sampah.
a) Penampungan sementara
Pewadahan sementara sangat diperlukan sebelum sampah dibuang.
Syarat yang harus dipenuhi wadah sementara ialah :
(1) Ditempatkan pada daerah yang tidak mudah dijangkau
petugas,pasien dan pengunjung
(2) Harus bertutup dan kedap air serta tidak mudah bocor agar
terhindar dari jangkauan serangga, tikus dan binatang lainnya
(3) Hanya bersifat sementara dan tidak boleh lebih dari satu hari
b) Wadah limbah padat
(1) Selalu gunakan sarung tangan dan sepatu pada saat menangani
dan membawa limbah medis.
(2) Gunakan wadah yang mudah dicuci, tidak mudah bocor, wadah
dapat dari jenis plastik atau yang paling baik logam galvanis
sebab tidak mudah bocor dan korosif
(3) Dielngkapi dengan tutup, lebih baik jika tersedia wadah yang
dilengkapi dengan pedal pembuka.
(4) Tempatkan wadah limbah padat di tempat yang sesuai
(5) Kosongkan wadah setiap hari atau ¾ bagiannya sudah penuh
dan jangan memungut limbah medis tanpa menggunakan sarung
tangan.
(6) Cucilah wadah limbah medis dengan larutan desinfektan dan
bilas dengan air setiap hari atau lebih sering bila kelihatan
kotoran/kontaminan setelah dipakai.
(7) Cucilah sarung tangan dan tangan setelah melakukan
penagnanan limbah medis.
c) Wadah penampungan limbah benda tajam
(1) Tahan bocor dan tahan tusukan
(2) Harus mempunyai pegangan yang dapat dijinjing dengan satu
tangan
(3) Mempunyai penutup yang tidak dapat dibuka lagi
(4) Bentuknya dirancang agar dapat digunakan dengan satu tangan
(5) Ditutup dan diganti setelah ¾ bagian terisidengan limbah
(6) Ditangani bersama limbah medis.
d) Pembuangan/ Pemusnahan
Seluruh sampah yang dihasilakn pada akhirnya harus dilakukan
pembuangan atau pemusnahan. Sistem pemusnahan yang dianjurkan

18
15
adalah dengan pembakaran (isinerasi).Pembakaran dengan suhu tinggi
akan membunuh mikroorganisme dan mengurangi volume sampah
sampai 90 %. Untuk pemusnahan sampah Klinik Pratama Kimia Farma
bekerjasama (mengadakan MOU) dengan pihak ke 3, karena Klinik
Pratama Kimia Farma belum bisa melakukan pemusnahan sampah
medis yang sesuai aturan.

e) Pembuangan limbah cair


Pengelolaan limbah cair harus tetap memperhatikan kaidah-kaidah
dalam pengelolaan limbah cair antara lain :
(1) Sistem penyaluran harus tertutup
(2) Kemiringan saluran 2-4 derajat untuk menjaga endapan dalam
saluran
(3) Belokan saluran harus lebih besar dari 90 derajat
(4) Bangunan penampung harus kedap air, kuat, dilengkapi dengan
mainhole dan lubang hawa
(5) Penempatan lokasi harus mempertimbangkan keadaan muka air
tanah dan jarak dari sumber air.
(6) Untuk pembuangan limbah cair di Klinik Pratama Kimia Farma
sudah menggunakan IPAL sistem central (semua limbah cair yang
berasal dari bernagai ruang) disalurkan ke mesin pengolah limbah,
setelah keluar dari mesin, keluar ke bak kolam ikan, kalau ikan
tidak mati berarti limbah aman untuk dibuang ke selokan umum.

D. DOKUMENTASI
Dokumentasi pelaporan pemantauan penggunaan dalam pelasanaan
kewaspadaan universal dilakukan oleh tim audit mutu dalam jangka tertentu

19
16
BAB III
PENUTUP

Panduan kewaspadaan universal Klinik Pratama Kimia Farma merupakan


panduan yang memuat tatalaksana kewaspadaan universal dan semoga dengan adanya
panduan koordinasi ini dapat bermanfaat dan diterapkan dalam pelayanan di Klinik
Pratama Kimia Farma

20
17