Anda di halaman 1dari 3

Mama dan Ayah Sia tampak syok melihat anaknya datang dengan dipapah oleh Evans saat

sampai rumah tadi. Sebenarnya Evans mau menggendong Sia dipunggungnya seperti tadi dipasar
malam. Tapi, Sia jelas menolak karena malu kalau sampai dilihat sama mama dan papanya nanti.
“Astaga kenapa bisa pincang gitu si”Ujar Mamanya Sia pertanyaan yang sekaligus mewakili
pertanyaan suaminya itu.
“Ini mom tadi aku kelamaan jinjit”Jawab Sia sambil cengengesan tanpa dosa.
“Ngapain jinjit si kamu itu”Ujar Ayahnya yang hanya dibalas cengengesan oleh Sia.
“Maaf ya dad, mom si Sia jadi sakit gini gara gara aku”Ujar Evans. Mama dan ayahnya Sia
hanya memasang wajah tak mengerti. Apa maksud anak ini bilang gara gara dia.
“Itu tadi mom, dad. Aku mau makein Evans topi tapi gara-gara Evansnya tinggi jadinya aku jinjit
gitu”Jelas Sia saat dilihatnya ekspresi Mama dan Ayahnya itu tampak bingung. Kemudian
dijawab oleh Mama dan Ayahnya dengan membentuk mulut “O”. Evans merasa tak enak
membohongi kedua orangtua Sia. Tapi dia juga nggak enak mau cerita alasan sebenarnya. Jadi
Evans hanya tersenyum.
“Mom, Dad. Evans boleh pinjem minyak urut atau apa gitu buat urut kakinya Sia?” Tanya Evans
“Oh iya ada tunggu bentar ya nak mom cariin dulu”Ujar Mama Sia kemudian berlalu mencari
minyak urut.
Evans memapah Sia menuju ke sofa. Dibantu Sia duduk kemudian mengangkat kaki Sia naik ke
atas Sofa sehingga kaki Sia sekarang selonjoran disofa.
“Udah kamu sekarang tidur. Percayain kaki kamu sama aku ya”Suruh Evans sambil mendorong
kening Sia dengan jari telunjuknya. Kemana Sia yang kuat tadi menarik Evans? Kenapa sekarang
hanya dengan satu telunjuk saja Sia sudah terjatuh diatas sofa.
“Ini minyaknya nak”Ujar Mama Sia sambil tersenyum lalu menyodorkan minyak urut. Mama
Sia menyadari kalau sekarang ada banyak hal yang berbeda. Dari tatapan Evans kepada Sia,
ataupun tatapan Sia pada Evans hingga panggilan mereka yang sekarang dengan aku kamu.
Sepertinya ada banyak kemajuan. “Aku kayanya ketinggalan banyak cerita mereka nih”Batin
Mama Sia.
“Makasih mom”Ujar Evans mengambil minyak yang disodorkan Mama Sia. Mama Sia tanpa
disuruh segera pergi dari ruangan itu membiarkan Evans dan Sia menikmati waktu mereka
berdua.
Evans mulai mengoleskan kaki Sia dengan minyak itu dengan hati-hati. Kemudian perlahan
mulai mengurut kaki Sia
“Ssshhhh pelan pelan dong Van. Sakit ini”Cerocos Sia saat ia merasakan sakit di kakinya saat
diurut Evans
“Tahan dong. Namanya juga diobatin, ya sakit. Kalo nggak mau sakit begini ya jangan sok-sokan
jinjit-jinjitan segala”Ujar Evans kesal pada Sia
“Yeee Goblok. Ini juga gara-gara kamu juga aku sakit begini”Ujar Sia kesal karena Evans
semakin keras memijitnya.
“Diem ihh cerewet banget si. Nggak tau namanya orang khawatir apa sih. Lain kali jangan lakuin
apa yang buat kamu sakit. Aku nggak senang liat kamu sak-“Ucapan Evans terpotong saat
dilihatnya Sia memandangnya lekat.
“Apa? Kenapa?”Ujar Evans ketus saat diliat Sia menatapnya seperti itu.
“Kamu khawatir sama aku?”Tanya Sia memastikan yang didengarnya tadi. Dan Evans baru sadar
apa yang sedari tadi dia katakana pada Sia. Perlahan pipinya memerah. Evans mengalihkan
pandangannya dari wajah Sia kemanapun. Asal jangan melihat Sia. Astaga Evans merasa sangat
malu saat ini.
“Apaan si? Kamu salah denger tuh. Jelas banget salah denger tuh kamu”Ujar Evans dengan
kikuk sangat.
“Hmmm iya deh iya aku salah denger”Ujar Sia sambil terkekeh. Dia jelas mendengar perkataan
Evans tadi cuman dia nggak mau berdebat dengan Evans.
“Ihhh Kamu nggak percaya ya”Ujar Evans kesal.
“Nggak kok. Aku percaya kok Evans Rhys Pratama pacarnya Sia Alexa Matthew yang
gantengnya keterlaluan”Ujar Sia . Evans tersenyum.
Evans dengan telaten memijat kaki Sia. Sia yang tadinya merasa sakit ketika dipijat sekarang
malah keenakan. Bukan hanya kaki Sia yang dipijat tapi juga betis Sia. Perlahan mata Sia mulai
berat ntah karena kelelahan atau karena sudah kemaleman.
“Udah kamu tidur aja” Ujar Evans dan mengelus rambut Sia lembut.
“Kamu mah buat makin ngantuk aja” Ujar Sia sedikit meremang nggak jelas. Sia sudah menutup
matanya. Evans masih mengelus rambut Sia. Perlahan terdengar deru nafas Sia yang semakin
teratur. Sia sudah tidur dengan nyenyak saat ini.
“Mom. Dad” Panggil Evans mencari kedua orangtua Sia.
“Iya Van kenapa?” Tanya Mama Sia keluar dari pintu kamarnya
“Mom, Dad, Sia udah tidur. Kamarnya Sia dimana? Biar tak bawa kekamarnya. Kasian kalo Sia
nya di bangunin pasti dia capek dari tadi Evans udah ajakin keliling” Ujar Evans.
“Kamarnya Sia di atas Van yang pintunya warna pink ada tulisan didepennya ‘SIA PUNYA’.
Kesana aja langsung ya. Mom lagi kerokin dad nih. Dia masuk angina. Kesananya sendiri aja ya”
Suruh Mama Sia
“Siyap Mom” Ujar Evans berlalu keruangan tempat Sia tertidur tadi.
Evans menggendong Sia ala bridal style. Sampai Evans menemukan kamar berpintu warna pink
dengan tulisan ‘SIA PUNYA’ di pintunya.
Evans masuk kekamar Sia. Tampak kamarnya bersih, rapi, dan sangat feminim. Evans
menidurkan Sia di ranjangnya. Evans menyempatkan diri melihat sekelilingnya. Warna tembok
yang putih dipadu dengan interior berwarna pink. Didinding terlihat foto Sia saat masih kecil
sampai sebesar sekarang. Dilihatnya lekat-lekat foto masih kecil Sia.
“Cantik” Gumam Evans pelan.
Kemudian matanya beralih melihat foto Arcel dan Sia. Mereka terlihat sangat dekat. Arcel
melingkarkan tangannya di bahu Sia dan meletakkan telapak tangannya dikepala Sia dan jangan
lupakan senyuman lebar dari Arcel. Difoto itu tampak Sia melipat bibirnya. Sia melirik Arcel
difoto itu dengan tatapan tajam. Seperti foto diambil saat Arcel sedang mengerjai Sia. Evans
menatap foto itu dengan tatapan tidak suka. Evans mengambil foto itu dan diletakkan dimeja
belajar Sia dengan kondisi dibalik. Jadi fotonya nggak keliatan gitu.
Evans berpindah duduk di dekat kepala Sia. Evans menopang dagunya dengan kedua tangan
yang diatas ranjang Sia. Evans memperhatikan wajah Sia dengan khusuk. Jelas senyuman
tercetak jelas diwajah lelaki itu.
“Aku nggak tau sejak kapan kamu tau kalo aku cinta sama Bela. Aku juga nggak tau sejak kapan
aku mulai nyaman sama kamu. Sepertinya aku udah mulai terbiasa” Sejenak Evans diam
menyelami wajah Sia yang sangat tenang saat ini.
“Makasih kamu udah mau dengan sabar hadepin aku. Makasih kamu selalu ada saat aku nangis
dan jatuh, walaupun kamu tau aku nangisin cewek lain. Aku nggak tau aku udah suka sama kamu
atau nggak tapi yang jelas aku udah nyaman sama kamu” Ujar Evans. Dilihatnya sekeliling
ruangan itu. Saat dipastikan cuman ada dia dan Sia dikamar itu, dikecupnya kening Sia.

1 detik

2 detik

3 detik

Kemudian dilepaskan kecupannya itu. Segera Evans berdiri dengan senyuman yang merekah.
“Aku pulang dulu ya. Byeee. Mimpiin aku ya. Jangan mimpiin cowok lain” Ujar Evans lalu
pergi meninggalkan kamar Sia