Anda di halaman 1dari 3

Esai Kemerdekaan Indonesia

By : Ihsan Muchi

17 Agustus Hanyalah Senang-Senang dan Hura-Hura


Bismillahirrohmaanirrohim..

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para
pahlawanya”

Pada tanggal 17, bulan agustus tepatnya hari jum’at adalah hari dimana Negara
Indonesia merdeka. Bangsa ini memproklamirkan kepada seluruh penduduk
dunia bahwa dia bebas dari penjajahan pada hari jum’at itu. Apakah kalian tau
kenapa kemerdekaan ini jatuh pada hari jum’at?, kenapa bukan hari selasa atau
hari yang lainnya?. Jawabnya adalah karena orang-orang yang
memploklamirkan bangsa ini tahu bahwa induk segala hari adalah hari jum’at.
Mereka para pejuang bangsa bukanlah hanya pejuang rasionalis tapi mereka
adalah orang-orang yang relegius, orang-orang yang agamis. Mereka ingin
bahwa kemerdekaan itu ditolong oleh para malaikat yang mengaminkan satu titik
dihari jum’at. “Maka selesai bendera itu dikibarkan, proklamasi dibacakan,
presiden ir. Soekarno mengangkat kedua tangannya, berdoa kepada Allah
S.W.T, di aminkan oleh siapa saja yang datang pada saat itu, foto dan gambar
jadi saksi bisu bahwa mereka memang benar-benar berdoa kepada Allah
Ta’ala.” Sedikit adalah beberapa kalimat yang saya dapatkan dari rekaman
khutbah jum’at, mengungkap kebenaran sejarah Indonesia.

Yaa, dan pada tanggal dan bulan itulah juga dimana masyarakat Indonesia
merayakan kemerdekaan bangsa ini disetian tahunnya. Seluruh rakyat Indonesia
dari sabang sampai merauke memperingati hari jadi kemerdekaan Indonesia.

Berbagai lomba dan karnaval pun diadakan pada bulan itu. Sebagai bentuk
apresiasi masyarakat Indonesia akan perjuangan pahlawan-pahlawan Indonesia
yang berjuang melawan penjajah sampai mengusir dan memerdekan bangsa ini.
Oleh karena itu disetiap daerah di Indonesia merayakan kemerdekaan dengan
berbagai lomba. Seperti lomba lari, lomba makan kerupuk, balap karung, balap
kelereng, sampai lomba gerak jalan dan juga ada lomba-lomba yang lainnya.

Lomba yang diadakan di desaku Sedayulawas tercinta contohnya. Seperti


lomba-lomba makan kerupuk, balap karung, lomba lari dan lain sebagainya yang
menyangkup peserta anak SD sampai anak SMA masih tergolong hal positif
dalam merayakan 17 an.

Hal yang paling ditunggu masyarakat Sedayu disetiap tahunnya adalah lomba
gerak jalan. Lomba ini dapat apresiasi banyak sekali oleh warga Sedayu. Bahkan
hampir seluruh warga Sedayu keluar dan bersiap untuk melihat para kontestan
lomba gerak jalan lewat disepanjang jalan raya ataupun didalam desa. Tidak
ada jalan yang hari itu hari dimana lomba gerak jalan diadakan, melainkan ada
orang-orang dipinggiran jalan di seluruh jalan yang ada didesa untuk melihat
lomba tersebut.

Lomba gerak jalan biasanya dibagi menjadi 2. Lomba gerak jalan tingkat desa
dan lomba gerak jalan tingkat kecamatan. Lomba gerak jalan tingkat desa
biasanya kontestan mulai dari anak SD sampai SMA.

Nah, lomba gerak jalan tingkat kecamatan inilah yang pesertanya dari kalangan
manapun. Siapa saja dapat ikut serta dalam gerak jalan ini. Mulai dari anak
sekolah, guru, berbagai perwakilan RT dan RW sampai orang-orang biasa yang
hanya ikut untuk sekedar asik-asikan.

Bukan malah memperingati hari kemerdekaan, mereka yang ikut lomba hanya
untuk asik-asikan membuat para juri bingung dan bahkan tak lanyak ikut lomba.
Contoh kecil gerak jalan tahun lalu, para peserta dari jenis peserta umum banyak
yang buruk tingkah dan pakaian yang dikenakan pada saat lomba. Seperti
pakaian yang combing-camping, celana jins yang sengaja disobek, muka yang
dicat hitam putih, rambut yang disemir merah biru. Ini sudah tidak lagi disebut
perayaan untuk kemerdekaan Indonesia. Apakah ini arti kemerdekaan?.

Bukan hanya itu, bahkan ada yang sampai hanya mengenakan celana pendek.
Dengan tubuh yang dicat full, sehingga mirip seperti hantu. Ada lagi yang lebih
parah, peserta cowok yang memakai rok, berdandan seperti hal nya perempuan,
memakai lipstick dan berlenggak lenggok lanyaknya artis papan atas.. Belum lagi
formasi langkah-langkah yang gak jelas. Ada langkah ngecor, langkah maju
mundur cantik, ada langkah gendruwo. Ada juga karena kostum dan cat warna
merah yang sampai menyerupai setan, dibuatlah gerakan dan formasi langkah-
langkah setan. -Maksudnya apa sih, langkah setan kok diikuti. Bahkan juga
sampai tawuran. Sangat tidak beradab.

Bila itu adalah bukti nyata yang terjadi, sudakah pesta perayaan hari
kemerdekaan di desa Sedayulawas mampu menghargai jasa para pahlawan?
Apa jadinya bila para pahlawan bangun dari tidur panjangnya dan melihat ini
semua? Bangga kah? Tidak sama sekali.
Seharusnya orang-orang yang mampu menghentikan atau mencegah semua hal itu terjadi melarang apa
saja penyebab yang dapat menimbulkan hal negative semacam itu. Bisa dari kepala desa, panitia gerak
jalan, atau mungkin juga mendatangkan polisi. Demi keamanan desa dan juga demi para pejuang kita,
tak pantaslah kita mengaku kalau bangsa ini merdeka bila hari perayaan itu saja masih berbau
penjajahan.

Saya berharap desa Sedayu ini lebih baik. Dari segi apapun, meskipun itu hanya
lomba dan berniat menghibur masyarakat. Tapi, setidaknya kita menghibur
masayarat itu dengan hal-hal yang positif. Jangan yang abrakan seperti itu, yang
tidak berpendidikan dan tidak bermoral. Minimal hari itu kita peringati adalah
bertujuan untuk mengenang para pejuanng kita terdahulu. Bukan malah gak
jelas dan gak karuan. Setujuuu???

okey yah, kita pastikan 17 agustus itu bukan hanya senang-senang dan hura-
hura. Caranya dengan kita ikut lomba dengan baik, sopan dan yang pantas
untuk hari kemerdekaan itu sendiri. Kita bentuk bangsa yang bermoral bersama
yang berpendidikan. Kita kenang jasa para pejuang terdahulu. Kita hormati
perjuangan mereka yang dengan nyawa-nyawa mereka, bangsa ini dapat

merdeka dan sejahtera.. hidup Sedayulawas.. MERDEKAAA…

Anda mungkin juga menyukai