Anda di halaman 1dari 3

Negara Republik Indonesia sebagai Negara Kesatuan dalam penyelenggaraan

pemerintahannya menganut asas desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan.


Otonomi daerah yang luas pada daerah kabupaten/kota dengan hanya berasaskan
desentralisasi. Sedangkan di Provinsi dilaksanakan otonomi daerah yang terbatas dengan
berasaskan desentralisasi dan dekonsentrasi. Provinsi mempunyai kedudukan sebagai
daerah otonom sekaligus wilayah administrasi. Kewenangan Provinsi sebagai daerah
otonom mencakup kewenangan dalam bidang pemerintah yang bersifat lintas
kabupaten/kota serta kewenangan bidang tertentu lainnya dan kewenangan provinsi
sebagai wilayah administrasi mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang
dilimpahkan kepada gubernur selaku wakil pemerintah. Sedangkan daerah otonom
berwenang untuk melaksanakan tugas desentralisasi yang diarahkan pada fungsi
penyelenggaraan urusan rumah tangga daerah, perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan daerah, peningkatan efisiensi pelayanan kepada masyarakat, pengembangan
sumber pembiayaan daerah dan pemberdayaan masyarakat.
Konstruksi perwilayahan yang diatur di dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun
1999 tentang Pemerintahan Daerah, menempatkan provinsi sebagai wilayah administrasi
sekaligus sebagai daerah otonom, sedangkan pada kabupaten/kota hanya semata-mata
daerah otonom. Pengaturan sedemikian ini berarti bahwa antara provinsi dengan
kabupaten/kota ada keterkaitan satu sama lain, keterkaitan ini baik dalam arti status
kewilayahan maupun dalam sistem dan prosedur penyelenggaraan pemerintahan karena
kabupaten/kota penyusunannya dilandasi oleh wilayah negara, yang diikat sebagai wilayah
provinsi.
Pemikiran bahwa Provinsi dengan Kabupaten dan Kota terlepas satu sama lain,
mengingkari prinsip-prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Undang Undang
Dasar 1945, yang secara jelas mengatur secara sistematik antara masing-masing tingkat
Pemerintahan. Menyadari hal itu, Gubernur yang berfungsi sebagai wakil Pemerintah Pusat
sekaligus sebagai Kepala Daerah Otonom, maka dalam rangka prinsip-prinsip Negara
Kesatuan Republik Indonesia, Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat menerima
pelimpahan wewenang Pemerintahan Umum dalam hubungannya dengan Daerah Otonom
Kabupaten/Kota.
Berkaitan dengan itu maka Kepala Daerah Otonom disebut Gubernur yang
berfungsi pula selaku Kepala Wilayah Administrasi dan sekaligus sebagai wakil
Pemerintah. Gubernur selain pelaksana asas desentralisasi juga melaksanakan asas
dekonsentrasi. Besaran dan isi dekonsentrasi harus mempunyai sifat dekat dengan
kepentingan masyarakat dan bermakna sebagai upaya mempertahankan dan memperkuat
persatuan dan kesatuan bangsa serta keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia dan meningkatkan pemberdayaan, menumbuhkan prakarsa, dan kreativitas
masyarakat serta kesadaran nasional. Oleh sebab itu Gubernur memegang peranan yang
sangat penting sebagai unsur perekat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Disamping itu
pertimbangan dan tujuan diselenggarakannya asas dekonsentrasi yaitu:
a. meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraaan pemerintahan, pengelolaan
pembangunan dan pelayanan terhadap kepentingan umum;
b. terpeliharanya komunikasi sosial kemasyarakatan dan sosial budaya dalam sistem
administrasi negara;
c. terpeliharanya keserasian pelaksanaan pembangunan nasional;
d. terpeliharanya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

1. Pembangunan Daerah dan Otonomi


1.1 Pembangunan Daerah
Pembangunan Daerah merupakan suatu usaha yang sistematik dari berbagai pelaku,
baik umum, pemerintah, swasta, maupun kelompok masyarakat lainnya pada tingkatan
yang berbeda untuk menghadapi saling ketergantungan dan keterkaitan aspek fisik, sosial
ekonomi dan aspek lingkungan lainnya sehingga peluang baru untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat daerah dapat ditangkap secara berkelanjutan.
1.2 Otonomi Daerah
Otonomi daerah pada dasarnya merupakan upaya untuk mewujudkan tercapainya
salah satu tujuan negara, yaitu peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemerataan
pelaksanaan pembangunan dan hasil-hasilnya. Daerah memilki kewenangan membuat
kebijakan daerahnya untuk memberi pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa dan
pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Tujuan
pemberian otonomi daerah yaitu untuk memungkinkan daerah yang bersangkutan
mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri untuk meningkatkan daya guna dan hasil
guna penyelenggaraan. Sejak ketetapan MPR No. XXI Tahun 1966 prinsip dalam otonomi
daerah bersifat seluas-luasnya dan kemudian berkembang menjadi otonomi daerah yang
luas, nyata dan beranggung jawab.
Kebijakan mengenai otonomi daerah tentunya diiringi dengan adanya asas-asas
yang menjadi dasar bagi pelaksanaan otonomi daerah. Terdapat tiga asas yaitu pertama
adalah desentralisasi, yaitu penyerahan wewenang, dan penugasan dari pemerintah pusat
kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kedua adalah dekonsentrasi, yaitu
pelimpahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada Gubernur sebagai
wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertical di wilayah tertentu. Sedangkan yang
ketiga adalah tugas pembantuan, yaitu penugasan dari pemerintah pusat kepada pemerintah
daerah dan/desa, pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa, serta dari
pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu yang bersifat
fisik.
1.3 Hubungan Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah
Dengan adanya kewenangan pemerintah daerah melalui otonomi daerah tersebut,
maka pemerintah daerah memiliki kesempatan lebih luas untuk memperbaiki kondisi
pelayanan publik, perkembangan perekonomian daerah, serta dalam menggembangkan
berbagai terobosan baru dalam pengelolaan pemerintah. Daerah-daerah semakin memiliki
kebebasan untuk mengembangkan wilayahnya sesuai kebutuhan masyarakat lokal.
Kebijakan otonomi daerah yang bertujuan untuk pemberdayaan kapasitas daerah akan
memberikan kesempatan bagi daerah dalam mengembangkan dan meningkatkan
perekonomiannya. Peningkatan dan pertumbuhan perekonomian daerah akan membawa
pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah. Jadi dengan
adanya otonomi daerah dapat membantu dalam memaksimalkan pembangunan dari setiap
daerah yang ada di Indonesia.