Anda di halaman 1dari 35

7

BABI

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama

dengan keterikatan dan emosional dan individu mempunyai peran masing-

masing yang merupakan bagian dari keluarga.asuhan kebidanan pada

keluarga merupakan asuhan kebidanan komunitas dimana pelayanan

kebidanan komunitas merupakan upaya yang dilakukan bidan untuk

pemecahan terhadap masalah kesehatan di dalam keluarga dan masyarakat

supaya keluarga dan masyarakat selalu berada dalam kondisi kesehatan

yang optimal. Kegiatan pelayanan kebidanan komunitas termasuk

didalamnya adalah penyuluhan dan nasihat tentang kesehatan dan

penanganan sederhana dengan natural terapi bagi ibu, bayi dan balita,

perbaikan gizi keluarga, imunisasi.

Balita merupakan bagian atau anggota keluarga, sering dikatakan

sebagai potret atau gambar dari orang tuanya saat masih kecil. Namun

tidaklah demikian, karena balita merupakan individu tersendiri yang tumbuh

dan berkembang secara unik dan tidak dapat diulang setelah usianya

bertambah. Usia balita merupakan usia yang rentan terserang penyakit.

Diare atau dikenal dengan sebutan mencret memang merupakan

penyakit yang masih banyak terjadi pada masa kanak dan bahkan menjadi

salah satu penyakit yang banyak menjadi penyebab kematian anak yang
8

berusia di bawah lima tahun (balita). Karenanya, kekhawatiran orang tua

terhadap penyakit diare adalah hal yang wajar dan harus dimengerti. Justru

yang menjadi masalah adalah apabila ada orang tua yang bersikap tidak

acuh atau kurang waspada terhadap anak yang mengalami diare. Misalnya,

pada sebagian kalangan masyarakat, diare dipercaya atau dianggap sebagai

pertanda bahwa anak akan bertumbuh atau berkembang. Kepercayaan

seperti itu secara tidak sadar dapat mengurangi kewaspadaan orang tua.

sehingga mungkin saja diare akan membahayakan anak,

(anaksehat.blogdrive.com).

Menurut data United Nations Children’s Fund (UNICEF) dan World

Health Organization (WHO) pada 2009, diare merupakan penyebab

kematian nomor 2 pada balita di dunia, nomor 3 pada bayi, dan nomor 5

bagi segala umur. Data UNICEF memberitakan bahwa 1,5 juta anak

meninggal dunia setiap tahunnya karena diare.

Angka tersebut bahkan masih lebih besar dari korban AIDS, malaria,

dan cacar jika digabung. Sayang, di beberapa negara berkembang, hanya 39

persen penderita mendapatkan penanganan serius.

Diare disebabkan faktor cuaca, lingkungan, dan makanan. Perubahan

iklim, kondisi lingkungan kotor, dan kurang memerhatikan kebersihan

makanan merupakan faktor utamanya. Penularan diare umumnya melalui

4F, yaitu Food, Fly, Feces, dan Finger.

Oleh karena itu, upaya pencegahan diare yang praktis adalah dengan

memutus rantai penularan tersebut. Sesuai data UNICEF awal Juni 2010,
9

ditemukan salah satu pemicu diare baru, yaitu bakteri Clostridium difficile

yang dapat menyebabkan infeksi mematikan di saluran pencernaan. Bakteri

ini hidup di udara dan dapat dibawa oleh lalat yang hinggap di makanan,

(lifestyle. okezone.com).

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Setelah melaksanakan pembelajaran praktek kebidanan

komunitas diharapkan mahasiswa mampu melaksanakan manajemen

kebidanan dengan menggunakan manajemen asuhan kebidanan

komunitas.

2. Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mampu melaksanakan pengkajian terhadap keluarga

dalam asuhan kebidanan komunitas pada keluarga.


b. Mahasiswa mampu melaksanakan Tipologi masalah terhadap

keluarga dalam asuhan kebidanan komunitas pada keluarga.


c. Mahasiswa mampu melaksanakan Intervensi terhadap keluarga

dalam asuhan kebidanan komunitas pada keluarga.


d. Mahasiswa mampu melaksanakan Implementasi terhadap keluarga

dalam asuhan kebidanan komunitas pada keluarga.


e. Mahasiswa mampu melaksanakan Evaluasi terhadap keluarga dalam

asuhan kebidanan komunitas pada keluarga.


10

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Kebidanan Komunitas

1. Pengertian

Bidan di Indonesia adalah seorang wanita yang mendapat

pendidikan kebidanan formal dan lulus serta terdaftar di badan resmi

pemerintah dan mendapat izin serta kewenangan melakuku kegiatan

praktik mandiri (Ambarwati dan Rismintari, 2010 : 1).

Kepmenkes No. 396/Menteri/SK/III/2007 menjelaskan

Kebidanan adalah suatu bidang ilmu yang me™pela]an keilmuan dan

seni yang mempersiapkan kehamilan, menolong persalinan, nifas dan

menyusui, masa interval dan pengaturan kesuburan, klimakterium dan

menopouse, BBL dan Balita, fungsi-fungsi reproduksi manusia serta

memberikan bantuan atau dukungan pada perempuan, keluarga dan

komunitasnya. (Pudiastuti, 2011: 1).

Bidan komunitas adalah bidan yang bekeija melayani keluarga

dan masyarakat di wilayah tertentu. Kebidanan komunitas adalah konsep

dasar bidan dalam melayani keluarga dan masyarakat. Pelayanan

keedanan komunitas adalah upaya yang dilakukan bidan untuk

pemecahan terhadap masalah kesehatan Ibu dan Anak balita di dalam

keluarga dan masyarakat (Ambarwati dan Rismintari, 2010: 2).


11

2. Unsur-unsur Kebidanan Komunitas

Unsur-unsur kebidanan komunitas menurut (Ambarwati dan

Rismintari (2010 : 3-5), di antaranya adalah sebagai berikut:

a. Bidan

Kegiatan yang dilakukan bidan di komunitas meliputi :

1) Bimbingan terhadap kelompok remaja, masa perkawinan.


2) Pemeliharaa kesehatan ibu hamil, nifas, masa interval (antara

dua persalinan) dalam keluarga.


3) Pertolongan persalinan di rumah.
4) Tindakan pertolongan pertama pada kasus kebidanan dengan

resiko tinggi di keluarga.


5) Pengobatan keluarga sesuai dengan kewenangan.
6) Pemeliharaan kesehatan kelompok wanita dengan gangguan

reproduksi.
7) Pemeliharaan kesehatan anak balita.
b. Pelayanan kebidanan

Pelayanan kebidanan adalah segala aktivitas yang dilakukan

oleh bidan untuk segala menyelamatkan pasien dari gangguan

kesehatan. Tujuan pelayanan kebidanan komunitas adalah

meningkatnya kesehatan ibu dan anak balita di dalam keluarga

sehingga terwujud keluarga sehat dan sejahtera di dalam komunitas.

Kegiatan pelayanan komunitas, meliputi:

1) Penyuluhan dan nasehat tentang kesehatan.


2) Pemeliharaan kesehatan ibu dan balita.
3) Pengobatan sederhana bagi ibu dan balita.
4) Perbaikan gizi keluarga.
5) Imunisasi ibu dan anak.
6) Pertolongan persalinan di rumah.
7) Pelayanan KB.
c. Sasaran pelayanan kebidanan komunitas
12

Dalam komunitas terdapat kumpulan dari individu yang

membentuk keluarga atau kelompok masyarakat. Sasaran utama

adalah ibu dan anak dalam keluarga. Menurut Undang-Undang No.

23 tahun 1992 tentang kesehatan, yang dimaksud keluarga adalah

suami, istri, anak dan anggota keluarga lainnya.

d. Lingkungan

Lingkungan fisik yang kurang sehat menimbulkan penyakit

pada masyarakat. Lingkungan sosial berkaitan dengan adat istiadat

dalam memberikan pelayanan yang diupayakan tidak bertentangan

dengan kebiasaan, adat, kepercayaan dan agama di masyarakat.

Lingkungan flora dan fauna berhubungan dengan

penghijauan, pemanfaatan pekarangan dengan tanaman yang bergizi.

e. Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)

Bidan dituntut untuk selalu mengembangkan kemampuannya

agar tidak ketinggalan terhadap kemajuan ilmu dan teknologi di

bidang kesehatan.

B. Konsep Dasar Diare

1. Pengertian

Diare adalah peningkatan pengeluaran tinja dengan konsistensi

lebih lunak atau lebih cair dari biasanya, dan terjadi paling sedikit 3

kali dalam 24 jam. Sementara untuk bayi dan anak-anak, diare

didefinisikan sebagai pengeluaran tinja >10 g/kgBB/24 jam,

sedangkan rata-rata pengeluaran tinja normal bayi sebesar 5-10


13

g/kgBB/ 24 jam (Juffrie, 2010).

Menurut world health organization (WHO), penyakit diare adalah

suatu penyakit yang ditandai dengan perubahan bentuk dan

konsistensi tinja yang lembek sampai mencair dan bertambahnya

frekuensi buang air besar yang lebih dari biasa, yaitu 3 kali atau lebih

dalam sehari yang mungkin dapat disertai dengan muntah atau tinja

yang berdarah.

Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak

normal yaitu lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang

encer dapat disertai atau tanpa disertai darah atau lendir sebagai akibat

dari terjadinya proses inflamasi pada lambung atau usus.

2. Etiologi
Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan

6 besar, tetapi yang sering ditemukan di lapangan ataupun klinis adalah

diare yang disebabkan infeksi dan keracunan. Untuk mengenal penyebab

diare yang dikelompokan sebagai berikut: (Depkes RI, 2011)


a. Infeksi :Bakteri (Shigella, Salmonella, E.Coli, Golongan vibrio,

Bacillus Cereus, Clostridium perfringens, Staphilococ

Usaurfus,Camfylobacter, Aeromonas)
b. Virus (Rotavirus, Norwalk + Norwalk like agent, Adenovirus)
c. Parasit
d. Protozoa (Entamuba Histolytica, Giardia Lambia, Balantidium Coli,

Crypto Sparidium)
e. Cacing perut (Ascaris, Trichuris, Strongyloides, Blastissistis Huminis)
f. Bacilus Cereus, Clostridium Perfringens
g. Malabsorpsi: karbohidrat (intoleransi laktosa), lemak atau protein.
h. Alergi: alergi makanan
i. Keracunan
j. Imunodefisiensi / imunosupresi (kekebalan menurun) : Aids dll
14

k. Sebab-sebab lain: Faktor lingkungan dan perilaku, Psikologi: rasa

takut dan cemas.

3. Tanda dan Gejala

Tanda-tanda awal dari penyakit diare adalah bayi dan

anak menjadi gelisah dan cengeng, suhu tubuh biasanya meningkat,

nafsu makan berkurang atau tidak ada, perut kembung kemudian

timbul diare. Tinja akan menjadi cair dan mungkin disertai dengan

lendir ataupun darah. Warna tinja bisa lama-kelamaan berubah

menjadi kehijau-hijauan karena tercampur dengan empedu. Anus dan

daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan tinja makin

lama makin asam sebagai akibat banyaknya asam laktat yang berasal

darl laktosa yang tidak dapat diabsorbsi oleh usus selama diare.

Menurut Kliegman (2006), Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau

sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lambung yang turut

meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam-basa dan

elektrolit.
15

4. Penatalaksanaan

Penanggulangan kekurangan cairan merupakan tindakan pertama

dalam mengatasi pasien diare. Hal sederhana seperti meminumkan

banyak air putih atau oral rehidration solution (ORS) seperti oralit harus

cepat dilakukan. Pemberian ini segera apabila gejala diare sudah mulai

timbul dan kita dapat melakukannya sendiri di rumah. Kesalahan yang

sering terjadi adalah pemberian ORS baru dilakukan setelah gejala

dehidrasi nampak.

Pada penderita diare yang disertai muntah, pemberian larutan

elektrolit secara intravena merupakan pilihan utama untuk mengganti

cairan tubuh, atau dengan kata lain perlu diinfus. Masalah dapat timbul

karena ada sebagian masyarakat yang enggan untuk merawat-inapkan

penderita, dengan berbagai alasan, mulai dari biaya, kesulitam dalam

menjaga, takut bertambah parah setelah masuk rumah sakit, dan lain-

lain. Pertimbangan yang banyak ini menyebabkan respon time untuk

mengatasi masalah diare semakin lama, dan semakin cepat penurunan

kondisi pasien kearah yang fatal.

Diare karena virus biasanya tidak memerlukan pengobatan lain

selain ORS. Apabila kondisi stabil, maka pasien dapat sembuh sebab

infeksi virus penyebab diare dapat diatasi sendiri oleh tubuh (self limited

disease). Diare karena infeksi bakteri dan parasit seperti Salmonella sp,

Giardia lamblia, Entamoeba coli perlu mendapatkan terapi antibiotik


16

yang rasional, artinya antibiotik yang diberikan dapat membasmi

kuman.

Oleh karena penyebab diare terbanyak adalah virus yang tidak

memerlukan antibiotik, maka pengenalan gejala dan pemeriksaan

laboratorius perlu dilakukan untuk menentukan penyebab pasti. Pada

kasus diare akut dan parah, pengobatan suportif didahulukan dan

terkadang tidak membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut kalau kondisi

sudah membaik.

5. Komplikasi

Sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak,

dapat terjadi berbagai macam komplikasi seperti:

a. Dehidrasi (ringan sedang, berat).


b. Renjatan hipovolemik.
c. Hipokalemi (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah,

bradikardia, perubahan pada elektrokardiogram).


d. Hipoglikemia.
e. Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim

laktase karena kerusakan vili mukosa usus halus.


f. Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik.
g. Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah, penderita

juga mengalami kelaparan (FKUI, 2001).

6. Terapi

a. Untuk penderita diare tanpa dehidrasi (mengobati penderita diare

dirumah)
1) Memberikan anak lebih banyak cairan dari pada biasanya untuk

mencegah dehidrasi.
2) Memberikan anak makanan untuk mencegah kurang gizi.
17

3) Meneruskan ASI.
b. Bila anak tidak mendapat ASI berikan susu yang biasa diberikan.

Untuk anak usia kurang dari 6 bulan dan belum mendapat makanan

padat, dapat diberikan susu.


c. Bila anak 6 bulan atau lebih atau telah mendapat makanan padat:

Berikan bubur, bila mungkin dicampur dengan kacangkacangan,

sayur, daging atau ikan.tambahkan 1 atau 2 sendok teh minyak sayur

tiap porsi.
d. Memberikan tablet Zinc.

Dosis Zinc untuk anak-anak :

Anak di bawah umur 6 bulan : 10 mg (1/2 tablet) perhari Anak di

atas umur 6 bulan : 20 mg (1 tablet) perhari Zinc diberikan selama

10 hari berturut-turut, meskipun anak telah sembuh dari diare.

e. Membawa anak kepada petugas kesehatan bila anak tidak membaik

dalam tiga hari atau menderita sebagai berikut:


1) Buang air besar cair lebih sering.
2) Muntah berulang-ulang.
3) Rasa haus yang nyata.
4) Makan atau minum sedikit.
5) Demam.
6) Tinja berdarah
18

BAB III

TINJAUN KASUS ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS AN. NR

DENGAN DIARE DALAM KONTEKS KELUARGA TN. SHN DI RT 01

RW VII KELURAHAN TEMBALANG KECAMATAN TEMBALANG

KABUPATEN KOTA SEMARANG

Pengkajian

A. Data Umum

Nama kepala keluarga : Tn. SHN


Umur : 28 tahun
Agama : Islam
Suku : Jawa, Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Jl. Galang Sewu No.30 RT/RW : I/VII
1. Komposisi anggota keluarga

Hub. Pendidika
No Nama Umur L/P Pekerjaan
Keluarga n
Tn.
1. 28 Th L KK SMA Swasta
SHN
2. Ny. A 31 Th P Isteri SMA SWASTA
7
3. An. N L Anak - -
bulan
19

Genogram

R SHN NRR

NR

2. Tipe Keluarga
a. Jenis tipe keluarga
Termasuk Keluarga inti (Nuclear family) yaitu terdiri dari Ibu dari

Tn, SHN, istri dan anak.


b. Masalah yang terjadi dengan tipe tersebut
Masalah yang terjadi dengan tipe keluarga nuclear family adalah

akan mempercepat penularan penyakit jika salah satu anggota

keluarga menederita penyakit yang sifatnya menular

3. Agama
Agama yang dianut oleh keluarga Tn. SHN adalah agama Islam.

Keluarga Tn. RE biasa melakkan shalat 5 waktu di rumah. Agama

adalah sumber kekuatan keluarga.


4. Suku bangsa (etnis)

a. Tempat tinggal keluarga


20

b. Kegiatan-kegiatan keagamaan, sosial, budaya, rekreasi,

c. pendidikan

d. Kebiasaan diet dan berbusana

e. Struktur kekuasaan keluarga tradisional atau modern

f. Bahasa yang digunakan di rumah

g. Penggunaan jasa-jasa perawatan kesehatan keluarga dan


praktisi
5.
6. Status Sosial Ekonomi Keluarga
Suami dan istri sama-sama bekerja di perkantoran swasta dengan

penghasilan setiap bulannya suami 3000.000 dan istri 3.500.000 yang

mengurus keuangan keluarga adalah istri.


7. Aktifitas rekreasi keluarga
Keluarga menjadikan hari minggu sebagai hari santai dan berekreasi.

Sedangkan untuk rekreasi sehari hari keluarga meluangkan waktu untuk

menonton tv.

B. Riwayat Tahap Perkembangan Keluarga

1. Tahap perkembangan keluarga saat ini


Tahap perkembangan keluarga yaitu keluarga dengan anak usia 7 bulan

di asuh oleh saudara dari istri Tn. SHN.


2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi tidak ada .
3. Riwayat Keluarga Inti

Dalam keluarga, tidak ada riwayat penyakit menular, menahun

dan menurun. Tidak ada riwayat anggota keluarga yang sakit sampai

dirawat dirumah sakit.

4. Riwayat Keluarga Sebelumnya


21

Tn. SHN mengatakan tidak mempunyai penyakit keturunan .

Saat dikaji Tn. SHN dalam keadaan sehat. Begitupun dengan Ny.NR

saat didata dalam keadaan sehat.

An.NR mengalami diare 3 hari dengan konsistensi cair sebanyak

5 kali, dan sudah berobat ke mantri terdekat akan tetapi setelah anak

minum oralit dan obat anak masih tetap mengalami diare dan akhirnya

anak dibawa ke RS karena yang lalu karena alat makan dari anak yang

tidak higienis. Kadang terserang batuk pilek namun segera dapat diatasi.

C. Lingkungan

1. Karakteristik Rumah

Luas rumah yang ditempati ±30 meter/kubik. Rumah terdiri dari


ruang tamu dan ruang keluarga, 3 kamar tidur, dapur, dan kamar mandi.
Dibagian depan rumah terdapat teras. Penataan perabotan rumah terkesan
rapi ventilasi cukup dan penerangan cukup, lantai dari keramik, tembok
permanen, kuat dan dapat melindungi dari suhu dingin maupun gangguan
keamanan yang lain.

a. Denah rumah
8 7
4 2 3

2 1
6
5

Keterangan:
1. Teras 2. Ruang Tamu dan
ruang keluarga
22

3. Warung 6. Kamar tidur


4. Kamar tidur 7. Dapur
5. Kamar Tidur + 8. Kamar mandi
Kamar mandi
2. Karakteristik Tetangga dan Komunitas

Keluarga Tn. SHN tinggal di lingkungan tempat tinggal yang

mempunyai kebiasaan berinteraksi dengan tetangga sekitar. Tetangga di

sekitar rumah Tn.SHN baik dan saling membantu dengan anggota

keluarga yang lain.

3. Mobilitas Geografi Keluarga

Keluarga Tn. SHN sudah menempati rumah sejak tahun 2017

sampai Sekarang. Keluarga Tn. R tinggal bersama ibu mertuanya.


4. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat

Hubungan Tn. SHN dengan tetangga sangat baik, biasanya

mengikuti pertemuan pengajian setiap malam Senin. Hubungan Ny.RE

dengan tetangga juga baik, terbukti bila ada tetangga yang sakit

menjenguk bersama tetangga yang lain. Kegiatan rutin setiap malam

Senin mengikuti pengajian bersama tetangga yang lain.

5. Sistem Pendukung Keluarga

Bila ada salah satu anggota keluarga yang sakit akan saling

memperhatikan dan membantu dalam mendapatkan pelayanan kesehatan

termasuk pekerjaan rumah tangga. Fasilitas penunjang kesehatan yang

dimiliki keluarga masih kurang seperti : tidak mempunyai asuransi

kesehatan, keluarga jarang menabung, tidak terdapat obat P3K dalam

rumah.

D. Struktur Keluarga

1. Pola dan Proses Komunikasi

Hubungan suami istri harmonis, terbukti mereka sangat akrap

dan saling menyayangi. Bila ada masalah selalu dibicarakan bersama

dalam mengambil keputusan yang terbaik.

2. Struktur Kekuatan

Di dalam aktititas sehari-hari keluarga saling perhatian dan

merasakan bahwa mengatasi masalah menjadi tanggun^awab bersama.


3. Struktur Peran

Tn. SHN : Disiplin, tegas dalam mengatur rumah tangga

Ny. RE : Disiplin, berupaya melakukan yang terbaik untuk keluarga,

sabar dalam mendidik anak.

An. NR : anak masih bayi dalam asuhan orang tua yang memberi

kebutuhan dan kasih sayang.

4. Nilai-nilai dan Norma-norma Budaya

Nilai dan norma yang berlaku di keluarga menyesuaikan dengan

nilai agama yang di anut dan norma yang berlaku dilingkungannya.

E. Fungsi Keluarga

1. Fungsi afektif

Keluarga Tn.SHN saling mengasihi, saling mendukung dan

menghargai antar anggota keluarga. Mereka terlihat bahagia, selalu

bersenda gurau apalagi disaat bersama dengan anak- anaknya.

2. Fungsi Sosialisasi

Keluarga Tn.SHN mengajarkan kepada keluarganya untuk hidup

sederhana dan saling tolong menolong dengan sesama.

3. Fungsi perawatan kesehatan

Anak tuan SHN diasuh oleh kerabat dari istri dan saat anak sakit

disebabkan karena alat makan dan minum yang tidak steril atau hygiene

sehingga menyebabkan anak menderita sakit diare.


F. Stress dan Koping Keluarga

1. Stresor Jangka pendek

Stressor jangka pendek yang dirasakan oleh keluarga Tn.SHN

adalah Cemas dengan keadaan An.NR, karena diare yang dialaminya 3

hari yang lalu membuat tn.SHN over proteksi dengan keadaan putranya.

2. Kemampuan keluarga berespon terhadap masalah

Keluarga selalu berantisipasi khususnya pada kesehatan anaknya,

karena takut penyakit yang diderita anaknya sulit teratasi.

3. Strategi koping yang digunakan

Dalam menghadapi suatu permasalahan biasanya keluarga

Tn.SHN saling terbuka dan mendiskusikan dahulu sebelum mengambil

suatu keputusan.

4. Strategi adaptasi disfangsional

Keluarga tidak mempunyai adaptasi disfungsional

5. Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum : Kurang baik

Imunisasi : lengkap

ND : 94x/m

S : 37,3° C

RR : 26x/m

An. NR mengalami diare sejak 3 hari yang lalu. Hari pertama

BAB 8x sehari. Hari kedua dari pagi sampai siang 5x dengan konsistensi

cair. 
G. Harapan Keluarga

Dengan adanya pendidikan kesehatan tentang diare dan PHBS

diharapkan keluarga Tn. SHN mengerti tentang penyakit yang di derita

An.NR dan dapat merubah kebiasaan keluarganya.

Kamis, 27 Juni 2019

Rambu Hamu Meha


ANALISIS DATA

Data Masalah Penyebab


Data Subyektif: Keti dakmampuan Ketidakmampuan
Keluarga Tn. SHN keluarga merawat keluarga memberi
mengatakan An. anggota keluarga yang perawatan pada
NR rewel. Dalam 1 sakit. perubahan yang akan
hari ini BAB 5 kali, terjadi pada status
dan An. NR tidak kesehatan anaknya.
mau disuapi
makanan.
Data Obyektif:
An. N terlihat
lemas, pucat, bibir
kering, turgor kulit
kurang.
ND : 94x/m
S : 37,3 0 C
RR : 26x/m

Prioritas Masalah
1. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.
No Kriteria Perhitungan Skor Pembenaran
1. Sifat masalah 3/3 X 1 1 An. NR mengalami
Tidak/ kurang diare sudah 2 hari ini
sehat dan keluarga merasa
tidak mampu untuk
merawat/ memperbaiki
keadaan anaknya.
2. Kemungkinan 2/2 X 2 = 1 2 Keluarga Tn. SHN
masalah dapat sudah memeriksakan ke
diubah: Mudah kesehatan dan bersedia
menerima saran dari
tenaga kesehatan.
3. Potensial masalah 3/3 X 1 1 Masalah dapat dicegah
dapat dicegah: jika ibu lebih
Tinggi memperhatikan
makanan yang
dikonsumsi anaknya
dan kegiatan anaknya.
4. Menonjolnya 2/2 X 1 = 1 1 Masalah diare jika
masalah Masalah tidak segera ditangani
harus segera akan mengakibatkan
ditangani. dehidrasi berat dan
No Kriteria Perhitungan Skor Pembenaran
membehayakan anak.
Perencanaan Asuhan Kebidanan Komunitas
Diagnosa Tujuan Kriteria evaluasi
N
Keperawata Rencana
o Umum Khusus Kriteria Standar
n
1. An.N sakit Dari data b. Menjelaska a. Knowledd Keluarga 1. Observasi
dengan diare yang n tentang e mengetahui dan adanya
didapat pengertian b. Afektif memahami penyebab
bahwa : diare c. psikomotor tentang resiko resiko
An.N c. Menjelaska yang bisa dehidrasi
terlihat n tentang terjadi pada 2. Gali
lemas, tanda-tanda penyakit diare pengethuan
pucat, diare apabila Keluarga
Bibir d. Menjelaska berkepanjangan mengenai
kering, n tentang . resiko
turgor penyebab dehidrasi
kulit anemia pada 3. Jelaskan
kurang. ibu hamil mengenai
ND:94x/m e. Menjelaska resiko diare
S:36,5°C n tentang yang
RR:26x/m. akibat diare berkepanjan
Setelah f. Menjelaska gan.
dilakukan n tentang 4. Beri
tindakan cara kesempat an
An.N pencegahan kepada
tidak diare keluarga
mengalam g. Menjelaska untuk
i dehidrasi n tentang bertanya.
penanganan
diare

Pelaksanaan Asuhan Kebidanan Komunitas


Diagnosa
No Tujuan Khusus Tanggal Implementasi Evaluasi
Keparawatan
1. An.N sakit a. Menjelaskan 5-7-2018 1. Observasi 5-7-2018
dengan diare tentang Pukul adanya Pukul 10.00
pengertian diare 10.00 penyebab resiko S : Ny. A.
b. Menjelaskan dehidrasi Mengatakan
tentang tanda- 2. Gali mengerti dan tahu
tanda diare pengetahuan kalau menderita
c. Menjelaskan keluarga penyakit diare
tentang mengenai resiko
penyebab dehidrasi. O:
anemia pada ibu 3. Jelaskan S :36,5° C
Diagnosa
No Tujuan Khusus Tanggal Implementasi Evaluasi
Keparawatan
hamil mengenai resiko An. N sudah tidak
d. Menjelaskan penyakit diare diare.
tentang akibat berkepanja ngan Ny.A dapat
diare pada balita. menjelaskan
e. Menjelaskan 4. Beri kesempatan kembali resiko
tentang cara kepada keluarga dehidrasi.
pencegahan untuk bertanya. Ny. A bersedia
diare memeriksakan
f. Menjelaskan anaknya jika ada
tentang keluhan.
penanganan Ny. A bersedia
diare membujuk anaknya
minum obat
A : Masalah
teratasi
P : Modifikasi
Intervensi
1. Mengajarkan
ibu membuat
oralit.
2. Menganjurkan
keluarga untuk
memantau
kesehatan An. N
BAB IV

PEMBAHASAN

i. Pengkajian

Dalam pengkajian keluarga dengan salah satu anggota keluarga

menderita penyakit diare. Penulis mendapatkan data bahwa anggota keluarga

memiliki status pendidikan tinggi. Buktinya Tn. SHN dan Ny. RE lulusan

SMA. Akan tetapi Ny. RE merasa khawatir dengan diare yang dialami

anaknya karena Ny. RE belum pengalaman mengurus anak sakit, An. NR

adalah anak^ pertama ini dan diare An. NR ini sudah berlangsung 2 hari.

Tidak ada masalah yang berarti berhubungan dengan status ekonomi kelarga

Tn. SHN dalam mengatasi masalah kesehatan keluarganya.

Pada asuhan kebidanan keluarga dengan salah satu anggota keluarga

yang menderita Diare, tahap evaluasi dilaksanakan berdasarkan rencana yang

telah disusun belumnya Penulis tidak menemui kesenjangan yang berati dalam

kasus ini.

ii. Interpretasi Data

Setelah dilakukan pengkajian data subyektif'dan obyektif dilajutkan

dengan langkah inter^etas‫ ؛‬data. Pada langkah interpretasi data ini didapatkan

diagnosa kebidanan sesuai hasil pengkajian yang telah dilaksanakan. Sesuai

hasil pengkajian penulis dapat membuat diagnosa pada keluarga Tn. SHN

yakni pada An.NR dengan diare.


iii. Identifikasi Diagnosa Masalah Potensial

Dari hasil pengkajian dan interpretasi data, penulis menemukan

masalah potensial yaitu dehidrasi sehingga harus banyak diberikan rehidrasi

cairan.

iv. Antisipasi Kebutuhan Tindakan Segera

Tindakan segera yaitu dengan memberikan rehidrasi cairan dan

memberikan oralit pada anak serta memenuhi kebutuhan cairan anak.

v. Intervensi

Sesuai kasus yang terjadi pada An.NR pada intervensi ini,:

1. Berikan penyuluhan kepada orang tua tentang diare pada anak


2. Berikan penyuluhan kepada orang tua tentang bahaya diare
3. Anjurkan orang tua untuk memberikan oralit dan rehidrasi cairan
4. Berikan ibu penjelasan tentang tanda-tanda diare

vi. Implementasi

Penulis telah meyusun beberapa intervensi, makannya penulis

mengimplementasikan intervensi tersebut kepada keluarga Tn R pada hari

Kamis, tanggal 27 Juni 2019 pukul 10.00 WIB. Pelaksanaan asuhan

menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada intervensi. Perencanaan ini bisa

dilakukan seluruhnya oleh bidan atau tenaga kesehatan lainnya. Pada An.NR

implementasi yang dilakukan oleh penulis adalah memberikan penyuluhan

temtang diare pada anak.

vii. Evaluasi

Setelah dilakukan enam langkah asuhan kebidanan hingga

implementasi, didapatkan evaluasi dari kegiatan implentasi yang dilakukan.


Dari hasil wawancara pada proses pengkajian pada 27 Juni 2019 dan

implementasi pada 27 Juni 2019 didapatkan bahwa masalah yang mendukung

munculnya permasalah tersebut adalah kondisi tingkat pengetahuan keluarga

Tn.SHN. Dari hasil penilaian penulis, bahwa pengetahuan ibu tentang diare

pada anak dan penangannya sudah baik, ibu mulai mengerti tentang diare pada

anak.
CATATAN HASIL KEBIDANAN KELUARGA

No Diagnosa Inplementasi Evaluasi Waktu


1. Kurangnya TUK S : Keluarga mengerti Tgl 27 Juni
pengetahuan ibu a. Menjelaskan tentang dan memahami 2019 Jam
tentang diare pada pengertian diare tentang apa yang 10.00-10.30
anak b. Menjelaskan tentang telah dijelaskan oleh
tanda-tanda diare tenaga kesehatan
c. Menjelaskan tentang O: Keluarga terlihat
penyebab anemia pada kooperatif terhadap
ibu hamil penjelasan yang
d. Menjelaskan tentang diberikan oleh
akibat diare tenaga kesehatan
e. Menjelaskan tentang A: Kurangnya
cara pencegahan diare pengetahuan tentang
f. Menjelaskan tentang diare pada anak
penanganan diare P : Mengadakan
kunjungan rumah 1
minggu lagi
2. Kurangnya S : KeluargaTn.R selalu Tgl 27 Juni
pengetahuan ibu membantu Ny.A 2019
tentang diare pada untuk merawat Jam 10.00-
anak anaknya 10.30
O: Keluarga terlihat
bahagia dengan
penjelasan tentang
diare pada anak
A: Masalah teratasi
P : Melimpahkan ke
bidan desa untuk
membantu
mengontrol An. N
BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Dari hasil pengkajian kasus pada keluarga Tn. SHN ditemukan

masalah berupa adanya anggota keluarga yang sakit diare yaitu An NR. Orang

tua merasa cemas dan tidak mampu merawat An. NR


Intervensi kesehatan telah terlaksana dengan baik yaitu memberikan

penyuluhan tentang penyakit diare dan penanganan diare pada balita.

Berdasarkan evaluasi dan respon hasil selama melakukan tindakan semua

masalah dapat teratasi sesuai tujuan yang ingin dicapai.

B. Saran

1. Bagi keluarga

Tn. SHN dan Ny. RE hendaknya lebih memperhatikan alat makan

yang digunakan lebih bersih dan steril khusus untuk botol susu agar

diperhatikan pada saat mencuci dan mensterilkan dengan menggunakan air

panas dan memilah makanan yang baik untuk kesehatan pencernaan

anaknya.

2. Bagi tenaga kesehatan

Sebaiknya tenaga kesehatan lebih teliti dalam memberikan

pelayanan kesehatan yang menyeluruh sehingga dapat meningkatkan

derajat kesehatan masyarakat maupun perorangan.


DAFTAR PUSTAKA

Brunner / Suddarth. 2000. Medical Surgical Nursing. JB Lippincot Company


Philadelphia

Donna L.Wong, dkk.2002.Buku Ajar Leperawatan Pediatrikis. Ed.6.Jakarta :


EGC

Donna. 2005. Medical Surgical Nursing. WB : Saunders

Wong, Dona L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. ECG. Jakarta.


SATUAN ACARA PEMBELAJARAN DIARE

A. Identitas Mata Ajar


Pokok Bahasa : Diare
Sasaran : keluarga Tn.R
Hari/Tanggal : Kamis, 27 Juni 2019
Tempat : Rumah Tn.SHN
Petugas : Rambu Hamu Meha

B. Tujuan Pembelajaran Tentang Diare


1. Tujuan Umum
Setelah akhir dari pembelajam para peserta mampu memahami
tentang diare dan tata cara penanganan yang benar.
2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti proses pembelajaran kurang lebih selama 20
menit, peserta mampu:
a. Menjelaskan tentang diare.
b. Mampu menyebutkan faktor penyebab diare.
c. Menjelaskan penatalaksanaan diare.
C. Metode
1. Ceramah tentang diare
2. Diskusi dan Tanya Jawab
D. Media
Leaflet
E. Materi Pendidikan kesehatan
(terlampir)
F. Proses kegiatan Penyuluhan
No Kegiatan Respon Waktu
Pendahuluan:
a. Memberi salam
Membalas salam
pembuka dan
1. Mendengarkan 10 menit
perkenalan diri
Memberi respon
b. Menjelaskan tujuan
c. Kontrak waktu
Penjelasan :
a. Pengertian diare
b. Penyebab diare
Mendengarkan dengan
2. c. T anda-tanda gejala 20 Menit
penuh perhatian
diare
d. Cara pencegahan diare
e. Cara perawatan diare
Penutup:
a. Tanya jawab Menanyakan hal yang
b. Menyimpulkan hasil belum jelas Aktif bersama
3. 10 Menit
penyuluhan menyimpulkan Membalas
c. Memberikan salam salam
penutup

G. Evaluasi
Mengajukan pertanyaan lisan
Test awal
a. Apa yang dimaksud dengan diare?
Tes akhir
a. Apa saja tanda gejala diare?
b. Bagaimana cara perawatan diare?
DIARE

A. Pengertian
Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada
bayi dan lebih dari 3 kali pada anak-anak, konsistensi feses encer, dapat
berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau dapat pula
lendir saja. Diare dapat disebabkan oleh berbagi infeksi, selain penyebab lain
selain malabsorbsi.

B. Penyebab Diare Dapat dibagi dalam Beberapa Faktor


1. Faktor Infeksi
a. Infeksi internal: infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan
penyebab utama diare pada anak. Meliputi infeksi internal sebagai
berikut:
1) Infeksi bakteri: Vibrio, E. coli, Salmonella, Shigella,
Campylobakter.
2) Infeksi virus: Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus.
3) Infeksi parasit: Cacing (Ascaris, Trichuris), Protozoa (Entamuba
histolityka, Giardia lamblia).
b. Infeksi parenteral ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti:
otitis media akut (OMA),tonsillitis,ensefalitis dsb. Keadaan ini terutama
terjadi pada bayi dan anak berumur dibaawah 2 tahun.
2. Faktor Malabsorbsi
a. Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktos,maltosa dan
sukrosa)
b. Malabsorbsi lemak
c. Malabsorbsi protein
3. Faktor Makanan
Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan tertentu.
4. Faktor Psikologis
Rasa takut dan cemas
C. Patogenesis
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah:
1. Gangguan osmotic
Akibat terdapat makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meninggi sehingga
terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus
yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga
timbul diare.
2. Gangguan sekresi.
Akibat rangsangan tertentu (misal toksin) pada dinding usus akan
terjkadi peningkatan sekresi, air dan eletrolit kedalam rongga usus dan
selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
3. Gangguan motilitas usus.
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan
usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila
peristaltic menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan,
selanjutnya timbul diare pula.
D. Tanda-tanda diare
1. Penderita cemas dan gelisah diawali dengan suhu tubuh meningkat.
2. Nafsu makan menurun.
3. Buang air besar lebih dari 3-4 kali.
4. Feses cair atau kehijau-hijauan
5. Muntah sebelum atau selama diare.
6. berat badan menurun.
E. Komplikasi Diare.
Akibat diare, kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat
terjadi berbagai komplikasi sebagai berikut.
1. Dehidrasi.
2. Renjatan hipovolemik.
3. Hipokalemia.
4. Kejang.
F. Penatalaksanaan
1. Medik
Dasar pengobatan diare adalah Pemberian cairan
2. Dietetik.
3. Obat obatan
Pemberian Cairan
Pemberian cairan pada pasien diare dengan memperhatikan derajat
dehidrasinya dan keadaaan umum.
a. Cairan peroral: Pada pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang cairan
diberikan peroral berupa cairan yang berisikan NaCl dan NaHC03,
KCL,dan glukosa .Untuk diare akut dan kolera pada anak diatas umur 6
bulan kadar natrim diatas 90 mEq/L. Formula lenkap sering disebut oralit.
Cairan sederhan yang sering dibut sendiri (formula tidak lengkap) hanya
mengandung garam dan gula, untuk pengobatan sementara dirumah
sebelum dibawa ke rumah sakit atau puskesmas untuk mendapat
pengobatan selanjutnya untuk mencegah dehidrasi lebih jauh.
b. Cairan Parenteral: Sebenarnya ada beberapa jenis cairan yang diperlukan
sesuai dengan kebutuhan pasien misalnya untuk bayi atau pasien yang
MEP. Tetapi kesemuanya itu bergantung tersedianya cairan setempat. Pada
umumnya cairan Ringer Laktat (RL) selalu tersedia di fasilitas kesehatan
dimana saja. Mengenai pemberian cairan seberapa banyak yang diberikan
tergantung dari derajat dehidrasi, yang diperhitungkan dengan kehilangan
cairan sesuai dengan umur dan berat badan.