Anda di halaman 1dari 12

1

PEMBAHASAN

1. Pembangunan Daerah dan Otonomi


1.1 Pembangunan Daerah
Pembangunan Daerah merupakan suatu usaha yang sistematik dari berbagai
pelaku, baik umum, pemerintah, swasta, maupun kelompok masyarakat lainnya pada
tingkatan yang berbeda untuk menghadapi saling ketergantungan dan keterkaitan aspek
fisik, sosial ekonomi dan aspek lingkungan lainnya sehingga peluang baru untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah dapat ditangkap secara berkelanjutan.
1.2 Otonomi Daerah
Otonomi daerah pada dasarnya merupakan upaya untuk mewujudkan tercapainya salah
satu tujuan negara, yaitu peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemerataan
pelaksanaan pembangunan dan hasil-hasilnya. Daerah memilki kewenangan membuat
kebijakan daerahnya untuk memberi pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa dan
pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat
sesuai dengan peraturan dan undang-undang. Tujuan pemberian otonomi daerah yaitu
untuk memungkinkan daerah yang bersangkutan mengatur dan mengurus rumah
tangganya sendiri untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan.
Sejak ketetapan MPR No. XXI Tahun 1966 Prinsip dalam otonomi daerah bersifat
seluas-luasnya dan kemudian berkembang menjadi otonomi daerah yang luas, nyata
dan beranggung jawab.
Kebijakan mengenai otonomi daerah tentunya diiringi dengan adanya asas-asas
yang menjadi dasar bagi pelaksanaan otonomi daerah. Adapun asas-asas itu yang
pertama adalah desentralisasi. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang, dan
penugasan dari pemerintah pusat kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus
urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kedua, yaitu dekonsentrasi yang merupakan pelimpahan wewenang pemerintahan oleh
pemerintah pusat kepada Gubernut sebagai wakil pemerinah dan/atau kepada instansi
vertical di wilayah tertentu. Yang terakhir adalah tugas pembantuan, yaitu penugasan
dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dan/atau desa, dari pemerintah
provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa, serta dari pemerintah kabupaten/kota
kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu yang bersifat fisik
1.3 Hubungan Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah
Adanya otonomi daerah dapat membantu dalam memaksimalkan pembangunan
dari setiap daerah yang ada di Indonesia. Karena dengan adanya kewenangan
pemerintah daerah melalui otonomi daerah tersebut, maka pemerintah daerah memiliki
kesempatan lebih luas untuk memperbaiki kondisi pelayanan publik, perkembangan
perekonomian daerah, serta dalam menggembangkan berbagai terobosan baru dalam
pengelolaan pemerintah. Daerah-daerah semakin memiliki kebebasan untuk
mengembangkan wilayahnya sesuai kebutuhan masyarakat lokal. Kebijakan otonomi
daerah yang bertujuan untuk pemberdayaan kapasitas daerah akan memberikan
kesempatan bagi daerah dalam mengembangkan dan meningkatkan perekonomiannya.

2
Peningkatan dan pertumbuhan perekonomian daerah akan membawa pengaruh yang
signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah

2. Otonomi Provinsi dan Kabupaten


Beberapa hal yang sangat mendasar dalam penyelenggaraan otonomi daerah
dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999, adalah pentingnya pemberdayaan
masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreativitas mereka secara aktif. Oleh
karena itu, dalam Undang-undang ini otonomi daerah diletakkan secara utuh pada
daerah otonom yang lebih dekat dengan masyarakat, yaitu daerah yang selama ini
berkedudukan sebagai Daerah Tingkat II, yang disebut Daerah Kabupaten dan
Daerah Kota. Daerah Kabupaten dan Kota berkedudukan sebagai Daerah Otonom
mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan
kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat. Otonomi daerah yang luas
pada daerah Kabupaten/Kota dengan hanya berasaskan desentralisasi.
Kewenangan otonomi kepada daerah Kabupaten/Kota yang didasarkan pada asas
desentralisasi diwujudkan dalam bentuk otonomi yang luas, nyata, dan bertanggung
jawab.
Sedangkan yang selama ini disebut Daerah Tingkat I atau yang setingkat,
diganti menjadi daerah provinsi dilaksanakan otonomi daerah yang terbatas dengan
berasaskan desentralisasi dan dekonsentrasi yang meliputi kewenangan lintas
Kabupaten/Kota, dan kewenangan yang tidak atau belum dilaksanakan oleh daerah
Kabupaten/Kota, serta kewenangan bidang pemerintahan tertentu lainnya.
Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada daerah Provinsi dalam kedudukannya
sebagai wilayah administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu
yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah.
Daerah Provinsi tidak membawahkan daerah Kabupaten/Kota, tetapi dalam
praktek penyelenggaraan pemerintahan terdapat hubungan koordinasi, kerja sama,
dan/atau kemitraan dengan Daerah Kabupaten/Kota dalam kedudukan masing-masing
sebagai Daerah Otonom. Sementara itu, dalam kedudukan sebagai Wilayah
Administrasi, Gubernur selaku wakil Pemerintah melakukan hubungan pembinaan
dan pengawasan terhadap Daerah Kabupaten/Kota.

3. Prinsip Pembiayaan Pemerintah Daerah


1. Dana Cadangan
Dana Cadangan adalah dana yang dibentuk guna membiayai kebutuhan dana
yang tidak dapat dibebankan dalam satu tahun anggaran. Dana Cadangan dibentuk
untuk suatu tujuan tertentu secara spesifik. Pembentukan Dana Cadangan
menggunakan rekening terpisah dari rekening kas daerah (Pembiayaan-Transfer ke
Dana Cadangan).
Penggunaan Dana Cadangan harus sesuai tujuan yang telah ditetapan
Pemerintah daerah dapat membentuk dana cadangan guna mendanai kegiatan yang
penyediaan dananya tidak dapat sekaligus/sepenuhnya dibebankan dalam satu
tahun anggaran. Pembentukan dana cadangan ditetapkan dengan peraturan daerah.
Peraturan daerah mencakup penetapan tujuan pembentukan dana cadangan,

3
program dan kegiatan yang akan dibiayai dari dana cadangan, besaran dan rincian
tahunan dana cadangan yang harus dianggarkan dan ditransfer ke rekening dana
cadangan, sumber dana cadangan dan tahun anggaran pelaksanaan dana cadangan.
2. Sumber Pendanaan Dana Cadangan
Pembentukan Dana Cadangan Daerah bersumber dari kontribusi tahunan
penerimaan APBD, kecuali dari Dana Alokasi Khusus, Pinjaman Daerah dan Dana
Darurat yang berasal dari Pemerintah. Dengan demikian, pemenuhannya bersumber
dari Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), dan
Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak.
Sumber pendanaan ini sama dengan sumber pendanaan untuk belanja
operasional (recurrent expenditures) sehingga menimbulkan terjadinya persaingan
yang lebih ketat dalam mengalokasikan sumberdaya yang terbatas. Pemda belum
diberikan kewenangan untuk menggunakan “kebijakan fiskal” seperti kebijakan
pajak dan retribusi untuk mendanai program/kegiatan tertentu seperti halnya di
negara2 maju. Secara faktual, kebijakan pajak bumi dan bangunan (PBB) masih
ditangani oleh Pusat, meskipun sesungguhnya sangat potensial bagi pembangunan
daerah.
Harus pula dipahami bahwa dana cadangan tidak boleh dibentuk dari pinjaman
daerah. Hal ini tersirat dari pengertian dan tujuan ditariknya pinjaman daerah, yakni
untuk mendanai program dan kegiatan berupa investasi yang menghasilkan aliran
kas masuk (cash inflow) dan digunakan nantinya untuk pelayanan publik. Aliran
kas masuk ini nantinya digunakan untuk mendanai pembayaran pokok pinjaman
dan bunga dari pinjaman yang bersangkutan.
3. Pengelolaan Dana Cadangan
Dana cadangan haruslah dikelola dengan baik, sehingga selama masa
“penumpukkan” sampai saat dinilai cukup untuk digunakan dapat lebih produktif.
Dalam hal ini, kebijakan harus diarahkan pada upaya memberdayakan “idle money”
dalam bentuk dana cadangan.
Batasan tegas untuk pengelolaan dana cadangan ini adalah bahwa dana tersebut
tidak boleh digunakan untuk tujuan selain yang telah ditetapkan dalam Perda
tentang Pembentukan Dana Cadangan. Pengertian dari kata “digunakan” adalah
dijadikan sebagai input (masukan) untuk aktifitas di SKPD/SKPKD Pemda.
Jika dana cadangan belum digunakan maka dapat “diberdayakan” untuk
memperoleh hasil (return) berupa bunga atau dividen. Misalnya, diinvestasikan
dalam bentuk deposito, SBI, atau SUN. Namun, hasil yang diperoleh haruslah
dimasukkan ke dalam rekening dana cadangan sebagai penambah dana cadangan
tersebut.
4. Pelaksanaan Program dan Kegiatan yang Dibiayai dengan Dana Cadangan
Program/kegiatan yang didanai dari dana cadangan pada prinsipnya
diperlakukan sama dengan program/kegiatan lainnya. Proses perencanaannya
dimulai dengan mencantumkan nama program/kegiatan dalam rencana kerja
(Renja) dan RKA SKPD, lalu dicantumkan dalam PPAS dan RAPBD, dan akhirnya
ditetapkan dalam Perda APBD.

4
Setelah Perda APBD ditetapkan, maka SKPD membuat DPA dan Anggaran Kas
SKPD yang memuat rencana pelaksanaan dan pencairan dana untuk
program/kegiatan yang nantinya akan didanai dari APBD. Namun, SKPD tidak
perlu mencantum sumber pendanaannya dari dana cadangan.
Pencairan dana cadangan digunakan untuk menganggarkan pencairan dana
cadangan dari rekening dana cadangan ke rekening kas umum daerah dalam tahun
anggaran berkenaan. Jumlah yang dianggarkan yaitu sesuai dengan jumlah yang
telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang pembentukan dana cadangan
berkenaan. Penggunaan atas dana cadangan yang dicairkan dari rekening dana
cadangan ke rekening kas umum daerah dianggarkan dalam belanja langsung SKPD
pengguna dana cadangan berkenaan, kecuali diatur tersendiri dalam peraturan
perundang-undangan.

4. Sumber-sumber Pendapatan Daerah


Penerimaan daerah dalam pelaksanan desentralisasi terdiri atas pendapatan daerah dan
pembiayaan. Pendapatan satu daerah terdiri dari pendapatan asli daerah, dana
perimbangan dan lain-lain pendapatan, sedangkan pembiayaan bisa bersumber dari:
sisa lebih perhitungan anggaran daerah, dan hasil penjualan kekayaan daerah yang
dipisahkan. Pembiayaan selanjutnya meliputi masing-masing komponen dari
pendapatan daerah dan sumber pembiayaan daerah yang berasal dari pinjaman.
1) Pendapatan Asli Daerah (PAD).
PAD bersumber dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan
daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah (yang
meliputi hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan,jasa giro,
pendapatan bunga, keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing
dan komisi , potongan , ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penujualan dan/atau
pengadaan barang dan/jasa oleh daerah). Dalam upaya meningkatkan PAD
pemerintah daerah dilarang menetapkan peraturan tentang pendapatan yang
menghambat mobilitas penduduk, lalu lintas barang dan jasa antar daerah, dan
kegiatan impor/ekspor sehingga menyebabkan ekonomi biaya tinggi. Ketentuan
mengenai pajak daerah retribusi daerah, dan hasil pengelolaan kekayaan daerah
yang dipisahkan dilaksanaakn sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
2) Dana Perimbangan
a. Dana bagi hasil
Dana ini bersumber dari pajak dan sumber daya alam. Dana bagi hasil yang
bersumber dari pajak terdiri atas Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) ,Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), dan Pajak Penghasilan
(PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh
Pasal 21 dibagi antara pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Sedangkan dana
bagi hasil dari sumber daya alam yang berasal dari: kehutanan, pertambangan
umum, perikanan, pertambangan minyak bumi, pertambangan gas bumi, dan
pertambangan panas bumi.

5
Tabel 1. Pembagian Dana Bagi Hasil dari Pajak Antar Pemerintah

Sumber: UU No. 33 Tahun 2004 Pasal 12 dan 13

Tabel 2. Pembagian Dana Bagi Hasil dari Sumber Daya Alam antar Pemerintah

Sumber: UU No.33 Tahun 2004, Pasal 14-Pasal 26

6
b. Dana Alaokasi Umum (DAU)
Jumlah DAU keseluruhan ditentukan sekurang-kurangnya 26% dari
pendapatan dalam negeri neto yang ditetapkan dalam APBN. Jumlah ini adalah
untuk seluruh provinsi dan seluruh kabupaten/kota. Dasar untuk menentukan
berapa jumlah DAU yang diterima oleh satu daerah (provinsi,kabupaten/kota)
adalah apa yang disebut celah fiskal dan alokasi dasar. Celah fiskal adalah
kebutuhan fiskal dikurangi dengan kapasitas fiskal, sedangkan alokasi dasar
dihitung berdasarkan jumlah gaji Pegawai negeri Sipil daerah. Kebutuhan fiskal
daerah merupakan kebutuhan pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi
layanan dasar umum. Setiap kebutuhan pendanaan diukur secara berturut-turut
dengan jumlah penduduk, luas wilayah indeks kelemahan konstruksi, produk
domestik regional bruto per kapita, dan indeks pembangunan manusia.
Kapasitas fiskal daerah merupakan sumber pendanaan daerah yang berasal dari
PAD dan dana bagi hasil.
Proporsi DAU antar daerah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan
berdasarkan rasio kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota. DAU atas
dasar celah fiskal untuk satu daerah provinsi dihitung berdasarkan perkalian
bobot daerah provinsi yang bersangkutan dengan jumlah DAU seluruh daerah
provinsi. Bobot daerah provinsi merupakan perbandingan antara celah fiskal
daerah provinsi yang bersangkutan dan total celah fiskal seluruh daerah
provinsi. Perhitungan yang sama berlaku juga untuk daerah kabupaten/kota.
Daerah yang meiliki nilai celah fiskal sama dengan nol (kebutuhan fiskalnya-
kapasitas fiskalnya) menerima DAU sebesar alokasi dasar. Daerah yang
memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut lebih kecil dari
alokasi dasar menerima DAU sebesar alokasi dasar setelah dikurangi nilai celah
fiskal. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut
sama atau lebih besar dari alokasi dasar tidak menerima DAU.
Kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal dihitung dengan memakai data
yang diperoleh dari lembaga statistik pemerintah dan/atau lembaga pemerintah
yang berwenang menerbitkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pemerintah merumuskan formula dan perhitungan DAU dengan
memperhatikan pertimbangan dewan yang bertugas memberikan saran dan
pertimbangan terhadap kebijakan otonomi daerah. Hasil perhitungan DAU per
provinsi, kabupaten dan kota ditetapkan dengan keputusan presiden dan
disalurkan setiap bulan sebelum bulan bersangkutan, masing-masing sebesar
1/12 (satu per dua belas) dari DAU daerah yang bersangkutan.
c. Dana Alokasi Khusus (DAK)
DAK dialokasikan kepada daerah tertentu yang ditetapkan setiap tahun
dalam APBN untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah
dan sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dalam APBN. Pemerintah pusat
menetapkan kriteria DAK yang meliputi kriteria umum, kriteria khusus, dan
kriteria teknis. Kriteria umum ditetapkan dengan mempertimbangkan
kemanapun keuangan daerah dalam APBD. Kriteria khusus ditetapkan dengan
memperhatikan peraturan perundang-undangan dan karakteristik daerah, dan

7
kriteria teknis ditetapkan oleh kementerian Negara/departemen teknis. Daerah
penerima DAK wajib menyediakan dana pendamping sekurang-kurangnya 10%
(sepuluh persen) dari alokasi DAK. Dana pendamping tersebut dianggarkan
dalam APBD. Daerah dengan kemampuan fiskal tertentu tidak diwajibkan
menyediakan dana pendamping.
3) Lain-lain pendapatan
Lain-lain pendapatan terdiri atas pendapatan hibah dan pendapatan dana
darurat. Pendapatan hibah merupakan bantuan yang tidak mengikat. Hibah kepada
daerah yang bersumber dari luar negeri dilakukan melalui pemerintah pusat. Hibah
dituangkan dalam satu naskah perjanjian antara pemerintah daerah dan pemberi
hibah. Hibah digunakan sesuai dengan naskah perjanjian. Tata cara pemberian,
penerimaan dan pengunaan hibah baik dari dalam negeri maupun luar negeri diatur
dengan peraturan pemerintah.
Pemerintah mengalokasikan dana darurat yang berasal dari APBN untuk
keperluan mendesak yang diakibatkan oleh bencana nasional dan/atau peristiwa
luar biasa yang tidak dapat ditanggulangi oleh daerah dengan menggunakan sumber
APBD. Keadaan yang dapat digolongkan sebagai bencana nasional dan/atau
peristiwa luar biasa ditetapkan oleh presiden. Pemerintah dapat mengalokasikan
dana darurat pada daerah yang dinyatakan mengalami krisis solvabilitas. Daerah
dinyatakan mengalami krisis solvabilitas berdasarkan evaluasi pemerintah sesuai
peraturan perundang-undangan. Krisis solvabilitas ditetapkan oleh pemerintah
setelah berkonsultasi dengan DPR.

5. Pinjaman Daerah
Pinjaman daerah adalah semua transaksi yang mengakibatkan pemerintah daerah
menerima sejumlah uang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain
sehingga pemerintah daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar
kembali.pemerintah pusat yang dalam hal ini Menteri Keuangan menetapkan batas
maksimal kumulatif pinjaman pemerintah dan pemerintah daerah dengan
memperhatikan hal-hal berikut:
a. Keadaan dan perkiraan perkembangan perekonomian nasional,
b. Tidak melebihi 60% (enam puluh persen) dari Produk Domestik Bruto tahun
bersangkutan.
Penetuan batas maksimum tersebut dilakukan selambat-lambatnya bulan Agustus
untuk tahun anggaran berikutnya, dan harus sesuai dengan peraturan perundang-
undangan. Daerah tidak dapat melakukan pinjaman langsung kepada pihak luar negeri,
dan pelanggaran terhadapnya dikenakan sanksi administrative berupa penundaan
dan/atau pemotongan atas penyaluran dana perimbangan oleh Menteri Keuangan.
Pinjaman daerah dapat bersumber dari pemerintah pusat, pemerintah daerah lain,
lembaga keuangan bank dan nonbank, serta masyarakat. Pinjaman daerah yang
bersumber dari pemerintah pusat dananya biasanya dari dalam negeri atau dari luar
negeri. Pinjaman pemerintah pusat yang dananya berasal dari luar negeri dapat
dinyatakan dalam mata uang rupiah atau mata uang asing melalui perjanjian penerusan
pinjaman kepada pemerintah daerah antara Menteri Keuangan dan Kepala Daerah yang

8
bersangkutan. Pinjaman daerah yang berasal dari pemerintah daerah lainnya, lembaga
keuangan bank dan bukan bank dapat dilaksanakan berdasarkan kesepakatan kedua
belah pihak, sedangkan yang bersumber dari masyarakat berupa obligasi daerah
diterbitkan melalui pasar modal. Pinjaman daerah mungkin berupa:
a. Pinjaman jangka pendek, yang merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu
kurang atau sama dengan satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali
pinjaman yang meliputi pokok pinjaman, bunga dan biaya lain seluruhnya harus
dilunasi dalam tahun anggaran yang bersangkutan
b. Pinjaman jangka menengah, yang merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu
lebih dari satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembalipinjaman yang
meliputi pokok pinjaman, bunga dan biaya lain harus dilunasi dalam kurun waktu
yang tidak melebihi sisa masa jabatan kepala daerah yang bersangkutan.
c. Pinjaman jangka panjang, merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu lebih
dari satu tahun anggarandan kewajiban pembayaran kembali pinjaman yang
meliputi pokkok pinjaman, bunga dan biaya lain harus dilunasi pada tahun-tahun
anggaran berikutnya sesuai dengan persyaratan perjanjian pinjaman yang
bersangkutan.
Pemerintah daerah yang ingin mendapatkan pinjaman harus memperhatikan beberapa
ketentuan dan persyaratan, yakni:
a. Pendapatan daerah dan/atau barang milik daerah, serta pinjaman dari pihak
laintidak boleh dipakai sebagai jaminan;
b. Pemerintah daerah yang bersangkutan tidak mempunyai tunggakan atas
pengembalian pinjaman yang bersal dari pemerintah pusat;
c. Juml;ah sisa pinjaman daerah ditambah jumlah pinjaman yang akan ditarik tidak
melebihi 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah penerimaan umum APBD
tahun sebelumnya;
d. Rasio kemampuan pemerintah daerah untuk mengembalikan ditetapkan oleh
pemerintah pusat; dan obligasi daerah.
Penerbitan obligasi daerah ditetapkan dengan peraturan daerah, dimana ditentukan
bahwa kepala daerah terlebih dahulu harus mendapatkan persetujuan DPRD dan dari
pemerintah pusat. Penerbitan obligasi daerah wajib mengikuti peraturan perundang-
undangan di bidang pasar modal, yang antara lain harus mencantumkan:
a. Nilai nominal;
b. Tanggal jatuh tempo;
c. Tanggal pembayaran bunga;
d. Tingkat bunga(kupon);
e. Frekuensi pembayaran bunga;
f. Cara perhitungan pembayaran bunga;
g. Ketentuan tentang hak untuk membeli embali obligasi daerah sebelum jatuh tempo;
dan
h. Ketentuan tentang pengalihan kepemilikan.
Pengelolaan obligasi daerah diselenggarakan oleh kepala daerah yang sekurang-
kurangnya meliputi:

9
a. Penetapan strategi dan kebijakan pengelolaan obligasi daerah termasuk kebijakan
pengendalian risiko;
b. Perencanaan dan penetapan struktur portofolio pinjaman daerah;
c. Penerbitan obligasi daerah;
d. Penjualan obligasi daerah melalui lelang;
e. Pembelian kembali obligasi daerah sebelum jatuh tempo;
f. Pelunasan pada saat jatuh tempo; dan
g. Pertanggungjawaban.
Seluruh kewajiban pinjaman daerah yang jatuh tempo wajib dianggarkan dalam APBD
tahun anggaran yang bersangkutan dan pemerintah daerah wajib melaporkan posisi
kumulatif pinjaman dan kewajiban pinjaman kepada pemerintah pusat setiap semester
dalam tahun anggaran berjalan.

10
PENUTUP

1. Kesimpulan
Kebijakan otonomi daerah yang bertujuan untuk pemberdayaan kapasitas
daerah akan memberikan kesempatan bagi daerah untuk mengembangkan dan
meningkatkan perekonomiannya. Peningkatan dan pertumbuhan perekonomian daerah
akan membawa pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat di
daerah.Perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah merupakan
subsistem keuangan Negara sebagai konsekuensi pembagian tugas di antara kedua
tingkat pemerintahan. Pemberian sumber keuangan Negara kepada pemerintahan
daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi didasarkan atas penyerahan tugas oleh
pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dengan memperlihatkan stabilitas dan
keseimbangan fiscal. Penerimaan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi terdiri atas
pendapatan daerah dan pembiayaan. Pendapatan suatu daerah terdiri dari pendapatan
asli daerah, dana perimbangan, dan lain-lain pendapatan, sedangkan pembiayaannya
bisa bersumber dari sisa lebih perhitungan anggaran daerah, penerimaan pinjaman
daerah, dana cadangan daerah, dan hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan.
Dengan adanya hal ini diharapkan pembangunan di daerah-daerah akan semakin
meningkat dan mampu mensejahterakan rakyat.

11
Daftar Pustaka

Nehen, Ketut. 2016. Perekonomian Indonesia. Denpasar: Udayana University Press.


Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 Yang Mengatur Tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah

12