Anda di halaman 1dari 16

ETIKA POLITIK PROFETIK: EKSPLORASI NILAI KEPEMIMPINAN NABI MUHAMMAD

SAW DI MADINAH

Rahmat Hidayat1,
Sejarah dan Kebudayaan Islam, Adab dan Ilmu Budaya1
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
skriptor.rhd40@gmail.com1

ABSTRACT

The movement (hijrah) of Prophet Muhammad to Yastrib was the starting


point of Muslim political power. The Muhammad's political authority in Medina
encouraged him to carry out social and political transformation radically. This
paper aims to analyze and explore the ethical ideas of the political leadership of
the Prophet Muhammad in Medina. This research approach is referred to Maurice
Duverger's political sociology. The main problem was analyzed by Kuntowijoyo's
prophetic social ethics theory. The research method used is the historical method
including: heuristics, verification, interpretation, and historiography. The results
of the research obtained are 1) The leadership model of the Prophet Muhammad
in Medina represented a charismatic leader; 2) The Prophet Muhammad's
political activities were based on the principles of monotheism, sovereignty,
consultative council, egalitarianism, paragon, ukhuwah islamiah, and tolerance
which embodied in the Qur'an; 3) The goals of prophetic political ethics, namely
to realize social justice by initiating brotherhood between inhabitant of Medina
(humanization), liberating the people of Medina from tribal fanaticism
(liberation), ingraining monotheism (tauhid) values (transcendence).

Keywords: Prophetic Politics, Muhammad's Leadership, Medina, Medina Society

ABSTRAK

Hijrah Nabi Muhammad ke Yastrib merupakan titik awal kekuatan politik


umat muslim. Otoritas politik Muhammad di Madinah mendorongnya untuk
melakukan transformasi sosial dan politik secara radikal. Tulisan ini bertujuan
untuk menganalisis kepemimpinan dan mengeksplorasi cita-cita etik
kepemimpinan politik Nabi Muhammad di Madinah. Penelitian ini mengunakan
pendekatan sosiologi politik Maurice Duverger. Pokok permasalahan dianalisis
dengan teori etika sosial profetik Kuntowijoyo. Metode penelitian yang
digunakan adalah metode sejarah meliputi: heuristik, verifikasi, interpretasi, dan
historiografi. Hasil penelitian yang didapat adalah 1) Model kepemimpinan Nabi
Muhammad di Madinah merepresentasikan pemimpin kharismatik; 2) Aktivitas
politik Nabi Muhammad berlandasakan pada asas tauhid, keumatan, syura,
egalitarianisme, keteladanan, ukhuwah islamiah, dan toleransi yang termaktub
dalam al-Qur’an; 3) Cita-cita etik politik profetik yaitu mewujudkan keadilan
sosial dengan mempersaudarakan penduduk Madinah (humanisasi),
membebaskan masyarakat Madinah dari fanatisme kesukuan yang jahiliah
(liberasi), menanamkan nilai-nilai tauhid (transendensi).

Kata Kunci: Politik Profetik, Kepemimpinan Muhammad, Madinah, Masyarakat


Madinah
A. Pendahuluan
Dalam narasi panjang sejarah umat Islam dikisahkan sebuah peristiwa hijrah yang
menjadi penanda awal perkembangan Islam. Sejarah Islam mencatat bawah peristiwa
exsodus (hijrah) Nabi Muhammad ke yastrib terjadi pada 622 M. Sebab-sebab yang
melatarbelakangi hijrah Nabi yaitu meningkatnya kebencian, penganiayaan, dan
penindasan Kaum Quraisy kepada Muhammad SAW dan pengikutnya. Kedua, adanya
permintaan suku Yastrib yaitu Aus dan Khazraj kepada Muhammad SAW agar menjadi
mediator konflik kesukuan yang berkepanjangan sekaligus menjadi pemimpin politik
masyarakat Yastrib (Syalabi, 2003: 98).
Selama periode Madinah, aktivitas dakwah Islam berkembang secara signifkan. Kondisi
ini berbeda dengan periode Mekkah, di mana dakwah Islam mengalami stagnansi sebagai
dampak dari resistensi suku Quraisy. Mereka menganggap Islam sebagai ajaran baru yang
bertentangan dengan ajaran nenek moyang. Selama periode Madinah, Muhammad
mendapat dukungan penuh dari masyarakat Yastrib. Dukungan ini menjelma suatu
kekuatan politik yang mendorong kesuksesan dakwah Islam.
Watt menggambarkan bahwa sistem sosio-politik masyarakat Yastrib pra-Islam
bersifat desentralisasi kepada kepala suku yang disebut sayyid (1969: 30). Artinya sebelum
Islam masuk, Yastrib telah dihuni oleh beragam suku. Penduduk Yastrib saat itu
mencerminkan masyarakat yang heterogen. Kepemimpinan kesukuan menjadi basis sosial
dan politik penduduk Yastrib. Sistem ashobiyah ini yang menjerumuskan penduduk Yastrib
ke dalam konflik horinzontal.
Setelah kedatangan Islam, Yastrib berubah nama menjadi Madinah al-Munawwarah.
Masyarakat Madinah berkembang menjadi lebih beragam dan dihuni oleh kaum muhajirin,
kaum anshar, bangsa Arab, Yahudi, Nasrani, dan Kaum Pagan yang hidup rukun. Selama di
Madinah, Nabi Muhammad SAW meletakkan pondasi sistem kemasyarakatan yang
berlandaskan pada nilai-nilai universalisme Islam dalam al-Qur’an.
Nabi Muhammad membawa misi pembebasan, kemanusiaan, dan ketauhidan. Dia
berhasil membebaskan penduduk Yastrib dari primordialisme kesukuan yang sarat konflik
horizontal. Muhammad sebagai pemimpin agama dan politik di Madinah berjuang
menggantikan pertalian kesukuan (nasab) dengan pertalian spiritual (ummah) (Misrawi,
2009: 306). Ummah menurut Ira M Lapidus adalah komunitas masyarakat dengan basis
persaudaraan yang mengintegrasikan individu-individu, klan/suku, kota dan kelompok-
kelompok etnik dalam sebuah loyalitas keagamaan (Lapidus, 2000: 51).
Pembentukan komunitas ummah merupakan sebuah transformasi sosial yang besar
dalam sejarah Islam awal. Nabi menyatukan suku-suku dan para pemeluk agama di
Madinah dalam payung ummah yang berbasis persaudaraan Islami (ukhuwah islamiah).
Pemaknaan ini ukhuwah islamiah tidak hanya bermakna persaudaraan sesama muslim.
Menurut Quraisy Shihab, ukhuwah islamiah ini mengandung empat unsur yaitu
persaudaraan sesama makhluk (ukhuwah ‘ubudiyyah), persaudaraan sesama manusia
(ukhuwah insaniyah), persaudaraan sesama bangsa/nasab (ukhuwah wathaniyah) dan
persaudaraan sesama muslim (ukhuwah fi dinil islam) (2013: 643-644).
Tidak cukup berhenti sampai di situ, Muhammad membuat sebuah konsensus politik
bernama Piagam Madinah untuk memperkuat solidaritas setiap suku dan pemeluk agama
yang ada di Madinah. Piagam ini merupakan konstitusi politik pertama yang ada dalam
Islam. Konsensus ini menjadi pedoman dan acuan hidup berbangsa masyarakat Madinah.
Piagam Madinah sarat dengan nilai-nilai ketauhidan toleransi, persaudaraan, musyawarah,
keadilan, kemanusiaan dan perdamaian,
Nilai-nilai sosial dan politik yang terkandung dalam dalam Piagam Madinah berpijak
pada prinsip universalisme Islam yang bersumber dari Al-Qur’an. Achmad Syafi’i Ma’arif
berpendapat segala hal yang termaktub dalam konstitusi Madinah merupakan penguraian
dan penjabaran nilai-nilai kemasyarakatan yang terkandung dalam Al-Qur’an (1995: 19).
Secara substantif, Piagam Madinah merupakan ejawantah ajaran sosial-politik dalam Al-
Qur’an sekaligus representasi dari visi-misi profetik Nabi Muhammad sebagai pembawa
rahmat bagi seluruh alam dan reformis akhlak manusia.
Nilai-nilai sosial-politik yang terbingkai dalam entitas Piagam Madinah serta keteladan
Nabi berhasil membentuk karakter politik yang demokratis dan berkeadilan. Narasi historis
kepemimpinan Nabi Muhammad sarat dengan nilai-nilai etika politik profetik yang relevan
untuk diterapkan dalam suatu masyarakat agar terwujud masyarakat beradab dan
demokratis. Sebab, berpolitik dalam bingkai kebangsaan tidak dapat dilepaskan dari
landasan etisnya yaitu adil, kejujuran, tanggung jawab, amanah, dan akhlak (Dwihantoro:
2013: 13). Dari sini, etika politik profetik penting untuk dikaji sebagai landasan etis bagi
umat muslim dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Paradigma politik profetik menjadi suatu anti-tesis atas paradigma politik Islam
integralistik yang berupaya memaksakan tegaknya negara Islam dengan basis formalisasi
syari’ah Islam dalam sistem kekhalifahan. Pemaksaan ini menuaikan tindakan radikalisme
agama. Selain itu secara prinsip, politik profetik menjadi alternatif atas persoalan-persoalan
yang tidak mampu dijawab dan ditimbulkan oleh paham sekularisme, moderisme dan
machiavelisme politik.
Konsep politik profetik berpijak pada kepemimpinan Nabi Muhammad di Madinah
yang sarat dengan nilai-nilai keteladanan, ketauhidan, akhlak, kejujuran, toleransi, keadilan
dan musyawarah. Penelitian ini mengunakan pendekatan sosiologi politik Maurice
Duverger, yang bertumpu pada studi mengenai kepemimpinan dan kekuasaan dalam setiap
pengelompokan manusia, tidak sebatas pada kelompok dalam ruang lingkup yang besar
yaitu negara-bangsa (Duverger, 2013: 31).
Penelitian ini akan dianalisis mengunakan teori etika sosial profetik Kuntowijoyo yang
mengandung cita-cita transformatif yang diidamkan masyarakat. Etika sosial profetik ini
berlandakan pada QS. Ali Imran ayat 110 yang memuat tiga unsur misi profetik yaitu
humanisasi (memanusiakan manusia), liberasi (pembebasan manusia dari penindasan
yang struktural) dan transendensi (kesadaran ketuhanan) (Kuntowijoyo, 2006: 87). Teori
ini digunakan untuk mengeksplorasi nilai-nilai profetik kepemimpinan Nabi Muhammad di
Madinah mulai dari keteladanan, kebijakan, dan sikapnya. Berdasarkan latar belakang di
atas, peneliti merumuskan permasalahan ke dalam tiga pertanyaan. Pertama, bagaimana
model kepemimpinan Nabi Muhammad selama di Madinah? Kedua, apa saja landasan etik
kepemimpinan politik Nabi Muhammad? Ketiga, apa orientasi etika politik profetik?
B. Metode Penelitian
Berdasarkan jenis datanya, penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang berupa
kajian pustaka (library research). Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang
merekonstruksi masa lampau atas obyek penelitian (Abdurrahman: 2011: 165) yaitu
kepemimpinan Nabi Muhammad di Madinah. Dalam metode penelitian sejarah terdapat
empat langkah yaitu pengumpulan data (heuristik), pengkajian sumber (verifikasi), analisis
data (interpretasi), dan penelitian sejarah (historiografi) (Kuntowijoyo, 2003: 73-82).
Tahap pertama, peneliti mengumpulkan sumber-sumber kepustakaan yang berkaitan
dengan Piagam Madinah, masyarakat Madinah, kemimpinan Nabi Muhammad, nilai-nilai
politik profetik yang terkandung dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah. Kemudian, peneliti
melakukan kritik sumber baik secara ekstren maupun intern. Kritik ini bertujuan untuk
mencari otentisitas sumber (kritik ekstren) dan kredibilitas sumber (kiritik intern).
Selanjutnya, peneliti melakukan interpretasi data yang sudah teruji dengan menggunakan
teori etika sosial profetik Kuntowijoyo. Tahap terakhir adalah penyajian tulisan sejarah
(historiografi) secara sistematis dan kronologis.
Objek kajian penelitian ini memfokuskan pada analisis nilai politik profetik yang
tercermin dalam kepemimpinan Nabi selama di Madinah. Harapan yang hendak dicapai dari
penelitian ini adalah nilai-nilai politik profetik dapat diinternalisasi dan diaktualisasikan
dalam kehidupan berpolitik suatu bangsa. Etika politik profetik sebagai alternatif atas
paradigma politik machiavelisme yang mendominasi dalam sistem politik Indonesia.
Tujuan yang ketiga, paradigma politik profetik menjadi landasan etis yang universal dalam
membentuk kehidupan politik yang santun, bersih, dan beradab.
C. Pembahasan
1. Masyarakat Yastrib
Sebelum Islam datang, Kota Madinah dulu dikenal dengan Yastrib. Kota yang
terletak di daerah Hijaz ini dikuasai oleh Dinasti Amalekit. Dinasti ini berpusat di kota
Mesir. Kedatangan orang-orang Amalekit ke Yastrib menimbulkan dugaan para
sejarawan bahwa Yastrib berasal dari kata Mesir Kuno yaitu Etropis. Dalam catatan-
catatan Babilonia Kuno diceritakan bahwa Amalekit Yastrib terbagi ke dalam dua
kelompok yaitu kelompok yang dipimpin oleh al-Arqam bin Abu al-Arqam dan
kelompok yang dipimpin oleh suku Shu’al dan Faleh. Dalam literatur Arab dijelaskan
bahwa orang-orang Amalekit mendiami Yastrib sampai tahun ke-2 Masehi (Misrawi,
2009: 159 & 162).
Masyarakat Arab Yastrib pra-Islam sangat kental dengan budaya patriaki keluarga
atau patriarchal-agnatic. Perempuan di mata bangsa Arab jahiliah berada dalam posisi
yang inferior sedangkan kaum laki-laki berada pada posisi superior. Dalam sistem ini,
hak-hak asasi manusia yang bersifat individual tidak mendapatkan tempat yang pantas.
Kepemilikan dan perkawinan diatur oleh adat istiadat yang berlaku dalam suku
tertentu. Sistem ini tidak memiliki asas norma tunggal yang diterima secara universal
(Lapidus, 2000: 42-43). Sistem sosial berasaskan pada ashobiyah sehingga tidak heran
suku-suku yang ada di Yastrib selalu terjebak dalam konflik kesukuan yang
berkepanjangan.
Penduduk Yastrib kala itu sesudah mencerminkan kultur yang plural. Yastrib
dihuni oleh dua bangsa besar yaitu Yahudi dan Arab. Dua suku utama bangsa Arab yang
menghuni Yastrib yaitu Aus dan Khazraj. Menurut Watt, Kota Yastrib dihuni oleh
delapan suku Arab dan dua puluh suku Yahudi. Beberapa suku-suku utama Yahudi
yang menetap di Yastrib di antaranya Banu Quraidzah, Banu Nadhir, Banu Qainuqa’,
Banu Tsa’labah, dan Banu Hadh (1969: 85).
Kala itu, Yastrib menjadi jalur masuk utama perdagangan di Jazirah Arab. Daerah
ini terletak di jalan yang menghubungkan Yaman dan Syria. Sampai menjelang
kedatangan Islam, bangsa Yahudi telah mendominasi perekonomian Hijaz (Pulungan,
1996: 31) bahkan sistem perekonomian Yastrib didominasi oleh orang-orang Yahudi.
Hampir seluruh bidang perekonomian Yastrib digeluti oleh bangsa Yahudi seperti
pertukangan, industri, jasa, modal, pasar dan tanah-tanah pertanian kurma yang subur.
Mereka dikenal sebagai orang yang berpendidikan tinggi dan cerdas secara intelektual
(Syariati, 1996: 38).
Secara sosiologis, penduduk Yastrib pra-Islam memberlakukan sistem lex talionis.
Hukuman balas dendam ini menghendaki hukuman yang setara yakni mata dibayar
dengan mata, gigi dibayar dengan gigi, dan nyawa dibayar nyawa. Sistem lex talionis
cendrung primitif, biadab, dan amoral (jahiliah). Saat itu, belum ada tatanan nilai-nilai
etis universal yang berlaku dalam kehidupan masyarakat Yasrib baik secara sosial
maupun politik (Watt, 1980: 8).
Solidaritas kesukuan menjadi basis utama kultur masyarakat Arab Yastrib pra-
Islam. Apabila seorang anggota suku atau keluarga dilukai maka yang lain akan
menyerangnya sebagai bentuk dari advokasi. Sudah menjadi kewajiban setiap individu
untuk menuntut balas kematian saudara sesukuan. Fanatisme kesukuan atau
“ashobiyah” ini yang menjerat penduduk Yastrib dalam kemelut konflik sosial
horinzontal. Sebagaimana yang menimpa suku Aus dan suku Khazraj, bangsa Arab dan
Yahudi yang cidera akibat konflik kesukuan yang berkepanjangan.
Ketika Nabi Muhammad datang ke Yastrib segala menjadi berubah. Masyarakat
Yastrib mengalami perubahan yang signifikan dan radikal. Yastrib menjadi kota yang
terang bederang dengan basis keadaban Islam yang dibangun oleh Nabi Muhammad.
Penduduk Yastrib menjadi rukun dan bersatu. Mereka tidak lagi terjebak dalam konflik
kesukuan yang telah menjerumuskan Yastrib ke dalam keterpurukan. Yastrib
memasuki era keteraturan, ketertiban, dan keharmonisan setelah sosok Nabi
Muhammad datang menyelamatkannya.
2. Kepemimpinan Muhammad di Madinah
Nabi Muhammad sampai di Yastrib pada 12 Rabi’ul Awwal 1 H bertepatan dengan
tanggal 27 September 622 M. Sosok Rasulullah dikenal sebagai pemimpin agama
sekaligus pemimpin politik yang jujur dan dapat dipercaya sehingga memiliki
pengaruh sosial yang sangat besar di tengah pluralitas masyarakat Madinah. Dia hadir
sebagai seorang reformis, politikus, negarawan yang bijaksana, sekaligus nabi
pembawa misi kerahmatan bagi seluruh alam semesta Kehadiran Islam dan Nabi
Muhammad di sana merupakan jawaban atas persoalan sosial, politik, dan budaya yang
terjadi di Madinah.
Periode Madinah merupakan babak awal dari aktivitas politik Muhammad. Hijrah
Nabi ke Yastrib disebabkan tiga faktor yaitu perintah dari Allah swt, siksaan yang
membabibuta dari Suku Quraisy dan permintaan suku Arab Yastrib kepada
Muhammad agar menjadi mediator konflik (Pulungan, 2018: 94). Dari tiga faktor
tersebut, hakikatnya Muhammad sudah mendapat kepercayaan dari masyarakat
Yastrib. Keluhuran budinya menarik perhatian masyarakat Madinah untuk meminta
Muhammad menjadi pemimpin Madinah.
Dalam al-Quran, Nabi Muhammad disebut sebagai utusan Allah/Rasulullah (QS. Ali
Imran: 144) yang diberi amanat untuk menyampaikan ajaran Allah swt kepada dirinya
dan untuk umatnya. Allah swt. memberikan otoritas kepada Nabi sebagai legislator,
hakim dan pemimpin. Sebagai legislator, Nabi Muhamma membuat kebijakan-
kebijakan yang adil kepada umatnya. Di sisi lain, Ia berperan sebagai penegak hukum-
hukum Allah yang universal di muka bumi. Lewat keluhuran budinya, Muhammad
membimbing masyarakat Madinah ke arah yang beradab, oleh karenanya, umat
manusia diperintahkan untuk meneladani akhlak nabi yang luhur (QS. al-Nahl: 44; QS.
al-Nisa’: 105; QS. al-Ahzab: 21).
Sebelum kedatangan Islam, penduduk Madinah menganut sistem ashobiyah yang
kental. Sistem jahiliah ini yang menjerumuskan mereka ke dalam konflik kesukuan
yang berkepanjangan sebagaimana yang menimpa suku Aus, Khazraj dan Yahudi.
Kedatangan Nabi Muhammad ke Madinah memberi angina refeormasi yang segar
menghempas segala prahara sosial yang mengedap. Muhammad menegakkan
pluralisme, inklusivisme, egaliterianisme, dan humanisme dalam kehidupan
kemasyarakatan dan kenegaraan. Ia menolak tegas segala praktik rasialisme,
chauvinisme, ekslusifme, feodalisme, superioritas kesukuan, dan budaya patriaki
(Ismail, 2016: 89).
Keulungan Muhammad dalam memimpin dapat dilihat dari strategi politik yang ia
mulai. Sesampainya nabi di Madinah, ia membangun Masjid Nabawi. Kedudukan masjid
ini tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah ritual semata. Masjid digunakan oleh
nabi sebagai tempat ta’lim, balai musyawarah yang mempersatukan unsur-unsur
kesukuan. Selain itu, masjid difungsikan sebagai tempat tinggal orang-orang muhajirin
yang datang ke Madinah dengan tangan kosong (al-Mubarakfury, 2013: 232). Masjid
Nabawi memiliki nilai sosial dan keagamaan.
Setelah lembaga keagamaan dan sosial terbentuk, langkah selanjutnya
Muhammad mempersaudarakan masyarakat Madinah yang majemuk. Kaum Muhajirin
yang miskin dipersaudarakan dengan Kaum Anshar. Tidak sampai di situ, Nabi juga
mempersaudarakan golongan Muslim dengan non-muslim yang terdiri dari Yahudi,
Nasrani dan Arab Paganis. Strategi selanjutnya, Nabi membuat kesepakatan bersama
yang mengikat bernama Piagam Madinah.
Piagam Madinah menjadi pedoman berbangsa dan bernegara bagi masyarakat
Madinah yang plural. Nilai-nilai kemasyarakatan dan kepemerintahan yang
terkandung dalam Konstitusi Madinah bersumber dari al-Qur’an. Piagam ini
berorientasi menjunjung tinggi hak asasi manusia baik personal maupun kelompok,
minoritas mapun mayoritas. Selain itu, Piagam Madinah juga menggariskan kebijakan
politik dalam negeri dan luar negeri (al-Mubarakfury, 2013: 39).
Sebagai konstitusi negara, Piagam Madinah mengandung nilai-nilai etik yang
harus dijunjung secara bersama. J. Suyuthi Pulungan merangkum kesepakatan politik
piagam ke dalam enam nilai pokok utama yaitu takwa, al-ikha’ (persaudaraan), al-
musawamah (egaliterianisme), tasamuh (toleransi), musyawarah dan al-mu’awamah
(gotong royong) (2018: 99-100). Konstitusi ini dikatakan sebagai ijtihad politik Nabi
Muhammad yang dipercaya sebagai pemimpin oleh masyarakat Madinah.
Piagam ini mampu mengakomodir kemashlahatan masyarakat Madinah yang
majemuk, sekalipun nanti suku-suku Yahudi Madinah melanggar asas konsensus
tersebut. Piagam Madinah adalah penghubung semua elemen yang ada yang kemudian
diikat dalam satu komunitas yang bernama ummah. Komunitas ini berlandaskan pada
prinsip kerukunan bertetangga, saling membantu dalam menghadapi musuh bersama,
membela mereka yang teraniaya, saling menasihati dalam kebaikan dan menghormati
kebebasan beragama (Sjadzali, 1990: 15-16).
Satu hal yang perlu dicatat bahwa Piagam Madinah sebagai konsensus bersama
lahir dari kultur-masyarakat Madinah yang majemuk. Para sejarawan dan pakar politik
bersepakat bahwa Piagam Madinah merupakan konstitusi Islam pertama yang tidak
menyebut agama tertentu dari suatu negara (Sjadzali, 1990: 15-16). Sekalipun
pemimpin Madinah berasal dari kalangan umat Islam, akan tetapi Rasulullah tidak
pernah memutuskan Madinah sebagai negara Islam yang memberlakukan sistem
kekhalifahan dan asas tunggal syari’at Islam.
3. Prinsip-Prinsip Etis Politik Kenabian
Hakikatnya, Nabi Muhammad diutus ke muka bumi untuk menyampaikan kabar
gembira dan peringatan kepada umat manusia (QS. Al-Baqarah: 119). Lebih jauh lagi,
Rasulullah diutus untuk mengadakan perbaikan, dan menghilangkan kerusakan di
muka bumi (QS. Al-Baqarah: 11) serta membangun tatanan sosial yang beradab di
mana yang ma’ruf dikerjakan dan yang batil ditinggalkan dan “kedaulatan ilahi
ditegakkan” (QS. Ali Imron: 110) (Rahman, 2017: 122). Maka secara singkat, Nabi
diutus ini sebagai pembawa kasih sayang mengusung cita-cita kesejahteraan dan
perdamaian hidup.
Sebagai bentuk aktualisasi dari misi kenabian, Piagam Madinah adalah
representasi cita-cita etik profetik di bidang politik. Dokumen politik tersebut
mencerminkan nilai-nilai Islam universal yang sarat dengan komitmen kebangsaan,
toleransi beragama, dan jaminan berserikat. J. Suyuthi Pulungan merumuskan prinsip-
prinsip politik etis Nabi ke dalam empat belas bagian yaitu keumatan; ukhuwah;
egaliterianisme; toleransi antar-pemeluk agama; tolong-menolong; hidup bertetangga;
perdamaian; pertahanan; musyawarah; keadilan; penegakan hukum; kepemimpinan
(keteladanan); dan prinsip ketakwaan, amar makruf dan nahi munkar (1996: 121).
Prinsip-prinsip etik politik Muhammad bersumber dari Al-Qur’an. Tata nilai
politik universal Al-Qur’an di atas selaras dengan fitrah dan kodrat manusia yang
mendambakan kerukunan, keadilan, keamanan, dan kesejahteraan hidup. Di sisi lain,
akhlak nabi yang mulia merepresentasikan sosok kharismatik yang patut diteladani
oleh semua umat. Nabi selalu mengejawatah secara nyata apa yang diucapkan dan
diajarkan kepada umatnya di Madinah. Strategi dakwah dengan hikmah ini menarik
simpati masyarakat madinah yang plural untuk mengikuti ajaran Nabi Muhammad.
Muhammad direpresentasikan manusia yang pengasih, sosialis dan peduli
terhadap kondisi masyarakat sekitarnya. Ada lima sifat Nabi Muhammad yang masyhur
dan patut diteladani yaitu al-amien (dapat dipercaya), shiddiq (jujur), amanah
(bertanggung jawab), fathanah (arif) dan tabligh (menyampaikan kebenaran). Sifat-
sifat tersebut dibumikan dalam kehidupan sosial dan politik dan tercermin dalam
perilaku dan sikap nabi sebagai representasi dari akhlak Al-Quran (QS. al-Qalam: 04).
Secara esensial, kebijakan-kebijakan politik Nabi berlandaskan kepada nilai-nilai
politik yang dalam al-Qur’an, di antaranya.
Pertama, ketauhidan. Dalam kepemimpinan Nabi, aktivitas politik tidak dapat
dilepaskan dari nilai ibadah yaitu ketauhidan. Berpolitik merupakan i’tikad untuk
mengatur manusia ke arah yang lebih baik yang selaras dengan misi kenabian yang
berupaya memperbaiki kehidupan ke taraf yang beradab. Dalam kerangka kerja etis
tauhid semua aktivitas politik harus bernilai ibadah (penghambaan kepada Allah)
sehingga politik tidak dijadikan saluran untuk melampiaskan hawa nafsu materilistik
dualism (Khaeron, 2013: 364) misal praktik KKN, money politic dan sebagainya. Prinsip
tauhid dalam politik tidak akan mengindahkan perilaku-perilaku amoral yang
melenceng dari nilai keadaban dan kemanusiaan. Dengan bersendikan tauhid maka
akan terwujud politik yang bersih, bermoral, saling menghormati dan saling
membangun.
Kedua, keumatan. Salah satu prestasi yang diraih Nabi di Madinah adalah
membentuk komunitas ummah. Dalam al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 213 dan al-
Anbiya’ ayat 92 umat didefinisikan sebagai kelompok manusia dari berbagai golongan
sosial yang diikat oleh ikatan sosial yang mempersatukan mereka. Visi keumatan yang
dibangun Nabi mengandung spirit pluralisme dan toleransi. Berdasarkan pada prinsip
keumatan ini, setiap penduduk Madinah harus memiliki komitmen kebangsaan sebagai
pengganti spirit ashobiyah (fanatisme kesukuan). Berangkat dari keumatan, Nabi
Muhammad membangun komunikasi politik interkultural dengan penduduk Madinah
yang majemuk (Khaeron, 2013: 367).
Ketiga, prinsip persamaan (egaliterianisme). Kondisi sosial penduduk Madinah
pra-Islam sangat membangga-banggakan ashobiyah dan nasab. Di sisi lain, masyarakat
Arab lekat dengan budaya patriaki dan primordial yang berpandangan bawah
perempuan lebih rendah derajatnya daripada laki-laki, bangsa Arab lebih baik dari
non-arab. Sikap arogansi tersebut yang mengantarkan mereka kepada tindakan yang
tidak manusiawi. Semenjak kepemimpinan Nabi, ia mampu menghapuskan
dikotomi/deferensiasi sosial dalam penduduk Madinah.
Keempat, prinsip musyawarah. Sesampai Nabi ke madinah, ia membangun Masjid
Nabawi sebagai tempat ibadah, ta’lim sekaligus musyawarah. Sebagai pemimpin
Madinah, Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk bermusyawarah dengan
rakyatnya dalam segala urusan (QS. Asy-Syuraa: 38). Musyawarah membangun
hubungan komunikasi penguasa dengan individu masyarakat. Dalam masyarakat
madani musyawarah menjadi asas utama berdemorkasi. Dalam musyawarah terjadi
pertukaran ide, dialog serta terbangun sikap saling pengertian (Asy-Syawi, 2013: 34).
Kelima, prinsip keadilan. Semua rakyat selalu menuntut kepada penguasa agar
senantiasa berbuat adil. Dalam Piagam Madinah, semua penduduk Madinah baik
muslim dan non-muslim harus diperlakukan secara adil di mata hukum. Keadilan
selaras dengan QS. Al-Maidah ayat 8 yang memerintahkan setiap orang yang bertakwa
agar berbuat adil baik sikap, perkataan, tindakan ataupun keputusan. Khususnya orang
yang memiliki wewenang sebagai pemimpin negara harus menegakkan keadilan bagi
seluruh rakyatnya agar tidak terjadi ketimpangan dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Keenam, prinsip ukhuwah islamiah. Prinsip keumatan dibangun atas dasar
ukhuwah islamiah yang tidak hanya dimaknai persaudaraan sesama muslim Madinah
semata. Persaudaraan yang bersifat islami ini mencakup hubungan sesama manusia,
alam, persaudaraan kebangasan dan sesama muslim. Pesaudaraan islami dibangun
atas rasa kepedulian dan cinta yang sangat tinggi. Dari persaudaraan akan terbangun
sikap tolong-menolong dan gotong royong. Hal ini tampak pada kecintaan Kaum
Anshar saat menolong Kaum Muhajirin. Ditambah lagi, seluruh penduduk Madinah
telah bersepakat untuk bekerjasama dan bergotong royong dalam menjaga
perdamaian di kota Madinah dari serangan luar.
Ketujuh, prinsip amar ma’ruf dan nahi munkar. Amar ma’ruf diterjemahkan
sebagai upaya memanusiakan manusia dan nahi munkar dimaknai sebagai upaya
pembebasan dari segala bentuk penindasan. Selama kepemimpinan Muhammad,
eksistensi perempuan tidak mengalami subordinasi dan dominasi dari kaum laki-laki.
Budaya jahiliah (patriarki) yang memandang rendah perempuan telah digantikan spirit
egaliterianisme yang menyamakan kedudukan manusia di mata Allah swt kecuali
kualitas ketakwaannya.
Ketujuh nilai tersebut tercerminkan dalam aktivitas politik Nabi Muhammad di
Madinah. Dalam setiap kebijakan dan tindakan politiknya, Muhammad selalu
mengedepankan kemashlahatan umum daripada golongannya. Ia mampu bersikap
bijak, adil, dan proporsional dalam memecahkan problem yang terjadi di Madinah.
Perspektif profetik memandang bahwa kepemimpinan dan kekuasaan merupakan
amanah yang besar yang seharusnya tidak diperebutkan sebagaimana yang terjadi
sekarang.
Asas-asas politik dari kepemimpinan Nabi perlu diteladani oleh setiap individu
manusia, khususnya umat muslim dan lebih khusus lagi kaum politisi. Nilai-nilai politik
profetik perlu dibumikan, khususnya di Indonesia agar terwujud masyarakat
madani/civil society yang berkeadilan, beradab, dan demokratis. Secara eksplisit, asas-
asas tersebut relevan dengan spirit politik Pancasila. Spirit politik Islam yang luhur
perlu diintegrasikan dengan nilai-nilai Pancasila yang kemudian diintenalisasi dalam
kehidupan berpolitik, berbangsa, dan bernegara. Hal ini agar terwujud masyarakat
politik yang dewasa, bijak, adil dan beradab.
4. Pilar-pilar Politik Profetik
Telaah historis atas kepemimpinan Nabi di Madinah menampilkan sebuah konsep
yang disebut etika politik profetik atau kenabian. Orientasi politik kenabian ini
merujuk kepada al-Qur’an, surah Ali Imran ayat ayat 110 yang berarti: Engkau adalah
umat terbaik yang diturunkan di tengah manusia untuk menegakkan kebaikan,
mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah. Berbasis pada ayat tersebut
dirumuskan tiga pilar utama dari misi politik profetik yakni mengajak kepada kebaikan
(humanisasi), membebaskan manusia dari penindasan struktural dan mengugah
kesadaran spiritual serta keinsafan (transendensi) (Kuntowijoyo, 2006: 87).
Pertama, humanisasi (memanusiakan manusia). Kata humanisasi berasal dari Kata
Yunani, humanitas berarti makhluk manusia menjadi manusia. Dalam bahasa Inggris,
humanisasi berasal dari kata human berarti manusia. Humanisasi berarti
memanusiakan manusia, menghilangkan kebendaan, ketergantungan, kekerasan dan
kebencian dari manusia (Kuntowijoyo, 2001: 364). Indikator lain dari aktivitas
memanusiakan manusia adalah menjalin persaudaraan sesama manusia, adanya
kesetaraan derajat dalam hidup, toleransi dalam beragama dan membuang kebencian
kepada sesame (Roqib, 2011: 84).
Muhammad sebagai pemimpin agama dan politik di Madinah berhasil
mempersaudarakan penduduk madinah dalam ikatan keumatan dan spiritual.
Kekerasan atas nama ras, suku ataupun bangsa tidak dapat dibenarkan dalam prinsip
kemanusiaan. Konflik kesukuan berhasil ia redam dengan spirit keumatan, Terlebih
lagi Kontitusi Madinah yang ditetapkan, Rasulullah menjamin hak-hak setiap
penduduk Madinah seperti kebebasan dalam beragama dan berserikat.
Primordialisme, rasialisme dan pragmatisme hanya mengikis rasa kemanusiaan dalam
diri manusia. Bangunan sosio-politik Muhammad selalu dibangun atas nilai
kemanusiaan yang tinggi.
Kedua, liberasi (pembebasan dari segala bentuk penindasan). Jika ditilik dalam
Bahasa Latin, liberasi berasal dari kata ‘liberare’ berarti memerdekaan atau
pembebasan. Liberation berarti tindakan pembebasan. Indikator dari pembebasan
politik kenabian adalah keputusan atau kebijakan selalu memihak kepada rakyat
umum, menegakkan keadilan dan kebenaran seperti pemberantasan KKN,
memberantas kebodohan dan menghilangkan segala bentuk tindak kekerasan baik
fisik, psikis, dan seksual
Hijrah Nabi bersama umatnya ke Yastrib merupakan upaya pembebasan umat
muslim dari penindasan Quraisy. Keputasan Nabi mempersaudarakan Muhajirin
dengan Anshar, umat muslim dengan non-muslim agar dapat mereka saling tolong
menolong. Persaduaraan islami ini pula membebaskan penduduk Madinah dari
tindakan kekerasan dan konflik kesukuan/ashobiyah. Ditambah lagi, pembangunan
Masjid Nabawi yang difungsikan sebagai tempat beribadah, pembelajaran dan
musyawarah adalah upaya membebaskan penduduk Madinah dari
kebodohan/jahiliah.
Ketiga, transendensi. Dalam teologi Islam, transendensi dipahami sebagai
kepercayaan kepada Allah, kitab Allah dan yang ghaib. Transendesi merupakan ikatan
spiritual yang mengikat manusia dengan Tuhan. Segala aktivitas fisik atau non-fisik
tidak dapat dilepaskan dari kalam Allah yang suci yaitu al-Qur’an. Indikator-indikator
transendesi yaitu mengakui adanya kekuatan supranatural, mengaitkan segala
aktivitas (baik ilmiah) kepada ajaran kitab suci, melakukan hubungan dengan kosmos
dan kosmis sebagai ejawatah dari penasbihan akan keagungan Allah dan berupaya
untuk memperoleh kebaikan Tuhan tempat bergantung (Roqib, 2011: 84).
Kepemimpinan Muhammad mencerminkan budi pekerti al-Qur;an yang
merupakan kalam Allah. Transendensi merupakan proses internalisasi dan
ekstenalisasi dari ajaran Tuhan dalam kehidupan nyata. Segala aktivitas Nabi yang
berupa perkataan, perbuataan dan ketetapan selalu berangkat dari motivasi
ketakwaan kepada Allah swt yang Maha Bijakasana, Maha Mengetahui, Maha Adil,
Maha Pengasih dan Penyayang. Prinsip transendensi adalah upaya mensifati diri
(intenalisasi) dengan sifat-sifat Tuhan yang agung. Dengan demikian, seorang manusia
atau muslim akan terhindar dari perilaku negatif yang berdosa, seerti KKN, money
politic, hoax dan sebagainya.
Dalam konteks politik, paradigma profetik sarat dengan nilai dakwah dengan
hikmah (amar ma’ruf wa nahi munkar), jihad, dan integritas yang kuat atau amanah
(Khashogi, 2017: 101). Kerja politik profetik adalah untuk mengikis segala bentuk
praktik machiavelisme dan sekularisme politik. Cara kerja politik profetik menyakini
bahwa agama (wahyu) sebagai sumber nilai luhur dan bajik harus membumi dalam
aktivitas politik. Hal ini agar politik berjalan di atas rel dan tidak melenceng dari cita-
cita etiknya yaitu mewujudkan keadilan dan kebijaksanaan.
Aktulisasi etika politik profetik berupaya membentuk masyarakat madani yang
berorientasi pada kebaikan di dunia dan di akhirat. Politik kenabian juga mengarahkan
publik untuk berbuat kebaikan dan mencari kebenaran dengan cara memanusiakan
manusia, membebaskan dari segala bentuk penindasan dan menggugah kesadaran
ketuhanan/keinsafan. Orientasi lain dari politik profetik adalah menghilangkan phobia
Islam di ruang publik dengan kata lain bahwa politik profetik berupaya mempersuasi
masyarakat agar percaya bahwa etika politik profetik ini dapat menjadi alternatif atas
ketimpangan politik dan sosial yang terjadi sebagai dampak dari modernisme,
sekularisme dan maciavelisme.
D. Kesimpulan
Berdasarkan telaah historis atas kepemimpinan Nabi Muhammad di Madinah
menunjukkan bahwa Nabi Muhammad merepresentasikan pemimpin kharismatik. Sebagai
pemimpin agama dan politik, Muhammad mampu menjadi penengah atas segala persoalan
yang terjadi di Madinah. Terlebih lagi, Muhammad mampu memberi teladann yang baik di
hadapan rakyatnya. Dalam segala aktivitas politiknya, Muhammad selalu berlandaskan
kepada ajaran-ajaran universal al-Qur’an dan selalu memegang tegus prinsp kenabian yang
diembannya. Kepemimpinan politik Nabi Muhammad selalu memegang teguh asas tauhid,
keumatan, syura, egalitarianisme, keteladanan, ukhuwah islamiah, dan toleransi
sebagaimana yang termaktub dalam al-Qur’an. Nilai-nilai tersebut merepresentasikan cita-
cita etik politik profetik yang diusung Nabi Muhammad selama memimpin Madinah. Politik
profetik berorientasi pada memanusiakan manusia (humanisasi) dengan cara membangun
keadilan sosial, toleransi, ukhuwah islamiah, dan kesetaraan; kedua membebaskan
masyarakat dari segala bentuk penindasan seperti konflik, primordialisme, kapitalisme,
machiavelisme; ketiga menanamkan nilai-nilai tauhid (transendensi) sebagai respon atas
sekularisme politik, atheisme dan materialisme.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, D. (2011). Metodologi Penelitian Sejarah Islam. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Al-Mubarakfury, S. (2013). Shahih Sirah Nabawiyah. Bandung: Penerbit Jabal.
Asy-Syawi, T. M. (2013). Demokrasi atau Syura. Jakarta: Gema Insani.
Duverger, M. (2013). Sosiologi Politik. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Dwihantoro, P. (2013). Etika dan Kejujuran Dalam Berpolitik. Jurnal Politika, 13-21.
Ismail, F. (2016). Paradigma Kebudayaan Islam: Studi Kritis Analisis Historis. Yogyakarta:
Ombak.
Khaeron, H. (2013). Etika Politik: Paradigma Politik Bersih, Cerdas, Santun Berbasis Nilai
Islam. Bandung: Nuansa Cendikia.
Khashogi, L. R. (2017). Kuntowijoyo's Prophetic Social Science (Chalenges and
Consequences). Ijtima'iyya, 89-106.
Kuntowijoyo. (2006). Islam Sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika. Yogyakarta:
Tiara Wacana.
Kuntowijoyo. (2013). Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Lapidus, I. M. (2000). Sejarah Sosial Ummat Islam: Bagian Kesatu dan Dua. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
Misrawi, Z. (2009). Madinah: Kota Suci, Piagam Madinah, Dan Teladan Muhammad SAW.
Jakarta: Kompas.
Pulungan, J. S. (1996). Prinsip-Prinsip Pemerintahan Dalam Piagam Madinah: Ditinjau Dari
Pandangan Al-Qur'an. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Pulungan, J. S. (2018). Sejarah Peradaban Islam . Jakarta: Amzah.
Rahman, F. (2017). Tema-Teman Pokok Al-Qur'an. Bandung: Mizan.
Roqib, M. (2011). Prophetic Education: Kontekstualisasi Filsafat dan BBudaya Profetik Dalam
Pendidikan. Purwokerto: STAIN Press.
Shihab, M. Q. (2013). Wawasan al-Qur'an: Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat.
Bandung: Mizan Pustaka.
Sjadzali, M. (1990). Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran. Jakarta:
UI_PRESS.
Syalabi, A. (2003). Sejarah & Kebudayaan Islam I. Jakarta: Pustaka al-Husna Baru.
Syariati, A. (1996). Rasulullah SAW Sejah Hijrah Hingga Wafat: Tinjauan Kritis Sejarah Nabi
Periode Madinah. Bandung: Pustaka Hidayah.
Watt, W. M. (1969). Muhammad Prophet and Statemen. London: Oxford University.
Watt, W. M. (1980). Politik Islam Dalam Lontasan Sejarah. Jakarta: Perhimpunan
Pengembangan Pesantren dan Masyarakat.