Anda di halaman 1dari 41

Dosen Pengampu : Sitti Syswaliyah S. Psi, M.

Psikolog

Mata Kuliah : Psikologi Abnormal

MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL

“ Perilaku Abnormal Pada Anak-Anak dan Remaja”

Nur Hartini Ramdani Della Damayanti Sri Ayu Nengsi

(4517091017) (4517091074) (4517091057)

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR

2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
mengenai ”Perilaku Abnormal pada Anak-anak dan Remaja” Makalah ini telah
kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak
sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pembuatan makalah ini.
Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada Dosen mata kuliah Psikologi
Abnormal yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk berkarya
menyusun makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ini. Akhir kata kami berharap semoga
makalah yang kami susun dapat memberikan manfaat terhadap pembaca.

Makassar, 02 Oktober 2019

Kelompok 8
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gangguan psikologis yang dialami pada masa anak-anak dan


remaja seringkali menimbulkan suatu hal yang memilukan. Permasalahan
yang terjadi pada mereka harus mereka atasi di tengah kapasitas yang
masih terbatas. Apalagi jika mereka tidak di dukung oleh lingkungan
sekitarnya. Sebagian permasalahan menghambat anak-anak untuk
mengembangkan potensi-potensinya selama perkembangan. Hal ini
mengundang pandangan bahwa anak-anak dan remaja dengan
permasalahan-permasalahan psikologis yang menimpanya memiliki masa
depan yang suram.

Gangguan pada masa kanak-kanak dan remaja sering dikategorikan


kedalam dua domain, yaitu gangguan eksternalisasi (externalizing
disorders) dan gangguan internalisasi (internalizing disorders). Gangguan
eksternalisasi ditandai dengan beberapa tingkah laku seperti agresivitas,
ketidakpatuhan, over-active, dan impulsif. Gangguan yang tergolong
kategori ini adalah gangguan Attention-Deficit/Hyperactifiy Disorder,
gangguan tingkah laku dan gangguan sikap menentang. Sedangkan
gangguan internalisasi ditandai dengan tingkah laku seperti depresi,
penarikan sosial dan kecemasan. Gangguan yang temasuk kategori ini
adalah gangguan kecemasan dan gangguan mood (Kring, et.al, 2012).
Terdapat dua hal yang menjadi tambahan yang perlu
dipertimbangkan untuk menentukan bahwa perilaku anak dan remaja
tergolong normal atau tergolong abnormal. Dua hal tersebut adalah usia
anak dan latar belakang budaya. Perlu diingat bahwa hal yang secara sosial
dapat diterima pada usia tertentu, misalnya ketakutan pada orang asing
pada anak-anak usia satu tahun, menjadi tidak dapat diterima di usia yang
lebih besar. Anak-anak juga jarang melabel sendiri perilaku mereka
sebagai perilaku abnormal. Oleh karena itu, definisi normalitas dan
abnormalitas sangat bergantung pada cara tingkah laku tersebut dipandang
dari kacamata rang tua pada budaya tertentu. Budaya-budaya dapat
bervariasi berkenaan dengan tipe-tipe perilaku yang diklasifikasikan
sebagai perilaku abnormal.
Ada beberapa jenis gangguan pada anak dan remaja yang akan
dibahas dalam makalah ini. Gangguan tersebut adalah gangguan
perkembangan pervasif (seperti autisme); gangguan intelektual; gangguan
belajar; gangguan komunikasi; gangguan pemusatan perhatian (ADHD),
perilaku bermasalah (gangguan tingkah laku dan sikap menentang),
kecemasan dan depresi, serta gangguan eliminasi. Setiap gangguan
tersebut akan dibahas kriteria diagnostiknya. Beberapa gangguan juga
dijelaskan mengenai etiologi dan penangannya secara singkat.

B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan perbedaan antara perilaku normal dan abnormal pada anak-
anak dan remaja serta peran keyakinan budaya dalam menentukan
abnormalitas?
2. Bagaimana dampak kekerasan terhadap anak?
3. Bagaimana ciri-ciri utama gangguan spectrum autism serta cara
memahami dan menanganinya?
4. Bagaimana cirri-ciri utama dan penyebab disabilitas intelektual?
5. Bagaimana jenis-jenis kekurangan yang diasosiasikan dengan
gangguan pembelajaran serta cara memahami dan menangani
gangguan pembelajaran?
6. Apa definisi dari gangguan komunikasi dan apa saja jenis-jenisnya?
7. Bagaimana ciri-ciri utama gangguan pemusatan
perhatian/hiperaktivitas (ADHD), gangguan sikap menentang, dan
gangguan tingkah laku?
8. Apa sajakah factor-farktor penyebab ADHD dan bagaimana
penanganannya?
9. Bagaimana ciri-ciri utama dari kecemasan dan depresi pada anak-anak
serta remaja?
10. Apa sajakah factor resiko bunuh diri di kalangan remaja?
11. Bagaimana ciri-ciri utama dari gangguan eliminasi dan apa saja
metode penanganan dari kebiasaan mengompol?

C. Tujuan Masalah
1. menjelaskan perbedaan antara perilaku normal dan abnormal pada
anak-anak dan remaja serta peran keyakinan budaya dalam
menentukan abnormalitas
2. Menjelaskan dampak kekerasan terhadap anak
3. Menjelaskan ciri-ciri utama gangguan spectrum autism serta cara
memahami dan menanganinya
4. Menjelaskan ciri-ciri utama dan penyebab disabilitas intelektual
5. Mengidentifikasi jenis-jenis kekurangan yang diasosiasikan dengan
gangguan pembelajaran serta menjelaskan cara memahami dan
menangani gangguan pembelajaran
6. Mendefinisikan gangguan komunikasi dan mengidentifikasi jenis-
jenisnya
7. Menjelaskan ciri-ciri utama gangguan pemusatan
perhatian/hiperaktivitas (ADHD), gangguan sikap menentang, dan
gangguan tingkah laku
8. Menjelaskan factor-farktor penyebab ADHD dan penanganannya
9. Menjelaskan ciri-ciri utama dari kecemasan dan depresi pada anak-
anak serta remaja
10. Mengidentifikasi factor resiko bunuh diri di kalangan remaja?
11. Menjelaskan ciri-ciri utama dari gangguan eliminasi dan apa saja
metode penanganan dari kebiasaan mengompol
BAB II

PEMBAHASAN

A. Perilaku Normal dan Abnormal pada Masa Kanak-Kanak dan Remaja

Menemukan apakah perilaku seorang anak itu abnormal bergantung pada


harapan kita tentang apa yang normal bagi seorang anak pada usia tertentu dalam
budaya tertentu. Kita perlu mempertimbangkan apakah perilaku aanak berada di
luar tumbuh kembang dan norma budaya. Banyak masalah yang pertama kali
diidentifikasi saat anak masuk sekolah.Meskipun masaalh tersebut sudah ada
sebelumnya, hal itu masih ditoleransi atau tidak dianggap sebagai ‘masalah’
dirumah. Terkadang, stress ketika pertama kali masuk sekolah akan
mempengaruhi kemunculannya. Namun, perlu diingat bahwa apa yang diterima
secara sosial pada usia tertentu, seperti ketakutan yang berlebihan terhadap orang
asing di usia sekitar 9 bulan, mungkin tidak dapat diterima secara sosial pada usia
yang lebih tua.

Banyak pola perilaku yang mungkin kita anggap abnormal pada orang
dewasa seperti ketakutan yang berlebihan kepada orang asing dan kurangnya
kontrol terhadap keinginan buang air kecil dianggap normal bagi anak-anak pada
usia tertentu. Banyak anak-anak yang salah didiagnosis ketika klinisi tidak
mempertimbangkan ekspektasi tumbuh kembangnya.

Banyak gangguan psikologis yang memengaruhi anak-anak dan remaja


diklasifikasikan dalam kategori gangguan perkembangan neurologis pada DSM-
5.Gangguan ini melibatkan pelemahan fungsi atau perkembangan otak yang
memengaruhi perkembangan psikologis, kognitif, sosial, atau emosional anak.

 Keyakinan Budaya tentang Apa itu Normal dan Abnormal


Keyakinan budaya membantu menentukan apakah orang memandang
perilaku tertentu sebagai normal atau abnormal.Karena anak-anak jarang
melabeli perilakunya sebagai abnormal, maka defenisi normalitas sangat
bergantung pada bagaimana perilaku anak dilihat dari kacamata budaya
tertentu.Budaya dapat bervariasi dalam hal jenis perilaku yang
diklasifikasikan sebagai perilaku yang tidak dapat diterima atau abnormal,
begitu pula ambang batas untuk melabeli perilaku anak sebagai menyimpang.
Seperti defenisi abnormalitas, metode penanganannya verbal untuk
mengekspresikan perasaan mereka melalui percakapan atau rentang perhatian
yang dibutuhkan ketika duduk di kursi selama menjalani sesi terapi
tertentu.Metode terapi harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan
kognitif, fisik, sosial, dan emosional anak.Terapi anak harus dilakukan dalam
kerangka yang sensitive terhadap budaya.Terapis perlu menyesuaikan
intervensinya dengan latar belakang budaya serta kebutuhan sosial dan
linguistic anak demi membangun hubungan terapeutik yang efektif.

 Prevalensi Masalah Kesehatan Mental pada Anak-Anak dan Remaja


Di Amerika, sekitar 4 dari 10 remaja (40,3%) menderita gangguan mental
yang dapat didiagnosis selama tahun lalu (Kessler et al., 2012). Sekitar 1 dari
4 (23,4%) saat ini mengalaminya. Sekitar 1 dari 10 anak menderita gangguan
mental yang cukup parah sehingga mengganggu perkembangan
mereka.Banyak gangguan psikologis pada orang dewasa awalnya muncul di
masa kanak-kanak.
Pada anak berusia 6-17 tahun, gangguan psikologis yang paling sering
terdiagnosis adalah gangguan belajar (11,5%) dan gangguan pemusatan
perhatian/hiperaktivitas (ADHD) (8,8%)(Blanchard, Gurka, & Blackman,
2006). Jika kita membatasi lingkupnya hanya pada remaja, gangguan
kecemasan menempati urutan teratas dari daftar gangguan yang laing banyak
terdiagnosis. Depresi juga banyak terjadi, seperti yang terlihat pada hasil
survey melalui telepon berdasarkan sampel probabilitas nasional penduduk
Amerika berusia 12-17 tahun.Survey tersebut menemukan bahwa 7% anak
laki-laki dan 14% anak perempuan pernah menderita depresi mayor dalam
periode enam bulan sebelumnya.
Terlepas dari prevelensi gangguan psikologis di masa kanak-kanan,
mayoritas anak-anak yang menderita gangguan psikologis tidak mempeoleh
penanganan yang mereka butuhkan.Penelitian terkini menunjukkan bahwa
hanya sekitar speertiga remaja yang menderita gangguan mental yang dapat
didiagnosis memperoleh penanganan.Bahkan mayoritas remaja yang
menderita gangguan mental parah tidak memperoleh penangan.

 Faktor Risiko untuk Gangguan Pada Masa kanak-kanak


Banyak faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko gangguan
tumbuh kembang, termasuk kerentanan genetic, stressor lingkungan, dan
faktor keluarga. Anak-anak yang orang tuanya mengalami depresi juga
memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami gangguan psikologis, mungkin
karena depresi yang dialami orang tuanya berkontibusi terhadap lebih
tingginya tingkat stress di keluarga.
Masalah kecemasan dan depresi secara proporsional juga lebih sering
menyerang anak laki-laki ketimbang anak perempuan.Namun, pada masa
remaja gangguan kecemasan dan gangguan mood menjadi lebih banyak
ditemukan pada anak perempuan dan demikian seterusnya sampai masa
dewasa. Kekerasan fisik dan seksual serta pengabaian atau penelantaran
dihubungkan dengan berbagai macam gangguan psikologis di masa kanak-
kanak dan dewasa, seperti depresi, penyalahgunaan zat, gangguan kecemasan,
ADHD, gangguan stress pascatrauma (PTSD), dan gangguan tingkah laku.
Anak-anak yang mengalami kekerasan fisik atau pengabaian sering
kesulitan dalam membina hubungan persahabatan dan cinta yang sehat dengan
orang lain. dampak psikologis umum lainnya dari kekerasan dan pengabaian
meliputi turunnya harga diri, depresi, perilaku tidak dewasa seperti
mengompol atau menghisap jempol, upaya dan pikiran untuk bunuh diri,
prestasi yang buruk di sekolah, perilaku bermasalah, dan enggan pergi ke luar
rumah untuk menjelajahi dunia luar. Konsekkuensi perilaku dan emosional
dari kekerasan pada anak sering berlanjut sampai masa dewasa.

B. Autisme dan Gangguan Spektrum Autisme


Autisme adalah salah satu gangguan perilaku yang paling paeah di masa
kanak-kanak.Autisme adalah kondisi yang bersifat kronis dan yang
berlangsung seumur hidup.Anak-anak yang menderita autisme, seperti Peter,
tampak benar-benar sendirian di dunia, meskipun orang tuanya telah berusaha
untuk menjembatani jurang yang memisahkan mereka.Cara berfikr autistic
adalah kecenderungan untuk memandang diri sendiri sebagai pusat alam
semesta dan percaya bahwa kejadian eksternal mengacu ke diri sendiri.
Gangguan spektrum autisme, yang meliputi berbagai macam gangguan
terkait autism yang tingkat keparahannya bervariasi.Istilah diagnostic
gangguan Asperger dan gangguan disintegrative masa kanak-kanak telah
digunakan pada edisi DSM sebelumnya untuk menjelaskan gangguan yang
berbeda dalam spektrum autism, tetapi sekarang di klasifikasikan sebagai
bentuk gangguan spektrum autisme jika kriteria diagnostic ASD
terpenuhi.Gangguan Asperger mengacu pada pola perilaku abnormal yang
melibatkan kecanggungan sosial dan perilaku klise atau berulang tetapi tanpa
pelemahan bahasa atau kognitif yang signifikan yang berhubungan dengan
bentuk gangguan spektrum autisme yang lebih parah.

 Seberapa Umum Gangguan Spektrum Autisme Itu?


Salah satu sumber kekhawatiran risiko autism adalah meluasnya
kecurigaan di kalangan orang tua anak yang terkena risiko autis
menyangkut kontaminasi yang mungkin berasal dari pengawet yang
mengandung bahan kimia yang banyak digunakan dalam vaksin.Namun,
para peneliti belum juga menemukan hubungan antara autismedan
penggunaan vaksin pada masa kanak-kanak.
Autisme hampir lima kali lebih banyak menyerang anak laki-laki
ketimbang anak perempuan. Tanda-tanda gangguan (kurangnya
komunikasi nonverbal) mulai tampak pada anak usia sekitar 12 sampai 18
bulan. Anak-anak yang menderita autisme sering kali digambarkan oleh
orang tuanya sebagai “bayi yang baik” di awal masa balita.Ini biasanya
berarti bahwa mereka tidak banyak menuntut.Namun, setelah mereka
semakin besar, mereka mulai menolak bentuk afeksi fisik, seperti pelukan,
dekapan dan ciuman.Perkembangan bahasanya mulai tertinggal di bawah
standar. Tanda-tanda penarikan diri secara sosial sering dimulai selama
tahun pertama kehidupannya, seperti tidak mau melihat wajah orang lain.
Gangguan ini dapat didiagnosis dengan akurat pada usia sekitar 2 atau 3
tahun, terappi rata-rata anak austik belum menerima diagnosis sampai usia
sekitar 6 tahun. Keterlambatan diagnosis ini dapat merugikan, karena
semakin cepat anak yang menderita autisme didiagnosis dan ditangani,
akan semakin baik kondisinya secara umum.
 Ciri-ciri Autisme
Ciri autism yang paling menonjol adalah kesendirian anak.Ciri-ciri
lainnya meliputi kekurangan yang signifikan dalam keterampilan sosial,
bahasa, serta komunikasi dan perilaku ritualistic atau stereotip. Anak juga
mungkin enggan bicara, atau jika memiliki keterampilan berbahasa,
biasanya digunakan secara tidak lazim, seperti pada ekolalia (mengulang
kembali apa yang didengar dengan nada suara tinggi yang monoton),
penggunaan kata ganti secara terbalik (menggunakan ‘kamu’ atau ‘dia’
bukan ‘saya’). Komunikasi nonverbal juga bisa terganggu atau hilang.
Salah satu ciri utama autisme adalah pergerakan stereotip yang
repetitive dan tanpa tujuan berulang-ulang memutar benda, bertepuk
tangan, atau berayun maju mundur dengan lengan memeluk kaki.Beberapa
anak autistic menyakiti dirinya sendiri bahkan sampai teriak kesakitan.
Ciri lain dari autisme adalah keengganan menerima perubahan lingkungan
sebuah ciri yang disebut “penjagaan kesamaan”. Anak-anak autistik akan
bersikeras untuk makan makanan yang sama setiap harinya.Anak-anak
autistik tampaknya tidak memiliki konsep diri yang berbeda, yatu perasaan
bahwa mereka adalah individu yang berbeda.Meskipun menunjukkan
perilaku yang tidak biasa, mereka sering kali terlihat cukup menarik dan
“pintar”.Namun, bila diukur oleh nilai tes yang terstandardisasi,
perkembangan intelektual mereka cenderung tertinggal jauh di bawah
normal.
 Perspektif Teoritis tentang Autisme
Psikolog O. Ivar Lovaas dan koleganya (1979) menawarkan sebuah
perspektif pembelajaran kognitif tentang autisme.Mereka menyatakan
bahwa anak-anak yang menderta autisme memiliki kekurangan
perspeptual sehingga hanya dapat memroses satu stimulus pada satu waktu
tertentunya.Akibatnya, mereka lambat untuk belajar melalui pengondisian
klasik.Dari perspektif teori pembelajaran, anak-anak terikat dengan
pengasuh utama mereka karena diasosiasikan dengan penguat primer
seperti makanan dan pelukan.Namun, anak-anak autistik memperhatikan
makanan atau pelukan tetapi tidak menghubungkannya dengan orang tua.
Para peneliti menduga bahwa otak anak yang menderita autisme
tumbuh secara abnormal akibat kombinasi faktor genetik dan pengaruh
lingkungan, yang mungkin melibatkan paparan pada racun atau virus
tertentu atau pengaruh pranatal.
 Penangan Autisme
Program penangan perilaku yang paling banyak digunakan sangatlah
intensif dan terstruktur, dengan banyaknya instruksi yang diberikan secara
individu. Dalam sebuah penelitian klasik, psikolog O. Ivar Lovass dari
UCLA (University of California, Los Angeles) menunjukkan hasil yang
mengesankan pada anak-anak austistikyang menerima lebih dari 40 jam
penanganan perilaku setiap minggunya selama minimal 2 tahun. Penelitian
selanjutnya menunjukkan manfaat yang positif bagi anak austistik yang
ditangani dengan penanganan perilaku jangka panjang yang ekstensif
menyangkut perkembangan bahasa, fungsi intelektual, serta fungsi sosial
dan perilaku adaptif lainnya. Semakin cepat penanganan dimulai (sebelum
usia 5 tahun) dan semakin intensif penanganannya, semakin baik pula
hasilnya.
Penanganan biomedis sangat dibatasi pada penggunaan obat-obatan
antipsikotik untuk mengendalikan perilaku disruptip, seperti kemarahan,
agresi, perilaku melukai diri sendiri, dan perilaku stereotip pada anak-anak
autistik.Peneliti menemukan bahwa obat antipsikotik akan lebih manjur
jika penanganannya melibatkan orang tua dalam program pelatihan yang
mengajarkan mereka cara merespons perilaku disruotif anak-anak.

C. Disabilitas Intelektual
Disabilitas intelektual atau ID (yang disebut juga dengan gangguan
perkembangan intelektual).Ciri utama ID adalah gangguan umum dalam
perkembangan intelektual.Disabilitas intelektual sebelumnya disebut retardasi
mental, adalah istilah diagnostik yang dikenakan pada individu yang memiliki
keterbatasan atau kekurangan yang signifikan dan rentang yang luas dalam
perkembangan fungsi intelektual dan perilaku adaptif.
Disabilitas intelektual dimulai sebelum usia 18 tahun selama pertumbuhan
anak dan berlanjut selama hidupnya. Namun, banyak anak yang menderita ID
menjadi lebih baik seiring berjalannya waktu, terutama jika mereka
memperoleh dukungan, bimbingan, dan kesempatan pendidikan yang
besar.Mereka yang dibesarkan di lingkungan yang kurang mendukung dapat
mengalami kegagalan untuk menjadi lebih baik atau mungkin malah
memburuk.Disabilitas intelektual didiagnosis berdasarkan IQ yang rendah dan
penurunan fungsi adaptif yang terjadi sebelum usia 18 tahun, yang
mengakibatkan penurunan yang signifikan dalam memenuhi standar fungsi
independen dan tanggung jawab sosial yang diharapkan.
Penyebab Disabilitas Intelektual
Penyebab ID meliputi faktor bilogis, psikosial, atau kombinasi
keduanya.Penyebab biologis meliputi gangguan kromosom dan genetik,
infeksi menular, dan penggunaan alkohol oleh ibu selama masa
kehamilan.Penyebab psikososial meliputi paparan pada lingkungan rumah
yang buruk yang ditandai dengan kurangnya aktivitas yang menstimulasi
secara intelektual selama masa kanak-kanak.
 Sindrom Down dan Abnormalitas Kromosom Lainnya
Sindrom Down, ditandai oleh adanya kelebihan kromosom pada
pasangan kromosom ke-21, sehingga menyebabkan kromosom nenjadi
47 dan bukan 46 seperti pada individu normal. Sindrom Down terjadi
pada sekitar 1 dari 800 kelahiran.Sindrom ini biasanya terjadi ketika
pasangan kromosom ke-21 pada sel telur atau sperma gagal membelah
secara normal sehingga menghasilkan kromosom ekstra.
Orang yang mengalami sindrom down dapat dikenali melalui ciri-
ciri fisik yang berbeda; seperti wajah bulat, hidung yang lebar dan
datar, serta lipatan kecil yang melengkung ke bawah pada kulit di
ujung mata, yang memberi kesan mata sipit.Lidah yang menjulur,
tangan yang kecil dan berbentuk persegi serta jari-jari yang pendek,
jari kelingking yang melengkung, serta ukuran lengan dan kaki yang
kecil serta tidak proposional dengan keseluruhan tubuh mereka juga
merupakan ciri-ciri anak dengan sindrom down.Hampir semua anak-
anak menderita ID dan banyak di antaranya mengalami masalah
fisik.Seperti kelainan pada pembentukan jantung dan kesulitan
pernapasan.Sedihnya lagi, rata-rata harapan hidup pasien sindrom
down hanya 49 tahun.Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, orang yang
menderita sindrom down cenderung kehilangan ingatan dan
mengalami emosi yang kekanak-kanakan, yang merupakan bentuk
demensia.
Anak-anak dengan sindrom down mengalami berbagai kekurangan
dalam hal pembelajaran dan pertumbuhan.Mereka cenderung tidak
terkoodinasi dan kurang memiliki tekanan otot yang cukup sehingga
mereka sulit untuk melakukan tugas fisik dan bermain seperti anak-
anak lainnya.Anak-anak dengan sindrom down mengalami kelemahan
ingatan, terutama atas informasi yang diberikan secara verbal,
sehingga sulit untuk belajar di sekolah.
Abnormaitas kromosom menyebabkan banyak penyakit genetik
dan meliputi perubahan jumlah kromosom dan struktur kromosom
tersebut. Abnormalitas kromosom terjadi pada 7,5% konsepsi tetapi
hanya 0,5-1& dari bayi yang lahir hidup. Sekitar setengah dari
keguguran spontan disebabkan oleh abnormalitas kromosom.
Perubahan jumlah kromosom disebabkan oleh kromosom yang tidak
terpisah dengan benar saat meiosis atau mitosis, misalnya sindrom
down yang disebabkan tiga kromosom 21 (trimosi 21) yang tampaknya
berhubungan dengan usia ibu, tetapi faktor usia ibu tersebut tidak
umum terjadi pada semua gangguan kromosom.

 Sindrom Fragile X dan Abnormalitas Genetis Lainnya.


Sindrom Fragile X adalah bentuk retardasi mental yang diwariskan
dan disebabkan oleh mutasi gen pada kromosom X. Gangguan ini
merupakan bentuk retardasi mental yang paling sering muncul setelah
sindrom Down. Gangguan ini disebabkan oleh mutasi gen tunggal
pada area kromosom X yang tampak rampuh. Dampak sindrom Fragile
X berkisar dari gangguan pembelajaran ringan sampai ID yang sangat
parah yang dapat menyebabkan gangguan bicara atau fungsi yang
berat bagi penderitanya. Sebuah tes genetic dapat mendeteksi kecatatan
genetic yang menyebabkan sindrom Fragile X. Meskipun belum ada
penanganan atas sindrom ini, penelitian genetic yang berfokus pada
mengidentifikasi penyebab molecular gangguan tersebut mungkin
menghasilkan penangan efektif.
Abnormalitas genetis lainnya yang menyebabkan retardasi mental
adalah phenylketonuria (PKU). Gangguan ini disebabkan oleh adanya
satu gen resesif yang menghambat anak untuk melakukan metabolisme
asam amino phenylalanine, yang banyak terdapat pada makanan.
Konsekuensinya, phenylalanine dan turunannya, asam phenylpyruvic,
menumpuk dalam tubuh dan menyebabkan kerusakan pada sistem
saraf pusat yang mengakibatkan retardasi mental dan gangguan
emosional. Kemunculan retardasi mental dapat diminimalkan dengan
mengontrol pola makan secara ketat.

 Faktor-Faktor Prenatal
Beberapa kasus retardasi mental disebabkan oleh infeksi atau
penyalahgunaan obat selama ibu mengandung. Penyakit ibu selama
mengandung dapat ditularkan kepada fetus dan berefek sangat tragis
pada fetus tersebut. Meskipun ibu hanya mengalami gejala-gejala
ringan atau tidka merasakannya sama sekali. Penyakit ibu yang dapat
menyebabkan retardasi mental adalah sifilis, cytomegalovirus, dan
herpes genital. Selain itu, obat-obatan yang digunakan ibu selama
kehamilan dapat memengaruhi bayi melalui plasenta, misalnya saja ibu
yang meminum alkohol. Komplikasi kelahiran, seperti kekurangan
oksigen atau cedera kepala, menempatkan anak pada risiko yang lebih
besar terhadap gangguan neurologis, termasuk retardasi mental.
Kelahiran prematur misalnya, dapat menimbulkan risiko retardasi
mental dan gangguan perkembangan lainnya.

 Penyebab Budaya Keluarga


Faktor-faktor psikososial, seperti lingkungan rumah atau sosial
yang miskin, yaitu yang tidak memberikan stimulasi intelektual,
penelantaran dan kekerasan dari orang tua, dapat memberikan
kontribusi dalam perkembangan retardasi mental, terutama pada
tingkatan ringan. Bentuk retardasi mental ringan yang dipengaruhi
oleh lingkungan rumah yang miskin disebut sebagai retardasi budaya-
keluarga (cultural-familial retardation).
Penanganan yang dapat dilakukan untuk gangguan intelektual
umumnya berupa intervensi psikoedukasi. Intervensi yang dilakukan
bertujuan untuk mendorong perkembangan akademik dan perilaku
adaptif. Perawatan di institusi dapat diperlukan bagi kasus-kasus yang
berat. Ada empat bentuk penanganan yang dapat dilakukan, yaitu
penanganan residensial (residential treatment), penanganan tingkah
laku (behavioral treatment), penanganan kognitif (cognitive treatment)
dan instruksi pertolongan computer (computer-assisted instruction)
(Kring et.al, 2012).

Kasus Disibilitas Intelektual (Tingkat keparahan rendah)


Seorang ibu memohon kepada dokter di ruang gawat darurat untuk
merawat putranya yang berusia 15 tahun, karena ia sudah tidak sanggup lagi.
Putranya, pasien sindrom Down dengan IQ 45, sejak usia 8 tahun sudak bolak-
balik tinggal di institusi dan di rumah. Setiap kali dikungjungi, ia memohon
kepada ibunya agar dibawa pulang, dan setelah sekita setahun, di setiap temapat
ibunya akan membawa ia pulang, tetapi ia akhirnya merasa dirinya bahwa dirinya
tidak dapat mengendalikan perilaku anaknya. Ketika sedang mengamuk, sang
putra akan memecahkan piring dan merusak perabotan rumah, dan baru-baru ini
mulai mengamncam secara fisik terhadap ibunya.

D. Gangguan Pembelajaran (Learning Disorder)


Gangguan belajar adalah defisiensi pada kemampuan belajar spesifik
dalam konteks intelegensi normal dan adanya kesempatan untuk belajar.
Dalam DSM V, gangguan belajar dikategorikan dalam neurodevelopmental
disorder, khususnya specific learning disorder. Berikut adalah kriteria
diagnostik dari gangguan belajar spesifik dalam DSM V:
1. Kesulitan dalam belajar dan menggunakan keterampilan akademik,
yang diindikasikan dengan adanya paling sedikit satu dari simtom
berikut ini yang persisten selama sekurang-kurangya enam bulan dan
tidak konsisten dengan umur individu, pendidikan dan intelegensi.
a) Tidak tepat atau lambat dalam upaya membaca kata.
b) Kesulitan memahami arti dari apa yang dibaca
c) Kesulitan dalam mengeja
d) Kesulitan dengan ekspresi tertulis
e) Kesulitan mengusasi angka atau perhitungan
f) Kesuliatn dengan penalaran matematika.
2. Gangguan yang signifikan dengan pencapaian akademik atau aktivitas
dalam kehidupan sehari-hari.
3. Kesulitan belajar dimulai selama usia sekolah tetapi dapat menjadi
tidak nyata sepenuhnya sampai tuntutan untuk keterampilan akademik
yang dipengaruhi melampaui kemampuan terbatas individu.
4. Kesulitan belajar tidak disebabkan oleh gangguan intelektual,
kesalahan visual atau ketajaman auditori, gangguan mental atau
neurologis lainnya, tidak terpenuhinya aspek psikososial, kekurangan
keahlian dalam bahasa instruksi akademik dan tidak adanya
pendidikan.
Berbeda dengan gangguan intelektual, orang-orang dengan gangguan
belajar sebaliknya dapat merupakan orang yang pandai dan berbakat, namun
menunjukkan perkembangan yang buruk dalam kemampuan membaca,
matematika dan menulis hingga menghambat prestasi sekolah ataupun fungsi
sehari-hari. Gangguan belajar cenderung menjadi gangguan kronis yang
selanjutnya memengaruhi perkembangan sampai masa dewasa.
Dalam DSM-V, terdapat tiga tipe gangguan belajar, yaitu gangguan yang
dikaitkan dengan kekurangan dalam kemampuan membaca (meliputi
keakuratan membaca kata, kelancaran membaca, dan pemahaman bacaan),
kekurangan dalam kemampuan menulis (meliputi keakuratan ejaan, keakuratan
dalam tata bahasa dan pembubuhan tanda baca, kejelasan atau organisasi dalam
ekspresi tulisan), serta kekurangan dalam kemampuan matematika (meliputi
arti angka, menghafal angka, kelancaran berhitung dan keakuratan penalaran
matematika).
 Gangguan Membaca (Disleksia)
Gangguan membaca mengacu pada seseorang yang memiliki
perkembangan keterampilan yang buruk dalam mengenali kata-kata
dan memahami bacaan. Anak-anak yang menderita disleksia membaca
dengan lambat dan sulit. Mereka mengubah, menghilangkan, atau
mengganti, kata-kata ketika membaca dengan keras. Mereka memiliki
kesulitan menguraikan huruf-huruf dan kombinasinya serta mengalami
kesulitan menerjemahkannya menjadi suara yang tepat (Miller-
Medzon dalam Nevid, dkk., 2003). Selain itu, mereka mungkin juga
salah mempersepsikan huruf-huruf seperti jungkir balik atau
melihatnya secara terbalik. Disleksia biasanya tampak pada anak usia 7
tahun, walaupun kadang-kadang sudah dikenali pada usia 6 tahun.

 Gangguan Menulis
Gangguan menulis mengacu pada seseorang (umumnya anak-anak)
dengan keterbatasan kemampuan menulis yang dapat muncul dalam
bentuk kesalahan mengeja, tata bahasa, tanda baca ataupun kesulitan
dalam membentuk kalimat dan paragraf. Kesulitan menulis yang parah
umumnya tampak pada anak kelas 2 SD, walaupun kasus-kasus lebih
ringan mungkin tidak dikenali sampai kelas 5 SD atau setelahnya

 Gangguan Keterampilan Berpikir Aritmatika dan Matematika


(Dyscalculia)
Gangguan matematika menggambarkan anak-anak dengan
kekurangan kemampuan aritmetika. Mereka memiliki masalah dalam
memahami istilah-istilah matematika dasar atau operasi matemtika
serta mengalami masalah memahami simbol-simbol matematika.
Mereka akan kesulitan belajar mengenai tabel perkalian. Masalah ini
mungkin tampak sejal anak duduk di kelas 1 SD tetapi umumnya tidak
dikenali sampai anak duduk di kelas 2 dan 3 SD.
 Gangguan pada Fungsi Eksekutif
keterampilan fungsi eksekutif adalah serangkaian kemampuan
mental yang lebih tinggi dalam melakukan perorganisasian,
perencanaan, dan pengoordinasian yang dibutuhkan untuk mengelola
tugas yang diemban seseorang. Meskipun banyak anak kesulitan
dengan jenis tantangan ini, anak-anak yang mengalami kekurangan
fungsi eksekutif akan menghadapi kesulitan yang jelas dan terus
menerus dalam mengorganisasikan dan mengoordinasikan aktivitas
yang berhubungan dengan sekolahnya. Merekan mungkin sering
mengabaikan tugas sekolah, tidak mengerjakan tugas pekerjaan rumah,
atau tidak mempunyai rencana untuk menyelesaikan tugas secara tepat
waktu.

 Memahami dan menangani Gangguan Pembelajaran


Banyak penelitian tentang gangguan pembelajaran berfokus pada
disleksia, di mana bukti yang ada menunjukkan abnormalitas otak akan
memengaruhi bagaimana informasi visual dan auditori dip roses.
Orang yang menderita diseleksia memiliki kesulitan dalam
menghubungkan suara terkait dengan huruf tertentu (misalnya melihat
huruf f atau ph atau gh dan mengucapkan atau mendengar dalam
benaknya sebagai suara f). Mereka juga kesulitan membedakan suara
bicara seperti suara “ba” dan “da”.
Dengan menghubungkan antara gangguan belajar dan kerusakan
pada sirkuit otak yang bertugas memproses informasi sensoris (visual
dan auditori), mungkin menuju pada pengembangan program
penanganan yang akan membantu anak-anak menyesuaikan diri
terhadapa kapabilitas sensorinya. Para terapis merancang strategi yang
disesuaikan dengan jenis disabilitas dan kebutuhan pendidikansetiap
anak./ sebagai contoh, seorang yang mampu memahami dengan lebih
baik informasi auditori ketimbang informasi visual dapat diajarkan
secara verbal (misalnya, dengan menggunakan rekaman) ketimbang
dengan materi tertulis. Pendekatan intervensi lainnya berfokus pada
mengevaluasi kompetensi belajar anak-anak dan merancang strategi
untuk membantu mereka memperoleh keterampilan yang dibutuhkan
dalam melakukan tugas akademis dasar, seperti keterampilan
aritmatika dan membaca.
E. Gangguan Komunikasi (Communication Disorder)
Gangguan komunikasi adalah sekumpulan gangguan psikologis yang
meliputi kesulitan-kesulitan dalam pemahaman dan penggunaan bahasa.
Dalam DSM V dijelaskan bahwa gangguan dalam komunikasi meliputi
kekurangan dalam bahasa (language), ucapan (speech) dan komunikasi
(communication). Speech adalah produksi suara ekspresif dan meliputi
artikulasi individual, kelancaran, suara, dan kulitas resonansi. Bahasa
meliputi bentuk, fungsi dan penggunaan sistem simbol percakapan ( seperti
kata-kata lisan, bahasa isyarat, kata-kata tetulis, dan gambar) dalam ragam
aturan yang ditentukan untuk komunikasi. Komunikasi meliputi berbagai
tingkah laku verbal dan nonverbal (baik disengaja atau tidak disengaja) yang
memengaruhi tingkah laku, ide-ide, atau sikap individu lainnya. Katgeori
diagnostik gangguan komunikasi menurut DSM V meliputi language disorder
(gangguan bahasa), speech sound disorder, childhood-onset fluency disorder
(stuttering), social (pragmatic) communication disorder, and gangguan
komunikasi spesifik dan tidak spesifik lainnya.

 Gangguan Bahasa (Language Disorder)


Gangguan bahasa adalah penurunan kemampuan menghasilkan
dan memahami bahasa verbal. Mungkin ada gangguan spesifik, seperti
perkembangan kosa kata yang lambat, kesalahan dalam tata bahasa,
kesulitan dalm mengingat kembali kata, dan maslaah dalam membuat
kalimat dengan panjang dan kompleksitas yang sesuai dengan usia
individu. Anak-naka yang mengalami kesulitan ini mungkin jyga
memiliki gangguan bunyi bahasa (artikulasi) yang menambah masalah
bicara mereka.
Anak –anak yang mengalami gangguan bahasa mungkin juga
kesulitan dalam memahami kata atau kalimta,. Dalam beberapa kasus,
mereka kesulitan dalam memehami jenis kata-kata tertentu (seperti
kata-kata yang menunjukkan perbedaan jumlah- large, big, dan huge),
istilah-istilah spasial (seperti jauh atau dekat), atau jenis kalimat
tertentu seperti kalimat yang dimulai dengan kata unlike. Kasus
lainnya ditandai dengan kesulitan memahami kata-kata atau kalimat
sederhana.

 Speech Sound Disorder / Gangguan Bicara


Anak-anak juga mungkin mengalami gangguan dalam
menghasilkan bicara yang jelas dan fasih. Dalam gangguan bunyi
bahasa yang sebelumnya disebut gangguan fonologis, Anak-anak
dengan kesulitan produksi ucapan mungkin mengalami kesulitan
dengan pengetahuan fonologik dari suara ucapan atau kemampuan
mengkoordinasikan pergerakan untuk pengucapan dalam berbagai
tingkatan. Dalam DSM IV, gangguan ini disebut gangguan fonologik.
Gangguan fonologik melibatkan kesulitan dalam artikulasi suara dalam
berbicara tanpa adanya kerusakan pada mekanisme bicara atau
gangguan neurologis.
Anak-anak dengan gangguan ini mungkin menghilangkan,
mengganti, atau salah mengucapkan bunyi-bunyi tertentu yang
biasanya dapat diucapkan secara tepat saat anak memasuki usia
sekolah. Mereka mungkin terdengar seperti bayi berbicara. Pada kasus
yang lebih berat, terjadi masalah mengartikulasi suara-suara yang
seharusnya sudah dikuasai pada masa prasekolah. Terapi bicara
seringkali membantu dan pada kasus-kasus yang lebih ringan dapat
teratasi dengan sendirinya pada usia 8 tahun.
Gagap ditandai dengan gangguan pada kefasihan/kelancara bicara,
diklasifikasikan sebagai jenias gangguan komunikasi yang disebut
gangguan kefasihan childhood-onest Childhood-Onset Fluency
Disorder / Gagap. Gagap biasanya dimulai pada usia antara 2 sampai
7 tahun dan terdapat sekitar 1 di antara 100 anak sebelum pubertas
(APA dalam Nevid, dkk, 2003). Gangguan ini ditandai oleh satu dari
beberapa karateristik berikut: 1) repetisi dari suara-suara dan suku
kata; 2) perpanjangan pada suara-suara tertentu; 3) penyisipan suara-
suara yang tidak tepat; 4) kata-kata yang terputus, seperti adanya jeda
di antara kata-kata yang diucapkan; 5) hambatan dalam berbicara; 6)
circumlocution (subtitusi kata-kata alternatif untuk menghindari kata-
kata yang bermasalah); 7) tampak adanya tekanan fisik ketika
mengucapkan kata-kata; serta 8) repetisi dari kata yang terdiri dari
suku kata tunggal (misalnya, “S-s-saya senang).
Gagap dapat teratasi tanpa penanganan. Gagap umumnya akan
menghilang pada 80 % anak sebelum usia 16 tahun. Gagap dipercaya
melibatkan interaksi faktor genetis dan lingkungan. Pada beberapa
kasus, mungkin ada penyebab kecemasan sosial dan fobia sosial,
paling tidak pada orang dewasa yang gagap. Penanganan pada gagap
dan gangguan komunikasi lainnya dilakukan melalui terapi bicara dan
konseling psikologis untuk kecemasan sosial dan masalah-masalah
emosional lainnya.
 Gangguan komunikasi social (Social (Pragmatic) Communication
Disorder)
Gangguan komunikasi sosial (pragmatis) adalah gangguan jenis
baru dalam DSM-5. Diagnosisnya berlau pada anak-anak yang
mengalami kesulitan berkomunikasu berkelanjutan dan parah secara
verbal dan nonverbal dengan orang lain. Anak-anak ini mengalami
kesulitan melakukan percakapa atau mungkin diam saja ketika berada
dalam kelompok anak-anak. Mereka sulut mempelajari dan
menggunakan bahsa lisan serta tulisan. Namun umunya tingkat bahsa
atau mental mereka tidaklah rendah yang mungkin menjelaskan
kesulitan mereka untuk berpartisipasi penuh dalam interaksi social dan
berdampak buruk terhadap prestasi di sekolah atau kinerja di tempat
kerja.
Penanganan gangguan komunikasi biasanya dilakukan dengan
terapi bicara dan bhasa khusus atau dengan pelatihan kelancaran, yang
melibatak pembelajaran untuk berbicara lebih lamabat (perlahan) dan
mengatur pernapasan diri serta bertahap mulai dari kata dan kalimat
yang lebih sederhana ke lebih kompleks. Penanganan gagap juga dapat
melibatkan konseling psikologis untuk kecemasan dalam situasi
berbicara, yang sering dialami oleh orang yang gagap.

 Gangguan Attention- Deficit/Hyperactivity (ADHD)


Ganguan attention-defiict hyperactivity merupakan gangguan
perkembangan yang ditandai oleh aktivitas motorik berlebih dan
ketidakmampuan untuk menfokuskan perhatian. Kriteria diagnostik
ADHD dalam DSM V adalah sebagai berikut:
1. Suatu pola persisten dari ketidakacuhan dan/atau hiperaktif-
impusif yang menggangu fungsi atau perkembangan, yang
ditandai dengan poin a dan/atau poin b:
Enam (atau lebih) dari gejala di bawah ini yang telah
menetap selama sekurang-kurangnya 6 bulan pada suatu
tingkat yang tidak konsisten dengan tingkat perkembangan dan
berpengaruh negatif secara langsung pada aktivitas sosial dan
akademik/pekerjaan:
Catatan: gejala tidak hanya merupakan manifestasi dari
tingkah laku melawan, menentang, permusuhan atau kegagalan
dalam memahami tugas atau isntruksi. Untuk remaja yang lebih
tua dan dewasa (usia 17 tahun atau lebih), sekurang-kurangnya
lima simtom diperlukan untuk menegakkan diagnosis.
a. Tidak adanya perhatian (inattention):
1) Selalu gagal dalam memberikan perhatian pada
detail atau membuat kesalahan yang ceroboh
dalam tugas sekolah, pada pekerjaan, atau
selama aktivitas lainnya.
2) Selalu mengalami kesulitan dalam
mempertahankan perhatian dalam tugas atau
saat melakukan aktivitas, misalnya selama
kuliah, bercakap-cakap, atau membaca bacaan
yang panjang.
3) Selalu tampak tidak mendengarkan ketika
berbicara secara langsung (pikiran terlihat
berada di tempat lain, meskipun tidak ada
pengalih perhatian/distraksi).
4) Selalu tidak mengikuti instruksi dan gagal
menyelesaikan tugas sekolah, pekerjaan atau
kewajiban di tempat kerja.
5) Selalu mengalami kesulitan dalam
mengorganisasikan tugas-tugas dan aktivitas.
6) Selalu menghindar, tidak menyukai atau enggan
untuk terlibat dalam tugas yang memerlukan
upaya untuk mempertahakan mental.
7) Selalu kehilangan sesuatu yang diperlukan
untuk tugas atau aktivitas, seperti pensil, buku,
kunci, dan sebagainya.
8) Selalu dengan mudah dialihkan oleh stimulus
eksternal (untuk remaja dan orang dewasa,
distraksi dapat menyangkut pikiran yang tidak
berhubungan)
9) Selalu lupa dengan aktivitas sehari-harinya.
b. Hiperaktif dan impulsif:
1) Selalu gelisah atau mengetukkan tangan atau
kaki atau menggeliat di tempat duduk.
2) Selalu meninggalkan tempat duduk dalam
situasi ketika diharapkan untuk tetap duduk,
misalnya meninggalkan tempat di ruang kelas.
3) Selalu berlari atau melompat pada situasi di
mana tidak sesuai untuk melakukannya (pada
remaja dan orang dewasa, dapat terbatas pada
perasaan gelisah).
4) Selalu tidak mampu untuk melakukan atau
terikat pada aktivitas yang santai dengan tenang.
5) Selalu bertindak “on the go” berakting seperti
sedang dibawa oleh motor.
6) Selalu berbicara secara berlebihan.
7) Selalu menceplos dalam menjawab sebelum
suatu pertanyaan selesai.
8) Selalu mengalami kesulitan menunggu
gilirannya.
9) Selalu menginterupsi atau mencampuri urusan
orang lain.
2. Beberapa gejala ketidakacuhan atau gejala hiperaktif-impulsif
muncul sebelum usia 12 tahun
3. Beberapa gejala ketidakacuhan atau gejala hiperaktif-impulsif
muncul dalam dua atau lebih setting (misalnya, di rumah,
sekolah, atau tempat kerja; dengan teman atau relasi; atau
dalam aktivitas lainnya).
4. Ada bukti yang jelas bahwa simtom tesebut mengganggu atau
menurunkan kualitas dari fungsi-fungsi sosial, akademik atau
pekerjaan.
5. Simtom tidak semata-mata terjadi selama periode skizofrenia
atau gangguan psikotik lainnya dan tidak dijelaskan oleh
gangguan mental lainnya (seperti gangguan mood, gangguan
kecemasan, gangguan disosiatif, gangguan kepribadian dan
gangguan karena penggunaan zat).

ADHD dapat dibagi menjadi tiga sub tipe. Tiga sub tipe tersebut
adalah tipe predominan tidak adanya perhatian, tipe predominan
hiperaktif/impulsif, dan tipe kombinasi yang ditandai oleh tidak
adanya perhatian dan hiperaktivitas-impusivitas tingkat tinggi (APA
dalam Nevid dkk, 2003).
Penyebab ADHD belum diketahui secara pasti. Namun terdapat
pengaruh dari faktor biologis dan lingkunga. Kring dkk (2012)
menjelaskan etiologi ADHD bahwa beberapa faktor yang dapat
menjadi penyebab ADHD adalah faktor genetik. Selain itu, faktor
neurobiologis yang berkaitan dengan struktur otak yang abnormal
akibat faktor prenatal dan keracunan dari lingkungan. ADHD lebih
banyak terjadi pada anak-anak yang ibunya merokok selama
kehamilan daripada anak-anak lain (Milberger dkk. dalam Nevid dkk.,
2003). Merokok pada masa kehamilan dapat menyebabkan kerusakan
otak selama perkembangan prenatal. Faktor penyebab lainnya adalah
faktor psikososial seperti tingginya konflik dalam keluarga, stress
emosional selama kehamilan, dan buruknya pengasuhan orang tua
dalam menangani gangguan perilaku anak.
Penanganan ADHD umumnya ditempuh dengan dua cara, yaitu
terapi obat dan terapi psikologis. Terapi obat dilakukan dengan
memberikan obat-obatan stimulan seperti Ritalin untuk membuat anak
lebih tenang dan perhatian, misalnya pada tugas sekolah. Terapi
psikologis diberikan dalam bentuk terapi kognitif-behavioral (CBT)
untuk membantu mengembangkan perilaku yang lebih tepat dan
keterampilan memperhatikan.

 Gangguan Tingkah Laku (CD)


Gangguan tingkah laku (Conduct Disorder/CD) merupakan
gangguan psikologis pada anak-anak dan remaja yang ditandai oleh
perilaku bermasalah dan antisosial. Bila anak-anak ADHD tampaknya
tidak mampu mengontrol perilaku mereka, anak-anak dengan
gangguan tingkah laku secara sengaja melakukan perilaku antisosial
yang melanggar norma-norma sosial dan hak orang lain. Jika anak-
anak penderita ADHD memperilihatkan gejala akan mengamuk, anak
yang didiagnosis mengalami gangguan tingkah laku secara sengaja
bertindak agresif dan kasar. Mereka sering bertindak agresif terhadap
orang lain, mengancam atau mem-bully anak-anak lainnya
Gangguan tingkah laku lebih umum terjadi pada anak laki-laki
daripada perempuan dan bentuknya berbeda di antara laki-laki dan
perempuan. Pada laki-laki bentuknya lebih kepada mencuri, berkelahi,
merusak, atau masalah disiplin di sekolah. Sementara pada perempuan
lebih cenderung pada berbohong, membolos, lari dari rumah,
penggunaan obat-obatan, dan pelacuran. Studi longitudinal
memperlihatkan bahwa anak-anak sekolah dasar dengan gangguan
tingkah laku cenderung lebih sering terlibat dalam aksi kenakalan
ketika mulai memasuki masa remaja dibandingkan anak-anak lain
(Tremblay dkk dalam Nevid dkk, 2003).

 Gangguan Sikap Menentang.


Gangguan tingkah laku dan gangguan sikap menentang sering
digabungkan dalam judul umum ‘’masalah tingkah laku’’. Meskipun
gangguan ini mungkin terkait, ODD merupakan kategori diagnostic
yang terpisah, bukan bentuk CD yang ringan. ODD melibatkan lebih
banyak bentuk gangguan tingkah laku yang bukan kenakalan
(negativistic atau menentang), sedangkan CD melibatkan perilaku
kenakalan, seperti membolos, mencuri, berbohong, dan agresif.
Namun, ODD, biasanya muncul lebih awal dari CD, dapat
menyebabkan perkembangan CD pada usia selanjutnya. Konon, hanya
sedikit anak-anak yang menderita ODD yang akan mengalami CD
nantinya (Burke & Loeber, 2010).
Anak-anak yang menderita ODD cenderung terlalu negativistik
atau menentang. Mereka melawan pihak yang memiliki otoritas
dengan sering membantah orang tua dan guru serta menolak mengikuti
permintaan atau perintah dari orang dewasa. Mereka sengaja
menggangu orang lain, mudah marah atau kehilangan kesabaran,
sensitif atau mudah tersinggung, menyalahkan orang lain atas
kesalahan atau perilaku buruk mereka, benci kepada orang lain, atau
dengki dan dendam pada orang lain. Mereka cenderung mudah
kehilangan kesabaran dan sering menunjukkan mood marah atau
mudah marah. Mereka juga bersikap dengki atau dendam pada orang
lain yang mereka anggap bersalah. Gangguan ini biasanya dimulai
sebelum usia 8 tahun dan berkembang secara bertahap selama periode
beberapa bulan atau tahun. Gangguan ini biasanya dimulai di
lingkungan rumah, tetapi dapat meluas ke lingkungan lainnya seperti
sekolah.
PERSPEKTIF TEORITIS TENTANG ODD DAN CD. Factor-
faktor penyebab ODD masih samar-samar. Beberapa pakar yakin
bahwa sikap menentang adalah ekspresi dari tempramen anak yang
digambarkan sebagai jenis ‘’anak yang susah’’ (Rey, 1993). Pakar
yang lain percaya bahwa konflik antara anak dam orang tua yang tidak
terselesaikan atau kontrol orang tua yang terlalu ketat dapat menjadi
akar dari gangguan ini. konflik yang tersisa mungkin diekspresikan
dalam bentuk penentangan terhadap keinginan orang tua.
Faktor keluarga juga berpengaruh dalam perkembangan CD.
Gangguan ini berkembang dalam konteks pola asuh yang negative,
seperti kegagalan dalam memberikan penguatan atau memuji anak
secara positif atas perilaku yang tepat serta penerapan disiplin yang
kasar dan tidak konsisten atas perilaku buruk si anak (Berkout, Young,
& Gross, 2011). Keluarga yang anaknya menderita CD cenderung
memiliki interaksi negatif dan koersif atau penuh paksaan. Anak yang
menderita gangguan tingkah laku sering sangat penuntut dan tidak
patuh dengan orang tua mereka dan anggota keluarga lainnya.
Agresivitas orang tua terhadap anak yang menderita CD sering terjadi,
yang meliputi mendorong, mencengkram, menampar, memukul pantat,
atau menendang. Beberapa anak yang menderita gangguan tingkah
laku akan mengalami gangguan kepribadian antisosial di masa dewasa
(Burke, Waldman, & Lahey, 2010).
Gangguan tingkah laku sering terjadi dalam konteks stress orang
tua, seperti konflik pernikahan. Disiplin pola asuh yang koersif atau
penuh paksaan dan pemantauan yang buruk oleh orang tua juga
dihubungkan dengan meningkatnya resiko CD. Anak-anak yang
mengalami gangguan perilaku disruptif seperti CD atau ODD juga
cenderung menunjukkan cara yang bias dalam memroses informasi
sosial (Crozier et al, 2008).
PENDEKATAN PENANGANAN. Program pelatihan orang tua
berbasis perilaku sering kali sigunakan untuk membantu para orang tua
mengurangi perilaku agresif, disruptif, dan menentang dari anak-anak
serta meningkatkan perilaku adaptif mereka. Penanganan ini
menargetkan beberapa tujuan, termasuk membantu orang tua
menggunakan aturan yang lebih konsisten dan jelas serta strategi
disiplin yang efektif, meningkatkan penguatan positif, dan
meningkatkan interaksi positif dengan anak (Rajwan, Chacko, &
Moeller, 2012). Jadi, orang tua harus belajar tidak hanya tentang
bagaimana mengubah perilaku disrupitif anaknya tetapi juga memberi
atensi kepada anaknya dan memujinya ketika mereka bertindak dengan
baik. Latihan pengendalian kemarahan juga mungkin berguna dalam
menangani anak yang mengalami masalah kemarahan dan perilaku
agresif (Sukhodolsky et al, 2005).

F. Kecemasan dan Depresi di Masa Kanak-Kanak


Kecemasan dan ketakutan merupakan ciri normal di masa kanak-kanak,
seperti halnya pada kehidupan orang dewasa. Ketakutan anak-anak
merupakan hal biasa dan akan menghilang dengan sendirinya. Akan tetapi,
kecemasan itu dianggap abnormal bila berlebihan dan mengganggu fungsi
akademis atau sosial yang normal atau menjadi menyusahkan atau bersifat
persisten. Seperti gangguan fobia dan gangguan kecemasan umum, gangguan
obsesif-kompulsif, serta gangguan stress pascatrauma.
Gangguan kecemasan adalah jenis gangguan psikologis paling umum yang
menyerang remaja. Gangguan ini sering muncul bersamaan dengan gangguan
depresi. Gangguan kecemasan dan gangguan depresi juga terjadi lebih sering
di kalangan anak-anak etnis minoritas, yang mengingatkan kita pada
kebutuhan akan pemeriksaan jenis-jenis stressor yang mungkin menempatkan
anak-anak etnis minoritas pada risiko yang lebih besar mengalami masalag
tersebut.
Masalah yang melibatkan kecemasan di masa kanak-kanak sering kali
tidak disadari dan tidak ditangani, sebagian karena para ahli yang membantu
mereka mungkin mengalami kesulitan dalam membedakan antara ketakutan,
kekhawatiran, dan rasa malu yang wajar pada diri anak-anak dengan bentuk
yang lebih ekstrem dari masalah tersebut yang berhubungan dengan gangguan
kecemasan (Emslie, 2008). Masalah lainnya menyangkut diagnosis yang tepat
adalah bahwa banyak anak yang mengalami gangguan kecemasan hanya
melaporkan gejala atau simtom fisik, seperti sakit kepala dan sakit perut.
Kegagalan untuk mendeteksi gangguan kecemasan ini patut disayangkan,
sebagian karena penanganan yang efektif sudah tersedia dan sebagian lagi
karena gangguan kecemasan yang tidak terdeteksi pada anak-anak akan
meningkatkan resiko terserang gangguan kecemasan, depresi, dan
penyalahgunaan obat nantinya (Emslie, 2008).
 Gangguan Kecemasan akan Perpisahan
Gangguan kecemasan akan perpisahan pada anak-anak didiagnosis
ketika tingkat ketakutan atau kecemasan akan perpisahan dari
pengasuh atau figure kelekatan itu persisten dan berlebihan atau tidak
sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Anak-anak yang menderita
gangguan kecemasan akan perpisahan cenderung terikat pada orang
tuanya dan mengikuti ke mana pun mereka berada di seputar
rumahnya. Mereka mungkin mengemukakan kekhawatiran tentang
kematiandan memaksa seseorang untuk menemaninya saat mereka
tidur. Ciri-ciri lainnya dari gangguan ini meliputi mimpi buruk, sakit
perut, mual dan muntah ketika mengantisipasi perpisahan, memohon
kepada orang tua agar tidak pergi, atau mengamuk saat orang tua
hendak pergi. Anak-anak ini mungkin menolak pergi ke sekolah
karena takut bahwa sesuatu akan terjadi pada orang tuanya saat mereka
pergi.
Gangguan ini terjadi paling banyak pada anak perempuan dan
sering dihubungkan dengan penolakan pergi kesekolah. Gangguan ini
sering terjadi bersamaan dengan kecemasan sosial. Gangguan ini dapat
berlanjut sampai masa dewasa, yang menyebabkan perhatian yang
berlebihan pada keselamatan anak sendiri dan pasangan serta sulit
menoleransi perpisahan apa pun dengan mereka. Perkembangan
gangguan kecemasan akan perpisahan sering mengikuti peristiwa
hidup yang menimbulkan stress, seperti sakit, kematian orang dekat
atau hewan peliharaan, atau pindah sekolah atau rumah.

 Memahami dan Menangani Kecemasan di Masa Kanak-Kanak


Perspektif teoritis tentang kecemasan pada anak-anak sampai batas
tertentu sejalan dengan penejelasan tentang gangguan kecemasan pada
masa dewasa. Anak-anak yang cemas cenderung menunjukkan jenis
distorsi kognitif yang ditemukan pada orang dewasa yang menderita
gangguan kecemasan, termasuk menginterpretasikan situasi sosial
sebagai mangancam dan mengharapkan hal-hal buruk terjadi. Mereka
juga cenderung terlibat dalam self-talk yang negative. Teoritikus
pembelajaran menyatakan bahwa kecemasan yang tergeneralisasi
mungkin berasal dari rasa tacit akan penolakan atau kegagalan, yang
terbawa pada berbagai situasi. Factor genetic juga dapat berkontribusi
terhadap pengembangan gangguan kecemasan pada anak-anal,
termasuk kecemasan akan perpisahan dan fobia-fobia spesifik.
Apa pun penyebabnya, anak-anak yang menderita gangguan
kecemasan dapat memanfaatkan teknik kognitif perilaku yang sama
seperti dalam menangani kecemasan orang dewasa, seperti dihadapkan
pada stimuli yang menimbulkan fobia secara bertahap dan latihan
relaksasi. Obat antidepresan seperti SSR, fluvoxamine, sertraline, dan
fluoxetine sangat ampun dalam menangani anak-anak dan remaja yang
menderita gangguan kecemasan.

 Depresi di Masa Kanak-Kanak


Seperti orang dewasa yang depresi, anak-anak dan remaha yang
depresi biasanya memiliki perasaan putus asa; pola berfikir yang
terdistorsi dan kecenderungan untuk menyalahkan diri sendiri atas
peristiwa negative; serta harga diri, kepercataab diri, dan persepsi yang
rendah. Depresi pada anak-anak juga dihubungkan dengan beberapa
ciri yang berbeda seperti menolak pergi ke sekolah, takut akan
kematian orang tya dan terikat pada orang tua. Masalah tingkah laku
dan akademis, keluhan fisik, dan hiperaktivitas besasal dari depresi
yang tidak disadari. Diantara para remaja, tindakan agresif dan
perilaku seksual juga dapat menjadi tanda adanya depresi. Anak-anak
yang hanya memiliki teman sedikit, tidak memiliki keterampilan
akademis atau olahraga, serta keterampilan sosial yang diperlukan
untuk membina petermanan menjadi ciri adanya depresi. Episode
depresi mayor di masa kanak-kanak atau remaa dapat berlangsung
selama setahun atau lebih dan mungkin dapat terjadi lagi natinya.
Akan tetapi, depresi pada masa kanak-kanak jarang terjadi dengan
sendirinya.

 Memahami dan Menangani Depresi di Masa Kanak-Kanak


Gaya berfikir negative mulai muncul saat anak semakin matang
dan dewasa dan kemampuan kognitif mereka semakin meningkat.
Seperti orang dewasa, anak-anak dan remaja yang depresi cenderung
menunjukkan pola pemikiran terdistorsi berikut:
1) Mengharapkan yang terburuk (pesismisme)
2) Membesar-besarkan konsekuensi dari kejadian-kejadian
negative
3) Menyalahkan diri sendiri atas kekecewaan dan hasil
negatif, sekalipun tidak beralasan
4) Meminimalkan pencapaiannya dan hanya berfokus pada
aspek-aspek negatif dari sebuah kejadian/peristiwa.

Peneliti juga menemukan pola pemikiran yang terdistorsi pada


anak-anak yang depresi di budaya lainnya. Meskipun ada hubungan
antara factor kognitif dan depresi, kita belum mengetahui mana yang
muncul lebih dulu. Sangat mungkin, hubungan ini bersifat timbal
balik; dengan depresi memengaruhi pola pikir dan pola pikir
memengaruhi kondisi emosional.

Terdapat bukti yang mendukung efektivitas CBT dalam menangani


depresi pada anak-anal dan remaja. CBT biasanya melibatkan
pelatihan keterampilan sosial, pelatihan keterampilan pemecahan
masalah, meningkatkan frekuensi aktivitas yang menyenangkan, dan
mengubah gaya berpikir depresi. Selain itu, terapi keluarga yang dapat
membantu keluarga untuk mengatasi konflik yang ada dan mengatur
kembali hubungan mereka agar anggota keluarga dapat menjadi lebih
suportif satu sama lain. Kombinasi CBT dan antidepresan dapat
digunakan untuk meningkatkan efektivitas kedua penanganan
tersebut.

 Bunuh Diri pada Anak-anak dan Remaja.


Bunuh diri jarang terjadi pada anak-anak dan awal masa remaja
tetapi menjadi semakin umum pada akhir masa remaja dan awal masa
dewasa. Terlepas dari adanya pandangan umum bahwa anak-anak dan
remaja yang bicara tentang bunuh diri hanya mengekspresikan
perasaannya, kebanyakan pemuda yang bunuh diri sudah mengirimkan
sinyal itu sebelumnya. Sebenarnya mereka yang membicarakan
rencana mereka adalah yang paling mungkin melakukannya.
Sayangnya, orang tua cenderung tidak menganggap serius
pembicaraan anaknya tentang bunuh diri tersebut.
Semakin bertambahnya usia, factor-faktor lain yang berhubungan
dengan peningkatan risiko bunuh diri pada anak-anak dan remaja
meliputi hal berikut:
a) Gender. Anak perempuan, tiga kali lebih mungkin
dibandingkan laki-laki untuk mencoba bunuh diri. Namun,
anak laki-laki, cenderung lebih berhasil melakukannya.
b) Geografi. Remaja yang tinggal di daerah yang penduduknya
tidak terlalu padat lebih mungkin melakukan bunuh diri.
Remaja di daerah pedesaan bagian barat Amerika Serikat
memiliki tingkat bunuh diri tertinggi.
c) Entisitas. Tingkat bunuh diri di kalangan remaja Afrika
Amerika, Asia Amerika, dan Hispanik Amerika sekitar 30%-
60% lebih rendah ketimbang kulit putih.
d) Depresi dan keputusasaan. Besarnya angka depresi merupakan
factor utama bagi upaya bunuh diri di kalangan remaja dan juga
orang dewasa, terutama jika digabungkan dengan keputusasaan
dan harga diri yang rendah.
e) Perilaku bunuh diri sebelumnya. Seperempat dari remaja yang
melekukan percobaan bunuh diri pernah melakukannya
sebelumnya.
f) Pelecehan seksual sebelumnya. Dari sampel di Australia,
remaja yang pernah mengalami pelecehan seksual saat masih
kanak-kanak memiliki tingkat bunuh diri lebih dari 10kali lebih
timggi ketimbang rata-rata nasional.
g) Masalah keluarga. Masalah ini meliputi ketidakstabilan dan
konflik keluarga, kekerasan fisik atau seksual, kehilangan
orang tua karena kematian atau perpisahan, serta komunikasi
antara orang tua dan anak yang buruk.
h) Peristiwa hidup yang menimbulkan stress. Seperti putus cinta,
hamil di luar nikah, ditangkap polisi, masalah di sekolah,
pindah ke sekolah baru, harus mengikuti ujian penting, atau
peristiwa traumatis lain.
i) Penyalahgunaan obat. Adiksi dalam keluarga seorang remaja
atau remaja itu sendiri adalah salah satu factor.
j) Penularan sosial. Bunuh diri pada masa remaja kadang-kadang
terjadi dalam suatu rangkaian atau kluster, terutama ketika satu
usaha bunuh diri atau bunuh diri kelompok mendapat publisitas
yang luas. Remaja dapat meromantisasi bunuh diri sebagai
suatu tindakan heroic yang menantang atau terjadi bunuh diri di
lingkungan sekitarnya.

G. Gangguan Eliminasi
Bagi beberapa anak masalah dalam pengendalian eliminasi masih tetap
ada dalam bentuk enuresis dan enkopresis.
 Enuresis
Enuresis adalah kegagalan untuk mengontrol urinasi setelah
seseorang mencapai usia normal untuk mampu mencapai kontrol itu
bervariasi di antara para klinisi. Untuk diagnosis sebagai menderita
enuresis menurut DSM, anak-anak harus berusia minimal 5 tahun atau
pada tingkat perkembangan yang setara dan memenuhi kriteria berikut:
a) Mengompol berulang kali di seprai atau celana (baik
disengaja ataupun tidak disadari)
b) Mengompol setidaknya terjadi dua kali seminggu selama
tiga bulan atau menyebabkan kesulitan atau penurunan
fungsi yang signifikan
c) Tidak ada dasar medis atau organik pada gangguan ini:
gangguannini juga bukan disebabkan oleh penggunaan satu
obat medikasi.
Enuresis seperti banyak gangguan perkembangan lainnya, lebih
sering terjadi pada anak laki-laki. Enuresis dapat sangat merepotkan,
terutama bagi anak-anak yang sudah besar. Mengompol biasanya
terjadi pada waktu tidur di malam hari saja, selama jam bangun saja,
atau saat tidur malam maupun saat jam bangun. Enuresis pada saat
tidur malam saja adalah jenis yang paling umum, dan enuresis yang
muncul pada saat tidur disebut juga sebagai bed-wetting. Melakukan
kontrol kandung kemih pada malam hari jauh lebih sulit ketimbang
pada siang hari. Semakin muda usia anak yang sedang dilatih,
semakin besar kemungkinaan ia akan mengompol di tempat tidur pada
malam hari. Mengompol biasanya terjadi pada tahapan tidur yang
paling nyenyak dan dapat mencerminkan ketidakmatangan sistem
syaraf.

PERSPEKTIF TEORITIS. Penjelasan psikodinamika tentang


enuresis menunjukkan bahwa gangguan ini merupakan ekspresi
permusuhan terhadap orang tua anak karena memaksanya berlatih
menggunakan toilet. Gangguan ini mungkin merupakan respons
regresi terhadap kelahiran saudara kandung atau beberapa stresor
lainnya atau perubahan hidup, seperti mulai bersekolah atau
mengalami kematian orang tua maupin kerabat dekat. Para teoritikus
pembelajaran menunjukkan bahwa enuresis paling sering terjadi pada
masa anak-anak yang orang tuanya berusaha melatih mereka sejak
usia dini. Kegagalan pada masa awal dapat menghubungkan antara
kecemasan dan usaha mengendalikan buang air kecil. Jadi, kecemasan
yang terkondisi itu justru memancing urinasi, dan bukan
pemunahannya.

Enuresis primer, bentuk gangguan yang paling umum ditandai oleh


mengompol pada malam hari yang bersifat persisten yang belum
pernah membentuk kontrol urinasi pada malam hari. Hal ini
disebabkan oleh penundaan pendewasaan yang memiliki dasar
genetik. Kita belum memahami mekanisme genetik dalam enuresis,
tetapi salah satu kemungkinannya menyangkut gen yang mengatur
kecepatan perkembabgan kontrol motorik teehadap refleks eliminatori
oleh korteks serebral. Meskipun faktor genetik tampak terlibat dalam
tranmisi enuresis primer, faktor lingkungan dan perilaku mungkin
juga berperan dalam menentukan perkembangan dan arah gangguan
ini. Jenis enuresis lainnya, enuresis sekunder, tampak tidak
dipengaruhi secara genetik dan terjadi pada anak – anak yang
memiliki masalah mengompol setelah mampu mengontrol urinasi.

PENANGANAN. Enuresis biasanya hilang denagn sendirinya


setelah anak- anak menjadi dewasa. Akan tetapi, metode perilaku
terbukti membantu ketika enuresis menyebabkan stres berat pada
orang tua Atau anak-anak. Metode tersebut mengkondisikan anak-
anak untuk bangun saat kandung kemih mereka penuh. Masalah dalam
mengompol adalah bahwa anak-anak yang mengalami enuresis tetap
tidur meskipun ada tekanan dari kandung kemih yang biasanya
membangunkan kebanyakan anak-anak lainnya. Akibatnya, mereka
secara refleks buang air kecil di tempat tidur. Mowrer memprakarsai
penggunaan alarm urin, yaitu alarm sensor kelembagaan yang
diletakkan di bawah anak yang sedang tidur. Alarm itu akan bunyi
saat anak mulai mengompol dan akan membangunkannya.
Penanganan atas enuresis, yang biasanya melibatkan teknik alarm urin
atau terapi obat, sering kali membantu. Obat psikiatrik tertentu juga
dapat membantu seperti luvox yaitu anti depressan jenis SSRI yang
bekerja pada sistem otak mengontrol urinasi. Namun, teknik alarm
terendah di antara penanganan yang tersedia. Tingkat kambuhan yang
lebih tinggi dihubungkan dengan pemberian obat, yang
menggarisbawahi fakta bahwa obat terapeutik itu sendiri tidak
mengajarkan keteramlilan baru ataupub adaptif yang dapat
dipertahankan di luar periode penanganan aktif.
 Enkopresis
Enkopresis adalah kurangnya kontrol terhadap keinginan buang air
besar yang bukan disebabkan oleh masalah organik. Anak harus
memiliki usia kronologis setidaknya 4 tahun atau pada anak-anak yang
mengalami gangguan intelektual usia mentalnya minimal 4 tahun.
Seperti enuresis, gangguan ini paling sering terjadi pada anak laki-laki.
Mengotori atau buang air besar ini dapat dilakukan secara sengaja atau
tidak dan bukan disebabkan oleh masalah organik, kecuali pada kasus
terjadi konstipasi. Di antara faktor-faktor predisposisi yang mungkin
ini adalah inkonsisten atau tidak selengkap nya pelatihan
menggunakan toilet dan stresor psikososial, seperti kelahiran saudara
kandung atau mulai bersekolah.
Buang air besar dicelana tidak seperti enuresis lebih sering terjadi
pada siang hari ketimbang malam hari. Jadi akan sangat memalukan
bagi anak. Teman sekelas sering menghindari atau mencemooh anak
yang suka BAB di celana. Karena tinja memiliki bau yang menyengat,
guru sering kesulitan untuk berperilaku seolah-olah tidak terjadi apa-
apa. Orang tua akhirnya juga merasa kesal dengan kejadian tersebut
berulang dan dapat meningkatkan tuntutan terhadap pengendalian diri
dan pemberian hukuman yang berat jika terjadi kegagalan. Akibatnya,
anak-anak mungkin mulai menyembunyikan celana dalam yang kotor,
menjaga jarak dengan teman sekelas, atau berpura-pura sakit agar tetap
di rumah.Tingkat kecemasanmereka terkait BAB di celana pun
meningkat. Karena kecemasan yang melibatkan rangsang cabang
simpatis dan sistem saraf otonom, mendorong pergerakan usus maka
kontrol pun menjadi lebih sulit. Tidak mengejutkan anak-anak yang
BAB di celana memiliki lebih banyak masalah emosional dan perilaku
ketimbang mereka yang tidak menderita nya.
Konstipasi dapat dikaitkan dengan faktor psikologis seperti
ketakutan yang berhubungan dengan bab di tempat tertentu atau
dengan pola perilaku negatif listrik atau menentang yang lebih umum.
Konstipasi juga dapat dikaitkan dengan faktor fisiologis seperti
komplikasi akibat penyakit atau pengobatan. Encopresis yang
disengaja sangat jarang terjadi. Teknik terapi perilaku sangat
membantu dalam menangani encopresis. Penanganan biasanya
melibatkan orang tua yang memberi penghargaan atas keberhasilan
upaya pengendalian diri yang berhasil dengan menggunakan hukuman
ringan untuk kejadian yang terus berlanjut. Jika encopresis bersifat
persisten evaluasi medis dan psikologis yang menyeluruh akan
disarankan untuk menentukan kemungkinan penyebab penanganan
yang tepat.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berbagai gangguan atau perilaku abnormal dapat terjadi pada anak-
anak yang berkembang hingga remaja, bahkan hingga dewasa. Gangguan
tersebut umumnya berupa gangguan neurologis-perkembangan. Gangguan
lainnya berupa gangguan tingkah laku, gangguan eliminasi, gangguan
kecemasan dan gangguan mood. Gangguan lainnya yang tidak dijelaskan
dalam makalah ini adalah gangguan makan dan gangguan tidur. Gangguan
ini umumnya tidak memiliki dasar neurologis-fisiologis atau dasar medis
yang jelas. Gangguan-gangguan tersebut dapat mengakibatkan hendaya
dalam berbagai fungsi kehidupan seperti fungsi sosial,
akademik/pendidikan dan pekerjaan.
Gangguan tersebut menganggu individu untuk bisa berfungsi
sebagaimana mestinya dalam kehidupan sehari-hari. Penyebab berbagai
gangguan umumnya merupakan variasi dari faktor genetika dan faktor
lingkungan (nature dan nurture). Penanganan yang dilakukan dapat
berupa terapi dengen pendekatan medis dan pendekatan psikologis. Terapi
yang lebih efektif melibatkan berbagai pendekatan psikologis untuk
gangguan-gangguan tertentu.

B. Saran
Demikian makalah yang dapat kami susun. Kami menyadari bahwa
dalam penyusunan makalah yang telah kami buat ini masih banyak
kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kami selaku penulis mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun untuk mencapai kesempurnaan
dalam pembuatan makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

James, J., Baker, C., Swain, H. (2008). Prinsip-prinsip sains untuk


keperawatan.Jakarta: PenerbitErlangga

Kring, et.al. (2012). Abnormal Psychology. Twelfth Edition. USA: John Wiley &
Sons, Inc.

Nevid J.S., Rathus S.A. & Green B. (2018). Psikologi Abnormal. Jilid 2. Jakarta:
Erlangga.