Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN INDIVIDU

LAPORAN PENDAHULUAN DAN RESUME KEPERAWATAN


PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN AKTIVITAS DAN LATIHAN

Disusun untuk memenuhi tugas laporan individu praktik profesi ners


departemen Kebutuhan Dasar Manusia (KDM)
di ruang interna RSUD Sidoarjo

DISUSUN OLEH:
WINA SRIANDINI
(190614901278)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


STIKES WIDYAGAMA HUSADA
MALANG
2019
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN DAN RESUME KEPERAWATAN


PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN AKTIVITAS DAN LATIHAN
DI RUANG POLI PENYAKIT DALAM RSUD SIDOARJO

Disusun oleh:
Wina Sriandini
190614201278

Distujui oleh:
Pembimbing Institusi Pembimbing Wahana Praktik

(…………………………………..) (……………………………………….)
LAPORAN PENDAHULUAN DAN RESUME KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN AKTIVITAS DAN LATIHAN

A. Konsep Aktivitas dan Latihan


1. Definisi Aktivitas dan Latihan
Aktivitas adalah suatu energi atau keadaan bergerak dimana manusia
memerlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup. Salah satu tanda kesehatan
adalah adanya kemampuan seseorang melakukan aktivitas seperti berdiri,
berjalan dan bekerja. Dengan beraktivitas tubuh akan menjadi sehat sistem
pernapasan dan sirkulasi tubuh akan berfungsi dengan baik serta metabolisme
tubuh dapat optimal. Aktifitas fisik yang kurang memadai dapat menyebabkan
berbagai gangguan pada sistem meskuloskeletal seperti atropi otot, sendi
menjadi kaku, dan juga menyebabkan ketidakefektifan fungsi organ internal
lainnya. Latihan merupakan suatu gerakan tubuh secara aktif yang dibutuhkan
untuk menjaga kinerja ototdan mempertahankan postur tubuh. Latihan dapat
memellihara pergerakan dan fungsi sendi sehingga kondisinya dapat setara
dengan kekuatan fleksibilitas otot (Alimul,2016).

2. Fisiologi Aktifitas dan Latihan


Aktivitas dan latihan adalah proses gerakan tubuh manusia yang
melibatkan sistem lokomotorik yaitu tulang dan otot. Tulang berfungsi sebagai alat
gerak fasif memberikan kestabilan dalam postur tubuh dan memberikan bentuk
tubuh. Sedangkan otot berperan sebagai alat gerak aktif dimana tendon-tendon
otot melekat pada tulang dan berkontraksi untuk menggerakkan tulang. Tulang
merupakan jaringan ikat yang tersusun oleh matriks organic dan anorganik.tulang
secara histologist dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu jaringan tulang keras
(osteon) dan jaringan tulang lunak (kartilago). Yang membedakan osteon dengan
kartilago adalah bahwa kartilago lebih elastic dan lebih tahan terhadap adanya
tekanan sehingga cenderung lebih tidak mudah patah, dan osteon cenderung
lebih keras tapi mudah patah. Jaringan tulang rawan dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
a. Kartilago Hialin, terutama menyusun bagian persendian sebagai sistem
bantalan untuk melindungi friksi jika terjadi pergerakan
b. Kartilago Fibrosa, terutama menyusun bagian diskus invertebralis
c. Kartilago elastic yang menyusun daun telinga
Sistem harvest adalah suatu saluran yang didalamnya terdapat pembuluh
darah,limfa, dan urat saraf untuk fisiologis tulang. Matriks organik terdiri atas sel-
sel tulang osteoblast,osteosit, kondroblast, kondrosit, dan osteoklas yang
tersimpan pada sistem harvest. Sedangkan matriks anorganik tulang tersusun
oleh mineral-mineral terutama kalsium dan phosphate. Matriks anorganik inilah
yang memberikan massa dan kekuatan pada tulang, sehingga kondisi yang
mengganggu kandungan kalsium dan fosfor dalam jaringan tulang akan
menyebabkan tulang kehilangan kepadatan tulang adalah sistem endokrin
terutama hormone kalsitonin dan paratirohormon, serta metabolisme vitamin D
(Guyton 2005).
Jaringan otot merupakan sistem yang berperan sebagai alat gerak aktif.hal
ini karena kemampuan otot untuk berkontraksi dan relaksasi. Dibalik mekanisme
otot yang secara eksplisit hanya merupakan gerak mekanik, terjadilah beberapa
proses kimiawi dasar yang berfungsi sebagai kelangsungan kontraksi otot. Otot
menempel pada sebagian besar skeletal tampak berbaris-baris atau berlurik-lurik
jika dilihat melalui miksroskop otot tersebut terdiri dari banyak kumpulan (bundel)
serabut parallel panjang yang disebut serat otot. Dalam tiap-tiap myofibril,
tersusun oleh protein-protein kontraktil otot yang terdiri dari 4 jenis, yaitu:
aktin,myosin, troponin, dan tropomiosin. Mekanisme kontraksi otot memerlukan
peran aktivitas dari keempat tipe protein. Mekanisme kontraksi otot dijelaskan
melalui proses pergesekan aktomiosin dimana aktin berperan sebagai rel kereta
dan myosin berperan sebagai kereta. Agar terjadi pergeseran inimaka ikatan
troponin pada aktin myosin harus hilang dan hal ini memerlukan peran aktomisin.
Aktivitas aktomiosin ini dipengaruhi oleh adanya ion kalsium dan neurotransmitter
asetilkolin. Adanya kekurangan kalsium dalam tubuh akan berdampak pada
gangguan kontraksi otot (Gunawan, 2016).
3. Faktor yang Mempengaruhi Aktifitas dan Latihan
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas dan latihan antara
lain:
1. Usia
2. Jenis Kelamin
3. Status Nutrisi
4. Budaya
5. Penyakit terutama yang menyerang sistem nervosa,sistem muskuloskeletal
6. Penyakit kardiovaskuler dan pulmonary
7. Kondisi psikologis

4. Dampak Mobilisasi
Mobilisasi sangat penting untuk kesehatan.imobilisasi yang berkepanjangan dan
bedrest akan menyebabkan serangkaian komplikasi pada berbagai sistem tubuh,
antara lain (Alimul, 2016):
1. Kontraktur
Jaringan ikat kolagen pada otot dan persendian akan digantikan oleh
jaringan fibrosa yang tidak elastic sehingga akan menyebabkan kekakuan
pada pergerakan persendian. Hal ini karena untuk sintesis kolagen diperlukan
rangsangan pergerakan.
2. Difusi Atrofi
Atrofi otot adalah berkurangnya massa otot karena berkurangnya lapisan
aktin dan myosin dan myofibril.
3. Konstipasi
Imobilisasi menyebabkan peristaltik menurun sehingga menyebabkan
absorbs cairan berlebih pada intestinum.
4. Pressure Ulcer
Pasien imobilisasi beresiko untuk mengalami luka tekan sebagai akibat
adanya penekanan pada tulang menonjol (body prominen), keringat, lembab,
deficit self care, dan friksi dengan tempat tidur.
5. Gastritis
Selama bedrest, sekresi bikarbonat lambung menurun sehingga
meningkatkan keasaman lambung.

B. Gangguan Aktivitas dan Latihan


1. Faktor Risiko
a. Terapi batasan gerak
b. Kerusakan sistem saraf pusat
c. IMT diatas 75% sesuai dengan usia
d. Nyeri atau tidak nyaman
e. Keterbatasan daya tahan kardiovaskuler
f. Malnutrisi umum dan spesifik

2. Etiologi
Menurut (Hidayat, 2014) penyebab gangguan aktivitas adalah sebagai berikut :
a. Kelainan Postur
b. Gangguan Perkembangan Otot
c. Kerusakan Sistem Saraf Pusat
d. Trauma langsung pada Sistem Muskuloskeletal dan neuromuscular
e. Kekakuan Otot

3. Tanda dan Gejala


Menurut (Potter & Perry, 2006) manifestasi klinik pada gangguan aktivitas
yaitu tidak mampu bergerak secara mandiri atau perlu bantuan alat/orang lain,
memiliki hambatan dalam berdiri dan memiliki hambatan dalam berjalan.

4. Patofisiologi
Menurut (Hidayat, 2014) proses terjadinya gangguan aktivitas tergantung
dari penyebab gangguan yang terjadi. Ada tiga hal yang dapat menyebabkan
gangguan tersebut, diantaranya adalah :
a. Kerusakan Otot
Kerusakan otot ini meliputi kerusakan anatomis maupun fisiologis otot.
Otot berperan sebagai sumber daya dan tenaga dalam proses pergerakan jika
terjadi kerusakan pada otot, maka tidak akan terjadi pergerakan jika otot
terganggu. Otot dapat rusak oleh beberapa hal seperti trauma langsung oleh
benda tajam yang merusak kontinuitas otot. Kerusakan tendon atau ligament,
radang dan lainnya.
b. Gangguan pada skeletal
Rangka yang menjadi penopang sekaligus poros pergerakan dapat
terganggu pada kondisi tertentu hingga mengganggu pergerakan atau
mobilisasi. Beberapa penyakit dapat mengganggu bentuk, ukuran maupun
fungsi dari sistem rangka diantaranya adalah fraktur, radang sendi, kekakuan
sendi dan lain sebagainya.
c. Gangguan pada sistem persyarafan
Syaraf berperan penting dalam menyampaikan impuls dari dank e otak.
Impuls tersebut merupakan perintah dan koordinasi antara otak dan anggota
gerak. Jadi, jika syaraf terganggu maka akan terjadi gangguan penyampaian
impuls dari dank e organ target. Dengan tidak sampainya impuls maka akan
mengakibatkan gangguan mobilisasi.
5. Pathway
Kerusakan otot Gangguan skeletal Gangguan sistem
(trauma, atrofi otot) (fraktur, radang sendi persarafan
dan kekakuan sendi)

Penurunan kekuatan
Gangguan
otot Nyeri akibat adanya penyampaian impuls
peradangan

Hambatan dalam
bergerak Persepsi takut nyeri Terjadi
bertambah saat kekakuan/pergerakan
bergerak yang tidak terkontrol

Penurunan aktifitas

Kesulitan mencapai
pergerakan sesuai
Gangguan dengan yang ingin
pemenuhan ADL Defisit Perawatan Diri dicapai

Intoleransi Aktifitas Gangguan Mobilitas


Fisik

Kehilangan keseimbangan/
kesulitan mempertahankan
keseimbangan tubuh

Risiko Jatuh
6. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Diagnostik
a. Foto Rontgen (Untuk menggambarkan kepadatan tulang, tekstur, erosi,
dan perubahan hubungan tulang).
b. CT Scan tulang (mengidentifikasi lokasi dan panjangnya patah tulang di
daerah yang sulit untuk dievaluasi)
c. MRI (untuk melihat abnormalitas : tumor, penyempitan jalur jaringan lunak
melalui tulang)
2. Pemeriksaan laboratorium
a. Pemeriksaan darah dan urine
b. Pemeriksaan Hb

7. Penalaksanaan
a. Pencegahan primer
Pencegahan primer merupakan proses yang berlangsung sepanjang
kehidupan dan episodic. Sebagai suatu proses yang berlangsung sepanjang
khidupan, mobilitas dan aktivitas tergantung pada system musculoskeletal,
kardiovaskuler, pulmonal. Sebagai suatu proses episodic pencegahan primer
diarahkan pada pencegahan masalah-masalah yang dapat timbul akibat imobilitas
atau ketidakaktifan.
 Hambatan terhadap latihan
 Pengembangan program latihan
 Keamanan
b. Pencegahan sekunder
Spiral menurun yang terjadi akibat eksaserbasi akut dari imobilitas dapat
dikurangi atau dicegah dengan intervensi keperawatan. Keberhasian intervensi
berasal dari suatu pengertian tentang berbagai factor yang menyebabkan atau
turut berperan terhadap imobilitas dan penuaan. Pencegahan sekunder
memfokuskan pada pemliharaan fungsi dan pencegahan komplikasi. (Tarwoto &
Wartonah, 2006)
c. Penatalaksanaan terapeutik
C. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Aktifitas dan Latihan
1. Pengkajian
Tanggal Masuk :
Jam :
No.RM :
Tanggal Pengkajian :
Diagnosa Medis :

a. Biodata
Identitas Pasien
- Nama :
- TTL :
- Umur :
- Jenis Kelamin :
- Agama :
- Pendidikan :
- Pekerjaan :
- Suku/bangsa :
- Status :
- Alamat :

Identitas Penanggung Jawab


- Nama :
- Alamat :
- Hubungan :
- No. HP :
b. Riwayat Kesehatan
- Keluhan Utama
Yang biasa munculpada pasien dengan gangguan aktivitas dan
latihan adalah rasa nyeri, lemas, pusing, mengelu sakit kepala berat,
badan terasa lelah,parese pada ekstermitas kanan ataupun frakur.
- Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dan
mekanisme terjadinya keluhan pasien tersebut.
- Riwayat Penyakit Dahulu
Ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang mengalami
hipertensi apakah sebelumnya pasienpernah mengalami penyakit seperti
sekarang.
- Riwayat Penyakit Keluarga
Perlu dikaji riwayat penyakit keluarga yang berhubungan dengan
penyakit tulang atau tidak.

c. Pola Fungsi Kesehatan (Gordon)


1. Persepsi terhadap manajemen kesehatan
2. Pola aktifitas dan latihan
Menggunakan tabel aktifitas meliputi makan, mandi, berpakaian, eliminasi,
mobilisasi ditempat tidur, berpindah, ambulasi, naik tangga.
Aktifitas 0 1 2 3 4
Makan
Mandi
Berpakaian
Eliminasi
Mobilisasi ditempat tidur
Berpindah
Ambulasi
Naik tangga
Keterangan:
0 : Mandiri
1 : Dibantu
2 : Dibantu orang lain
3 : Dibantu orang lain dan peralatan
4 : Ketergantungan/tidak mampu
3. Pola istirahat dan tidur :
4. Pola nutrisi dan metabolis :
5. Pola eliminasi :
6. Pola kognitif perceptual :
7. Pola konsep diri :
8. Pola koping :
9. Pola seksual :
10. Pola Peran Hubungan :
11. Pola Nilai dan kepercayaan:

d. Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum
- TTV
- Head to toe
Pada pemeriksaan ekstermitas difokuskan untuk menillai kekuatan otot
0
Paralisis, tidak ada kontraksi otot sama sekali
(0%)
1 Teraba atau terlihat getaran kontraksi otot tetapi tidak ada gerakan
(10%) sama sekali
2
Dapat menggerakan anggota gerak tanpa melawan gravitasi
(25%)
3
Dapat menggerakan anggota gerak untuk menahan berat (gravitasi)
(50%)
4
Dapat menggerakan sendi dengan aktif dan melawan tahanan
(75%)
5
Kekuatan normal
(100%)
2. Diagnosa Keperawatan
1. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal
(00085, domain 4 aktivitas/istirahat, kelas 2 aktivitas/olahraga)
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan imobilitas
(00092, domain 4 aktifitas/istirahat, kelas 4 respons kardiovaskular/pulmonal)
3. Risiko jatuh berhubungan dengan gangguan mobilitas
(00155, domain 11 keamanan/perlindunan, kelas 2 cedera fisik)

3. Intervensi
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
No.dx Diagnosa Keperawatan
(NOC) (NIC)
1. Hambatan mobilitas fisik Setelah dilakukan tindakan Exercise therapy :

berhubungan dengan gangguan keperawatan ..x24 jam ambulation

muskuloskeletal (00085, domain diharapkan masalah hambatan - Monitor vital sign


mobilitas fisik dapat teratasi sebelum/sesudah latihan
4 aktivitas/istirahat, kelas 2
dengan kriteria hasil: dan lihat respon pasien
aktivitas/olahraga)
NOC saat latihan
 Joint movement : active - Konsultasikan dengan
 Mobility level terapi fisik tentang rencana
 Self care : ADLs ambulasi sesuai dengan
 Transfer performance kebutuhan
Criteria hasil : - Bantu klien untuk
 Klien meningkat dalam menggunakan tongkat saat
aktivitas fisik berjalan dan cegah
 Mengerti tujuan dari terhadap cedera
peningkatan mobilitas - Ajarkan pasien atau
 Memverbalisasikan tenaga kesehatan lain
perasaan dalam tentang teknik ambulasi
meningkatkan kekuatan - Kaji kemampuan pasien
dan kemampuan dalam mobilisasi
berpindah - Latih pasien dalam
Memperagakan penggunaan pemenuhan kebutuhan
alat bantu untuk mobilisasi ADLs secara mandiri
(walker) sesuai kemampuan
- Damping danbantu pasien
saat mobilisasi dan bantu
penuhi kebutuhan ADLs ps
- Berikan alat bantu jika
klien memerlukan
Ajarkan pasien bagaimana
merubah posisi dan berikan
bantuan jika diperlukan

D. Daftar Pustaka
T. Tiara Devi, Purba, Imelda G., dkk (2017). Faktor Risiko Keluhan Muskuloskeletal.
Jurnal Kesehatan Masyarakat. 8(2): 125-134.
Asmadi, 2008.Teknik Prosedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar
Klien. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.
Herdman, T. Heather, Kamitsuru, Shigemi. 2015. Diagnosis Keperawatan Definisi dan
Klasifikasi 2015-2017 Edisi 10. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Anda mungkin juga menyukai