Anda di halaman 1dari 22

Meningkatnya Jumlah Kelahiran Dalam Wilayah Kerja Puskesmas

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta, Indonesia


Jalan Arjuna Utara No 6, Jakarta Barat 11510

Pendahuluan

Tujuan pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu


manusia yang sehat fisik, mental dan sosial, sehingga tercapai kesejahteraan masyarakat
sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945. Keberhasilan pembangunan, baik pembangunan
fisik maupun ekonomi, pada hakekatnya bergantung pada unsur manusianya. Perkembangan
penduduk yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan hasil pembangunan, termasuk
pembangunan kesehatan. Oleh karenanya, pengendalian pertumbuhan jumlah pendudk melalui
program Keluarga Berencana menjadi penting adanya.

Keberhasilan KB akan berpengaruh secara timbal balik dengan penurunan angka kematian
bayi, angka kematian anak balita dan angka kematian ibu maternal. Dengan demikian program
KB akan meningkatkan pula taraf kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ini berarti diperlukan
peningkatan program KB, terutama melalui upaya pelestarian pemakaian alat kontrassepsi efektif
terpilih dan diikuti dengan pengayoman medis bagi peserta/akseptor KB yang memerlukan.1,2

Skenario 6

Pada saat rapat koordinasi dengan camat BKKBN dilaporkan bahwa wilayah kerja puskesmas
mengalami kenaikan jumlah kelahiran yang signifikan dibandingkan 2 tahun lalu. Angka total
fertility rate mencapai 3.1. disepakati untuk menggalakkan KB di wilayah tersebut. Prioritas
program yang dilaksanakan adalah peningkatan cakupan IUD dan pemasangan susuk KB. Yang
menjadi hambatan adalah adanya anggapan bahwa KB masih menjadi tabu bagi masyarakat
sekitar. Tingkat pendidikan masyarakat juga umumnya rendah (80% tidak tamat SMP).

Fertilitas

1
Fertilitas sebagai istilah demografi diartikan sebagai hasil reproduksi yang nyata dari
seseorang wanita atau sekelompok wanita. Dengan kata lain fertilitas ini menyangkut banyaknya
bayi yang lahir hidup. Fekunditas, sebaliknya, merupakan potensi fisik untuk melahirkan anak.
Jadi merupakan lawan arti kata sterilitas. Natalitas mempunyai arti sama dengan fertilitas hanya
berbeda ruang lingkupnya. Fertilitas mencakup peranan kelahiran pada perubahan penduduk
sedangkan natalitas mencakup peranan kelahiran pada perubahan penduduk dan reproduksi
manusia.

Istilah fertilitias sering disebut dengan kelahiran hidup (live birth), yaitu terlepasnya bayi dari
rahim seorang wanita dengan adanya tanda-tanda kehidupan, seperti bernapas, berteriak,
bergerak, jantung berdenyut dan lain sebagainya. Sedangkan paritas merupakan jumlah anak
yang telah dipunyai oleh wanita. Apabila waktu lahir tidak ada tanda-tanda kehidupan, maka
disebut dengan lahir mati (still live) yang di dalam demografi tidak dianggap sebagai suatu
peristiwa kelahiran.

Salah satu masalah kependudukan di Indonesia adalah jumlah penduduk yang besar dan
distribusi yang tidak merata. Hal itu dibarengi dengan masalah lain yang lebih spesifik, yaitu
angka fertilitas dan angka mortalitas yang relatif tinggi. Kondisi ini dianggap tidak
menguntungkan dari sisi pembangunan ekonomi. Hal itu diperkuat dengan kenyataan bahwa
kualitas penduduk masih rendah sehingga penduduk lebih diposisikan sebagai beban daripada
modal pembangunan. Logika seperti itu secara makro digunakan sebagai landasan kebijakan
untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk Secara mikro hal itu juga digunakan untuk
memberikan justifikasi mengenai pentingnya suatu keluarga melakukan pengaturan pembatasan
jumlah anak.

Pada awalnya masalah fertilitas lebih dipandang sebagai masalah kependudukan, dan
treatment terhadapnya dilakukan dalam rangka untuk mencapai sasaran kuantitatif. Hal ini sangat
jelas dari target atau sasaran di awal program keluarga berencana dilaksanakan di Indonesia yaitu
menurunkan angka kelahiran total (TFR) menjadi separuhnya sebelum tahun 2000. Oleh karena
itu, tidaklah aneh apabila program keluarga berencana di Indonesia lebih diwarnai oleh target-
target kuantitatif. Dari sisi ini tidak dapat diragukan lagi keberhasilannya.

2
Indikasi keberhasilan tersebut sangat jelas, misalnya terjadinya penurunan TFR yang
signifikan selama periode 1967 – 1970 sampai dengan 1994 – 1997 . Selama periode tersebut
TFR mengalami penurunan dari 5,605 menjadi 2,788 (SDKI 1997). Atau dengan kata lain
selama periode tersebut TFR menurun hingga lima puluh persen. Bahkan pada tahun 1998 angka
TFR tersebut masih menunjukkan penurunan, yaitu menjadi 2,6.

Penurunan fertilitas tersebut terkait dengan (keberhasilan) pembangunan sosial dan ekonomi,
yang juga sering diklaim sebagai salah satu bentuk keberhasilan kependudukan, khususnya di
bidang keluarga berencana di Indonesia.

Salah satu contoh kebijakan kependudukan yang sangat populer dalam bidang kelahiran
(fertilitas) adalah program keluarga berencana. Program ini telah dimulai sejak awal tahun
1970an. Tujuan utama program KB ada dua macam yaitu demografis dan non-demografis.
Tujuan demografis KB adalah terjadinya penurunan fertilitas dan terbentuknya pola
budaya small family size, sedangkan tujuan non-demografis adalah meningkatkan kesejahteraan
penduduk yang merata dan berkeadilan. Keluarga berencana merupakan contoh kebijakan
langsung dibidang fertilitas dan migrasi.

Pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu dari sekian banyak variabel yang secara
langsung berpengaruh terhadap tingkat fertilitas. Sementara itu kontribusi pemakaian kontrasepsi
terhadap penurunan angka kelahiran tidak saja ditentukan oleh banyaknya pasangan usia subur
yang menggunakan kontrasepsi tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kualitas pemakaiannya.
Terkait dengan itu, selama ini program KB nasional memberikan prioritas pada pemakaian jenis
kontrasepsi yang mempunyai efektivitas atau daya lindung tinggi terhadap kemungkinan
terjadinya kehamilan. Selain itu sasaran pemakaian kontrasepsi juga lebih difokuskan pada
pasangan usia subur muda (usia di bawah 30 tahun) dengan paritas rendah (jumlah anak paling
banyak dua orang). Dengan meningkatnya pemakaian kontrasepsi yang efektif dan mempunyai
daya lindung yang tinggi bagi pasangan usia subur muda paritas rendah diharapkan kontribusi
pemakaian kontrasepsi terhadap penurunan angka kelahiran di Indonesia juga akan menjadi
semakin besar.3

3
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang dalam penggunaan alat kontrasepsi
menemukan beberapa faktor yang berpengaruh yaitu faktor umur, tingkat pengetahuan, tingkat
pendidikan, faktor ekonomi dan jumlah anak. Orang tua yang pendidikannya rendah, maka
jumlah anaknya akan lebih banyak karena kurangnya pengetahuan tentang berkontrasepsi.
Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu rumah tangga, maka akan semakin mudah menerima
informasi dengan demikian semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Masyarakat yang
berpendapatan tinggi akan memungkinkan dapat mengembangkan diri anggota keluarganya,
diantaranya dengan menempuh pendidikan. Pendidikan merupakan sarana utama dalam
suksesnya tujuan pelaksanaan KB. Tingkat pendapatan dan keadaan ekonomi berperan dalam
meningkatkan kesadaran dalam berkontrasepsi. Hasil Survey Demografi dan Kesehatan (SDKI)
2007 mencatat, ratarata jumlah anak yang dilahirkan oleh perempuan yang berpendidikan rendah
mencapai 4,1 anak, sedangkan kelompok yang berpendidikan tinggi hanya 2,7 anak per keluarga.
Data dari demografi Indonesia menyebutkan bahwa 60 persen penduduk Indonesia hanya
tamatan sekolah dasar atau lebih rendah dengan pendapatan yang didapat juga masih rendah.
Data tersebut menunjukkan ada pengaruh antara perbedaan pengetahuan KB pada masyarakat
yang mempunyai perbedaan tingkat pendidikan rendah dan tinggi terhadap perilaku KB.4

Menurut Bouge mengemukakan bahwa pendidikan menunjukkan pengaruh yang lebih kuat
terhadap fertilitas dari pada variabel lain. Seseorang dengan tingkat pendidikan yang
relative tinggi tentu saja dapat mempertimbangkan berapa keuntungan financial yang di
peroleh seorang anak dibandingkan dengan biaya yang harus di keluarkan.5

Pengukuran Fertilitas

Kompleksnya pengukuran fertilitas, karena kelahiran melibatkan dua orang (suami dan
isteri), sedangkan kelahiran hanya melibatkan satu orang saja (orang yang meninggal). Masalah
yang lain yang dijumpai dalam pengukuran fertilitas adalah tidak semua perempuan mengalami
resiko melahirkan karena ada kemungkinan beberapa dari mereka tidak mendapat pasangan
untuk berumah tangga. Juga ada beberapa perempuan yang bercerai, menjanda. Dalam teori
fertilitas, perlu diperhatikan beberapa hal, antara lain :3

4
1. Angka laju fertilitas menunjukkan dua pilihan jangka waktu, yaitu jumlah kelahiran selama
jangka waktu pendek (biasanya satu tahun), dan jumlah kelahiran selama jangka waktu
panjang (selama usia reproduksi).
2. Suatu kelahiran disebut “lahir hidup” (liva birth) apabila pada waktu lahir terdapat tanda-
tanda kehidupan, misalnya menangis, bernafas, jantung berdenyut. Jika tidak ada tanda-
tanda kehidupan tersebut disebut “lahir mati” (still birth) yang tidak diperhitungkan sebagai
kelahiran dalam fertilitas.
3. Pengukuran fertilitas lebih rumit daripada pengukuran mortalitas karena:
1. Seorang wanita dapat melahirkan beberapa kali, sedangkan ia hanya meninggal satu
kali.
2. Kelahiran melibatkan dua orang (suami-isteri), sedangkan kematian melibatkan satu
orang saja.
3. Tidak semua wanita mengalami peristiwa melahirkan, mungkin karena tidak kawin,
mandul, atau sebab-sebab yang lain.

Memperhatikan perbedaan antara kematian dan kelahiran seeperti tersebut di atas,


memungkinkan untuk melaksanakan dua macam pengukuran fertilitas yaitu fertilitas tahunan dan
pengukuran fertilitas kumulatif.
Pengukuran fertilitas kumulatif adalah mengukur jumlah rata-rata anak yang dilahirkan oleh
seorang perempuan hingga mengakhiri batas usia subur. Sedangkan pengukuran fertilitas
tahunan (vital rates) adalah mengukur jumlah kelahiran pada tahun tertentu dihubungkan dengan
jumlah penduduk yang mempunyai resiko untuk melahirkan pada tahun tersebut.

 Pengukuran Fertilitas Tahunan

Baik pengukuran fertilitasmaupun mortalitas tahunan hasilnya berlaku untuk periode


waktu tertentu, sebagai contoh: perhitungan tingkat kelahiran kasar (CBR) di Indonesia tahun
1975 sebesar 42,9 kelahiran per 1000 penduduk pertengahan tahun. Angka ini terjadi pada
periode tahun 1970-1980. Jadi selama periode ini tiap tahun ada kelahiran sebesar 42,9 per
1000 penduduk.

5
Pengukuran fertilitas tahunan hamper sama dengan pengukuran mortalitas. Ukuran-
ukuran fertilitas tahunan yang akan dibicarakan di bawah ini meliputi:

a. Tingkat Fertilitas Umum (Crude Birth Rate)

Tingkat fertilitas kasar didefinisikan sebagai banyaknya kelahiran hidup pada suatu
tahun tertentu tiap 1000 penduduk pada pertengahan tahun. Atau dengan rumus dapat
ditulis sebagai berikut :
𝐵
𝐶𝐵𝑅 = 𝑥𝐾
𝑃𝑚
Dimana :
CBR = Crude Birth Rate atau Tingkat kelahiran Kasar
Pm = Penduduk pertengahan tahun
K = bilangan konstansta yang biasanya 1000
B = jumlah kelahiran pada tahun tertentu

b. Tingkat Fertilitas Umum (General Fertility Rate)

Tingkat fertilitas kasar yang telah dibicarakan sebagai ukuran fertilitas masih terlalu
kasar karena membandingkan jumlah kelahiran dengan jumlah penduduk pertengahan
tahun. Kita mengetahui bahwa penduduk yang mengetahui resiko hamil adalah
perempuan dalam usia reproduksi (15-49 tahun). Dengan alasan tersebut ukuran
fertilitas ini perlu diadakan perubahan yaitu membandingkan jumlah kelahiran dengan
jumlah penduduk perempuan usia subur (15-49 tahun). Jadi sebagai penyebut tidak
menggunakan jumlah penduduk pertengahan tahun umur 15-49 tahun. Tingkat
fertilitas penduduk yang dihasilkan dari perhitungan ini disebut Tingkat fertilitas
Umum (General Fertility Rate atau GFR) yang ditulis dengan rumus :
𝐵
𝐺𝐹𝑅 = 𝑥1.000
𝑃𝑓
Dimana :
GFR = Tingkat fertilitas Umum
B = Jumlah kelahiran hidup dalam suatu periode tertentu

6
Pf (15-49) = jumlah penduduk perempuan umur 15-49 tahun pada
pertengahan tahun

c. Tingkat Fertilitas Menurut Umur (Age Spesific Fertility Rate)

Terdapat variasi mengenai besar kecilnya kelahiran antar kelompok-kelompok


penduduk tertentu, karena tingkat fertilitas penduduk ini dapat pula dibedakan
menurut : Janis kelamin, umur, status perkawinan atau kelompok-kelompok
penduduk yang lain.
Di antara kelompok perempuan usia reproduksi (15-49) terdapat variasi
kemampuan melahirkan, Karena itu perlu dihitung tingkat fertilitas perempuan pada
tiap-tiap kelompok umur (age specify fertility rate). Perhitungan tersebut dapat
dikerjakan dengan rumus sebagai berikut :
𝐵𝑖
𝐴𝑆𝐹𝑅 = 𝑥𝑘
𝑃𝑓𝑖
Dimana
Bi = jumlah kelahiran bayi pada kelompok umur
Pfi = jumlah perempuan kelompok umur pada pertangahan tahun
k = angka konstanta = 1000

d. Tingkat Fertilitas menurut urutan kelahiran (Birth Order Spesific Fertility Rate)

Tingkat fertilitas menurut urutan kelahiran sangat penting untuk mengukur tinggi
rendahnya fertilitas suatu Negara. Kemungkinan seorang istri untuk menambah
kelahiran tergantung kepada jumlah anak yang telah dilahirkannya. Seorang istri
mungkin menggunakan alat kontrasepsi setelah mempunyai jumlah anak tertentu, dan
juga umur anak yang masih hidup. Tingkat fertilitas menurut urutan kelahiran dapat
ditulis dengan rumus:
𝐵𝑜𝑖
𝐵𝑂𝑆𝐹𝑅 = 𝑥𝐾
𝑃𝑓
Dimana
BOSFR = Birth Order Specify Fertility rate

7
Boi = jumlah kelahiran
Pf(15-49) = jumlah perempuan umur 15-49 pertengahan tahun
K = bilangan konstanta = 1000

Penjumlahan dari tingkat fertilitas menurut urutan kelahiran menghasilkan tingkat


Fertilitas umum (General Fertility Rate/ GFR):

∑ 𝑘𝑒𝑙𝑎ℎ𝑖𝑟𝑎𝑛 ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑠𝑢𝑎𝑡𝑢 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑒𝑛𝑡𝑢


𝐺𝐹𝑅 = 𝑥 1.000
∑ 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑢𝑚𝑢𝑟 15 − 49 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑒𝑛𝑔𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑎𝑚𝑎

e. Standarisasi Tingkat Fertilitas (Standarized Fertility Rates)


Tinggi rendahnya tingat fertilitas d suatu Negara dipengaruhi oleh beberapa
variable, misalnya umur, status perkawinan atau karakteristik yang lain. Seperti halnya
dengan mortalitas, kalau kita ingin membandingkan tingkat fertilitas di beberapa
Negara, maka pengaruh variable-variabel tersebut perlu dinetralisir dengan
menggunakan teknik standarisasi sehingga hanya satu variable yang berpengaruh.
Teknik standarisasi yang digunakan sama dengan teknik standarisasi yang digunakan
untuk pengukuran mortalitas. Kalau diketahui tingkat fertilitas di Negara A dan B,dan
ingin ,dibanddingkat tingkat kelahiran umum di kedua Negara tersebut, maka tinggal
tingkat fertilitas menurut umur dikalikan dengan jumlah penduduk standar dari
masing-masing kelompok umur.

 Pengukuran Fertilitas Kumulatif

Dalam pengukuran fertilitas kumulatif, kita mengukur rata-rata jumlah kelahiran hidup
laki-laki dan perempuan yanga dilahirkan oleh seorang perempuan pada waktu perempuan
itu memasuki usia subur hingga melampaui batas reproduksinya (15-49 tahun).

a. Tingkat Fertilitas total (Total fertility Rate/ TFR)


Dalam praktek tingkat fertilitas total dikerjakan dengan menjumlahkan tingkat
fertilitas perempuan menurut umur, apabila umur tersebut berjenjang lima tahunan,

8
dengan asumsi bahwa tingkat fertilitas menurut umur tunggal bsama dengan rata-rata
tingkat fertilitas kelompok umur lima tahunan, maka rumus dari TFR adalah:
𝑇𝐹𝑅 = 5 𝑥 ∑𝐴𝑆𝐹𝑅
Dimana
TFR = Total fertility Rate
ASFR = tingkat fertilitas menurut umur dari kelompok berjenjang lima tahunan
b. Gross Reproduction Rate ( GRR)
Ialah jumlah kelahiran bayi perempuan oleh 1000 perempuan sepanjang masa
reproduksinya dengan catatan tidak ada seorang perempuan yang meninggal sebelum
mengakhiri masa reproduksinya, seperti TFR, perhitungan GRR adalah sebagai berikut :
𝐺𝑅𝑅 = 5 𝑥 ∑𝐴𝑆𝐹𝑅
(𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑐𝑎𝑡𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑎𝑑𝑎 𝑠𝑒𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑒𝑟𝑒𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔
𝑚𝑒𝑛𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟𝑖 𝑚𝑎𝑠𝑎 𝑟𝑒𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖𝑛𝑦𝑎)
c. Net Reproduction Rate (NRR)
Ialah kelahiran jumlah bayi perempuan oleh sebuah kohor hipotesis dari 1000
perempuan dengan memperhitungkan kemungkinan meninggalkan perempuan-
perempuan itu sebelum mengakhiri masa reproduksinya. Dalam prakteknya, perhitungan
NRR adalah sebagai berikut:
𝑁𝑅𝑅 = ∑𝐴𝑆𝐹𝑅 𝑥 𝑛𝐿𝑥 ⁄𝐿𝑜

Kinerja Program Keluarga Berencana (KB) dalam Menurunkan Fertilitas

Keberhasilan program KB di Indonesia salah satunya ditunjukkan oleh penurunan TFR


(Total Fertility Rate) dari 5.6 (awal tahun 2007) menjadi 2.6 (SDKI tahun 2002-2003). Saat ini
diproyeksikan wanita di Indonesia rata-rata melahirkan 2,4 anak, atau lebih dari 50 persen angka
kelahiran telah diturunkan. Hasil pendataan keluarga menunjukkan rata-rata jiwa per keluarga
adalah 3.82 (tahun 2006) dan 3.79 (tahun 2007). Menurunnya angka kelahiran tersebut di atas,
merupakan sebagian besar akibat dari meningkatnya kesertaan ber-KB dari sekitar hanya 5
persen pada awal tahun 70 menjadi sekitar 62 persen saat ini.

9
Integrasi program KB dan Kesehaan Reproduksi (KR) di Indonesia mengikuti ICPD
(International Conference on Population and Development) di Cairo 1994. Sejak tahun 2004,
terjadi perubahan visi program KB nasional dari keluarga kecil bahagia dan sejahtera menjadi
keluarga berkualitas pada tahun 2015 (Anonym 2004). Kebijakan pengelolaan/pengendalian
pertumbuhan penduduk, penurunan IMR dan MMR, dan peningkatan kualitas program KB
tercantum dalam UU No 25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional

Penurunan angka kelahiran menyebabkan pergeseran distribusi penduduk menurut kelompok


umur dimana proporsi penduduk muda semakin menurun, proporsi penduduk usia kerja
meningkat pesat dan proporsi penduduk lansia naik secara perlahan sehingga rasio
ketergantungan menjadi menurun. Kondisi tersebut berpotensi memberikan keuntungan
ekonomis atau dikenal dengan bonus demografi. Idealnya, penurunan proporsi penduduk muda
mengurangi biaya untuk pemenuhan kebutuhannya, sehingga sumber daya dapat dialihkan untuk
memacu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Indonesia telah mengalami bonus demografi yang ditandai dengan menurunnya rasio
ketergantungan mulai tahun 1971 hingga mencapai angka terendah pada tahun 2015-2020 yang
merupakan jendela kesempatan (the window of opportunity) untuk melakukan investasi bagi
pembangunan sumber daya manusia. Bonus demografi sebenarnya sudah mulai kelihatan sejak
akhir tahun 2000 dimana beban ketergantungan yang diukur dari ratio penduduk usia anak-anak
dan tua per penduduk usia kerja, telah menurun tajam, dari sekitar 85-90 per 100 di tahun 1970
menjadi sekitar 54-55 per 100 di tahun 2000.
Bonus demografi, atau juga the window of opportunity, hanya akan bermanfaat kalau mutu
penduduk mendapat pemberdayaan yang memadai dan penyediaan lapangan kerja yang
mencukupi. Oleh karenanya bonus demografis yang sudah dialami Indonesia ini belum memberi
makna yang berarti karena kualitas penduduk Indonesia sangat rendah. Karena tingkat
pendidikan penduduk yang rendah, tidak bersekolah dan tidak bekerja, dengan jumlahnya yang
membengkak sangat besar, sebenarnya bonus demografi yang mulai muncul dewasa ini telah
berubah menjadi penyebab beban ketergantungan menganggur yang sangat tinggi. Kondisi
tersebut menghilangkan dampak positif bonus demografi sebagai akibat dari proses transisi
demografi yang berkembang dengan baik.3

10
Puskesmas

Puskesmas atau Pusat Kesehatan Masyarakat adalah suatu organisasi fungsional yang
menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima
dan terjangkau oleh masyarakat, serta biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat.
Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah untuk mendukung
tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional, yakni meningkatkan kesadaran serta
kemauan dan kemampuan hidup sehat agar terwujudnya derajat kesehatan yang setinggi-
tingginya dalam rangka mewujudkan ‘Indonesia Sehat 2010’. Upaya kesehatan tersebut
diselenggarakan dengan menitikberatkan kepada pelayanan untuk masyarakat luas bagi
mencapai derajat kesehatan yang optimal, tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada
perorangan.6

Pelayanan di Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis kesehatan di bawah supervisi


Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Secara umum, mereka harus memberikan pelayanan
preventif, promotif, kuratif sampai dengan rehabilitatif baik melalui upaya kesehatan perorangan
(UKP) atau upaya kesehatan masyarakat (UKM). Puskesmas dapat memberikan pelayanan rawat
inap selain pelayanan rawat jalan. Hal ini disepakati oleh puskesmas dan dinas kesehatan yang
bersangkutan. Dalam memberikan pelayanan di masyarakat, puskesmas biasanya memiliki
subunit pelayanan seperti puskesmas pembantu, puskesmas keliling, posyandu, pos kesehatan
desa maupun pos bersalin desa (polindes).6

Peran dan Fungsi Puskesmas

Peran Puskesmas adalah sebagai ujung tombak dalam mewujudkan kesehatan nasional
secara komprehensif, tidak sebatas aspek kuratif dan rehabilitatif saja seperti di Rumah Sakit.
Sesuai dengan Sistem Kesehatan Nasional, puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan
tingkat pertama mempunyai tiga fungsi sebagai berikut.6

A. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan


Memiliki makna bahwa Puskesmas harus mampu membantu menggerakkan
(motivator, fasilitator) dan turut serta memantau pembangunan yang diselenggarakan di

11
tingkat kecamatan agar dalam pelaksanaannya mengacu, berorientasi serta dilandasi oleh
kesehatan sebagai faktor pertimbangan utama. Diharapkan setiap pembangunan yang
dilaksanakan seyogyanya yang mendatangkan dampak positif terhadap kesehatan.6

B. Memberdayakan masyarakat dan keluarga

Pemberdayaan masyarakat adalah segala upaya fasilitas yang bersifat non


instruktif guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar
mampu mengindentifikasi masalah, merencakan dan melakukan pemecahannya
dengan memanfaatkan potensi setempat dan fasilitas yang ada, baik dari instansi
lintas sektoral maupun LSM( Lembaga Swadaya Masyarakat ) dan tokoh masyarakat.
Pemberdayaan keluarga adalah segala upaya fasilitas yang bersifat non instruktif
guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan keluarga agar mampu
mengindentifikasi masalah, merencanakan dan mengambil keputuan untuk melakukan
pemecahannya dengan benar atau dengan bantuan pihak lain.
Indikator fungsi pemberdayaan masyarakat.6

 Tumbuh-kembang UKBM ( Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat )


 Tumbuh dan berkembangnya LSM di bidang kesehatan.
 Tumbuh dan berfungsinya BPKM ( Badan Peduli Kesehatan Masyarakat ) atau BPP (
Badan Penyantun Puskesmas )

C. Memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama

Upaya pelayanan kesehatan tingkat pertama yang diselenggarakan Puskesmas


bersifat holistik, komprehensif / rnenyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Pelayanan
kesehatan tingkat pertama adalah pelayanan yang bersifat pokok (basic health service),
yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat serta mempunyai nilai strategis
untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pelayanan kesehatan tingkat pertama
meliputi pelayanan kesehatan masyarakat dan pelayanan medik. Pada umumnya
pelayanan kesehatan tingkat pertama ini bersifat pelayanan rawat jalan (ambulatory /
patient service).6
Dalam melaksanakan fungsinya tersebut, Puskesmas dapat melakukan cara – cara sebagai

12
berikut :
1. Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melakukan kegiatan dalam rangka
menunjang dirinya sendiri.
2. Memberi petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali serta menggunakan
sumber daya yang ada secara efektif dan efisien.
3. Memberi bantuan yang bersifat bimbingan teknis materi dan rujukan medis maupun
rujukan kesehatan kepada masyarakat dengan ketentuan bantuan tersebut tidak
menimbulkan ketergantungan.
4. Memberi pelayanan kesehatan langsung pada masyarakat.
5. Bekerja sama dengan sektor – sektor yang bersangkutan dalam melaksanakan program
kerja Puskesmas.

Azas Penyelenggaraan Puskesmas Menurut Kepmenkes No 128 Tahun 2004


Penyelenggaraan upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan harus menerapkan
azas penyelenggaraan puskesmas secara terpadu. azas penyelenggaraan puskesmas yang di
maksud adalah sebagai berikut.6
1. Azas pertanggungjawaban wilayah
1) Puskesmas bertanggung jawab meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang
bertempat tinggal di wilayah kerjanya.
2) Dilakukan kegiatan dalam gedung dan luar gedung
3) Ditunjang dengan puskesmas pembantu, Bidan di desa, puskesmas keliling
2. Azas pemberdayaan masyarakat
a. Puskesmas harusmemberdayakan perorangan, keluarga dan masyarakat agar berperan
aktif dalam menyelenggarakan setiap upaya Puskesmas
b. Potensi masyarakat perlu dihimpun
3. Azas keterpaduan
Setiap upaya diselenggarakan secara terpadu
a. Keterpaduan lintas program
1) UKS : keterpaduan Promkes, Pengobatan, Kesehatan Gigi, Kespro, Remaja,
Kesehatan Jiwa
b. Keterpaduan lintassektoral

13
1) Upaya Perbaikan Gizi : keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kades,
pertanian, pendidikan, agama, dunia usaha, koperasi, PKK
2) Upaya Promosi Kesehatan : keterpaduan sektor kesehatan dengan camat,
lurah/kades, pertanian, pendidikan, agama
4. Azas rujukan
a. Rujukan medis/upaya kesehatan perorangan
1) rujukan kasus
2) bahan pemeriksaan
3) ilmu pengetahuan
b. Rujukan upaya kesehatan masyarakat
1) rujukan sarana dan logistik
2) rujukan tenaga
3) rujukan operasional

Pelayanan kesehatan Puskesmas

Pelayanan kesehatan tingkat pertama adalah pelayanan yang bersifat mutlak perlu, yang
sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat serta mempunyai nilai strategis untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Puskesmas merupakan sarana pelayanan
kesehatan pemerintah yang wajib menyelenggarakan kesehatan secara bermutu, terjangkau,
adil dan merata. Upaya pelayanan kesehatan secara komprehensif yang diselenggarakan sebagai
berikut.7
 Pelayanan kesehatan masyarakat yang lebih mengutamakan pelayanan promotif
dan preventif, dengan pendekatan kelompok masyarakat, serta sebagian besar
diselenggarakan bersama masyarakat melalui upaya pelayanan dalam dan luar gedung
di wilayah kerja puskesmas.
 Pelayanan medik dasar yang lebih mengutamakan pelayanan, kuratif dan rehabilitatif
dengan pendekatan individu dan keluarga pada umumnya melalui upaya rawat jalan
dan rujukan.
Upaya kesehatan puskesmas

14
Untuk tercapainya visi pembangunan kesehatan melalui puskesmas, yakni terwujudnya
Kecamatan Sehat Menuju Indonesia Sehat, puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan
upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat, yang keduanya jika ditinjau dari
sistem kesehatan nasional merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama.6,7 Upaya kesehatan
tersebut dikelompokkan menjadi dua yakni:
a) Upaya Kesehatan Wajib
Upaya kesehatan wajib puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan
komitmen nasional, regional dan global serta yang mempunyai daya ungkit tinggi untuk
peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan wajib ini harus
diselenggarakan oleh setiap puskesmas yang ada di wilayah Indonesia. Upaya kesehatan
wajib tersebut adalah sbagai berikut.6,7
1. Program pengobatan (kuratif dan rehabilitatif) yaitu bentuk pelayanan kesehatan
untuk mendiagnosa, melakukan tindakan pengobatan pada seseorang pasien
dilakukan oleh seorang dokter secara ilmiah berdasarkan temuan-temuan yang
diperoleh selama anamnesis dan pemeriksaan
2. Promosi Kesehatan yaitu program pelayanan kesehatan puskesmas yang diarahkan
untuk membantu masyarakat agar hidup sehat secara optimal melalui kegiatan
penyuluhan (induvidu, kelompok maupun masyarakat).
3. Pelayanan KIA dan KB yaitu program pelayanan kesehatan KIA dan KB
di Puskesmas yang ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada PUS (Pasangan
Usia Subur) untuk ber KB, pelayanan ibu hamil, bersalin dan nifas serta pelayanan
bayi dan balita.
4. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menular dan tidak menular yaitu program
pelayanan kesehatan Puskesmas untuk mencegah dan mengendalikan penular
penyakit menular/infeksi (misalnya TB, DBD, Kusta).
5. Kesehatan Lingkungan yaitu program pelayanan kesehatan lingkungan di
puskesmas untuk meningkatkan kesehatan lingkungan pemukiman melalui upaya
sanitasi dasar, pengawasan mutu lingkungan dan tempat umum termasuk
pengendalian pencemaran lingkungan dengan peningkatan peran serta masyarakat,
6. Perbaikan Gizi Masyarakat yaitu program kegiatan pelayanan kesehatan, perbaikan
gizi masyarakat di Puskesmas yang meliputi peningkatan pendidikan gizi,

15
penanggulangan Kurang Energi Protein, Anemia Gizi Besi, Gangguan Akibat
Kekurangan Yodium (GAKY), Kurang Vitamin A, Keadaan zat gizi lebih,
Peningkatan Survailans Gizi, dan Perberdayaan Usaha Perbaikan Gizi
Keluarga/Masyarakat.
b) Upaya Kesehatan Pengembangan
Upaya kesehatan pengembangan puskesmas adalah upaya yang ditetapkan
berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta yang
disesuaikan dengan kemampuan puskesmas. Upaya kesehatan pengembangan dipilih dari
daftar upaya kesehatan pokok puskesmas yang telah ada, yakni sebagai berikut.6,7
 Upaya Kesehatan Sekolah.
 Upaya Kesehatan Olah Raga.
 Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat .
 Upaya Kesehatan Kerja.
 Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut.
 Upaya Kesehatan Jiwa.
 Upaya Kesehatan Mata.
 Upaya Kesehatan Usia Lanjut .
 Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional

Pemilihan upaya kesehatan pengembangan ini dilakukan oleh puskesmas bersama Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota dengan mempertimbangkan masukan dari BPP. Upaya kesehatan
pengembangan dilakukan apabila upaya kesehatan wajib puskesmas telah terlaksana secara
optimal, dalam arti target cakupan serta peningkatan mutu pelayanan telah tercapai. Penetapan
upaya kesehatan pengembangan pilihan puskesmas ini dilakukan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.7

Program Keluarga Berencana Puskesmas

Tujuan pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu


manusia yang sehat fisik, mental dan sosial, sehingga tercapai kesejahteraan masyarakat
sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945. Keberhasilan pembangunan, baik pembangunan
fisik maupun ekonomi, pada hakikatnya bergantung pada unsur manusianya. Perkembangan

16
penduduk yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan hasil pembangunan, termasuk
pembangunan kesehatan. Oleh karenanya, pengendalian pertumbuhan jumlah penduduk melalui
program Keluarga Berencana menjadi penting adanya.
Keberhasilan KB akan berpengaruh secara timbal balik dengan penurunan angka kematian
bayi, angka kematian anak balita dan angka kematian ibu. Dengan demikian program KB akan
meningkatkan pula taraf kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ini berarti diperlukan
peningkatan program KB, terutama melalui upaya pelestarian pemakaian alat kontrasepsi efektif
terpilih dan diikuti dengan pengayoman medis bagi peserta/akseptor KB yang memerlukan.2
Keluarga Berencana adalah perencanaan kehamilan, sehingga kehamilan hanya terjadi
pada waktu yang diinginkan. Jarak antar kehamilan diperpanjang, dan kelahiran selanjutnya
dapat dicegah apabila jumlah anak telah mencapai yang dikehendaki, untuk membina kesehatan
seluruh anggota keluarga dengan sebaik-baiknya, menuju Norma Keluarga Kecil Bahagia dan
Sejahtera (NKKBS).
Kegiatan KB tidak hanya berupa penjarangan dan mengatur kehamilan, tetapi termasuk
kegiatan untuk meningkatan taraf ekonomi dan kesejahteraan keluarga secara menyeluruh.2
Terdapat dua tujuan dari pelaksanaan program KB di Puskesmas, yaitu tujuan umum dan
tujuan khusus. Tujuan umum dari program KB adalah meningkatnya kesejahteraan ibu dan anak
serta keluarga dalam rangka mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera (NKKBS)
yang menjadi dasar bagi terwujudnya masyarakat yang sejahtera melalui pengendalian
pertumbuhan penduduk Indonesia, guna menyongsong tinggal landas pembangunan.2 Sedangkan
untuk tujuan khusus terdiri dari 3 hal, yaitu:
1. Meningkatnya kesadaran masyarakat/keluarga dalam penggunaan alat kontrasepsi.
2. Menurunkan jumlah angka kelahiran bayi.
3. Meningkatnya kesehatan masyarakat/keluarga dengan cara penjarangan kelahiran.
Sasaran dalam program KB ini ditujukan pada beberapa kelompok yang dianggap perlu.
Kelompok-kelompok tersebut antara lain: mereka yang ingin mencegah kehamilan karena alasan
pribadi, mereka yang ingin menjarangkan kehamilan, mereka yang ingin membatasi jumlah
anak, dan keluarga dengan keadaan khusus, seperti yang disebutkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Keadaan yang dianjurkan menggunakan kontrasepsi.2

17
Ibu yang menderita penyakit mendadak atau menahun (akut dan kronis)
Ibu yang berusia kurang dari 20 tahun atau di atas 30 tahun
Ibu yang mempunyai lebih dari 5 orang anak
Ibu yang mempunyai riwayat kesukaran dalam persalinan
Keluarga dengan anak-anak bergizi buruk
Ibu yang telah mengalami keguguran berulang kali
Kepala-keluarganya tidak mempunyai pekerjaan tetap
Keluarga dengan rumah-tinggal yang sempit
Keluarga yang taraf pendidikannya rendah.

Secara garis besar kegiatan pelayanan Keluarga Berencana meliputi:


a) Komunikasi informasi dan edukasi (KIE)
Kesempatan yang dapat digunakan untuk penyuluhan adalah:
 Kesempatan dalam klinik dan sasarannya.
 Kesempatan di luar klinik dan sasarannya.
b) Pelayanan kontrasepsi
 Metode pelayanan kontrasepsi :
Metode sederhana, metode efektif, metode mantap dengan operasi.
 Tempat pelayanan:
Pelayanan kontrasepsi melalu klinik dan pelayanan kontrasepsi safari keluarga
berencana senyum terpadu.
c) Pembinaan dan pengayoman medis kontrasepsi peserta KB.
d) Pelayanan rujukan keluarga berencana
e) Pencatatan dan pelaporan.
Pelayanan kontrasepsi melalui klinik merupakan salah satu mata rantai sarana pelaksanaan
pelayanan kontrasepsi yang terpadu dengan kegiatan pelayanan kesehatan. Klinik ini mampu
memberikan pelayanan kontrasepsi sederhana (Pil KB, Suntik KB dan AKDR).
Fungsi dari klinik KB tersebut antara lain :
1. Memberikan konseling.
2. Memberikan pelayanan kontrasepsi sederhana, Pil KB dan AKDR.

18
3. Memantapkan dan membina peserta KB dengan KIE (komunikasi, informasi dan
edukasi).
4. Melakukan pencatatan dan pelaporan kegiatannya.
5. Menangani efek sampingan dan komplikasi yang ringan.
6. Rujukan peserta KB.
Dalam pelaksanaan pelayanan kontrasepsi di klinik, diselenggarakan dua macam
pelayanan, yaitu:
1. Pelayanan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) dalam bentuk konseling sebagai
usaha memantapkan kesadaran penerimaan peserta/calon peserta dalam penggunaan
kontrasepsi.
2. Pelayanan medis sebagai usaha memantapkan rasa aman peserta/calon peserta dalam
penggunaan kontrasepsi.
Dalam rangka memantapkan kesadaran dan rasa aman para peserta/calon peserta KB
dalam penggunaan kontrasepsi sesuai dengan keadaan masing-masing individu dan keluarganya
dalam rangka mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera, maka disusunlah suatu pola
dasar pelayanan kontrasepsi yang rasional.
Sebagai landasan pola dasar pelayanan kontrasepsi ini adalah suatu pola perencanaan
keluarga yang kecil, bahagia dan sejahtera yang disusun dalam rangka penyelamatan jiwa ibu
dan anak dari risiko kematian yang tinggi akibat melahirkan pada usia muda, jarak melahirkan
yang terlalu dekat dan melahirkan pada usia tua. Dalam pola perencanaan keluarga ini, maka
kehidupan reproduksi wanita/istri dibagi atas 3 periode yaitu:
a. Masa menunda kehamilan/kesuburan, bagi wanita yang berusia di bawah 20 tahun:
i. Bila belum menikah untuk menunda pernikahannya, dan
ii. Bila telah menikah untuk jangan hamil dahulu sebelum berusia 20 tahun
b. Masa mengatur kehamilan/kesuburan
Bagi istri yang berusia 20-30 tahun untuk mengatur kehamilannya dengan jarak kelahiran
antara anak pertama dan kedua adalah 3 sampai 4 tahun dan jumlah anak dua orang saja.
c. Masa mengakhiri kehamilan/kesuburan
Bagi istri yang telah berusia di atas 30 tahun atau sudah mempunyai anak dua untuk tidak
melahirkan lagi.

19
Guna mewujudkan tercapainya pola perencanaan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera
tersebut dengan baik, maka diperlukan suatu pola penggunaan kontrasepsi atas dasar pemikiran
yang matang berdasarkan ilmu kesehatan sebelum peserta/calon peserta KB mulai
mempergunakan salah satu cara kontrasepsi. Hal ini sangat penting karena sampai saat ini belum
ada satupun cara kontrasepsi ideal yang bebeas dari efek sampingan komplikasi ataupun
kegagalan. Oleh karena itu dalam memilih kontrasepsi yang seminimal mungkin menyebabkan
efek sampingan dan komplikasi terhadap peserta KB. Dalam pelayanan kontrasepsi kita
berhadapan dengan calon peserta yang sehat sudah sewawjarnya apabila seorang peserta KB,
setelah memakai kontrasepsi, mengharapkan kesehatannya semakin bertambah baik, minimal
tidak akan menambah kelianan yang telah ada. Ini berarti pelayanan medis harus ditingkatakan
secara berkelanjutan baik kualitas maupun kuantitasnya, masyarakat (PUS) perlu mengetahui
penggunaan kontrasepsi yang rasional sesuai dengan kondisis keluarganya dan petugas KB
seyogyanya mampu memberi petunjuk kepada mereka.Pola penggunaan kontrasepsi yang
rasional ini disusun sesuai dengan masa-masa pola perencanaan keluarga serta ciri-ciri masing-
masing kontrasepsi.
Komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) KB yang dilaksanakan oleh pihak kesehatan
adalah termasuk dalam pelaksanaan penyuluhan kesehatan pada umumnya. Dalam melaksanakan
Program KB perlu diperhatikan bahwa bidang tanggung jawab kesehatan mencakup segi-segi
pelayanan medis teknis dan pembinaan partisipasi masyarakat. Agar partisipasi masyarakat dapat
dicapai perlu ada usaha-usaha penyuluhan kepada masyarakat secara intensif, terutama yang
ditujukan kepada golongan-golongan yang datang ke klinik dan masayarakat lingkungan klinik
tersebut.
Pada dasarnya usaha-usaha penyuluhan kesehatan dilaksanakan oleh petugas kesehatan
yang langsung berhubungan dengan masyarakat, baik di Puskesmas maupun melalui saluran
komunikasi lainnya. 2 Demikian pula halnya dengan penyuluhan kesehatan dalam Program KB.
Kegiatan ini dilakukan terutama oleh petugas-petugas klinik, baik medic, paramedic, ataupun
non-medis yang bekerja khusus untuk keluarga berencana.
Pertimbangan perlunya peyuluhan kesehatan dalam keluarga berencana juga dilaksanakan
oleh tenaga-tenaga klinik, ialah bahwa tugas penyuluhan kesehatan (termasuk kegiatan-kegiatan
penerangan) merupakan tugas yang tidak dapat dipisahkan dari tugas utama. 2 Kepercayaan ini
terdapat terutama di kalangan kaum ibu yaitu golongan masyarakat yang justru menjadi salah

20
satu sasaran program keluarga berencana. Hingga sekarang alasan-alasan kesehatan dalam
Program KB merupakan hal yang paling mudah dimengerti oleh sebagian masyarakat. Oleh
karena itu, ide keluarga berencana akan dapat lebih cepat diterima jika menggunakan soal-soal
kesehatan sebagai alasan-alasan atau sebagai dasar.
Terdapat dua tujuan dalam kegiatan penyuluhan dalam Program Keluarga Berencana, yaitu
tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dari penyuluhan kesehatan dalam keluarga
berencana ialah agar masyarakat dapat menjadikan keluarga berencana sebagai pola kehidupan,
artinya: masyarakat mengetahui, memahami serta menyadari pentingnya keluarga berencana,
serta mau melaksanakannya untuk kesehatan, kesejahteraan keluarganya, masyarakat dan negara
pada umumunya. Diharapkan agar kegiatan-kegiatan penyuluhan kesehatan dalam keluarga
berencana, dapat meningkatkan jumlah peserta KB sebanyak mungkin, dan memelihara
kesertaan itu hingga melembaga sebagai pola kehidupan sehari-hari masyarakat kita.
Sedangkan tujuan khusus dari pelaksanaan penyuluhan dalam Program Keluarga
Berencana adalah sasaran menggunakan salah satu metode kontrasepsi atas dasar kebutuhan
karena adanya pengertian, pengetahuan dan kesadaran atas kegunaannya. Selain itu sasaran
memakai metode keluarga berencana dalam waktu yang cukup lama sehingga mempunyai
pengaruh terhadap kelahiran, taraf kesejahteraan ibu dan keluarga, serta tingkat kesejahteraan
keluarga.
Terdapat beberapa cara menjalankan penerangan dan motivasi yang sering dilakukan di
klinik, yaitu wawancara, ceramah-diskusi, demonstrasi, dan pameran. Wawancara adalah salah
satu cara penyuluhan kesehatan dengan jalan mengadakan tanya jawab dan pengarahan ke arah
tujuan. Ceramah adalah salah satu cara dalam penyuluhan kesehatan dimana petugas kesehatan
menerangkan atau menjelaskan sesuatu dengan lisan disertai dengan tanya-jwab (diskusi) kepada
sekelompok pendengar, serta dibantu oleh beberapa alat-alat peraga yang dianggap perlu.
Demonstrasi adalah suatu cara penyajian pengertian atau ide yang dipersiapkan dengan teliti
untuk memperlihatkan bagaimana cara menjalankan suatu prosedur. Pameran adalah koleksi atau
kumpulan bahan-bahan/material mengenai keluarga berencana yang disusun secara teratur dan
menarik untuk diperlihatkan, dengan maksud untuk membantu orang belajar.1

21
Kesimpulan

Program Keluarga Berencana yang dicanangkan pemerintah memegang peranan penting


dalam mengatur angka pertumbuhan penduduk melalui demografi. Yang berperan dalam
terlaksananya program ini tidak hanya dari pemerintah, namun juga ada peran serta dari
masyarakat, keluarga dan juga pasangan suami istri dalam bimbingan puskesmas. Maka dengan
kerja sama yang menyeluruh dan terpadu program Keluarga Berencana dapat terlaksana dengan
optimal

Daftar Pustaka

1. Depkes Indonesia. Program pelayanan puskesmas. jilid. 2. Jakarta. 2008. h. D1-29


2. Pedoman praktis pelaksanaan kerja di puskesmas. Magelang: Podorejo Offset; 2000. h.
71-80, 156-160.
3. Mulyo, Tri. S.Pd., M.Pd, Demografi Kependudukan, CV. Artaguna, Boyolali, 2011.
4. Purba, Juanita Tatarini. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi
Pada Pasangan Usia Subur di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokon Hulu Tahun
2008. Tesis. 2009. Medan : Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara.
5. Lucas, David. Pengantar Kependudukan. Cetakan Keempat. Yogyakarta 2009 :
Gadjah Mada Universitas Press
6. Depkes. Kebijakan Dasar Puskesmas. Dalam Kepmenkes no 128 tahun 2004.Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. 2010.
7. Chandra B. Ilmu kedokteran pencegahan dan komunitas. Dalam manajemen dan
pelaksanaan kesehatan di Indonesia. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta. 2006. Hal
230 – 235

22